Humanisme, antara Islam dan Barat

Dalam pandangan Barat memahami manusia dan Tuhan-nya berangkat dari mitos-mitos. Mitos adalah sesuatu hal yang dianggap benar dalam kesalahannya. Syari’ati memberikan gambaran misalnya ketika memahami hikmah Tuhan, Dalam pandangan mitologi yunani, hikmah merupakan “api ketuhanan” yang dicuri oleh Bramatheus (semacam Dewa) untuk diberikan kepada manusia. Tapi pada akhirnya Bramatheus disiksa karena mencuri “api ketuhanan” tersebut.

Dalam pandangan Islam “api ketuhanan” ini merupakan Nur (cahaya, hikmah, atau dakwah) dari langit yang dibawa oleh para utusan Ilahi untuk disampaikan kepada umat manusia. Dalam pandangan Islam Tidak ada pertentangan dalam eksistensi Tuhan. Tuhan berkehendak membebaskan manusia dari belenggu perbudakan terhadap alam. Tidak ada pertentangan antara Tuhan, malaikat dan fitrah manusi. Sedangkan dalam pandangan Mitologi Yunani Kuno, terdapat pertentangan antara langit dan bumi, alam dewa-dewa dan alam manusia, terdapat pertentangan dan pertarungan, sampai-sampai muncul kebencian dan kedengkian antara keduannya. Para dewa adalah kekuatan yang memusuhi manusia.

Maka dalam pandangan selanjutnya, disebabkan ada pertentangan dan pertarungan antara penguasa “langir” dan manusia, maka manusia memutuskan hubungannya dengan “langit” dan berubah sosoknya menjadi bercorak bumi dan menyimpang ke arah materialisme. Bertolak belakang dengan Islam, justeru “mengajak manusia pindah dari kerendahan bumi menuju ketinggian langit, dan dari penyembahan manusia atas manusia kepada Tuhan semesta alam” Effek dari pemahamannya terhadap hubungan manusia dan Tuhannya ini membawa petaka, bahwa terdapat kecenderungan meniadakan Tuhan dalam pandangan kehidupan Barat, sedangkan dalam Islam dan agama samawi lainnya, Tuhan adalah segala-galanya.

Dalam kesimpulannya, Syari’ati mendeskripsikan komparasi antara dua pemikiran yang saling bertolak belakang ini, Barat yang diwakili oleh faham Marxis dan Islam, sebagai dakwah mujadalahnya:

1. Marxisme, karena memusatkan diri pada pandangan dunia yang materialistik mutlak, maka ia tidak mungkin menyodorkan manusia dari asfek “dzat” (esensi) maupun sifat. Pun pula ia tidak bisa mengemukakannya dari asfek “definisi yang menyeluruh”, yang berada di luar materi yang sempit. Yang demikian ini, membuat marxisme terpaksa merekonstruksi manusia dalam lingkup perwujudan-perwujudan lain, lalu membelenggunya dengan rantai materi yang tidak berperasaan dan tanpa tujuan.

Sedangkan Islam, karena ia memiliki pandangan dunia yang bercorak ketauhidan, dapat menerima manusia sebagai “dzat ilahiyah” (esensi yang bersifat ketuhanan), lalu memberinya sifat metafisis, dan memberlakukan definisinya yang komprehensif itu hingga pada garis yang tiada akhir. Kemudian manusia yang seperti itu ditempatkannya dalam alam yang hidup yang memiliki makna tak terbatas, dimana dalam alam yang hidup yang memiliki makna tak terbatas, di mana batas-batasnya melebihi apa yang bisa digambarkan oleh ilmu pengetahuan manusia.

2. Marxisme, sepanjang ia hanya meyakini materi yang hanya berbicara tentang fisika tradisional, maka ia dipaksa untuk menarik kembali dari manusia, dalam analisis materialisnya, segala pujiannya yang terdapat dalam kalimat-kalimat yang menggambarkan “ keagungan dan keluhuran esensi manusia. Dalam pandangan Marx manusia tampak demikian hebat lantaran Tuhan ditempatkan di luar fitrahnya, yang bila meminjam istilahnya, “ Manusia adalah pencipta Tuhan.” Dalam ideologinya Marx sebagai materialis dan sosiolog, tiba-tiba manusia digambarkan sebagai benda product alat-alat kerja manual.

Dan Sepanjang Islam Menginterpretasikan alam materi dan fitrah manusia sebagai dua tanda adanya perwujudan agung dan kesadaran Mutlak, maka Islam menyatakan adanya saling pengaruh mempengaruhi” antara manusia dan lingkungannya, dan pada saat yang sama pun mengetahui bahwa manusia merupakan sebab awal dalam rangkaian hukum kausalitas, yang dengan itu dapat mempertahankan posisi kemanusiaannya dalam alam dan masyarakat dalam bentuknya yang bebas dari segala keterpaksaan, dan pada saat analisis akhir, Islam menjaga manusia untuk tidak terjerumus dalam jebakan fanatisme materialistik, historis maupun sosiologis. Demikian, humanismenya tidak menjadi materialisme atau teknologisme.

3. Sepanjang Marxisme tetap konsisten dalam nisbatnya dengan “materialisme-realistik”, maka ia akan kehilangan kelayakannya untuk berbicara tentang “nilai-nilai” dan menentukan penilaian terhadap prinsip ini. Sedangkan Islam meyakini—dibalik yang realita—adanya sumber nilai mutlak, maka ia dapat menemukan justifikasi yang logis.

4. Sepanjang Marxisme memandang manusia sebagai produk lingkungan sosial dan lingkungan sosial merupakan kumpulan dari kondisi dan asas-asas yang terus berubah dan berganti, dan selanjutnya sepanjang ia tetap mengingkari Tuhan dan fitrah manusia, maka ia pasti kehilangan kaidah pokok tentang nilai-nilai kemanusiaan yang membentuk “moral”. Ia—meminjam istilah Lenin dan sejalan dengan pendapatnya—dipaksa untuk mengakui bahwa, ‘pembicaraan tentang prinsip moral manapun, adalah kebohongan belaka.” Sedangkan Islam, sepanjang ia mengakui adanya prinsip yang tetap dalam alam dan dengan itu alam ditegakan, maka iapun akan mengakui pula adanya prinsip yang tetap dalam fitrah yang dipusatkan pada moral. Dalam pandangannya, nilai-nilai kemanusiaan itu mempunyai hakikat esensi dan tidak pernah berubah sejalan dengan hukum-hukum alam. Berangkat dari sini, maka Islam—berbeda sepenuhnya dengan marxisme—berusaha memasukan nilai-nilai tersebut dalam jajaran tradisi, adat-istiadat dan tatakrama masyarakat, lalu diberlakukannya di tengah-tengah materialisme, sosialisme dan ekonomisme. Seluruh motivasi Islam adalah menyelamatkan nilai-nilai kemanusiaan dari paksaan lingkungan dan tuntutan-tuntutan yang berubah-ubah dan determinis dalam kehidupan materiaisme, menyucikannya atas landasan fitrah manusia, serta memandangnya sebagai sinar yang memancar dari Yang Mahamutlak untuk menerangi nurani manusia.

5. Materialisme, dengan hubungan dialektika materialisme yang di atas landasannya ia memberikan justifikasi terhadap gerakan alam sejarah dan masyarkat, tiba pada “determinisme materialisme” yang disitu manusia kehilangan jati dirinya, dan menjadi permainan tarik menarik materialisme yang buta, yang pada akhirnya ia mengingkari apa yang disebutnya sebagai jati diri manusia, dan manusia pun lantas kehilangan “kemerdekaan” dan “tanggung jawab”-nya secara total.

Islam, kendati menyatakan adanya pertentangan dalam struktur manusia yang dualistik itu, namun ia sama sekali tidak mengingkari kebebasan ikhtiar manusia. Singkatnya, ia bukan saja tidak mengingkari tanggung jawabnya, bahkan mengeluarkan kedua hal itu dari tengah pertentangan yang sudah dipastikan tersebut. Sebab definisi manusia menurut Islam adalah ,”makhluk yang esensinya terdiri dari dua hal yang bertentangan tersebut, yakni “tanah liat yang kering” plus Ruh Allah, yang disertai dengan iradat untuk memilih salah satu di antara dua hal yang bertentangan tersebut, dan tanggung jawab kemanusiaan yang menuntutnya untuk menggunakan separuh dirinya yang berasal dari tanah untuk meningkatkan perkembangan bagian dirinya yang lain bersifat Ilahiyah. Dengan cara ini, dia akan sampai pada kesucian eksistensi dan kemurnia ruhani. Melalui jalan ini pula, berubahlah dualisme esensi dirinya menjadi “kesatuan” (tauhid), lalu mewarnai dirinya dengan corak dan akhlak ilahi.”

6. Marxisme, menurut pendapat Edward Bert, seorang penganut marxisme terkemuka yang sezaman dengan engels dan Lenin, adalah pilsafat para Produsen”. Sedangkan Islam, menurut Al-Qur’an adalah “pilsafat petunjuk”

7. Marxisme meyakini bahwa manusia adalah pencipta Tuhan. Manusia yang ditempatkan dalam singgasana kebesaran Tuhan tapi tidak menemukan singgasana (riil) yang bisa didudukinya, ini dipaksa—melalui taring-taring dialektika yang dibalikan dan amat lemah—untuk kembali menjadi tanah yang tanpa ampun, kemudian diserahkan ke tangan mesin-mesin produksi dan bentuk-bentuk produknya, untuk memberi keputusan dengan determinisme-historisnya.

Islam menganggap manusia sebagai makhluk lain disamping materi (benda-benda). Dan karena ia meyakini bahwa Allah adalah pencipta manusia dan menjadikannya bebas dari determinisme materialis, maka pada saat itu—dan dengan pendobrakannya terhadap berbagai kemaksiatan—ia bebas menentukan nasib surganya.” Iradat manusia diciptakan Allah dalam keadaan bebas berdasarkan iradat-Nya,” demikian definisi yang diberikan Islam. Demikian pula halnya, Islampun membebaskan manusia dari paksaan Tuhan. Melalui cara ini— dan dengan pengakuannya bahwa manusia adalah adalah makhluk yang memiliki iradat (kehendak) dan kesadarannya, maka Islam membebaskan manusia dari belenggu “langit” dan “rantai” Bumi, untuk kemudian mengantarkannya pada diri yang benar. Sesudah itu ia menyerahkan kepadanya “amanat khusus” yang manusia bersedia menerimanya ketika sesama makhluk lain menolaknya, yang karena itu pula Allah memerintahkan seluruh malaikat-Nya—yang merupakan lambang seluruh kekuatan alam—untuk sujud di bawah telapak kakinya.

Akhirnya Allah menjadikan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi, lalu menerjunkannya di jalur alam semesta serta menaklukannya dalam kedudukannya sebagai penguasa alam ini, serta menentukan masa depannya dengan usaha kerasnya, berikut tarik menarik dan kesadaran yang ada dalam dirinya, untuk kemudian kembali dari “jalan kesadaran diri” itu menuju Tuhan.

Kita melihat bahwa filsafat tentang jati diri manusia dan pemberian watak terhadap manusia seperti ini, sampai titik yang terjauh pun pasti berbeda dengan pilsafatnya para produsen” itu.
Akhirnya, “alamah Iqbal, seorang pemikir besar abad modern, mengatakan, “Islam dan Marxisme sama-sama berbicara tentang manusia dan masing-masing mengajukan klaimnya”. Kalau Marxaisme meluncurturunkan manusia dari Tuhan menuju tanah, maka Islam sebaiknya. Ia berusaha menaikan manusia dari tanah menuju Tuhan.”

Dengan demikian kita dapat melihat dengan jelas bahwa Islam dan Marxisme bebeda pada satu sisi yang sepenuhnya bersebrangan dalam pergerakan mereka untuk menemukan jati diri manusia. Kesimpulan dari keadaan tersebut adalah: Salah satu diantara keduanya harus musnah.

Secara garis besar buku ini merupakan kritikan terhadap sistem pemikiran Barat yang materialistik partikular dan memberikan suguhan pemikiran yang komprehensip dari Islam. Dalam terminologi dakwah, isi pesan buku ini menggunakan metode mujadalah atau dalam istilah surat An-Nahl adalah wajadilhum bi al-lati hiya ahsan, yaitu dengan jalan bantahan yang arif.

Ini sebetulnya buku lama, terbitan tahun 1996 edisi Indonesia saya sendiri membacanya sekitar tahun 2006. Sayang juga file ini menjadi sampah di hardisk, tidak di share, mudah-mudahan bermanfaat walaupun sudah lama.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Oct 1, 2015, 10:24:00 PM delete

Keren pak blognya mereview buku buku yang pernah dibaca, kalau boleh tahu punya berapa banyak buku pak sekarang?

Reply
avatar
Abah Raka
AUTHOR
Oct 4, 2015, 8:48:00 AM delete

Ratusaaan hehehe, dulu sih iya waktu mahasiswa, udah kerja mah boro2, jarang2 sekali bray

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon