Membenturkan Islam

Tersinggungkah jika ada yang mengatakan bahwa Islam itu Terorist? Bahwa Islam itu Kumuh? Bahwa Islam itu bodoh?


Saya rasa sebagian umum dari kita yang mengaku umat Islam, hati kecilnya akan merasa tersinggung, walaupun cara menyampaikan dan mengekspresikannya berbeda-beda. Saya pribadi merasa tersinggung, dan itu adalah hal yang cukup wajar.

Namun tentu saja ketersingungan saya tidak hanya karena saya sebagai umat Islam, penganut agama ini, namun juga ada alasan lainnya yang saya fikir cukup argumentative.

Pertama ketika disebutkan bahwa Islam itu terrorist, atau Islam Kumuh dan Islam negative lainnya, kedua konsep antara Islam dan Terorist tentu harus menemukan konteksnya. Jika Islam Terorist dikaitkan dengan kegiatan sebagian umat Islam yang kurang tepat menafsirkan Islam sehingga mengambil jalan yang kita pandang keras dan kasar, maka kita telah melakukan pembenturan antara konsep Islam yang ideal dengan Islam dalam arti penganut.

Namun jika Islam Terorist tersebut kita kaitkan dengan berbagai konsep ideal Islam itu yang dapat mendorong satu ketertekanan bagi umat Islam yang tidak menjalankan syari’atnya, dan mereka merasa terteror karena tidak melakukan kebaikan, saya melihat antara Islam sebagai konsep dengan Islam dalam arti pembumian nilai ideal cukuplah tepat.

Kedua, Merujuk kembali pada point pertama, bahwa Islam dengan embel-embel yang negativenya seringkali dibenturkan dengan realitas penganutnya. Ketika Islam dikatakan terrorist seperti contoh yang negative, dengan banyak kasus yang terjadi sekarang, sebetulnya kita sedang membenturkan konsep Islam yang ideal dengan realitas Islam yang sudah mengalami reduksi oleh penganutnya.

Begitupun jika kita katakan bahwa Islam itu bodoh dan kumuh. Pernyataan tersebut tentu akan sangat menyinggung perasaan umat Islam, karena agamanya dihina dan dibodoh-bodohi. Namun berbeda ketika kita katakana umat Islamnya yang bodoh, kita bisa tunjukan bahwa umat Islam tidak seperti yang dituduhkan atau bahkan sebaliknya memang sampai saat ini belum ada karya nyata teknologi yang berasal dari Islam.

Oleh karena itu jika saja kita membaca satu tulisan yang kita nilai provokatif seperti tulisan Erianto Anas, saya sendiri mengimbau jangan dulu terpancing dengan judul dan pernyataan yang seolah-olah menurut kita provokatif, namun coba lihat dahulu apakah pernyataannya menembak konsep Islam yang memang sudah mutlak atau memang menyangkut pemahaman umatnya yang ia kritisi.

Tentu saja jika kita serta merta emosi dengan pemikiran Erianto Anas yang dianggap provokatif tersebut, alangkah kurang bijaknya kita, karena jangan-jangan kita sendiri salah faham dengan apa yang disoroti oleh Erianto Anas. Apakah ia menembak penganutnya apakah menembak Islamnya? walaupun dari beberapa judulnya ada yang menembak Islam ideal, namun jika kita telaah isinya saya belum pernah menemukan tulisannya yang menembak Islamnya yang Ideal. itu hanya strategi pemasaran artikelnya saja yang kira-kira menurutnya dapat menarik pembaca.

Begitupun ketika ada yang memberikan pernyataan bahwa agama itu Candu (seperti kata Marks) atau agama itu membodohkan. Marks dan yang lainnya tersebut sebetulnya telah membenturkan konsep Islam dengan Penganutnya. Yang menjadikannya Candu tersebut agamanya atau penganutnya? Islam ideal atau realitas?

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon