Belajar pada Tokoh Pergerakan

Dalam aktivitasnya menyampaikan ajaran pada para mahasiswa, Ali Syariati menekankan pada eksistensi manusia sebagai makhluk yang mulia. Dalam penciptaannya , manusia diciptakan sama dan bersaudara, termasuk dalam hal gender. Hanya manusialah yang sanggup mengemban amanah Tuhan yaitu amanat berkehendak bebas yang membedakan manusia dengan malaikat, gunung, matahari. Hal ini merupakan kesamaan kedekatan antara manusia dan Tuhan.

Mahasiswa merupakan penomena tersendiri, di manapun berada. Betapa tidak, gerakan kemahasiswaan bisa menjadi pemicu revolusi di suatu negara. Salah satunya di Iran. Pada tahun 1979 bersama-sama Mullah melakukan revolusi terhadap Raja pahlevi yang berkuasa pada saat itu. Jauh sebelum terjadinyan revolusi, geerakan-gerakan menentang pemerintah selalu gencar gilakukan oleh mahasiswa, yang pada saat itu tercatat sebagai anak didik langsung dari Ali Syariati. Ali Syariati adalah intelektual muda Iran yang meraih gelar doktor dari salhsatu Univeersitas di Prancis.

Tak terkecuali di Indonesia, mahasiswa selalu memainkan peran yang sangat penting. Dari mulai perang melawan penjajah, perang merebutkan kemerdekaan, menentang kebijakan pemerintahan Orde Lama, menentang PKI, Orde Baru. Sampai hari ini Mahasiswa selalu berjuang paling depan memperjuangkan nasib rakyat, di samping LSM tentunya.

Tetapi disisi lain pergerakan mahasiswa pun tidak jarang mengalami kegagalan. para aktivis tidak bisa mengintegrasikan antara apa yang didengung-dengungkan dengan realitas hidupnya sendiri. Dalam hal ini Ali Syariat—selain seorang pilosof Etika dan pemikir pembaharu Islam, Ia seringkali dijuluki sebagai arsitek Iran Modern, sebagai ideolog yang revolusioner ikut membidani revolusi Iran 1979—walaupun pada kenyataanya ia tidak bisa menikmati hasil jerih payahnya karena kematiannya yang mendadak, tetapi ia patut dijadikan sebagai pigur pergerakan. Pergerakan merupakan salah satu gerbong peradaban. Salah satunya adalah konsepsinya yang mendalam dan integralnya konsep tauhid. Pemikiran syariati ini lebih dalam dalam dibahas dalam bukunya Eki malaki, yang diangkat dari tesis S2nya.pandangannya diarahkan pada kehidupan etis dalam membangun peradaban.

Eki meraih gelar master filsafat dari Universitas Indonesia. Selain karya yang diangkat dari tesisnya ini, Eki juga produktif menulis dalam bidang sastra dan filsafa berupa buku, juga artikel yang tersebar pada Media, baik cetak atupun elektronik.

Selain diawali oleh sistematika pembahasan (BAB I) selanjutnya Eki memaparkan dengan jelas tentang latar belakang Syari’ati. Syariati lahir tahun 1933 dari seorang Ulama dan pendidik di pinggiran kota masyhad dan Sabzavar, provinsi Khoran Iran ini sejak usia muda sudah bergabung dengan dunia organisasi. Pendidikan Syariati yang dikenyam didesanya sendiri langsung di bawah bimbingan Taqi Syariati—sang Ayah, memberikan kelebihan untuk belajar pada sang Ayah. Umur 17 tahun Syari’ati sudah bergabung dengan gerakan nasionalisme yang dipimpin oleh Perdana menteri yang menjabat pada saat itu dengan nama Gerakan penyembah Tuhan Sosialis. Hingga akhirnya ia dipenjara. (hal 14-15)

Dalam aktivitasnya menyampaikan ajaran pada para mahasiswa, Ali Syariati menekankan pada eksistensi manusia sebagai makhluk yang mulia. Dalam penciptaannya , manusia diciptakan sama dan bersaudara, termasuk dalam hal gender. Hanya manusialah yang sanggup mengemban amanah Tuhan yaitu amanat berkehendak bebas yang membedakan manusia dengan malaikat, gunung, matahari. Hal ini merupakan kesamaan kedekatan antara manusia dan Tuhan. (hal 33)

Ali Syariati membedakan dua jenis makhluk, yang pertama makhluk yang mengada (mode of being) atau diistilahkan Basyar dan makhluk yang menjadi (becoming) yang diistilahkan dengan insan. Tidak semua manusia masuk dalam kategori insan. Untuk ‘menjadi’manusia harus memiliki tiga sifat Tuhan yaitu;

1.Kesadaran diri (Self-Awareness, Self Consciousness)). Sifat ini menuntun manusia untuk memilih, dan kemudian menolongnya untuk mencipta sesuatu yang baruyang sebelumnya tidak ada di alam semesta.
2.Kemauan bebas (Free to Choose). Manusia adalah satu-satunya makhluk yang bebas untuk memilih bagi dirinya sendiri.
3.Kreatifitas (daya cipta, creativeness). Manusia bukan sekedar makhluk pembuatalat, tetapi ia mencipta dan pembuat barang-barang yang belum ada di alam.
Pada Bab III, Eki memaparkan tentang konsep-konsep dasar Etika Syariati dan membandingkan dengan konsep etika barat.

Tauhid sebagai landasan Etika, bagi Syariati merupakan pandangan hidupnya sekaligus konsep sentralnya. Tauhid bukanlah pemahaman monoteisme sebagaimana yang dimengerti Umat Islam pada umumnya. Tauhid versi Syariati adalah satu kesatuan selurtuh alam semesta, tidak terbagi atas dikotomi alamiah-supra alamiah, dunia kin-nanti, jiwa-raga. Pndangan ini memandang seluruh eksistensi sebagai suatu bentuk tunggal, sebagai suatu organisme tunggal yang harmonis dan mempunyai tujuan, yang hidup dan memiliki kesadaran, cipta, rasa dan karsa.

Dengan demikian, Tauhid adalah pandangan dunia seorang Muslim dan menjadi landasan dasar setiap pemikiran, termasuk sebagai sumber pilsafat moral dan pondasi semua prinsip-prinsip termasuk kegiatan manusia yang berhubungan dengan peristiwa sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan. Tauhid menghapus ketidakpedulian, ketamakan serta menerima persamaan, kebebasan dan kemerdekaan. (hal.71-105)

Bab IV Eki memaparkan ketersinggungannya dengan kondisi sosial di Indonesia. Diantaranya adalah pemikiran syariati yang cenderung kiri dalam arti lebih mengangkat issu kerakyatan, cukup relevan dengan kondisi rkyat Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini sempat mempengaruhi beberapa aktivis dari organisasi mahasiswa Islam diantaranya adalah HMI dan MPO, mesjid Salman, Mesjid Shalahuddin dan LSM-LSM di era tahun 80-an.

Buku ini menjadi relevan bagi mereka yang ingin mengkaji lebih dalam tentang pemikiran Ali Syariati, sebagai jembatan antara kaum ulama dan intellektual. Ali Syariati bahkan ikut terjun langsung dalam memimpin pergerakan sehingga buku ini cocok apabila dikaji dan menjadi pegangan aktivis dan advokat Islam khususnya ketika mendampingi Rakyat dan kaum tertindas dalam memperjuangkan haknya.
Dalam buku ini Eki membeberkan semua pemikiran Ali Syariati, tidak saja dalam bidang etika, tetapi pemikirannya yang mengantarkannya untuk menjadi arsitek Iran Modern. pemikiran Syariati menjadi lebih Asyik dikomparasikan dengan para pemikir etika Barat. Sehingga sangat patut untuk dikonsumsi oleh para aktivis Islam ataupun bukan. Tetapi sayang, karena buku ini diangkat dari thesis S2 nya Eki, maka terkessan begitu formal, ini terlihat jelas dari bahasan yang terikat oleh aturan penulisan sebuah karya ilmiah.


Judul : Ali Syari’ati; Filosof Etika dan arsitek Iran Modern
Penulis : Eki Malaki
Penerbit : Teraju Mizan, Bandung,
Taahun terbit : Juli 2004
Jumlah halaman : 170 halaman.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon