Teknologi Komunikasi dan Konstruksi atas Realitas



Dewasa ini hampir tidak ada manusia yang tidak bersentuhan dengan teknologi, apalagi manusia-manusia yang mengakui dirinya modern. Bahkan dalam era serba informative, teknologi telah menjadi ‘isteri’ kita yang fungsinya bisa melebihi isteri yang sebenarnya. Setiap menit dan detik, mulai saat bangun hingga tidur kita selalu memeluk dan mengelus hasil dari teknologi. Entah itu saat kuta bangun dengan menggunakan alarm, atau teknologi pengeras suara amplifier mesjid. 
Saat Pagi pun kita telah menyaksikan teknologi televise atau setidaknya media cetak sebagai hasil dari teknologi cetak sebelum beraktifitas. Berangkat bekerja rasanya akan kesulitan jika tidak ada kendaraan. Kini pun seseorang hampir setiap orang, baik yang berada di perkotaan ataupun pedalaman sekalipun tidak mampu untuk melepaskan diri dari tatapan layar telepon genggam sebagai hasil  dari teknologi komunikasi yang diganrungi mulai dari anak kecil hingga tua renta.

Itulah fakta dari fungsi teknologi dewasa ini yang sudah tidak dapat disangsikan lagi, setiap orang rasanya tidak akan ada yang mampu menghindarkan diri dari teknologi tersebut karena memiliki beragam fungsi yang berguna bagi kehidupan manusia.

Namun tahukah kita bahwa teknologi, selain memiliki fungsi yang sangat berguna bagi kehidupan manusia, ternyata juga sebagai sumber malapetaka, setidaknya ditinjau dari sudut pandang komunikasi, teknologi telah menghasilkan bias makna komunikasi, selain yang sangat fatal dapat mematikan ekosistem.

Kita, digerakan oleh Persepsi Teknologi
Inti komunikasi adalah persepsi dan persepsi merupakan sumber pemaknaan seseorang dari komunikasi yang kita lakukan. Makna komunikasi merupakan symbol atau kode yang menggerakan manusia untuk melakukan satu hal tertentu. Bias makna komunikasi yang dihasilkan dari persepsi manusia sebetulnya telah terjadi sejak pengembangan teknologi optic  oleh Galileo. Dan kini bias makna komunikasi yang dihasilkan oleh teknologi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, kita digerakan oleh teknologi. Kita seringkali reaktif terhadap satu hal karena adanya bias makna yang dihasilkan oleh teknologi informasi tersebut. Misalnya saja, ketika seorang pejabat Negara berkata-kata lantas dikutif oleh media, media menyebarluaskan melalui kekuatannya kepada masyarakat, masyarakat lantas bereaksi keras atas pernyataan pejabat tersebut. Padahal pernyataan pejabat yang dianggap negativf oleh masyarakat belum tentu menggambarkan secara utuh apa yang dikatakan oleh Media sebab seringkali media hanya memberikan gambaran yang sepotong-sepotong atas suatu hal. Itu karena media melalui teknologi komunikasinya tidak mampu menyampaikan suatu hal secara utuh menyeluruh. Namun walaupun hanya sepotong, media telah mampu mengkonstruksi realitas atas pernyataan seseorang tersebut. Itulah salah satu kelemahan teknologi (Komunikasi).

Melalui buku Filsafat Teknologi, Francis Lim membeberkan sejumlah ide dari para Filsuf khususnya Don Ihde yang kemudian juga mengelaborasi pemikiran dari Martin Heidegger. Bagi Heidegger, Teknologi tidak sekadar alat dan terapan, bahkan ia mendahului sains itu sendiri. Bagi Ihde dan Heidegger, teknologi mengubah cara bertindak manusia, persepsi dan pemahaman manusia akan dunia kehidupan [hal.3]. Cara produksi yang teknologis dari manusia sangat mempengaruhi bagaimana suatu masyarakat di bentuk [hal.17]. Menurut Marx Teknologi mengalienasi manusia. Oleh karena itulah maka muncul pertanyaan seputar kenetralan dari teknologi.

Marcuse memandang teknologi secara negatif, melalui teknologi, manusia direduksi menjadi manusia satu dimensi yakni manusia yang konsumeristik dimana segala sesuatu menjadi komoditas. Sementara Habermas, seorang filsuf komunikasi kritis menyikapi teknologi secara positif bahwa di bawah system yang dikuasai oleh teknologi, rasionalitasnya bersifat teknis yang berorientasi pada penyelesaian masalah serta efisiensi [hal. 19]. Bagi Habermas bukan teknologi pada dirinya yang mengancam kebebasan manusia, melainkan  gangguan dalam dimensi komunikatif.

Ihde menyoroti filsafat teknologi dalam kaitannya dengan manusia. Di tangan manusia teknologi mengubah cara pandang atas dunianya. Oleh karena itulah teknologi telah mengkonstruksi realitas nyata berdasarkan sudut pandang secara teknologis. Sebab melalui teknologi seperti dikatakan oleh Heideger bersifat membingkai realitas dunia menjadi sangat terbatas.

Substansi filsafat teknologi berada pada dua jenis persepsi, yakni mikropersepsi dan makropersepsi. Mikropersepsi berkaitan dengan pandangan manusia yang langsung melalui tubuh dan indra. Sementara makropersepsi diperoleh melalui struktur atau budaya dimana manusia berada, seperti cara berfikir, kerangka pemikiran yang sudah ada dalam diri manusia, kebiasaan dan lain-lain.

Buku ini memberikan persfektif kritis dan konstruktif terhadap teknologi. Memaparkan pemikiran dari sejumlah filsuf berkaitan dengan sikapnya terhadap teknologi. Selain memaparkan pemikiran Don Ihde tentang hubungan antara manusia dan teknologi, Prancis Lim juga memaparkan pemikiran dari filsuf lain seperti Heidegger, Marx, Huserl, Habermas. 

Sebagai buku filsafat, buku filsafat teknologi relatif mudah difahami karena bahasanya yang praktis. Namun demikian bagi pemula buku ini akan terasa berat karena tetap memiliki substasi pemikiran yang pilosofis dan mendalam berkaitan dengan hubungan teknologi dengan hidup manusia.

Informasi buku:
Judul: Filsafat Teknologi; Don Ihde tentang Manusia dan Alat.
Penerbit: Kanisius
Pengarang: Prancis Lim
Tebal: 199 halaman.

Catatan: buku ini saya dapatkan secara gratis dari penerbit Kanisius.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon