Guru, Ko Mau Dimanfaatin

Guru oh Guru, betitle pahlawan tanpa tanda jasa ini kini sedang di uji. Ujian datang justeru setelah masa reformasi. Kenapa saya katakan sebagai ujian bagi guru, karena sejak reformasi Guru menjadi seolah tidak berwibawa. Padahal jelas, Guru adalah sumber ilmu bagi siapapun termasuk presiden sendiri. Semua pejabat pernah merasakan kasih sayang dan kucuran ilmu dari Sang Guru. Kini dalam pandangan saya tidak semua Guru pantas dikatakan sebagai sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.


Pernyataan saya ini berdasar pada maraknya aksi demonstrasi yang dilakukan oleh Guru. Guru minta diangkat jadi PNS. Hanya karena keinginannya menjadi PNS wibawa Guru menjadi rusak. Tentu yang terkena dampaknya bukan hanya Guru yang melakukan aksi demontrasi namun juga Guru yang tidak ikut-ikutan. Kebanyakan guru yang demonstrasi adalah Guru Honorer, dan itupun tentu saja tidak semua Guru Honorer atau Guru Bantu ikut berdemonstrasi. Sehingga, lagi-lagi semua Guru honorer tercoreng wibawanya gara-gara Demo.


Salah satu hal yang cukup menurunkan harkat dan martabat Guru adalah ketika ulang Tahun PGRI beberapa tahun silam, karena kesalahan kecil Presiden saat pidato sambutan, para guru yang hadir menertawakan SBY atau lebih pasnya seolah meledek SBY dengan serempak bertaka ‘huuuuuuuuh’. Tentu saja hal ini sah-sah saja, namun sebagai seorang panutan, guru seharusnya bisa menempatkan dimana harus menertawakan dimana harus menahan kelucuan. Apalagi acara ini diliput oleh berbagai media, sehingga yang menonton tidak hanya orang dewasa namun juga anak-anak remaja sebagai murid-muridnya. Apa kata anak muridnya jika kita sebagai Guru berani-berani tertawa tidak pada tempatnya.


Hal yang menyedihkan adalah ketika Guru-guru honorer dari kota Bandung yang tergabung dalam suatu forum/ organisasi Guru Honorer terlibat dialog dengan anggota Dewan dari Pusat kemudian Dinas Pendidikan dan calon Walikota saat itu yang kini menjadi wali kota Bandung, Bapak Dada Rosada. Kekesalan saya muncul ketika seorang guru (teman) satu sekolah tempat mengajar mengatakan bahwa pihak panitia menyebarkan selebaran sticker atau semacamnya, yaitu dari salah satu Partai pendukung Walikota. Selebaran tersebut dibagi-baikan kepada semua Guru.


Saya sendiri saat itu tidak menghadiri karena selalu memiliki otak curiga, atau selalu berprejudice akan dimanfaatkan jika kita berkumpul dalam satu forum, apalagi ada calon Wali Kota karena menjelang Pilkada. Buat apa capek-capek hadir jika pada akhirnya hanya untuk mendengarkan kampanye tersembunyi dan menerima selebaran partai. Sungguh sakit hati ini, guru kok malah dimanfaatin bukannya dihargai.

Salah satu alasan dari forum tersebut adalah mengadakan dialog menyangkut keinginannya untuk diangkat menjadi PNS. Pemilu Daerah menjadi salah satu alasan untuk membuat kontrak dengan calon wali kota. Itu sih kata teman saya yang menjadi coordinator di sekolah.


Saat itu saya sempet memberikan masukan agar hati-hati dengan acara-acara menjelang Pilkada, sebab dalam kaca mata saya, acara-acara menjelang Pilkada itu cenderung dimanfaatkan sebagai ajang mobilisasi massa. Suara kita dijual oleh orang yang memiliki kepentingan, kitanya sendiri tinggal capeknya. Tapi protes teman saya saat itu,”Pak organisasi ini punya tujuan, yaitu mendorong anggotanya untuk diangkat jadi PNS.” “Oh ya sudah kalo begitu,” ucap saya.


Saya memprediksikannya demikian karena saya menganggap bahwa organisasi Forum Guru tersebut hanya sebagai wadah unjuk kekuasaan dan mobilisasi massa. Kenapa saya mengatakan demikian, karena setelah saya lihat struktur organisasinya, sama sekali tidak ada bidang pembinaan anggota yang bertugas mengembangkan kemampuan SDM anggota forum tersebut. Karena bagaimanapun tuntutan kesejahteraan yang sering menjadi alasan penuntutan dan aksi rasa adalah masalah kesejahteraan guru yang seharusnya berimbang dengan kemampuan SDM seorang Guru. Saat itu saya sempat bertanya-tenya dalam hati dan ke seorang teman, ini organisasi punya visi-misi pengembangan SDM gak? Ko ga ada bidangnya, sehingga wajar saja jika saya menyebutnya sebagai organisasi taktis yang memanfaatkan Guru untuk kepentingan sesaat.


Ada satu hal yang menyakitkan bagi saya, ada seorang Guru yang mungkin sampai tulisan ini dibuat, masih mendekam dipenjara gara-gara aksi demonstrasi di depan Gedung sate. Siapa yang peduli terhadap seorang Guru ini? Informasi ini saya dapatkan dari Surat Pembaca HU Pikiran Rakyat, Koran regional Jawa Barat. kira-kira sebulan yang lalu, saya saya terhenyak apakah ini benar atau tidak, tapi saat itu saya tidak mencatat edisi ke berapa. Namun setelah teringat bahwa hari ini adalah hari guru, saya merasa tersentuh.


Diperingatinya hari guru ini, kita khususnya sebagai guru, harus mampu berfikir kritis, jangan asal ikut untuk aksi unjuk rasa, jangan asal ikut-ikut kumpul apalagi menjelang masa Pilkada atau Pemilu. Walaupun untung mendapatkan uang saku, tetapi hanya sesaat. Bukannya malah mendapatkan keuntungan justeru malah wibawa guru menjadi Rusak.


gambar diambil dari serambinews.com


SELAMAT HARI GURU! MARI MENJADI GURU YANG KRITIS

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon