Penyakit Penulis Pemula

Sebagai penulis pemula dan amatiran, menemukan ide menulis sangat sulit bin susah. Sekalipun dapat ide, hanya selintas saja dalam ingatan, selanjutnya lupa lagi. Jika pun ide menulis telah tertuang dalam satu kalimat judul atau tema, kita seringkali susah untuk menuangkan isinya. Kesulitan ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, pertama karena kehabisan ide/ stak, kedua memiliki ide tapi merasa takut tidak nyambung, ketiga memiliki ide yang pas namun sulit menempatkan kalimat, dan keempat memiliki ide namun sulit menuangkan dalam bentuk kalimat.

Kesulitan-kesulitan yang muncul merupakan hal yang wajar bagi kita sebagai pemula. Sulitnya mendapatkan ide adalah penyakit umum bagi orang yang memulai menulis, saat ide sudah muncul pun kadang kita sangat sulit untuk menuangkannya dalam bentuk redaksi kalimat. Namun setelah mendapat ide dan mampu menuangkannya dalam bentuk kalimat, kadang-kadang kita terlalu cepat bangga dengan apa yang kita tulis. Sebelum akhirnya tulisan selesai, seringkali kebanggaan kita mendorong untuk membaca kembali apa yang kita tulis, kita tengok tulisan dari awal (belakang) sampai kalimat dan kata terakhir. Dari sinilah penyakit mulai muncul, yaitu penyakit ketidakpedean, kadang kita sendiri malu dengan apa yang kita tulis, kok acak-acakan.

Ketidakpedean tersebut muncul karena kita membandingkan tulisan kita dengan orang lain yang lebih senior, baik dari jam terbangnya ataupun kemahiran menulisnya dari segi persfektif. Untuk menghindari ketidakpedean tersebut, maka hindarilah membaca tulisan sebelum tulisan tersebut selesai. Membaca di saat tulisan belum selesai, dapat juga membuat ide mandeg, karena kita mereka-reka dan merasa bahwa apa yang kita tulis tidak nyambung.
Penyakit kedua adalah keterikatan dengan aturan. Untuk pemula, termasuk saya, aturan kadang membuat sulit untuk bergerak. Contoh saja, bagi yang tidak biasa dengan penulisan menggunakan tata bahasa Indonesia, barangkali akan bingung ketika seseorang menuliskan kata depan untuk tempat (missal di rumah) apakah dipisah atau digabung (dirumah). Contoh lain penulisan gelar, tanda Tanya, penggunaan spasi setelah titik atau koma. Bagi penulis pemula yang terikat dengan aturan-aturan tersebut namun belum begitu menguasai akan membuat pikirannya mandeg pada hal-hal tersebut saja, sehingga ide yang telah muncul akan cepat terlupakan. Oleh karena itu, sebagai awalan, jika kita belum menguasai aturan-aturan menulis, lebih baik abaikan saja. 

Penyakit ketiga adalah takut mengkritik penulis senior/ inferior. Penulis pemula (seperti saya misalnya), seringkali melihat penulis lain yang telah banyak menulis dan jam terbangnya tinggi apalagi dengan mengutif para ilmuwan, filsuf atau kutipan-kutipan aheng seringkali terjebak dengan citra bahwa penulis tersebut hebat, pinter, dan tahu segalanya. Pada bisa saja dia hanya menguasai apa yang menjadi bidang keahliannya saja. Seorang guru informatika mungkin menguasa hal-hal yang berkaitan dengan bidangnya, tapi belum tentu ia menguasai perkembangan mutakhir teknologi masa kini jika ia kuper. Atau seorang wartawan dipersangkakan tahu segalanya tentang seluk beluk ilmu jurnalistik, padahal belum tentu, bisa jadi ia hanya sebagai ‘tukang’ melaporkan peristiwa saja, bukan seorang ahli. Dengan prasangka tersebut, seringkali kita menjadi inferior terhadap penulis lain dan membuat kita enggan untuk mengkritisi mereka. Padahal kritik merupakan salah satu arena untuk bahan menulis. Apalagi dalam dunia Jurnalistik, kajian atau literasi media berangkat dari kekritisan para penulisnya.

Penyakit selanjutnya yang  telah menjadi rahasia umum dalam tulis menulis adalah malas membaca, menonton, merenung, berfikir, kontemplasi dan lain-lain adalah penyakit para penulis pemula sehingga kemalasan tersebut yang membuat tidak pernah datang ide. Jika ingin datang ide terus menerus maka perbanyaklah membaca, terlebih membaca aktif untuk menemukan ilmu persfektif sebagai bahan analisa untuk menulis terlebih tulisan-tulisan yang sifatnya kritis.

Jika saja saya masih memelihara minimal 3 penyakit pertama di atas, saya tidak akan pernah menghasilkan satu tulisan pun. Oleh karena itu saya memberanikan diri menulis tanpa pandang bulu siapa yang dikomentari atau dikritik, nah terbukti kan, tulisan saya juga acak-acakan karena tidak pernah ditengok lagi apalagi di edit.

Bagaimana dengan kawanku yang lain?


Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
aryanto
AUTHOR
Sep 27, 2012, 10:52:00 AM delete

terima kasih atas infonya

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon