Menuju Transendensi Organisasi

Di tengah zaman “edan” yang serba global, agaknya determinisme peradaban sudah mengarah pada satu kesepakatan bahwa untuk mencapai eksistensinya, manusia berkuasa harus berdiri di atas pundak orang yang dikuasai. Eksistensi manusia sekarang diukur dengan sejauh mana bisa menindas kaum lemah. Hal ini merupakan konsekwensi logis dari epistemologi keilmuan Barat yang serba materialistik. Materialisasi produk Barat mendorong terhadap jauhnya penggunaan nurani dan akal sehat, menafikan keilmuan yang transenden. Merebaknya globalisasi, merajalelanya kapitalisme, pengaruh besarnya altruisme, pemujaan berlebihan terhadap nafsu, penuhanan terhadap sains dan teknologi mendorong manusia melakukan hal tersebut, mendorong manusia melakukan dehumanisasi, disadari atau tidak. 

Dehumanisasi terjadi akibat terjauhnya manusia dari nurani dan akal sehatnya sebagai implikasi lansung dari agama modern, yang mempunyai akar epistemolgis yang harus serba rasional, empiris dan terukur (positivistik). Agama Modern yang berkiblat pada sains dan teknologi serta berpijak pada epistemologi positivistik di atas, mengukur segala sesuatunya dengan realitas kebendaan. Penilaian segala sesuatu didasarkan pada tinggi rendahnya materi yang dimiliki. Manusia yang hidup dalam dimensi ini selalu mengejar materi dengan alasan dan cara apapun. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya kesenjangan dan kurangnya kepekaan dan kepedulian terhadap kehidupan sosialnya. Sehingga pantaslah jika ummat yang satu tertindas cenderung tidak akan merasakan kemerdekaan, dan Si ‘Penindas’ sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya menindas, karena hati nuraninya tergeser dengan altruisme yang salah kaprah dan pemujaan terhadap hedonitas. Hati nuraninya sudah tercerabut dari akar kehidupan sosialnya. Kini, kebanyakan manusia degan gejala modernitasnya, semakin sibuk dengan kesenangan duniawi, hanya memperturutkan cinta diri yang berlebihan, mengikuti dan guyub terhadap trend, menjiplak kebudayaan modern tanpa bersikap kritis, meniru cara berfikir dengan kedok kemajuan.

Pengaruh di atas secara umum terjadi secara global di semua bangsa, sehingga pantas kalau V.S. Naivaul yang dikutif S. Hutington, menyebutnya dengan peradaban universal, dengan artian bahwa pengaruh dari agama modern sudah begitu mendunia. Tidak berbeda antara Muslim dan non-muslim, sebab kedua-duanya menggunakan simbol dari epistemologi positivistik, tak terkecuali Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim. Semua sektor kehidupan termasuk sektor kehidupan di bawah institusi agama mencirikan hal yang sama. Tidak memandang suku, ras agama, tidak memandang organisasi dan stratifikasi sosial. Segala sektor kehidupan sudah terjebak dengan liberalisasi yang berlebihan dan tanpa batas; ekonomi, budaya politik, sosial.
 
Di tengah kepanikan global di atas, Bangsa Indonesia, yang mayoritas berpenduduk muslim, di samping sedang berperang dengan pengaruh negatif arus modernitas juga sedang menghadapi bencana nasional; Badai Tsunami di Aceh, Gempa bumi di sebagian wilayah Jawa Barat, Gempa bumi Nisa, Longsor besar di Kabupaten Bandung, Jogja, dan pantai selatan jawa barat di awal- awal pemerintahan SBY-JK dan disusul dengan berbagai bencana transfortasi. Ummat seharusnya mampu menjadikan Islam sebagai kekuatan yang revolusioner untuk membendung arus negatif modernitas serta mengatasi problem sosial di atas. Dengan mengembalikan Islam kepada fungsi sosialnya. 
Menjembatani kesenjangan antara penguasa dan yang dikuasai, antara Si kaya dan Si miskin. Mampu memberikan penyadaran dengan praksis, bahwa Islam tidak sekedar bertanggungjawab atas kehidupan pribadi, tetapi tanggung jawab sosial merupakan sandaran yang baku terhadap ciri bahwa manusia, bertanggungjawab secara pribadi. Jelasnya, Tauhidullah tidak memilah-milah, tidak mendikotomiskan antara tanggungjawab pribadi dan sosial. Tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosial manusia dalam pandangan tauhid merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, tidak saling menegasikan, ia merupakan satu kesatuan yang utuh. Oleh karena itu Tauhid sebagai inti ajaran Islam harus mampu—selain membentuk manusia bertanggungjawab terhadap dirinya—juga bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial. Manusia Indonesia yang menganut dan memegang teguh ajaran Tauhid Islam, harus mampu menjadikan Islam sebagai solusi problem sosial.

Untuk melakukan penyadaran tersebut, bukanlah hal yang mudah. Diperlukan usaha sistematis dan terencana. Yang pertama adalah harus melakukan provokasi keresahan, terhadap bahaya modernitas—disamping kelebihan positifnya. Dan selanjutnya adalah bagaimana mengimplementasikan ide-ide sosial Islam tidak sekedar di atas mimbar yang selalu didengung-dengungkan oleh para muballigh, tetapi menjadi solusi kongkrit bagi oang yang membutuhkan.

HMI sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sebagai organisasi yang berazaskan Islam, yang mempunyai tujuan ” bertanggungjawab terhadap terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridloi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala”, harus merasakan dan menganalisa gejala di atas, sebagai landasan gerak perjuangannya. HMI harus mampu mengembalikan kemurnian Islam, menjungjung tinggi ajaran tauhid, dengan tidak memilah-milah tanggung jawab pribadi dan sosial. HMI harus mampu menjadikan Islam sebagai agama Revolusioner sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an, seperti halnya Nabi pernah melakukan. Tidak lantas menjadikan Islam sebagai tunggangan. Kader HMI harus mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, menjadikan problem sosial sebabai bagian dari problem ke-Tuhan-an/ Tauhid.

Sebagai organisasi kader, Kehidupan HMI secara umum, bersentuhan langsung dengan kehidupan sosial manusia. HMI hendaknya menganut rujukan utama, Al-Qur’an sebagai landasan ideal dan NDP sebagai landasan ideologis. Tauhid sebagai basis pergerakannya harus mewarnai gerakan sosial masyarakat HMI. Bahwa gerakan perjuangan yang digagas HMI harus berfihak kepada kebenaran, berfihak kepada fihak tertindas, kepada fihak yang selalu dirugikan oleh permainan sistem, harus berfihak kepada kehidupan sosial manusia Indonesia. Praksis sosial sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Tauhid harus menjadi tolak ukur perjuangan HMI, bahwa permasalahan sosial adalah bagian dari permasalahan tauhid.


Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon