Office 2003 VS Offive 2007 bagian II

Jika pada cerita Komunikasi antar budaya dengan judul di atas sebelumnya para komunikate berhasil mengambil solusi dan ada pergeseran pengtahuan dari tidak tau mejadi tahu bahkan menghubungkan silaturahmi baik antar komunikate ataupun dengan media sendiri, pada persfektif cerita ini justeru sebaliknya. cerita ini dialami oleh teman saya yang Jebolan Universitas Swasta terkemuka yang berbasis IT.
Suatu hari sang teman yang saya panggil akang, mendapatkan pesanan sebuah PC (personal computer) oleh mantan ketua RW di kampung saya di Garut. Sang Mantan RW tersebut mempunyai 3 orang anak dan salah seorangnya bersekolah di SMK. Sang anak tersebut mengutarakan keinginannya memiliki computer karena untuk mengerjakan tugas-tugas, jika setiap tugas harus selalu dikerjakan di rental tentu berabe karena jaraknya yang cukup jauh. Akhirnya sang mantan Ketua RW tersebut meminta bantuan Akang untuk membelikan sebuah PC yang serba baru, baik dari hardwarenya ataupun dari softwarenya.

Singkat cerita PC sudah jadi dan sudah bisa digunakan dengan menggunakan program office 2007. Dengan untung yang tidak seberapa menurut cerita Akang kepada saya, karena sifat sosialnya dikampung yang masih tinggi, komputer pun akhirnya digunakan oleh sang anak, lengkap dengan printernya.

Suatu hari ada seorang tetangga ikut mengetik pada komputer sang mantan ketua RW tersebut, setelah mengetik sampai puluhan halaman tersebut akhirnya sang tetangga pun pamit karena printernya ga bisa digunakan. Sang tetangga pun memutuskan untuk melakukan print out di rentalan saja, karena tugas sudah mendesak harus dikumpulkan.

Besok paginya sang tetangga buru-buru ke rentalan yang jaraknya lumayan jauh, sekitar 5 Km atau dengan ongkos Rp. 10.000, pulang pergi.

setelah sampai di tempat rental komputer, file tugas yang telah diketiknya ga bisa dibuka, kontan saja sang tetangga emosi dan akhirnya laporan ke pemilik komputer, bahwa komputernya teu baleg (ga bener).

Karena terpengaruh sang tetangga, sang pemilik pun akhirnya menyalahkan akang, seorang yang telah merakitkan komputer untuk sang pemilik.

” udah bayar mahal-malah malahan ga bener ” maki sang pemilik.

Padahal menurut cerita akang, space CPU nya sudah sesuai dengan permintaan, segala baru dan selama ini ga ada masalah.

Namun setelah dipake oleh sang tetangga ko jadi ada masalah. Akhirnya akang menyalahkan sang tetangga tersebut karena tidak becus menggunakan komputer.

akhirnya sang tetangga dan akang saling menyalahkan walaupun tidak berada dalam satu ruang dan waktu yang sama.

si Akang juga ga tau kalo ”musibah” yang dialami sang tetangga tersebut karena berbeda program, sehingga tidak disampaikan ke pemilik PC tersebut. yang pada akhirnya saling mengerutu satu sama lain, sang pemilik menggerutu ke si Akang, Si Akang menggerutu ke sang tetangga.

Setelah saya tanya-tanya, akhirnya diketahui bahwa Program office (seperti telah saya ceritakan di atas) yang digunakan oleh sang pemilik berbeda dengan office yang digunakan kebanyakan rentalan komputer.

akhirnya saya kasih informasi bahwa jika programnya berbeda maka harus digunakan subtitle save as, akhinya si Akang manggut-manggut tanda mengerti, namun tetap merasa kecewa kepada sang tetangga sehingga memprovokasi sang pemilik bahwa dikirannya si Kang lah yang ga bener bikin rakitan CPU.

(diceritakan oleh Akang ketika penulis pulang ke kampung halaman di Garut, mohon maaf jika namanya tidak disebutkan, karena cerita ini cerita nyata)

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon