22 January 2020

Menjadi Warganet Sehat Tanpa Hoax

properti @abahraka
Setiap ada isu viral selalu diikuti oleh penyebaran informasi bohong (hoax) dan berjatuhan korban. Saya masih ingat tahun 2017, santer terjadi penculikkan di daerah Bandung. Bahkan beredar viral video seorang anak usia SD yang mengaku telah diculik dan lepas di daerah Banjaran Bandung. Menurut informasi lanjutan anak tersebut sedang mencari perhatian orang tuanya. Sedangkan seorang Bapak, karena waswas memiliki anak kecil menyebarkan berita jika di daerahnya (Cihampelas Bandung Barat) sudah masuk penculik, dengan menyebarkan foto beserta keterangannya. Setelah diusut ternyata foto wanita dalam gambar tersebut bukan penculik tetapi orang dengan gangguan jiwa.

Beberapa hari yang lalu, polisi menangkap tiga orang Ibu-ibu di Banyuwangi karena kedapatan menyebarkan berita penculikkan. Begitu juga kasus yang saat ini menjadi pusat horor dunia, Corona, bukan saja menjatuhkan korban Corona, juga korban penyebar hoaksnya, seperti dilakukan oleh seorang laki-laki yang menyebarkan hoax jika ada seorang Ibu terkena virus Corona di Bandara Soetta.

Masih sangat aktual adalah foto pembantaian yang tersebar melalui grup-grup WA juga facebook. Menggambarkan warga Muslim India yang berjejer telah mengenakan kain kafan. Dengan gambar lain foto-foto gedung terbakar. Foto tersebut dianggap sebagai korban pembantaian warga muslim oleh warga Hindu India karena telah memakan hewan suci umat Hindu; Sapi. Padahal foto tersebut adalah aksi demonstrasi terkait Undang-undang kewarganegaraan India yang merugikan Muslim.

Haruskah ada Korban Hoax (lagi)?
Menjadi korban atau pelaku kejahatan yang pada akhirnya sebagai ‘korban’ hoax sungguh tidak nyaman. Para penyebar berita bohong tersebut telah terkena penyakit psikologi massa atau Christakis dalam buku Connected, sebagai Mass Psychogenic Illness. Suatu penyakit psikologis yang tertular oleh massa, karena massa cenderung melakukan suatu hal, dia juga ikut terlibat.

Istilah sekarang, seperti ditulis oleh David Stillman sebagai Fear of Missing Out (FoMO). Suatu penyakit psikologis yang tidak ingin terlewat satu isu atau berita. Sehingga dia merasa harus terus eksis dan narsis, selain melalui pamer eksistensi (pseudo eksistensi) juga dengan menyebarkan berita bohong. Karena dia mengira, dengan menyebarkan berita, dia juga ikut numpang eksis. Padahal kebenaran faktanya belum tentu valid. Pada akhirnya, penyakit tersebut mengantarkan orang untuk menyebarkan berita bohong.

Berdasarkan data kemkominfo, pada tahun 2019, khususnya April terdapat 800-900 ribu situs penyebar Hoax. Sejak munculnya kasus Corona sendiri, terdapat 54 kasus, 53 kasus disebar pada bulan Januari 2020. Belum lagi saat masuk Bulan Februari, sebaran berita bohong bertambah banyak.

Bisa jadi, para penyebar Hoax tersebut bukan karena seperti penyakit di atas, Mass Psycogenic Illnes, karena banyak yang melakukan lantas dianggap benar. Atau karena FoMO tidak ingin kalah eksis dari yang lain, maka ikut eksis dan narsis dengan menyebarkan berita (Hoax). Bisa jadi para penyebar Hoax tersebut belum teredukasi.

Berdasarkan hasil penelitian, para penyebar Hoax ini rata-rata berada pada rentang usia 35 ke atas, yang saya kategorikan sebagai puber digital ataupun tepatnya seperti disebut oleh Presidium Masyarakat Anti Fitnah, Septiaji sebagai Digital Imigran (sumber Detik.com). Sedangkan di bawah usia 35 tahun karena sudah aware dengan teknologi, sehingga lebih hati-hati.

Lalu bagaimana agar kita tidak terjebak oleh Hoax dan terhindar sebagai korban bencana hoax nasional?

Sebelum membahasnya, saya definisikan dulu tentang Hoax. Berdasarkan definisi KBBI Hoax adalah berita bohong. Merujuk pada buku 11 mengenal Hoax. Hoax adalah suatu informasi yang salah namun dianggap benar dan disebarkan untuk keperluan tertentu. Nah, kita sendiri sering mendapatkan berita bohong, namun dianggap benar dan valid oleh penyebarnya.

Bahkan untuk meyakinkan, penyebar Hoax menggunakan kata-kata ancaman atau tanda seru; Hati-hati telah terjadi/ tersebar, jika tidak disebarkan bisa celaka, sebarkan untuk kebaikan, dan lain sebagainya.

Pada tahun 2017, Hoax sudah setiap hari masuk ke berbagai aplikasi yang kita punya; mulai dari email, komentar blog, aplikasi chating, media jejaring sosial, mahkan mesenjer (Messenger). Bahkan berdasarkan catatan dari turnbackhoax, beberapa media massa juga menyebarkan hoax.

Saya sendiri pernah ‘memergoki’ media massa yang menyebarkan Hoax, dan ini dilakukan oleh media-media yang dianggap kredibel dan telah terverfikasi Dewan Pers. Misalnya pada kasus penamaan KRI Usman-Harun masa pemerintahan SBY, banyak media di Indonesia yang memberitakan tentang pemutusan hubungan pertemanan yang dilakukan oleh Perdana Menteri Singapura terhadap Presiden SBY. Padahal, baik Perdana menteri Singapura ataupun Presiden SBY tidak memiliki akun Facebook (fanpage iya, tapi bukan akun facebook, karena fanpage sifatnya terbuka).

Begitu juga saat Raja Salman berkunjung ke Indonesia, ada satu media online besar memberitakan bahwa putri raja Salman yang Cantik tampak Anggun tanpa mengenakan Burqa, padahal wanita tersebut adalah pramugari, bukan putri Raja Salman.
Pada pelatihan Anti Hoax yang diselenggarakan di Hotel Harris Ciumbuleuit oleh Mafindo, saya sampaikan bahwa salah satu penyebar berita bohong ya dari media sendiri, selain yang sudah disebutkan di paragrap-paragrap awal.

Lalu, bagaimana kita mengenali Hoax dan kita tidak terjebak untuk ikut menyebarkannya?
Saya rujuk dari Siberkreasi, ada beberapa cara untuk mengantisipasi agar tidak terjebak oleh berita Hoax dan kita tidak ikut menyebarkannya.

Pertama, jika yang menyebar situs, periksa situs tersebut apakah kredibel atau tidak? (yang kredibel saja bisa terjebak hoax apalagi yang tidak kredibel)

Kedua, periksa halaman-halaman dari situs tersebut, apakah isinya masuk akal.

Ketiga, Periksa apakah terdapat kalimat yang menyuruh pembaca untuk menyebarkannya.

Keempat, kroscek pada google apakah ada berita yang sama, spesifik pada situs-situs terpercaya

Kelima, jika berupa gambar, cek kebenarannya dengan memasukkan kata kunci melalui reverse google image.

Selain 5 hal untuk mengantisipasi tersebut, sebagai warganet sehat yang sudah memiliki telepon pintar, bisa memaksimalkannya dengan menggunakan aplikasi pengecekkan hoax, misalnya Hoax Buster Tools, cekfakta, antihoax, dan mungkin sekarang cukup banyak tools yang bisa digunakan untuk melakukan pengecekkan berita tersebut fakta atau bukan.

Media massa juga sering melakukan pengecekkan fakta terhadap satu berita yang tersebar viral di media sosial. Jika terlalu malas membaca, tinggal kirim WA ke Jabar Saber Hoax atau Mafindo untuk dicek faktanya.

