Indahnya Jalur Pantai Selatan Garut

Lebaran tahun kemarin (2008) merupakan pengalaman perjalanan wisata tanpa rencana. Setelah selesai Sholat Ied, bersama tetangga dan sodara di kampung, tanpa Ba-bi-bu, patungan ngumpulin uang recehan untuk rental pick up, sementara saya dan beberapa tetangga juga menggunakan sepeda motor. Tujuan kunjungan adalah pantai Rancabuaya Garut. Waktu tempuh dari tempat tinggalku (Daerah cisanca, tarogong kaler, Garut) sekitar 3-4 jam dengan perjalanan normal dan jarak tempuhnya sekitar 100 km atau sekitar 167 km dari ibukota provinsi Jawa Barat, Bandung. Sedangkan dari Garut kota sendiri sekitar 105 km. Mengenai Jarak tempuh ini, saya sering berkelakar kepada tetangga-tetangga kostan bahwa dari rumah tinggalku di Garut, jarak ke Bandung lebih dekat, hanya sekitar 60 km atau waktu tempuh hanya 1,5 jam kurang.


Perjalanan menuju Rancabuaya lebih menantang dibandingkan dengan menuju Pameungpeuk (salah satu pantai yang cukup popular di Garut), selain karena pertama kali, jalannya pun masih cukup curam, dan dikabarkan bahwa tidak sedikit, jalan-jalan curam tersebut memakan korban. Salah satunya adalah tetangga saya yang terjun ke jurang dan tidak selamat. Selama dalam perjalanan, saya berdecak kagum dengan keadaan alamnya yang masih asri dan asli. Namun tentu saja cukup menyedot energi.

Karena lelah, selama perjalanan kami banyak berhenti diwarung-warung, sambil menunggu kawan lain. Dan beberapa kali salah satu motor dari kawan kami mogok dan bocor ban sehingga harus saling menunggu. Akhirnya perjalanan ditempuh dengan waktu yang cukup lama. Berangkat dari lembur jam 13.00 dan sampai ke tempat tujuan sekitar jam 20.00

Rancabuaya, salah satu pantai/ laut yang terdapat di Kabupaten Garut, ujarku saat itu, ‘seandainya tidak dipenuhi terumbu karang dipinggir-pinggir pantainya, barangkali keindahannya tidak akan kalah dengan pantai pangandaran di Kabupaten Ciamis. Namun sayang seribu sayang terumbu karang yang menghalangi sepanjang pantai mengurangi keindahan pantainya. Namun apabila pemerintah Garut serius menggarap pariwisata pantai khususnya Rancabuaya, mungkin dapat diakali bagaimana menghilangkan terumbu karang.

Sepanjang memasuki lokasi pantai, memang tidak jauh dengan Pantai pangandaran. Tentu saja menyangkut keberadaan lokasinya. Di pinggir-pinggir pantai terdapt pasar dan dipenuhi oleh penginapan-penginapan, walaupun penginapan-penginapan kecil.

Setelah sampai lokasi, dan menemukan saung gratis (kata yang punya saung, ga usah bayar, asal kalo belanja makanan harus kewarungnya yang tepat di depan saung) kami istirahan sambil menyalakan api unggun di pinggir saung. Hingga menjelang shubuh akhirnya kami istirahat.

Esok hari menjelang siang, setelah kenyang mencari Umang (keong) dan menikmati ombak Rancabuaya yang menubruk terumbu karang serta saling berkejaran dan diakhiri dengan makan siang, akhirnya kami meneruskan perjalanan menuju Pameungpeuk.

Pada siang hari, lokasi pantai benar-benar padat, bahkan untuk dilewati motor saja kami harus sering berhenti, karena padatnya kendaraan dan lalu lalang manusia wisata ke wilayah tersebut. Tentu saja ini momen yang ditunggu-tunggu, ternyata memang benar, bahwa menyusuri jalur lintas selatan Garut begitu sangat Indah. Bahkan menurut laporan Kompas beberapa bulan yang lalu (saya lupa lagi edisinya, Kompas Cetak) di jalur ini sudah ada investor yang mendirikan hotel, di Wilayah pameungpeuk. Karena menurut Laporan Kompas tersebut, jalur tersebut sangat berpotensi besar menjadi daerah kunjungan wisata di masa depan.

Dalam Kacamata saya, ternyata tidak hanya Rancabuaya dan daerah Pameungpeuk (Santolo dan Sayang Heulang atau pantai Manaluku) yang berpotensi dijadikan tujuan Wisata, justeru sepanjang jalan Rancabuaya-Pameungpeuk dapat dijadikan Daerah wisata. Namun tentu saja dengan arus transportasi yang memadai. Bahkan mulai terkuak dengan berdirinya pantai-pantai yang dijadikan tempat objek wisata oleh penduduk setempat selama perjalanan Rancabuaya-Pameungpeuk. Selama perjalanan menuju Pameungpeuk saya dapat menikmati keindahan Pantai Selatan Garut sambil berdecak kagum dan juga Kesal.

Tentu saja kesal, kenapa daerah ini terabaikan, bahkan untuk jalannya sekalipun belum terlalu memadai. Saya kesal, kenapa pemerintah tidak memiliki paradigma pengembangan wisata di Garut. Jangankan untuk pantai yang masih perawan seperti sepanjang jalur pantai selatan Garut, bahkan yang sudah dikembangkan saja seperti Situ Bagendit, malah tambah parah keadaannya. He..he.., ngomong-ngomong tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengkritik ko, Cuma menyayangkan saja dengan pengabaian potensi wisata Garut yang tidak diperhatikan.

Setelah akhirnya sampai di Santolo Pameungpeuk saya pun tak bisa lagi menikmati keindahan pantai selatan, Karena perjalanan diarahkan ke Daerah Garut Kota, itu artinya bahwa menyusuri Pantasi Selatan sudah harus diakhiri, jika masih ingin menyusuri pantasi selatan berarti akan sampai ke Pangandaran. Karena perjalanan Pulang akhirnya kendaraan dan motor tumpangan kami arahkan ke arah Garut. Kami berharap, sesuai laporan Kompas Cetak beberapa waktu yang lalu, di Jalur selatan akan berkembang objek wisata yang tidak kalah dengan pantai lainnya.

foto diambil dari http://maxros.multiply.com/photos/photo/96/4

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon