Pilih Pujian atau Kritikan?

ilustrasi dari inapurple.com
Saya kadang bertanya, kenapa saya selalu merasa bangga belakangan. Hal ini setelah melihat orang lain (baca: kompasianer) begitu bangganya akan sesuatu dan mendapat pujian yang bertubi-tubi. Contohnya, ketika orang dengan bangga baru menerbitkan sebuah buku, orang tersebut begitu mendapatkan pujian dan tentu saja prosesnya diceritakan di Kompasiana untuk berbagi. Saya pun mendapatkan ilmu dari itu. Hanya saja pengalaman itu menjadi berlebihan ketika orang memuji secara berlebihan. Bukannya mengomentari dan menimba ilmu dari pengalamannya tersebut. Makanya kadang saya benci pujian.


Hal lainnya adalah ketika kawan (baca: kompasianer) tulisannya nongkrong menjadi HL. Memang sesuatu yang wajar kita memiliki kebanggaan karena tulisan kita mendapatkan pengakuan criteria admin kemudian nongkrong di HL, sekali lagi saya katakana bahwa kebanggaan itu adalah hal yang wajar, namun kemudian kebanggaan tersebut menjadi berlebihan (lebay) ketika komentar-komentarnya melamapaui kebanggaan yang tidak seharusnya. Saya pertama kali HL pada tahun awal Kompasiana berdiri dan masih desain lama rasanya biasa-biasa saja, bangga ya bangga tetapi tidak terlalu diperlihatkan apalagi dengan seabreg pujian yang menambah kelebaian kebanggaannya.

Kebanggaan lain yang seringkali menjadi makanan empuk kawan kompasianer adalah saat artikelnya nongkrong di Kompas cetak, begitu bangganya hingga menjadi bahan tulisan lain. Tentu saja jika saja artikel saya nongkrong di Kompas Cetak pasti bangganya bukan main. Namun tentu tidak mesti berlebihan hingga mengundang banyak pujian dari orang lain. Entahlah kenapa saya agak sedikit risih dengan pujian yang berlebihan. Padahal tentu saja artikel saya juga pernah nongkrong di Kompas Cetak, walaupun edisi Jabar yang membuat saya bangga juga, tapi tidak mesti terlalu dipublikasikan secara berlebihan.

Tadinya saya juga ingin mengulas karena dapat kiriman buku dari salah satu penerbit gara-gara yang meresensi bukunya dan saya publikasikan di Kompasiana, tapi saya mikir ulang, apa tidak terlalu berlebihan?, bukannya dapat diskusi tapi malah dapat pujian yang berlebihan.

Belakangan muncul kebanggaan lainnya karena tulisan kawan Kompasianer nongkrong di Kompas.com, jika pun saya yang mengalami hal tersebut, tentu saja saya pun akan bangga, karena nyatanya tulisan paling pertama saya di Kompasiana langsung nongkrong di Kompas.com edisi Ramadhan 2009. Kebanggaan yang berlebihan belaka dengan seabreg pujian yang berlebihan rasanya menjadi risih juga tanpa bertindak nyata dengan komentar yang konstruktif atau tulisan tanggapan.
Saya sempet risih ketika tulisan saya menjadi HL ada yang berkomentar, ‘eitss HL’, kok rasanya risih ya. Kenapa tidak mengomentari isinya sehingga bisa berdiskusi. Bukankah dengan berkomentar yang menyangkut isi lebih menambah wahana diskusi yang dapat menambah wawasan kita.

Akhir kata, dibanding mendapatkan pujian yang dapat membuat hidung kita bengkak, bukankah lebih baik mendapatkan kritikan yang membuat kita berfikir dan menambah wawasan dari kompasianer lain? Ayo…., pilih pujian atau kritikan? Ya tentu sesuai pilihan masing-masing orang. Karena nyatanya saya juga kadang merasa nyaman jika mendapatkan pujian, asal tidak berlebihan saja.

Saya hanya berharap mudah-mudahan kebanggaan-kebanggan tersebut menjadi pemicu semangat para Kompasianer lain termasuk saya, agar tidak minder jika tulisannya belum masuk HL, belum terekomendasi, belum teraktual, belum nongkrong di Kompas.com, atau belum nerbitin buku.

Saya haturkan maaf kepada Kompasianer yang jika membaca tulisan ini merasa tersinggung, saya tidak bermaksud menyinggung apalagi iri, hanya saja merasa risih jika terlalu berlebihan. Jika pun ada yang mempertanyakan kenapa saya baca tulisannya, jawabannya karena memang tulisannya menarik.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
Mar 21, 2011, 4:36:00 PM delete

malah saya ngerasain mending dikritik daripada dipuji (walaupun ga muna' kalo dipuji sih seneng), saya ngerasain sendiri kritikan orang-orang tentang saya (misal), awalnya sdih, kesel pula, karna org lain tau apa ttg idup kita, tapi justru dari situ cy bljar byk hal. dan dari kritikan mereka-lah cy jadi seseorang yg sprti skrg. Garuh juga pujian lebih termotivasi lg. cuman dikritik itu rada lama mikirnya (renungan kita).

Reply
avatar
Abah Raka
AUTHOR
Oct 5, 2015, 10:53:00 AM delete

Iya bener, dikritik membuat kita mikir, kalo dipuji kita nyaman dan sulit memperbaiki kekurangan

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon