Showing posts with label Catatan Kampus. Show all posts
Showing posts with label Catatan Kampus. Show all posts

7.3.19

Digital Branding, Kampanye Efektif dan Murah Calon Legislatif

Foto: @abahraka
Menjelang dimulainya kampanye pemilu 2019 yang tinggal menghitung hari, ada 3 orang yang menghubungi saya untuk sekedar ngobrol dan sharing tentang kampanye untuk pencalonannya sebagai caleg untuk pemilu 2018. Ada yang sekedar silaturahmi karena telah lama tidak pernah kopi darat, walaupun jarak rumahnya dekat. Ada yang sengaja menghubungi karena butuh semacam diendorse sosoknya pada media sosial. Ada juga yang secara verbal minta bantuan dan arahan untuk pengelolaan media digitalnya.

Untuk yang pertama mengira bahwa kampanye melalui digital cukup dengan posting dan menggunakan media sosial ads. Untuk yang kedua, sampai akhirnya ngobrol hingga larut malam, mengira bahwa dengan membuat banyak media dan iklan media massa cukup lumayan untuk kampanye.

Secara substantif tidak ada yang salah dengan posting berkala, iklan di media sosial, ataupun publikasi pada media mainstream bagi balon legislatif tersebut. Hanya saja, pada akhirnya akan sia-sia karena balon tersebut hanya dikenal saja tetapi tidak menjadi top of mind dalam benak pemilih. Hal ini karena apa yang dilakukan balon dengan netizen lain yang aktif di media (baik medsos atau mainstream) tidak ada pembeda. Bahkan tidak jelas nilai yang diperjuangkan oleh balon.

Saat membuka situs anggota legislatif, katakanlah yang sedang menjadi selebritinya sekarang adalah Fahri Hamzah dan Fadhli Zon. Sekilas dari tampilan profil digitalnya (web) tidak jelas nilai apa yang mereka perjuangkan. Tidak ada gambaran sama sekali bahwa mereka sedang memperjuangkan nilai tertentu, masyarakat tertentu, atau isu tentang kemanusiaan. Walaupun secara brand, semua tahu bahwa FH dan FZ ini adalah orang-orang yang kritis terhadap pemerintah. Tapi sekilas hal tersebut tidak tergambarkan dalam profil digital mereka. Profilnya terlalu general sebagai tokoh publik. Terlalu general. Walaupun hal berbeda akan didapatkan jika kita mengikuti dan menguliti isinya. Atau secara berkala kita tengok twitternya, karakter mereka cukup kuat untuk menjadi pembeda dengan anggota legislatif yang lain.

Saat membuka profil lain, misalnya Budiman Sudjatmiko (BS) dan Rike Diah Pitaloka (RDP), kebetulan mereka dari PDIP. Walaupun sekarang mereka lebih banyak diam daripada mengkritisi kebijakan pemerintah.  Akan tetapi, sekilas pandang saya menemukan aura beda dari tampilannya. Terlihat jelas juga bahwa ada nilai yang diperjuangkan. Misalnya dalam tampilan profilnya tergambar bahwa BS adalah sebagai pejuang nilai-nilai pedesaan. Hingga muncul kesan bahwa dialah yang melahirkan UU pedesaan. Begitu juga saat mengintip profil RDP, kesan yang muncul adalah bahwa dia pejuang kaum buruh. Salah satu yang menjadi concern-nya adalah masalah upah.

Walaupun FH dan FD memiliki brand yang kuat sebagai tokoh publik dengan konsistensinya yang terus mengkritisi pemerintah. Namun jika jarang mengikuti dan kita buka profil digitalnya sekilas, kita kesulitan menangkap kesan tentang nilai yang dia perjuangkan. Nah, bagaimana jika hal ini terjadi pada balon legislatif yang notabene tidak populer FH, FD, atau BS dan RDP. Oleh karena itu, yang pertama dilakukan oleh balon legislatif baru adalah dengan membuat pembeda. Pembeda menjadi salah satu kekuatan dalam memasarkan diri.

Meminjam konsep Hermawan, seorang pakar marketing, ada 2 lagi kekuatan lain yang dapat menggerakan  kampanye balon, yaitu positioning dan brand. Pendiri Asosiai Marketing Asia tersebut menyebutnya sebagai konsep PDB yang menghasilkan 3i. PDB merupakan kependekan dari Positioning, Differentiation, dan Brand. 3i sendiri adalah Brand Integrity, Brand Identity, dan Brand Image. Konsep ini merupakan pijakan dasar dalam marketing 3.0 yaitu collaborative, cultural, dan spiritual. Konsep ini dapat diaplikasikan saat memarketingnya diri sendiri dalam kontestasi politik menuju DPRD/ RI tahun 2019 mendatang.

Mari kita mulai...
Merujuk pada konsep 3i di atas, pertama, mau tidak mau seorang balon harus mampu merumuskan visi misinya dengan cara kolaborasi (collaborative). Partisipasi dari konstituen menjadi keniscayaan agar balon terhubung dengan konstituen. Kolaborasi memberikan penghargaan dan eksistensi konstituen, bahwa mereka bukan kambing conge. Konstituen adalah pribadi-pribadi kreatif dan punya kehendak bebas sehingga perlu diberikan ruang eksistensi. Tentu ini bukan kerja yang mudah dan enteng. Apalagi bagi politisi pemula yang bukan organisatoris atau bukan pula aktivis. Akan tetapi, jika balon telah memulainya sejak lama, hanya tinggal melanjutkan dan menguatkan nilai apa yang hendak diperjuangkan bersama-sama konstituen.

Kedua, balon juga harus berada di tengah-tengah masyarakat, membumi dengan konteks. Agar tidak asing dalam persfektif masyarakat. Bukan hanya terhubung tapi juga diakui sebagai bagian dari masyarakat. Hal ini penting karena masyarakat begitu sensitif dengan tradisi. Jangan sampai balon atau sebaliknya merasa asing satu sama lain. Oleh karena itu, misalnya orang-orang yang berasal dari daerah Dapil seringkali menyesuaikan dengan kultur masyarakat dapil. Mulai dari berbahasa, berpakaian, panggilan juga. 

Ketiga, melengkapi keterhubungan dan pembumian diri dengan spiritualitas. Spiritualitas bukan hanya hal-hal yang berhubungan dengan sesuatu yang maha. Namun juga mampu mewujudkan nilai-nilai kemahaan menjadi nilai kemanusiaan. Ingat pernyataan Ali Syariati, spiritualitas adalah melalui tangannya menuliskan ayat-ayat suci dari langit serta terbenam dalam genangan lumpur dan mengayungkan kayu untuk menyuburkan tanah yang kering, ia berdiri tegak memperjuangkan ayat-ayat dan hak-hak masyarakat. Pada prinsip ketiga inilah nilai itu muncul, yang akan menjadi pembeda sekaligus. Sehingga bukan hanya positioning dan differensiasi, seorang balon juga akan muncul brand-nya.

Lalu, bagaimana mengaplikasikan konsep tersebut sehingga mudah terwujud dalam konteks pemasaran diri? Berikut beberapa teknik yang saya kutip dari beberapa referensi...

Teknik Personal Branding
Pada dasarnya personal branding adalah upaya seorang balon untuk menjadikan namanya mudah diingat dan calon pemilih langsung mengasosiasikan dengan keunggulan tertentu. Jika saya sebutkan nama yang sudah saya sebutkan di atas; Farhri Hamzah, Fadli Zon, Budiman Sujatmiko, atau Rike Diah Pitaloka. Konstituen akan mengasosiasikan dengan sifat-sifat tertentu. Fahri Hamzah selain kritis juga orang yang cukup lurus, Fadli Zon selain terkenal kritis sebagai oposan juga punya kepedulian terhadap artefak dan budaya intelektual. Terlepas brand keduanya tidak langsung muncul saat mengintip profilnya dalam personal websitenya.

Ada beberapa prinsip yang dapat dilakukan untuk melakukan personal branding, seperti ditulis oleh Silih Agung Wasesa (2018).

Nama
Nama menjadi yang pertama diingat dalam konteks apapun. Sukarno dan Hatta memiliki panggilan populer Bung Karno dan Bung Hatta. Ia seorang proklamator, orang yang disegani, melalui panggilan bung di depan nama pendeknya membuat Soekarno dan Hatta lebih familier sebagai seseorang yang memiliki jiwa patriot dan negarawan. Akan tetapi saat panggilan bung ini kita pakai misalnya di organisasi pemuda, justeru menjadi asing. Karena konteksnya sudah berbeda.

Begitu juga saat caleg atau kepala daerah yang berasal dari Sunda menggunakan panggilan ‘Kang’. ‘Kang’ yang biasanya digunakan dalam konteks keorganisasian menunjukan stratifikasi bahwa yang dipanggil ‘kang’ lebih senior dan disegani. Untuk menciptakan suasana saling menghargai rasanya pas menggunakan panggilan ‘kang’. Akan tetapi di dunia baru yang serba egaliter, tampaknya panggilan ‘Mang’ lebih membumi, dekat, dan egaliter dibandingkan ‘kang’ yang memiliki jarak. Mang juga mengasosiakan bahwa dirinya memosisikan sebagai seseorang yang dapat dijangkau oleh siapapun.

Untuk memberikan nama panggung, panggilan depan dengan ‘Mang’ misalnya ‘Mang Ahmad’ akan lebih terasa familier oleh masyarakat dari semua kalangan. Ini juga menjadi pembeda di antara orang Sunda yang rata-rata menggunakan kata ‘Kang’ sebagai panggilan. Dan tentu saja banyak pilihan untuk menjadikan nama kita sebagai nama panggung dalam dunia politik.

Muda dan Pemberi Harapan
Sukarno pernah memberikan pernyataan “berikan aku 10 pemuda maka akan aku guncang dunia”. Pernyataan tersebut relevansinya kini sangat kuat. Hermawan Kertajaya, pakar marketing menjadikan kaum muda sebagai lokus gerakan dan perubahan. Lihat saja para pemberi harapan di era disrupsi, rata-rata kaum muda. Perusahaan pertama yang mencapai nilai saham 1 trilyun adalah Nadiel Makarim yang notabene masih muda. Begitu juga Ahmad Dzaki yang memberikan harapan terhadap pelaku UKM di Indonesia notabene masih berumur 30-an. Yoris Sebastian, Yasa Singgih, dan mereka juga para milyarder dunia seperti Mark Zuckerberg notabene memulai melakukan perubahan saat masih sangat muda. Oleh karena itu kesan dan ide-ide yang mengasosiasikan dengan sesuatu yang menjadi muda harus digalakkan. Seorang balon harus mampu memiliki penampilan, cara bicara, semangat, dan ketahanan fisik sebagai anak muda.

Prabowo lebih memilih Sandiaga Uno yang punya penampilan muda, begitu juga Jokowi memilih Erick Thohir untuk mengimbangi para pemilih pemula yang rata-rata harus didekati dengan pendekatan kekinian. Era digital, kaum muda menjadi salah satu lokus dan dinamisator. Bisakah balon menampilkan diri sebagai yang muda dan memberi harapan?

Go Digital
Wasesa (2018) memberikan beberapa tips praktis, bahwa salah satu pintu masuk instan ke generasi X, Y, dan Z adalah melalui etalase digital. Dalam etalase digital, sosok caleg dapat dikonstruk agar sesuai keinginan. Tetapi bukan berarti asal posting dan tulis. Butuh teknik dan keahlian agar sosok caleg berkarakter. Seperti ditulis Wasesa, pertama  memiliki narasi tunggal kepribadian. Caleg harus memiliki team atau agen-agen digital yang tersebar di setiap titik yang membicarakan secara tunggal dengan bahasanya masing-masing yang walaupun gayanya beragam, namun isunya seragam. Kedua,  terkoneksi dengan netizen. Bukan hanya di dunia maya, tetapi juga di dunia nyata. Ketiga menemukan KPI. KPI terukur dari indikator yang ada pada setiap platform arus utama pada media digital; engangement, reach, impression, output, out-take, dan outcome. Keempat, rencanakan editor plan. Seorang balon sudah menyiapkan konten-konten yang mendukung terhadap konstruksi personal branding untuk didistribusikan setiap harinya. Bukan hanya konten, kelima, balon juga harus sering ‘hadir’ dalam dunia maya, menyapa, menjawab, memberi suara, atau kontestasi ide sesuai dengan nilai yang diperjuangkan.

Meminjam point penting yang selalu disampaikan Hermawan dalam Marketing 3.0, go digital harus selalu terkoneksi; lekat dan dekat dengan 3 hal yaitu kaum muda, emak-emak, dan netizen. Hal ini tampaknya selalu digaung-gaungkan sebagai bentuk kesadaran dari para kontestan politik di negeri ini.***[@abahraka]
Read More

13.7.18

Menjadi Doktor Tanpa Karya!

sumber gambar: nu online
Bagi akademisi atau berprofesi sebagai pengajar di perguruan tinggi, melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi menjadi mimpi atau bahkan keharusan. Karena isunya, dosen tidak lagi terbatas pada pendidikan S2, tetapi S3 dengan gelar doktor atau Ph.D jika dari luar negeri.

Tidak semua pengajar mendapatkan kesempatan tersebut, dengan program-program penggenjotan pendidikan paling tinggi ini menunjukan bahwa prosentasenya masih sedikit yang mengenyam pendidikan S3. Lambat laun program ini mulai kelihatan, kini anak-anak muda dengan usia 30an tahun sudah cukup banyak yang mengenyam pendidikan S3, dan mereka mendapatkan gelar doktor di bahwa usia 40 tahun atau di atas 30 tahun. Luar biasa.

Ada yang bilang mereka hebat. Mereka sendiri tidak merasa mereka hebat. Atau justeru sebaliknya mereka merasa paling hebat karena masih sedikit teman-teman seprofesinya mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan S3.  Di samping karena seleksi masuknya yang ketat, juga biayanya yang tidak murah. Jika harus ke swastapun sama saja. Belum lagi prosesnya seakan jungkir balik dengan tugas-tugas. Belum lagi mengejar jurnal internasional. Dengan keterbatasan bahasa dan ketidakbiasaan melakukan penelitian, hal ini menjadi cukup berat.

Lalu apa setelah lulus S3 dan berhasil mendapatkan gelar doktor?

Seorang senior berkelakar, jika doktor hanya mampu menjadi jago kandang, berarti gagal. Gak pernah ada yang mengundang jadi pembicara misalnya minimal dari kampus sendiri. Apalagi dari kampus luar. Artinya, kampus sendiri ataupun luar tidak tahu sama sekali apa yang menjadi keahliannya. Ada benarnya juga kelakar tersebut. Sudah pusing-pusing kuliah, bayar mahal-mahal, waste time, meninggalkan keluarga, lalu hasilnya nihil.

Inilah yang ditakutkan, menjadi semacam motivasi buat saya sendiri, jika kemudian mengenyam pendidikan tertinggi ini. Keahlian saya harus diketahui orang. Bagaimana caranya? Banyak cara! Salah satunya adalah bergaul dengan pernak-pernik akademik. Misalnya; tulisan sering muncul diberbagai media massa, agar popular sebagai intelektual publik. Dari sisi akademik juga harus sering menelurkan jurnal ilmiah, dan tentunya harus punya karya utuh dalam bentuk buku orisinal yang menunjukan siapa kita.

Apakah sudah cukup? Belum!

Yang paling penting adalah bagaimana seorang doktor juga tidak hanya berkutat dengan persoalan-persoalan akademik. Menjadi keniscayaan untuk menjadi seorang intelektual. Meminjam Ali Syariati, menjadi intelektual tercerahkan. Pikirannya menembus langit tangannya menggenggam lumpur. Syariati mengatakan:
“Seorang intelektual tercerahkan adalah ia dengan tangan yang sama menuliskan ayat-ayat suci dari langit serta terbenam dalam genangan lumpur dan mengayunkan kayu untuk menyuburkan tanah yang kering, ia berdiri tegak memperjuangkan ayat-ayat Allah dan hak-hak masyarakat”.
Seorang yang ahli dan menjadi intelektual public tidak hanya menguasai ilmu dalam bidang akademiknya saja. Ia harus mau turun ke tengah-tengah masyarakat untuk mengetahui persoalan-persoalannya dan menyodorkan tangannya untuk membantu mereka. Seorang intelektual selalu resah dengan keadaan sekitarnya. Tidak hanya resah dengan persoalan akademiknya.

Jika bidang akademik saya misalnya berkaitan dengan isu-isu masyarakat terkini atau biasa disebut dengan era revolusi industry 4.0 atau istilah Fukuyama dengan Disruptions yang kemudian dijadikan judul buku oleh Prof. Rhenald Kasali, maka isu-isu yang saya angkat relevansinya akan kuat dengan tema tersebut. Apa, siapa, kenapa, dimana, dan bagaimana menghadapi era tersebut. Ini akan menjadi semacam rujukan bagi masyarakat.

Orang-orang yang concern terhadap isu yang dikuasainya dan secara konsinten berbagi dan berpeduli dengan dunia tersebut, pada dasarnya ia telah melakukan action sebagai intelektual. Ia tidak hanya menjadi pemikir di bidangnya, juga turut terjun ke gelanggang untuk menyelamatkan mereka yang terjebak atau tidak tahu jalan di hutan belantara revolusi Industri.

Sebelum menjadi doktor, marilah kita berproses menjadi intelektual. Agar tidak hanya berkutat pada bidang akademik yang selalu duduk di atas menara gading. Marilah terjun ke tengah-tengah masyarakat agar proses intelektualitasnya terasah sehingga ketika menjadi doktor sekaligus kita juga menjadi intelektual tercerahkan seperti ditulis oleh Ali Syariati, serang arsitek revolusi Islam Iran.

Dengan begitu, karya pun akan dengan sendirinya mengikuti, karena ketika banyak sekali isu yang menjadi pemikiran kita, mau tidak mau kita menuangkannya dalam bentuk tulisan tidak hanya berada dalam pikiran. Konsep yang bagus adalah konsep yang sudah dituangkan dalam bentuk sketsa atau tulisan. Sehingga mudah ditemukan dan dipelajari oleh orang lain. 

Jangan menjadi doktor tanpa karya, meminjam istilah seorang teman ia masuk kategori Jaringan Intelektual Kagok. Mari berkarya!


Read More

8.11.17

Wikipedia jadi Rujukan Ilmiah?

Sumber: wikipedia
Saat membuka halaman pertama sebuah buku, tiba-tiba satu definisi tentang sebuah istilah mengutip tulisan dari sebuah blog. Ugh, tiba-tiba serasa ditampar. Jika yang dikutip pendapat pakar atau ekspert di bidangnya saya kira tidak masalah, misalnya seorang doktor atau profesor. Mungkin saja saya tahu jika yang dikutip adalah gubes atau doktor di bidangnya tersebut. Padahal jelas buku yang baru saja saya buka adalah referensi ilmiah, yang akan digunakan oleh mahasiswa untuk keperluan ilmiah, bahkan buku tersebut dijadikan rujukan ilmiah.

Di era internet, penikmat buku mungkin sering terkecoh oleh tampilan sebuah buku, namun isinya sebagian besar mengutip dari referensi internet yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mungkin saja penulisnya sudah bertanggung jawab untuk menuliskan sumbernya, tetapi sumber yang dikutip adalah blog yang tidak jelas siapa penulis dan bidang kepakarannya.

Media internet sesungguhnya menyediakan banyak sumber rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Sebuah tulisan bisa dikatakan ilmiah atau setidaknya memenuhi kriteria tulisan ilmiah. Misalnya, jurnal-jurnal yang sudah memiliki ISSN baik dari dalam negeri atau luar negeri yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan. Ataupun project buku gratisan versi ebook yang sudah ber-ISBN.

Mencari sumber-sumber tersebut tidaklah sulit, jika ingin langsung ditujukan ke sumbernya tinggal masuk ke scholar.google.com. Saat memasukan kata kunci, akan muncul berbagai rujukan sesuai kata kunci, yang berasal dari berbagai perguruan tinggi atau situs pengelola jurnal. Sumber-sumber ini dapat dipertanggungjawabkan karena memenuhi kriteria ilmiah setidaknya sudah ada legitimasi dari pengelola masing-masing sebagai karya ilmiah. Pencari sumber juga bisa berselancar ke situs perguruan tinggi yang telah menyediakan elibrary, dimana semua rujukan ilmiah disimpan.

Lalu bagaimana dengan Wikipedia?
Nah, selama ini tugas-tugas mahasiswa sering dipenuhi oleh rujukan dari Wikipedia dan blog-blog yang keilmiahannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan, Wikipedia dijadikan sebagai rujukan untuk referensi penyusunan tugas akhir. Sahkah? Bolehkah? 

Sebelum membahas tentang boleh tidaknya seorang mahasiswa tingkat akhir menjadikan wikipedia sebagai rujukan ilmiah, misalnya untuk keperluan skripsi, ada baiknya kita mengetahui siapa yang menulis untuk wikipedia?

Pada dasarnya wikipedia adalah sebuah media terbuka yang memperbolehkan siapa saja untuk menulis pada media tersebut, selama tulisan tersebut memenuhi kriteria dan ketentuan dari pengelola, misalnya menulis struktur tulisan, pencantuman rujukan, netralitas tulisan, dan lain sebagainya. Selama memenuhi ketentuan dari pengelola, setiap penulis yang memublikasikan tulisan pada wikipedia akan menemukan tulisannya dipublikasikan oleh wikipedia. Sebagai situs terbuka, sebagaimana halnya user generated content atau  juga portal warga, wikipedia menerima semua jenis tulisan dari berbagai latar belakang ilmu, termasuk seseorang yang tidak memiliki kepakaran, asal mau belajar dan ingin menuliskan, ikut ketentuan, tulisannya dapat dipublikasikan oleh wikipedia.

Memerhatikan semua jenis tulisan, wikipedia memenuhi dahaga pengetahuan pembaca yang ingin mendapatkan wawasan tentang apapun tanpa harus mengeluarkan biaya seperti halnya saat pembaca ingin memiliki ensiklopedia dengan harga ratusan ribu atau bahkan jutaan. Sebagai ensiklopedia bebas, terbuka, dan gratis, semua pengetahuan bisa kita rujuk ke wikipedia.

sumber: wikipedia
Walaupun telah menetapkan standar penulisan yang ketat, tetap tulisan apapun bisa didapatkan pada wikipedia dari tulisan yang sangat pendek tanpa rujukan sampai tulisan serius dengan puluhan rujukan. Misalnya, saat saya mencari tulisan tentang Dodol Garut, saya menemukan satu tulisan dengan tulisan seadanya, hanya satu rujukan, tidak ada struktur tulisan. Dan saya sering menemukan tulisan seperti ini. Bahkan hanya menulis definisi saja dari satu istilah yang masih jarang jadi bahasan juga sering saya temukan. Ini adalah fakta bahwa tulisan apapun bisa masuk ke dalam wikipedia. Termasuk siapapun bisa menulis pada wikipedia termasuk bukan para ahli yang menjadikan wikipedia sebagai media pembelajaran untuk menulis.

Belum lagi merujuk pada gengsi akademik. Misalnya seorang doktor, merujuk pada wikipedia untuk pembuatan makalahnya, lalu bagaimana jika yang menulisnya adalah lulusan S1 dan bukan berasal dari bidang ilmu yang ditulisnya tersebut?

Saya berprinsip, belajar itu dari mana saja, dari mahasiswa-mahasiswa saya misalnya yang punya passion tertentu, misalnya fotografi, saya belajar. Atau ada mahasiswa yang passionnya dalam desain, saya belajar tanpa harus jaga gengsi. Hanya saja jika menyangkut karya ilmiah saya sendiri lebih baik merujuk pada buku yang diterbitkan oleh penerbit dengan tingkat kehati-hatian atau seleksi yang tinggi, tidak asal menerbitkan. Atau dari sumber-sumber internet yang sudah ber-ISSN atau ISBN.

Ilmu dan pengetahuan di era internet sudah sangat terbuka, kita bisa menimba ilmu dan pengetahuan dari mana saja yang penting manfaatnya terasa, bisa baca-baca dari wikipeda atau belajar secara audiovisual langsung dari youtube, tanpa harus menimbang-dimbang siapa sih yang membuatnya. Era sekarang belajar bisa kapanpun dimanapun pada siapapun tanpa harus tahu kepakarannya selama masih bisa mengambil manfaat darinya. Namun sekali lagi, jika untuk keperluan rujukan ilmiah seperti tugas akhir atau skripsi dan sejenisnya, harus jelas sumber yang dijadikan rujukan baik penerbit atau pengarangnya.

Teringat seorang teman yang sedang menyusun tugas akhir, Dosennya berkelakar, “jika mau merujuk pada sebuah buku untuk karya ilmiah anda, rujuklah minimal setara dengan pendidikan anda!

Persoalan rujukan ini bukan melulu pada wikipedia juga pada buku-buku. Dengan terbukanya penerbitan-penerbitan independen, semua orang bisa menerbitkan buku. Sehingga juga harus hati-hati.

Wikipedia adalah sumber pengetahuan bebas yang bisa kita gunakan dan kita baca kapan saja untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita di dunia ini. Pada Wikipedai kita juga bisa berkolaborasi dan berkontribusi menjadi penulis sekaligus. Namun, untuk karya ilmiah baiknya gunakan sumber-sumber ber-ISSN atau ISBN yang sudah melalui seleksi ilmiah.***[]
Read More

28.10.17

Buku; Investasi Dunia Akhirat

Gambar: koleksi pribadi @abahraka
Waktu mahasiswa, saat belanja kebutuhan buku, senang sekali jika mendapatkan harga miring dari umumnya. Maklum, awal tahun 2000-an buku-buku sudah cukup mahal. Apalagi menjelang tahun 2017. Sulit sekali mendapatkan buku berkualitas dengan harga di bawah lima puluh ribu, rerata di atas harga tersebut. Jika pun ada buku murah, masuk kategori buku saku atau buku-buku ringan atau buku diskon sampai 50 dan 70 % masuk kategori buku yang tidak saya butuhkan.

Beberapa waktu lalu, melalui akun media sosial, tiba-tiba muncul pada temlen buku terbitan tahun 2014 yang memang sudah tidak terbit lagi dan kebetulan saya butuhkan untuk penyusunan proposal-proposalan, “Wah wah kebeneran banget nih, bukunya masih ada, walaupun harus dikirim dari luar kota,”gumam saya sambil saya klik akun yang memajang buku tersebut.

Akhirnya saya DM lah akun tersebut, tentu saja, sekalian saya ambil buku lain yang memang sudah jarang ada di pasaran. Walhasil 6 eksemplar buku dengan judul berbeda dihargai 230 ribuan. Biasanya untuk seharga itu paling hanya dapat 3 atau maksimal 4 buku dengan ketebalan yang berbeda-beda. Saya cukup girang, apalagi tahu bahwa ketebalan bukunya 300-an halaman. Hanya saja sedikit heran, kenapa 6 buku tersebut sangat murah.

Sudah senang dong, buku langka dan tebal dengan harga murah tersebut. Dan salah satu bukunya adalah buku yang akan saya jadikan referensi. Ada sedikit tanda tanya selama buku dalam proses pengiriman, “ini buku jangan-jangan memang bukan orisinil ya,”pikir saya. Dan setelah 5 hari bukunya sampai juga. Saat menerima bungkusan buku, kecurigaan saya bertambah. Karena setau saya, bukunya cukup panjang ukurannya. Sementara ini rata sama semua ukurannya.

“Jangan-jangan buku tersebut tidak ada, seperti pengalaman saat belanja online beberapa waktu lalu, setelah diterima baru bilang kalau bukunya belum ada,”gumam saya. Setelah duduk dan buku tersebut saya simpan di atas meja, akhirnya saya unboxing (hehe bahasanya!), saya sobek langsung menggunakan cutter, dan ketidakenakan saya ternyata benar, jika buku yang saya beli adalah buku bajakan, lebih tepatnya adalah repro. Saya buka satu persatu, tidak satupun buku orisinil. Selain ukuran buku tidak asli, kualitas kertas yang jauh buruk, juga warna tulisan yang bladus. Bukan hanya itu, sebagian buku terbitan lama sudah ada nama dan coretan di sana-sini sehingga kurang elok untuk dibaca. Walaupun secara substansi bisa jadi sama saja dengan buku aslinya.

Kecewa? Ya pastinya, karena dari awal transaksi saya tersugesti untuk bersemangat saat buku baru menjadi koleksi. Nyatanya tidak sama sekali. Tidaklah bertambah booster saya. Hanya berharap suatu saat nanti bisa berguna untuk keperluan kaji mengkaji.

Akhirnya saya DM lagi melalui akun medsosnya,”bukunya bukan orisinilan ya?” tanya saya.

“Iya memang semua repro, waktu itu saya gak bilang ya kalo bukunya repro bung?” balasnya sambil bertanya.

“Gak sih,” jawab saya.

“Oh maaf bung, saya gak bilang ya, bukunya repro. Kalau yang mahal jikapun bukunya masih ada mahal,”balasnya.

“Iya mahal, makanya ini saya beli, tapi ya sudah gak apa-apa, makasih ya mas,” saya mengakhiri.
Tiba-tiba saya teringat dengan status seorang penulis yang seringkali dibecandain permintaan buku karyanya saat usai cetak di penerbit. Kira-kira statusnya menyindir, “Membuat buku itu hasil kerja keras, tiba-tiba diminta gratisan, hargai kerja keras kami,”.

Saya sadar, pembajakan buku atau karya lainnya, menjadi kejahatan luar biasa. Jika pencurian barang, korban mengetahui barangnya ada yang mengambil tanpa izin, maka penulis buku, dicuri karyanya belum tentu ketahuan. Terasa saat hasil dari royaltinya tidak lagi mengalir. Rezekinya tertahan. Walaupun selalu saja ada nasihat rezeki itu sudah diatur oleh Tuhan. Tetap saja dalam kasus pembajakan buku, kejahatannya melebihi kejahatan perampokan uang atau barang. Karena bisa seumur hidup terjadi dalam hidup seorang pengarang.

Buku sebagai investasi
Jika buku diibaratkan sebagai investasi yang akan mengalirkan tiga hal; pahala, materi, serta hal lainnya yang akan membuat seseorang menjadi manusia. Pahala akan mengalir selama buku tersebut dicetak dan terus terjual. Tidak sedikit buku-buku, misalnya yang terbit tahun 1980-an sekarang masih tetap naik cetak. Apalagi buku tersebut sebagai buku rujukan yang esensi materinya masih sulit ditemukan dalam buku-buku baru. Buku-buku filsafat misalnya seringkali sulit mendapatkan terbitan yang baru dari penulis yang sudah meninggal, sehingga karya-karya lamanya tetap dicetak dan diterbitkan lagi. Tidak ada revisi. Maka selama buku tersebut dicetak, penulisnya walaupun sudah meninggal tetap akan mendapatkan royalti ke ahli warisnya.

Penulis juga menjadi populer dengan keahlian yang dimiliki, sehingga bisa jadi  sering diminta untuk mengisi berbagai seminar atau semacamnya keluar kota bahkan ke luar negeri. Lihat saja para penulis berkelas dunia atau buku-bukunya sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

Begitu juga dengan ilmu. Penulis meninggalkan jejak ilmu bagi para pembacanya. Sehingga menjadi pahala yang tidak berkesudahan karena selain ilmu yang langsung didapatkan dari bukunya, jika sebagai buku rujukan dan referensi maka akan diajarkan terus menerus sampai beberapa generasi. Bahkan para penuntut ilmunya turut mendokan agar pengarang mendapatkan rahmat dan selamat dari Tuhan. Al-Ghazali dengan Ihya Ulumuddin dalam bidang tasauf dan akhlak misalnya terus menerus bukunya dibaca dan dicetak. Atau melalui buku Tahafut Alfalasifahnya untuk buku filsafatnya (sanggahan terhadap filsafat). Hamka dengan bukunya yang cukup banyak dan tetap masih dicetak misalnya Lembaga Hidup, Tasauf Moderan, Di Bawah Naungan Kabah, atau Tenggelamnya kapal Vanderwijk.

Penulis yang sudah zuhud bisa jadi tidak lagi peduli apakah karyanya dibajak atau tidak. Tapi bagi penulis baru yang belajar dengan satu, dua, atau tiga terbit dan menjadi satu-satunya harapan karena menggantungkan diri dari menulis tentu menjadi hal yang sangat signifikan untuk menghidupi kesehariannya. Bagaimana jika bukunya dibajak? Hmmm tentu saja pembajak sudah menghentikan jalan rezeki si penulis, walaupun selalu ada kelakar, rezeki ada di tangan Tuhan. Yang jelas, jalan ikhtiarnya terhambat oleh si Pembajak! Nilai investasinya secara materialpun menjadi berkurang. Dunia dan immateri tetap harus seimbang tanpa saling meniadakan yang lain. Materi memang bukan segala-galanya, dan pahala menjadi income tak terhentikan, tetapi melalui materi income pahala bisa ditambah berkali lipat.

Saya hanya berharap bahwa kejadian ini tidak terulang. Agar saya tidak menghambat rezeki penulis. Karena sebagian pemberi nafas dompet saya juga dari menulis.

Penulis selain mendapatkan aliran pahala karena ilmunya bermanfaat, juga menjadi abadi karena terus diingat melalui sitasinya. 😊 Salam. #abahraka #dudirustandi ***[]

Read More

21.10.17

Literasi Digital, Bukan Sekedar Membaca & Berbagi!

creditphoto: @ceumeta

Literasi kini menjadi istilah yang sangat familier, seiring dengan populernya media sosial. Banyak komunitas, perkumpulan, atau lembaga juga turut serta menggalakan gerakan-gerakan literasi. Bukan hanya para pegiat perpustakaan atau komunitas baca saja, juga para aktivis media sosial. Ini tidak terlepas dari banyaknya berbagai kasus yang muncul dari relasi dan transaksi yang dilakukan melalui media digital.

Banyaknya penyebar hoax tanpa disaring, nge-share berita tanpa mempelajari media dan konten apa yang dibagikan, dan tentu saja gerakan-gerakan yang lebih terstruktur yang ingin mengadu-domba masyarakat secara horizontal, memungkinkan terjadinya konflik yang tak berkesudahan. Bukan hal yang tabu, kini kita banyak berdebat-debat kusir di media sosial terhadap satu permasalahan. Padahal masalah tersebut belum tentu ada secara actual. Ia hanya dibuat untuk menggaduhkan suasana tanpa ada rujukan yang jelas dan real.

Literasi sering kali difahami sebagai kegiatan membaca dan menulis, kegiatan-kegiatan pembacaan dan kampanye membaca oleh pegiat sastra dan perpustakaan, yang mengajak audiensnya untuk membiasakan membaca dan atau menulis biasanya seringkali disebut sebagai kegiatan literasi. Padahal lebih dari itu, kegiatan membaca dan menulis tidak akan terjadi jika tidak tanpa adanya dorongan untuk melakukannya. Seseorang juga tidak akan menulis jika tidak paham pada persoalan apa yang ditulisnya. Artinya bahwa literasi bukan hanya menyoal baca dan tulis saja tetapi juga bagaimana memahami persoalan. Maka membaca dalam literasi adalah membaca dalam konteks mengkaji dan menganalisis suatu persoalan dalam kehidupan manusianya sehari-hari.

Awalnya kita mengenal istilah ini sering digunakan oleh para pegiat sastra atau pegiat pustaka baca. Bahkan jargon yang digunakan oleh pegiat pustaka tersebut adalah ‘Salam Literasi’ sambil mengacungkan jari dengan bentuk huruf L. Gabungan antara jari telunjuk dan jempol. Belakangan Literasi banyak digunakan oleh pegiat media sosial dan digital. Hal ini terkait dengan makin banyaknya perilaku-perilaku yang tidak mencerminkan sikap etis dalam berinteraksi di media sosial. Maklum, kini hampir setiap pengguna smartphone sepertinya tidak bisa menjauhkan diri dari satu aplikasi tersebut yang jumlahnya bermacam ragam.

Secara definitif, literasi dipahami sebagai kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan atau memproduksi suatu konten dalam persoalan yang sedang jadi permasalahan. Pada sisi lain, literasi juga didefinisikan sebagai serangkaian perspektif yang digunakan secara aktif untuk menghadapi terpaan pada persoalan yang dihadapi, menginterpretasi, dan atau mengcounternya.

Terkait dengan literasi digital maka bisa didefinisikan sebagai serangkaian kemampuan seseoarng dalam mengakses, menganalisis, mengevaluasi, memproduksi, menghadapi terpaan, menginterpretasi, dan atau mengcounter setiap terpaan atau interaksi dan transaksi yang dilakukan dengan media digital. Interaksi dan transaksi yang terjadi di media digital bermacam ragam dari mulai interaksi dan transaksi secara sincronus ataupun asincronus.

Komunikasi secara sincronus adalah komunikasi yang dilakukan dalam keserentakan secara waktu. Ada proses interaksi langsung dan feedback yang cepat antar manusia seakan-akan sedang melakukan percakapan antarmuka. Dalam komunikasi siber biasanya disebut sebagai CMC, computer mediated communications atau komunikasi yang dimediasi oleh computer. Mengisyaratkan adanya interaksi antarmanusia namun dimediasi oleh alat/ sarana/ media teknologi; chating, masangeran, atau lainnya.
Sedangkan asyncronus adalah interaksi manusia hanya dengan computer saja, misalnya saat stalking, membuat desain, atau saat membaca satu arah saja. Tidak adanya interaksi dengan manusia lagi membuat seorang yang beriteraksi dengan computer mempersepsikan sendiri tentang pesan-pesan yang beredar di media digital. Misalnya saat menerima berita yang dibagikan oleh orang lain lalu kita membagikan lagi di beranda sendiri. Dalam komunikasi asyncronus tidak terjadi interaksi antara manusia tetapi hanya manusia dengan computer saja. Sehingga komunikator menginterpretasikan apa yang terjadi sendiri tanpa ada interaksi dengan manusia lainnya.

sumber; arenalte
Literasi Digital memuat semua rangkaian proses seseorang dalam berhubungan dengan perangkat digital dan layar, baik syncronus ataupun asyncronus. Ada empat macam tujuan dalam melakukan literasi digital, seperti ditulis oleh Billy K. Sarwono (2016), Pertama terkait dengan  proteksi, yaitu perlindungan terhadap konten-konten yang membahayakan atau merugikan atau menimbulkan dampak negative. Oleh karena itu perlu diberikan kegiatan literasi agar netizen atau pengguna perangkat digital bisa mengerti dan memahami bahwa media digital memiliki sisi negative, baik sebagai perangkat itu sendiri ataupun dari sisi konten-konten yang muncul darinya.
sumber: mitrariset

Kedua, tujuan pemberdayaan. Media digital memiliki fungsi positif sebagai salah satu sumber belajar. Banyak source yang bisa dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Bahkan bisa dijadikan sarana khusus untuk kepentingan ekonomi. Sudah bukan rahasia, misalnya dengan media sosial seperti facebook bisa menjadi sarana untuk meningkatkan penjualan bagi pengusaha UMKM. Melalui media digital juga setiap orang bisa melakukan gerakan-gerakan pemberdayaan lainnya.

Ketiga, Kajian Media. Khusus bagi peminat khusus ilmu komunikasi atau media, melalui literasi bisa menjadi sarana mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Seorang peminat bisa menjadikan media digital sebagai objek penelitian dalam bidang komunikasi. Mengetahui bahwa apa yang dibagikan pada media digital hoax atau bukan. Punya tujuan yang netral atau memiliki tendensi. Tulisan terkait kajian media digital: Pencitraan Politik Daring.

Keempat, Aksi. Selain pembedayaan dan kajian, media digital juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk menggerakan atau memobilisasi, baik gerakan sosial, ekonomi, atau advokasi. Tidak sedikit yang terbantu oleh ajakan di salah satu fanpage misalnya atau situs khusus charity seperti kitabisadotcom atau chagendotorg.

Setiap orang yang melakukan literasi digital pada akhirnya diharapkan dapat menggunakan teknologi dengan benar sehingga meminimalisir digital divide. Menggunakan perangkat digital di era sekarang juga diharapkan menjadi sarana efektif untuk berbagai keperluan. Selain itu para pembelajarnya juga diharapkan mampu membuat pilihan, memilah dan memilih, menyimpan, mengambil atau berbagi konten untuk tujuan positif melalui berbagai bentuk konten; teks, visual, audiovisual.

Dengan melakukan literasi digital, seorang pembelajar juga menjadi tahu bagaimana mendapatkan, memproduksi dan mengelola konten-konten digital sehingga dapat menggunakan media tersebut sekreatif mungkin dengan kritis sehingga bisa terhindar dari kegiatan menyinggung atau berbahaya. Justeru dengan melakukan kegiatan literasi digital dapat seorang pembeajar dapat memanfaatan berbagai konten bagus tersebut untuk kegiatan positif.

Jadi kata kunci dari literasi digital bukan hanya menulis dan membaca saja, juga proteksi, pemberdayaan, pengkajian/ penelitian, lalu aksi.***[]

Tulisan terkait Literasi Media Sosial , Optimalisasi Humas melalui Media Sosial, Review Buku Media Sosial
Read More

16.8.17

Bulan (Momentum) Pencitraan

Ilustrasi. Sumber: pikiran-rakyat.com
Ramadan telah usai, Iedul Fitri telah kita lalui. Namun masih ada yang tertinggal di jalan-jalan dan setiap persimpangan dan tempat-tempat ramai; mereka yang hendak maju dalam kontestasi politik dalam satu atau dua tahun ke depan. Entah itu pemilu 2019 atau Pilgub 2018. 

Inilah salah satu nilai plus dari berkah ramadhan, setiap profesional dan pekerja politik menemukan momentumnya, mereka berlomba-lomba bersilaturahmi agar bisa menampilkan diri kepada konstituennya; dengan buka bersama, tarawih keliling, berbagi dengan anak yatim, halal bihalal/ open house bersama dengan warga atau cara lain agar mereka bisa lebih dikenali. Di setiap sudut kota, jalan-jalan protokol, atau batas kota mereka hadir melalui beragam spanduk atau baligo. Mereka juga mendatangi tokoh-tokoh agama lalu mereka sebar melalui media sosial. Ada juga yang diliput oleh media massa agar mendapatkan magnitude yang lebih menggema.

Tidak berhenti pada bulan ramadhan, memasuki bulan syawal atau menjelang idul fitri, iklan layanan ucapan idul fitri membanjiri tayangan di antara iklan-iklan komersil. Spanduk-spanduk ucapan ramadhan berganti dengan wajah baru yang lebih segar dengan verbalitas iedul fitri. Sebagian dari mereka kita kenal, sebagian lagi wajah baru. Mereka semua memiliki ekspektasi agar bisa manggung di arena politik dalam tahun yang semakin mendekat, pilkada atau pemilu.  

Bulan dan Tahun Momentum
Bulan Ramadan dan Syawal 1438 H menjadi momentum untuk menyosialisasikan diri kepada publik. Berusaha mengikat pikiran dengan banyak memerankan diri sebagai bagian dari rakyat. Wajah-wajah penuh ekspektasi bersemangat menatap tahun 2018 untuk pemilukada dan 2019 untuk Pemilu. Dua bulan Islam ini menjadi momentum dalam melakukan publikasi diri. Suatu kegiatan yang memerankan dan menampilkan dirinya terlibat dalam kegiatan sehari-hari yang rutin (berulang setiap tahun) bersama penganut agama mayoritas. Nilai publikasinya (newsvalue) sangat kuat. Untuk mengukur seberapa kuatnya newsvalue ini, cermati saja bagaimana media massa memblow up secara besar-besaran dua bulan ini yang penuh rahmat dan berkah ini.

Dalam konteks komunikasi politik, apa yang dilakukan oleh politisi, meminjam pernyataan Dan Nimmo, merupakan kegiatan mental seseorang  yang membayangkan kepercayaan, nilai dan pengharapan orang lain tentang dirinya, membandingkan kesimpulan itu dengan pendirian sendiri, dan menerapkan perilaku sesuai dengan hal itu. Oleh karena itu publikasi ramadhan dan iedul fitri menjadi momentum yang tepat untuk memberikan karakterisasi dan peran diri di tengah-tengah masyarakat sehingga pengharapan akan dirinya diterima dan terikat dalam pikiran masyarakat bisa mendekat sedini mungkin dan dalam rentang waktu yang lama (awet) hingga waktunya pemilu 2019. Newsvalue-nya tinggi, sehingga mendapatkan tempat yang layak di hati masyarakat. Tingkat kepercayaannya lebih tinggi dibanding dengan iklan politik. 

Proses pemeranan diri di tengah-tengah masyarakat pada dua momentum ini kadang penuh permainan. Kita bisa cermati, bahwa tidak hanya politisi yang menjalankan ritual ini saja yang melakukan publikasi politik, juga nonmuslim.

Proses interaksi tersebut, meminjam istilah Erfing Goffman (Mulyana, 2011), adalah proses dramaturgi, merupakan suatu drama secara kiasan yang ingin menciptakan kesan yang diharapakan bisa tumbuh dari orang lain terhadapnya. Ia ingin menciptakan makna atas publikasinya sebagai bagian dari ekspresi keagamaan seperti halnya dilakukan kebanyakan calon pemilihnya nanti. Jika hal ini terus-terusan dilakukan maka wajahnya akan terikat dalam alam pikiran masyarakat. Dalam prosesnya, seorang politisi sedang berikhtiar mengatasi gangguan-gangguan komunikasi politik dengan calon pemilihnya kelak melalui berbagai simbol komunikasi, baik verbal ataupun nonverbal.

Untuk menciptakan kesan tersebut, maka tampilan politisi dibuat sedemikian rupa sehingga seperti diungkapkan Guru Besar Komunikasi, yang juga Dewan Redaksi Pikiran Rakyat; pertama diri politisi membayangkan bagaimana tampil bagi orang lain; kedua politisi membayangkan penilaian mereka atas penampilannya; ketiga politisi mengembangkan sejenis perasaan diri seperti kebanggan atau malu sebagai akibat membayangkan penilaian orang lain tersebut. Komponen diri tersebut sedemikian rupa diciptakan agar memiliki positioning dan differensiasi dalam proses mengikatkan diri ke dalam alam pikiran masyarakat.

Oleh karena itu, wajar jika seorang politisi juga sering menggandeng seorang tokoh lainnya yang lebih populer, misalnya dengan pemimpin revolusi, atau dengan ketua partainya yang memiliki fans lebih banyak dan lebih populer. Dengan demikian diri akan lebih banyak diketahui oleh orang lain. Pada bulan ini mereka sedang merepresentasikan sebagai penganut agama yang taat, Islami, serta berpihak pada umat Islam.

Political Branding
Menampilkan diri secara terus menerus di hadapan publik melalui berbagai media akan menciptakan identitas (politik). Dalam bahasa marketing public relations, identitas ini adalah merk. Melalui merk politik, khalayak akan mudah membedakan mana politisi yang punya karakter dan betul-betul memperjuangkan kepentingan rakyat, mana politisi yang hanya menjadikan rakyat sebagai alat retorika belaka. Untuk membangun merk perlu konsistensi, tidak hanya sekedar memanfaatkan momentum belaka. Tidak juga karena ingin dikesani tertentu lalu melakukan proses dramaturgi semu. Setidaknya, menurut praktisi Public Relations, Silih Agung Wasesa, perlu adanya pembaharuan minimal 3 bulan sekali, dari mulai sekarang. Seperti halnya yang dilakukan oleh merk komersil, untuk menciptakan loyalitas konsumen.

Dalam perspektif Public Relations, untuk menciptakan loyalitas merk (politik), bisa dengan menggunakan orang ketiga, dengan menciptakan sesuau yang bernilai berita. Berbeda dengan iklan yang merupakan kerja sama profesional antara merk politik dan media, tingkat kredibilitas dari isi pesan cenderung minim, atau sekitar 3-6 % saja, sedangkan kredibilitas publikasi yang bernilai berita (newsvalue) yang dilakukan orang ketiga bisa mencapai 70-90 % kredibilitas isi pesan.

Oleh karena itu, Silih Agung menawarkan dengan taktik  orang ketiga tersebut melalui brand ambassador, yang menjadi unofficial spoke persons, bukan Brand Ambassador dalam konteks kerja sama proffesional (iklan) tetapi berdasarkan initiative mutal uderstanding, yaitu bahwa sebagai unofficial spoke person atau brand political ambassador tak terikat tersebut bisa membangun kesepemahaman dan meyakinkan publik/ calon pemilih bahwa antara dirinya sebagai masyarakat biasa dengan politisi berada dalam kepentingan yang sama. Ini juga salah satu yang dilakukan oleh pasangan Anies-Sandi, salah satu unofficial spoke person-nya, seorang Artis, Stand Up Comedian populer Panji Pragiwaksono bisa menjaring calon pemilih muda potensial dan swing voters sehingga mengantarkan Anies-Sandi menjadi Gubernur Jakarta.

Dengan begitu, jika partai, calon anggota dewan, atau kepala daerah bisa menciptakan brand political ambassador dari para fans atau pengikut setianya, dia akan mampu memengaruhi kinerja team politik sebesar 80%, sisanya 20% dilakukan oleh para fans, pengikut dan pemilih loyal, atau orang-orang terdekat dengan personal/ partai yang tersebar di berbagai posisi dan profesi. 20 % unofficial spoke person akan membantu kinerja partai dalam membangun merk, mulai dari inovasi, asosiasi merk, pembaharuan pesan, ataupun komunitas-komunitas politik.

Pada akhirnya proses dramaturgi yang dilakukan oleh calon-calon politisi jika merujuk taktik public relations di atas, tidak hanya memanfaatkan bulan dan momentum saja atau melalui brand political ambassador. Calon/ timnya juga harus mampu menciptakan pesan yang inovatif, konsisten, tidak jadi-jadian, berkarakter, dan merujuk pada kebutuhan para calon pemilihnya.

Dudi Rustandi, Peminat Literasi


Read More

4.8.17

Citizen Journalism, antara Produsen dan Konsumen Informasi

Model: Kang Arul saat diwawancari Wartawan Pikiran Rakyat
Kehadiran internet membawa perubahan revolusioner terhadap cara informasi disajikan. Jika sebelumnya produsen informasi itu adalah wartawan atau lembaga pers, kini kita masyarakat biasa pun bisa menjadi produsen informasi. Berbagai media social bisa menjadi saluran informasi. UGC atau user generated content pun bermunculan di Indonesia. Bahkan untuk menarik calon-calon produsen informasi ini, beberapa media sudah menerapkan semacam honornya. Para produsen informasi yang bukan wartawan ini biasa dikenal dengan netizen journalism atau citizen journalism.

Ada banyak istilah sebelum citizen journalism dikenal secara meluas seperti sekarang ini, antaralain civic journalism, participatory journalism atau public journalism. Akan tetapi, ketika sebuah situs berbasis users generated content bernama Ohmy News lahir di Korea Selatan pada awal tahun 2000-an, sitilah citizen journalism digunakan secara meluas (Pepih Nugraha).

Istilah citizen journalism atau yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yakni sebagai jurnalisme warga. Citizen journalism adalah kegiatan masyarakat yang “bermain dengan aktif dalam proses mengumpulkan, melaporkan, menganalisis, dan menyebarkan informasi dan berita”.

Jurnalisme warga adalah jurnalisme di mana warga memproduksi informasi sendiri secara amatir tanpa adanya campur tangan media arus utama tentang isu seputar warga dan beragam informasi aktual, tajam dan terpercaya lainnya, yang sedang hangat di bicarakan, berkembang ataupun yang telah berlalu, sekehendak hati pewartanya. Singkatnya saja, jurnalisme ini hampir seperti demokrasi ala Indonesia, dimana “Jurnalisme warga dari warga, oleh warga, tentang warga dan untuk warga”.

Bagi Pepih Nugraha, Citizen Journalism dimaksudkan sebagai kegiatan warga biasa yang bukan wartawan professional mengumpulkan fakta dilapangan atas sebuah peristiwa, menyusun, menulis, dan melaporkan hasi liputan dimedia social.

Jurnalisme warga merupakan suatu kegiatan jurnalisme murni yang tidak dipengaruhi oleh pihak-pihak manapun. Tak perlu seseorang harus lulus dari jurusan jurnalistik, atau komunikasi massa, untuk bisa menulis. Kecepatan dan keterjangkauan terhadap fakta berita yang dilakukan kalangan masyarakat (bukan wartawan) tidak kalah dari wartawan profesional. Bahkan banyak stasiun televisi tanah air yang mencoba mencari berbagai video amatir suatu peristiwa.

Jurnalisme warga inilah yang menjadi sejarah baru di dunia pers, sehingga warga dan pers hidup saling berdampingan dalam menyampaikan informasi kepada publik dengan semangat berbagi. Citizen Journalism sendiri sebenarnya lahir tanpa disadari, saat peristiwa tsunami tersebut menganugrahkan letikan inspirasi dari seorang korban tsunami “Cut Putri“ yang saat itu berada di lokasi kejadian. Peristiwa yang direkam Cut Putri itulah yang dicari media karena moment yang sangat berarti untuk sebuah pemberitaan. Keterbatasan media akhirnya membuka semua mata untuk melibatkan warga bagian dari sumber informasi.

Peristiwa-peristiwa tak terduga itulah yang terkadang terlewatkan oleh media, karena saat peristiwa penting, belum tentu seorang wartawan berada di tempat.  Disinilah peran Citizen Journalism. Istilah Citizen Journalism sudah sangat dekat di telinga kita bahkan saat ini, pers warga sudah melembaga dengan adanya organisasi idependen PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia), sehingga keberadaan Citizen Journalism sudah diakui baik oleh media maupun para pengamat pers.

