27 July 2019

Bersilaturahmi Melalui Media Sosial

Abah Raka, Silaturahmi Melalui Media Sosial
Cara bersilatuhami bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu yang paling lumrah adalah berkunjung ke rumah. Orang tua, kakak, atau siapapun yang kita anggap tuakan, baik dari sisi umur, ilmu, (jabatan? mungkin) wajib kita kunjungi untuk bersilaturahmi. Kata orang NU mah biar berkah. Apalagi yang masuk kategori atau kita anggap sebagai orang tua atau guru. Wajib bin kudu!

Silaturahmi bukan soal memanjangkan umur dan rezeki. Juga memanjangkan babarayaan – kata orang sunda mah. Tina ngopi jadi dulur, begitu kira-kira mengutip sebuah tagline pada sebuah warung kopi. Karena dalam acara bertemu tersebut seringkali tersaji kopi, selain tentunya ada panganan lain plus rokok.

Saat teknologi sudah maju, silaturahmi lebih gampang lagi. Tak harus bertatap muka. Cukup kirim pesan, ‘kumaha damang? Atau gimana kabarnya? Dan lain sebagainya. Bisa melalui pesan instan atau telepon sekalipun.

Baik bertatap muka atau berkirim pesan instan untuk menanyakan kabar tersebut terasa sekali nilai silaturahminya. Walaupun, sebagian dari kita, karena beberapa kali punya pengalaman, mungkin sudah ada prejudice, sampai akhirnya begumam dalam hati,”ada apa nih, tiba-tiba nelpon, atau nge-WhatsApp.”

Berkomentar atau like sebagai Silaturahmi
Namun, ada yang mungkin dan barangkali, tidak disadari oleh setiap orang, bahwa sebagian dari kita meniatkan silaturahmi dengan seseorang dengan melike atau berkomentar di media sosial. Like dan komentar sudah sedemikian lumrah dalam kehidupan sekarang. Saat seorang teman membuat catatan atau status, bisa gambar atau tulisan. Lalu kita like atau komentar.

Pertanyaannya, apakah like dan komentar itu, karena statusnya benar-benar menarik? Karena menggugah? Karena memiliki dampak dan manfaat untuk kita atau orang banyak? Sehingga layak diapresiasi dan akhirnya kita komentari.

Sejauh yang saya alami dan rasakan, tidak setiap komentar dan like itu karena statusnya menggugah, atau benar-benar unik, atau memiliki manfaat dan dampak positif terhadap kehidupan kita. Seringkali juga like dan komentar karena kita menghargai sebagai teman atau justeru niatnya adalah menyambungkan kehadiran karena jarang bertemu muka. Jika niatnya adalah menyambungkan kehadiran, like dan komentar bukan karena menggugah, tapi karena niat bersilaturahmi melalui komentar tersebut.

Karena niat silaturahmi itu lah, kita kadang mengabaikan sentuhan mendalam terhadap komentar kita, sehingga komentarnya cukup dengan kata-kata yang singkat dan pendek, misalnya; mantap, kerena, bagus, mantul, dan lain sebagainya.

Hanya saja feedback yang kita dapat tidak sesuai ekspektasi kita, bahwa komentar kita pada dasarnya sebagai pembuka obrolan. Pemilik statuspun hanya memberikan like terhadap komentar kita. Padahal sebetulnya, jika sense of silaturahminya kuat, pemilik status bisa membalas dengan sebuah pertanyaan, atau ucapan terima kasih, sebagai respon atas apresiasinya terhadap komentar tersebut.

Jika yang dilakukan oleh pemilik status tersebut hanya like, biasanya tidak adalah jalan pembuka obrolan dalam komentar tersebut. Sehingga jalan menuju silaturahmi produktif berhenti begitu saja.

Saya sendiri, selalu berusaha untuk membalas—tidak hanya dengan like, setiap komentar di media sosial, sependek apapun, minimal dengan kata ‘nuhun’ atau terima kasih. Tentu saja ini sebagai feedback positif atas nilai silaturahmi yang dihadirkan dalam komentar.

Saya sadar bahwa komentar-komentar pada status media sosial yang saya posting, bukan karena postingan saya bagus, pemikiran saya luar biasa, atau apa yang saya bagikan berdampak positif secara luas pada khalayak. Apalagi yang saya bagikan hanya foto narsis, nilai manfaatnya nol besar. Oleh karena itu saya selalu berfikir lebih realistis, bahwa like atau lebih terasanya komentar terhadap apa yang saya share, merupakan silaturahmi teman-teman media sosial terhadap saya. Sehingga sependek apapun tetap harus saya balas. Ini konsekuensi dari postingan saya. Ada yang berkomentar wajib dibalas. Bukan membalas komentar dengan like semata.

Merujuk pada konsep tanda, saat seseorang mengomentari postingan kita, ada bentuk lain yang hadir bersama-sama dengan komentar tersebut, yaitu kehadiran pemilik komentar. Komentar tidak semata-mata sebagai komentar. Namun juga ia merupakan konsep kehadiran sang pemberi komentar. Kehadiran inilah yang tidak boleh kita abaikan. Karena bagaimanapun kehadiran dalam sebuah silaturahmi menjadi keniscayaan akan bentuk saling menghargai melalui berbagai macam interaksinya. Inilah hubungan antara penanda dan petanda, antara komentar dan kehadiran.

Menjadi keniscayaan saat kita hadir dan orang lain hadir, maka kehadiran itu akan melahirkan komunikasi. Dalam konsep komunikasi, bisa jadi kehadiran itu bersifat satu arah, dua arah, atau banyak arah. Jika yang terjadi adalah interaksi maka keniscayaan bahwa kehadiran yang aktif harus dibalas dengan kehadiran aktif lagi. Pendek kata, saat ada yang bertanya aktif, tentu harus dijawab dengan aktif bukan pasif seperti hanya senyuman, atau cukup dengan dua jempol diacungkan. Tentu ini tidak etis.

Bagi saya ini bagian dari konsekuensi kehadiran kita di medsos. Jika intensitas kehadiran kita cukup sering dan kehadiran orang lain pada postingan sering, menjadi konsekuensi bahwa kehadiran aktif itu harus dibalas dengan kehadiran aktif lagi. Sehingga nilai silaturahmi terjalin. Hubunganpun mengarah kepada hal yang positif. Sehingga medsos bukan hanya alat ia juga menjadi bagian dari kebertubuhan kita. Walaupun tentu saja kehadiran kita bisa ditunda sesuai dengan waktu yang memungkinkan untuk hadir.

Sudah siap hadir di media sosial? Atau sekadar narsis campur FOMO saja?!

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi dan menulis feature perjalanan dan buku. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...
EmoticonEmoticon