15.5.20

Mengelola Persepsi Masa Pandemi

Pertanyaan pendahuluan

Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi
Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi/ Persepsi dan Emosi
Ada yang sering baca tentang isu Covid19? Ada yang sering nonton Bagaimana perkembangan Corona dan kapan berakhirnya? Atau ada yang kebangetan menerima pesan berantai tentang berbagai hal terkait dengan pandemi ini?

Ada yang cemas? Ada yang waswas atau merasa mandesu dengan beragam informasi dan pemberitaan menyangkut Covid19?

Tidak sedikit yang cemas, waswas, bahkan masa depannya telah terrenggut oleh keadaan ini. Seseorang berkomentar dalam grup WhatsApp,”Kok jadi ngeri begini ya”. Seseorang bertanya, ini kejadian bener, dimana? Seseorang lagi tanpa memberi jawaban terus menyebarkan informasi, yang, sekali lagi, entah benar atau tidak, entar faktual atau tidak.

Namun yang perlu digarisbawahi di sini, dari pertanyaan dan paragraf di atas adalah, seperti dikatakan oleh Epictetus, seorang filsuf Stoa,”Some things are up to us, some things are not up to us”.

Epictetus bilang, ada hal yang di bawah kendali kita, ada hal yang tidak di bawah kendali kita. Untuk yang di luar kendali kita, serahkan kepada yang mengendalikan kita. Kita punya Tuhan, punya Allah. Doakan mereka yang sering menyebarkan berita yang mencemaskan agar sadar dengan kenarsisan berbagi kecemasan dan ketakutan.

Hidup dengan Tirani Opini Orang Lain

Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi
Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi/ Tirani Opini
Nah, yang bisa kita kendalikan menjadi bagian yang bisa kita kelola sendiri. Jangan sampai kejadian atau informasi apapun yang masuk dari luar membuat kita cemas, khawatir, tertekan, atau justeru sudah masuk pada fase stress. Karena ini semua adalah sesuatu yang dikatakan oleh epictetus,”some things are up to us,”  sesuatu di bawah kendali kita.

Namun, di antara yang di bawah kendali dan di luar kendali, ada di antaranya sebagian kita kendalikan. Nah, contoh pasnya adalah Kuliah Online! Kuliah online tidak bisa dimasukkan ke dalam di bawah kendali kita, karena diselenggarakan oleh institusi dengan beranekaragam pelengkapnya; jadwal, dosen beserta moodnya, mata kuliah, ujian-ujian, data, kecepatan akses, keluasan server. Jika kuota tidak ada, kita tidak bisa mengubah jadwal sesuai dengan keinginan kita. Jika akses internet lambat kita juga tidak bisa mengubah akses dari 10 mbps menjadi 100 mbps.

Maka di antara itu ada bagian yang bisa kita kendalikan, yaitu internal goal kita terhadap kuliah online itu apa. Paham materi? Keterampilan? Nah itu semua berada dalam ruang kendali kita. Kita bisa memaksimalkan kemampuan kita untuk belajar. Sehingga walaupun kita tidak bisa mengubah mood dosen, kita bisa memberikan yang terbaik untuk ujiannya. Jadi jika kita tidak bisa mengikuti kuliah online karena kehabisan kuota, kita bisa konfirmasi dosen setelah ada kuota. Tidak harus menyalahkan jadwal dan keadaan yang memang di luar kendali.

Namun mengendalikan persepsi, seringnya sulit. Misalnya; Memilih tempat kuliah. Kalo aku kuliah di kampus ini, nanti teman-teman bilang, kampus apaan tuh?... Memilih pekerjaan, apaan kerjaannya Cuma posting-posting quote di medsos, emang gak ada pekerjaan lain yang lebih oke gitu?...atau Memilih pacar. Anjir pacarnya jauh banget sama doski yang blink-blink...,

Yakin, jika hidup di bawah pendapat orang lain kita akan bahagia? Tanya epictetus. Jangan sampai sebab corona, Coronanya baik-baik saja, karena persepsi dikendalikan opini orang, jadinya bunuh diri seperti menteri di salah satu negara Eropa. Jangan sampai Tirani opini orang lain mengatur hidup kita!

Mengelola Persepsi

Peristiwa seringkali mengendalikan persepsi. Tidak bisa kuliah online gara-gara kuota, persepsi kita langsung menjustifikasi, bahwa nilai kita akan turun. Tetangga kena corona, kita langsung menjustifikasi keadaan sudah sangat bahaya. Peristiwa dan informasi-informasi yang masuk ke dalam memori kita akan kita kelola menjadi persepsi. Persepsi ini dalam sistem syaraf kita terhubung dengan jajaring saraf emosi.

Suatu waktu, seseorang marah di hadapan saya. Sikap saya dingin, walaupun kaget karena marahnya tiba-tiba. Karena, saya mempersepsi marahnya bukan kepada saya. Jikapun kepada saya, saya bertanya kepada diri sendiri, kesalahan besar apa yang telah saya perbuat? Marahnya seseorang tidak bisa kita kendalikan, tapi kita bisa mengendalikan persepsi kita agar kita tidak tersulut emosi atau melakukan hal yang sama untuk marah. Karena kalau kita balik marah, sama artinya kemarahan kita dikendalikan oleh kemarahan orang lain. 


Konteks komunikasi, marah, cemas, khawatir atau sebaliknya, karena seseorang tidak cermat atau kurang tepat dalam mengelola informasi yang masuk ke dalam memori. Maka peristiwa/ informasi yang tidak tepat pengelolaan persepsinya akan berdampak terhadap kemunculan emosi negatif tersebut.


Bagi seorang motivar NLP, Ibrahim Elfikri, persepsi bisa membuat orang tertawa tapi bisa membuat sebagian orang menderita. Bisa membuat seseorang peduli bisa membuat seseorang angkuh. Bisa membuat seseorang memiliki sikap positif atau sebaliknya menjadi penyebab emosi negatif pada diri seseorang. Pilih mana?


Bisa jadi seperti yang ditulis oleh filsuf lain, bahwa pengolahan informasi itu sesuai dengan referensi dan pengalaman kita. Oleh karena itu, merujuk pada konsep literasi, barengi dengan kroscek dan keseimbangan informasi lain.


Nah oleh karena itu, untuk mencegah mental lockdown. Saya lebih fokus pada bagaimana mengelola persepsi kita terhadap peristiwa-peristiwa sekeliling kita. Dengan lockdown seperti sekarang, mental juga jangan ikut-ikutan lockdown juga; menjadi pemurung, penyendiri di kamar. Karena persepsi kita selain menjadi sumber lockdown mental juga menjadi sumber kekuatan untuk menciptakan kebahagiaan kita sendiri.


Selama lockdown, saya melihat ternyata banyak teman-teman saya yang memaksimalkan hobby dan potensinya; ada yang mendalami desain grafis, ada yang cover-cover lagu, ada yang bikin lagu juga. Dan itu sangat positif. Saya sendiri selama lockdown, bisa lebih mendekatkan diri dengan anak; mulai dari sholat berjamaah, mengajar ngaji. Mulai berkebun lagi. Tulisan yang tertunda bisa saya selesaikan; ngeblog lagi; menulis jurnal, termasuk juga belajar lagi bikin blog dan SEO. Jadi selama lockdown justeru bisa memaksimalkan pekerjaan dan hobby yang tertunda. Seakan tidak ada habis-habisnya sehingga tidak sempat untuk mencemaskan ‘duh bagaimana coron sudah sampai tetangga’ dengan tetap waspada.


Persepsi seringkali datang dari interpretasi yang terjadi secara otomatis. Karena kita sendiri termasuk ke dalam orang yang reaksioner. Jika ada orang yang pake baju koko dan peci kita langsung menginterpretasikan bahwa orang tersebut soleh. Jika ada yang pakai tatto kita mengintepretasian sebagai kriminal. Otomatis persesinya juga demikian. Ada aksi ada reaksi. Kita juga seringkali bereaksi otomatis saat dikecewakan oleh orang lain atau keadaan; macet, putus dari pacar, kehilangan dompet, kuota data habis, dan lainnya.


Nah, bagaimana agar tidak terjadi otomatisasi interpretasi, apalagi kita punya pengalaman sesuai dengan yang kita interpretasikan?


Kata seorang filsuf Stoa, Marcus Aurelius, gunakan interpretasi aktif. Stop interpretasi masuk ke dalam emosi. Caranya? Luangkan sedikit waktu untuk berfikir. Sebelum interpretasi itu dilakukan. Misalnya, apa yang bisa saya lakukan saat kuota habis dan tidak bisa ikut kulon (kuliah online)? Dari pertanyaan ini, kita bisa jawab sendiri dan bisa jadi banyak pilihan yang bisa kita lakukan. Sehingga tidak bete atau justeru cemas karena takut dosen marah atau memberikan nilai kecil. Bisa belajar dengan materi yang sama, bisa bantu orang tua yang memang sejak awal sudah minta tolong, atau bisa melanjutkan hobi.


Manampiring dalam Filosofi Teras (2019) memberikan panduan yang disingkatnya dengan STAR (Stop, Think & Asses, Respond). Berhenti melakukan apapun termasuk berbicara saat emosi mulai menguasai jiwa, jangan sampai larut ke dalam perasaan.  Setelah berhenti, Pikirkan dan nilai. Kita bisa aktif berfikir atau memaksakan diri untuk berfikir secara rasional tentang peristiwa atau keadaan sehingga bisa mengalihkan dari kebablasan emosi negatif. Kemudian nilai, apakah emosi tadi yang muncul bisa dibenarkan, memberikan dampak positif atau negatif? Apakah kita sudah memisahkan fakta dengan interpretasi subjektif? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menghilangkan emosi berlebih tentang suatu peristiwa. Terakhir, respon. Setelah  menggunakan nalar untuk mengendalikan emosi, kita berfikir respon apa yang tepat untuk merespon keadaan atau peristiwa tersebut.


Sementara tawaran dari Ibrahim Elfikri dengan melakukan senam mental, yaitu suatu metode melakukan perlawanan terhadap persepsi negatif. Senam mental dilakukan sebagai berikut: Lihat situasi dari sudut pandang diri sendiri, lihat dari sudut pandang orang lain. Lebih baik jika kita dapat memahami perilaku orang lain. Sekarang coba lihat dari sudut pandang netral, tak memihak. Selayaknya sudut pandang seorang bijak, jangan mencampurkan emosi pribadi.


Penutup

Mengutip seorang filsuf sekaligus psikolog, William James, “penemuan terbesar generasiku adalah pengetahuan bahwa manusia bisa mengubahnya denga cara mengubah cara berfikir”. Dengan kata lain, mental lockdown dapat dilawan dengan mengelola cara berfikir (persepsi) kita. Seneca, seorang filsuf Stoic pernah bilang,”Tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Pikiran kita harus menerawang ke depan untuk menghadapi segala persoalan, dan ita harus memikirkannya bukan yang tidak terjadi, tapi apa yang terjadi.


Jangan sampai persepsi negatif mendahulu takdir. Karena itu dosa!***[]

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...
EmoticonEmoticon