Showing posts with label Blog. Show all posts
Showing posts with label Blog. Show all posts

9.4.16

Antara Berbagi dan Menggurui


Sumber: normantis.com
Tagline Sakral dalam dunia blogging adalah Sharing dan Connecting. Bagi saya selain berbagi juga berjejaring alias silaturahmi. Menjalin relasi dengan berbagai latar belakang blogger yang heterogen. Walaupun ngeblog sudah sejak 2006, berjejaring mulai terasa sejak kenal Kompasiana 2009. Berjejaring bagi saya selain bertambah teman juga bertambah ilmu.

Para blogger berasal dari berbagai jenis profesi dan pendidikan. Namun itu bukan soal, semua disatukan oleh sakralitas berbagi dan berjejaring. Namun, tidak semua yang dibagikan tersebut bisa dibaca oleh para netizen dan blogger. Tentu semua disesuaikan dengan kesukaan dan passion atau apa yang ingin diketahuinya. Wajar jika pada akhirnya pilih-pilih, karena semua itu adalah hal lumrah dan alamiah.

Belakangan dari kegiatan blogging juga mendatangkan hal lain seperti rezeki yang tidak disangka-sangkat, misalnya ditawari jadi redaksi majalah, jadi content writer, buzzer, atau pun undangan event-event. Tawaran tersebut mau diambil atau tidak, tentu tergantung pribadi kita. Disesuaikan dengan waktu luang. Hal ini juga bagi saya bagian dari dampak berjejaring seperti pernah dikatakan oleh para guru kita. Silaturahmi memperpanjang rezeki.

Bukan hanya rezeki, juga mendatangkan ilmu. Dari mulai ikut kelas-kelas blogging, blogshop, seminar, blogger gathering, dan lain sebagainya. Apa yang luar biasa dari itu semua? Yang luar biasa adalah kesempatannya bisa mengenal dan berjejaring. Silaturahmi dan silaturahimnya. Semua ada dalam bingkai blogging.

Namun bukan berarti blogging berjalan tanpa dinamika, apalagi saat berbagi tulisan politik. Tidak sedikit yang nyinyir karena tidak mendukung  calon yang sama. Kadang komentarnya sangat pedas. Muncullah fenomena unfriend dan unfollow. Berbagi tidak selalu direspon dengan positif, padahal tidak menyinggung personal blogger sama sekali. Ini bagian dari resiko berjejaring, sama beresikonya dengan kehidupan dunia nyata. Biarpun kita berbagi dan tidak berniat jahat selalu ada orang yang usil dan tidak senang. Menulis tidak menulis, berbagi tidak berbagi tetap diomongin dan dinyinyirin orang.

Tidak hanya fenomena tersebut, dengan latar belakang berbeda-beda entah pendidikan, keahlian, atau kemampuannya. Muncul juga fenomena menggurui dengan menempatkan diri menjadi Blogger super, tanpa cacat sedikitpun.

Jangankan orang dewasa, kadang anak-anak saja sekarang tidak mau digurui. Mereka senang jika cara menyampaikan atau mengkritiknya dengan Bahasa berbaur, tidak berjarak, atau menempatkan diri di tengah. Sedangkan Bahasa menggurui cenderung memosisikan dirinya serba tahu dan menganggap orang lain baru lahir.

Dalam dunia pendidikan istilah menggurui ini biasanya diistilahkan pedagogi. Di dalamnya ada isntruksi, di dalamnya ada telunjuk. Guru memosisikan diri serba tahu, serba segalanya. Namun sepertinya, pendidikan sekarang selain masih bertahan paradigram pedagogi, juga sudah menggeser paradigmanya bagaimana cara pembelajaran orang dewasa atau kalo gak salah istilahnya Andragogi.
Terlepas istilah andragogi dan pedagogi tersebut. Kembali ke diri pribadi, memosisikan diri menjadi orang yang serba paling tahu dalam berbagi justeru akan mencederai silaturahim. Karena mengganggap orang lain baru anak kemarin sore.

Dalam berbagi semua orang memosisikan diri setara dan sejajar. Yang tahu sesuatu lebih dahulu dari yang lain, berbagi untuk rekannya yang belum tahu. Begitu juga sebaliknya, memosisikan diri lebih rendah dari orang lain hanya akan menempatkan diri lebih rendah dan lebih dalam kerendahdirinya. Kita justeru akan tambah minder.

Dalam berbagi, semua sejajar. Posisinya bukan memberi tahu tapi berbagi ilmu. Istilahnya saja sudah beda. Memberi tahu dan berbagi. Dan itulah yang membuat saya merasa bisa bertahan jika masuk komunitas. Berbaginya lebih dominan daripada memberi tahunya. Berbagi adalah menginspirasi. Orang yang berbagi biasanya bisa menginspirasi orang lain. Tidak pelit ilmu.

Bagaimana cara membedakan mana yang memberi tahu dan menggurui? Saya kira setiap orang memiliki sense of ego. Kembali ke diri sendiri. Berbagi akan mendatangkan silaturahmi. Menggurui? entahlah, mungkin banyak yang merasa jenuh dan bosan. Apalagi kita bukan guru. Selamat Berbagi selamat Hari Sabtu. ***[]

Read More

30.3.16

Bahasa Iklan VS Bahasa Berita


Ada Air Got?
Populernya media sosial selain menjadi berkah bagi Social Media Enthusiast juga menjadi pintu bagi korporasi untuk melakukan penetrasi produk dengan cepat ke pasaran. Hari ini sepertinya, produk yang akan dilepas tidak bisa menghindar dari peran media sosial, bahkan bisa dibesarkan oleh media tersebut tanpa mengeluarkan biaya iklan sepeserpun. Misalnya di Bandung ada produk Mak Icih. Tanpa twitter sepertinya tidak mungkin produk Mak Icih akan menjadi produk yang populer dalam jangka waktu singkat. Hingga akhirnya strategi pemasaran dari produk anak Bandung ini menjadi bahan kajian akademik.

Beberapa tahun terakhir dengan penggunaan yang sangat meluas, hampir semua usaha, baik usaha mikro, kecil, menengah ataupun korporasi besar nasional dan multinasional menggunakan media sosial sebagai alat pemasaran dan publikasi. Bukan hanya usaha tetapi segala jenis aktifitas sosial juga sudah mulai menggunakan media sosial sebagai media publikasinya. Tidak ada pengecualian dunia pendidikan dan politik.

Kira-kira setahun yang lalu, seorang teman yang juga sedang membangun personal brand melalui media sosial menulis sebuah status dengan melalui pertanyaan perbedaan hardselling dan softselling itu apa sih?. Dalam dunia akademis bahasa ini bisa merujuk pada bahasa jurnalistik atau juga bisa public relations dan bahasa marketing.

Loh?

Memangnya apa perbedaan kedua bahasa tersebut?

Secara teknis gramatikal bisa jadi tidak memiliki perbedaan, karena menggunakan kaidah bahasa Indonesia. Hanya saja secara semantik, dampak penggunaan kedua bahasa ini memiliki efek yang berbeda. Termasuk juga dari tingkat keterpengaruhannya.

Dengan kata lain bahasa Jurnalistik saya istilahkan dengan bahasa berita atau dikenal oleh orang marketing sebagai softselling sedangkan bahasa marketing atau bisa juga bahasa iklan yang disebut sebagai hardselling oleh orang marketing saya istilahkan dengan bahasa jualan agar lebih merakyat (setuju? hehe).

Menurut beberapa kajian dan penelitian, tingkat magnitude dan influence kedua bahasa ini memiliki dampak yang berbeda bahkan cenderung jomplang. Misalnya, iklan dengan bahasa jualannya walaupun memakan biaya puluhan atau ratusan juta dalam setiap bulannya hanya berdampak 6 % saja dalam membantu penjualan. Dengan kata lain yang 6 % tersebut berbanding lurus dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bahasa tersebut. “iklan memiliki tingkat kepercayaan 6% dari masyarakat”.

Apa yang dilakukan oleh iklan adalah dengan menggunakan bahasa jualan atau hardselling. Bahasa iklan mau realistis atau tidak tetap akan dipublikasikan. Bahasa iklan mau sesuai kaidah atau tidak tetap akan diterbitkan. Bahasa iklan juga kadang-kadang antimainstream dan cenderung bombastis, ia tetap ditayangkan. Ia vulgar dan terang-terangan. Langsung tembak sasaran. Maka wajar jika seorang kritikus komunikasi, Idi Subandy Ibrahim, mengistilahkan iklan sebagai the ideology of lie. Contoh,”mau kulit anda cerah dalam waktu singkat? Gunakan L**** secara teratur, kulit anda akan putih bersih dalam waktu 4 minggu. Benarkah akan putih? Gak juga kan..., ini hanya ekspektasi saja.
Nah...

Sedangkan bahasa berita atau softselling adalah bahasa yang selalu merujuk pada realitas dan fakta. Ia juga harus memiliki nilai-nilai tertentu yang menarik tidak didasarkan pada bombastisnya isi, tetapi berdasarkan fakta, realitas, dan data. Maka, biasanya tidak semua isu, wacana, atau fakta bisa diliput, diterbitkan, ataupun menjadi berita. Ia melalui seleksi yang ketat dari redaksi. Beda dengan iklan, jika nilai kontraknya sesuai, tetap akan ditayangkan. Kecuali menyangkut SARA.

Melalui publikasi dalam bentuk berita, satu produk selain populer biasanya juga bisa laku di pasaran jika beritanya positif. Berita juga tidak hanya terkait produk tapi juga keseluruhan proses perusahaan dalam mengenalkan produk, seperti kegiatan Corporate Social Responsibility. Sebelum produk tersebut melakukan penetrasi pasar, publikasi berita akan membentuk opini publik sehingga masyarakat terpengaruhi. Salah satunya, karena tingkat kepercayaan masyarakat; pembaca, pendengar, dan atau penonton terhadap berita mencapai 92-94-an %.

Tingkat kepercayaan terhadap bahasa berita mendorong tim kreatif orang-orang marketing untuk menciptakan istilah-istilah yang mendekati berita, misalnya ada advertorial atau sejenisnya tergantung kebijakan dari tiap media; infotorial, edukatorial dsb. Satu bentuk iklan yang dibuat dalam bentuk artikel dan atau berita dengan tingkat subjektifitas yang tinggi. Atau juga publikasi satu event atau peristiwa yang dipaksakan untuk publikasi, karena nilai beritanya minim sehingga tidak mungkin dipublikasikan oleh meda mainstream, maka dijadikan advertorial. Walau nilai beritanya kabur, tetap bisa dipublikasikan karena sesungguhnya berita tersebut adalah iklan.

Di era media sosial, bahasa-bahasa tersebut disampaikan dengan pola komunikasi yang berbeda. Jika di era komunikasi massa lebih cenderung pada pola komunikasi one to many, sedangkan sekarang lebih ke many to many. One to many dari satu lembaga ke banyak orang, sedangkan era sekarang dari banyak (lembaga/orang) ke banyak (orang) lagi atau rekomendasi, melalui media sosial. Banyak orang ke banyak orang.

Hanya saja, sejauh pengamatan saya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bahasa jualan (iklan) di era sekarang masih sama, sama seperti hasil penelitan 10 tahun yang lalu itu. Minim.

Oleh karena itu, bagaimana agar bahasa iklan tersebut tidak muncul, maka seorang social media enthusiast yang menerima job iklan harus membahasakan dengan pengalamannya. Ini yang dituntut dari seorang buzzer, menceritakan pengalamannya saat menjalin relasi dengan produk. Dengan mengundang untuk unboxing misalnya, kalo produk elektronik. Atau mengundang makan kalau resto, test drive kalo mobil/ provider.

Namun belakangan, tidak sedikit sebuah agensi atau corporate tidak memfasilitasi terlebih dahulu pengalaman tersebut, seperti dalam kasus content placement, sehingga pengalaman subjek tidak muncul dalam content. Terjadi keseragaman pengalaman dalam hal ini. Jika terjadi, pengalaman seragam tersebut tidak lagi unik atau justeru muncul kesan jualannya. Pembaca juga bisa membedakan mana yang berdasarkan pengalaman dan mana yang tidak. Padahal tuntutan ideal dalam mempersuasi publik tersebut adalah cerita berdasarkan pengalaman sehingga membentuk suatu buzz (orangnya disebut buzzer). Dalam marketing public relations, model ini disebut sebagai story telling.
Lalu bagaimana agar tulisan yang kita buat tidak memiliki kesan jualan, membentuk story telling, atau punya nilai publisitas?

Bahasa jurnalistik atau PR memegang teguh fakta, sedangkan iklan lebih pada ekspektasi.

Sekedar contoh:
Bahasa iklan:
Sakit Kepala ?
Minum Bod*** aja!
Internet lelet dan mahal?
Makanya pake dong provider A!
Pengen makan enak dan murah?
Di **** Cafe aja
Bahasa Berita
Dalam sehari, Kedai Nyonya *** habiskan daging sapi 100 kg.
Hasil test drive S****n kecepatannya mencapai 100 mbps
Bo*** bukan hanya hilangkan sakit kepala Nurma, juga sembuhkan migrainnya yang telah bertahun-tahun dideritanya.

Kedua pola bahasa di atas memiliki referensi yang berbeda, bisa jadi secara gramatikal tidak berbeda, namun secara makna berbeda. Dan yang memiliki efek jangka panjang adalah pola tulisan yang kedua. Inilah yang dikejar oleh marketing dan public relations, bagaimana agar event atau produknya masuk kategori kedua agar memiliki tingkat keterpengaruhan yang tinggi. Ini juga yang diharapkan oleh corporate saat mereka memberikan job untuk blogger. Story telling. Bahasa yang halus alias softselling. Sesuai dengan referensi pengalamaman sehingga makna yang muncul benar-benar beragam. Unik. Namun saling menguatkan.
Read More

28.3.16

Vlogging untuk Marketing PR

Beberapa tahun ke depan, dunia Branding, marketing, dan Public Relations akan dihidupkan dengan segala hal yang memiki karakter visual dan audiovisual. Tidak heran jika istilah infografis dan vlogging atau video blogging semakin ramai dibicarakan dan dijadikan medium untuk menyampaikan pesan kepada publik oleh pelaku usaha dari berbagai jenis usaha. Tak ketinggalan para bloggerprener.

Menurut survei Millward Brown, Indonesia termasuk negara pengonsumsi video terbanyak di dunia setidaknya untuk televisi, smartphone, dan tablet. Inilah yang menjadi dasar dari Millward Brown untuk merekomendasikan penggunaan konten Video untuk kegiatan pemasaran. Ini juga yang dilakukan oleh salah satu provider, Smartfren.

Seperti dikatakan oleh Seno Pramuaji, jika perusahaanya sedang menggenjot social content untuk membantu mendorong awarreness terhadap provider yang menggunakan dobel jaringa tersebut. Saat akses video chanelnya Smartfren akan banya social content yang dibuat oleh smartfren.

Minggu, tepatnya tanggal 20 Maret 2016, saya diberi kesempatan oleh #kelasblogger yang digagas oleh Kang Arul (Rulli Nasrullah) dan dinakhodai oleh Bang Udin (Syaifudin Sayuti) untuk menimba ilmunya. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Pagi sekali saya dan Kang Ade janjian di travel Baraya Jalan Surapati.

sumber: blog nutrifood
Sampai di Gedung Nutrifood Inspiration Centre, ternyata acara sudah dimulai. Tapi tidak masalah, masih banyak ilmu yang akan ditumpahkan oleh para pembicara yang expert di bidangnya masing-masing.


Dudi Iskandar, merupakan pembicara pertama yang menyampaikan materi photography. Pria yag besar di Bandung ini sudah malang melintang di media sebagai fotograper, hanya saja menurut pengakuannya, sejak masa transisi dari kamera analog ke digital sempat vakum.

Materinya yang disampaikannya tidak njelimet, padat dan fokus pada sasaran. Teman-teman kelas mencoba mempraktikan ilmunya langsung di kelas, ini salah satu contohnya.

Materi kedua, benar-benar baru saya kenal karena belum pernah mencoba otak-atik sendiri dengan video editing, yaitu Videography. Pematerinya sangat ekstrem, bayangin aja, lagi sakit-sakit juga maksain datang, mentang-mentang ada peserta dari Garut dan Bandung...ekstrem kan? Gak takut nambah sakit apa?

Dua sejoli pemateri, Dede Ariyanto dan Farichatul Jannah sedang mempraktikan video Sumber foto: Andri
Namanya Dede Ariyanto, atau biasa dipanggil Mas Dede. Mas Dede berkolaborasi dengan isterinya, mba Farichatul Jannah. Keren juga, aksi vloggingnya langsung dipraktikan melalui layar Iphonenya. Daan yang lebih keren, hasil kreasinya bersama sang isteri betul-betul seperti menonton berita feature di televisi. Kata Kang Ade, “wuish mereka mah udah profesional bangget”.

Tak kalah pentingnya adalah sharing masa depan konten marketing oleh Seno Pramuadji, Digital Marcomnya Smartfren, eeh bener kan Digital Marcomnya Smartfren? Seno banyak berbagi tentang wacana-wacana content marketing di masa yang akan datang dengan trend makin meningkatnya pengguna internet Indonesia. Salah satunya adalah materi yang sedang dibahas, yaitu videoblogging.
Tak kalah seru adalah pemateri paling cantik, Farichatul Jannah. Alumnus jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Suka Jogja ini memberikan pengetahuan praktis bagaimana mengisi suara dalam konten video. Ciamik.


Daaan ini hasil belajar seharinya, gak cukup ternyata hehehe...


Read More

7.1.16

Menulis antara Media Massa dan Media Sosial


Cukup sulit mengubah gaya selingkung dalam menulis dari artikel ke feature wisata. Begitu juga cukup sulit saat harus berpindah gaya dari menulis artikel media massa dan untuk blogging. Walaupun bisa saja disamaratakan. Hanya saja karena blog sifatnya lebih personal, tuntutan itu tidak bisa diindahkan.

Pada sisi lain, biasanya menulis artikel-artikel reflektif tentang komunikasi dan media, namun sejak beberapa bulan terakhir belajar untuk mengaktifkan blog dengan menulis isu-isu wisata dan perjalanan. Alhasil selama 3 bulan tersebut berhasil menulis sebanyak 27-an artikel yang sebagiannya cukup banyak tulisan wisata.

Hasilnya tidak mengecewakan, setelah lama absen dari pemuatan artikel di Pikiran Rakyat, kemarin (03/1/2016) menjadi pembuka untuk menyemangati diri agar tetap menulis dan mengirimkan ke media massa walaupun dengan isu yang jauh berbeda dari kajian komunikasi dan media dan dengan nama khusus media sosial. 

Pada bulan November juga mendapatkan ganjaran dengan artikel terbaik dengan judul "Pesona Talaga Bodas" di social Citizen Journalism Plimbi.com. Sebagai newbie tetep ini jadi bagian dari proses pembelajaran dalam menulis. Bagaimanapun, sebanyak apapun artikel di koran, jurnal, jika masih belum memiliki karya utuh berupa buku sepertinya tidak pas mengaku penulis. Begitu juga jika hanya memiliki buku bunga rampai, masih kurang sempurna menjadikan diri sebagai penulis.

Tahun 2014-2015 menjadi tahun paceklik dalam menulis, entah sepertinya tidak fokus, hanya satu dua saja menulis, dan hitungan dalam satu tahun sekali saja dimuat di media massa, sisanya dala bentuk jurnal. Harus diakui terlalu tersedot oleh hal-hal yang sia-sia, jadinya terlalu terlena dengan hal-hal yang pragmatis dan realistis. Sementara menulis bukan persoalan pragmatis tetapi bagaimana pergumulan pikiran ini harus tersusun rapi hingga menjadi gagasan yang bermanfaat untuk orang lain.

Tiga bulan terakhir menjelang pergantian tahun, saya cukup asyik berjejaring melalui media sosial, khususnya blog, walaupun sebetulnya ngeblog sudah dimulai tahun 2006 dan berjejaring juga sejak 2009. Namun baru kerasa setahun terakhir melalui #BloggerBDG dan tiga bulan terakhir menjelang pergantian tahun  menemukan team yang sebetulnya sudah diimpikan sejak lama untuk membangun usaha dalam bidang publikasi (media). 

Masuk pergantian tahun 2016, setelah mencoba seminggu membuat diri teratur, semoga ide-ide yang selalu terserak ini bisa diwadahi dalam gagasan yang lebih elegan dan prestisius. Bukan hanya blogging yang sudah menjadi dunia tersendiri untuk menjalin jejaring dan silaturahmi. Juga memiliki media sendiri yang dibangun tidak secara personal namun team sehingga menjadi bagian dari usaha media yang membanggakan.

Media sosial Yes, Media Massa Kudu! #ItuAjaSih










Read More

13.12.15

ASUS X550ZE, Si Cantik Yang Gahar!





ASUS X550ZE, Si Cantik yang Gahar. Tampilan Ciamik, Performance Gahar!
Sumber: http://asus.com/id


Memiliki dua Piranti dari Asus, betul-betul sangat memuaskan. Yang pertama monitor LED dan kedua Laptop PC. Monitor LED ASUS dengan ukuran 19” sangat nyaman untuk menonton film yang bersumber dari DVD. Bahkan ada setelan agar nyaman ditonton atau dilihat sesuai keperluan, apakah untuk film, game, atau keperluan kerja.

Kedua adalah Laptop ASUS dengan 8 core atau 8 otak untuk menjalankan fungsi kerjanya. Dengan 8 otak tersebut, laptop ASUS yang saya pakai memiliki performa yang sangat handal, baik untuk keperluan grafis ringan (photoshop dan Corel) ataupun untuk keperluan kerja kantoran sehari-hari (Microsoft word, Power Point, dan Excel). Selama hampir satu tahun ditemani oleh Asus tersebut, mesin piranti tidak pernah kepanasan, karena ketika piranti tersebut bekerja dan menjalankan beberapa perangkat, masing-masing perangkat dijalankan oleh otak yang berbeda.

Lantas bagaimana jika Laptop tersebut memiliki 12 core?

Hmmm tentu saja performanya akan melebihi piranti ASUS yang hanya memiliki 8 otak (octacore). Piranti yang memiliki banyak otak dibutuhkan oleh mereka yang bekerja dengan multitasking. Misalnya, seorang blogger profesional selain ia menulis dengan word dan mengakses internet untuk keperluan posting blog dan jejaring di media sosial, ia juga sekaligus memproses gambar atau video. Pekerjaan multitasking ini mengutas otak komputer, jika otaknya terbatas, maka mesin akan cepat panas. Melalui 12 Core tersebut, kerja multitasking masing-masing dipegang oleh otak yang berbeda-beda sehingga tidak menguras energi otak yang lain karena sudah berbagi tugas dengan masing-masing core.

ASUS  X550ZE
Desain Klasik, Cantik tetap berwibawa. Sumber: http://asus.com/id
ASUS, bulan Agustus lalu meluncurkan produk baru laptop PC dengan mesin 12 core, Asus X550ZE. Bekerja sama dengan AMD, produk baru ASUS tersebut menggunakan mesin 12-computing-core besutan AMD. ASUS sangat faham bagaimana kebutuhan para pekerja profesional yang sudah multitasking. Selain tuntutan pekerjaan yang harus efisien dan efektif, juga membutuhkan dukungan hiburan agar tidak cepat jenuh. Oleh karena itu ASUS X55ZE selain mendukung terhadap kebutuhan kerja para profesional, juga daya dukung terhadap kebutuhan akan hiburan.

Desain Cantik dan Stylis
Laptop yang diproduksi Asus memiliki ciri khas, yaitu klasik. Namun jangan salah, desain klasik ini justeru yang menjadi pembeda dengan desain produk lain. Diibaratkan penyanyi, Adele dapat mewakili gaya klasik di era modern, cantik dan berwibawa. Desain klasik Asus betul-betul menarik perhatian. Ia mewakili kriteria cantik di era sekarang dengan profil 5 % lebih tipis dari produk sebelumnya namun tetap menghadirkan touch pad besar dengan fitur Smart Gesture. Touchpad Asus seperti halnya layar sentuh memungkinkan pengguna melakukan double touch untuk kecepatan interaksi dengan monitor sebagaimana pada smartphone. Kerenkan? Kita tinggal sentuhkan dua jari dan gerakan kedua jari pada touch pad, maka layar pengalaman tersebut akan membawa kita seperti menggunakan layar sentuh smartphone.

Selain stylis dari sisi bentuk, Asus juga menghadirkan teknologi yang ekslusif, tidak dimiliki oleh penyedia perangkat yang lain, yaitu kekayaan warna layar untuk memanjakan pengalaman pengguna. Teknologi ini mengatur tampilan layar secara dinamis sesuai dengan aplikasi yang digunakan dengan mengantur gamut dan akurasi warna. Hampir serupa dengan pengalaman saya menggunakan layar monitor dari Asus, sehingga menghasilkan gambar baik foto ataupun video yang sempurna. Asus menyebut teknologi ini dengan istilah Splendid, menghadirkan 4 mode gambar untuk mengakomodasi berbagai macam kondisi yang bisa disesuaikan dengan keinginan pengguna. Seperti saya sebutkan di atas, apakah untuk keperluan penggunaan MS Word saja, Gaming, Video, atau pengolahan gambar bisa disesuaikan mode warnanya.

Performance Gahar

Cantik saja tidak cukup kan, lalu bagaimana dengan performance-nya? Bagaimana dengan kekuatan dan kecepatannya?

Melalui dukungan dari prosesor AMD FX-7600P dengan 12 otak komputer, ASUS X55ZE betul-betul berada di atas angin. Menurut situs amd.com/en-us makin banyak otak inti, akselerasi semakin cepat. Inilah yang dilakukan Asus dengan produk X55ZE-nya. Selain desain yang caktik, Asus juga membenamkan mesin denga kekuatan penuh. Sehingga sangat mendukung para pebisnis atau profesional agar bisa bekerja secara multitasking. Dengan banyak keperluan dari satu perangkat tersebut. Sambil membuat laporan kerja, browsing internet, kemudian main game, bosen main game nonton film, atau mengedit video untuk keperluan kerja, semua itu tidak akan menguras energi perangkat. Karena masing-masing pekerjaan tersebut sudah diatasi oleh masing-masing otak.

Keduabelas core tersebut terdiri dari 4 core untuk GPU atau Graphics Processing Unit dan 8 Graphics untuk Computer Processing Unit (CPU). Dua domain tempat penyimpanan otak komputer (processor) ini dalam teknologi baru AMD diintegrasikan menjadi satu unit yaitu Accelerated Processing Unit (APU).

Dengan intergrasi keduanya, memungkinkan semua pekerjaan berada dalam satu perintah namun dengan pekerja otak yang berbeda-beda sehingga pekerjaan menjadi cepat. Wajar jika saat posisi laptop dalam keadaan sleep ke keadaan menyala sangat cepat, hanya memerlukan waktu 2 detik saja. Teknologi yang dimiliki oleh perangkat ini menghadirkan kinerja seresponsif smartphohe, dengan resume instant bahkan saat siaga dalam waktu yan lama. Bahkan, seperti halnya smartphone, data yang kita input ke dalam peragkat akan tersimpan secara otomatis sebagaimana saat kita mengetik pada layar smartphone. Canggih bukan?  Sedangkan untuk pengiriman data 10 kali lebih cepat, dengan teknologi USB generasi ke-3, pengiriman data 25 hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit. Ajaib buka?  Melalui 12 otaknya, Asus X55ZE memiliki kecepatan hingga 3.6 GHz.

Dengan banyak otak, pekerjaan multitasking dalam piranti tidak akan cepat melelahkan bagi otak karena masing-masing otak bekerja untuk satu perangkat, berbeda dengan satu otak bekerja untuk beberapa perangkat selain mudah lelah juga mudah panas. Hal ini tidak akan pernah terjadi dalam mesin ASUS X55ZE. Berdasarkan yang saya alami, dengan 8 core saja perangkat Asus tidak pernah mengalami panas, sehingga tidak memerlukan mesin pendingin tambahan di luar perangkat. Namun walau demikian, Asus X55ZE tetap menyediakan Icecooled yang sudah terintegrasikan di dalamnya untuk mengantisipasinya.

Bagaimana Kualitas Suaranya?
Sebagai Laptop yang sangat responsif untuk keperluan Gaming, kualitas suara Asus X55ZE sangat mumpuni. Hal ini didukung dengan perangkat suara dari Sonic Master diintegrasikan dengan ASUS Audio Wizard sehingga menghasilkan suara dengan fidelitas yang tinggi. Dengan teknologi Sonic Master, pengguna bisa melakukan setting sesuai dengan kebutuhan apakah untuk audio game, musik, atau film. Suara yang dihasilkan tetap jernih.

Touch Pad Seresponsif Smartphone
Touchpad senyaman dan seteknologis smartphone membuat pekerjaan nyaman, efisien, dan efektif.                                       Sumber: http://asus.com/id
Betul-betul pengalaman baru saat menggunakan perangkat Laptop PC dari Asus, yaitu teknologi Touch Padnya seresponsif smartphone. Melalui Touchpad, pengguna akan memiliki pengalaman yang tidak dibayangkan sebelumnya. Pada perangkat laptop lain, tidak ditemukan teknologi seperti ini, setidaknya pada laptop yang sebelumnya saya gunakan. Tim ASUS menggunakan teknologi Golden Finger pada perangkat ASUS Generasi X ini yang mengedepankan antarmuka alami untuk sentuhan. Sehingga ASUS dapat merespon berbagai gaya sentuhan penggunanya dengan cepat dan akurat. Hal ini disesuaikan juga dengan papan ketik yang ergonomis sehingga nyaman saat melakukan pengetikan.

Pengalaman baru akan didapatkan oleh pengguna saat melakukan gaming atau nonton film dalam bentangan layar 15,6”. Dukungan suara Sonic Master menjadi penyempurna dari audio untuk kualitas suaranya. Benar-benar makjleb! Dukungan layar ini juga akan membuat nyaman para desainer grafis yang memerlukan layar sehingga tuntutan presisi didapatkan dari ASUS generasi X ini.

Melalui perangkat ini, pengguna tidak hanya nyaman dengan tampilan luarnya, namun juga akan merasakan pengalaman performancenya yang Gahar baik mesin atau suaranya. Cantik tapi Gahar. Atau mewakili cowok metroseksual yang gemar bersolek, selain memperhatikan tampilan luar juga menjaga performancenya agar tidak cepat loyok.

Oh ya, Jika ASUS yang saya miliki hanya bergaransi satu tahun saja, Asus X55ZE memiliki garansi hingga 2 tahun, jaminan bukan hanya pada software saja namun juga hardwarenya jika terjadi kerusakan. Selain gratis biaya service Pihak ASUS juga akan mengganti hardware yang rusak. Benar-benar dijamin sama layanan ASUS.

Lalu dengan harganya bagaimana?
Jangan khawatir, walaupun dengan otak 12 core, harga dari Asus X550ZE relatif terjangkau, bahkan bisa dikatakan lebih murah dibanding dengan otak 8 core dari processor tetangga.

Ini ASUS-ku mana ASUS-mu?

Spesifikasi Produk:
Main Spec.
X550ZE
CPU
AMD® FX-7600PQuad-Core 2,7GHz  (4M, burst up to 3,6GHz)
AMD® A10-7400P Quad-Core 2,5GHz (4M, burst up to 3,4GHz)
Memory
LPDDR3L 1600 MHz SDRAM 4GBup to 16GB (8GB x 2)
Storage
2.5" 9.5mm SATA 1TB
Display
HD 15.6”1366x768
Graphics
Dual Graphic AMD R5 M230 + R7 M270DX
Dual Graphic AMD R5 M230 + R7 M265DX
Input/Output
1 x COMBO audio jack, 1 x VGA port/Mini D-sub 15-pin for external monitor, 2 x USB 3.0 port(s), 1 x RJ45 LAN Jack for LAN insert, 1 x HDMI
Camera
VGA Web Camera
Connectivity
WiFi 802.11b/g/n, Gigabit Ethernet, Bluetooth 4.0
Audio
ASUS SonicMaster, Built-in Azalia compliant audio chip, with 3D effect & full duplex
Weight 
2.26kg (with battery)
Dimension
38.0 x 25.1 x 2.51 cm (WxDxH)
Colors
Gray / Aluminum
Battery
4cell 2950mAh 44Whrs


Warranty
2 years full global warranty
 Sumber spesifikasi: antaranews.com

Ada yang memiliki pengalaman sama dengan Asus-nya? Bravo!***[abahraka]

Read More