Menerapkan Jurnalisme
Bagi saya sendiri, jurnalisme cukup ampuh mengantisipasi Hoax, apalagi sebagai terlibat sebagai kelompok informasi masyarakat yang harus secara mendiri mendapatkan dan menyebarkan informasi. Sudah seharusnya bisa merealisasikan tentang jurnalisme.

Pertama; 5 W 1 H.
Misalnya, apakah satu gambar, video, atau berita jelas 5 W 1 H nya? Jika tidak jelas, 5 W H nya kita patut curiga, gambar atau video yang tersebar tersebut adalah Hoax. Dan tidak perlu pusing juga dengan gambar-gambar yang bermunculan yang kadang membuat kita emosi (sedih, haru, marah, dan lain sebagainya) karena kita anggap saja Hoax jika tidak memenuhi unsur-unsur tersebut. Selesai urusan.

Kedua; Verifikasi (tabayun)
Jika ternyata banyak orang yang keukeuh dengan informasi yang beredar, salah satu elemen jurnalisme yang bisa digunakan untuk melakukan pengecekkan adalah verfikasi data. Melakukan verifikasi dapat dilakukan melalui beragam media kredibel, apakah berita yang beredar tersebut banyak dimuat secara luas atau tidak. Atau hanya dimuat oleh media tidak jelas.
Media sendiri biasanya jika kejadiannya berada di area sekitar langsung kroscek ke lapangan atau terhadap pihak berwenang.

Untuk kita sendiri, lebih baik menghindari sikap terburu-buru untuk menyebarkan berita (jangan FOMO), agar tidak celaka kemudian.

Ketiga; Cek keberimbangan
Selain pengecekkan fakta, lakukan kroscek keberimbangan berita yang dimuat oleh beragam media tersebut, bandingkan dengan beragam media yang ada; bisa cetak, elektronik, ataupun sesama digital. Karena Hoax lebih sering beredar di media digital.

Keempat: Tidak Clickbait
Bandingkan antara judul dan isi relevan dan masuk akal

Hidup Sehat Tanpa Hoax: 

Pertama, tidak mudah percaya/ skeptis/ ragu. Kedua, jangan selalu ingin cepat-cepat menyebarkan. Ketiga, tekan keinginan ingin selalu eksis (dalam konteks menyebarkan berita (yang belum jelas benarnya))! Insha Allah, kita bisa hidup sehat tanpa hoax.***[]

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi dan menulis feature perjalanan dan buku. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

6 komentar

Intinya memang kita harus punya prinsip, maluuuuu banget kalau menyebarkan berita yang salah.

Dengan itu kita jadi lebih peduli cari kebenaran berita dulu sebelum di share :)

Hoax sekarang gampang beredar karena dipicu oleh pola dan doktrin di masyarakat indonesia pada jaman orde baru. Dimana setiap berita yang muncul di media massa pada jaman tersebut adalah corong pemerintah yang dianggap sudah pasti kebenarannya. Sebab itulah pada jaman sekarang terutama generasi yang pernah merasakan orde baru, akan menganggap setiap berita yang ia terima di media sosial layaknya berita media massa pada jamannya. Dianggap benar, dan langsung disebarkan lagi ke media sosial miliknya tanpa dicek terlebih dahulu kebenarannya. Bahkan terkadang langsung disebar tanpa membaca berita lengkapnya terlebih dahulu. Hanya membaca judulnya saja.

Betul sekali teh @Rey, intinya sekarang mah harus hati-hati, jangan mudah percaya, selalu curiga dengan berita-berita yang muncul, apalagi yang tidak bersumber ya...

Ya begitulah jaman sekarang @Greatnesia, kadang orang gak tau isi, cuma baca judul langsung sebar, ini yang menjadikan hoax tambah subur ya...

Setuju kang, jangan mudah percaya jika ad berita yang bombastis, kita cek dulu dengan sumber terpercaya, bisa lewat google atau media yang kredibel.

Kang @Agus Warteg, betul sekali kang Agus, kita bisa menggunakan fasilitas yang ada untuk mengecek kebenaran informasi

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...
EmoticonEmoticon