18 March 2020

Semangat Berbagi Barengi Literasi

Foto by @fileproject
Sudah mafhum, era media sosial, setiap orang begitu bersemangat untuk berbagi. Berbagi apapun. Tentang kehidupan diri; kantor, rumah, aktivitas, jejaring, ataupun sosial. Semangat berbagi inilah yang menjadikan sosmedland Indonesia begitu ramai dan riuh, tumpah ruah semuanya di sosmed land. Wajar sosmedland Indonesia masuk daftar 5 terbesar dunia.

Sayang, semangat berbagi tersebut seringkali menimbulkan masalah karena tidak dibarengi dengan semangat literasi. Ya, literasi. Literasi bukan hanya soal membaca. Bukan hanya soal menulis. Juga bagaimana memahami setiap isu, wacana, atau pun peristiwa dipahami dengan benar tentang apa, bersumber dari mana, dan apa kegunaannya.

Yaaa sebenarnya sih, jika dikaji berdasarkan kajian filsafat; misalnya tentang suatu informasi yang beredar, maka informasi tersebut harus dipahami dulu hakikat informasi tersebut (ontology), sumber, asal usul, atau bagaimana cara informasi itu muncul, daaan kira-kira nih. Informasi tersebut berguna atau bermanfaat apa tidak jika disebarkan lagi.

Jika ini sudah dipahami, sebetulnya selesai.  Tidak akan muncul masalah. Hanya saja tidak setiap orang mau dan mampu sampai sejauh itu berfikir. Karena semangat berbagi hanya dibarengi dengan hasrat atau dorongan naluri ingin cepat eksis dan terkenal. Apalagi dilike, dishare ulang, dikomentari, dengan melebihi jumlah pertemanannya. Eksistensi kita seakan memuncak. Berbagi pun menjadi candu. Tidak peduli benar atau salah. Yang penting eksistensinya terpenuhi, hasratnya tersalurkan, ia pun tidak pernah tertinggal informasi terkini di bandingkan tetangga sebelahnya-Fear of Mising Out (FoMO).

Sebelum dikenai pasal UU ITE yang bisa menjerat dengan penjara tahunan dan denda ratusan juta. Maka warganet dengan kategori tersebut tidak akan penah kapok, kecuali saat polisi sudah menjemput. Baru menyesal.

Oleh karena itu, sebelum menyesal. Maka semangat berbagi harus dibarengi dengan literasi. Literasi sendiri ada yang bersifat fisik seperti membaca dan menulis, kecenderungan ini lebih kepada peristiwa literasinya. Namun yang tidak kalah penting adalah pada aspek praktiknya yang cenderung abstrak. Pada praktinya, literasi melibatkan nilai, sikap, perasaan, dan hubungan sosial. Pada konteks pelibatan ini juga mengikutsertakan aspek kognitif.

Literasi mulanya adalah kegiatan mengenal huruf lalu mengenal tulisan. Berkembang menjadi suatu keterampilan membaca dan menulis. Namun, literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Dalam konteks informasi seperti dikutip Iriantara (2009), literasi dipahami sebagai kemampuan mengumpulkan, mengorganisasikan, menyaring, dan mengevaluasi informasi. Sekaligus juga suatu kompetensi untuk memperhitungkan akibat-akibat sosial dari publikasi yang dilakukan.

Maka bisa digarisbawahi bahwa literasi (informasi) di sini erat kaitannya dengan;
(1) kemampuan mengumpulkan informasi berasal dari mana;
(2) kemampuan mengorganisasikan, menggabungkan, mengombinasikan, atau menyeleksi dan memilah informasi mana yang harus dan tidak harus disusun sehingga menjadi data yang utuh untuk disebarluaskan;
(3) Kemampuan menyaring informasi mana yang layak dan tidak layak untuk disebarluaskan;
(4) mengevaluasi apakah sumber informasi benar, apakah informasi tersebut valid, berasal dari mana sajakah referensi informasi, apakah sumbernya terverifikasi;
(5) Kemampuan memperhitungkan dampak dari informasi yang dibagikan. Dalam bahasa komunikasi, seorang agen informasi harus mampu meramalkan kemungkinan-kemungkinan dampaknya. Tidak hanya sekedar senang berbagi informasi.

Berdasarkan beberapa komponen sederhana tersebut, maka derajat literasi sedikit meningkat bukan hanya mengenal huruf, dan kemudian menuangkan kembali menjadi tulisan. Juga sudah pada tarap memahami membaca dan menulis itu untuk keperluan apa. Seperti apa menulis yang bermanfaat, bagaimana dampaknya, informasi seperti apa yang harus dirujuk dan dibagikan, apakah informasi tersebut benar atau tidak, dan apa dampaknya jika informasi tersebut dibagikan.

Terinternalisasikannya pemahaman tersebut dalam diri kita sebelum berbagi informasi, bukan hanya meningkatkan derajat diri, juga meningkatkan sistem imun diri kita dari serangan hoax. Sehingga tidak mudah percaya, selalu bersikap skeptis (ragu-ragu). Kita pun tidak akan sembarangan berbagi sehingga tidak mudah menjadi korban penyebaran hoax.

Yuk barengi semangat berbagi kita dengan literasi! 

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi dan menulis feature perjalanan dan buku. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Next
This Is The Current Newest Page

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...
EmoticonEmoticon