Showing posts with label Komunikasi. Show all posts
Showing posts with label Komunikasi. Show all posts

15.5.20

Mengelola Persepsi Masa Pandemi

Pertanyaan pendahuluan

Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi
Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi/ Persepsi dan Emosi
Ada yang sering baca tentang isu Covid19? Ada yang sering nonton Bagaimana perkembangan Corona dan kapan berakhirnya? Atau ada yang kebangetan menerima pesan berantai tentang berbagai hal terkait dengan pandemi ini?

Ada yang cemas? Ada yang waswas atau merasa mandesu dengan beragam informasi dan pemberitaan menyangkut Covid19?

Tidak sedikit yang cemas, waswas, bahkan masa depannya telah terrenggut oleh keadaan ini. Seseorang berkomentar dalam grup WhatsApp,”Kok jadi ngeri begini ya”. Seseorang bertanya, ini kejadian bener, dimana? Seseorang lagi tanpa memberi jawaban terus menyebarkan informasi, yang, sekali lagi, entah benar atau tidak, entar faktual atau tidak.

Namun yang perlu digarisbawahi di sini, dari pertanyaan dan paragraf di atas adalah, seperti dikatakan oleh Epictetus, seorang filsuf Stoa,”Some things are up to us, some things are not up to us”.

Epictetus bilang, ada hal yang di bawah kendali kita, ada hal yang tidak di bawah kendali kita. Untuk yang di luar kendali kita, serahkan kepada yang mengendalikan kita. Kita punya Tuhan, punya Allah. Doakan mereka yang sering menyebarkan berita yang mencemaskan agar sadar dengan kenarsisan berbagi kecemasan dan ketakutan.

Hidup dengan Tirani Opini Orang Lain

Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi
Pengelolaan Persepsi Masa Pandemi/ Tirani Opini
Nah, yang bisa kita kendalikan menjadi bagian yang bisa kita kelola sendiri. Jangan sampai kejadian atau informasi apapun yang masuk dari luar membuat kita cemas, khawatir, tertekan, atau justeru sudah masuk pada fase stress. Karena ini semua adalah sesuatu yang dikatakan oleh epictetus,”some things are up to us,”  sesuatu di bawah kendali kita.

Namun, di antara yang di bawah kendali dan di luar kendali, ada di antaranya sebagian kita kendalikan. Nah, contoh pasnya adalah Kuliah Online! Kuliah online tidak bisa dimasukkan ke dalam di bawah kendali kita, karena diselenggarakan oleh institusi dengan beranekaragam pelengkapnya; jadwal, dosen beserta moodnya, mata kuliah, ujian-ujian, data, kecepatan akses, keluasan server. Jika kuota tidak ada, kita tidak bisa mengubah jadwal sesuai dengan keinginan kita. Jika akses internet lambat kita juga tidak bisa mengubah akses dari 10 mbps menjadi 100 mbps.

Maka di antara itu ada bagian yang bisa kita kendalikan, yaitu internal goal kita terhadap kuliah online itu apa. Paham materi? Keterampilan? Nah itu semua berada dalam ruang kendali kita. Kita bisa memaksimalkan kemampuan kita untuk belajar. Sehingga walaupun kita tidak bisa mengubah mood dosen, kita bisa memberikan yang terbaik untuk ujiannya. Jadi jika kita tidak bisa mengikuti kuliah online karena kehabisan kuota, kita bisa konfirmasi dosen setelah ada kuota. Tidak harus menyalahkan jadwal dan keadaan yang memang di luar kendali.

Namun mengendalikan persepsi, seringnya sulit. Misalnya; Memilih tempat kuliah. Kalo aku kuliah di kampus ini, nanti teman-teman bilang, kampus apaan tuh?... Memilih pekerjaan, apaan kerjaannya Cuma posting-posting quote di medsos, emang gak ada pekerjaan lain yang lebih oke gitu?...atau Memilih pacar. Anjir pacarnya jauh banget sama doski yang blink-blink...,

Yakin, jika hidup di bawah pendapat orang lain kita akan bahagia? Tanya epictetus. Jangan sampai sebab corona, Coronanya baik-baik saja, karena persepsi dikendalikan opini orang, jadinya bunuh diri seperti menteri di salah satu negara Eropa. Jangan sampai Tirani opini orang lain mengatur hidup kita!

Mengelola Persepsi

Peristiwa seringkali mengendalikan persepsi. Tidak bisa kuliah online gara-gara kuota, persepsi kita langsung menjustifikasi, bahwa nilai kita akan turun. Tetangga kena corona, kita langsung menjustifikasi keadaan sudah sangat bahaya. Peristiwa dan informasi-informasi yang masuk ke dalam memori kita akan kita kelola menjadi persepsi. Persepsi ini dalam sistem syaraf kita terhubung dengan jajaring saraf emosi.

Suatu waktu, seseorang marah di hadapan saya. Sikap saya dingin, walaupun kaget karena marahnya tiba-tiba. Karena, saya mempersepsi marahnya bukan kepada saya. Jikapun kepada saya, saya bertanya kepada diri sendiri, kesalahan besar apa yang telah saya perbuat? Marahnya seseorang tidak bisa kita kendalikan, tapi kita bisa mengendalikan persepsi kita agar kita tidak tersulut emosi atau melakukan hal yang sama untuk marah. Karena kalau kita balik marah, sama artinya kemarahan kita dikendalikan oleh kemarahan orang lain. 


Konteks komunikasi, marah, cemas, khawatir atau sebaliknya, karena seseorang tidak cermat atau kurang tepat dalam mengelola informasi yang masuk ke dalam memori. Maka peristiwa/ informasi yang tidak tepat pengelolaan persepsinya akan berdampak terhadap kemunculan emosi negatif tersebut.


Bagi seorang motivar NLP, Ibrahim Elfikri, persepsi bisa membuat orang tertawa tapi bisa membuat sebagian orang menderita. Bisa membuat seseorang peduli bisa membuat seseorang angkuh. Bisa membuat seseorang memiliki sikap positif atau sebaliknya menjadi penyebab emosi negatif pada diri seseorang. Pilih mana?


Bisa jadi seperti yang ditulis oleh filsuf lain, bahwa pengolahan informasi itu sesuai dengan referensi dan pengalaman kita. Oleh karena itu, merujuk pada konsep literasi, barengi dengan kroscek dan keseimbangan informasi lain.


Nah oleh karena itu, untuk mencegah mental lockdown. Saya lebih fokus pada bagaimana mengelola persepsi kita terhadap peristiwa-peristiwa sekeliling kita. Dengan lockdown seperti sekarang, mental juga jangan ikut-ikutan lockdown juga; menjadi pemurung, penyendiri di kamar. Karena persepsi kita selain menjadi sumber lockdown mental juga menjadi sumber kekuatan untuk menciptakan kebahagiaan kita sendiri.


Selama lockdown, saya melihat ternyata banyak teman-teman saya yang memaksimalkan hobby dan potensinya; ada yang mendalami desain grafis, ada yang cover-cover lagu, ada yang bikin lagu juga. Dan itu sangat positif. Saya sendiri selama lockdown, bisa lebih mendekatkan diri dengan anak; mulai dari sholat berjamaah, mengajar ngaji. Mulai berkebun lagi. Tulisan yang tertunda bisa saya selesaikan; ngeblog lagi; menulis jurnal, termasuk juga belajar lagi bikin blog dan SEO. Jadi selama lockdown justeru bisa memaksimalkan pekerjaan dan hobby yang tertunda. Seakan tidak ada habis-habisnya sehingga tidak sempat untuk mencemaskan ‘duh bagaimana coron sudah sampai tetangga’ dengan tetap waspada.


Persepsi seringkali datang dari interpretasi yang terjadi secara otomatis. Karena kita sendiri termasuk ke dalam orang yang reaksioner. Jika ada orang yang pake baju koko dan peci kita langsung menginterpretasikan bahwa orang tersebut soleh. Jika ada yang pakai tatto kita mengintepretasian sebagai kriminal. Otomatis persesinya juga demikian. Ada aksi ada reaksi. Kita juga seringkali bereaksi otomatis saat dikecewakan oleh orang lain atau keadaan; macet, putus dari pacar, kehilangan dompet, kuota data habis, dan lainnya.


Nah, bagaimana agar tidak terjadi otomatisasi interpretasi, apalagi kita punya pengalaman sesuai dengan yang kita interpretasikan?


Kata seorang filsuf Stoa, Marcus Aurelius, gunakan interpretasi aktif. Stop interpretasi masuk ke dalam emosi. Caranya? Luangkan sedikit waktu untuk berfikir. Sebelum interpretasi itu dilakukan. Misalnya, apa yang bisa saya lakukan saat kuota habis dan tidak bisa ikut kulon (kuliah online)? Dari pertanyaan ini, kita bisa jawab sendiri dan bisa jadi banyak pilihan yang bisa kita lakukan. Sehingga tidak bete atau justeru cemas karena takut dosen marah atau memberikan nilai kecil. Bisa belajar dengan materi yang sama, bisa bantu orang tua yang memang sejak awal sudah minta tolong, atau bisa melanjutkan hobi.


Manampiring dalam Filosofi Teras (2019) memberikan panduan yang disingkatnya dengan STAR (Stop, Think & Asses, Respond). Berhenti melakukan apapun termasuk berbicara saat emosi mulai menguasai jiwa, jangan sampai larut ke dalam perasaan.  Setelah berhenti, Pikirkan dan nilai. Kita bisa aktif berfikir atau memaksakan diri untuk berfikir secara rasional tentang peristiwa atau keadaan sehingga bisa mengalihkan dari kebablasan emosi negatif. Kemudian nilai, apakah emosi tadi yang muncul bisa dibenarkan, memberikan dampak positif atau negatif? Apakah kita sudah memisahkan fakta dengan interpretasi subjektif? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menghilangkan emosi berlebih tentang suatu peristiwa. Terakhir, respon. Setelah  menggunakan nalar untuk mengendalikan emosi, kita berfikir respon apa yang tepat untuk merespon keadaan atau peristiwa tersebut.


Sementara tawaran dari Ibrahim Elfikri dengan melakukan senam mental, yaitu suatu metode melakukan perlawanan terhadap persepsi negatif. Senam mental dilakukan sebagai berikut: Lihat situasi dari sudut pandang diri sendiri, lihat dari sudut pandang orang lain. Lebih baik jika kita dapat memahami perilaku orang lain. Sekarang coba lihat dari sudut pandang netral, tak memihak. Selayaknya sudut pandang seorang bijak, jangan mencampurkan emosi pribadi.


Penutup

Mengutip seorang filsuf sekaligus psikolog, William James, “penemuan terbesar generasiku adalah pengetahuan bahwa manusia bisa mengubahnya denga cara mengubah cara berfikir”. Dengan kata lain, mental lockdown dapat dilawan dengan mengelola cara berfikir (persepsi) kita. Seneca, seorang filsuf Stoic pernah bilang,”Tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Pikiran kita harus menerawang ke depan untuk menghadapi segala persoalan, dan ita harus memikirkannya bukan yang tidak terjadi, tapi apa yang terjadi.


Jangan sampai persepsi negatif mendahulu takdir. Karena itu dosa!***[]

Read More

13.12.18

Memilih Wakil Rakyat

Pikiran Rakyat Edisi Kamis 13 Desember 2018
Beranda media sosial kini dipenuhi dengan pajangan gambar calon anggota legislatif (caleg) untuk pemilu 2019. Baik yang dikenal secara aktual atau hanya sekedar koneksi media sosial. Jika dihitung, bisa mencapai puluhan atau justeru ratusan teman mencalonkan diri, dari mulai tingkat kota/kabupaten, provinsi, hingga pusat. Semuanya memajang gambar diri dan nomor pencoblosan.
Jalan protokol hingga jalan desa juga penuh dengan spanduk, baligo, dan banner kampanye. Dari warna merah, kuning, hijau, persis lagu balonku yang warnanya melebihi 5. Gambar-gambar tersebut tampak wajar, karena telah memasuki masa kampanye. Hanya saja, sebagai calon pemilih, saya bingung, harus memilih yang mana dan untuk alasan apa mencoblosnya.

Alasan yang dimaksud misalnya, karena caleg memperjuangkan nilai-nilai yang selama ini melekat dengan kehidupan masyarakat. Ia berjasa besar dalam memperjuangkan hak hidup masyarakat.  Pejuang buruh misalnya seperti Said Iqbal. Ia konsisten memperjuangkan hak-hak dan kelayakan upah buruh. Jika ia maju menjadi caleg, sebagian besar buruh sudah sangat mengenalnya, baik di Jakarta ataupun daerahnya. Hal serupa juga dilakukan oleh Rikeu Diah Pitaloka secara konsisten memperjuangkan hak buruh khususnya perempuan.

Perspektif komunikasi pemasaran, apa yang diperjuangkan Said Iqbal atau Rike Diah Pitaloka menjadi pembeda sehingga calon pemilih dengan cepat mengenalnya. Kedua tokoh tersebut bukan hanya soal public figur (guru dan artis) akan tetapi mereka concern dalam bidangnya dan konsisten memperjuangkan hak masyarakat khususnya kaum buruh.
Contoh lain adalah Fahri Hamzah dan Fadhli Zon, konstituen akan cepat mengenalnya karena sedari awal konsisten menjadi pengkritik pemerintah (oposan). Pendukungnya akan memandang apa yang dilakukan oleh mereka adalah bentuk memperjuangkan nilai dan hak masyarakat, karena kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat selalu dikritik oleh kedua selebriti politik tersebut.

Pembeda bukan Slogan
Pembeda atau differensiasi menghasilkan positioning seseorang di antara banyak calon legislatif. Apa yang saya saksikan dan cermati, baik di media sosial ataupun di sepanjang jalan-jalan kota dan kabupaten, para calon wakil rakyat tersebut belum menawarkan nilai satupun yang mereka perjuangkan, sehingga menjadi pembeda dan memberikan positioning. Sehingga masyarakat sulit membedakan. Kesulitan ini menjadi faktor lain, yaitu sulit mengenalnya, terlebih sulit memosisikan sang calon dalam pikiran masyarakat.

Satu dua spanduk calon misalnya mengajak masyarakat untuk memberantas korupsi, seperti dilakukan oleh Giring ex Band Nidji yang mencalonkan diri jadi anggota DPR RI dapil Jabar 1. Hanya saja ajakannya tersebut terkesan hanya sebagai slogan. Karena selama ini, giring lebih dikenal sebagai artis penyanyi dibandingkan aktivis anti korupsi. Tidak ada track record yang menjelaskan bahwa ia adalah pejuang atau aktivis antikorupsi. Jika ajakan pemberantasan korupsi dilakukan oleh Febri Diansyah—Jubir KPK, masyarakat akan cepat mengenal dan membedakan dalam top of mind-nya karena track record-nya selama ini sebagai aktivis antikorupsi.

Perspektif marketing 3.0, seperti ditulis oleh pakar marketing dan branding Hermawan Kertajaya, pembeda harus didefinisikan sebagai  segitiga dari merek, positioning, dan differensiasi. Ia menghasilkan brand identity, brand integrity, dan brand image.

Jika wakil rakyat adalah merek, maka harus terintegrasi dalam dirinya sisi identitas dan integritas yang menghasilkan citra diri. Dalam konteks ini, citra merek berbeda dengan pencitraan, karena citra merek harus didorong dari identitas otentik dan integritas yang lahir dari pengakuan masyarakat karena manfaat dan maslahat programnya telah dirasakan masyarakat seperti dilakukan oleh Moh. Surya untuk guru dan dosen atau Rikeu Diah Pitaloka untuk kaum buruh.

Ia adalah bukti kuat bahwa dirinya menyampaikan dan telah membuktikan kinerjanya sebagai (calon) wakil rakyat. Pada posisi ini calon wakil rakyat telah memenuhi janjinya, bukan saat ia sudah terpilih saja namun saat itu belum terpilih. Pada saat ini wakil rakyat telah menciptakan kepercayaannya terhadap calon konstituennya. Ia setengahnya telah mengambil hati masyarakat.

Menentukan Pilihan
Jika calon wakil rakyat telah memenangkan setengahnya hati masyarakat, karena memiliki bukti dan kepercayaan. Bagaimana menentukan setengah nilai yang harus dipenuhi? Maka masyarakat dituntut untuk jeli agar tidak salah pilih untuk menentukan 5 tahun dirinya diwakili di Gedung Dewan. Agar kepentingan-kepentingannya dapat diperjuangkan oleh wakil kita.

Hasil pendampingan Silih Agung (2018) selama 18 tahun terhadap pesohor negeri dapat dijadikan rujukan. Ia menghasilkan satu thesis tentang citra yang dihasilkan dari identitas dan integritas. Melalui Code Personal Branding, Silih memberikan catatan setidaknya ada 5 elemen yang menghasilkan siklus untuk mengukur reputasi calon wakil rakyat; competency, connectivity, creativity, compliance, dan contribution.

Pertama, Kompetensi menjadi kunci untuk menggenapkan differensiasi. Kompetensi menjadikan wakil rakyat bukan hanya memiliki sumbangsih yang nyata dan bermanfaat bagi masyarakat. Namun juga ahli dan memiliki kemampuan dalam melakukan pengelolaan diri dan lingkungannya. Ia tidak hanya cakap mengambil hati masyarakat. Ia juga cakap memberikan solusi bagi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

Kedua, connectivity yaitu sejauh mana calon wakil rakyat terhubung dengan konstituennya. Bukan hanya terhubung secara virtual melalui perantara beragam atribut seperti banner atau spanduk. Tapi terhubung secara aktual; face to face. Konektivitas yang dibangun calon tidak hanya melalui media perantara. Seorang calon harus mau dan rela mendengarkan semua keluh kesah dan kepentingan konstituennya.

Ketiga, creativity. Seorang calon harus mampu memberikan dinamika berkehidupan terhadap warganya. Sehingga warganya terhindar dari kejenuhan. Oleh karena itu, program-programnya harus dinamis. Buka bazar murah memang disukai oleh masyarakat, akan tetapi jika stop sampai di sini, tidak menyelesaikan persoalan masyarakat dalam jangka panjang. Oleh karena itu memilih wakil rakyat harus yang benar-benar memiliki dinamisasi dalam memberikan program kepada masyarakat.
Keempat, compliance. Merupakan nilai-nilai etis yang harus dimiliki oleh seorang caleg. Calon pemilih harus memastikan bahwa caleg memiliki rekam jejak yang baik. Nilai-nilai etis ini baik yang melekat pada dirinya ataupun yang telah diejawantahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Mengukur elemen ini cukup mudah, misalnya apakah seorang caleg bertutur kata baik? Apakah juga seorang caleg memiliki perilaku baik? Tidak pernah mengeluarkan pernyataan kotroversial atau berperilaku yang bertentangan dengan nilai konvesional, baik yang berasal dari agama atau norma masyarakat. Nilai-nilai etis tersebut juga terpublikasikan secara wajar, bukan sebagai taktik propaganda.

Kelima, Kontribusi. Caleg harus menjadi problem solver bagi persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Hal ini tentu paling terasa baik secara pragmatis ataupun normatif. Caleg harus menjadi tempat pakukumaha bagi konstituennya dalam semua aspek kehidupan. Ibarat orang tua, ia harus mampu berfikir kreatif dan juga memberikan solusi praktis.

Kelima elemen di atas dapat dijadikan sebagai pertimbangan saat akan menentukan pilihan. Memang manusia tidak ada yang sempurna, namun paling tidak mendekati beberapa elemen. Dan pertimbangan yang paling bijak adalah mendekati paling banyak dari limat elemen tersebut. Semoga waktu 4 bulan menuju pemilihan dapat menjadi waktu yang cukup untuk melihat, memahami, menimbang, dan memutuskan siapa caleg yang akan membawa kita, masyararakat menuju masyarakat yang sejahtera lahir batin. Wallahu ‘alam.

Tulisan dimuat Pikiran Rakyat edisi Kamis, 13-12-2018 
Read More

6.11.18

Pemuda Era 4.0

Sumber: Pikiran Rakyat:
Penulisan artikel ini, bertepatan dengan hari sumpah pemuda 28 Oktober 2018. Saya membaca profil yang dipublikasikan Pikiran Rakyat pada hari yang sama (minggu, 28/10/2018), yaitu sosok ketua KNPI Jawa Barat Rio F. Wilantara. Rio menjabat ketua KNPI kurang lebih sudah satu tahun, yang dilantik tahun 2017.

Membaca biodatanya, jika diibaratkan makanan, taste-nya sangat berbeda dengan sosok Ketua KNPI sebelum-sebelumnya. Sosok Rio adalah sosok yang mewakili generasi millenial, selain karena umurnya yang betul-betul masih muda (32), latar belakang pendidikan dan aktivitas sehari-harinya selalu berarsiran dengan dunia teknologi yang millenial banget. Usaha dalam bidang teknologi, dan dua kali kuliah doktor salah satunya dalam bidang media studies—yang tentu arsirannya sangat kuat dengan teknologi.

Membaca visi sosok ini seakan menemukan danau yang airnya jernih dan bersih—sebagai sumber kehidupan masyarakat. Betapa tidak, Rio ingin membawa sekitar 13 ribu personil strutural pemuda ke arah kemandirian bukan yang menggantungkan hidupnya dari APBD. Ia ingin pemuda menjadi lokomotif wirausaha sebagaimana yang telah menjadi program pemerintah Jawa Barat. Ia tidak ingin pemuda terbawa arus ke ranah politik praktis sebagaimana yang ia rasakan selama aktif di organisasi kepemudaan tersebut.

Pada sisi lain banyak permasalahan yang dihadapi pemuda. Menurut data yang dikeluarkan oleh Merial Institute, sebuah lembaga  penelitian dan pembedayaan pemuda, pada tahun 2017 secara demografi pemuda bertambah namun pengangguran bertambah juga. Penyalahgunaan narkoba juga menjadi persoalan tersendiri yang merusak masa depan pemuda Indonesia. Hal yang cukup krusial, dengan meningkatkan jumlah pemuda ternyata tidak menambah mental kebangsaan meningkat justeru dipertanyakan (nasionalisme).

Beberapa kasus juga yang menjadi pelakunya adalah notabede menyandang status pemuda, misalnya MA seorang anak muda yang membuat grafis tidak senonoh tentang presiden Jokowi, atau pembakaran bendera tauhid oleh kelompok pemuda dari ormas kepemudaan. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan belahan bumi lain, seperti yang cukup menghebohkan sekelompok muda-mudi merayakan ajaran satanisme dan menjadikan lima belas orang sebagai target untuk dibunuh sebagai bahan pemujaan.

Marwah Gen Millenial
Pemuda Gen Millenial,  merujuk pada hasil penelitian Don Tapscot (2009) adalah generasi yang lahir pada rentang 1977-1997, atau 19980-1995 seperti ditulis oleh David Stillman dan Jonah Stillman. Terlepas rentang waktu tersebut, kedua pendapat tersebut memasukkan bahwa pemuda yang lahir pada tahun 80-an adalah generasi yang ketika sudah baligh telah bersentuhan dengan dunia digital. Bagi Tapscot, mereka adalah generasi internet atau gen y atau gen millenial.

Bagi gen millenial, teknologi tidak berbeda dengan udara, yang menjadi nafas kehidupan mereka. Hal ini masuk akal karena generasi millenial dan teknologi internet tumbuh bersama-sama. Mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan aplikasi dibandingkan menonton televisi. Mereka juga lebih peka terhadap isu-isu global tanpa melupakan isu-isu lokal. Hal ini menjadi antitesis dari generasi sebelumnya yang cenderung lebih peka dengan isu-isu global sedangkan isu lokal terlupakan.

Untuk memahami generasi ini, ada beberapa ciri yang dominan dalam diri mereka, seperti ditulis Tapscot; kebebasan, kustomisasi, apresiasi, kolaborasi, kecepatan, dan inovator. Tidak lupa juga hiburan dan gaya hidup.

Generasi yang lahir bersamaan dengan kelahiran dan kemajuan teknologi internet ini merupakan generasi yang menginginkan kebebasan, tidak mau dikekang, akan tetapi kebebasan mereka jelas dan terarah. Sehingga melahirkan inovasi melalui kolaborasi. Apa yang terjadi pada Go-Jek dan pendirinya mewakili ruh gen millenial. Perusahaannya begitu cepat melaju hingga menjadi satu-satunya perusahaan yang pertama memperoleh deviden satu trilyun. Kemajuan ini tidak didapatkan dengan berdiam diri di depan layar komputer, akan tetapi hasil kerja bareng dan negosiasi bisnis (kolaborasi dan relasi).

Apa yang dihasilkan oleh gen millenial merupakan produk inovatif yang belum pernah ada dan terpikirkan oleh generasi sebelumnya (Gen-X). Bahkan seringkali gen millenial tidak ingin produknya meniru dan sama dengan yang lain sehingga menghasilkan produk yang beda (kustom).

Pemuda 4.0; Internalisasi Marwah Gen Millenial
Bagaimanapun pemuda hari ini adalah gen millenial yang telah tumbuh dewasa. Benang merahnya adalah bahwa teknologi internet dan pemuda memiliki arsiran kebebasan sehingga mampu berkreasi dan melahirkan kustomisasi dan inovasi. Hanya sayang di balik kebebasan tersebut seringkali pemuda tidak mampu mengendalikan diri, sifat pendobraknya akhirnya menjadi kebablasan. Pengetahuannya belum melahirkan sikap bijak.

Melalui hari Sumpah Pemuda, meminjam istilah seorang pakar marketing, Hermawan Kertajaya, maka pemuda harus menjadi citizen 4.0. Citizen 4.0 adalah warga yang telah melalui 4 fase; fase pengetahuan, bisnis, pelayanan dan pengabdian. Fase pengetahuan dicirikan dengan keakrabannya dengan teknologi, bisnis dicirikan dengan kemandirian, pelayanan dicirikan dengan sikap bijak untuk menolong dan saling menghargai, dan fase pengabdian dicirikan berada di tengah-tengah masyarakat untuk melakukan perubahan. Perubahan bukan hanya ide, tapi juga contoh nyata—tut wuri handayani.

Melalui fase tersebut, pemuda era 4.0 mau tidak mau harus sadar sebagai manusia sejati yang memiliki akar religiusitas. Soal gaya hidup pemuda misalnya, yang di era media sosial dirayakan dengan narsisme melalui food, fashion, dan traveling, maka pemuda harus mempertimbangkan maslahat, mudarat, halal, dan haramnya. Ia tidak hanya sekedar gaya tapi juga memiliki nilai dan manfaat. Saat terjadi bencana seperti di Lombok dan Palu, religiusitas yang merupakan pengejawantahan dari fase pelayanan dan pengabdian, maka pemuda harus memiliki kepekaan. Ia harus mengambil peran dengan berada di tengah-tengah bencana seperti halnya dilakukan oleh selebgram Awkarin.

Jika merujuk pada prawacana di atas, maka pemuda di era 4.0 termasuk 13.000 pemuda yang berada di bawah nakhoda Rio, harus sudah memasuki fase pengabdian—ia tidak hanya berpengetahuan dan mandiri, tapi juga peka (melayani) dan menjadi lokomotif perubahan di tengah-tengah masyarakat. Pemuda di era 4.0 adalah manusia yang gaul sekaligus religius; Iman adalah panduan sikapnya, gaya adalah kendaraannya, dan teknologi adalah nafasnya. Ia gaul dan teknologis, mandiri, peka dan menjadi lokomotif perubahan.***[]

Read More

23.11.17

Pakem Konten Marketing Era IoT

Ojek pangkalan beringas, sopir taksi konvensional teriak. Sebagian perusahaan tempat mereka bekerja melakukan rasionalisasi, sebagian lagi tutup. Beberapa gerai ritel bangkrut. Terlepas karena bisnis modelnya yang tidak punya positioning dan diferensiasi sehingga orang lebih memilih produk sejenis dengan merek yang berbeda atau karena mereka tidak punya inovasi dalam bidang marketing, yang jelas faktanya mereka kini kalah berperang. Kios-kios di pusat grosiran juga pada tumbang tanpa diketahui penyebabnya.

Beberapa ahli berpendapat, karena daya beli yang menurun, hal ini berdasarkan analisis karena akselerasi ekonomi Indonesia cenderung melambat. Saya, tentu saja bukan ahli ekonomi atau pengamat ekonomi, sehingga hanya bisa mengatakan katanya, kata pengamat, kata berita, kata Koran, kata televisi, atau dengar-dengar info tetangga sebelah.

Tapi jika diperhatikan, kalau daya beli masyarakat yang menurun, kenapa setiap pagi, siang, malam atau jam dan hari selalu berseliweran orang bepergian dan melancong atau melakukan vacations ke tempat-tempat keren; entah domestic, regional, atau internasional. Jika pun daya beli masyarakat berkurang kenapa setiap weekend jalan – jalan di Bandung selalu padat, atau setidaknya jalan tol menuju Bandung bahkan padat cenderung macet. Begitu juga kendaraan yang menuju Garut dari arah Bandung atau tol juga sama padatnya. Bahkan saat saya pulang saat weekend, Jalan Cagak dan Lebak Jero seringkali macet.
Dalam catatan Rhenald Kasali, penilaian terhadap menurunnya daya beli masyarakat adalah pengamatan yang kurang tepat. Ada invisible hand. Daya beli beralih ke hal-hal yang tidak terlihat. Misalnya, agar bisa bepergian, maka belanja konsumsi dikurangi dialihkan untuk liburan setiap minggu atau bulannya. Agar tetap bisa tetap terhubung, orang menahan untuk membeli cemilan demi pulsa data. Begitupun yang tadinya belanja ke mall beralih belanja online baik melalui online mall atau online shop ke produsen secara langsung sehingga harga barang lebih murah.

Berbeda lagi pendapat dari Iwan Setiawan dan Yosanova Savitri dalam  Buku New Content Marketing, Gaya Baru Pemasaran Era Digital, menurutnya ara pergerakan marketing sekarang berubah, bukan lagi B2B tapi H2H. Conten harus diarahkan langsung untuk mengelus-elus konsumen. Conten marketing harus mampu menyentuh sisi terdalam dari manusianya. Persis seperti ditulisa dari Marketing 3.0. Pelanggan harus memiliki pengalaman dengan produk.

Dalam buku tipis namun padat berisi ini, Iwan dan Yosanova yang merupakan peneliti MarkPlus, menulis 3 garis besar dalam marketing; Why, What, dan How. Melalui bab ‘Why’, mereka menjelaskan kenapa content marketing harus berubah menjadi H2H bukan lagi B2B. Di era konektivitas, menurut penulis Marketing 3.0 tersebut semuanya serba paradox, walaupun setiap orang sudah sedemikian maju dengan teknologi, justeru content marketing tetap harus menyentuh aspek manusianya. Karena bagaimana pun pengguna teknologi adalah manusia.

Untuk menggerakkan konten tersebut ada tiga actor utama yang bermain; pertama anak muda, wanita, dan netizen. Jika diperhatikan, memang anak muda atau pemuda jaman now ini menjadi trend setter dalam bisnis. Generasi Y dan Z hampir bisa dipastikan menjadi pengisi utama baik konsumen dan produsen di dunia maya. Mereka menjadi factor dinamisator perubahan era Internet of things (IoT).

Unsur kedua yang menjadi actor utama di erah IoT ini adalah wanita. Ada satu adagium yang nyeleneh di era internet; the power of emak-emak. Kekuatan kaum wanita betul-betul telah meramaikan jagat internet. Wajar, mereka menjadi satu kekuatan khusus yang menggerakan hilir mudik barang atau konten karena mereka adalah makhluk yang paling aktif, kids jaman old bilang, mereka mulutnya dua. Sekarang ditambah lagi jempol, kedua mulutnya pindah ke jempol, wajarlah. Dengan kesenangan mereka bercerita dan berbagi menjadi satu daya tawar khusus eksistensi perempuan di internet.

Dan ketiga, factor dinamisator marketing di era IoT adalah netizen. Netizen, menurut pandangan Iwan dan Yasanova lebih emosional  ketimbang citizen dalam membahas sesuatu. Lihat saja misalnya saat adanya isu-isu politik, sepertinya netizen yang meramaikan jagad nusantara ini. Mereka menjadi Heart of the World. Dan tentu saja tidak semua citizen bisa menjadi netizen karena sifatnya yang berbeda. Netizen sudah masuk kerangka globalisasi.

Dalam konteks What, Iwan menulis bahwa semua hal yang disediakan oleh marketing semua berasal dari konsumen dan untuk konsumen. Oleh karena itu, agar produk mengerti konsumen, maka produk harus menjadi sahabat konsumen. Jika produk mampu menjadi sahabat konsumen, bukan lagi product awareness yang terjadi, tapi procut advocates. Konsumen akan membela produk. Dan inilah nilai besar dari keberhasilan pemasaran.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan bagaimana menciptakan content marketing di era digital;

Langkah-langkah pembuatan konten marketing di era disruptif

Setelah memahami kenapa content marketing harus berubah dan apa yang harus dilakukan agar produk mampu dibela oleh konsumen. Bagian terakhir buku, menjelaskan bagaimana membuat konten yang mampu menciptakan nilai hingga muncul human interest. Dalam bab ini, Iwan banyak memberikan contoh bagaimana konten-konten era kini sudah sedemikian berubah sehingga mampu menciptakan nilai bagi konsumennya, bukan saja bagi corporate. Contohnya iklan Royco yang bergeser substansi iklannya dari produk oriented ke customer oriented.

Era IoT, ketika produk langsung berinteraksi langsung dengan konsumen, produk harus mampu menjadi bagian dari yang dimiliki atau yang dialami oleh konsumen, seperti iklan Astra Motor tentang keselamatan berkendaraan roda dua dengan judul Cerdas Melanggar. Iklan ini yang merupakan kampanye keselamatan mengajak masyarakat untuk aware terhadap keamanan berkendara. Dan banyak lagi contoh-contoh strategi marketing lainnya dalam buku tersebut.

Walaupun tipis, buku ini sangat padat. Istilah-istilah marketing akan dimudahkan dengan berbagai contoh konkret. Bagi pelaku pemasaran di internet atau yang bergelut dalam dunia marketing, buku ini akan memperkaya persfektif atau bahkan menggeser paradigma pemasaran yang selama ini menjadi pakem.

Nah, biar dapet ilmunya, mending baca aja bukunya ya J ***[]



Read More

30.3.16

Bahasa Iklan VS Bahasa Berita


Ada Air Got?
Populernya media sosial selain menjadi berkah bagi Social Media Enthusiast juga menjadi pintu bagi korporasi untuk melakukan penetrasi produk dengan cepat ke pasaran. Hari ini sepertinya, produk yang akan dilepas tidak bisa menghindar dari peran media sosial, bahkan bisa dibesarkan oleh media tersebut tanpa mengeluarkan biaya iklan sepeserpun. Misalnya di Bandung ada produk Mak Icih. Tanpa twitter sepertinya tidak mungkin produk Mak Icih akan menjadi produk yang populer dalam jangka waktu singkat. Hingga akhirnya strategi pemasaran dari produk anak Bandung ini menjadi bahan kajian akademik.

Beberapa tahun terakhir dengan penggunaan yang sangat meluas, hampir semua usaha, baik usaha mikro, kecil, menengah ataupun korporasi besar nasional dan multinasional menggunakan media sosial sebagai alat pemasaran dan publikasi. Bukan hanya usaha tetapi segala jenis aktifitas sosial juga sudah mulai menggunakan media sosial sebagai media publikasinya. Tidak ada pengecualian dunia pendidikan dan politik.

Kira-kira setahun yang lalu, seorang teman yang juga sedang membangun personal brand melalui media sosial menulis sebuah status dengan melalui pertanyaan perbedaan hardselling dan softselling itu apa sih?. Dalam dunia akademis bahasa ini bisa merujuk pada bahasa jurnalistik atau juga bisa public relations dan bahasa marketing.

Loh?

Memangnya apa perbedaan kedua bahasa tersebut?

Secara teknis gramatikal bisa jadi tidak memiliki perbedaan, karena menggunakan kaidah bahasa Indonesia. Hanya saja secara semantik, dampak penggunaan kedua bahasa ini memiliki efek yang berbeda. Termasuk juga dari tingkat keterpengaruhannya.

Dengan kata lain bahasa Jurnalistik saya istilahkan dengan bahasa berita atau dikenal oleh orang marketing sebagai softselling sedangkan bahasa marketing atau bisa juga bahasa iklan yang disebut sebagai hardselling oleh orang marketing saya istilahkan dengan bahasa jualan agar lebih merakyat (setuju? hehe).

Menurut beberapa kajian dan penelitian, tingkat magnitude dan influence kedua bahasa ini memiliki dampak yang berbeda bahkan cenderung jomplang. Misalnya, iklan dengan bahasa jualannya walaupun memakan biaya puluhan atau ratusan juta dalam setiap bulannya hanya berdampak 6 % saja dalam membantu penjualan. Dengan kata lain yang 6 % tersebut berbanding lurus dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bahasa tersebut. “iklan memiliki tingkat kepercayaan 6% dari masyarakat”.

Apa yang dilakukan oleh iklan adalah dengan menggunakan bahasa jualan atau hardselling. Bahasa iklan mau realistis atau tidak tetap akan dipublikasikan. Bahasa iklan mau sesuai kaidah atau tidak tetap akan diterbitkan. Bahasa iklan juga kadang-kadang antimainstream dan cenderung bombastis, ia tetap ditayangkan. Ia vulgar dan terang-terangan. Langsung tembak sasaran. Maka wajar jika seorang kritikus komunikasi, Idi Subandy Ibrahim, mengistilahkan iklan sebagai the ideology of lie. Contoh,”mau kulit anda cerah dalam waktu singkat? Gunakan L**** secara teratur, kulit anda akan putih bersih dalam waktu 4 minggu. Benarkah akan putih? Gak juga kan..., ini hanya ekspektasi saja.
Nah...

Sedangkan bahasa berita atau softselling adalah bahasa yang selalu merujuk pada realitas dan fakta. Ia juga harus memiliki nilai-nilai tertentu yang menarik tidak didasarkan pada bombastisnya isi, tetapi berdasarkan fakta, realitas, dan data. Maka, biasanya tidak semua isu, wacana, atau fakta bisa diliput, diterbitkan, ataupun menjadi berita. Ia melalui seleksi yang ketat dari redaksi. Beda dengan iklan, jika nilai kontraknya sesuai, tetap akan ditayangkan. Kecuali menyangkut SARA.

Melalui publikasi dalam bentuk berita, satu produk selain populer biasanya juga bisa laku di pasaran jika beritanya positif. Berita juga tidak hanya terkait produk tapi juga keseluruhan proses perusahaan dalam mengenalkan produk, seperti kegiatan Corporate Social Responsibility. Sebelum produk tersebut melakukan penetrasi pasar, publikasi berita akan membentuk opini publik sehingga masyarakat terpengaruhi. Salah satunya, karena tingkat kepercayaan masyarakat; pembaca, pendengar, dan atau penonton terhadap berita mencapai 92-94-an %.

Tingkat kepercayaan terhadap bahasa berita mendorong tim kreatif orang-orang marketing untuk menciptakan istilah-istilah yang mendekati berita, misalnya ada advertorial atau sejenisnya tergantung kebijakan dari tiap media; infotorial, edukatorial dsb. Satu bentuk iklan yang dibuat dalam bentuk artikel dan atau berita dengan tingkat subjektifitas yang tinggi. Atau juga publikasi satu event atau peristiwa yang dipaksakan untuk publikasi, karena nilai beritanya minim sehingga tidak mungkin dipublikasikan oleh meda mainstream, maka dijadikan advertorial. Walau nilai beritanya kabur, tetap bisa dipublikasikan karena sesungguhnya berita tersebut adalah iklan.

Di era media sosial, bahasa-bahasa tersebut disampaikan dengan pola komunikasi yang berbeda. Jika di era komunikasi massa lebih cenderung pada pola komunikasi one to many, sedangkan sekarang lebih ke many to many. One to many dari satu lembaga ke banyak orang, sedangkan era sekarang dari banyak (lembaga/orang) ke banyak (orang) lagi atau rekomendasi, melalui media sosial. Banyak orang ke banyak orang.

Hanya saja, sejauh pengamatan saya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bahasa jualan (iklan) di era sekarang masih sama, sama seperti hasil penelitan 10 tahun yang lalu itu. Minim.

Oleh karena itu, bagaimana agar bahasa iklan tersebut tidak muncul, maka seorang social media enthusiast yang menerima job iklan harus membahasakan dengan pengalamannya. Ini yang dituntut dari seorang buzzer, menceritakan pengalamannya saat menjalin relasi dengan produk. Dengan mengundang untuk unboxing misalnya, kalo produk elektronik. Atau mengundang makan kalau resto, test drive kalo mobil/ provider.

Namun belakangan, tidak sedikit sebuah agensi atau corporate tidak memfasilitasi terlebih dahulu pengalaman tersebut, seperti dalam kasus content placement, sehingga pengalaman subjek tidak muncul dalam content. Terjadi keseragaman pengalaman dalam hal ini. Jika terjadi, pengalaman seragam tersebut tidak lagi unik atau justeru muncul kesan jualannya. Pembaca juga bisa membedakan mana yang berdasarkan pengalaman dan mana yang tidak. Padahal tuntutan ideal dalam mempersuasi publik tersebut adalah cerita berdasarkan pengalaman sehingga membentuk suatu buzz (orangnya disebut buzzer). Dalam marketing public relations, model ini disebut sebagai story telling.
Lalu bagaimana agar tulisan yang kita buat tidak memiliki kesan jualan, membentuk story telling, atau punya nilai publisitas?

Bahasa jurnalistik atau PR memegang teguh fakta, sedangkan iklan lebih pada ekspektasi.

Sekedar contoh:
Bahasa iklan:
Sakit Kepala ?
Minum Bod*** aja!
Internet lelet dan mahal?
Makanya pake dong provider A!
Pengen makan enak dan murah?
Di **** Cafe aja
Bahasa Berita
Dalam sehari, Kedai Nyonya *** habiskan daging sapi 100 kg.
Hasil test drive S****n kecepatannya mencapai 100 mbps
Bo*** bukan hanya hilangkan sakit kepala Nurma, juga sembuhkan migrainnya yang telah bertahun-tahun dideritanya.

Kedua pola bahasa di atas memiliki referensi yang berbeda, bisa jadi secara gramatikal tidak berbeda, namun secara makna berbeda. Dan yang memiliki efek jangka panjang adalah pola tulisan yang kedua. Inilah yang dikejar oleh marketing dan public relations, bagaimana agar event atau produknya masuk kategori kedua agar memiliki tingkat keterpengaruhan yang tinggi. Ini juga yang diharapkan oleh corporate saat mereka memberikan job untuk blogger. Story telling. Bahasa yang halus alias softselling. Sesuai dengan referensi pengalamaman sehingga makna yang muncul benar-benar beragam. Unik. Namun saling menguatkan.
Read More

7.1.16

Mengoptimalkan Humas Melalui Media Sosial

Oleh Dudi Rustandi

Salah satu fungsi Humas adalah menciptakan saling pengertian dengan  publiknya melalui komunikasi dua arah. Komunikasi dua arah dilakukan melalui bantuan media atau pun langsung. Banyak Media yang dapat digunakan sebagai sarana Komunikasi humas dengan publiknya, baik media internal ataupun media massa. Di era perkembangan teknologi komunikasi, media yang sedang berkembang pesat adalah media sosial. Keterjangkauannya yang tidak dibatasi oleh letak geografis menjadikan media sosial popular digunakan oleh banyak pihak, baik oleh personal atau pun lembaga. Media sosial juga kerap digunakan sebagai media kampanye perusahaan dalam menyelenggarakan program-programnya. Melalui media sosial, perusahaan dapat membangun saling pengertian yang lebih emosional dengan publiknya. Selain sisi keterjangkauan, komunikasi melalui media sosial cukup efektif karena menembus ruang geografis tersebut. Melalui tulisan ini, penulis melakukan pengamatan bagaimana pemanfaatan media sosial untuk komunikasi humas yang dilakukan oleh banyak perusahaan/ merek.

Prolog
Pengguna Internet Indonesia menurut data Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2013 mencapai 87 Juta pengguna. Jumlah ini meningkat 30 % lebih besar dibandingkan tahun 2012 yang hanya mencapai 63 juta. (techno.okezone.com). Menurut data wartaekonomi.co.id sebesar 89 % dari jumlah tersebut mengakses internet dari perangkat mobile. Jumlah ini sama dengan jumlah penduduk di delapan negara (tempo.co). Dengan jumlah tersebut, Indonesia dijadikan sebagai Negara tujuan investasi dalam bisnis di dunia maya. 

Jumlah pengguna internet yang fantastis tersebut, menjadi potensi agar perusahaan dapat berkomunikasi lebih mudah, efektif, dan efisien dengan publiknya. Komunikasi dua arah akan tercipta dengan aplikasi-aplikasi media sosial yang semakin marak. Dari Jumlah 87 juta tersebut, sebesar 55 juta orang telah aktif menggunakan media sosial seperti facebook, twitter, atau dalam bentuk weblog. Pengguna facebook seperti dilansir oleh majalah marketing dalam situsnya mix.co.id mencapai 52-53 juta sementara pengguna twitter mencapai 28 juta user belum terhitung pengguna weblog dan jejaring sosial lainnya. Tidak sedikit pula, suatu Brand berkomunikasi melalui aplikasi chating seperti  We Chat, Kakao Talk, Line, dan sejenisnya.

Penggunaan internet yang besar tersebut berpengaruh terhadap budaya transaksi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Menurut Rhenald Kasali (2011), jumlah transaksi di dunia maya dua kali lipat lebih besar dengan jumlah transaksi yang terjadi di dunia nyata. Ini ditunjukan dengan jumlah hilir mudiknya keuangan di dunia maya.

Kondisi ini menjadi point plus bagi praktisi Humas/ Public Relations (PR) yang menjadi corong utama komunikasi perusahaan untuk membangun saling pengertian dengan publiknya secara intensif, massif, dan lebih emosional agar konstruksi reputasi perusahaan dapat tercapai. Melaui jumlah pengguna internet tersebut, praktisi humas dapat memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Untuk mencapai kesepemahaman makna komunikasi, cara konvensional yang dilakukan oleh perusahaan/ lembaga adalah dengan publikasi melalui media massa, baik cetak, elektronik, ataupun media online. Dukungan media massa ini sangat penting untuk membangun reputasi perusahaan. Namun agar setiap kegiatan dan agenda dapat dikomunikasikan dengan baik oleh media massa tidak semudah mempublikasikan melalui media internal. Selain informasi dan kegiatan yang diselenggarakan oleh perusahaan harus punya nilai berita (newsvalues), perusahaan juga harus membangun hubungan dengan media massa (media relations). Hal ini dilakukan karena antara Public Relations dengan media seringkali memiliki kepentingan yang berbeda saat menyikapi satu peristiwa (Darmastuti, 2012: 15). Sehingga tidak setiap kegiatan yang dapat menaikan bobot reputasi perusahaan dapat dipublikasikan oleh media massa. 

Sementara itu, komunikasi perusahaan melalui iklan memiliki kredibilitas yang rendah di mata Publik. Sudhamek, CEO GarudaFood, (dalam Wasesa, 2010:xxx) memberikan gambaran tentang keperkasaan publikasi media melalui publisitas dibandingkan dengan iklan. Iklan dibeli sementara publikasi gratis. Karena membelinya, kita bisa dengan mudah mengontrol media, apa yang akan keluar, kapan dan seperti apa bentuknya. (Sudhamek, dalam Wasesa, 2010: xxxx). Dalam pandangannya, kesuksesan GarudaFood sebagai sebuah Brand dan menjadi market leader bukan karena prestasi advertisement. Melainkan karena prestasi publisitas, sebuah kisah keberhasilan Public Relations.

Apa yang sudah dicapai oleh GarudaFood, tidak terlepas dari peran PR dalam membangun hubungan dengan Media. Hubungan dengan media memberikan keuntungan, kepentingan GarudaFood sudah dicover oleh media massa sehingga mampu mengisahkan tentang keperkasaannya dan mendapatkan reputasi Brand dan memimpin pasar di kelasnya. Bagaimana dengan perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki akses terhadap media massa atau kepentingan perusahaannya tidak linier dengan kepentingan Media seperti yang dialami oleh Ruma Sakit Omni Internasional saat menghadapi kasus Prita. Bagaimana dengan perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki akses terhadap media massa karena tidak mampu membangun hubungan dengan media, atau perusahaan-perusahaan kecil yang sentuhannya dengan media sangat sulit baik karena akses atau pun karena belum ada nilai yang dapat “dijual” ke media.

Bagi perusahaan-perusahaan  tersebut, kehadiran teknologi komunikasi digital dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Contoh kasus fenomenal adalah Axl, sang pemilik Brand kripik pedas Ma Icih tersebut memaksimalkan media jejaring sosial untuk berkomunikasi dengan publiknya. Tidak hanya dalam bidang ekonomi, dalam bidang politik pun, Obama menjadi orang pertama yang mendulang kesuksesan dalam menjaring simpatisannya melalui media Jejaring sosial seperti dilaporkan oleh Nicholas A. Christakis, M.D., Ph.D & James H. Flower, Ph.D dalam hasil penelitiannya, diterbitkan menjadi buku berjudul “Connected”. Walaupun peran media massa sangat besar dalam membangun nama besar perusahaan atau pun perorangan, namun peran media sosial kini tidak bisa diremehkan.

Oleh karena itu melalui tulisan sederhana ini, penulis mengamati bagaimana peran media sosial atau yang popular dengan nama socmed tersebut berperan sangat besar terhadap reputasi perusahaan. Melalui kampanye PR dan publisitas media sosial, perusahaan dapat memaksimalkan kehadiran socmed sebagai alternatif publikasi di media massa yang tidak mudah. Apalagi dari tahun ke tahun pengguna internet di Indonesia terus meningkat. Asosiasi Jasa Pengguna Internet Indonesia memprediksikan bahwa tahun 2014 mendatang, pengguna Internet akan mencapai 104 juta orang. Oleh karena itu, menurut Wisesa (2010: 11) penetrasi media siber memiliki signifikansi yang kuat jika dibandingkan dengan media cetak konvensional. 

Fungsi dan Tugas Pokok PR
Sebagai fungsi manajemen yang khas dalam cara berkomunikasi dengan Publik, Public Relations memiliki fungsi menumbuhkan dan mengembangkan hubungan baik antarlembaga dengan publiknya, internal maupun eksternal dalam rangka menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik untuk menciptakan iklim pendapat (opini publik) yang menguntungkan bagi lembaga organisasi (Nova, 2009: 38). 

Dengan fungsi tersebut, Public Relations pada akhirnya menjalankan fungsi secara teknis seperti diungkapkan dalam hasil penelitian International Public Relations Association (IPRA) (Nova, 2009: 39), yaitu: Memberikan konseling yang didasari pemahaman masalah perilaku manusia, membuat analisis trend masa depan dan ramalan akan akibat-akibat bagi institusi, Melakukan riset pendapat, sikap dan harapan terhadap institusi dan memberikan saran tindakan-tindakan yang diperlukan institusi untuk mengatasinya, menciptakan dan membina komunikasi dua arah berlandaskan kebenaran dan informasi yang utuh, mencegah konflik dan salah pengertian, meningkatkan rasa saling hormat dan rasa tanggung jawab sosial, Melakukan penyerasian kepentingan institusi terhadap kepentingan umum, meningkatkan itikad baik institusi terhadap anggota pemasok, dan konsumen, Memperbaiki hubungan industrial, Menarik tenaga kerja yang baik agar menjadi anggota dan mengurangi anggota untuk keluar dari institusi, Memasyarakatkan produk atau layanan, Mengusahakan perolehan laba yang maksimal, serta Menciptakan jati diri institusi.

Dengan fungsi tersebut, kegiatan Public Relations sangat erat dengan pembentukan opini Publik, mengarahkan persepi publik terhadap citra dan reputasi perusahaan yang baik. Untuk menjalankan fungsinya tersebut, Public Relations menjalankan strategi, yang oleh Ruslan (1997) disebut sebagai bauran Public Relations:

1) Publikasi. Setiap fungsi dan tugas Public Relations adalah menyelenggarakan publikasi atau menyebarluaskan informasi melalui berbagai media tentang aktifitas atau kegiatan perusahaan atau organisasi yang pantas diketahui oleh Publik.
2) Event. Bertujuan untuk memperkenalkan produk dan layanan perusahaan, mendekatkan diri ke Publik dan lebih jauh lagi dapat memengaruhi opini Publik.
3) News. Berupaya menciptakan berita melalui press release, newsletter, bulletin, dan lain-lain. 
4) Community involvement. Mengadakan kontak sosial dengan kelompok masyarakat  tertentu guna menjaga hubungan baik dengan pihak organisasi atau lembaga yang diwakilinya.
5) Inform or image. Memberikan informasi atau menarik perhatian untuk memperoleh citra yang positif.
6) Lobbying dan negosiasi. Untuk mencapai kesepakatan atau dukungan dari lembaga atau individu dan lembaga berpengaruh terhadap keberlangsungan bisnis perusahaan
7) Social Responsibility. Untuk meningkatkan citra perusahaan di mata Publik, perusahaan melakukan berbagai aktifitas sosial melalui program yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. 

Melalui strategi taktis tersebut, peran humas diharapkan dapat menarik perhatian, mempengaruhi pendapat umum, dan pada akhirnya dapat membangun suasana saling percaya. Sebelum populernya internet dan media sosial di dunia maya, untuk mempengaruhi pendapat umum dan membangun suasana saling pengertian antara Publik dengan perusahaan komunikasi antara kedua pihak cenderung tertunda bahkan satu arah sehingga feedback terhadap perusahaan cenderung lambat. Kelambatan respon publik terhadap perusahaan dapat merugikan perusahaan, karena perusahaan tidak dapat menanggapi secara langsung respon tersebut, baik respon positif ataupun respon negatif. Hal ini dikarenakan karakteristik media konvensional yang digunakan, media massa cenderung tertunda dan harus melalui kebijakan redaksi dari media. 

Antara Media Massa dan Media Sosial
Media Massa khususnya televisi, masih menjadi media yang cukup popular untuk menjangkau Publik. Seperti hasil penelitian Vivian (2008, 5), sebagai media yang memiliki fungsi menonjol hiburan, televisi menjadi media yang dikonsumsi paling banyak oleh publik. Bahkan menurut pengamat politik Hanta Yuda pada tayangan Metro TV (30/ 2013) televisi masih memegang peranan penting dalam mengubah opini masyarakat. Namun lambat laun, peran televisi tersebut berjalan beriringan dengan tingkat penetrasi internet yang progresif, media sosial yang diaplikasikan dalam bentuk mobile internet (gadget) mulai merangkak sedikit demi sedikit dan memiliki kedudukan signifikan untuk mempengaruhi khalayak. Menurut Biagi (2010:13) internet memegang 73 % konsumen media massa. 

Jika melihat banyak kasus, informasi-informasi yang disajikan media massa tidak sedikit yang pada awalnya diangkat oleh media sosial. Beberapa tahun lalu Kasus Prita Mulyasari berangkat dari dukungan para jurnalis warga di Media Jejaring Sosial, kasus AAL yang telah berbulan-bulan menyanderanya sebagai korban kesewenang-wenangan hukum juga didorong oleh kampanye media sosial, berita pelarangan peredaran Indomie juga pada awalnya diangkat oleh Media Sosial. Contoh-contoh kasus tersebut menunjukan bagaimana terpaan komunikasi melalui media sosial berpengaruh terhadap psikologi Publik lalu diangkat oleh media massa konvensional, baik elektronik ataupun cetak.

Contoh di atas hanya sebagian kecil dari kasus-kasus yang tidak pernah terakses oleh media massa konvensional namun pada akhirnya dapat diinformasikan oleh para jurnalis warga melalui media sosial. Para pelaku mainstream media pada akhirnya dapat mengakses informasi tersebut melalui informasi-informasi media sosial. Bahkan beberapa media konvensional menjadikan warga sebagai jurnalisnya atau sumber informasi, seperti elshinta, wideshot Metro TV, liputan6.com, Kompas.com melalui Kompasiana.com. Melalui para pelaku jurnalis warga, jurnalis mainstream media dapat mengakses sumber-sumber berita yang tidak dapat diakses oleh wartawan professional karena jumlahnya terbatas. Sifatnya yang interaktif dari media  (jejaring) sosial dimanfaatkan oleh pelaku bisnis melalui perantara Public Relations. Melalui media sosial, para praktisi Public Relations dapat berkomunikasi secara langsung dengan publiknya. Begitupun Publik dapat dengan mudah mendapatkan informasi langsung dengan pihak perusahaan. Adanya komunikasi interaktif ini menjadi potensi yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan untuk membangun saling pengertian dengan publiknya.

Media Sosial, Alat Komunikasi Humas di Era Digital
Kehadiran Internet membawa perubahan besar pada cara berkomunikasi manusia atau perusahaan. Sifatnya yang mobilable, anytime, dan everywhere menjadikan internet sebagai media yang sangat digandrungi oleh mereka yang melek media. Salah satu aplikasi dalam internet yaitu media sosial menjadi aplikasi popular dalam perkembangan internet. Melalui media sosial, setiap orang bisa mendapatkan informasi, berkomunikasi kapan saja dan dimana saja. 

Media sosial (Zarela, 2011:2) mempunyai banyak bentuk. Bentuk yang paling popular yaitu blog, mikroblog (twitter), jejaring sosial (facebook, LinkedIn, G+), media-sharing (YouTube, Flickr), situs sosial bookmark, situs voting (digg, reddit), situs review (Yelp), forum, dan dunia virtual (second life).

Dalam catatan Dan Zarela (2011, 5), beberapa perusahaan dan individu telah memanfaatkan kehadiran media social diantaranya adalah IBM, sebuah perusahaan komputer yang memiliki 100 blog yang berbeda, dua belas pulau di Second Life, beberapa akun twitter resmi, dan sebuah forum terkenal yang dinamakan developerWorks. IMB juga mempublikasikan serial machinima (sebuah film kartun) di Youtube, dan mempekerjakan beberapa orang untuk mengunggah di SlideShare. Begitu juga kompetitornya, Dell. Ia memanfaatkan kekuatan media sosial dengan situsnya yang luar biasa popular, IdeaStorm. Di situs ini, para pengguna menuliskan ide-ide untuk membuat produk-produk baru dan juga saran-saran untuk perbaikan, memberikan suara dalam jajak pendapat tentang suatu produk, dan menyampaikan komentar.

Individu juga telah mulai berkomunikasi secara langsung dengan Publik melalui media sosial. Obama, Presiden Amerika Serikat menjadi pelopor politisi yang memanfaatkan kehadiran media sosial tersebut. Dalam banyak buku tentang dunia maya, Obama selalu dijadikan sebagai contoh dalam penggunaan media sosial oleh seorang politisi. Komunikasi yang dibangun Obama dengan partisipannya banyak menginspirasi politisi di Indonesia.

Salah satu politisi yang berhasil membangun komunikasi melalui media sosial adalah Obama dan Ahmad Heryawan. Jauh-jauh hari sebelum pemilihan Gubernur 2013, Ahmad Heryawan telah memiliki sebuah media baik blog, microblog, ataupun jejaring sosial. Bahkan selama masa kampanye, seperti dirilis oleh www.PoliticaWave.com, Ahmad Heryawan menjadi calon paling popular yang banyak disebut oleh audiensnya. Secara berkala hasil analisis team politicalwave dipublikasikan melaui Harian Umum Pikiran Rakyat pada masa-masa (menjelang) kampanye. Popularitas dan bentuk komunikasi yang dilakukan oleh Ahmad Heryawan berbanding lurus dengan kemenangan yang diraihnya. Ahmad Heryawan, ataupun politisi lain yang menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi, sesungguhnya telah menjalankan fungsi humas bagi dirinya sendiri. 

Karakteristik Komunikasi Melalui Media Sosial
Karakteristik yang dimiliki oleh media sosial berbeda dengan media massa tradisional. Dengan tingkat keterjangkauan yang besar serta tidak terhalang oleh ruang dan waktu. Media sosial memiliki banyak kelebihan. Kelebihan ini sebagian karena karakteristik media sosial sebagai media yang berada dalam ruang digital. Mengadaptasi dari Nasrullah (2012: 72) Media sosial sebagai media baru (new media) memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Network. Terhubung dengan jaringan yang tidak terbatas pada satu wilayah geografis. Melalui media sosial, Publik Relation dapat terhubung tanpa terhalang oleh ruang dan waktu selama Publik terkoneksi dengan jaringan internet. Melalui media sosial, pihak perusahaan/ lembaga dapat selalu terkoneksi dengan publiknya.
b. Information. Sifatnya yang multimedia, Publik relation dapat menyampaikan informasi secara cepat dalam berbagai bentuk, baik teks, foto, audio, atau pun bentuk adio visual dan teks secara bersamaan. Melalui media sosial, pihak Public Relations dapat dengan cepat dan melakukan pembaharuan penyampaian informasi. Di samping itu, saat menyampaikan informasi dapat langsung berinteraksi dengan publiknya secara langsung.
c. Interface. Merupakan perangkat penerjemah saat berhubungan melalui computer. Melalui karakter ini Public Relations dapat mencitrakan diri dan perusahaannya semaksimal mungkin.  
d. Archive. File dan berbagai dokumen infotmatif yang pernah dipublikasikan di media sosial dapat tersimpan walaupun sudah bertahun-tahun selama servernya masih berfungsi. Hal ini memungkinkan Publik dapat mengakses berbagai informasi masa lalu yang masih dibutuhkan.
e. Interactivity. Mendorong pelaku media sosial untuk berkomunikasi secara interaktif. Public Relations yang menjadikan media sosial sebagai alat komunikasi dapat berinteraksi dengan publiknya untuk membangun saling pengertian secara langsung secara intensif. 
f. Simulation. Melalui media sosial, Public Relations dapat melakukan rekayasa positif dengan maksimal bagaimana mencitrakan perusahaan, baik melalui teks, grafis, ataupun audio visual. 

Memanfaatkan Media Sosial, Belajar dari Berbagai Brand
Tahun 2002-2007, eksistensi Friendster.com sebagai situs pertemanan sangat popular di kalangan remaja dan anak muda. Popularitasnya menarik beberapa Brand untuk memajang iklannya. Namun saat Friendster akan tenggelam tahun 2006, Brand-brand tersebut sudah mulai melirik website sebagai media sosialisasinya. Menurut hasil penelitian Stratego, perusahaan consulting brand, tahun 2007-2009, perusahaan mulai melakukan Branding melalui aplikasi flash yang dikirimkan melalui email konsumennya (direct mail). Rentang waktu itu pula mulai popular bagaimana manusia digital gandrung terhadap weblog/ diary digital sehingga tahun 2007-2010 tersebut menjadi momentum festival, kopi darat, atau pesta para blogger di Indonesia. Trend media sosial tersebut diikuti oleh pelaku usaha yang mengikuti jejak para blogger untuk menyelenggarakan kopi darat dengan para pelaku usaha untuk melakukan branding melalui media sosial.

Branding melalui kopi darat blogger ini pernah dilakukan oleh Telkomsel melalui kampus-kampus, dan bagaimana Telkomsel menjaring sivitas kampus tersebut melalui jejaring sosial facebook. Tahun 2011, Pocari Sweat membuat program storytelling bersama pelanggannya melalui microblogging twitter. Saat itu Pocari Sweat sempat menjadi trending topic. Menurut hasil pengamatan Stratego, sejak November 2011 kampanye melalui media sosial dilakukan lebih canggih lagi. Fanpage menjadi salah satu ukuran ekuitas merek. Bahkan Mizone menyelenggarakan program storytelling dengan mengusung tema “Aku dan Media Sosialku”. Pocari Sweat, melalui hashtag #SayadanPocariSweat sempat menjadi trending topic Indonesia pada twitter.

Mulai tahun tersebut, setiap perusahaan/ brand memiliki akun di berbagai media sosial, mulai dari facebook, twitter, LinkedIn, googleplus, pinterest, flickr, dan media sosial lainnya yang sejenis. Konten media sosial, menurut pandangan stratego menjadi sangat penting di era digital tersebut, bahkan setiap hashtag yang ditulis menjadi bagian dari kampanye. Berbagai jenis kampanye dengan melibatkan pelanggannya seperti bagaimana pelanggan bisa berbagi cerita dan pengalaman menggunakan produk. Untuk mengukur tingkat respon dari pelanggan setiap media sosial memiliki pengukuran yang berbeda mulai dari pageview, subscribe, pengguna hashtag, videoview, likers, jumlah pertemanan/ fans, follower, komentar, pemberi peringkat.

Penggunaan komunikasi melalui media sosial banyak dilakukan oleh Brand-brand multinasional. Saat promosi X5, pada tahun 2010, Nokia menggunakan popularitas Shinta Jojo di Youtube, Nokia membangun media sosial untuk mempromosikan secara halus produknya tersebut. LG menyelenggarakan program “the cup of faith” saat ramadhan melalui hashtag twitter. Provider sekelas indosat, XL, Smartfrend, Telkomsel kini membuka layanan pelanggan (customer care) melalui microblogging twitter. Setiap pelanggan bisa berkonsultasi, menyampaikan unek-unek dan keluhan melalui akun-akunnya tersebut. Melalui customer care media sosial, pelanggan bisa langsung berkomunikasi dengan pihak perusahaan dengan mudah, cepat, dan murah.

Seperti dicontohkan di atas, era New Media telah mengubah cara berkomunikasi dan berperilaku masyarakat, baik individu ataupun kelompok, baik formal ataupun nonformal. Memasuki tahun 2013, penetrasi komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan gencar dilakukan melalui facebook dan twitter. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Stratego, penggunaan kedua media sosial tersebut paling dominan dibandingkan dengan media sosial lainnya. Melalui facebook, beberapa brand membuat aplikasinya tersendiri untuk kampanye yang dilakukan. Tidak hanya Brand, seseorang yang bukan siapa-siapa dapat melakukan personal branding, kasus Shinta Jojo, Briptu Norman, atau Tegar sang Pengamen menjadi contoh nyata bagaimana Media Sosial juga bisa dijadikan sebagai media personal branding. Gara-gara sering memposting foto-fotonya di akunnya seorang yang bernama Sherly A. Novilinda dijadikan sebagai cover majalah pria. Bukan hanya pihak swasta dan individu, perusahaan pemerintah pun (BUMN) mulai melirik media sosial sebagai sarana berkomunikasi dengan publiknya, seperti dilakukan oleh PLN. Dengan slogan, PLN bersih No Suap, PLN membuka akun @pln_123. Melalui media sosial, pelanggan juga dapat menyampaikan keluhan dan kekecewaannya terhadap Brand. 

Sebagai media baru yang sedang naik daun, kini tersedia aplikasi untuk mengukur tingkat ekuitas merk tertentu. Seperti yang dilakukan oleh sosialbaker. Situs ini dapat menganalisis tingkat penetrasi dan ekuitas merk. Sejauh mana suatu merk memiliki reputasi dihadapan publiknya. Bukan hanya dari besarnya jumlah follower, jumlah likers, pageview, komentar, dan lain sebagainya. Namun juga tingkat respon yang dilakukan oleh pemilik brand.

Memasuki bulan April 2013, Presiden Republik Indonesia pun mulai melakukan apa yang disebut oleh pengguna media sosial sebagai twiplomasi. Dalam beberapa minggu akun twitternya sudah dikuti oleh jutaan follower, melebihi follower Perdana Menteri Malaysia.  Selain sebagai media diplomasi, melalui twitter, Presiden melakukan personal branding. Presiden disambut oleh para koleganya Aburizal Bakri, Boediono, termasuk menantunya Annisa Pohan. Apa yang dilakukan oleh Presiden SBY tersebut relative telat karena para menterinya telah lebih dahulu ngetwit seperti yang dilakukan oleh Dahlan Iskan yang selalu berinteraksi dengan masyarakat.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan melalui media sosial, tidak hanya sebatas Komunikasi Pemasaran, sosialisasi produk, ataupun corporate/ personal branding, juga program-program Public Relations secara luas, misalnya yang dilakukan oleh PT. LG Electronik Indonesia. Brand elektronik yang sedang naik daun tersebut bersaing bersama brand-brand lain yang lahir terlebih dahulu. Program LG yang diluncurkan tersebut adalah LG Nutri Fridge. 

Menurut situs mix.co.id, melalui situs jejaring sosial Facebook, LG mengundang publik untuk berpartisipasi memberikan dukungannya terhadap perbaikan gizi anak Indonesia. Cukup membuka alamat www.facebook.com/lglovesindonesia, calon partisipan akan menemukan ikon LG Nutri Fridge untuk dipilih sebagai konfirmasi keikutsertaannya.

Masih menurut www.mix.co.id, dalam fanpagenya tersebut, LG mengajak partisipan bermain secara interaktif tentang informasi mengenai pengetahuan akan kecukupan gizi. Partisipan juga diundang untuk memilih berbagai bahan makanan yang tersedia di sana dan menata pada lemari es yang berada tepat di sebelahnya. Untuk setiap ikon yang dipilih, layar akan menampilkan informasi kandungan nutrisi yang terdapat dari masing-masing bahan makanan tersebut.

Melalui cara interaktif ini, partisipan dengan mudah memahami kandungan gizi dari masing-masing bahan makanan tersebut. Seperti  ditulis oleh www.mix.co.id yang mengutip pernyataan Marketing Director, mengatakan bahwa harapannya agar masyarakat dapat mengaplikasikan gizi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pihak LG pun melibatkan ahli gizi untuk menyelenggarakan program CSR melalui media digital tersebut. Melalui program tersebut, LG akan mendistribusikan bahan makanan segar dan interaktif selama enam bulan berturut-turut ke panti asuhan. LG juga menjaring 1040 partisipannya melalui twitter (mix.co.id).

Untuk memperkenalkan fitur QuickMemo dalam gadgetnya, Agustus tahun lalu PT. LG pun menggelar event “LG QuickMemo”. Menurut situs mix.co.id, program tersebut dikemas dalam bentuk kompetisi media sosial. Program tersebut memberikan kesempatan bagi konsumen untuk berkreasi dan berbagi pesan positif lewat aplikasi khusus yang dibenamkan dalam fanpage LG Mobile Indonesia dan menghadiahi pemenang dengan LG Optimus 4X. Namun sebelum memulai kompetisi, pihak LG Mobile Indonesia mengharuskan memberikan like pada fanpage LG Mobile Indonesia dalam Facebook.

Kini kegiatan-kegiatan utama Public Relations dapat dilakukan melalui media sosial. Termasuk juga untuk kegiatan media relations. Sebagai salah satu fungsi dari Public Relations, perusahaan dapat menggunakan media sosial sebagai media relations. Melalui sebuah akun media sosial, pihak peruhsaan dapat melakukan hubungan yang baik dengan media secara interaktif. Bulan Maret lalu, saat Smartfren mengalami masalah koneksi internet karena jaringannya yang terganggu, beberapa media menjadikan informasi yang disampaikan melalui akun media sosialnya sebagai informasi yang diteruskan ke Publik. Lebih jauh pihak media ataupun lembaga yang berkepentingan dapat menjelaskan lebih lanjut. Seperti dilakukan oleh Kompas.com, pihak media menjadikan informasi dan keluhan konsumen melalui akun sebagai berita terpercaya. Melalui akun media sosial, pihak media dapat mendapatkan penjelasan begitupun konsumen dapat secara langsung mendapatkan informasi melalui akun perusahaan yang tersedia.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pihak Public Relations perusahaan melalui media sosial di masa mendatang menjadi keniscayaan, apalagi pengguna internet di Indonesia semakin bertumbuh. Ini juga ditunjukan dengan progresivitas pemerintah untuk membangun jaringan internet hingga tingkat kecamatan di seluruh Indonesia pada tahun 2014. Program pemerintah yang sudah dimulai sejak tahun 2011 tersebut kita kenal dengan MPLIK (Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan) menjadi landasan kuat bagi perusahaan agar secara kreatif menyelenggarakan program dan kegiatannya melalui media digital (new media). Apalagi pihak pemerintah berniat untuk memapankan program egovernment. 

Epilog
Pertumbuhan pengguna internet yang terus merangkak hingga 87 % pada tahun 2012 serta penetrasi layanan internet ke setiap kecamatan, menjadi peluang bagi organisasi bisnis untuk menjangkau konsumennya tanpa terhalang oleh jarak. Konsumen yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia dapat dijangkau dengan media digital. Ini menjadi potensi besar bagi organisasi bisnis untuk mempromosikan, menyosialisasikan program, branding, atau menjaring peserta dalam penyelenggaraan event. Bahkan melalui media digital, perusahaan dapat melakukan media relations. Semua kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Publik eksternal ataupun internal dapat dilakukan melalui media sosial. Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan Brand-brand local, regional ataupun global menjadi pelajaran penting bahwa media sosial dapat dimanfaatkan untuk berbagai program. Kegiatan tersebut, tidak hanya sebatas memiliki akun dan berteman dengan banyak anggota namun juga harus kreatif dalam menciptakan program untuk membangun saling pengertian agar reputasi perusahaan semakin baik.

Daftar Pustaka
Kasali, Rhenald. 2011. Cracker Zone. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Damastuti, Sri. 2012. Media Relations. Jakarta: Penerbit Andi
Agung Wasesa, Silih dan Macnamara, Jim. 2010 (cet 3). Strategi Public Relations. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
A. Christakis, Nicholas. & H. Flower, James. 2010. Connected, Dahsyatnya Kekuatan Jejaring Sosial Mengubah Hidup Kita. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Nova, Firsan. 2009. Crisis Public Relations, Bagaimana PR menangani krisis Perusahaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ruslan, Rosady. 2010 (cet 10). Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi, Konsep dan Aplikasi. Jakarta: Rajawali Pers.
Zarela, Dan. 2011. The Social Media Marketing Book. Jakarta: Serambi.
Nasrullah, Rulli. 2012. Komunikasi Antarbudaya di Era Budaya Siber. Jakarta: Kencana Prenada Media
http://techno.okezone.com/read/2013/04/10/55/789130/redirect diunduh 26 April 2013
http://wartaekonomi.co.id/berita8752/89-pengguna-internet-indonesia-menggunakan-mobile.html diunduh 26 April 2013
http://www.tempo.co/read/news/2013/03/12/173466522 diunduh 26 April 2013 
ttp://mix.co.id/digital-activation/lg-nutri-fridge-program-csr-via-digital/ diunduh 18/ April/ 2013
http://mix.co.id/marketing-update/luncurkan-all-new-focus-ford-jajaki-kampanye-lewat-sosial-media/ diunduh 18/ April/ 2013
www.politicalwave.com
presentasi stratego yang diunggah melalui www.slideshare.com


Read More