Mat Blankon, Pejuang Budaya (Ikat Kepala) Blitar


Karel Anderson, Community Dev Detik saat memandu Mat Blankon menyampaikan visinya dalam mengembangkan budaya ikat di Blitar
Selalu salut dengan mereka yang memperjuangkan sesuatu yang hari ini dianggap sepi peminat, Budaya Rakyat. Hal ini dilakukan Mursito atau lebih dikenal dengan nama Mat Blankon, warga Blitar yang memperjuangkan agar Iket Kepala khas Blitar betul-betul memasyarakat. Tidak banyak masyarakat yang mengetahui jika Blitar memiliki ciri khas Iket yang berbeda dari daerah lain di Jawa Timur. Warga lebih mengenal jenis ikat kepala Solo atau Yogjakarta. Sebagai pecinta budaya lokal, Mursito merasa tergugah untuk mengenalkan model iket kepala yang khas blitar dimana salah satu ciri khasnya adalah memiliki ekor dua dengan panjang berbeda saat iket dipasang pada kepala.
 
Tidak seperti di Bandung, para pejuang budaya iket sunda sudah terbantu oleh menjamurnya komunitas budaya, seperti Komunitas Iket Sunda, Komunitas Nyarios Sunda, termasuk kebijakan dari pemerintah untuk mengenakan iket pada hari tertentu. Di Blitar, seperti penuturan Mat Blankon pada #KopdarTemanAsyiiik belum ada komunitas-komunitas yang menularkan secara konsisten seperti apa yang dilakukan oleh Mursito, ia berjuang sendirian untuk mempopulerkan iket khas Blitar tersebut. Termasuk pemerintah sendiri cenderung politis untuk memamerkan iket tersebut.

Mat Blankon saat Pamer produknya bersama pengrajin Lain, Abah Iwan dengan Produk Karung Goni, dan Ipul Topi Bambu.
Mursito menjual iket di area makam Bung Karno yang menjadi satu-satunya pusat penjualan oleh-oleh di Kota Blitar, karena potensinya sendiri tidak ada selain di areal makam tersebut, kecuali wilayah Kabupaten Blitar yang cukup luas. Oleh karena itu, penjualannya berpusat di area makam tersebut. Mursito memiliki beberapa kios di area tersebut setiap harinya.

Sebagai anak muda, ia tersadarkan untuk mengenalkan budaya daerahnya sendiri. Berawal menjual iket khas Solo dan Yogja, ia tergugah, “lah mas mana iket khas Blitarnya?” ia menirukan pengunjung makam Bung Karno yang hendak membeli iket.

Seperti apakah iket kepala khas Blitar? Dari sanalah mulai mencari ciri khas ikat kepala Blitar. Karena pada dasarnya, ia sangat mendalami seni-seni tradisi yang menjadi bagian dari budaya Blitar. Sampai akhirnya menemukan Bung Karno Kecil yang telah mengenakan iket kepala sejak usia 10 tahun. Jadilah Mursito mengenalkan Ikat Kepala khas Blitar yang pada masa lalu menjadi ikat kepala kebangsaan masyarakat Blitar, seperti yang dikenakan Bung Karno.

Ia mulai menjual dan mengenalkan ikat kepala khas Blitar pada tahun 2007. Sejak saat itulah ia menjadi pejuang budaya Blitar melalui ikat kepala. Ia mengenalkan ikat kepala dengan langsung menjualnya kepada para pengunjung Makam Bung Karno yang sekaligus menjadi Pusat penjualan oleh-oleh di Kota Blitar.

Tidak Mudah

Ngobrol-ngobrol bagaimana Mat Blankon berjuang untuk mengenalkan Ikat Kepala Khas Blitar
Mengenalkan Iket di luar fashion mainstream bukanlah suatu hal yang mudah. Mursito dianggap sebagai orang yang nyleneh oleh masyarakat di sekitarnya. Sangat sulit mengenalkan iket kepala tersebut. “Woi macak gendeng kowe,”ucap Mursito saat menirukan tanggapan masyarakat saat melihat tampilannya mengenakan iket kepala Blitar.

Masyarakat Blitar lebih mengenal ikat khas Solo dan Yogja. Kebanyakan masyarakat mengenal dan mengenakan ikat khas Solo dan Blitar. Namun ia terus berjuang dengan mengidentikan diri dengan Ikat khas Blitar. Sehingga kenyentrikannya pada akhirnya dikenal saat ada event-event budaya atau hajatan-hajatan di masyarakat, atau ada tetangganya yang meninggal.

“Wuih keren Mat,”ucapnya menirukan komentar teman-temannya setelah mengidentikan diri dengan iket.

Namun tetap tidak mudah karena masyarakat Blitar lebih mengenal iket khas Solo dan Yogja, sehingga tidak mudah mengubah kebiasaan tersebut. Apalagi dengan masyarakat yang terbiasa memakai pakaian daerah lain seperti songkok yang bukan bagian dari budaya Blitar.
Belakangan, Iket Blitar, saat dikenalkan di daerah luar, sebagian pengunjung cukup antusias. Sehingga menjadi tambahan harapan untuk Pria Ngocol tersebut untuk terus bergelut di dunia periketan.

Lambat laun, komunitas budaya pun mengenal iket Blitar yang dikenalkan oleh Mursito. Sejak pengenalan Iket tersebut, masyarakat mulai mengenal. Khususnya komunitas-komunitas budaya. Mursito juga mengenalkan iket Blitar ini kepada sekolah-sekolah. Hanya sayang, Pemerintah belum melirik pentingnya mengenalkan Iket Batik misalnya dijadikan sebagai Perda seperti di Bandung.

Saat pemerintah kota memesan iket yang dibuat oleh Mursito, justeru membatalkan padahal sudah dibuat, hanya karena warna yang diinginkan tidak sesuai dengan pesanan. Mursito sendiri belum memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap Iket khas ini, yang peting baginya, masyarakat bisa mengenal dan sadar dulu bahwa Blitar punya iket khasnya.

Mursito berharap, dengan pasar yang terbatas, iket Blitar bisa dikenal dan diserap oleh pasar di luar Blitar. Hal inilah yang menjadi keinginannya saat diundang ke Jakarta. Karena bagaimanapun ciri khas Iket Blitar memiliki keunikan jika dibandingkan dengan iket dari daerah lain.

Lalu berapa harganya? Harganya bervariasi, dari yang termurah dengan harga Rp. 15.000 sampai dengan Iket dengan buatan tangan dengan harga Rp.70.000. Mat Blankon memproduksinya sendiri dan menjualnya sendiri di area Makan Bung Karno. Namun banyak juga yang tertarik dari luar dengan iket ini.

Ikat kepalnya ia produksi sendiri bekerja sama dengan masyarakat. Selain berjuang untuk budaya, ia juga memberdayakan masyarakat sekitarnya.
Tertarik dengan iket kepala Blitar? Silahkan langsung berhubungan dengan Mat Blankon, pemuda 28 tahun ini punya idealisme bagaimana menanamkan kesadaran kepada masyarakat agar bisa menggunakan Iket khas kepada masyarakat Blitar. Ia bisa dihubungi melalui nomor kontak 08564652035. ***[]





Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

8 komentar

Write komentar
fanabis
AUTHOR
Nov 9, 2015, 7:25:00 AM delete

yuhuuuu keren ya mursito, punya komitmen tinggi melestarikan budaya bangsa

Reply
avatar
fanabis
AUTHOR
Nov 9, 2015, 7:25:00 AM delete

yuhuuuu keren ya mursito, punya komitmen tinggi melestarikan budaya bangsa

Reply
avatar
Abah Raka
AUTHOR
Nov 9, 2015, 7:42:00 AM delete

Terima kasih Pak Karmin, sudah mampir. Suatu kehormatan untuk saya... :)

Reply
avatar
Goiq
AUTHOR
Nov 9, 2015, 7:43:00 AM delete

Salut buat Mat Blankon..

Reply
avatar
Abah Raka
AUTHOR
Nov 9, 2015, 7:43:00 AM delete

Iya Pak betul sekali, mereka adalah orang-orang keren. Walaupun penghasilannya tidak membuat mereka kaya, mereka tetap berjuang, termasuk juga Mursito.

Reply
avatar
Abah Raka
AUTHOR
Nov 9, 2015, 7:44:00 AM delete

Betul banget Bro, mereka orang-orang super keren...

Reply
avatar
Ahmed Tsar
AUTHOR
Nov 10, 2015, 8:14:00 AM delete

Mat Blangkon salut sama kegigihannya, walau pernah dikecewakan 700 iket gagal digunakan, terus memperjuangkan Blangkon Khas Blitar

Reply
avatar
Abah Raka
AUTHOR
Nov 10, 2015, 5:40:00 PM delete

Yang namanya pejuang, biar rugi tetap jalan. Bravo Mat Blankon. Bukan Begitu Tuan Ahmed? :)

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon