Kisah Gadis Penakluk Ranjau


‘Parvana 2 Lembah Hijau’ merupakan novel kedua Deborah Elis, seorang aktifis anti perang dan konselor korban perang. Novel ini merupakan sekule kedua dari triloginya. selama tahun 1997 Deborah Ellis menelusuri perkampungan-perkampungan para pengungsi dan mewawancarai beberapa gadis yang dipekerjakan orangtuanya selama rezim Taliban berkuasa. Hasil wawancaranya tersebut mampu diceritakan dengan baik dan mengalir.

Melalui sekuel keduanya ini Deborah Ellis mengajak kita untuk mengelilingi perkampungan di Afghanistan serta menemui orang-orang yang sangat mengkhawatirkan akibat kondisi Perang dan otoritarianisme yang dijalankan oleh Tentara Taliban.

Pada bagian kedua novelnya tersebut Deborah Ellis menceritakan tentang kepergian keluarga dan kematian sang  ayah yang membuat Parvana hidup sebatang kara. Ia memilih hidup bersama orang lain yang tidak ia kenal sama sekali justeru akan diserahkan kepada tentara Taliban. Dengan bantuan salah satu anggota keluarga ia meninggalkan rumah dengan berbekal sedikit nasi, roti nan dan beri liar yang hanya bertahan sampai tiga hari. Pada hari keempat makanannya sudah habis yang membuat perut Parvana sakit.

Saat kesepian perjalanan dan lapar yang mendera, muncul seorang wanita dengan tatapan mata kosong melolong, matanya sudah mati, tidak ada lagi kehidupan yang tersisa di dalamnya. Ia menderita stress yang teramat berat karena ditinggalkan oleh anggota keluarga.(hal 18)

Saat menemukan sebuah kampung yang sudah porak poranda dengan bom, Parvana mendengar tangisan bayi, secepat kilat Parvana membawa anak tersebut, mengurus serta mencarikannya makanan. Ia masuk pada satu rumah yang sudah berantakan dengan beberapa peralatan dapur dan nasi basi. Ia pindah dari satu rumah ke rumah lainnya untuk mencari makanan yang masih bisa dimakan. Setelah mengurus dan memberinya makan, bayi yang ia beri nama Hasan (hal 24) bisa berhenti dari tangisannya dan parvana pun melanjutkan perjalanan dengan bekal yang ia dapatkan dari rumah-rumah kosong itu.

Melewati beberapa lembah dan bukit mengantarkan ia pada sebuah gua yang dihuni oleh anak laki-laki yang Parvana anggap aneh, Asif namanya (hal 39). Bersama ia lah perjalanan berlanjut, sehingga sedikit mengurangi beban bawaan Parvana karena saling berbagi.

Saat makanan habis, ia menemukan perkampungan yang berpenghuni, dengan pekerjaan yang ia dapatkan, Parvana mendapatkan sepiring kecil nasi untuk mengganjal perut bersama asif. Kesulitan hidup penduduk tidak mampu secara terus menerus memberikan Parvana makanan (hal.69). Mencuri pun adalah jalan terakhir yang ia lakukan bersama Asif sambil merenungi kesalahannya mencuri. 

Bersama Asif, yang walaupun kadang-kadang terlalu sinis kepada Parvana, namun ia bisa berbagi kebahagiaan dan penderitaan bersama Asif sebelum akhirnya menemukan Gadis Kecil bernama Laila di sebuah lembah hijau yang penuh dengan ranjau. Ia seorang gadis yang tidak pernah belajar apapun kecuali apa yang dilihatnya, bahkan membersihkan rumah pun tak pernah bisa karena tidak pernah melihat orang membersihkan rumah. Dengan luka wajah yang penuh belatung hidup, gadis tersebut tinggal bersama seorang nenek yang kehilangan semangat hidupnya. Seorang nenek yang terus berbaring tanpa gerakan kecuali nafasnya, persis seperti mayat hidup (hal. 89).

Bersama Asif, Bayi dan Laila, Parvana berbagi hidup, kebersamaan, kebahagiaan, penderitaan, makanan, kelaparan. Sampai akhirnya tidak ada orang yang bisa ia mintai tolong, sampai perutnya begitu sangat sakit, ia bertemu dengan orang-orang yang kondisinya sama dengan dirinya. 

Berjalan dan terus berjalan mengantarkannya menemukan sebuah kampung pengungsian di perbatasan dengan Pakistan. Di tenda-tenda pengungsian, Parvana bisa menitipkan Hasan kepada seorang suster untuk dirawat, di sini pula Parvana bisa mendapatkan selimut dan sedikit makanan. Saat memburu makanan yang dijatuhkan dari sebuah pesawat, Leila mati terkena ranjau yang disebar oleh tentara Taliban. Saat kondisi inilah ia bertemu dengan dua orang relawan yang ternyata adalah ibunya sendiri. Kegelisahannya selama ini ia tumpahkan kepada sang Ibu.

Seperti halnya dalam penceritaan ‘Parvana 1, Sang Pencari Nafkah’, Deborah Ellis menceritakan dengan mengalir novel keduanya. Pembaca akan diajak berpetualang ke negeri-negeri yang penuh dengan ranjau dengan beberapa perkampungan yang sudah ditinggal oleh penghuninya; kelaparan dimana-mana; serta kondisi pengungsi yang memprihatinkan.

Novel sekuelnya ini mendapatkan penghargaan dari Middle East Book Award (2002), Ruth Schwart  Award (2003), dan Hackmatack Award (2005).

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon