Virus Kotor Politik

Ternyata selama ini kita dijangkiti penyakit yang sangat mengerikan; ia adalah buruk sangka…(Karl may)

Potongan kalimat di atas merupakan ungkapan seorang novelis Petualang German; Karl May dalam karyanya Dan Damai Di Bumi. Pernyataan di atas bermaksud mengungkapkan kengeriannya terhadap konflik antar bangsa dunia di muka bumi akibat adanya etnosentrisme dari salah satu bangsa, serta kecurigan yang terlalu berlebihan terhadap bangsa lainnya. Hal ini dipicu karena adanya perasaan bangsa Barat yang menganggap dirinya lebih unggul dibandingkan dengan ras lain, bangsanya lebih berperadaban dibandingkan bangsa lainnya. Hal ini menghambat terhadap proses komunikasi sosial antara bangsa Barat dengan bangsa lainnya, khususnya bangsa Timur, ketika bangsa Barat melakukan petualangannya ke Dunia Timur, maka yang terjadi adalah kecurigaan bahwa dirinya (manusia Barat) dalam posisi tidak aman, sehingga ada jarak sosial yang cukup jauh, di tambah lagi pandangannya yang merendahkan dengan tidak berperadabannya bangsa Timur, sehingga Bangsa Barat akan selalu memandang apa yang dimiliki oleh bangsa Timur sama sekali tidak berharga dan tidak akan berguna bagi umat manusia.
 
Pandangan-pandangan di atas lebih jauh menimbulkan konflik yang cukup dalam karena tidak adanya saling mengakui atas eksistensi manusia Timur oleh Barat. Bangsa Barat menganggap apa yang dilakukan oleh Timur terhadap peradabannya ketika berhadapan dengan Barat, selalu dipandang sebagai suatu ancaman bagi eksistensi bangsa Barat. Persis seperti apa yang dimaksud oleh Samuel P. Hutington sebagai benturan peradaban. Islam dan Cina akan selalu dipandang sebagai ancaman bagi bangsa Barat baik dari sisi Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya.

Dalam ruang lingkup yang sangat kecil, hal ini pun sesungguhnya terjadi dalam komunitas kita “HMI CABANG KABUPATEN BANDUNG”. Kecurigaan yang terlalu berlebihan sudah menjadi teman hidup sehari-hari, sehingga tak jarang menimbulkan konflik. Kejadian seperti ini sudah begitu mendarah daging, sehingga pada beberapa periode kepengurusan, para elit pengurus Cabang dan tidak menutup kemungkinan Komisariat, hanya melakukan “program kerja” ngurusin konflik. Sehingga tak satupun program yang landing, kalaupun ada pasti program yang tidak membutuhkan konsentrasi penuh dan bukan andalan.

Konferensi Cabang sebagai Hajatan Cabang, beberapa pekan lagi akan digelar, kalau para pengurusnya konsisten dengan hasil Konferensi periode lalu. Begitupun agenda kampus dengan PEMILU RAYAnya menunggu beberapa pekan lagi. Pelemparan Isu dan bahkan mungkin bisa masuk fitnah (kalau dalam terminologi agama) sudah mulai terasa, baik itu menyangkut institusi komunitas atau isu personal. Hal ini memang bukan barang baru ketika menghadapi momen politik. Para “kader politik” HMI cabang Kabupaten Bandung saling melempar isu, bahkan tak segan-segan untuk menjatuhkan “kawan” berpolitiknya, baik dari segi kepribadiannya ataupun dari kinerja dan pola kepemimpinannya. Sebagai antisipasi terhadap “kawan” berpolitiknya, memang pelemparan issu ini baik sebagai ajang pembelajaran politik dan itupun harus disadari hanya sebagai pembelajaran politik. Tapi kalau sudah terjadi prejudais berlebihan dan ketakutan terancamnya eksistensi, sehingga terjadi proses penjatuan karakter terhadap calo-calon kawan main berpolitknya, ini sudah tidak sehat, dan bisa dibilang tidak mencerminkan seorang insan cita, yang mempunyai karakter ideal sebagai seorang calon pemimpin masa depan. Seorang kader termasuk calon, tidak saja mesti mempunyai track record yang ditunjukan dengan kinerja dan kratifitasnya di lingkungan komunitasnya tetapi juga harus mampu melihat dan menghargai calon lain.

Riak-riak rumput yang bergoyang, bukan berarti menunjukan tertiupnya angin, tapi mungkin saja ada benda lain yang telah menyentuhnya. Peristiwa-peristiwa yang dilakukan oleh komunitas atau person kader HMI Cabang Kabupaten Bandung, bukan berarti bahwa seorang kader itu akan menunjukan eksistensinya tapi ada tanggung jawab lain, baik itu sebagai pribadi dan atau sebagai kader. Dan bisa jadi ada masalah lain yang mengharuskan seorang kader itu berbuat sesuatu, baik dalam artian menguntungkan atau merugikan komunitas kita HMI cabang Kabupaten Bandung. 

Jargon YAKUZA, akan terasa hambar bila apa yang kita lakukan hanya dihubungkan dengan urusan politik an sich dalam pengertian sempit; untuk menduduki posisi strategis. Jargon YAKUZA memerlukan integritas tinggi bukan hanya cuap-cuap politik, yang dilakukan hanya pada saat tertentu saja. Proses YAKUZA memerlukan komitmen dan konsistensi para kadernya. Bahkan apabila komunitas ini mau maju dan berkembang, kita mesti kembali pada independesi HMI. Independensi bukan berarti hanya melepaskan diri dari cekokan alumni atau hanya sekedar cuap-cuap berfihak pada kebenaran (kebenaran yang mana? jangan-jangan cuma pembenaran), tapi yang lebih penting hilangkan berfikir komunitas yang lebih kecil (jurusan atau komisariat atau cabang dll), hilangkan prejudais berlebihan terhadap satu komunitas lain atau terhadap person sekalipun, nyatakan bahwa kita berbuat bukan hanya untuk komunitas bukan hanya atas tanggungjawab pribadi kader, tapi lebih dari itu kita berbuat karena tuntutan sifat kita sebagai manusia. Syari’ati menyebut tiga sifat dasar, yakni Kehendak bebas (freewill), Kratifitas dan Berkesadaran.

Yakini bahwa apa yang kita perbuat bukan hanya untuk lingkup terkecil; diri kita, komunitas kita, tapi untuk memenuhi sifat dasar manusia di atas. Tetapi bukan hal mudah, sudah sejauhmana kita berkehendak terhadap sesuatu yang hanif, :apakah kita sudah melakukan hal-hal yang berguna dengan kreatifitas kita atau apakah kita benar-benar dalam keadaan sadar ketika kita melakukan sesuatu, bukan kesadaran naif, yang melakukan sesuatu atas dasar dorongan materi, biologis (seks kalau kata freud) dan kepentingan fisik kita belaka.

Dalam istilah spritual populer, meminjam istilah Ari ginajar dalam ESQ: menjadi kreatif, berkendak atas kesadaran ilahi disebut dengan Zero Mind proces atau berproses untuk berfikir jernih. Ada beberapa hal (baca sendiri ye…) yang mesti diminimalisir dari pikiran kita untuk bisa mulai berfikir jernih dan tanpa kecenderungan ke arah yang menjerumuskan. Berfikir jernih adalah modal dasar kemajuan, sebab dari sana proses kerja kreatif akan didapat.

Akhir kata mari kita hilangkan prejudaisme berlebihan terhadap sesama kader atau komunitas, mari hilangkan etnosentrisme berlebihan komunitas. Kita besar bukan karena alumni saja, atau karena kemampuan pribadi, tapi karena bersama-sama saling memajukan bukan saling menjatuhkan. dan oleh karena itu tidak ada komunitas paling besar tanpa kehendak bebas, kreatifitas dan kesadaran. Tidak ada komunitas yang lebih maju dan besar tanpa kerja bareng dengan komunitas lain. Siapa yang berani memunculkan sifat dasar kemanusiaannya tersebut dialah yang akan menjadi pemenang (hidup) dan besar. Mari besarkan HMI kita dengan proses kreatif yang berkehendak bebas dibarengi dengan kesadaran yang saling memajukan.


Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon