Showing posts with label Media. Show all posts
Showing posts with label Media. Show all posts

5.1.21

Tanggung Jawab Sosial Media

sumber: NUOnline

Indonesia (masih) sedang darurat menghadapi Corona. Persebarannya selama beberapa hari terakhir menunjukkan percepatan yang signifikan, alih-alih melambat karena telah dilakukan social distancing. Setiap hari selalu ada pembaharuan data, baik dari lembaga pemerintah ataupun media. Setiap lembaga sosial memberikan tips untuk pencegahan. Setiap orang saling memberikan support dan wejangan. Namun tidak sedikit juga yang panik gara-gara bertebaran beragam informasi tentang Corona.


Salah satunya, informasi yang beredar melalui grup WhatsApp Netizen (PRFM), tentang catatan seorang dokter pada laman media sosialnya. Isinya selain curhat, sang dokter juga mengungkapkan data-data real terinfeksi Corona, di luar data resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Saat artikel ini ditulis (19/03/2020), saya konfirmasi ke nomor WhatsApp sang dokter, namun tidak berjawab. Anggota Grup sudah mulai ada yang waswas.


Hal serupa terjadi dalam grup WhatsApp lain, menyebarkan konten informasi sama yang belum terkonfirmasi kebenarannya, dengan kasus rujukan tautan berbeda. Jika Grup satu bersumber dari sebuah blog. Grup lain berasal dari media online nasional terverifikasi Dewan Pers. Media tersebut menyebarkan berita yang belum terkonfirmasi kebenarannya. Karena dalam grup instan massager tersebut terdapat salah satu redaktur media online, lalu saya tanya, kenapa tidak diangkat pada medianya. Ia memberikan jawaban bijak, “berita seperti ini tidak akan diangkat karena membuat panik warga.”


Beberapa media mainstream menjadikan isu Corona sebagai komodifikasi. Overdosis informasi tentang corona menyebabkan warga panik. Apalagi saat media online terverifikasi Dewan Pers menjadikan curhatan sebagai berita. Tanpa ada konfirmasi dari sumber bersangkutan. Tanpa melakukan kroscek terhadap sumber lain. Media tersebut juga tidak melakukan jurnalisme data yang membanding-bandingkan dengan data yang ada dalam sistem big data. Ia hanya menyalin dan dijadikan berita. Lalu dimana tanggung jawab media, dimana disiplin verifikasi yang seharusnya dilakukan media, dimana keberimbangan berita yang seharusnya menjadi basis pemberitaan.


Peran Warga

Overdosis informasi menjadi kelumrahan di era digital. Hal ini karena setiap orang merasa memiliki hak sama dengan media mainstream untuk berbagi informasi terkini. Para penyebar informasi juga datang dari media personal yang diportalisasi, atau blog dengan domain level utama dan blog dengan domain penyedia jasa (CMS), sampai akun jejaring sosial dengan jumlah fanbase fantastis dan dengan jumlah pertemanan hanya puluhan.


Era digital Setiap orang dimudahkan oleh beragam aplikasi. Kemudahan ini menjadikan berbagi informasi sebagai keniscayaan, bahkan telah mengarah fear of missing out—tidak ingin melewatkan untuk berbagi informasi apapun. Setiap informasi yang beredar dianggap telah given kebenarannya. Kondisi inilah yang menyebabkan kecenderungan terjadinya penyebaran berita yang missinformasi atau justeru disinformasi (hoax).


Oleh karena itu, setiap warga digital harus memiliki antibody terhadap serangan informasi yang sumbernya tidak jelas, kontennya tidak valid, dan wacananya meresahkan. Kita harus skeptis terhadap setiap informasi yang ada. Jangan sampai merugikan cara kita berfikir dan berpesaaan sehingga meresahkan kita sendiri.


Padahal, setiap orang bisa secara mandiri menentukan informasi yang dianggap bermanfaat dan menyeleksinya sesuai kebutuhan atau mengabaikan informasi yang meresahkan kita anggap disinformasi. Kita dapat menjadi agen mandiri informasi dengan melakukan literasi terhadapnya; cek beritanya berasal dari mana, terverifikasikah media tempat publikasinya, terpercayakan sumber rujukannya, apakah judul dengan isi relevan, apakah kontennya masuk akal, atau validkah berita tersebut. Jika semua telah dikroscek dan memenuhi kriteria literasi, beritanya bermanfaat dan memberikan motivasi dan harapan, kita bisa bagikan. Namun jika sebaliknya, alangkah baiknya berita tersebut kita abaikan. Meminjam istilah kekinian dari dr. Gia Pratama melalui novelnya, cukup Berhenti di Kamu.


Melakukan hal tersebut, menjadi bagian dari solusi agar perilaku kita tidak memperburuk keadaan. Minimal jika kita tidak ambil bagian dalam proses aksi pemberantasan Corona,  kita tidak ikut bagian meresahkan masyarakat dengan menyebarkan berita yang tidak jelas sumber dan verifikasinya. Karena tidak setiap orang bersikap skeptis terhadap setiap informasi. Informasi-informasi tersebut sebagiannya dicerna mentah-mentah karena akses dan kemampuan literasi yang minim.


Tanggung Jawab Media

Walaupun telah banyak informasi yang beredar dari beragam institusi melalui situsnya atau personal ahli di bidangnya. Media tetap dibutuhkan kehadirannya oleh masyarakat. Media tetap harus menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya dalam memberikan informasi yang kredibel, valid, dan solutif bagi masyarakat. Alih-alih meresahkan karena mengejar tiras, rating, rangking, dan klik.


Bagi Bapak Jurnalisme Dunia, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku Blur, How to Know What’s True in The Age of Information Overload (2010), kehadiran media diperlukan untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh masyarakat dalam proses moderasi dan kurasi berita. Media diperlukan untuk melakukan autentifikasi berita. Menjelaskan dengan fakta dan bukti tentang berita yang layak dipercaya. Media juga dibutuhkan masyarakat untuk merasionalisasikan lalu lintas informasi.


Kita tahu bahwa overload informasi membuat masyarakat kehilangan keseimbangan dalam menentukan mana berita yang benar dan masuk akal dan mana berita yang bohong. Sehingga seringkali masyarakat menjadi korban kebiadaban disinformasi  yang menyebabkan mereka terkena pasal UU ITE karena menyebarkan berita bohong. Oleh karena itu, kata Bill Kovach dan Rosenstiel, media harus mampu menjadi sense maker. They must look for information that is of value, not just new, and present it in a way so we make sense of it ourselves. Media harus mencari informasi yang bernilai, bukan hanya yang baru, dan menyajikannya sedemikian rupa sehingga masyarakat memahaminya sendiri.


Jika masyarakat masih kesulitan memanfaatkan big data untuk keperluan literasi informasi, maka di sinilah tanggung jawab dan fungsi media. Kovach dan Rosenstiel bilang, media harus menjadi smart agregator. Media harus mampu mengarahkan informasinya ke sumber-sumber yang layak dipercaya. Sehingga dapat menghemat waktu pembaca dalam menelusuri sumber-sumber penting dan kredibel yang dijadikan rujukan oleh media.


Sebagian masyarakat masih belum memahami media-media yang layak dijadikan sebagai sumber rujukan. Bagi awam, informasi yang ditampilkan pada portal, web perusahaan, atau blog-blog dengan domain tingkat utama, tidak ada bedanya, sehingga berita-berita yang disampaikan dianggap terpercaya. Padahal tidak selalu demikian, dengan tujuan monetisasi, seringkali media berbasis weblog melakukan manipulasi fakta dan data, melalui judul-judul yang bombastik.  Sehingga media arus utama harus menjadi role model bagi siapapun.


Media Harus tetap menjadi panutan masyarakat sebagai rujukan informasi yang terpecaya dan solutif. Sehingga di tengah persoalan seperti sekarang, media tidak memperparah keadaan. Bukan  menjadikan keadaan sebagai komoditas, dengan menjadikan informasi yang belum terverifikasi menjadi berita demi mendulang klik. Justeru, kehadiran media tetap diperlukan agar masyarakat tetap waspada tanpa harus panik. Semoga.***[Dudi Rustandi/ @abahraka]

Read More

1.1.14

KPK dan Media

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  menjadi lembaga antirasuah yang ‘kebal hukum’/ superbody dengan tingkat kredibilitas tinggi. Pencapaian tersebut tidak didapat dengan proses instan dan mudah, tetapi melalui proses berdarah-darah. Proses menjadikan KPK sebagai lembaga bersih dan antibodi sangat penjang dan melelahkan. Saat pelaku koruptor dicaci massa dan dijebloskan ke penjara, dua petinggi KPK justeru mendapatkan dukungan massa. Kasus yang menimpa Chandra Hamzah dan Bibit Waluyo justeru dinilai sebagai upaya Kriminalisasi kepolisian terhadap mereka, hingga muncul istilah Cicak VS Buaya. Dukungan terhadap keduanya pun semakin menguat, hingga akhirnya dibebaskan. Saat dukungan terhadap KPK semakin menguat, terhadap kepolisian sebaliknya. Begitu pula, saat rencana pembangunan gedung DPR dicemooh rakyat, KPK justreru mendapatkan dukungan penuh plus sumbangan dana dari masyarakat untuk membangun gedung baru. Belum lagi upaya pemandulan wewenang KPK melalui revisi UU yang pada akhirnya batal.

Kasus di atas hanya sebagian kecil cobaan yang dihadapi KPK. Lembaga yang dibentuk saat pemerintahan dipimpin Megawati tersebut berhasil melewatinya. KPK menjadi lembaga paling bersih dimata publik dibandingkan dengan lembaga lainnya. Publik begitu antusias mendukung KPK setiap kali KPK berhadapan dengan masalah-masalah yang akan mengebirinya. 


Dukungan publik tidak serta merta datang langsung kepada KPK tetapi melalui proses pembantukan Opini Publik. Media memiliki peran vital dalam proses pembentukan opini publik tersebut. Dengan kata lain, media menjadi bodiguard utama KPK di luar dirinya agar ia mampu menjalankan tugas dan fungsinya dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Melalui arah dan agenda setting yang diperankan, media mampu mengkonstruksi persepsi masyarakat tentang KPK.  Walaupun menurut survei Lembaga Survei Indonesia, pada tahun 2011 KPK tidak lebih bersih dari Polri (detiknews/ 2012), tetapi persepsi publik kadung menganggap bahwa KPK adalah lembaga yang memiliki kredibilitas tinggi dalam memberantas korupsi di Indonesia dibandingkan dengan lembaga hukum lainnya. Ini adalah persepsi yang berhasil dibangun media melalui pembentukan opini publik. Dalam proses komunikasi massa, opini publik mampu mengubah persepsi secara evolutif ataupun revolutif. Persepsi sendiri merupakan buah dari komunikasi. Ialah yang menjadi tujuan kognitif dari komunikasi. Integritas KPK menjadi buah persepi masyarakat yang berhasil dibangun oleh media yang mendatangkan dukungan kuat dari publik.


Kekuatan Publik
Apa yang telah dicapai KPK melalui media belakangan dicederai sendiri oleh lembaga superbody tersebut. Menurut informasi yang dihimpun Pikiran Rakyat (26/11/2013), awak media memboikot konferensi pers bersama para awak media. Pemboikotan dilakukan karena KPK dinilai telah melakukan diskriminasi hukum terhadap Wakil Presiden Boediono. KPK dinilai tidak transparan terhadap pemeriksaan yang dilakukan kepada mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut. Ini menjadi indikasi, bahwa KPK dianggap berperilaku tidak baik dimata awak media. Ini juga menandakan adanya hubungan yang tidak harmonis antara media dengan KPK. Jika ini terus berlanjut, maka dukungan media terhadap KPK bisa mundur secara teratur. Media akhirnya dapat menjadi boomerang bagi KPK dan berbalik arah menghantam KPK. 


Jika opini publik tentang  integritas KPK menurun, dukungan publik akan ikut menurun. KPK hanya tinggal menunggu waktu tindakan apa yang akan dilakukan publik. Inipula yang terjadi terhadap beberapa kasus sosial dan hukum di Indonesia, kekuata publik mampu menolak, meruntuhkan, membantu, membatalkan, atau bahkan menghancurkan. Publik menolak keras penyelenggaraan miss world di Bogor hingga akhirnya penyelenggaraannya dikonsentrasikan di Bali, konon pihak penyelenggara merugi gara-gara pemindahan ini. Prita akhirnya terbebas dari hukuman, dan publik balik ‘menghukum’ RS Omni. Begitu juga AAL, dikembalikan ke orang tuanya gara-gara mencuri sendal walaupun divonis bersalah. Semua peristiwa berbeda tersebut mengandalkan kekuatan publik. Melalui kekuatan AAL dan Prita terbebas atau setidaknya tidak dipenjara. Melalui kekuatan publik, event internasional yang dianggap merusak budaya bangsa batal atau setidaknya tidak diselenggarakan ditempat tertentu. Dalam domain yang lebih besar, kekuatan Negara pun bisa hancur jika tidak memenuhi hajat publik. Tengok saja Indonesia pada tahun 1998, belakangan Tunisia, Mesir, dan Libya di Timur Tengah. Kekuatan publik pada akhirnya yang menumbangkan rezim yang sedang berkuasa.


Kasus pemboikotan konferensi pers oleh wartawan terhadap pimpinan KPK, jika berlanjut dapat membentuk opini publik yang mengarah pada penilaian bahwa KPK ciut saat berhadapan dengan Wapres. KPK juga akan dianggap telah melakukan diskriminasi hukum terhadap pejabat. Belum lagi isu lain tentang ketidakkompakan pimpinan KPK yang telah berhembus cukup lama. Jika opini ini terus menggelembung, lambat laun akan terbentuk opini bahwa KPK bukan lagi lembaga yang memiliki integritas dan kredibilitas. KPK akan dianggap tidak sanggup menjalankan peran dan fungsinya secara maksimal. Sebagai lembaga publik yang diberikan wewenang untuk mengontrol lembaga atau pejabat dalam menggunakan dana masyarakat, KPK harus terhindar dari isu-isu yang dapat mencederai dirinya. KPK harus bersih dari segala kepentingan yang dapat mencederai kepentingan publik. Sedikit saja menyimpang dan diketahui publik secara massif, riwayat eksistensi KPK akan tamat.
 

Bersahabat dengan Media
Bersahabat dengan media sama artinya bersahabat dengan publik. Apa yang disampaikan oleh media menjadi cermin dari suara publik. Walaupun dalam konteks konglomerasi, media ikut berpolitik dengan kepentingannya, namun dalam kontek bahwa media sebagai salah satu institusi publik masih dianggap dapat mewakili suara publik. Suara media adalah suara publik dan suara publik tercermin dalam suara media. Hubungan tersebut akan terus berjalan selama media menjalankan peran dan fungsinya sebagai lembaga yang menjadi corong kepentingan publik. 

Pada era demokratisasi dan kebebasan pers dewasa ini, relasi antara lembaga Negara dengan media menjadi keniscayaan. Lembaga negara harus mampu mengomunikasikan visi misi dan kebijakan programnya secara efektif terhadap media. Hal ini untuk mengantisipasi kesalahafahaman dalam memahami setiap kebijakan yang ada, pun terhadap kebijakan saat KPK memeriksa Wapres di Rumah Dinasnya pada hari yang tidak biasa (libur). Teringat dengan pepatah sunda, hade ku omong goreng ku omong. Baik buruknya informasi seharusnya disampaikan oleh media agar awak media mampu menyampaikan informasi secara akurat kepada publik, sehingga proses penyampaian informasi kepada publik juga tidak macam-macam. Inilah yang harus disadari oleh KPK. KPK terlalu disayang publik dan diharapkan perannya tidak mengecewakan publik. Sehingga setiap informasi sekecil apapun tidak selayaknya dipermainkan agar tidak salah persepsi. Dus, berpandai-pandailah bersahabat dengan media karena ia menjadi corong publik. Media is the extension of men, begitu tesis Marshall McLuhan.


Dudi Rustandi, bergiat sebagai peneliti media pada Bandung Intellectual Circle (BIC)

Read More

24.10.12

Fungsi Advokasi Media

Media menunjukan kembali kekuatannya di hadapan publik. Setelah berhasil “membebaskan” beberapa orang dari jeratan kasus hukum seperti Prita, Bibit dan Chandra, Darsem, AAL, dan kasus lainnya. Senin malam, 09 Oktober 2012 media pun mampu mendorong Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersikap tegas dalam sengketa kasus korupsi simulator SIM antara Polri dengan KPK. Melalui pidatonya SBY menegaskan bahwa kasus simulator ditangani oleh KPK sementara kriminalisasi terhadap Novel Baswedan agar dihentikan terlebih dahulu untuk memberikan kesempatan kepadanya agar bisa menyelesaikan kasus-kasus yang sedang ditanganinya.

Sikap tegas ini meleset dari perkiraan beberapa intelektual fesbuker yang memprediksi bahwa presiden SBY hanya akan berani berharap saja. Terlepas dari melesetnya para pengamat dan intelektual, ada satu yang menarik perhatian, yaitu peran besar media dalam mempengaruhi sikap SBY. Jika selama ini SBY hanya menonton dan memperhatikan media, dalam kasus KPK dan  Polri ini, SBY terpengaruhi ‘provokasi’ media, baik media konvensional (media cetak dan elektronik) ataupun media baru (media online dan media sosial). Dalam konteks inilah, media menunjukan giginya sebagai the fourth estate. Seperti diberitakan Pikiran Rakyat, selama beberapa hari bahkan minggu, Harian terbesar di Jawa Barat tersebut terus mengawal perkembangan kasus perseteruan antara KPK dan Polri.

Hampir setiap media secara terus menerus menyoroti kasus korupsi simulator SIM antara KPK dan Polri. Disusul dengan rencana revisi Undang-undang KPK yang ditengarai akan mengebiri peran KPK. Pikiran Rakyat (Senin, 8 Oktober 2012) mencermati ada 15 pasal yang akan akan ditengarai melemahkan KPK. Berita ini menggelembung menjadi opini publik yang mengarah pada dukungan publik kepada KPK. Di media sosial misalnya, facebook, twitter, googleplus, atau media sosial berbasis konten kompasiana, banyak profil photo yang berganti dengan gambar tulisan ‘saveKPK’. Gerakan ini merupakan bentuk dukungan terhadap KPK sebagai lembaga penyelamat hukum di Indonesia untuk terus memerankan fungsinya sebagai lembaga yang bersih. Perannya sedemikian besar dalam menyelamatkan uang rakyat.

Kontrol Sosial
Dalam teks-teks akademik, sebagai lembaga sosial, media/ pers menjelma menjadi lembaga yang memiliki kekuatan dengan menjalankan fungsi-fungsi selain sarana informasi dan hiburan juga menjalankan fungsi persuasi, transmisi budaya, kohesi sosial, dan control sosial. Fungsi control sosial dalam kaitannya dengan kehidupan politik pemerintahan, menjelma menjadi fungsi dalam melawan kekuasaan dan kekuatan represif. Fungsi control sosial ini misalnya menjelma saat Presiden RI ke-2 berkuasa hingga presiden yang sempat disegani di Asia tersebut lengser. Pada era reformasi, fungsi kontrol sosial mampu menaklukan pemerintah saat berencana menaikan BBM pada masa pemerintahan Megawati dan Kabinet Indonesia bersatu Jilid dua beberapa bulan yang lalu.

Kontrol sosial bekerja melalui pesan-pesan yang tersebar menembus ruang yang dikemas sedemikian rupa sehingga mempengaruhi persepsi publik. Persepsi publik sebagai inti dari komunikasi menjelma menjadi opini publik. Opini inilah yang menjadi kekuatan pendorong terjadinya control sosial. Bentuk control sosial media menjadi control sosial masyarakat. Ia mampu mengubah keinginan pemerintah untuk menunda kebijakannya saat akan menaikkan BBM. Inilah wujud praxis dari teori konstruksi sosial media yang digagas oleh Peter L. Berger.
Dalam konteks perseteruan antara KPK VS Polri, media memiliki peran penting tidak hanya berhenti pada fungsi kontrol sosial atau melawan kekuasaan yang represif, namun harus berlanjut menjadi bentuk advokasi. Hal inilah yang tidak pernah tercantum dalam teks-teks akademik tentang fungsi media. Bentuk advokasi sendiri lazim dilakukan oleh organisasi nonpemerintah baik Lembaga Swadaya Masyarakat yang sekarang kita kenal dengan istilah Civil Society Organization (CSO). Ia bertujuan membangun kekuatan masyarakat untuk membela dirinya melalui pendidikan  kritis. Hal ini telah dilakukan oleh media, ia menjadi sarana pendidikan kritis dan control sosial. Namun,  tidak cukup hanya pada proses penyadaran. Advokasi media pada akhirnya harus mendamping setiap kasus hingga masalahnya selesai sesuai dengan tujuan bersama.

Keberpihakan Media
Berkaitan dengan kasus di atas, lantas bagaimana dengan posisi media yang harus selalu menjunjung independensi?. Independensi media terletak pada keberpihakannya terhadap kebenaran. Kebenaran menjadi elemen kunci dalam pelaporan jurnalistik. Seperti diungkapkan oleh Bapak Jurnalisme Bill Kovach dalam bukunya The Elemen of Journalism. Pengungkapan kebenaran tersebut, tidak hanya menjadi milik wartawan atau pencari berita, namun juga awak media yang memiliki kebijakan redaksi. Inilah sejatinya media dalam memperjuangkan kebenaran. Independensinya tetap harus berpihak. Media juga harus berpihak kepada masyarakat lemah baik lemah secara ekonomi, politik, sosial, ataupun hukum. Keberpihakan kepada kebenaran dan masyarakat lemah ini menjadi ciri khas dari bantuk advokasi.

Keberpihakan ini harus terkonsep dalam strategi advokasi mulai tujuan, pendekatan, dan target. Media sendiri dipandang memiliki semua elemen dasar dalam melakukan advokasi. Elemen tersebut menurut  Chasan Ascholani, seorang aktifis dan penulis buku New Episode of Farmer Movement in Indonesia,  terdiri dari pendanaan, afiliasi, tujuan, data, audiens, pesan, selain juga elemen yang terkait dengan manajemen yaitu evaluasi.

Sebagai sebuah industri, peran-peran tersebut tentu menjadi cukup berat bagi media, namun dengan jaringan yang dimiliki media, jika mampu mengkoordinasikan semua elemen tersebut menjadi sebuah strategi ia akan mampu mengubah kondisi sosial politik dan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat lemah. Jika hari ini KPK dianggap mewakili kebenaran dan kepentingan masyarakat. Maka media akan mengawal terus KPK sehingga rencana revisi dengan 15 pasal yang akan dilucuti DPR tidak berlanjut atau justeru berbalik dengan adanya advokasi media, beberapa pasal yang lemah justeru diperkuat. Seperti dinyatakan oleh Wakil Ketua DPR pada saat wawancara dengan Metro TV, jika rencana revisi UU KPK tersebut justeru melemahkan maka harus dihentikan. Inilah sejatinya advokasi media. Ia bergerak dari tujuan hulunya untuk membela kepentingan masyarakat, hingga ke hilirnya terciptanya Negara yang bersih dan masyarakat yang kritis serta sejahtera. Sebutan sebagai the fourth estate pun tidak sia-sia. Semoga!

Dudi Rustandi, Kepala Biro Analisis Media Bandung Intellectual Circle (BIC)
PR edisi Kamis, 11 Oktober 2012
Read More

3.10.12

Hibah Digital


Beberapa pekan lalu, tepatnya minggu kedua bulan Januari, SOPA sempat menjadi trending topic pada twitter, bukan hanya menjadi topic yang dibicarakan masyarakat dunia juga menjadi perbincangan hangat media-media nasional termasuk Harian “PR”. Pada rubric UpDate, “PR” (02/02) menurunkan artikel bahwa Rencana Undang-undang tersebut merupakan bentuk pengekangan. 

SOPA atau kependekan dari Stop Online Piracy Act merupakan rancangan Undang-undang penghentian pembajakan massal yang terjadi secara online di dunia maya. Jika SOPA tersebut diberlakukan maka kita akan kesulitan untuk mengunduh berbagai file-file yang diperuntukan secara gratis oleh penyedia layanan tersebut, sebut saja Youtube. Para creator juga akan sulit untuk sekedar berbagi file-file hasil kreatifitasnya sehingga aktifitas sharing dan connecting menjadi hilang.

Alasan inilah yang mengundang protes sejumlah perusahaan yang berbasis penyediaan konten gratis, seperti google, facebook dan Wikipedia yang bergerak pada layanan konten terbuka secara gratis. Dengan hilangnya kegiatan sharing dan connecting maka sebesar 30,14 % atau sebesar 2 milyar penduduk dunia akan kehilangan aktifitasnya seperti diteliti oleh Sharing Vision (“PR” edisi 02/02/2012), ia juga akan kehilangan kesempatan untuk mencerdaskan dirinya sendiri melalui aktifitasnya yang mandiri melalui dunia maya.

Abad Digital, Era Cracking Zone
Oleh sebagian manusia digital, era internet merupakan abad perayaan konten gratis. Orang bisa berbagi file apapun secara gratis dengan perantara dunia maya. Jika dahulu, untuk memasuki jendela pengetahuan dunia harus membeli eksiklopedia yang harganya ratusan ribu bahkan jutaan rupiah, tentu tidak banyak orang yang bisa membacanya, namun sejak adanya internet, Wikipedia mampu menghadirkan konten-konten pengetahuan gratis. Begitupun updating film dan lagu-lagu, kita bisa mengunduhnya secara gratis dari salah satu situs di internet dan ataupun dari Youtube. Bahkan beberapa stasiun televisi menjadikan Youtube sebagai sumber data untuk program acaranya seperti tayangan terlucu, kejadian paling aneh, tayangan paling haru, dan lain sebagainya. 

Saat penulis membutuhkan referensi buku, bisa mengunduhnya secara gratis di internet. Bahkan untuk keperluan informasi yang disampaikan oleh media cetak dalam negeri kita dapat membacanya secara gratis dalam bentuk epaper, seperti yang disediakan oleh “PR” edisi epaper. Hal serupa dilakukan oleh media cetak lain yang telah menyediakan edisi epaper-nya.

Apa yang dilakukan oleh google, Wikipedia, Youtube, dan PR epaper menunjukan bahwa era ini sebagai abad gratisan. Hal inilah yang disebut oleh Rhenald Kasali sebagai cracking zone. Dalam bukunya yang diberi judul Cracking Zone (2011), ia menyebutkan bahwa cracking zone dicirikan oleh semangat bisnis yang mengusung jargon freemium alias gratis atau mendekati gratis—alih-alih premium atau berbayar mahal. Bagi mereka yang kreatif justru bisa mendapatkan keuntungan dari yang gratis, seperti melalui pemasangan google ads di blognya. Inilah era cracking zone.

Sang Cracker, Manusia Megakreatif
Para pelaku usaha di dalam cracking zone atau disebut cracker seperti yang dimaksudkan oleh Rhenald Kasali, tidak pernah kehabisan ide untuk terus memproduksi dan memasarkan karya-karya terbaiknya. Ia selalu mencari retakan dan celah baru ditengah himpitan kompetisi. Mereka tidak akan mengeluh dan berhenti berkreatifitas walaupun pembajakan terjadi dimana-mana atau bahkan karyanya sendiri yang dibajak orang. Justeru mereka akan mencari cara bagaimana agar karya yang dibajaknya mempunyai feedback untuk dirinya. Seorang penulis akan dengan senang hati jika tulisannya dimuat di banyak situs atau pun dikutif di media cetak walaunpun namanya tidak dicantumkan, terlebih lagi jika sumber dan namanya tercantum. Ia akan dengan ikhlas membagikan kontennya dengan gratis tanpa syarat. Hal itulah sejatinya yang dilakukan oleh seorang cracker. Menjadi lampu penerang tanpa harus menjadi lilin. Meminjam istilah sahabat Sukron Abdillah, aktifitas ini disebut sebagai ‘hibah digital’.

Teringat apa yang pernah dilakukan oleh sebuah grup band Nasional dari Bandung, yaitu Coil/Koil. Band yang sudah melanglangbuana di jagat music rock metal tersebut membuat satu album yang dipasarkan secara gratis melalui media online. Bahkan satu single-nya berkolarborasi dengan Ahmad Dhani, pentolan Band Dewa. Apakah Koil mendapatkan keuntungan dari kreatifitasnya tersebut? Dalam suatu wawancara di sebuah situs, Koil mengakui bahwa keuntungannya didapatkan dari berbagai tawaran manggung dan penjualan berbagai aksesoris. Rugikah Koil dengan membagi lagunya secara gratis? Tentu saja tidak!
Hal serupa dilakukan oleh Pandji Pragiwaksono, seorang presenter dan penyanyi. Ia menyebarkan lagunya secara gratis disitusnya seperti ditulis oleh Rhenald Kasali (2011), bahkan isi lagunya sendiri menyuruh netters untuk membajak lagunya. “Kalau suka lagu ini ngga papa. Bajak aja dan bantu gue sebarkan ke seluruh negeri. Kita minta pendidikan gratis, tetapi lagu dibajak mengapa nangis?”

Baru-baru ini sutradara dan produser film Nia Dinata, akan memproduksi filmnya secara online seperti diberitakan “Pikiran Rakyat” (26/02). Walaupun tidak disebutkan apakah film tersebut akan dipasarkan secara gratis atau tidak, namun melihat semangat pelaku cracker, sepertinya film tersebut akan dipasarkan secara gratis. 

Semangat ‘hibah digital’ bahkan diformalisasikan menjadi sebuah faham baru di Swedia yaitu Kopimisme, sebuah faham yang melakukan ritual kopi mengkopi (copypaste) dan penggandaan dokumen digital (detik.com, 02/02). Ini mengindikasikan bahwa hibah digital merupakan semangat yang tidak akan pernah hilang di era revolusi informasi, bahkan di dunia konkrit pun, hibah sudah menjadi semangat baru perusahaan-perusahaan komersil dengan apa yang dikenal sebagai social enterprise atau social entrepreneurship.
["PR"/19/03/2012]
Read More

6.9.12

"Advokat" Era Digital

Setelah menjadi bulan-bulanan pengadilan, akhirnya kasus “sandal jepit” yang menimpa AAL ditutup dan AAL sendiri divonis bersalah oleh pengadilan dengan dikembalikan lagi kepada orang tuanya. “Bebas”nya AAL walaupun divonis bersalah, salah satunya didorong oleh banyaknya dukungan dari masyarakat untuk membebaskan AAL.
Jika menengok perjalanan panjang AAL sebelum akhirnya dibebaskan, salah satu peran yang tidak bisa kita pungkiri adalah adanya peran aktif media dalam melakukan advokasi terhadap AAL, seperti yang pernah terjadi pada kasus Prita dan Darsem. Advokasi yang dilakukan oleh media tidak terlepas dari peran advokat- advokat era digital.
Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003), advokat adalah ahli hukum yang berwenang sebagai penasihat atau pembela perkara di pengadilan, ia adalah seorang pengacara. seorang pengacara memiliki tugas dan fungsi untuk melakukan pembelaan atau advokasi.
Dalam konteks manusia digital, seorang advokat tidak mesti ahli hukum yang memiliki latar belakang formal sebagai pengacara yang dibayar untuk melakukan pembelaan. Ia adalah seorang “blogger” yang memiliki naluri dan nurani untuk melakukan pembelaan terhadap kaum tertindas dan lemah, baik ketika berhadapan dengan hukum, ekonomi, ataupun pendidikan.
Bagi seorang aktifis, menjadi advokat adalah melakukan berbagai upaya pembelaan terhadap orang-orang yang lemah ketika berhadapan dengan berbagai kasus tanpa melanggar aturan-aturan yang ada, dari awal kasus muncul hingga kasus selesai atau bebas dari tuntutan hukum.
Kekuatan Advokasi Berjejaring
Salah satu keuntungan bergaul dengan dunia maya adalah terhubungkannya manusia digital dari satu dunia yang satu dengan dunia lain yang sangat berbeda. Kita dapat terhubung dengan budaya yang awalnya sama sekali tidak kita kenal. Kita pun dapat terhubung (connected) dengan beragam jenis manusia, dari berbagai stratifikasi.
Berkaitan dengan kasus yang penulis sebutkan di atas, sebelum akhirnya diangkat ke mainstream media (televisi/ Koran/ media online), telah ramai dibicarakan oleh manusia-manusia digital (blogger) melalui jejaringnya masing-masing. Kekuatan pembelaan melalui jejaring mampu menularkan emosi kepada setiap blogger yang telah terhubung, diajak terhubung dan membacanya sehingga melahirkan emosi pembelaan yang baru.
Penyebaran emosi ini menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Nicholas A. Christakis dan James H. Flower di Amerika Serikat (Connected, 2010), karena pada dasarnya emosi manusia menyebar dari orang ke orang melalui dua sifat interaksi; ia memiliki kecenderungan meniru orang lain dan mengalami keadaan internal yang sama dengan orang-orang yang mempropagandakannya. Walaupun dalam kasus penelitian yang dilakukan oleh Cristakis dan James cenderung memiliki makna negatif sehingga disebut sebagai penyakit psikogenik massa ( mass psychogenic illness/ MPI), namun dalam konteks ini, penularan penyakit tersebut menjadi mujarab untuk membebaskan seseorang dari jeratan hukum.
Mass psychogenic illness dapat memberikan efek emosi yang bisa menyebar jauh dan lebih luas, melakukan pembelaan terhadap seseorang yang pantas untuk dibela mengalir melalui ikatan-ikatan jejaring sosial. Penyebaran emosi ini akan menjadi gelombang di samudera luas hubungan sosial manusia sehingga orang-orang yang terhubung dapat merasakan dan memiliki perasaan emosi yang sama dalam arus pembelaan. Dalam konteks komunikasi, sifat ini memenuhi salah satu fungsi komunikasi massa yaitu menyatukan perasaan dan sikap massa atau popular dengan kohesi sosial. Media dapat mendorong masyarakat untuk bersatu.
Karakter pembelaan dengan gelombang emosi yang sama dapat kita temukan dalam Kasus AAL. Melalui proses yang cukup panjang dan lama, advokasi itu dilakukan dari proses awal pewacanaan, seruan dan ajakan melalui berbagai macam tulisan simpatik dan advokatif hingga aksi nyata masyarakat untuk mengumpulkan sandal sebagai symbol sindiran hingga turun tangannya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Begitupun dengan kasus Prita dan Darsem. Sebuah aksi tidak mungkin terjadi tanpa adanya pewacanaan melalui tulisan simpatik. Dan inilah cikal bakal advokasi dari advokat di era digital, sebuah tunas advokasi yang disuarakan oleh para blogger melalui tulisannya. Bahkan seperti dilansir oleh “PR Print” edisi Sabtu (14/01/12), momentum advokasi terhadap AAL mendorong KPAI untuk meminta penghapusan penjara anak-anak kepada Presiden. Momentum ini tentu sedikit banyak merupakan salah satu hasil kontribusi dari advokat-advokat era digital.
Menjadi Bangsa Digital
Kasus yang terselamatkan tersebut, hanya sebagian kecil kasus-kasus yang ada. Masih banyak kasus-kasus lain yang belum mendapatkan porsi perhatian dari advokat digital, terlebih dengan kasus yang langsung dihadap-hadapkan dengan Negara karena berkaitan dengan perundang-undangan seperti kasus tanah adat yang telah memakan korban seperti terjadi di Mesuji.
Sebagai bagian dari bangsa, kita tentu memiliki nurani kebangsaan yaitu nurani yang berpihak kepada nurani rakyat kebanyakan. Budayawan Jakob Sumardjo (PR, 14/01/12) memandang bahwa eksistensi Negara saat ini dipandang tidak banyak berpihak kepada masyarakat yang menjadi bagian dari bangsa sebagai sumber kekuatan moral. Kenyataannya adalah bahwa Negara seringkali memosisikan sebagai penguasa di hadapan Bangsanya, karena rakyat seringkali menolak keputusan-keputusan yang dihasilkan oleh rapat marathon dalam menghasilkan peraturan. Rakyat seringkali tidak berkutik ketika berhadapan dengan Negara.
Dalam konteks kasus-kasus yang menghadapkan secara langsung antara masyarakat/ rakyat sebagai bagian dari bangsa dengan Negara, rupanya Negara masih belum sadar bahwa kekuatan jejaring dalam dunia maya mampu mengendorkan kekuatan Negara. Negara tidak pernah belajar ke Negara tetangga di Timur tengah bahwa kejatuhannya digerakan oleh advokat-advokat digital yang berjejaring. Negara tidak pernah sadar bahwa advokat dunia digital tidak pernah menerima suap karena ia digerakan oleh nurani kebangsaannya. Nurani para advokat digital akan tetap menyala selama Negara tidak mendengarkan bangsanya sendiri.
Dari kasus-kasus yang ada, rasanya tidak berlebihan jika memperbaiki bangsa ini bisa dengan menjadikan bangsa ini sebagai bangsa digital. Menjadikan bangsa digital berarti menyebarkan energy positif ke sesamanya melalui ruang-ruang maya agar tetap memiliki memiliki nurani kebangsaan. Karena nuranilah yang dapat menyelamatkan bangsa dari berbagai bencana moral.
“PR” 30/01/12
Read More

2.1.12

Film Dakwah, Mitos atau Realitas?

Cinta, dalam konteks apapun selalu laku dijual. Getir manisnya selalu menjadi daya tarik, getir manisnya menjadi kenangan. CInta masuk ke dalam berbagai terminology, mulai dari psikologi, sosial, komunikasi, termasuk terminology agama. Bertemunya berbagai terminology dalam menyatukan berbagai imajinasi dan visualisasi melahirkan cinta yang dimediasikan oleh Film dan tayangan sejenis dalam ontology sebuah layar. Cinta menjadi penghias yang bahkan melebihi dari substansinya sendiri.

Bangkitnya kembali film Indonesia tidak lepas dari tema cinta, sebut saja momentum itu dilakukan oleh film ‘Ada Apa Dengan Cinta’ (AADC) yang tayang tahun 1999. Ia menyumbangkan kegairahan kembali kepada sejumlah sineas film untuk meng-create film-film berkualitas. Namun kegairahan film-film tersebut mayoritas didominasi oleh film yang bertema Cinta seperti ‘Eifl I’m in Love’, ‘ yang cukup memenuhi dahaga penonton disusul dengan ‘Get Married’ dan film-film lainnya datang silih berganti menggantikan layar bioskop.

Boomingnya Film Dakwah?
Menjelang tahun 2003-2005, tidak hanya film bertema cinta murni remaja yang booming tapi juga film-film berlatar belakang religious. Setelah gagal mengangkat tema tentang sejarah ‘Sunan Kalijaga’ yang memiliki tema perjuangan dakwah dan syiar agama. Film ‘Ayat-ayat Cinta’ disebut-sebut sebagai moment kebangkitan film bertema dakwah setelah masa Nada dan Dakwah di Era 1990-an yang diperankan oleh Rhoma Irama dan KH. Zaenudin MZ.. Film ini mampu menyedot penonton mencapai 2 juta-an lebih.

Seolah ingin mendulang kesuksesan ‘Ayat-Ayat cinta’, menyusul film sejenis dengan latar yang sama, diangkat dari novel Habiburahman El-Syirazi, ‘Ketika Cinta Bertasbih’ diikuti sekuelnya, Ketika Cinta Bertasbih 2. Film ini pun ditengarai sebagai film dakwah mendulang sukses dengan capaian penonton jutaan.

Kesuksesan Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2 mendorong sang novelis untuk memproduksi filmnya sendiri. “Dalam Mihrab Cinta” pun lahir dari tangan sang novelis tersebut, latar dan alurnya hampir tidak jauh berbeda dengan film-film yang diangkat dari novel sebelumnya, konflik hubungan laki-laki dan perempuan selalu menonjol, yang membedakan diantaranya adalah alur dan seting tempat. Jika ketiga film pertamanya menggunakan seting tempat Perguruan Tinggi Mesir sementara di film terakhir yang dijadikan seting tempatnya adalah Pesantren Indonesia.

Kini muncul kembali film Dakwah sejenis, ia diangkat dari sebuah Novel Lawas karya Buya Hamka, ‘Di bawah Naungan Ka’bah’. Film inipun memanfaatkan hubungan pasangan lawan jenis sebagai bumbu yang melebihi isi. Film bertema dakwah namun lebih menonjolkan konflik hubungan lawan jenis. Hal inilah yang menarik dari film tersebut. Konflik cintanya telah menarik emosi para penonton. Inilah yang menjadi daya tarik semua film-film sejenis di atas. Menonjolkan konflik cinta lawan jenis yang kemudian dibalut symbol-simbol agama. Bahkan menjelang ajal, kedua tokoh utama dalam film tersebut, Hamid dan Zaenab, ditengarai mengalami sakit batin karena Cinta yang terpendam, seperti halnya Qais dan Laila. Tokoh Pria meninggal di bawah ka’bah dalam keadaan sakit batin mengingat Zainab. Pertanyaannya kemudian apakah ini sebagai film dakwah atau sebagai film cinta? Jika tidak cermat, kita akan terjebak bahwa film-film yang menggunakan symbol besar Islam tersebut sebagai film dakwah.

Film Dakwah Romantis sebagai Mitos Dakwah
Dakwah Romantis berjalan diantara kepentingan syi’ar dan penonjolan konflik cinta yang sering disukai oleh penonton. Sebagaimana halnya sinetron yang harus dapat menarik sebanyak mungkin penonton untuk mendapatkan iklan, tampaknya eksistensi dakwah romantic yang dimediasi oleh film belum mampu melepaskan diri dari dramatisasi kisah cinta. Cinta merupakan emosi yang laku di jual. Hal ini menjadi ciri dari budaya popular yang mendorong pola konsumtif sebagai alat dari ideology kapitalistik.

Sebagai bagian dari budaya Populer, dakwah romantis akan selalu terjebak pada kepentingan Pasar. Oleh karena itulah dalam kasus film-film dakwah Romantis, konflik cinta ditonjolkan daripada syiarnya. Jika kita tonton ‘Ema Ingin Naik Haji’ atau ‘Laskar Pelangi’, akan berbeda Jauh dengan film dengan genre ‘dakwah romantis’, film yang disebut terakhir memiliki karakter yang kuat sebagai film dakwah. Pesannya sangat nyata mengajak para penonton untuk tetap yakin dan berbuat baik.

Dengan demikian, kebesaran lembaga Pendidikan Al-Azhar Mesir dan Agungnya Ka’bah hanya dijadikan sebagai simulacrum belaka, agar tampak sebagai film dakwah. ia hanyalah negasi symbol untuk menjual ide cerita popular agar tampak nyata sebagai film religi. Inilah apa yang disebut oleh Roland Barthes sebagai mythos (1972), film bergenre drama cinta namun decoding pesannya terkesan sebagai film dakwah. Dalam pandangan Barthes, mitos didefinisikan bukan dari objek pesannya tetapi bagaimana cara menyampaikannya. Hal ini dengan jelas dapat dilihat dari beberapa film-film dakwah yang disebutkan.

Paradox Dakwah Populer
Kasus boomingnya ‘film dakwah’, creator film ‘mencuri’ symbol-simbol Islam untuk dijual. Dari mulai kerudung, bahasa arab, pesantren, lembaga dakwah hingga tempat ibadah. Kemunculan ‘bahasa’ agama tersebut secara nyata mampu menyihir pandangan penonton. Simulasi bahasa agama dalam imagy popular yang diputar secara berulang-ulang berpengaruh terhadap sifat bujukan dari film. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Willian L. River, Jay W. Jensen dan Theodore Petersen (2003) akan pengaruh media film terhadap masyarakat tidak saja terhadap perilaku namun dapat melakukan modifikasi pesan.

Modifikasi ini dapat kita cermati dalam kehidupan masyarakat, bagaimana misalnya kasus-kasus asusila yang dilakukan oleh perempuan berkerudung atau kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang yang beragama. Maki merajalelanya berbagai macam korupsi serta kekerasan diantara para pelajar dan mahasiswa kita menunjukan bahwa syiar, melalui film-film dakwah berbanding terbalik dengan boomingnya film dakwah. Sifat bujuk rayu media massa (film) tidak berbanding lurus dengan tujuan dari syiar. Syiar pada akhirnya alih-alih mengajarkan kedalaman dalam menghayati hidup seseorang sebagai manusia beragama, agar hidup lebih sabar, bijak dan terbuka justeru sebaliknya. Hal inilah yang disinggung oleh Yasraf (2011) bahwa dakwah popular yang berada dalam imajinasi popular berada dalam situasi paradox, ia berada antara kedalaman dan permukaan, antara kesederhanaan dan glamoritas, antara spirit mulia dan hasrat rendah. Hal ini menurut Yasraf disebabkan karena imajinasi agama berada dalam ruang imajinasi popular yang tidak bersesuaian dengan kedalaman, kemuliaan dan kesucian wacana spiritual sehingga terjebak dalam situasi yang kontradiksi.

Tantangan bagi Da’i dan Lembaga Dakwah
Perkembangan media komunikasi mendorong para Da’i untuk berperan serta sebagai bagian dari kewajiban syiar. Mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari sinetron dan film sebagai media dakwahnya. Substansi pesan agama adalah perubahan perilaku penonton yang menjadi umatnya. Oleh karena itu seorang Da’i mempunyai tanggung jawab untuk memodifikasi perilaku umat ke arah yang positif. Da’i pun memiliki tanggungjawab lebih daripada sekedar bertabligh.

Bermunculannya media popular semacam sinetron dan film dakwah yang kini sedang naik daun ditengarai tidak menyelesaikan masalah keumatan, alih-alih memberikan penghayatan kedalaman agama sehingga umat memiliki sifat dan sikap sabar, bijak dan tawakkal, justeru menjadi cepat marah, tersinggung dan tidak sabaran seperti disinggung oleh KH. Miftah Faridl.

Oleh karena itu, menjadi tantangan khusus bagi para da’I popular yang memiliki umat paling banyak dan menjadikan media massa sebagai uslub dakwahnya harus mampu mengendalikan agar tabligh dan dakwahnya tidak terjebak pada kontradiksi yang justeru membawa umatnya kepada kedangkalan. Tanggung jawab tidak dipikul oleh da’i secara personal namun juga bagi lembaga-lembaga dakwah yang menggunakan televisi/ film sebagai media dakwahnya agar mampu menghasilkan karya yang dapat memberikan penghayatan kedalaman beragama kepada umat sehingga makna dan nilai pesan dakwah tidak bergeser menjadi mitos. Wallahu ‘Alam.

Read More

Merayakan Keberagamaan Populer

Gambar Ilustrasi dari Arhaam.blogspot.com
Menjelang sepuluh hari terkahir bulan ramadhan, porsi tayangan yang memiliki nilai syiar di media massa terlebih televisi bertambah. Setiap stasiun televisi seolah tidak ingin ketinggalan moment promosi ramadhan. Mulai dari pengajian Al-Qur’an, ceramah, sinetron Islami, acara-acara menjelang buka dan sahur, jejak sejarah Islam dan lain sebagainya. Sejumlah acara tersebut pun melibatkan sejumlah artis beken dan popular, baik yang memiliki karakter tetap sebagai artis yang dinilai religious atau artis religious dadakan. Sehingga syiar tersebut memiliki nilai plus, tidak saja memenuhi standar tuntutan amar makruf namun juga memenuhi selera penonton sebagai pasar televisi.

Terpenuhinya selera penonton dapat dilihat dari sejumlah iklan yang masuk terhadap salah satu syiar agama yang ditayangkan. Hal ini menunjukan bahwa syiar agama telah mampu masuk ke dalam pasar televisi karena relatif diminati dengan ditunjukan oleh adanya rating. Ini seolah menjadi rumus tetap bagi ketertarikan para pemasang iklan di salah satu siaran. 

Muballigh Selebritis
Muballigh bertambah popular muncul bersamaan dengan meningkatnya syiar agama di televisi. Mereka sebagai bagian dari selebritis yang eksistensinya dilahirkan oleh televisi, sebut saja yang sudah lawas (alm) alm Zaenudin MZ, Aa Gym, Uje, Arifin Ilham. Alm Zaenudin MZ dapat dikatakan sebagai pelopor dan generasai paling awal dari dakwah popular. Sedangkan Aa Gym, Uje, Arifin Ilham, termasuk Yusuf Mansur dapat dikatakan sebagai generasi penerus dari Dakwah Populer yang eksis di televisi. 

Memasuki tahun 2011, banyak mubaligh popular baru bermunculan yang tak kalah populernya dengan generasi awal, bahkan mereka telah menjelma sebagai selebritis baru seperti Mamah Dedeh, ustadz Nur Maulana, ataupun Ustadz Solmed, di samping masih banyak muballigh popular wajah lama yang tetap memiliki jamaahnya masing-masing.

Televisi, Ruang Keberagamaan Populer
Bertemunya antara karakter dakwah Islam yang khusu dan khidmat serta mendalam dengan tuntutan selera pasar dalam syiar Islam melahirkan jenis dakwah (tabligh/syi’ar) popular. Dakwah Populer sebagai bagian dari pola keberagamaan populer telah menjadi gaya hidup masyarakat postmodern yang dicirikan oleh kemajuan teknologi informasi sebagai cikal bakal dari perkembangan teknologi citra. Dakwah popular tidak terlepas dari citra dan imajinasi popular. Imajinasi Populer sebagaimana dinyatakan oleh Yasraf (2011). Ia merupakan salah satu imajinasi cultural yang dikembangkan dalam budaya popular yang dapat menguatkan imajinasi transcendental namun juga bisa sebaliknya, ia justeru bersifat kontradiktif.

Vivian dan Biagi (Vivian, 1996 dan Biaggi, 2009) melihat bahwa Televisi merupakan media paling popular yang mampu memampatkan pengaruh yang kuat terhadap ruang-ruang kesadaran para pemirsanya. Keserentakan dan jangkauannya yang cukup luas dan heterogen menjadikan televisi masih satu-satunya media yang dapat diakses oleh masyarakat hingga kini. Melalui televisi audiens sangat mudah mengenali dengan cepat sebuah produk atau konten siarannya. Begitupun era populernya krudung menjadi sebuah fashion hampir dapat dipastikan dikenalkan oleh televisi. Selebritas kita yang sering tampil di layar kaca membantu mempopulerkan jilbab sebagai mode sehingga orang tidak lagi alergi terhadap salah satu symbol agama Islam tersebut. Di dalam televisilah perayaan keberagamaan popular menemukan bentuknya.

Kemajuan atau Pendangkalan Agama?
Relasi antara citra yang ditampilkan oleh televisi dan dakwah sebagai jalan syiar agama berada dalam pembingkaian. Dengan demikian, dakwah popular dibingkai dalam wadah citra. Karakter pencitraan merupakan ciri khas dari symbol komunikasi yang dikembangkan oleh industry yang berorientasi pada keuntungan. Citra sendiri bermain di permukaan. Ketika syiar agama bertemu dengan budaya pop tersebut maka lahirlah dakwah dan pola keberagamaan popular sehingga terjadi tarik menarik antara kedalaman dan kedangkalan. Pada satu sisi harus memenuhi tuntuntan syiar agama tetapi pada sisi lain harus memenuhi selera pasar. Hal ini tampak sekali pada tayangan-tayangan syiar agama di televisi. Kita dapat mencermati bagaimana meriahnya setiap tabligh televisi bak hiburan, sebut saja acara Indahnya Islam yang disampaikan oleh Ustadz Nur Maulana atau Acara Mamah dan Aa yang selalu ramai dan penuh tawa. Salah satu diantaranya selalu menghadirkan artis sebagai daya tarik jamaah dan siaran. 

Pada sisi lain, ustadz-ustadz pun tidak sekedar penyampai risalah, ia menjelma menjadi artis. Mereka menjadi bintang iklan dan sinetron. Dan dalam faktanya mereka adalah artis yang secara khusus berperan sebagai ustadz. Kemasan syiar agama sekarang lebih variatif dan kreatif seperti halnya acara reality dan talk show live.

Jika melihat lalu lintas kegiatan dakwah di televisi, terlebih saat bulan ramadhan. Umat Islam tentu akan merasa bangga. Ini adalah kemajuan dakwah Islam yang didorong oleh kemajuan teknologi informasi. Dakwah pun tidak hanya berhenti sampai di situ, muncul pula dakwah versi online melalui portal-portal dakwah ataupun Youtube. Ini merupakan bentuk nyata dari kemajuan syiar Islam.

Dampak nyata dari syiar Islam salah satunya adalah membaiknya citra Islam sehingga orang tidak lagi alergi terhadap symbol-simbol Islam; orang bangga menggantungkan tasbih di dalam mobilnya, seorang perempuan bangga mengenakan krudung karena tidak kampungan lagi, mereka tetap bisa tampil cantik dan gaul begitupun dengan laki-laki merasa sangat religious ketika mengenakan peci dan baju koko.
 
Sisi lain berkembangnya lalulintas dakwah melalui media-media tersebut, tetap tidak menyurutkan orang untuk melakukan tindak kejahatan yang bertolak belakang dengan agama yang dianutnya. Saat dakwah memasuki kalangan eksekutif seperti yang dilakukan oleh Aa Gym melalui manajemen Qolbu, Ari Ginanjar melalui ESQ ataupun Kang Jalal melalui tasaufnya. Justeru pencurian eksekutif pun (korupsi) tidak pernah surut malah semakin menggurita. Pada kenyataan inilah muncul pertanyaan, apakah dakwah popular tersebut sebagai bagian dari pola keberagamaan popular menambah kedalaman orang untuk memaknai agama atau justeru membuatnya makna beragama menjadi dangkal?. Saat pemaknaan beragama menjadi dangkal, maka tidak heran korupsi makin menggila dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku beragama. 

Analisis ini diperkuat oleh hasil survey kecil-kecilan yang dilakukan oleh Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi pada bulan Mei lalu terhadap 100 responden lebih. Salah satu ketertarikan audiens terhadap sinetron Islam KTP sebagai sinetron pavoritnya adalah karena kehadiran TB serta Mamat dan Karyo yang selalu bisa menghibur. Begitupun bagi saya sendiri, salah satu daya tarik dari sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) adalah dinamika konflik yang diciptakan antara Azzam dan Aya, konflik cinta.
Namun terlepas dari kemenonjolan Dakwah Populer yang disiarkan masing-masing televisi swasta kita. Fakta di lapangan menunjukan selain gegap gempita syiar agama pada media-media, juga kriminalitas semakin meningkat juga. Ini barangkali sebagai sifat paradox dari pola keberagamaan popular. Ini mirip dengan sebuah pesta, kemeriahannya dapat tergantikan dengan cepat dengan situasi baru. 

Tetap Optimis
Walaupun telah terjadi paradox dari dampak pola keberagamaan popular melalui syiar populernya. Sebagai muslim yang memiliki kewajiban menyampaikan syiar Islam sebagaimana terdapat dalam salah satu hadits,ballighu anni walau ayat’(sampaikanlah walaupun satu ayat). Para muballigh dan da’i sebagai simpul agama tetap harus optimis. Begitupun kita sebagai konsumen agama tetap harus memiliki optimisme terhadap keberjalanan dakwah Islam di era industry tersebut. 

Walaupun dikemas dalam bingkai popular, bukan berarti dakwah Islam yang dimediasi oleh media massa yang dikendalikan oleh pemilik modal yang berorientasi pada keuntungan tersebut hanya bermain pada pencitraan dan permukaan saja sehingga telah terjadi pendangkalan. Begitupun dengan muballighnya, mereka tidak hanya mencari penghidupan saja melalui keahliannya bertabligh, namun memiliki niat yang tulus untuk mencerahkan umat. Akan selalu terdapat hikmah bagi orang yang mencari makna dalam beragama. Semoga. Wallahu’alam.

Read More