Revolusi Hasrat Menulis

Melakukan aktifitas tentu memiliki motif, entah itu motif financial, motif belajar, motif pertemanan, motif eksistensi termasuk motif narsis. Bagi newbie kompasiana, bergabung dan berinteraksi sesama kompasianers adalah hal yang paling menyenangkan sekaligus membuat diri kita eksis. 

Tidak sedikit bagi Newbie atau pun yang lama, rela menghabiskan berjam-jam menongkrongi Kompasiana. Apakah hal ini menjadi problem? Tentu tidak bagi yang pekerjaan dan kantornya berada di dalam realitas maya apalagi yang pekerjaannya meraih kocek dari blog. Berselancar di realitas maya termasuk di Kompasiana adalah sekaligus juga bekerja, entah itu dengan menulis, berkomentar ataupun promosi tulisan sekaligus blognya.

Jika mengintip beberapa profil para kompasianer, tidak sedikit yang menulis di Kompasiana sebetulnya promosi tentang blognya. Bahkan demi kunjungan membludak terhadap blognya, beberapa tulisan kompasianer dicaploknya tanpa izin terlebih dahulu, dicantumkan linknya pun tidak. Bagi mereka, berselancar di realitas maya adalah bekerja, sehingga tidak menjadi masalah jika pun harus seharian nongkrongin blog-blognya.

Bagaimana dengan beberapa blogger yang memiliki pekerjaan di realitas dunia (nyata)? Nah, ini dia masalahnya. Jika pekerjaan intinya menjadi terhambat bahkan hingga menelantarkan anak isterinyaa demi hobi barunya ngeblog dan bertemu dengan orang-orang yang unik dan bikin dirinya eksist, inilah masalah. Ia menjadi terbelenggu oleh hobi yang sesungguhnya belum bisa dijadikan sebagai mata pencaharian oleh dirinya. 

Apa yang saya uraikan di atas pernah terjadi pada diri sebagian bloger (kompasianer). Mereka pun menceritakannya sendiri dengan hobi barunya yang membuatnya kecanduan. Ada yang dimarahin isteri, ada yang ditegur bosnya, ada yang tidak sampai tidur semalaman. Ini dapat dilihat dari isi tulisan dan postingan. Postingan di kompasiana tidak pernah berhenti selama 24 jam. Dalam konteks ini, menulis lebih banyak mudharatnya daripada positifnya. Produktifitas yang kontraproduktif. 

Barangkali berbagai macam alasan akan dilontarkan oleh para kompasianer berkaitan dengan aktifitas penuhnya berkompasiana jika kita teliti. Ragam alasan ini mungkin ada yang didorong oleh alasan pertemanan, sehingga setiap postingan anggota komunitasnya di Kompasiana harus selalu dikomentari. Ada juga yang gila komentar, sehingga setiap tulisan selalu ia tengok apakah ada yang mengomentari atau tidak saat ia memposting tulisan. Ada juga yang ingin memastikannya apakah tulisannya masuk HL atau hl. Apapun alasannya, sah-sah saja.Namun yang perlu digarisbawahi adalah saat melakukan aktifitas bloging/menulis, apakah mengganggu pekerjaan intinya atau tidak. Just it .

Jika sampai mengganggu pekerjaan intinya, bahkan sampai melalaikan kewajibannya, maka menulis, bukan saja kontraproduktif, tetapi juga dapat dikatakan telah menjadi semacam penghambaan terhadap hasrat/ nafsu. Sebagaimana halnya gila kerja maka gila menulis menjadi negatif—writecholic. Oleh karena itulah, nafsu ini harus dikendalikan, jangan sampai berkontraproduktif terkait dengan aktifitas utamanya. 

Bagi saya sendiri, sebagai mantan pecandu, menulis tidak perlu tiap hari, yang penting menulis! Tidak perlu menjadi penulis, tetapi harus bisa menulis!


Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon