26 December 2017

Meneduh Di Puncak Bintang

Sumber: dok @abahraka
Minggu kedua bulan Desember sebetulnya bukan jadwal untuk bercengkerama ke luar bersama anak-anak. Karena tepat dua hari sebelumnya mereka sudah puas-puasan bermain bola di pusat permainan dekat rumah. Artinya bahwa minggu ini seharusnya digunakan untuk bermain sekaligus beristirahat di rumah.

Tapi satu agenda yang bisa memberikan pengalaman seru buat anak sepertinya sayang untuk dilewatkan, #angklungpride. Pukul Tujuh pagi, anak-anak baru saja bangun. Artinya mereka harus loading dulu sebelum mandi. Tidak cukup satu jam untuk persiapan. Sedangkan Gelaran #Angklungpride sudah sejak pagi mengawali. Sehingga dalam perhitungan saya, bukan waktu yang tepat jika berangkat dari rumah jam 9, sementara acara sudah mulai sejak jam 8 pagi.

Hmmm sudah tanggung anak dan isteri dandan, masa iya harus batal berangkat. Tentu saja akan mebuat mereka kecewa. Karena tujuannya sekitaran Cicaheum dan Suci. Destinasi wisata yang dekat salah satunya adalah Puncak Bintang atau Bukit Moko.

Sudah lama cukup popular di media sosial 1-2 tahun lalu. Saya belum pernah juga melawat ke daerah yang tidak jauh dari Caringin tilu ini yang jika malem minggu banyak motor terparkir di pinggir jalan dan di baliknya ada muda-mudi sedang indehoy. Maklum, dulu jalanan cukup gelap. Dua-duaan di balik sepeda motor terparkir sepertinya boleh juga, bagi yang kantongnya kekeringan.

Jalanan menuju Cartil (Caringin Tilu) memang cukup curam, tapi dengan aspal yang sudah dihotmix, menggunakan matic 150 cc bukan barang susah untuk digas. Kendaraan bisa melaju dengan kecepatan sedang di atas tanjakan 30 derajat walaupun berbonceng hingga 2 orang di belakang atau kiran-kira 120 kg penumpang. Ya, jalanan menuju area ini sudah lebih baik dari 6 tahun lalu saat saya bersama kawan meramaikan malam mingguan.

Puncak Bintang, ternyata cukup jauh dari Caringin Tilu. Jalannya untuk beberapa perkampungan masih ada yang bolong dan becek, tapi overall, jalannya sudah bagus bahkan mendekati puncak bintang jalanan sudah menggunakan beton walaupun cukup menanjak hingga 35-38 derajat. Untuk pengendara roda empat juga, kendaraan sudah bisa langsung di parkir di area Puncak Bintang Bukit Moko.

Dengan parkir 5000rupiah yang dikelola oleh penduduk setempat, pengelolanya cukup apik dan perhatian terhadap pemarkir, terdapat tempat penyimpanan helm, untuk jaga-jaga jika cuaca hujan, tanpa harus mengeluarkan lagi biaya sewa.

Setelah motor saya parkir, sejenak menikmati pemandangan Kota Bandung dari atas bukit, dengan latar bukit pohon pinus. Arah berseberangan dengan tempat parkir, di ujung bukit pohon pinus tampak menara pandang Bukit Moko.

Dari atas menara Pandang, sejauh mata memandang, para pengunjung bisa menyaksikan hamparan gedung-gedung dan rumah penduduk Bandung menyerupai cekungan. Wajar karena Bandung pada masa lalu adalah sebuah Danau yang kemudian mengering. Ini mungkin gambaran Bandung Purba, yang menyejarah bersama Danau Purba Bandung tempo doeloe, di saat kakek moyang kita belum lahir.

dok @abahraka
Tidak seperti kebanyakan pengunjung yang mendahulukan berkunjung ke ikon Puncak berupa Patung Bintang Raksasa, saya lebih memilih berjalan menyusuri rindangnya pohon pinus. Begitu teduh dan tenang, padahal saat itu jam menunjukkan pukul 11.00, saat-saat teriknya matahari. Di bawah jalan tanah merah, destinasi milik perhutani ini tampak alami. Seakan tanpa rekayasa, namun tetap bersih dan terawat dengan beberapa tempat sampah di beberapa area.

Memilih Tempat Anak Bermain
Mini tebing untuk anak #PuncakBintang
Sebagai Abah yang punya dua anak laki-laki yang tidak terpaut jauh usianya, dibanding mengikuti ego mencari tempat berswafoto (lagian gak terlalu suka selfie, kecuali hasilnya bagus-bagus hehe), prioritas  utama adalah mencari tempat bermain anak. Setelah tanya-tanya, pihak perhutani menyediakan satu spot khusus tempat bermain. Walaupun dengan alat mainan yang terbatas dan tidak terlalu luas, sepertinya cukup meninamainkan agar anak tidak merengek minta jajan hehe.

Tak jauh dari area pohon pinus, setelah berjalan 200 meter, akhirnya kami temukan area permainan anak yang terdiri dari kuda-kudaan, perahu-perahuan, jembatan kayu, komidiputar, ataupun panjat tebing mini. Tidak jauh dari tempat bermain ada area memanah yang sedang hits dan kekinian. Semua dicoba  selagi bisa dan tersedia. Setelah anak merasa bosan dengan permainannya yang itu-itu saja, jajan jadi tujuan. Naik perahu-perahuan sudah, naik kuda-kudaan bergoyang sudah, naik jembatan dan tebing mini juga sudah.

Tepat tengah hari, cuaca di bawah pohon pinus tetap teduh. Walaupun agak jauh berjalan menuju gerbang kedatangan. Anak-anak tetap semangat, apalagi tujuannya adalah warung, tak lain dan tak bukan mencari jajanan anak. Apalagi rengekannya sudah tidak bisa lagi dibebenjokeun. Niat menuju ikon Puncak Bintang pun pupus sudah. Toh dominasi tujuan hang out bukankah untuk anak-anak?

Tak apalah tidak berswafoto di Patung Bintang Raksasa sebagi ikon Puncak Bintang, yang penting sudah tau area dan kemewahan pohon-pohon pinus yang meneduhkan dan menenangkan. Juga sudah bisa ngabrangbrangkeun anak-anak yang setiap minggunya minta hang out.

Bisa meneduh di bawah kemewahan pohon pinus, ngabrangbrangkeun anak-anak, dan juga sudah merasakan kemegahan Puncak Bintang dan Bukit Moko yang semoat Hits dan mungkin masih hits, sepertinya sudah cukup. Tak jauh dari gerbang masuk terdapat beberapa tempat duduk bisa dibuat sebagai tempat ngadem setelah jalan-jalan seharian.

Baydewey, retribusi masuknya tidak jauh berbeda dengan retribusi masuk destinasi buatan seperti Floating Market atau Dago Dreampark. Bedanya area jajanan yang tersedia lebih merakyat karena dikelola oleh masyarakat secara langsung dengan harga up tempat wisata, tidak murah juga tidak mahal. Sedangkan jajanan di area destinasi sudah menyesuaikan dengan harga manajemen. Yang jelas tidak akan membuat kantong jebol dan bolong.***[]

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi dan menulis feature perjalanan dan buku. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

5 komentar

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...
EmoticonEmoticon