Showing posts with label Kopi. Show all posts
Showing posts with label Kopi. Show all posts

9.1.21

Wisata Edukasi Kopi Garut

Wisata Edukasi Kopi Garut

Rabu (28/10/2015) adalah sejarah bagi Riswan dan kawan-kawan, karena bisa menyuguhkan kopi asli Garut di tempat yang sama, Kopi Garut ya bertempat di Garut. Selama ini, kopi Garut jarang dinikmati oleh masyarakatnya karena kopi-kopi berkualitas tersebut dijual ke daerah luar Garut seperti Bandung, Jakarta, atau kota-kota besar lainnya bahkan untuk diekspor. Seperti hasil penuturan dari seorang peserta pameran Paranti Garut beberapa waktu lalu, bahwa kopinya tidak dijual di Garut tetapi khusus pesanan-pesanan dari luar.

Kopi jenis Arabica Indonesia adalah salah satu jenis kopi terbaik di Dunia. Bahkan pada jaman penjajahan Belanda, Kopi Indonesia dengan nama Preanger merupakan kopi favorit yang sangat terkenal di seantero Eropa. Walaupun jenis kopi Preanger adalah Robusta. Kopi Preanger adalah kopi yang diproduksi di wilayah Garut. Dengan ketinggian memadai, kopi-kopi yang berasal dari Garut adalah kopi-kopi yang berkualitas. Wajar jika orang Eropa sangat menyukai kopi tersebut.

Karena kualitasnya, Kopi Garut juga banyak dilirik oleh buyer dari mancanegara. Setidaknya itulah yang dialami oleh Riswan, pemilik kedai kopi Master Black Coffee yang berada di area Jalan Merdeka Garut. Berawal sebagai pemasok, Riswan menyadari bahwa kopi yang ditanam di dataran tinggi Garut adalah kopi-kopi yang berkualitas tinggi. Wajar saja jika pada pameran kuliner yang diselenggarakan oleh Bakorwil Priangan beberapa waktu lalu, kopi Garut banyak diminati oleh para pecinta kopi di luar Garut. Sementara di Garut sendiri tidak dipasarkan.

Masyarakat Garut tidak pernah menikmati hasil dari produksinya sendiri. Sementara jika ingin menikmati kopi berkualitas ia harus keluar Garut, misalnya Bandung. Padahal seperti penuturan Riswan, banyak penikmat kopi di Garut. Hal ini juga yang mendorong Riswan dan Barista asal Bandung untuk membuka kedai kopi di Garut.

Penikmat dan Pecinta

Kopi yang dibuat aneh-aneh seperti ini, tidak lebih nikmat dibandingkan kopi murni. Wisata Edukasi Kopi Garut.

Ada dua jenis pelaku dalam menikmati kopi. Pertama, Penikmat dan kedua Pecinta. Saya menambahkan satu lagi jenis, yaitu style. Jenis pertama adalah mereka yang fanatik terhadap kopi tertentu. Misalnya fanatik terhadap kopi original. Menurut Riswan, di Garut banyak para penikmat kopi, sayang mereka tidak terfasilitasi oleh ketersediaan kedai kopi. Kini, karena ternyata cukup banyak penikmat kopi, bermunculan beberapa kedai yang menyuguhkan berbagai jenis kopi di daeah Garut. Salah satunya yang dididirikan oleh Riswan dan kawan-kawannya.

Jenis kedua adalah pecinta kopi. Pecinta kopi adalah mereka para penyuka berbagai jenis kopi. Mereka tidak fanatik terhadap satu jenis olahan kopi. Rata-rata mereka mencoba berbagai jenis kopi sebagai dinamisasi.

Jenis ketiga adalah jenis style. Mereka adalah para metroseksualis yang cenderung menyesuaikan dengan gaya hidup. Di saat kopi dan berbagai olahannya sedang naik daun dan dibicarakan dimana-mana ia juga ikut menyesuaikan agar tidak ketinggalan. Para style  ini tentu berbeda-beda tingkatan. Ada yang pemula, yang belum teredukasi dengan berbagai jenis kopi dan hasil olahannya. Namun ada juga yang masuk kategori biasa. Karena sudah beberapa kali melakukan persentuhan dengan kopi, setidaknya para stylis ini tahu macam kopi apa yang akan diminumnya.

Nah, seperti saya masuk kemana?

Saya tidak masuk ketiga-tiganya. Hanya saja meminum kopi lebih punya tujuan fungsional, yaitu mengusir kantuk dan sedikit menyegarkan badan yang sudah mulai lemas karena kantuk. Hanya saja, dengan maag yang saya derita. Saya tidak berani minum kopi sembarangan.

Sabtu tepat seminggu yang lalu (31/10/2015) saya berkesempatan mengunjungi Master Black Coffee, Jl. Merdeka No.1 Garut. Saat mendengar jalan merdeka nomor 1, terkenang bahwa tempat ini adalah tempat nongkrong saat SMA. Saat SMA sering berkumpul hanya untuk melepas lelah dan bercengkrama bersama kawan.

Berawal dari pertemanan media Jejaring Sosial, dan penasaran dengan keramahannya. Sampailah saya di lokasi Master Black Coffee. Maksud hati ingin membahas program bersama beberapa mahasiswa di Garut, jadilah saya mendapatkan edukasi tentang kopi. Sementara bahasan programnya tertunda, karena waktu tidak memungkinkan.

Robusta dan Arabika

“Moccacino saja”, ujar saya kepada penyaji, sesaat ditawari untuk kedua kalinya.

Sesaat setelah menyeruput kopi, Sambil merasakan rasa cokelat yang kental dalam lidah, datanglah owners dan Barista, yang kemudian saya tahu namanya Riswan. Ia adalah pemasok roaster ke beberapa cafe di Bandung juga pernah menjadi konsultan festival kopi di Soreang Kabupaten Bandung. Pembawaannya kalem dan low profile. Ia telah 4 tahun menggeluti kopi. Sejak 2011 ia menjadi pemasok roaster. Kopinya sendiri ia roasting sendiri sehingga kualitasnya betul-betul terjaga.

Setelah kenal dengan cafe-cafe dan para Baristanya. Tahun 2013 ia bekerja sama dengan Barista yang bosan dengan rutinitas kerja. Mereka pun sepakat untuk mendirikan kedai kopi. Kopinya diroasting sendiri. Kemudian diolah sendiri. Sehingga kualitasnya betul-betul terjaga, baik dari rasa ataupun aroma.

Karena menjelang sore pengunjung sudah berdatangan, jadilah saya ditemani Riswan. Ia bercerita, bahwa semua kopi yang disajikannya adalah Arabica. Barulah saya tahu setelah bertanya, bahwa ada dua jenis kopi secara umum, yaitu Kopi Robusta dan kopi Arabica. Kedua jenis kopi ini berbeda dari bentuk kopinya. Kopi Arabica cenderung bijinya pipih dan melonjong sedankan Robusta bijinya bulat.

Dari hasil obrolan tersebutlah saya tahu bahwa ternyata kandungan caffein dalam kopi robusta lebih tinggi dari kopi arabika atau sebaliknya, jenis kopi arabika menghasilkan caffein yang rendah. Hal ini juga barangkali yang menyebabkan perut saya tidak terlalu bereaksi dan baik-baik saja saat beberapa kali menyeruput kopi di cafe. Karena jenis kopi yang disajikan adalah jenis kopi Arabika.

Menurut Riswan, memang betul, jenis kopi Arabica ini tingkat zam asamnya cenderung rendah sehingga bisa dinikmati juga oleh para pecinta kopi atau mereka yang stylis. Ya harus diakui dan jujur, beberapa kali menyeduh kopi di cafe memang perutnya cenderung berdamai, bukan karena tempatnya nyaman, namun lebih pada jenis kopinya.

Hanya saja, kopi jenis Arabica, setelah saya searching memang harganya lebih mahal dari pada jenis kopi robusta. Wajar jika kopi di cafe-cafe atau kedai kopi harganya bisa berkali-kali lipat dibandingnya dengan warung kopi biasa. Selain teknik penyajian, keahilan Barista, rasa, aroma, juga jenis kopi yang disajikannya adalah kopi Arabica.

Roaster dan Barista Berkualitas, Aroma dan Rasa yang Berkualitas

Sambil menyeruput Kopi, Riswan juga mengedukasi teman-teman mahasiswa yang saat itu tampak bersemangat menyaksikan simulasi kopi khas @masterblackcoffee, V60. Sambil menyimulasikan pembuatan kopi Riswan bercerita bahwa keinginannya ini adalah untuk menjadi kualitas kopi. Ia tidak ingin roaster hasil roastingnya disajikan juga dengan Barista berkualitas sehingga menghasilkan rasa berkualitas terutama konsistensinya.

Menurut penuturannya, tidak sedikit cafe-cafe di kota tidak bisa menjaga kualitas kopi karena roaster yang dijadikan bahan berbeda-beda kualitasnya. Selain itu, penyajinya juga kurang ahli. Wajar jika pada akhirnya kualitasnya juga baik dari aroma ataupun rasanya juga berbeda. Hal inilah yang ingin dijamin oleh @masterblackcoffee. Riswan melalui @masterblackcoffee ingin menjamin bahwa kopinya berkualitas sejak dari pemilihan bijinya, roastingnya, pengolahannya, hingga penyajiannya. Oleh karena itu, ia pilih kopi dari dataran 800 mdpl di Gunung Windu yang terletak di antara Cikajang dan Pakenjeng.

Bagi Riswan, yang sudah 4 tahun menggeluti kopi. Kopi berkualitas adalah dari konsistensi rasa dan aromanya. Untuk menjaganya harus dijamin dari proses awal hingga penyajiannya.

V60, Special @masterblackcoffee dengan Aroma Wine dan Cokelat

V60 salah satu metode meracik kopi. Wisata Edukasi Kopi Garut.

Sambil bercerita, Riswan sambil melakukan simulasi membuat V60. Bagi pemula, rasanya seperti espresso, namun lebih tipis dan halus. Sama-sama disajikan dalam sloki, V60 punya rasa yang nendang. Proses pembuatannya cukup lama bisa mencapai 15 menit, seperti dituturkan oleh Giri dalam tulisannya ini.

Menurut Riswan, V60 bisa menghasilkan aroma yang berbeda-beda, pertama aroma wine dan kedua aroma Choco atau cokelat. Aroma wine diperoleh dari metode roasting, disebut dengan metode honey process yaitu pada masa penjemuran biji kopi, kulit tandunya tidak dikelupas. Hal ini dimaksudkan agar dapat menyerap glukosa. Sementara untuk roastingnya sendiri dengan cara pengaturan suhu, sehingga menghasilkan aroma tertentu. Wajar saat saya mencium roasternya, tidak berbau gosong. Kata kunci dari aroma wine ini  Fruity like grave biter dark choco sweet like honey clean after taste.

Sedangkan aroma choco pada dasarnya metode penjemuran dan roastingnya sama hanya pengaturan suhu yang berbeda dengan penghasil aroma wine. Kata kunci dari aroma Choco adalah Acidity like strawberry sweet  like dry strawberry medium hight chocolate  aroma and taste.

Alhasil, ngopi di @masterblackcoffee bukanya hanya bisa berlama-lama nongkrong sambil ngopi, juga bisa mendapatkan ilmu tentang kopi. Setelah teredukasi tentang V60 dengan rasa nendang dan tipis dengan tingkat keasaman yang halus, next time harus teredukasi dengan jenis kopi lain agar tidak ‘gaptek’.

Kapan Pak ke kedai lagi? Sebuah pesan bbm masuk. Belum ada rencana, yang pasti jika melawat Garut lagi, harus mencoba olahan kopi ala @masterblackcoffee***[]


Reblog dari blogar.co yang telah tiada :)

note: masterblackcoffee awalnya bertempat di Jalan Merdeka, tapi sekarang entah! Wisata Edukasi Kopi Garut.

Read More

15.4.18

Menikmati Kopi Sanger di W@reh Kupie


Penampakan Kopi Sanger buihnya kasar tapi rasanya smooth
Hari sabtu kerja? Malam minggu masih ngampus? Hmmm sudah biasa! Tinggal gimana menikmatinya aja sih. Tapi tentu saja itu dilakukan karena di kota sendiri dengan suasana yang sudah terbiasa, yang setiap minggunya pasti terulang.

Tapi….

Apakah mau melewatkan malam minggu di kampung orang hanya dengan menjadi kupu-kupu hotel? Kuli pulang – kuli pulang ke hotel, lalu tidur, besoknya nguli lagi? Tentu saja enggak kan?!

Sementara teman-teman yang merasa lebih muda memilih memisahkan diri untuk ngemall dan mencari tongkrongan, saya ikut saja bapak-bapak yang sudah pada matang dengan jiwa mudanya yang masih bergejolak hehehe…maksudnya ikut pulang ke hotel. Biasa, di tempat kerja selalu membiasakan diri untuk taat amir alias pemimpin rombongan hehehe…

Saat kendaraan melaju, tiba-tiba saja sang kumendan – bukan amir, spontan ngajak cari makan di luar hotel. Artinyaaa? Ini tentu saja kalimat tersirat menikmati malam mingguan di negeri orang, jiwa muda tersalurkan biar usia bukan lagi kepala 2....

Awalnya saat mencari tongkrongan dan ngopi kendaraan yang kami tumpangi mengarah ke Mr. Brewok Dining Room, Jalan Sudirman Pekanbaru. Sayang, rupanya kendaraan melaju lebih tepat dibandingkan dengan arahan mister google maps yang katanya 15 menit lagi, padahal taunya lokasi yang kami tuju sudah terlewat beberapa ratus meter hingga akhirnya kami harus memutar arah.

Saya sudah membayangkan mendapatkan tempat yang nyaman, bersih, dan harga terjangkau dengan wifi kencang. Namun saat berbelok arah, tiba-tiba seorang teman teriak, eh itu apa Wareh kopi? Saya pun langsung menengok, tampak kendaraan roda dua dan empat sudah berjejer, dengan lampu biru membelit pohon di depan tempat parkir.

Wareh Kupie, ramai luar dalam...

“Yuk kesitu aja, sepertinya enak buat nongkrong, udah pak disitu aja!” pinta saya…

Dan akhirnya kendaraan langsung dibelokkan ke tempat parkir berpasir putih.

Ternyata saat masuk ke dalam W@reh Kupie, hampir semua termpat duduk sudah terisi, yang kosongpun sudah reserved. Kami kebagian tempat paling pinggir yang sempit dengan meja kecil. Setelah saya duduk, tiba-tiba pramusaji mengarahkan kami ke tempat yang sudah reserved dengan ruangan lebih privat dan meja cukup lebar, sekalipun untuk digunakan sebagai meja kerja 4 orang.

“Menu favoritnya apa?” tanya kumendan.

“Kopi Sanger pak,” jawab pramusaji.

“Apa itu Kopi Sanger?” kumendan tanya lagi.

“Itu kopi aceh tambah creamer,” jawabnya

Saya penasaran, karena selama ini saya selalu ngopi Arabica Gayo untuk meminimalisir gangguan lambung, lalu saya tanya,”Itu kopi Arabica bukan? Tanya saya.
pembuka menu, kopi sanger dan ketang goreng

“Bukan, itu kopi Aceh bukan Arabica,” ujar pramusaji…

Ya sudah, dalam hati saya mending coba, daripada penasaran apakah Kopi Sanger itu varian Arabica atau Robusta, akhirnya saya pesan, 2 teman lain pun pesan kopi yang sama. Sebagai menu favorit, ternyata meja sebelahnya juga memesan Kopi Sanger.

Dengan buihnya yang kasar, saya curiga kalau itu bukan kopi Arabica, saya cium, baunya seperti wangi kopi hangus, “Ini sih Robusta, “ ucap saya dalam hati. Dan benar saja setelah saya sruput, aroma itu tidak jauh dari jenisnya, Robusta—agak pahit-pahit dikit, tapi justeru disitulah rasa nikmatnya muncul. Kopi Sanger punya taste-nya sendiri.

Kopi Sanger dibuat dengan sedikit susu, sehingga rasa kopi pahitnya lebih kerasa. Persis seperti yang sering saya buat menggunakan Vietnam drip dengan bahan Arabica Gayo, hanya saja jika Arabica rada asem, Sanger terasa lebih pahit. Bagi yang suka kopi, dua-duanya punya taste masing-masing.

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari berbagai situs, Kopi Sanger adalah kopi khas Aceh dan menjadi jenis menu kopi favorit. Sanger dihasilkan dari gilingan kopi yang kasar.

Awalnya memang kopi Sanger dibuat dari Robusta, seperti yang saya minum menggunakan jenis tersebut. Sanger sendiri merupakan kependekan dari ‘sama-sama ngerti’ bukan ‘SANGE’ loh ya hehehe…konon terinspirasi gara-gara harga kopi susu mahal. Apalagi dengan jenis kopi Arabica. Maka ya dari sisi harga, mencoba kopi khas Aceh ini di W@reh Kupie hanya mengeluarkan kocek 10.000,- saja untuk satu gelasnya.
menikmati makanan khas Aceh di Pekanbaru W@reh Kupie

Sambil ngeblog on the spot demi update blog sebulan sekali, Kopi Sanger saya nikmati bersama sepiring kentang goreng. Demi merasakan panasnya  kopi, saya seruput cepat-cepat. Saat tulisan ini menjelang tuntas, perut saya lapar, akhirnya pesan nasi goreng seafood. Dan makanan penutup berat ini melengkapi kenikmatan santap malam di Pekanbaru yang baru saja saya jejak.***[] 

Read More

14.10.17

Kopi dan Buku

Sebuah kiriman dibagikan oleh Dudi R (@abahraka) pada

Setiap membaca buku, seringkali rasa kantuk datang. Padahal buku yang harus dibaca adalah buku yang cukup menarik untuk dilahap. Alhasil, menjadi cara yang disadari, jika ingin mengundang kantuk adalah membawa buku ke tempat tidur, agar tidak mesti lagi pindah tempat. Ini seakan menjadi kebiasaan sejak SMA dan kuliah.

Namun seiring pekerjaan yang harus sering berjibaku dengan buku, termasuk buku-buku yang seringkali tidak menarik untuk dibaca, karena tuntutan pekerjaan, mau tidak mau harus berteman dengan buku. Sayang sejak kuliah, maag seperti menjadi penghalang agar mata ini tetap terjaga. Penyakit maag yang kronis menjadi phobia saat berhadapan dengan kopi. Padahal kopi bisa menyegarkan konsentrasi dan membantu agar tetap fokus.

Belakangan, muncul iklan “kopi putih” di televisi yang katanya aman bagi lambung, saya pun mencoba beberapa kali dan saya coba juga kopi hitamnya dari brand yang sama. Pertama dengan kopi putih, tidak menyelesaikan persoalan, setiap setengah gelas habis saya teguk, masalah mulai datang, perut mulai gemetaran hingga akhirnya turun ke lutut alias salatri. Ini artinya bahwa walaupun sudah makan, perut ini meminta kembali untuk diganjal dengan makanan cukup berat.

Saya coba dengan brand kopi hitamnya. Beberapa kali mencoba, memang cukup segar. Tetapi setelah seminggu mengkonsumsi dengan masalah yang bisa diminimalisir. Persoalan baru datang. Saya stress berhadapan dengan jenis nasi dan makanan lain. Sampai-sampai ketika lapar akhirnya malah tambah stress karena hampir dipastikan tidak akan ada asupan makanan. Entah berasal dari kopi hitam atau bukan, yang jelas saat stok kopinya habis, sedikit-demi sedikit, tingkat stress saat menghadapi nasi mulai berkurang dan kembali seperti semula lagi, alias rewog.

Kopi pun menjadi phobia, kopi jenis apapun, terlebih lagi kopi hitam dari jenis sobek. Mencium aromanya saja dari kebulnya, kepala ini sudah pusing dan perut mual.  Alhasil, hanya bisa iri dengan teman-teman yang bisa asyik menikmati secangkir kopi, apalagi dengan rokok di tangan. Sepertinya surga dunia banget.

Ya phobia dengan kopi! Bukan sesuatu yang patut dibanggakan, bahkan merasa tidak sempurna menjadi makhluk sosial karena tidak bisa bersosialisasi dengan secangkir kopi. Padahal tagline sebuah warung kopi di kawasan Gading Tutuka Dari Ngopi Jadi Dulur. Apakah saya tidak bisa menjali pertemanan dengan perantara secangkir kopi? Karena dengan sebatang rokok sudah mulai dikurangi!

Karena phobia, beberapa kopi hasil mahugi hanya menjadi pajangan dalam toples dan sebagian entah sudah berapa gram jadi milik tetangga dan saudara. Sebelum akhirnya tahu bahwa kopi-kopi yang menyebabkan tingginya asam lambung saat mengkonsumsi kopi bukan dari kopi sendiri tapi dari bahan kimia yang menjadi campuran kopi.

Pada 2015 tanpa sengaja mampir di sebuah warung kopi di bilangan Merdeka Garut. Masterblackcoffee. Di Garut, cafe-cafe sudah mulai menjamur dengan menyediakan berbagai aneka makanan berat dan camilan ringan plus yang tidak ketinggalan adalah kopi.

Dari hasil nongkrong tersebut dan dengan ragu-ragu memesan kopi dengan kadar yang minim. Momentum silaturahmi dengan beberapa mahasiswa tersebut yang membukakan wawasan saya tentang kopi, hingga akhirnya saya tulis menjadi semacam feature tentang kopi. Ini tulisannya: Kopi Garut.
Saya tidak hanya mengenal jenis kopi yang secara general terbagi dua; robusta dan arabica. Saya juga mengenal bagaimana roasting atau penyangraiannya. Saya juga kenal rasanya. Bagaimana robusta dan arabica. Sejak saat itu, kopi hasil mahugi yang masih awet dalam toples saya coba seduh. Kopi Aceh. Terkenal enaknya. Kebetulan saat gathering dengan salah satu brang pengiriman kilat, sang manager bicara tentang kopi. Saya coba metodenya. Cukup berhasil. Melalui satu seduhan dengan metode yang saya lakukan ternyata tidak membuat perut gemeteran ataupun lutut menjadi lemes.

Satu kali dua kali tiga kali, akhirnya 200 gram kopi dalam toples habis juga. Tanpa menyisakan sakit perut atau lapar yang mendadak seperti sebelum-sebelumnya. Tidak juga muncul rasa gelisah karena perut menjadi panas.

Tulisan tentang kopi aman bagi penderita maag: Tips Ngopi bagi Penderita Maag. 

Dari pengetahuan sedikit tentang kopi, banyak ngobrol tentang kopi. Tahu sedikit bahwa kopi sobek banyak campuran termasuk bahan kimia, walaupun dalam batas normal sehingga membuat lambung tidak nyaman. Salah satu cirinya adalah saat kita buang air kecil, bau air seninya seperti bau kopi yang kita minum. Bisa dibuktikan! Minum satu gelas kopi putih dari brand apapun, saat buang air kecil baunya menyerupai aroma kopi.

Dari pengalaman minum kopi tubruk tersebut, mengantarkan pada pencarian pengetahuan tentang kopi lagi. Bukan hanya sekedar menikmati tapi juga menjadi semacam obat agar setiap kali berjibaku dengan buku bukan rasa kantuk yang saya dapat, tapi konsentrasi dan rasa percaya diri!

Al hasil sejak bertemu dengan barista masterblackcoffee itulah tahu, entah jadi sugesti, kini menjadi penikmat arabica. Robusta pun tidak menjadi masalah selagi disajikan dengan cara sendiri hehehe. Jika pun harus pesan di warung khusus kopi (bukan warung indomie) asal sesuai dengan permintaan, sepertinya tidak terlalu bermasalah dengan perut.

Kini, kopi bukan soal gaya hidup, karena percuma disajikan dengan tingkat seni yang tinggi dan mahal jika akhirnya harus berjibaku dengan perut yang mulai nendang-nendang karena lapar mendadak atau ngajak pulang karena gemeteran. Kopi adalah soal kerja keras, soal konsentrasi, dan tentu menjadi masa depan. Karena beberapa kulian dan atau sampingan selalu berjibaku dengan buku. Kopi kini menjadi teman baru yang bisa melengkapi saat harus membuka lembaran-lembaran buku. Bahkan buku yang sama sekali tidak disukaipun.

Kopi dan buku kini menjadi paket lengkap agar bisa berkencan di malam minggu, saat sesekali anak dan isteri lebih memilih beristirahat.

Kopi dan buku, bukan gaya hidup. Tapi bagaimana soal bisa menikmati pekerjaan tanpa harus berlelah-lelah. Kopi dan buku bukan soal pamer di media sosial, tapi bagaimana keduanya bisa menjadi teman agar cita-cita yang belum kesampaian bisa diwujudkan. Dan tentu saja dengan tetap berharap bahwa perutku baik-baik saja.


Read More

14.11.15

Tips Ngopi Bagi Penderita Maag


Ilustrasi: Festival Kopi Jabar, foto @abahraka
Penderita maag akut pastinya menghindari minum kopi kan? Jangankan meminumnya, mencium aromanya saja perut sudah terasa mual. Setidaknya hal itulah yang sering dirasakan penulis saat mencium aroma kopi, khususnya kopi hitam. Padahal kopi pada jam-jam tertentu bisa menyegarkan badan. Apalagi bagi perokok, merokok tanpa ditemani kopi panas rasanya seperti sayur tanpa Garam.
Sungguh menderita, di saat orang-orang bisa menikmati kopi saat udara-udara tertentu, saya hanya bisa merasakan nikmatnya orang lain yang menikmatinya. Pada akhirnya digantilah dengan minuman lain biar tidak terlalu merasa Oon bin boloho.

Baru setelah ada Luwak White Coffee, dimana salah satu iklannya itu, kalo tidak salah menyimpulkan aman bagi penderita maag, atau kadar asamnya rendah, saya memberanikan diri untuk menikmati kopi yang berasal dari kotoran binatang tersebut. Walaupun prokontra apakah halal atau tidak, dan jika dibayangimajinasikan, rasanya jijik juga kita meminum kopi yang bijinya berasal dari kotoran binatang.

Namun, bagaimana pun kopi luwak adalah salah satu kopi terbaik yang dihasilkan Indonesia. Orang-orang beken aja minum kopi luwak masa saya sendirian yang jijik. Apalagi setelah diproses dengan sangat hati-hati dan bersih. Akhirnya mencoba minum Luwak White Coffee. Aha, ternyata mual dan kembungnya bisa diantisipasi dengan kopi luwak tersebut. Hanya saja, setelah beberapa kali menyeduh luwak white coffee, ternyata tidak bisa diminum dalam keadaan dingin. Ketika kopi tersebut dingin, perut langsung merasa lapar dan gemetaran. Begitu juga saat menyeduh kopi luwak hitam, tidak jauh beda.

Kembali, lidah ini tidak bisa merasakan nikmatnya ngopi—kopi apapun—termasuk kopi luwak.

Belakangan, walaupun asam lambung dalam perut ini tidak pernah berkurang, saat saya menawari kopi pada teman, ternyata ia juga menderita maag, namun karena sedang butuh tenaga ekstra, ia membutuhkan suplemen, kopi jadi pilihan. “Biar bisa mengurangi zat asam, kopi dan gula diaduk lebih mendekati diulek,”entah benar atau tidak tapi yang jelas saya mencobanya, dan lumayan berpengaruh.

Berikut beberapa tips agar bisa ngopi tanpa terganggu asam lambungnya sesuai dengan pengalaman pribadi:

Pertama. Ngopilah sesekali saja, jangan dijadikan sebagai kebutuhan, baik kopi hitam atau pun kopi campuran. Ngopi sesuai kebutuhan saja tidak berdasarkan keinginan. Karena bagaimana pun kopi dengan rendah akan zat asam, tetap saja bisa berpengaruh jika terlalu sering.

Kedua. Pilih jenis kopi arabika, bukan kopi robusta. Kopi arabika memang sedikit lebih mahal dibandingkan dengan robusta karena proses dari mulai penanaman hingga roastingnya cukup teliti dan spesial. Tulisan ini pernah saya tulis di situs blogar.co saat saya berkunjung ke @MasterBlackCoffee silahkan klik link INI.

Ketiga. Kopi arabika, bisa didapatkan di cafe-cafe. Seperti penuturan Risan dalam tulisan link di atas. Wajar jika kopi di cafe cenderung ‘sangat’ mahal dibandingkan kopi di warung kopi biasa. Pengalaman saya juga, beberapa kali ngopi di cafe, seduhan kopinya cukup bersahabat dengan perut.

Keempat. Seduhlah kopi hitam (jika kopi hitam) denga air mendidih tidak dengan air dari galon yang tidak mendidih walaupun panas. Entahlah, mungkin tingkat kepanasan bisa menghilangkan sedikit zat asam atau tidak. Namun yang jelas, saat saya mengetahui bahwa minum kopi dalam keadaan dingin, perut akan terasa mual atau kembung. Oleh karena itu untuk memastikan kopi diseduh dengan air mendidih saya selalu menyeduh kopi sendiri. Bukan hanya menghilangkan rasa permusuhan kopi terhadap perut saya, tapi juga kopi buatan saya dengan metode yang saya lakukan membuat isteri saya juga ketagihan.

Kelima. Jangan biarkan kopi sampai dingin. Minumlah kopi dalam keadaan panas atau minimal pada saat masih hangat-hangatnya.


Keenam. Usahakan saat ngopi perut sudah terlebih dahulu terisi makanan lain. Misalnya sarapan dulu, atau 1-2 jam setelah makan. 

Ketujuh. Mengulang pernyataan di atas, kopi dan gula harus sedikit diulek biarpun hanya menggunakan sendok. Setelah kopi dan gula berada dalam gelas, uleklah dan tuangkan air yang baru mendidih.

Metode di atas selalu saya lakukan jika saya hendak menyeduh kopi. Alhamdulillah seduhan kopinya cukup bersahabat. Tidak kembung ataupun mual. Saya juga bisa menikmati kopinya seperti orang lain. Bahkan tidak lagi banci karena bisa menyeduh kopi hitam dengan nikmatnya.

Semoga bermanfaat.

Read More