11 November 2018

Memacu Andrenalin di Jalur Sukawana

Leuweung Kunti di Jalur Sukawana photo by @abahraka
Bandung Barat, bukan hanya memiliki banyak destinasi wisata alam yang eksotis dan menjadi tujuan wisata Dunia, sebut saja Gunung Tangkuban Parahu. Juga memiliki sejumlah destinasi wisata yang tersebar di sekitarnya, sebut saja seperti Curug Maribaya, Curug Pelangi, Curug Leuwi Tilu Opat, Cikole Camping Park sampai Stone Garden, Gua Pawon, Gunung Hawu, dan lainnya. Banyak juga Destinasi buatan seperti Floating Market, Kebun Begonia, Dusun Bambu, The Lodge Maribaya, Farm House Lembang, atau yang sedang hits, beberapa pekan lalu dikunjungi oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya, Orchid Forest.

Bandung Barat menyimpan sejumlah potensi wisata berbasis ecotourism yang masih bisa dieksplorasi. Wisata berbasis alam tanpa harus mengganggu atau merusak keindahan alam, justeru mendukung ekosistem berkembang sesuai dengan fitrahnya.

Bandung Barat juga memiliki hamparan kebun teh yang Indah, walaupun tidak seluas Malabar, Rancabali, Gambung, atau Patuha. Namun Kebun Teh Sukawana menjadi salah satu area favorit untuk beberapa kegaitan wisata di Bandung Barat seperti teawalk, gowes, trail atau offroad. Melalui wisata offroad, Kebun teh Sukawana menjadi salah satu destinasi wisata yang dapat memacu andrenalin para penikmatnya.

Perkebunan Teh Sukawana
Jalur masuk Perkebunan Sukawana
Adalah penghujung 2017, tepatnya bulan Agustus, saya bersama komunitas Generasi Pesona Indonesia Jawa Barat (Genpi Jabar) beramai-ramai merasakan sensasi wisata jalur Sukawana. Hal ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan kopdar relawan pariwisata Indonesia.

Tepat pukul 6.00 pagi, kabut tampak menyelimuti Gunung Burangrang, dingin sudah mulai terusir fajar. Jaket tebal yang semalam menjadi teman kencan tidak lagi diperlukan. Tinggallah t-shirt putih Pesona Indonesia, lengkap dengan berbagai aksesorisnya. Kami bersiap dengan segala bekal dan peralatan untuk mengarungi jalur Sukawana yang diperkirakan memakan waktu 3-4 jam perjalanan. DSLR, Drone, ataupun action cam telah dibawa para relawan.

Lima Land Rover  menjadi kendaraan utama kami. Memasuki gerbang Perkebunan Teh Sukawana, atmosfer eksotisme alam sudah mulai terasa. Kabut tipis mulai terusir oleh sinar matahari. Pantulan sinar mentari di ujung daun teh sudah mulai tampak. Perkebunan teh terhampar alami dan segar. Sesekali saat memasuki rimbunnya pohon yang menjulang, udara dingin lagi dirasakan. Di Balik pepohonan menjulang, tampak kota Bandung dengan beberapa gedung tinggi terhampar.

Sukawana, adalah satu-satunya kebun teh yang berada di Bandung Barat, selebihnya berada di kawasan Kabupaten Bandung. Walaupun tidak seluas Patuha, Malabar, Rancabali, atau Gambung, kebun teh Sukawana cukup produktif, bahkan menurut catatan, ada satu pabrik teh yang siap mengekspor hasil teh Sukawana yang dikelola PTPN VII tersebut.

Jalur ini menjadi jalur favorit bagi para pesepeda gunung. Begitu juga para crosser bebas. Bahkan teman saya yang bergadung dalam komunitas Trabas sering bercerita jika Sukawana menjadi jalur favorit untuk mereka. Sesekali kami melihat para crosser lewat dan sesekali para pesepeda berhenti untuk memberi jalan pada kami.

Sukawana sendiri awalnya terkenal dengan nama Pangheotan, konon berasal dari nama salah satu pemilik kebun teh jaman Belanda, Van Houten. Lidah orang sunda menyesuaikan menjadi Pangheotan. Namun warga sekitar lebih senang menyebutnya dengan wilayah yang mereka diami, Sukawana.  Jadilah wilayah ini menjadi jalur Sukawana. Tempat favorit para penikmat wisata esktrem.


Wisata Adrenalin
Awalnya tidak tahu jika yang saya lewati adalah jalur wisata ekstrem. Bahkan saat memasuki gerbang perkebunan, saya mengira jika perjalanan ini hanya untuk menikmati eksotisme hamparan kebun teh Sukawana saja. Setelah kebun teh terlewati dan mulai tampak pohon pinus yang besar dan tinggi-tinggi. Area pohon pinus yang saya lalui terkenal dengan Leuweung Kunti, baru ngeuh jika pada akhirnya kami sedang dibawa untuk berwisata adrenalin.

Jalanan sudah mulai menunjukan atmosfer offroad. Tidak ada lagi jalan tanah berpasir atau berbatu. Semua jalan hanya tanah belaka yang menanjak, bergelombang kasar, berbelok, berair, bahkan menyempit, dengan dinding tanah melebihi tinggi kendaraan. Hal ini mungkin karena sering tergerus air dan ban-ban berkembang kasar hingga jalan tanah semakin legok hingga akhirnya membentuk jalan sempit.

Pada kondisi jalan-jalan tersebutlah adrenalin kami terpacu, tak sedikit dari kami berteriak-teriak sebagai ungkapan rasa senang karena shok dan kaget dengan terjalnya jalanan. Sambil berteriak kami juga berdecak karena baru kali ini merasakan  dapat memacu adrenalin tanpa harus takut bahaya.

Salah satu yang menaikan desir darah kami adalah ketika kendaraan hampir selalu bergesekan dengan tanah karena jalanan menyempit. Begitu juga saat Land Rover memasuk jalan bergelombang, terjal, sekaligus licin berlumpur. Jika supir tidak mahir, mobil bisa tergelincir.

Saat memasuki kembali jalan menyempit, tiba-tiba ban selip. Tiba-tiba saja mesin mati. Teringat dengan salah satu cerita, jangan-jangan daerah ini yang masuk kawasan Leuweung Kunti. Saya berperasangka jika kendaraan dengan penggerak empat roda ini akan terjebak.  Kawasan yang masih memiliki aura mistis karena seringkali makhluk halus mengganggu. Lumayan bergidik. Kemudian datang rombongan lain membantu dan akhirnya mesin dapat kembali hidup. Kami pun melanjutkan perjalanan yang sepertinya masih belum mau berakhir sebelum akhirnya kami menemukan satu kawasan istirahat untuk sholat dan makan siang.

Menuju Sukawana
Bagaimana agar penikmat wisata ekstrem offroad bisa juga menikmati jalur Sukawana?

Populernya jalur Sukawana, menjadikan pencarian tempat penyewaan Land Rover di SekitarLembang cukup mudah. Tempat penyewaan juga memasang petunjuk menyediakan jasa sewa Land Rover. Tinggal kemauan dari pengguna jasa untuk bertanya. Jika pun masih segan bertanya, bisa searching melalui internet.

Namun, untuk menikmati jalur sukawana tidak bisa sendirian, asyiknya beramai-ramai secara kelompok. Untuk pemula baiknya menggunakan jasa pemandu karena tidak ada papan-papan petunjuk untuk memasuki area ini. Hal ini juga untuk menghindari salah jalan atau jalur.

Satu kendaraan Land Rover dihargai 1.500.000 untuk 6-8 orang, harga ini sudah termasuk tiket masuk jalur Sukawana dan Tangkuban Parahu. Untuk paket tour per orang biasanya dibandrol dari mulai 250 hingga 450 belum termasuk tiket Jalur Sukawana dan atau Tangkuban Parahu.

Agar lebih praktis, saya lebih menyarankan untuk menyewa jasa travel agent atau pemandu saja agar kita bisa lebih maksimal menikmati perjalanan dan memacu adrenalin. ***[Abah Raka]

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi dan menulis feature perjalanan dan buku. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

2 komentar

waduh jalannya benar2 susah ya , butuh keberanian dan kepintaran dalam hal mneyupir di kndisi sperti itu

Iya bu, tapi da kita mah penumpangnya tinggal duduk manis dan ikut tergoyang-goyang hehehea. Nuhun bu sudah mampir

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...
EmoticonEmoticon