Showing posts with label Opini Media. Show all posts
Showing posts with label Opini Media. Show all posts

5.1.21

Tanggung Jawab Sosial Media

sumber: NUOnline

Indonesia (masih) sedang darurat menghadapi Corona. Persebarannya selama beberapa hari terakhir menunjukkan percepatan yang signifikan, alih-alih melambat karena telah dilakukan social distancing. Setiap hari selalu ada pembaharuan data, baik dari lembaga pemerintah ataupun media. Setiap lembaga sosial memberikan tips untuk pencegahan. Setiap orang saling memberikan support dan wejangan. Namun tidak sedikit juga yang panik gara-gara bertebaran beragam informasi tentang Corona.


Salah satunya, informasi yang beredar melalui grup WhatsApp Netizen (PRFM), tentang catatan seorang dokter pada laman media sosialnya. Isinya selain curhat, sang dokter juga mengungkapkan data-data real terinfeksi Corona, di luar data resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Saat artikel ini ditulis (19/03/2020), saya konfirmasi ke nomor WhatsApp sang dokter, namun tidak berjawab. Anggota Grup sudah mulai ada yang waswas.


Hal serupa terjadi dalam grup WhatsApp lain, menyebarkan konten informasi sama yang belum terkonfirmasi kebenarannya, dengan kasus rujukan tautan berbeda. Jika Grup satu bersumber dari sebuah blog. Grup lain berasal dari media online nasional terverifikasi Dewan Pers. Media tersebut menyebarkan berita yang belum terkonfirmasi kebenarannya. Karena dalam grup instan massager tersebut terdapat salah satu redaktur media online, lalu saya tanya, kenapa tidak diangkat pada medianya. Ia memberikan jawaban bijak, “berita seperti ini tidak akan diangkat karena membuat panik warga.”


Beberapa media mainstream menjadikan isu Corona sebagai komodifikasi. Overdosis informasi tentang corona menyebabkan warga panik. Apalagi saat media online terverifikasi Dewan Pers menjadikan curhatan sebagai berita. Tanpa ada konfirmasi dari sumber bersangkutan. Tanpa melakukan kroscek terhadap sumber lain. Media tersebut juga tidak melakukan jurnalisme data yang membanding-bandingkan dengan data yang ada dalam sistem big data. Ia hanya menyalin dan dijadikan berita. Lalu dimana tanggung jawab media, dimana disiplin verifikasi yang seharusnya dilakukan media, dimana keberimbangan berita yang seharusnya menjadi basis pemberitaan.


Peran Warga

Overdosis informasi menjadi kelumrahan di era digital. Hal ini karena setiap orang merasa memiliki hak sama dengan media mainstream untuk berbagi informasi terkini. Para penyebar informasi juga datang dari media personal yang diportalisasi, atau blog dengan domain level utama dan blog dengan domain penyedia jasa (CMS), sampai akun jejaring sosial dengan jumlah fanbase fantastis dan dengan jumlah pertemanan hanya puluhan.


Era digital Setiap orang dimudahkan oleh beragam aplikasi. Kemudahan ini menjadikan berbagi informasi sebagai keniscayaan, bahkan telah mengarah fear of missing out—tidak ingin melewatkan untuk berbagi informasi apapun. Setiap informasi yang beredar dianggap telah given kebenarannya. Kondisi inilah yang menyebabkan kecenderungan terjadinya penyebaran berita yang missinformasi atau justeru disinformasi (hoax).


Oleh karena itu, setiap warga digital harus memiliki antibody terhadap serangan informasi yang sumbernya tidak jelas, kontennya tidak valid, dan wacananya meresahkan. Kita harus skeptis terhadap setiap informasi yang ada. Jangan sampai merugikan cara kita berfikir dan berpesaaan sehingga meresahkan kita sendiri.


Padahal, setiap orang bisa secara mandiri menentukan informasi yang dianggap bermanfaat dan menyeleksinya sesuai kebutuhan atau mengabaikan informasi yang meresahkan kita anggap disinformasi. Kita dapat menjadi agen mandiri informasi dengan melakukan literasi terhadapnya; cek beritanya berasal dari mana, terverifikasikah media tempat publikasinya, terpercayakan sumber rujukannya, apakah judul dengan isi relevan, apakah kontennya masuk akal, atau validkah berita tersebut. Jika semua telah dikroscek dan memenuhi kriteria literasi, beritanya bermanfaat dan memberikan motivasi dan harapan, kita bisa bagikan. Namun jika sebaliknya, alangkah baiknya berita tersebut kita abaikan. Meminjam istilah kekinian dari dr. Gia Pratama melalui novelnya, cukup Berhenti di Kamu.


Melakukan hal tersebut, menjadi bagian dari solusi agar perilaku kita tidak memperburuk keadaan. Minimal jika kita tidak ambil bagian dalam proses aksi pemberantasan Corona,  kita tidak ikut bagian meresahkan masyarakat dengan menyebarkan berita yang tidak jelas sumber dan verifikasinya. Karena tidak setiap orang bersikap skeptis terhadap setiap informasi. Informasi-informasi tersebut sebagiannya dicerna mentah-mentah karena akses dan kemampuan literasi yang minim.


Tanggung Jawab Media

Walaupun telah banyak informasi yang beredar dari beragam institusi melalui situsnya atau personal ahli di bidangnya. Media tetap dibutuhkan kehadirannya oleh masyarakat. Media tetap harus menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya dalam memberikan informasi yang kredibel, valid, dan solutif bagi masyarakat. Alih-alih meresahkan karena mengejar tiras, rating, rangking, dan klik.


Bagi Bapak Jurnalisme Dunia, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku Blur, How to Know What’s True in The Age of Information Overload (2010), kehadiran media diperlukan untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh masyarakat dalam proses moderasi dan kurasi berita. Media diperlukan untuk melakukan autentifikasi berita. Menjelaskan dengan fakta dan bukti tentang berita yang layak dipercaya. Media juga dibutuhkan masyarakat untuk merasionalisasikan lalu lintas informasi.


Kita tahu bahwa overload informasi membuat masyarakat kehilangan keseimbangan dalam menentukan mana berita yang benar dan masuk akal dan mana berita yang bohong. Sehingga seringkali masyarakat menjadi korban kebiadaban disinformasi  yang menyebabkan mereka terkena pasal UU ITE karena menyebarkan berita bohong. Oleh karena itu, kata Bill Kovach dan Rosenstiel, media harus mampu menjadi sense maker. They must look for information that is of value, not just new, and present it in a way so we make sense of it ourselves. Media harus mencari informasi yang bernilai, bukan hanya yang baru, dan menyajikannya sedemikian rupa sehingga masyarakat memahaminya sendiri.


Jika masyarakat masih kesulitan memanfaatkan big data untuk keperluan literasi informasi, maka di sinilah tanggung jawab dan fungsi media. Kovach dan Rosenstiel bilang, media harus menjadi smart agregator. Media harus mampu mengarahkan informasinya ke sumber-sumber yang layak dipercaya. Sehingga dapat menghemat waktu pembaca dalam menelusuri sumber-sumber penting dan kredibel yang dijadikan rujukan oleh media.


Sebagian masyarakat masih belum memahami media-media yang layak dijadikan sebagai sumber rujukan. Bagi awam, informasi yang ditampilkan pada portal, web perusahaan, atau blog-blog dengan domain tingkat utama, tidak ada bedanya, sehingga berita-berita yang disampaikan dianggap terpercaya. Padahal tidak selalu demikian, dengan tujuan monetisasi, seringkali media berbasis weblog melakukan manipulasi fakta dan data, melalui judul-judul yang bombastik.  Sehingga media arus utama harus menjadi role model bagi siapapun.


Media Harus tetap menjadi panutan masyarakat sebagai rujukan informasi yang terpecaya dan solutif. Sehingga di tengah persoalan seperti sekarang, media tidak memperparah keadaan. Bukan  menjadikan keadaan sebagai komoditas, dengan menjadikan informasi yang belum terverifikasi menjadi berita demi mendulang klik. Justeru, kehadiran media tetap diperlukan agar masyarakat tetap waspada tanpa harus panik. Semoga.***[Dudi Rustandi/ @abahraka]

Read More

15.6.19

Tenggelamnya Lebaran Kami

Tenggelamnya Lebaran Kami, Pikiran Rakyat (14/06/2019)
Detox Media Sosial. Demikian sebuah postingan pada laman instagram yang saya baca H-3 Hari Raya Idul Fitri. Pada caption postingan tersebut, pemilik akun mengucapkan selamat lebaran kepada warga Instagram. Ia pamitan lebih dulu untuk mudik ke kampung halamannya. Bukan berarti di kampungnya fakir sinyal. Namun karena berlebaran di media sosial dianggap mengganggu silaturahmi dengan sanak famili. Artinya selama masa lebaran, ia tidak akan mengakses media sosial.

Menjelang dan saat hari H lebaran. Setiap orang berlomba mengucapkan selamat lebaran,  minal aidzin, dan permohonan maaf. Ada ratusan pesan masuk, baik melalui jalur pribadi ataupun melalui grup. Ada dua catatan yang saya cermati. Setiap ucapan yang saya terima melalui jaringan pribadi tidak satupun yang menyebut nama saya, orang yang dikirimi ucapan.

Sedangkan pada grup, hampir setiap pemberi ucapan, lalu meninggalkan grup tanpa ada interaksi lanjutan. Penghuni grup lain juga seakan tidak mau kalah, bukan membalas ucapan selamat tersebut, justeru mengirim pesan yang sama. Lalu siapa yang menjawab ucapan tersebut? Tidak ada yang menjawab!

Setelah berkumpul di kampung halaman. Intensitas berlebaran melalui antarmuka masih intensif dilakukan. Setiap warga kampung fokus pada perangkatnya masing-masing. Kegiatan asyncronus melalui whatsapp, scrolling media social, atau sekadar menonton tayangan yutub dan instagram. Sanak famili terabaikan. Lebaran tereduksi oleh kehadiran perangkat digital. Yang jauh mendekat yang dekat justeru terasa jauh. Mereka terkana sindrom post social. Demikian ditulis oleh Yasraf Amir Piliang, seorang filsuf postmodern dari ITB.

Mungkin ini yang menjadi salah satu alasan teman saya  meninggalkan media sosial selama masa libur lebaran. Intensitas berlebaran di media social mereduksi pondasi relasi kemanusiaan. Pemilik perangkat dianggap sebagai benda yang tidak memiliki identitas selain antarmuka. Diri yang direpresentasikan oleh antarmuka dianggap melebur menjadi benda. Sehingga tidak ada keharusan menyebutkan nama saat mengirim ucapan lebaran. Alih-alih lebaran penuh makna fitri, justeru menjadi kurang bermakna. Nilai mudik tak terasa.

Anomali Lebaran 4.0
Jean Baudrillard menyebut fenomena di atas sebagai simulasi social. Suatu kenyataan yang melampaui realitas sebenarnya. Suatu realitas yang hadir karena difasilitasi oleh media. Ia disatukan oleh berbagai komponen teknologi yang hadir dalam internet; jaringan, aplikasi, teknik citra, multimedia. Kenyataan social dalam media tersebut hanya sebagai hasil citraan.

Meminjam istilah Yasraf dalam simulasi sosial, lebaran melalui media social adalah lebaran artifisial. Relasi-relasi social sudah tereduksi oleh teknologi antarmuka. Yang hadir bukan lagi manusia, tapi aplikasi. Meminjam istilah filsuf postmodern tersebut, simulasi sosial merupakan bentuk permukaan  dari sosial, sebuah relasi sosial yang artifisial, yang tidak tercipta secara alamiah di sebuah territorial yang nyata, akan tetapi di dalam  sebuah territorial halusinasi, yang terbentuk dari bit-bit informasi.

Bagi Yasraf, pada tingkat tertentu, simulasi sosial dapat mengambil alih relasi sosial yang sesungguhnya, ketika ruang-waktu virtual  mengambil alih ruang waktu sosial yang natural. Kematian sosial adalah sebuah kondisi ketika persepsi, kesadaran dan emosi setiap orang diserap oleh ruang-waktu virtual ini, sehingga tidak tersisa lagi untuk ruang-waktu ilmiah. Dalam kematian sosial, setiap orang akan sepenuhnya hidup di dalam ruang sosial artifisial, dan menjalankan segala aktivitas di dalamnya dalam wujudnya yang artifisial.

Wajar jika hampir semua ucapan lebaran tanpa menyebutkan nama yang dikirim baik yang melalui jaringan pribadi atau grup. Ucapanpun seakan tanpa pijakan ditujukan untuk siapa. Sehingga Relasi sosial menjadi terreduksi. Karena lebaran melalui media social sekadar artifisial. Maka wajar, seorang teman memutuskan untuk melakukan detox media sosial selama lebaran.

Teknologi yang seharusnya mendekatkan antar penggunanya justeru mengurangi nilai social dari berlebaran. Intensitas yang mendalam terhadap media social saat lebaran justeru semakin membenamkan diri pada kehampaan social. Sehingga terjadi anomaly dari lebaran itu sendiri.

Lebaran yang identik dengan mudik, silaturahmi dengan sanak family, bercengkerama dengan keluarga diambil alih semuanya oleh teknologi. Di sinilah terjadinya anomaly lebaran, yang di hadapan justeru menjadi asing. Sedangkan yang jauhpun tidak ada di hadapan karena semua berada dalam antarmuka. High tech tidak mampu menghadirkan high touch. Meminjam istilah John Naisbitt, dalam konteks ini high tech tidak mampu memelihara kemanusiaan (low touch).

Sejatinya ini bukanlah kondisi ideal dari lebaran 4.0. Karena era 4.0 bukan sekadar merayakan kemajuan berbagai macam teknologi aplikasi. Lebaran 4.0 juga harus semakin merekatkan relasi kemanusiaan, melekatkan nilai silaturahmi. Melalui teknologi, intensitas silaturahmi justeru yang harusnya lebih erat, seperti harapan dari Naisbitt—high tech high touch.

Hal ini senada dengan yang ditulis oleh Hermawan Kertajaya melalui kajian dan pemikirannya dalam Marketing 3.0 yang berlanjut dengan Citizen 4.0. dan marketing 4.0. Marketing 3.0 hadir setelah melalui kehadiran teknologi digital, memfokuskan pada hubungan dengan konsumen, yang ia istilahkan dengan human-spirit. Hal ini merupakan tahapan lanjutan dari tahap kemajuan teknologi yang berfokus pada teknologi itu sendiri.

Sedangkan pada konteks manusia era 4.0, tahapan ke 3 dan ke 4 fokus pada pelayanan dan manusia. Salah satu elemen kunci dalam pelayanan adalah empati. Sedangkan elemen kunci dari manusia adalah keintiman dan passion. Kombinasi dari ketiga elemen tersebut menghasilkan suatu kedalaman hubungan, yaitu suatu hubungan kemanuasiaan yang didasarkan para hubungan tulus dan produktif.

Lebaran pada era 4.0 harusnya memijakkan diri pada hubungan yang bersifat interpersonal, bukan massal. Pada kasus lebaran virtual di atas, hubungan lebih di dasarkan pada hubungan massal. Komunikasi yang bersifat massal melalui media sosial tidak pernah menyentuh sisi personal dari sejawat. Semua teman sejawat dianggap sama, tanpa keunikan apapun, baik dari kedekatan emosional ataupun keunikan dari sebuah nama. Sehingga nilai-nilai empati dan keintiman menjadi hilang.

Lebaran iedul fitri bukan hanya mengembalikan diri ke dalam jiwa yang fitri, bersih, berangkat lagi dari nol dosa. Juga kembali pada sisi-sisi kemanusiaan kita. Mudik dan berlebaran adalah mengembalikkan tujuan silaturahmi, mempererat tali kemanusiaan, melekatkan relasi antar jiwa, melalui empathy dan keintiman.

Jadikan teknologi hanya sebagai alat kebertubuhan, yang pada waktunya perlu dilepaskan, bukan kebertubuhan itu sendiri, yang selamanya melekat. Mari kembali kepada relasi kemanusiaan, jadikan teknologi sebagai perekat bukan berrelasi dengan teknologi itu sendiri. Agar lebaran benar-benar fitiri. Agar mudik dapat mendekatkan sanak family. Bukan tenggelam dalam mabuk teknologi.***[]
Read More

13.12.18

Memilih Wakil Rakyat

Pikiran Rakyat Edisi Kamis 13 Desember 2018
Beranda media sosial kini dipenuhi dengan pajangan gambar calon anggota legislatif (caleg) untuk pemilu 2019. Baik yang dikenal secara aktual atau hanya sekedar koneksi media sosial. Jika dihitung, bisa mencapai puluhan atau justeru ratusan teman mencalonkan diri, dari mulai tingkat kota/kabupaten, provinsi, hingga pusat. Semuanya memajang gambar diri dan nomor pencoblosan.
Jalan protokol hingga jalan desa juga penuh dengan spanduk, baligo, dan banner kampanye. Dari warna merah, kuning, hijau, persis lagu balonku yang warnanya melebihi 5. Gambar-gambar tersebut tampak wajar, karena telah memasuki masa kampanye. Hanya saja, sebagai calon pemilih, saya bingung, harus memilih yang mana dan untuk alasan apa mencoblosnya.

Alasan yang dimaksud misalnya, karena caleg memperjuangkan nilai-nilai yang selama ini melekat dengan kehidupan masyarakat. Ia berjasa besar dalam memperjuangkan hak hidup masyarakat.  Pejuang buruh misalnya seperti Said Iqbal. Ia konsisten memperjuangkan hak-hak dan kelayakan upah buruh. Jika ia maju menjadi caleg, sebagian besar buruh sudah sangat mengenalnya, baik di Jakarta ataupun daerahnya. Hal serupa juga dilakukan oleh Rikeu Diah Pitaloka secara konsisten memperjuangkan hak buruh khususnya perempuan.

Perspektif komunikasi pemasaran, apa yang diperjuangkan Said Iqbal atau Rike Diah Pitaloka menjadi pembeda sehingga calon pemilih dengan cepat mengenalnya. Kedua tokoh tersebut bukan hanya soal public figur (guru dan artis) akan tetapi mereka concern dalam bidangnya dan konsisten memperjuangkan hak masyarakat khususnya kaum buruh.
Contoh lain adalah Fahri Hamzah dan Fadhli Zon, konstituen akan cepat mengenalnya karena sedari awal konsisten menjadi pengkritik pemerintah (oposan). Pendukungnya akan memandang apa yang dilakukan oleh mereka adalah bentuk memperjuangkan nilai dan hak masyarakat, karena kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat selalu dikritik oleh kedua selebriti politik tersebut.

Pembeda bukan Slogan
Pembeda atau differensiasi menghasilkan positioning seseorang di antara banyak calon legislatif. Apa yang saya saksikan dan cermati, baik di media sosial ataupun di sepanjang jalan-jalan kota dan kabupaten, para calon wakil rakyat tersebut belum menawarkan nilai satupun yang mereka perjuangkan, sehingga menjadi pembeda dan memberikan positioning. Sehingga masyarakat sulit membedakan. Kesulitan ini menjadi faktor lain, yaitu sulit mengenalnya, terlebih sulit memosisikan sang calon dalam pikiran masyarakat.

Satu dua spanduk calon misalnya mengajak masyarakat untuk memberantas korupsi, seperti dilakukan oleh Giring ex Band Nidji yang mencalonkan diri jadi anggota DPR RI dapil Jabar 1. Hanya saja ajakannya tersebut terkesan hanya sebagai slogan. Karena selama ini, giring lebih dikenal sebagai artis penyanyi dibandingkan aktivis anti korupsi. Tidak ada track record yang menjelaskan bahwa ia adalah pejuang atau aktivis antikorupsi. Jika ajakan pemberantasan korupsi dilakukan oleh Febri Diansyah—Jubir KPK, masyarakat akan cepat mengenal dan membedakan dalam top of mind-nya karena track record-nya selama ini sebagai aktivis antikorupsi.

Perspektif marketing 3.0, seperti ditulis oleh pakar marketing dan branding Hermawan Kertajaya, pembeda harus didefinisikan sebagai  segitiga dari merek, positioning, dan differensiasi. Ia menghasilkan brand identity, brand integrity, dan brand image.

Jika wakil rakyat adalah merek, maka harus terintegrasi dalam dirinya sisi identitas dan integritas yang menghasilkan citra diri. Dalam konteks ini, citra merek berbeda dengan pencitraan, karena citra merek harus didorong dari identitas otentik dan integritas yang lahir dari pengakuan masyarakat karena manfaat dan maslahat programnya telah dirasakan masyarakat seperti dilakukan oleh Moh. Surya untuk guru dan dosen atau Rikeu Diah Pitaloka untuk kaum buruh.

Ia adalah bukti kuat bahwa dirinya menyampaikan dan telah membuktikan kinerjanya sebagai (calon) wakil rakyat. Pada posisi ini calon wakil rakyat telah memenuhi janjinya, bukan saat ia sudah terpilih saja namun saat itu belum terpilih. Pada saat ini wakil rakyat telah menciptakan kepercayaannya terhadap calon konstituennya. Ia setengahnya telah mengambil hati masyarakat.

Menentukan Pilihan
Jika calon wakil rakyat telah memenangkan setengahnya hati masyarakat, karena memiliki bukti dan kepercayaan. Bagaimana menentukan setengah nilai yang harus dipenuhi? Maka masyarakat dituntut untuk jeli agar tidak salah pilih untuk menentukan 5 tahun dirinya diwakili di Gedung Dewan. Agar kepentingan-kepentingannya dapat diperjuangkan oleh wakil kita.

Hasil pendampingan Silih Agung (2018) selama 18 tahun terhadap pesohor negeri dapat dijadikan rujukan. Ia menghasilkan satu thesis tentang citra yang dihasilkan dari identitas dan integritas. Melalui Code Personal Branding, Silih memberikan catatan setidaknya ada 5 elemen yang menghasilkan siklus untuk mengukur reputasi calon wakil rakyat; competency, connectivity, creativity, compliance, dan contribution.

Pertama, Kompetensi menjadi kunci untuk menggenapkan differensiasi. Kompetensi menjadikan wakil rakyat bukan hanya memiliki sumbangsih yang nyata dan bermanfaat bagi masyarakat. Namun juga ahli dan memiliki kemampuan dalam melakukan pengelolaan diri dan lingkungannya. Ia tidak hanya cakap mengambil hati masyarakat. Ia juga cakap memberikan solusi bagi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

Kedua, connectivity yaitu sejauh mana calon wakil rakyat terhubung dengan konstituennya. Bukan hanya terhubung secara virtual melalui perantara beragam atribut seperti banner atau spanduk. Tapi terhubung secara aktual; face to face. Konektivitas yang dibangun calon tidak hanya melalui media perantara. Seorang calon harus mau dan rela mendengarkan semua keluh kesah dan kepentingan konstituennya.

Ketiga, creativity. Seorang calon harus mampu memberikan dinamika berkehidupan terhadap warganya. Sehingga warganya terhindar dari kejenuhan. Oleh karena itu, program-programnya harus dinamis. Buka bazar murah memang disukai oleh masyarakat, akan tetapi jika stop sampai di sini, tidak menyelesaikan persoalan masyarakat dalam jangka panjang. Oleh karena itu memilih wakil rakyat harus yang benar-benar memiliki dinamisasi dalam memberikan program kepada masyarakat.
Keempat, compliance. Merupakan nilai-nilai etis yang harus dimiliki oleh seorang caleg. Calon pemilih harus memastikan bahwa caleg memiliki rekam jejak yang baik. Nilai-nilai etis ini baik yang melekat pada dirinya ataupun yang telah diejawantahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Mengukur elemen ini cukup mudah, misalnya apakah seorang caleg bertutur kata baik? Apakah juga seorang caleg memiliki perilaku baik? Tidak pernah mengeluarkan pernyataan kotroversial atau berperilaku yang bertentangan dengan nilai konvesional, baik yang berasal dari agama atau norma masyarakat. Nilai-nilai etis tersebut juga terpublikasikan secara wajar, bukan sebagai taktik propaganda.

Kelima, Kontribusi. Caleg harus menjadi problem solver bagi persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Hal ini tentu paling terasa baik secara pragmatis ataupun normatif. Caleg harus menjadi tempat pakukumaha bagi konstituennya dalam semua aspek kehidupan. Ibarat orang tua, ia harus mampu berfikir kreatif dan juga memberikan solusi praktis.

Kelima elemen di atas dapat dijadikan sebagai pertimbangan saat akan menentukan pilihan. Memang manusia tidak ada yang sempurna, namun paling tidak mendekati beberapa elemen. Dan pertimbangan yang paling bijak adalah mendekati paling banyak dari limat elemen tersebut. Semoga waktu 4 bulan menuju pemilihan dapat menjadi waktu yang cukup untuk melihat, memahami, menimbang, dan memutuskan siapa caleg yang akan membawa kita, masyararakat menuju masyarakat yang sejahtera lahir batin. Wallahu ‘alam.

Tulisan dimuat Pikiran Rakyat edisi Kamis, 13-12-2018 
Read More

6.11.18

Pemuda Era 4.0

Sumber: Pikiran Rakyat:
Penulisan artikel ini, bertepatan dengan hari sumpah pemuda 28 Oktober 2018. Saya membaca profil yang dipublikasikan Pikiran Rakyat pada hari yang sama (minggu, 28/10/2018), yaitu sosok ketua KNPI Jawa Barat Rio F. Wilantara. Rio menjabat ketua KNPI kurang lebih sudah satu tahun, yang dilantik tahun 2017.

Membaca biodatanya, jika diibaratkan makanan, taste-nya sangat berbeda dengan sosok Ketua KNPI sebelum-sebelumnya. Sosok Rio adalah sosok yang mewakili generasi millenial, selain karena umurnya yang betul-betul masih muda (32), latar belakang pendidikan dan aktivitas sehari-harinya selalu berarsiran dengan dunia teknologi yang millenial banget. Usaha dalam bidang teknologi, dan dua kali kuliah doktor salah satunya dalam bidang media studies—yang tentu arsirannya sangat kuat dengan teknologi.

Membaca visi sosok ini seakan menemukan danau yang airnya jernih dan bersih—sebagai sumber kehidupan masyarakat. Betapa tidak, Rio ingin membawa sekitar 13 ribu personil strutural pemuda ke arah kemandirian bukan yang menggantungkan hidupnya dari APBD. Ia ingin pemuda menjadi lokomotif wirausaha sebagaimana yang telah menjadi program pemerintah Jawa Barat. Ia tidak ingin pemuda terbawa arus ke ranah politik praktis sebagaimana yang ia rasakan selama aktif di organisasi kepemudaan tersebut.

Pada sisi lain banyak permasalahan yang dihadapi pemuda. Menurut data yang dikeluarkan oleh Merial Institute, sebuah lembaga  penelitian dan pembedayaan pemuda, pada tahun 2017 secara demografi pemuda bertambah namun pengangguran bertambah juga. Penyalahgunaan narkoba juga menjadi persoalan tersendiri yang merusak masa depan pemuda Indonesia. Hal yang cukup krusial, dengan meningkatkan jumlah pemuda ternyata tidak menambah mental kebangsaan meningkat justeru dipertanyakan (nasionalisme).

Beberapa kasus juga yang menjadi pelakunya adalah notabede menyandang status pemuda, misalnya MA seorang anak muda yang membuat grafis tidak senonoh tentang presiden Jokowi, atau pembakaran bendera tauhid oleh kelompok pemuda dari ormas kepemudaan. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan belahan bumi lain, seperti yang cukup menghebohkan sekelompok muda-mudi merayakan ajaran satanisme dan menjadikan lima belas orang sebagai target untuk dibunuh sebagai bahan pemujaan.

Marwah Gen Millenial
Pemuda Gen Millenial,  merujuk pada hasil penelitian Don Tapscot (2009) adalah generasi yang lahir pada rentang 1977-1997, atau 19980-1995 seperti ditulis oleh David Stillman dan Jonah Stillman. Terlepas rentang waktu tersebut, kedua pendapat tersebut memasukkan bahwa pemuda yang lahir pada tahun 80-an adalah generasi yang ketika sudah baligh telah bersentuhan dengan dunia digital. Bagi Tapscot, mereka adalah generasi internet atau gen y atau gen millenial.

Bagi gen millenial, teknologi tidak berbeda dengan udara, yang menjadi nafas kehidupan mereka. Hal ini masuk akal karena generasi millenial dan teknologi internet tumbuh bersama-sama. Mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan aplikasi dibandingkan menonton televisi. Mereka juga lebih peka terhadap isu-isu global tanpa melupakan isu-isu lokal. Hal ini menjadi antitesis dari generasi sebelumnya yang cenderung lebih peka dengan isu-isu global sedangkan isu lokal terlupakan.

Untuk memahami generasi ini, ada beberapa ciri yang dominan dalam diri mereka, seperti ditulis Tapscot; kebebasan, kustomisasi, apresiasi, kolaborasi, kecepatan, dan inovator. Tidak lupa juga hiburan dan gaya hidup.

Generasi yang lahir bersamaan dengan kelahiran dan kemajuan teknologi internet ini merupakan generasi yang menginginkan kebebasan, tidak mau dikekang, akan tetapi kebebasan mereka jelas dan terarah. Sehingga melahirkan inovasi melalui kolaborasi. Apa yang terjadi pada Go-Jek dan pendirinya mewakili ruh gen millenial. Perusahaannya begitu cepat melaju hingga menjadi satu-satunya perusahaan yang pertama memperoleh deviden satu trilyun. Kemajuan ini tidak didapatkan dengan berdiam diri di depan layar komputer, akan tetapi hasil kerja bareng dan negosiasi bisnis (kolaborasi dan relasi).

Apa yang dihasilkan oleh gen millenial merupakan produk inovatif yang belum pernah ada dan terpikirkan oleh generasi sebelumnya (Gen-X). Bahkan seringkali gen millenial tidak ingin produknya meniru dan sama dengan yang lain sehingga menghasilkan produk yang beda (kustom).

Pemuda 4.0; Internalisasi Marwah Gen Millenial
Bagaimanapun pemuda hari ini adalah gen millenial yang telah tumbuh dewasa. Benang merahnya adalah bahwa teknologi internet dan pemuda memiliki arsiran kebebasan sehingga mampu berkreasi dan melahirkan kustomisasi dan inovasi. Hanya sayang di balik kebebasan tersebut seringkali pemuda tidak mampu mengendalikan diri, sifat pendobraknya akhirnya menjadi kebablasan. Pengetahuannya belum melahirkan sikap bijak.

Melalui hari Sumpah Pemuda, meminjam istilah seorang pakar marketing, Hermawan Kertajaya, maka pemuda harus menjadi citizen 4.0. Citizen 4.0 adalah warga yang telah melalui 4 fase; fase pengetahuan, bisnis, pelayanan dan pengabdian. Fase pengetahuan dicirikan dengan keakrabannya dengan teknologi, bisnis dicirikan dengan kemandirian, pelayanan dicirikan dengan sikap bijak untuk menolong dan saling menghargai, dan fase pengabdian dicirikan berada di tengah-tengah masyarakat untuk melakukan perubahan. Perubahan bukan hanya ide, tapi juga contoh nyata—tut wuri handayani.

Melalui fase tersebut, pemuda era 4.0 mau tidak mau harus sadar sebagai manusia sejati yang memiliki akar religiusitas. Soal gaya hidup pemuda misalnya, yang di era media sosial dirayakan dengan narsisme melalui food, fashion, dan traveling, maka pemuda harus mempertimbangkan maslahat, mudarat, halal, dan haramnya. Ia tidak hanya sekedar gaya tapi juga memiliki nilai dan manfaat. Saat terjadi bencana seperti di Lombok dan Palu, religiusitas yang merupakan pengejawantahan dari fase pelayanan dan pengabdian, maka pemuda harus memiliki kepekaan. Ia harus mengambil peran dengan berada di tengah-tengah bencana seperti halnya dilakukan oleh selebgram Awkarin.

Jika merujuk pada prawacana di atas, maka pemuda di era 4.0 termasuk 13.000 pemuda yang berada di bawah nakhoda Rio, harus sudah memasuki fase pengabdian—ia tidak hanya berpengetahuan dan mandiri, tapi juga peka (melayani) dan menjadi lokomotif perubahan di tengah-tengah masyarakat. Pemuda di era 4.0 adalah manusia yang gaul sekaligus religius; Iman adalah panduan sikapnya, gaya adalah kendaraannya, dan teknologi adalah nafasnya. Ia gaul dan teknologis, mandiri, peka dan menjadi lokomotif perubahan.***[]

Read More

22.6.17

Etnografi Virtual; dari Riset Luring, Daring, Hingga Alat Literasi


Sumber Gambar: Pikiran Rakyat Cetak
Internet secara nyata membawa dampak perubahan dalam semua kehidupan umat manusia. Mulai dari cara berkomunikasi manusia secara interpersonal ataupun massal, kegiatan ekonomi, politik, bahkan budaya dan keamanan sekalipun. Perilaku tersebut membentuk budaya baru sehingga memunculkan berbagai artefak yang sebelumnya belum ada. Banyak artefak-artefak lahir dari budaya berkomunikasi melalui internet. 

Munculnya berbagai artefak baru tersebut bukan lagi sebagai sesuatu yang maya. Ia adalah realitas, walaupun tidak aktual. Ia secara nyata berdampak pada kehidupan umat manusia. Dunia maya dengan dunia nyata pun kini melebur. Tidak ada lagi batas-batas antara yang maya dan nyata. Misalnya perilaku seseorang di dunia maya, bisa berakibat nyata berususan dengan hukum. Berbagai kasus muncul, dari mulai perilaku kasar sampai tidak senonoh di dunia maya berakibat fatal hingga pelaku terjerat undang-undang kejahatan internet dan menjadikannya bulan-bulan hukum (dipenjara).
Komunikasi sehari-hari juga terjadi peleburan, antara yang maya dan yang nyata, misalnya berbagai bahasa baru muncul dari ruang maya yang sering digunakan dalam berinteraksi sehari-hari baik di dunia maya sekaligus dunia nyata, misalnya GWS, CMIW, KEPO, berbagai macam emoticon, atau bahasa dalam bentuk meme yang diarahkan untuk sindiran-sindiran atau hiburan. 

Perubahan cara berinteraksi antar manusia dan artefak-artefak yang dihasilkan oleh manusia pada akhirnya menuntut adanya pemahaman yang baru. Untuk memahami dengan benar, harus terukur dengan jelas. Pemahaman-pemahaman mendalam dan benar harus dikaji berdasarkan sudut pandang ilmiah agar sesuai dengan kriteria kebenaran. Sehingga menghasilkan pengetahuan dan atau ilmu pengetahuan baru yang benar pula.

Dalam konteks budaya komunikasi dan artefak budaya yang dihasilkan, dunia akademik lazim menyebutnya sebagai etnografi.  Etnografi adalah deskripsi realitas tentang kebudayaan umat manusia, baik masa lalu atau kini. Apa saja hasil ciptaannya, bentuknya seperti apa, jenis-jenisnya, sampai pada proses budaya tersebar dan berdampak pada kebudayaan manusia. 

Realitas maya dengan realitas aktual memiliki karakteristik yang berbeda, jika kita berinteraksi secara offline dan berinteraksi secara online, walaupun pada dasarnya sama-sama berkomunikasi antarpersonal, realitas yang dihadapi sangat berbeda. Melalui karakteristik interface (online) pelaku harus menerjemahkan siapa yang menjadi lawan bicaranya, melalui sifat simulasi, bisa saja pelaku bukan yang sebenarnya. Karena pelaku komunikasi mengganti identitas aktualnya menjadi virtual sehingga sama sekali tidak terkait dengan realitas sebenarnya.

Kajian-kajian terhadap realitas maya yang menjadi pengantar tulisan ini sangat jarang, khususnya di Indonesia. Oleh karena itu, seorang peneliti Cyber Culture, Rulli Nasrullah, atau akrab disapa Kang Arul, menulis buku Etnografi Virtual. Buku ini merupakan bagian dari minat kajiannya sebagai peneliti Cyber Culture setelah menulis buku sejenis lainnya; Media Cyber, Riset Media Cyber, dan Public Relations 2.0. 

Buku ini menjelaskan bahwa untuk melakukan penelitian di media siber tidak cukup menggunakan persfektif etnografi konvensional karena ada beberapa karakteristik yang berbeda antara kedua realitas tersebut. Yang dikaji tidak cukup permukaan saja tetapi juga unsur epistem artefak tersebut sehingga hasil kajiannya bisa dipertanggungjawabkan. Dosen Cyber Kultur di sejumlah universitas di Indonesia tersebut menawarkan menggunakan kajian etnografi virtual atau bisa juga disebut dengan istilah netnografi. 

Bagi Kang Arul, Etnografi tidak sekedar cara untuk melihat realitas budaya sebuah kelompok atau pekerjaan untuk mendeskripsikan sebuah kelompok atau pekerjaan semata, juga menjelaskan masa lalu dan masa depan kelompok masyarakat tersebut. Menyadarkan kelompok atau masyarakat melalui pendekatan tentang dominasi serta hegemoni kekuasaan, praktik-praktik ketidaksetaraan agama, ras, maupun gender. Bukan hanya mengeksplorasi catatan-catatan tentang artefak. 

Dalam konteks komunikasi, seperti ditulis Kang Arul (2017) etnografi menggabungkan antara bidang antropologi dan linguistik untuk mengurai artefak percakapan yang terjadi antarindividu dalam sebuah komunitas. Fokus studi terhadap percakapan dan bahasa pada dasarnya menjelaskan dan menganalisis bagaimana penutur menggunakan bahasa dalam berkomunikasi pada sistuasi nyata dibanding bagaimana cara penutur menggunakan kata-kata atau kalimat yang benar secara  gramatikal.

Netnography  menurut Jorgen Skageby, seperti dikutip penulis buku, dalam karya terbarunya tersebut adalah metode yang digunakan secara kualitatif untuk memahami apa yang terjadi pada komunitas virtual. Dengan menggunakan observasi atau wawancara secara online, teknik ini mencoba memaparkan tentang kebiasaan komunitas yang lebih spesifik dan penggunaan teknologi dalam berkomunikasi. Ia merupakan bentuk khusus atau spasial dari riset etnography yang disesuaikan untuk mengungkap kebiasaan unik dari berbagai jenis interaksi sosial termediasi oleh computer.  Mengadaptasi riset etnografi untuk mempelajari budaya dan komunitas yang terjadi dalam komunikasi termediasi computer. 

Melalui etnografi virtual, seorang peneliti bisa melakukan riset tentang; komunitas secara lebih luas, bukan hanya individu-individu dalam satu komunitas tertentu, juga berbagai komunitas yang saling berinteraksi. Bahasa juga menjadi wilayah riset dari kajian etnografi virtual. Betapa dunia virtual telah menghasilkan bahasa yang unik sehingga berdampak pada kehidupan nyata, seperti disinggung pada awal tulisan. Bukan hanya soal dari jumlah bahasa saja yang berkembang, bentuknya pun lebih beragam. 

Identitas menjadi krusial di media siber, karena setiap warganet bisa melakukan simulasi, membuat identitas ganda yang sama sekali tidak mencerminkan realitas sebenarnya. Setiap individu bisa menciptakan identitasnya sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingannya. Ini juga yang terjadi dengan merajalela dan berkembangnya hoax di Indonesia. Disebarkan oleh identitas virtual yang walaupun pembuatnya nyata tetapi akunnya bersifat simulacrum. Untuk melakukan riset terhadap identitas tentu tidak hanya permukaan saja yang dikaji juga asal-usul dan prosesnya juga. 

Jenis terakhir yang bisa diteliti adalah selebritas dan fans. Sejak populernya aplikasi media sosial, bermunculan selebriti-selebriti baru, bahkan warga biasa juga mengejar popularitas agar masuk kategori selebritas, ramai-ramai eksis di salah satu aplikasi media sosial. Selebriti media sosial ini walaupun bukan artis ataupun public figur, tetapi mereka dibicarakan dan diburu setiap postingannya. Setiap postingannya selalu ditunggu oleh para followers atau teman jejaringnya. Bagaimana hal ini bisa muncul, baik konten atau proses kreativitasnya bisa diteliti berdasarkan kajian etnografi.

Ciri khas jejaringnya, media siber seperti halnya  media massa konvensional, bisa menciptakan relasi kuasa. Dengan struktur sosialnya yang cenderung egaliter, bahkan media internet bisa mengelabui relasi dengan kekuasaan tersebut karena mengatasnamakan warganet tanpa curiga siapa yang ada dibelakangnya. Melalui kajian etnografi virtual kritis, bisa membongkar bagaimana relasi antar artefak-artefak yang muncul dengan strutur sosial dan kekuasaan yang lain. 

Melalui buku Etnografi Virtual, Kang Arul tidak hanya memaparkan sejumlah definisi, prinsip, ataupun paradigma, tetapi juga menawarkan prosedur, level, isu sampai panduan praktis penelitian dalam kajian etnografi  di media siber. Dengan demikian, buku ini tidak hanya menawarkan isu konseptual, sekaligus panduan praktis bagaimana melakukan penelitian etnografi virtual yang disertai contohnya.

Buku ini sangat cocok untuk peneliti ataupun mahasiswa yang sedang melakukan penelitian, khususnya mahasiswa ilmu sosial dan atau ilmu komunikasi dan kajian media baru yang tertarik dengan isu-isu yang muncul di media siber. Sejauh penulis amati, di Indonesia masih sangat jarang buku-buku referensi tentang kajian media siber, jika pun ada tidak spesifik untuk keilmuan tertentu, sehingga buku ini sangat layak dijadikan referensi atau pun bahan literasi digital. Sehingga masyarakat umum pun bisa menjadikannya rujukan literasi digital agar tidak terjebak oleh perilaku simulasi, buku ini bisa menjadi pelengkap wawasan baru. 

Banyaknya istilah-istilah baru dalam buku ini, bisa menjadi pengayaan wawasan, namun dengan sedikit pembacaan dan pemahaman yang mendalam. Bagi yang malas membaca, sepertinya buku ini hanya jadi tambahan koleksi yang sia-sia saja. Oleh karena itu, agar tidak sia-sia, praksisnya, melakukan penelitian dengan menggunakan metode etnografi virtual sepertinya menjadi pertimbangan yang bijak, agar mau melakukan pembacaan mendalam dan mempelajari berbagai isu-isu dan istilah-istilah baru dalam buku tersebut.

Selamat membaca, selamat meneliti, selamat beraksi, dan selamat dari kekejaman warganet yang kadang kejam.

Salam
Dudi Rustandi, Peminat Literasi Digital
Read More