Religiusitas Televisi

Beberapa hari lagi Ramadlan akan segera tiba. Umat Islam pun akan menyambutnya dengan suka cita. Berbagai cara dilakukan untuk menyambut ramadlan. Dalam tradisi sunda kita mengenalnya dengan istilah munggah, suatu cara menyambut ramadlan ala sunda. Namun yang menarik dan perlu mendapatkan apresiasi kritis adalah munggah versi televisi. Mengapa menarik, karena dalam pandangan saya, banyak program acara televisi yang berbalut religiusitas mulai dari iklan, talkshow, kuis, sinetron, acara perjalanan (wisata) dan masih banyak lagi.

Berbagai iklan dengan serta merta menawarkan sisi praktis dari manfaat produk yang ditawarkan oleh iklan. Talkshow pun seperti sudah menjadi tradisi menampilkan banyak artis yang dadakan mengenakan jilbab. Bahkan acara-acara khusus ramadlan banyak bermunculan demi menyambut dan memeriahkan ramadlan. Namun pertanyaanya kemudian, dari sekian program acara ramadlan, sejauh manakah televisi menampilkan muatan yang religious? apakah religiousitas hanya melulu persoalan mengenakan kerudung, baju koko, atau dicirikan dengan adzan magrib, makanan khas pembuka puasa, tarawehan dan sahur?

Hal inilah yang menarik dikaji dalam pandangan normative agama sebagai rule of the game hidup orang-orang yang mengaku beragama. Karena bagaimanapun permasalahan mendasar dalam berpuasa bukan melulu persoalan adzan magrib, makanan pembuka, tarawehan atau sahur. Puasa adalah persoalan bagaimana kita dapat memperbaiki diri dengan pengelolaan berbagai ranah nafsu yang ada dalam jiwa kita. Persoalan pengelolaan berbagai nafsu yang ada dalam diri manusia tidak bisa digambarkan dengan symbol-simbol dadakan seperti yang selama ini ditayangkan oleh berbagai televisi menjelang ramadlan, terlebih dengan kualitasnya yang perlu kita pertanyakan.
 
Kita dapat cermati para pelaku simbolik keagamaan di televisi, jika kita prosentasikan, mungkin hampir 99 persen bukan berasal dari orang-orang yang kental secara religius. Mulai dari presenter, pemain sinetron ramadlan, reality show ramadlan. Begitupun menjelang dan saat ramadlan banyak acara televisi yang berubah wujud seolah tampak religious dari sisi kemasan dengan isi yang sama;mengedepankan symbol menelantarkan isi. Namun apakah tayangan-tayangan tersebut sesuai dengan tuntutan yang seharusnya dalam menjalankan agama.

Religiusitas merupakan penghayatan agama seseorang yang menyangkut simbol, keyakinan, nilai dan perilaku yang didorong oleh kekuatan spiritual. Dalam pengertian lain dari religiusitas adalah intensitas keberagamaan yang mencakup Religious Knowledge yang berkaitan dengan pengetahuan individu mengenai ajaran-ajaran agamanya; Religious Practice berkaitan dengan keterlibatan individu dalam ritual keagamaan; Religious Feeling berkaitan dengan pengalaman yang dirasakan seseorang; Religious Belief berkaitan dengan kepercayaan atau keyakinan individu terhadap hal-hal mendasar dalam ajaran agamanya; dan Religious Effects yang berkaitan dengan perilaku individu dalam kehidupan sehari-hari yang selaras dengan ajaran-ajaran agamanya; dan terakhir adalah harus terlihat adanya hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial yang dapat ditunjukan atas perhatiannya terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan.

Jika merujuk pada konsep religiousitas seperti dijelaskan di atas, tentu televisi tidak bisa disebandingkan dengan manusia sebagai penganut agama yang harus mengikuti aturan-aturan dalam beragama. Televisi hanyalah media penyampaian berbagai pesan yang di dalamnya bertarung berbagai kepentingan dan ideology; kepentingan ekonomi dan idelogi pasar yakni sejauh mana program laku dijual dengan keuntungan yang besar. Kita tidak bisa menafikan dan sudah menjadi rahasia umum bahwa televisi hidup dari tayangan yang laku di pasaran penonton. Dengan Rating yang tinggi karena lakunya sinetron maka berbondong-bondonglah para pengiklan untuk memasang iklannya dalam sinetron tersebut. Dengan banyaknya iklan yang dipasang dalam suatu tayangan maka semakin besarlah keuntungan yang didapat oleh stasiun televise. Keuntungan merupakan tujuan dari pemodal terlepas dari persoalan moral agama. Selama tidak merugikan secara langsung terhadap orang lain.

Dengan tujuan keuntungan tersebut, momen ramadlan menjadi moment yang cukup penting pula untuk mendatangkan berbagai iklan. Berbagai acara ramadlan disuguhkan agar penonton muslim tertarik dengan suguhan mereka. Berbagai program reality show pun digelar demi menarik sebanyak-banyaknya penonton. Dengan tujuan keuntungan tersebut para produser tayangan ataupun iklan berlomba-lomba menyuguhkan semenarik mungkin tayangannya. Namun dari keinginannya untuk menarik penonton tersebut, justeru nilai religious dari tayangan menjadi hambar karena didominasi oleh kepentingan para pemodal untuk mengeruk keuntungan bukan kepentingan syi’ar agama.

Terjebak pada Ramadlan yang “Hura-hura”
Tujuan meraih keuntungan para pengiklan atau produser siaran pada akhirnya terjebak pada kemasan ramadlan yang konsumtif atau hura-hura. Lihat saja, acara tayangan sahur alih-alih menayangkan acara tausyiah atau acara-acara yang lebih menyentuh untuk berfastabiqulkhoirot, justeru menyuguhkan acara “hura-hura kata” para presenter dengan berbagai “hura-hura rezeki” dan “hura-hura iklan”. Walaupun dibalut dengan berbagai symbol religious seperti krudung, peci baju takwa, namun tidak berisi secara religious. Iklan pun berlomba-lomba dengan menawarkan berbagai macam barang dan makanan yang bersifat konsumtif bukan acara yang benar-benar menawarkan untuk mengejar pahala.

Tentu saja ada acara yang benar-benar menyentuh, mendorong kita bertafakur dan bersyukur dengan keadaan kita, namun tayangan seperti itu hanya sepersekian persen dari keseluruhan tayangan ramadlan. So, sebagai penonton yang kritis kita harus mampu memilah dan memilih acara yang benar-benar bermanfaat untuk kita atau orang-orang disekitar kita, jangan gadaikan ramadlah dengan berbagai tawaran televise yang hedon. Bagaimanapun berbagai program acara tak bisa kita hindari kecuali dengan menghindari televisi atau tayangan yang ada di dalamnya. Selamat menunaikan ibadah puasa dan selamat menahan nafsu dari berbagai tayangan yang tidak bermanfaat.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon