8.12.20

Menapak Jejak Peninggalan Bosscha

Menapak Jejak Peninggalan Bosscha. sumber foto: Bambang Diskominfo Kabupaten Bandung 

Meneer Belanda, K.A.R. Bosscha, administratur perkebunan teh yang memiliki banyak kontribusi untuk kemajuan masyarakat Priangan. Bukan hanya Observatorium Bosscha Lembang, juga PLTA, Sekolah Teknik ITB, dan inovasi perumahan untuk pekerja perkebunan.
Janari gede, mataku telah terbuka, bersiap bebersih badan dan hidup normatif sebagai manusia beragama. Namun, bukan hanya soal itu. Karena pukul 5.00 pagi hari, telah ditunggu oleh sekawan, memburu janji untuk meluncur ke Neglawangi. Karena itu, pukul 04.00 setelah sameang, kuda besi tuaku telah menapaki jalan kecil desa, membelah jalanan kota.


Bersama tim Sarebu Kampung, Adhie Nur Indra, Asep Soehendar, Bambang, Anton, Kamal, dan Hendar, kami bergegas menuju ketinggian 2000-an mdpl, melalui jalur Pangalengan. Menuju tapal batas kabupaten Bandung. Blok Sedep - Neglawangi.


Neglawangi, salah satu desa di Kecamatan Kertasari, satu jam perjalanan dari kota kecamatan Pangalengan atau sekitar 30 km jaraknya. Kurang lebih tiga jam perjalanan dari Soreang, Kota Kabupaten Bandung atau sekitar 55 km arah Selatan Bandung. Dengan jarak tempuh dan waktu yang tidak sepadan, jangan bayangkan jika jalannya datar dan lurus seperti kota. Walaupun secara infrastruktur sudah cukup baik. Kelokan-kelokan yang bisa membuat pusing dan muntah, menjadi salah satu alasan kenapa waktu tempuh dan jarak seakan tidak berompromi.

Akan tetapi, saat menginjakkan kaki, tepat di depan Desa Neglawangi, terbayar sudah pusing dan mual karena kelokan. Mentari tersenyum, menjadi ciri bahwa pagi telah terlewati. Namun, kami masih betah berjaket. Aparat pun menikmati mengenakan kupluk. Udara dingin terasa meliuk-liuk mengitari badan yang masih berlum terbiasa dengan suhu 170 c atau berada pada ketinggian 1764 MDPL. Petugas desa bilang, jika sedang dingin-dinginnya, udara bisa sampai 50 c.


Perkenalan kecil dengan sejumlah aparat desa, penggerak KIM Neglawangi, dan penggerak informasi & pariwisata; Ibu Sekdes, Iwan Hadiana, Yusep Zamaludin, dan Reva Gumelar menjadi penghangat suasana, sebelum melakukan perjalanan dan liputan. Cerita-cerita kecil lalu berubah menjadi gelak tawa, bersama punggawa. Sebelum akhirnya, saya tersadar bahwa lokasi kantor desa yang menjadi tempat kami bercengkrama, adalah jalan kawah Papandayan.


Nama jalan tersebut, seakan menghantarkan saya untuk pulang ke kampung halaman. Tak pelak, karena jalannya dinamai dengan jalan Kawah Papandayan, tempat masa muda mengadu andrenalin dengan dingin dan gelapnya Pondok Saladah, di tempat kelahiran. Ya, jalan ini menghubungkan Kabupaten Bandung dan Garut melalui jalur Gunung Papandayan.


Terbersit mimpi masa remaja yang tak pernah terlaksana, untuk menapaki Tegal Arun dan Tegal Panjang yang menjadi penghubung Kabupaten Bandung dan Garut. Sebagai pencapaian gengsi para pendaki pemula di gunung Papandayan.


Bukan Tanam Paksa

Menapak Jejak Peninggalan Bosscha. Sumber foto: Bambang Diskominfo Bandung

Setelah personil lengkap; aparatur desa, kelompok informasi masyarakat, serta kelompok penggerak pariwisata desa Neglawangi. Kami pun, menuju tempat ‘perjamuan’ pertama, yaitu Villa Belanda, yang dibangun tahun 1926. Villa ini awalnya merupakan rumah dinas kepala bagian perkebunan blok Neglawangi, yang masih menggunakan bahasa Belanda, Sinder Apdeling. Beberapa kali alih fungsi, akhirnya eks rumah dinas pejabat perkebunan ini berubah fungsi menjadi villa.


Tidak seperti perkebunan teh di wilayah Garut dan Purwakarta, Perkebunan teh Neglawangi, walaupun memiliki sejarah yang kuat dengan tanam paksa, namun pembukaan lahannya didasarkan pada investasi para pemodal, sehingga bukan bagian dari politik balas budi Belanda atau istilah yang lebih populer saat itu, cultuurstelsel.


Sebagian besar perkebunan-perkebunan teh besar di Indonesia, merupakan peninggalan dari program tanam paksa bangsa Belanda. Bibit tehnya sendiri dibawa oleh mereka untuk keperluan bisnis. Sebagaimana halnya diceritakan dengan baik oleh Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Pulau Buru, yang salah satunya telah diangkat menjadi film Bumi Manusia.


Perkebunan teh, merupakan bagian dari jejak tanam paksa. Hanya saja, ceritanya sedikit berbeda, karena perkebunan teh tersebut dikelola oleh generasi ke-2 dari investor Belanda. Generasi ini merupakan kelompok pemodal yang datang setelah dihilangkannya politik tanam paksa.


Generasi pertama teh di tatar priangan, yang bermula tahun 1827 memokuskan area penanaman di daerah Garut dan Purwakarta. Setelah muncul UU Agraria tahun 1870, tanam paksa berakhir. Dan pengusaha teh berdatangan sebagai investor yang menyewa tanah-tanah rakyat. Lalu pada tahun 1896 Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang sepupu pengusaha teh di priangan datang sebagai pekerja perkebunan teh Malabar Pangalengan.


Wajar, jika perlakuan dari meneer Belanda, pada periode kedatangan generasi kedua ini berbeda dengan generasi pertama di perkebunan teh Garut dan Purwakarta. Meneer-meneer Belanda bersikap dan memperlakukan masyarakat dengan sangat baik, bahkan disediakan perumahan khusus untuk pekerja pribumi. Mereka pun dikenang masyarakat.


Jejak Bosscha; dari Pembangkit Listrik, Sekolah Teknik hingga Gunung Nini

Saat menapaki jalan menuju Gunung Nini Bandaasri Pangalengan, sebuah penunjuk jalan bertuliskan Makam Bosscha terpampang di sebelah kiri jalan. Apa hubungannya dengan Observatorium Bosscha yang populer di Lembang?


Ya, saya baru menyadari, lebih tepatnya mengetahui setelah berbincang dengan pengelola tempat Wisata Gunung Nini. Bahwa hamparan perkebunan teh yang luas di Pangalengan merupakan peninggalan Bosscha. Bukan hanya pangalengan, namun tersebar ke sejumlah tempat termasuk Neglawangi dan Lembang.


K.A.R. Bosscha merupakan Meneer Belanda yang memiliki kepedulian sosial dan pendidikan yang  tinggi. Tidak hanya membangun pusat observasi Bosscha yang terkenal di lembang, juga mendirikan sekolah teknik pertama di Indonesia, atau sekarang yang dikenal dengan Institut Teknologi Bandung.


Awalnya, Bosscha bekerja sebagai administratur pada perkebunan milik sepupunya yang menjadi pioneer perkebunan teh di Jawa Barat, khususnya wilayah Garut, Bandung, dan Purwakarta, keluarga KF Holle dan Kerkhoven.


Bosscha sendiri masih berkerabat dengan Kerkhoven. Namun, selama bekerja Bosscha banyak melakukan inovasi. Ia mendirikan perumahan untuk pekerja perkebunan. Ia juga mendirikan pabrik teh Malabar. Selama menjadi administratur, ia berinovasi membuat pembangkit listrik tenaga air yang menjadi sumber energi bagi pabrik teh.


Pembangkit listrik tersebut, berada di perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut, masih berfungsi dengan baik. Dibangun tahun 1924. Hingga kini masih memiliki fungsi menjadi sumber listrik bagi pabrik teh yang berada Neglawangi.

Generasi kedua meneer Belanda ini, tidak hanya menjadi pengusaha teh, mereka juga sangat cinta dengan kebudayaan dan masyarakatnya. Wajar jika mereka juga sangat menyatu dengan masyarakat. Hingga akhirnya dicintai oleh masyarakat. Bosscha sendiri ingin dimakamkan di tengah-tengah perkebunan, tepatnya pada perkebunan teh Malabar, tepat di area menuju Gunung Nini.


Gunung Nini, merupakan sebuah bukit tinggi di tengah pegununang setinggi 1760-an mdpl yang bisa melihat hamparan pohon teh 360 derajat. Menurut pengelolanya, Gunung Nini merupakan tempat favorit K.A.R. Bosscha untuk memantau keadaan perkebunan yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap harinya, ia selalu melakukan pemantauan.


Salah satu cerita yang disampaikan oleh Bosscha saat memantau, setiap menjelang siang selalu datang seorang nenek-nenek yang membawakannya makan. Sampai akhirnya tempat tersebut dinamai gunung Nini. Kini, gunung Nini, dikelola oleh Karang Taruna Bandaasri Pangalengan. Menjadi tempat wisata swafoto 360 derajat.


Gunung Nini mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi, baik roda dua atau roda empat. Jalan menuju gunung Nini cukup bagus, walaupun saat menapaki pegunungannya belum diaspal. Namun cukup nyaman untuk dilalui. Dengan tiket Rp.10.000,- per orang, wisatawan bisa menikmati pemandangan eksotis hamparan perkebunan teh dari ketinggian 1700-an mdpl. Pengelola menyediakan saung-saung terhubung satu sama lain untuk berswafoto ataupun istirahat sambil menikmati kuasa dan keindahan ciptaan Allah. ***[abahraka]

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...
EmoticonEmoticon