Religitainment, Dakwah dalam Bingkai Populer

Akhir-akhir ini ada yang menarik perhatian setiap shubuh, saat mendengarkan ceramah salah satu ustadz  dan ustadzah yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi. Gema ceramahnya sangat popular di tengah-tengah masyarakat, ibarat seorang Sule yang selalu menghibur dan terkenal dengan yelnya ‘prikitiw’, sang ustadz pun tak begitu jauh dalam urusan yel dan jargon setiap ceramah yang disampaikannya.

“Jama’aaah…..”,sapa sang ustadz.
“Yeeee…”, jawab jamaah.

“Ooh Jamaah…”ulang Sang Ustadz
“Alhamduulillaah…”tutup ustadz

Ustadz yang dikenal dengan nama Nur Maulana tersebut selalu mengulang sapaan terhadap jamaahnya sampai duakali hingga jamaah menjawab dengan serempak.
Begitupun saat akan jeda dengan iklan, sapaannya begitu khas sehingga audiens, baik yang ada di stasiun TV ataupun di rumah gampang sekali mengingat,”Mau tau Jawabannya? Nantikan setelah lewat yang satu ini,” jawabnya.

Selain ustadz Maulana, yang menjadi host sekaligus ustadz yang mengisi acara ‘Indahnya Islam’ di salam satu stasiun televisi swasta setiap pagi, ada juga pada stasiun televisi lain yang sapaannya mudah diingat, yaitu acara Mamah Dedeh dan Aa. Sebelum bertanya, penanya harus menyebutkan terlebih dahulu kata kunci ‘Curhat Dong Mah’ atau ‘Mah curhat dong’.

Popularitas dan kata kunci yang menjadi ciri khas dari syiar yang disampaikan oleh kedua orang tersebut sudah melebihi popularitas dari kata kuncinya K.H. Zaenudin MZ (Almarhum) dengan ‘betul’nya atau Aa Gym dengan ‘betul atau tidak’nya. Kata kunci ‘Jamaah’ dan ‘Curhat Dong Mah’ telah menempel dengan kuat pada diri sang ustads, seolah ia merupakan ikonnya.

Kedua tayangan syi’ar tersebut hanya sebagai contoh dari sekian banyak syiar agama yang disiarkan oleh televisi, selain juga banyak syiar agama yang disampaikan oleh ustadz lain seperti Ustadz Jefri Albukhori (Uje) bersama Udin Nganga, dan versi Uje yang lainnya seperti yang dikemas dalam bentuk reality show. Ini menunjukan bahwa syiar agama harus disampaikan dengan semenarik mungkin agar memenuhi standar popular sebuah tayangan.

Religitainment
Ceramah tersebut sebagai bagian dari terminologi Dakwah sangat menarik tidak hanya dilihat dari sisi yel, kata kunci, dan isinya tentang syiar agama yang mudah dicerna, namun juga pada proses yang terjadi di dalamnya. Kadang sang ustadz dan jama’ahnya tertawa dan terbahak bersama. Syiar agama seolah tidak ada bedanya dengan Opera Van Java yang isinya melulu hiburan. Hal ini disebabkan oleh sikap entertainment yang dimiliki oleh pembawa dan pengisi acara.

Adanya unsur hiburan yang kental dengan paduan syiar agama menjadikannya sebagai hiburan agama atau saya istilahkan dengan religitainment, suatu paduan antara syiar agama dan hiburan. Walaupun pengisi dan pembawa acara tidak meniatkannya demikian sebagai hiburan agama namun dilihat dari prosesnya, jamaah tidak saja mendapatkan pencerahan namun juga mendapatkan hiburan. Bisa senyum, tertawa sampai terbahak bersama.
 
Religitainment; Dakwah dalam Bingkai Budaya Populer
Televisi memiliki berbagai macam fungsi yang positif, seperti sebagai media informasi, pendidikan, transformasi budaya, penyebaran nilai-nilai, ataupun hiburan. Namun di antara sekian banyak fungsi dari televisi yang paling menonjol adalah fungsi hiburan. Hampir setiap tayangan dari televisi memiliki unsur hiburan kecuali tayangan yang terkait dengan berita duka. Terlepas dari segala fungsi yang positif, yang tak kalah penting diingat dari kehadiran setiap televisi kini adalah fungsinya sebagai industry informasi. Para pengelola televisi mengemas fungsi-fungsi di atas dalam bingkai bisnis. Oleh karena itulah dapat dikatakan bahwa setiap stasiun televisi merupakan lembaga bisnis. Ia merupakan bagian dari korporasi pemiliknya.

Sampai saat ini, seperti dikatakan oleh John Vivian, televisi merupakan media yang paling sering digunakan oleh masyarakat, ia menduduki peringkat satu dibandingkan media massa yang lain (1996). Bagi John Storey televisi merupakan media paling popular yang mentransformasikan kepentingan ideology budaya massa. Dalam pandangan Storey (1996), Ideology tersebut  mengartikulasikan pandangan di mana budaya pop merupakan produk bagi produksi komoditas kapitalis dan karenanya merupakan subjek bagi hukum ekonomi pasar kapitalis. Sebagai bagian dari industry, televisi memosisikan khalayak sebagai konsumen komoditas. Sebagai konsumsi, televisi menawarkan berbagai kesenangan kepada khalayak agar dapat terus memandangnya. Oleh karena itu setiap tayangan pun dibuat semenarik mungkin untuk memuaskan dahaga kesenangan para penontonnya.

Sebagai bagian dari penanaman ideology budaya massa dan konsumsi kesenangan, syi’ar agama pun pada akhirnya terjerembab dalam bingkai televisi yang telah memiliki aturannya sendiri untuk menarik massa ke dalam wilayah kesenangan bukan kekhidmatan dan kekhusuan seperti yang dituntut oleh agama. Ia pada akhirnya terjebak pada permainan permukaan dari sebuah syiar agama. Dalam pandangan postmodern, budaya televisi mencomot sana-sini berbagai teknik koloase dan simulasi permukaan. Sehingga pantas kesenangan yang ditawarkan bukan berupa kekhidmatan dan kekhusuan tapi bagaimana membuat audiens merasa senang secara permukaan; tertawa dan terbahak bersama-sama. Syi’ar agama pun menjadi religitainment, syiar agama yang berubah fungsi, bukan sebagai siraman ruhani, namun sebagai hiburan yang berisi materi agama semata dan itulah yang saya sebut sebagai dakwah popular. Dakwah yang diproduksi untuk kepentingan ekonomi bagi sang pemiliknya tanpa disadari oleh penontonnya sendiri.

Mengembalikan Kekhusuan
Agama bukan berarti tidak membolehkan umatnya merasa senang, bukan berarti juga mengharamkan hiburan dan  tertawa-tawa. Rosulullah SAW pernah bersabda, “Demi Zat yang diriku dalam kekuasaannya, sesungguhnya andaikata kamu disiplin terhadap apa yang pernah kamu dengar ketika bersama aku dan juga tekun dalan zikir, niscaya Malaikat akan bersamamu di tempat tidurmu dan jalan-jalanmu. Tetapi hai Handhalah, saa’atan, saa’atan, saa’atan! (bergurau sekedarnya saja!). Diulanginya ucapan itu sampai tiga kali.” (HR. Muslim)
Rosulullah SAW biasa mencari hiburan dengan melakukan ketangkasan bersama isteri dan sahabatnya seperti lomba lari, gulat, naik kuda dan ketangkasan lainnya. Bagi Rosulullah olah raga tersebut selain menyehatkan secara raga juga sebagai hiburan yang dapat menyehatkan ruhaninya, sebagai jeda dalam menghadapi kehidupan. Namun tentu saja Rosulullah tidak pernah menjadikan sepanjang harinya sebagai hiburan, terlebih menjadikan syiarnya sebagai hiburan.

Sahabat nabi pun biasa mencari hiburan dengan bergurau dan tertawa, namun mereka tidak bergurau dalam menyampaikan syi’ar Islam. Mereka bergurau hanya untuk beristirahat dari perjalanan dan aktifitas hidupnya  yang panjang. Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata: “Istirahatkanlah hatimu sekedarnya, sebab hati itu apabila tidak suka, bisa buta.”
Merujuk pada konteks tersebut, mencari hiburan dalam konteks kekinian, tidak mesti menjadikan syiar agama sebagai sumber hiburan sehingga berubah menjadi religitainment, tapi tempatkanlah sebagaimana mestinya, jadikan syiar sebagai sumber kekhusuan dan kekhidmatan untuk memperoleh hikmah-Nya.

Bagi pengelola televisi pun seharusnya mampu menempatkan dan memilah bagaimana menempatkan kekhusuan dalam tayangan dan syi’ar agamanya, jika perlu tayangan agama seperti kuliah shubuh menjadi program CSR, sehingga tidak perlu ada iklan yang terkadang bertolak belakang dengan syiar agama yang disampaikan. Wallahu a’lam.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon