Stoik dan Jalan Filsafat Meraih Kebahagiaan


[www.abahraka.com] Seorang artis Prilly Latuconsina dalam suatu podcast mengatakan, jika kekayaan (uang) bisa membeli kebahagiaan. Begitu juga selebgram Gita Savitri secara implisit mengungkapkan soal kebahagiaan itu melalui kondisi fisik yang awet muda dengan cara tidak punya anak, childfree. Seorang psikolog beraliran transpersonal, Danah Zohar dan Ian Marshal, dalam bukunya Spritual Quotient (2001), menyatakan bahwa kebahagiaan itu bisa diraih manusia dengan cara memberikan rangsangan elektromagnetik terhadap syaraf-syaraf otak. Pilihan Prilly, Gitasav, ataupun Danah Zohar dan Ian Marshal tidak salah. Karena itu menjadi pilihan mereka.

Tapi cara mereka meraih kebahagiaan terlalu mahal. Jika bukan artis seperti Prilly, tidak bisa mendapatkan banyak uang, menikah tapi memilih tidak memiliki anak seperti Gitasav bertolak belakang dengan pakem agama, begitu juga alat-alat untuk menstimulasi bagian otak yang digunakan Ian Marshall dan Danah Zohar, agar mendapatkan kebahagiaan, di Indonesia tidaklah umum dan jikapun ada teknologinya akan sangat mahal. Jadi semua itu bukan pilihan orang-orang biasa seperti saya.  Di samping itu, bukan soal mahal dan melawan pakem, kebahagiaan yang mereka pilih juga terlalu materialistis, menekankan semua pada sesuatu yang fisik. Sehingga kebahagiaanya cenderung semu.

Menurut pakar Komunikasi, Jalaluddin Rakhmat, Kebahagiaan dikaitkan dengan kondisi psikologi seseorang. Dalam buku Meraih Kebahagiaan, Rakhmat (2004) menyatakan bahwa kebahagiaan sebagian besar berasal dari psikologi. Namun demikian, dalam satu bab buku tersebut Rakhmat mendefinisikan kebahagiaan yang bersumber dari Aristoteles. Tampak bahwa kebahagiaan memiliki relasi yang kuat dengan filsafat karena menjadi kajian dari para filsuf tersebut. Hal ini bukan karena secara epistemologis, Psikologi dilahirkan dari Filsafat Kejiwaan, tapi seperti ditelusuri oleh Jules Evans (2012) dalam buku Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya salah satu teknik terapi kejiwaan (psikoterapi) adalah melalui Cognitive Behavioral Therapy yang mengandalkan pada pola pikir penyintas.

Hal inilah yang dilakukan oleh Henry Manampiring dalam Filosofi Teras (2019) yang  membagikan pengalamannya, menghadapi tekanan-tekanan hidup dapat dikelola dengan mengelola pikiran. Semua dilakukan tanpa modal dan tanpa melawan tradisi. Henry yang divonis mengalami mayor depressive disorder. Ia menemukan jalan penyembuhannya melalui Filsafat Stoik.

Filsafat Stoik sendiri adalah salah satu aliran filsafat Yunani yang menjadikan filsafat sebagai laku hidup, bukan sebagai kemewahan argumen, bukan juga sebagai kelihaian bersilat lidah seperti kaum Sofis. Sebagaimana ditulis oleh Wibowo dalam Ataraxia (2019) Filosofi Teras bukan sekedar uraian atau wacana teoritis mengenai kodrat dunia, manusia atau teori tentang kebenaran. Stoikisme adalah sebuah laku hidup. Oleh karena itu, wajar jika Stoikisme adalah corak filsafat yang bersifat praktis. Bagi kaum Stoik, emosi kasar adalah hasil dari cara berpikir yang salah. Hal ini menjadi pengalaman berharga bagi Manampiring yang selalu berpikir negatif hingga menjadikannya depresi. Pikiran buruk, cemas, rasa tidak semangat menjalani hidup akhirnya mendorong dia menjalani terapi dengan psikiater.

Buku Filosofi Teras ditulis oleh Henry Manampiring, seorang praktisi periklanan di perusahaan multinasional bersama Levina Lesmana, seorang illustrator. Buku ini dutulis dengan gaya naratif popular, bercerita sambil mengembara ke alam filsafat Yunani. Berbagi pengalaman sambil menguatkan pengalamannya dengan pengalaman filsuf Stoik. Gaya bahasanya yang naratif, campuran antara Bahasa prokem (nonformal) dengan beragam kutipan dengan penggunaan bahasa baku menjadikan bahasan filsafat mudah dipahami dan tidak membuat otak panas atau ngilu. Hal ini menjadi nilai lebih dari buku tersebut. Jika dibandingkan dengan buku-buku bercorak filsafat, rata-rata disajikan dengan judul dan Bahasa yang serius dan akademis. Buku ini disajikan melalui pendekatan popular.

Pengantar Filosofi Teras ditulis oleh seorang akademisi Filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, A. Setyo Wibowo, yang melegitimasi buku Filsafat-Psikologis ini sebagai buku Filsafat.  Legitimasi tersebut cukup berhasil, karena tahun kedua buku tersebut dinobatkan sebagai Book of The Year oleh Ikata Penerbit Indonesia. Pada saat saya membeli buku tersebut tahun 2020 sudah memasuki cetakan ketigabelas, dan pada 2021 masuk cetakan keduapuluhlima. Tentu saja, di tengah tekanan hidup yang semakin tinggi, setiap orang butuh menemukan jalan keluarnya. Buku Filosofi Teras bisa menjadi penerang untuk menemukan jalannya, walaupun bukan panasea.

Filosofi Teras ditulis dalam dua belas bab, dengan pengantar penulis yang sangat meyakinkan pembaca. Bagaimana jalan stoik bisa menjadi obat jika dijalankan dengan persisten. Pada beberapa babnya, yaitu 1,5,6,7, dan 9 dilengkapi dengan interview dari ahli, psikologi dan psikoterasi serta pelaku stoik. Sehingga membuat buku ini menjadi berbobot, bukan hanya mencoba melakukan legitimasi saja sebagai buku filsafat. Melalui kata pengantar seorang akademisi filsafat, buku ini kelihatan sah sebagai buku filsafat, melalui interview dengan psikolog dan psikoterapis buku ini seperti padu sebagai filsafat praksis, dan melalui interview dengan pelaku buku ini seperti padan sebagai filsafat praktis dalam laku hidup sebagaimana menjadi jargon bagi Filsuf Stoik. Marcus Aurelius, seorang Kaisar yang menjalankan hidup Stoik, dalam catatannya tentang Meditation pernah berujar,”Dari Ibuku, aku belajar tentang perbuatan baik, berpantang dari perbuatan dan pikiran jahat, serta ksederhanaan dalam hidup” (Meditation, 2021).

Buku ini tidak hanya sekadar bertamasya ke masa lalu, sebagaimana yang dialami oleh tokoh-tokoh stoik seperti Seneca, Epictetus, Zeno, Cato, Chryssipus, atau Marcus Aurelius. Buku ini juga mengembara ke alam pikiran modern, bagaimana pentingnya manusia berpikir positif agar manusia tidak terjebak pada emosi negatif. Karena sejatinya, seperti ditulis Henry, semua emosi dipicu oleh penilaian, opini, dan persepsi kita. Keduanya saling terkait, dan jika ada emosi negative, sumbernya adalah nalar. Oleh karena itulah, sepertinya Henry Manampiring ingin menegaskan melalui beberapa pernyataan, akan pentingnya mengelola pikiran. Salah satu dalam cara mengelola pikiran adalah jangan membiarkan interpretasi otomatis dari suatu peristiwa yang kita alami. Ia mencontohkan, saat terjebak kemacetan, maka waktu terbuang sia-sia, sehingga muncul perasaan marah, kesal atau frustasi. Padahal, pikiran kita bisa Kelola. Jika terjadi macet, maka ada kesempatan untuk membaca buku dan kesempatan belajar lainnya sehingga memunculkan perasaan tenang dan bisa terinspirasi dari bacaan (Manampiring, 96).

Sayangnya interview dengan psikolog dan psikoterapi cukup mengganggu akan legitimasi kefilsafatan buku Filosofi Teras, sehingga buku ini yang bergenre filsafat tertarik jauh ke dalam genre psikologi. Penulis tidak salah, hanya saja jika kehadiran psikolog dan psikoterapi dilengkapi dengan interview dengan filsuf, legitimasi kefilsafatan Filosofi Teras tetap utuh. Ini barangkali yang menjadi kekurangan buku ini yang mengklaim dirinya sebagai buku filsafat.

Pada sisi lain, buku ini dalam perspektif penimbang tidak mengajak pembaca untuk merenungkan hidup ini, tidak membuat pembaca berpikir, tapi lebih banyak menyajikan cara. Padahal seharusnya, menurut penimbang, dasarnya filsafat mendorong pembacanya untuk melakukan perenungan-perenungan tentang hidup. Mendorong pembacanya untuk gelisah terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi.

Buku ini lebih banyak bercerita tentang pengelolaan pikiran dapat menghindari persoalan-persoalan yang hidup. Sehingga, buku ini lebih cocok sebagai buku psikologi praktis, sebagaimana yang menjadi salah satu cara dalam melakukan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang memberikan panduan dan jalan untuk pembaca untuk mengatasi persoalan hidup dan mengejar kebahagiaan melalui cara yang dilakukan oleh kaum Stoik. Beragam kutipan dari para filsuf merupakan salah satu jalan penyembuhan mental dengan cara melakukan pengelolaan pikiran. Walaupun begitu banyak subbab dan paragraf awal diawali dengan suatu pertanyaan, namun bukan pertanyaan untuk mengajak pembaca merenungkan hidup ini, tapi sebagai pertanyaan untuk menemukan cara menghadapi persoalan hidup melalui pengelolaan pikiran. Merenung dan menemukan persoalan adalah dua hal yang berbeda. Merenung adalah cara mencari jalan secara mandiri. Sedangkan menemukan lebih praktis karena terdapat panduan di dalamnya.

Terlepas dari pandangan penimbang akan kekurangan, buku ini tetap sangat layak dijadikan pegangan bagi siapa saja yang menginginkan hidup ini enteng, menerima berbagai cobaan sebagai sesuatu yang alamiah, dan bagi mereka yang ingin menemukan kebahagiaan. Karena dengan pengeloaan pikiran ala kaum Stoik, seperti yang dikatakan oleh Seneca ia akan mampu menemukan kebahagiaannya sendiri, dan tidak menginginkan sukacita yang lebih dari pada sukacita yang datang dari dalam (Manampiring, 2019:27).

Bagi pembelajar pemula filsafat, buku ini cukup renyah dibaca, setiap percikan pemikiran yang njelimet selalu dilengkapi dengan contoh praktis. Bagi pembelajar hidup, buku ini akan sangat membantu menghadapi persoalan hidup dan menemukan kebahagiaan melalui jalan terjal tersebut melalui percikan pikiran ala Stoik, sebagai suatu seni jalan hidup. Selamat datang di dunia Stoik, Selamat membaca!***[]

 

abahraka
abahraka abahraka adalah nama pena (media sosial) dari Dudi Rustandi: penulis kolom opini, essai, perjalanan, dan buku.

Post a Comment for "Stoik dan Jalan Filsafat Meraih Kebahagiaan"