Sejarah Perkembangan Citizen Journalism di IndonesiaKemunculan jurnalisme warga di Indonesia bermula pada masa Orde Baru, saat Soeharto berkuasa, di mana pada saat itu arus informasi dari media massa kepada masyarakat dijaga ketat oleh pemerintah dan aparatnya. Masa Orde Baru yang dikenal dengan sistem pers tertutupnya, memaksa pers untuk lebih mengedepankan agenda kebijakan, khususnya kebijakan eksekutif. Pers lebih banyak memberitakan kebijakan pemerintah. Dominannya penggunaan sumber berita eksekutif menjadikan pemberitaan pers menjadi top down.

Di Indonesia, jurnalisme ala warga telah hadir dalam keseharian melalui acara-acara talkshow di radio khususnya sejak awal tahun 90-an. Karena dilarang pemerintah menyiarkan program siaran berita, beberapa stasiun radio mengusung format siaran informasi. Pada program siarannya, stasiun radio tersebut (diantaranya adalah Radio Mara 106,7 FM di Bandung yang menjadi pionir siaran seperti ini) menyiarkan acara talkshow yang mengajak pendengar untuk aktif berpartisipasi melalui telepon untuk menyampaikan informasi maupun pendapat tentang sebuah topik hangat. Pada masa orde baru acara siaran tersebut efektif menjadi saluran khalayak menyampaikan keluhan terhadap kelemahan atau kezaliman penguasa.

Setelah UU Penyiaran No.32 Tahun 2002, kehadiran community based media di bidang penyiaran pun akhirnya terakomodasi. kehadiran radio dan televisi komunitas menjadi legal. Legalitas ini membuat peluang jurnalisme ala warga menjadi semakin terbuka. Melalui radio atau televisi komunitas, warga bisa bertukar informasi atau pendapat, tentang hal-hal terdekat dengan keseharian mereka, yang biasanya luput diliput oleh media-media besar. Pada radio siaran, biaya peralatan, operasional siaran dan pesawat penerima yang relative murah. Bahkan beberapa stasiun televisi ada yang membuat program khusus untuk itu.

Sejumlah mailing list menjadi pelarian warga yang mampu mengakses internet akibat media massa konvensional saat itu tidak ada yang berani mengkritik rezim. Kehadiran blog ini baru dianggap sebagai ancaman karena sifat interaktifnya, yang tidak mungkin dilakukan media massa konvensional.

Di Indonesia sendiri pertama kali di tahun 2004 saat tsunami di Aceh, kemudian video Bom Bali dan terakhir video Gayus Tambunan pada saat nonton pertandingan tennis di Bali. Jenis media yang dijadikan wadah citizen journalism semisal, blog, facebook, twitter, forum, mailing list dan sebagainya. 

Sejak digulirkannya program Citzen Journalism oleh beberapa media baru-baru ini. Pers semakin berkembang kearah persuasif /pendekatan terhadap berita maupun jurnalis. Dimana warga biasa bisa menjadi wartawan untuk ikut berperan dalam mewartakan suatu peristiwa atau kejadian sehingga jarak antar media dan masyarakat sangat erat berdampingan. 

Kebutuhan masyarakat akan informasi yang cepat dan lugas membuat citizen journalism kian subur. Citizen journalism sendiri merupakan salah satu jalan yang digunakan untuk mengembangkan sayap jurnalis, bergerilya lewat digital untuk misi jurnalisme, sebagai wahana publik dalam bahasa merupakan jurnalisme akar rumput. 

Salah satu fenomena aktual yang berkaitan dengan citizen journalis (jurnalisme warga negara) dalam proses penyebaran informasi adalah maraknya aktivitas blog. Kehadiran blog, menjadikan internet benar-benar diperhitungkan di dunia media. Citizen journalism membuka ruang wacana bagi warga lebih meluas. Blog menjadi bagian dari proses revolusi komunikasi. Kegiatan pemberitaan yang beralih ke tangan orang biasa memungkinkan berlangsungnya pertukaran pandangan yang lebih spontan dan lebih luas dari media konvensional. Intensitas dari partisipasi ini adalah untuk menyediakan informasi yang independen, akurat, relevan yang mewujudkan demokrasi.

Media Citizen Journalism
Citizen journalism dapat didefinisikan sebagai praktik jurnalistik yang dilakukan oleh orang biasa, bukan wartawan profesional yang bekerja di sebuah media. Kehadiran blog dan media sosial menjadikan setiap orang bisa jadi wartawan dalam pengertian juru warta atau menyebarkan informasi terjadi sendiri kepada publik.

Sebelumnya kita mengenal istilah “public journalism” atau “civic journalism” yang semakna dengan citizen journalism, yakni laporan by people (oleh publik) sehingga jurnalistik atau pemberitaan tidak lagi dimonopoli para wartawan.

Media citizen journalism bermacam-macam, mulai dari kolom komentar di situs berita hingga blog pribadi. J.D. Lasica, dalam online journalism review (2003), pengkategorikan media citizen journalism kedalam enam tipe seperti ditulis oleh Asep Samsul M. Romli dalam Buku Jurnalisme Online, yaitu:

Audience Participation : Seperti komentar user yang di attach pada berita, blog blog pribadi, foto atau video, footage yang di ambil dari hendicam pribadi, atau berita lokal yang di tulis oleh anggota komunitas.

Independent News And Information Website : Situs web berita atu informasi independent seperti consumer reports, drudg report yang terkenal dengan “Monicagate” nys.

Full-Flatget Participatory  News Sites : Situs nya berita partisipatory murni atau situs kumpulan berita yang murni dibuat dan di publikasikan sendiri oleh warga seperti OhmyNews,Now Public, dan GrownReport.

Colaborativ And Contibutory Media sites : Situs media kolaboratif seprti slesh dot, kuro5hin, dan newsvaine.

Other Kinds Of “Kinds Media” : Bentuk lain dari media “Tipis” seperti milinglist dan newsletter email.

Personal Broadcatin Sites: Situs penyiaran pribadi kenradio.

Karakteristik Citizen Journalism

Skeptis

Skeptis, itulah ciri khas jurnalisme. Tom Friedman dari New York Times mengatakan bahwa skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang di terima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah di tipu. Seorang yang skeptis akan berkata :” saya yakin itu tidak benar, saya akan mengeceknya.” Lain halnya dengan sikap sisnis. Orang yang sisnis  akan selalu merasa bahwa dia sudah mempunyai jawaban mengenai seseorang atau peristiwa yang di hadapinya. Ia akan berkata :” saya ayakin itu tidak benar. Itu tidak mungkin. Saya akan menolaknya.”

Jadi inti dari sikap skeptis adalah keraguan. Keraguan membuat orang akan bertanya, mencari sampai mendapatkan kebenaran. Sebaliknya, inti dari sikap sisnis adalah ketidak percayaan.  Dia akan  menolak, tidak bertindak. Habis perkara!

Untuk menolak sifat sisnis, kita harus menanamakan naluri skeptis yang kiuat. Sebagai wartawan yang bertugas mencari kebenaran, kita harus meragukan, bertanya, menggugat, dan tidak begitu saja menerima kesimpulan yang umum. Pengarang Oscar Wilde berkata bahwa sikap skeptis adalah awal dari kepercayaan, sedangkan orang yang sinis adalah orang yang tahu mengenai harga (price) segala sesuatu, tetapi ia sama sekali tidak mengetahu mengenai nilai (value) apapun. Malah, Vartan Gregorian dari Brown University mengatakan bahwa sikap sinis adalah kegagalan manusia yang paling korosif karena menyebar  kecurigaaan dan ketidak percayaan, mengecilkan arti harapan dan merendahkan nilai idealisme.

Seorang penulis dan kritikus sosial, H.L. Mecken mengatakan bahwa orang yang sinis itu seperti orang yang ketika mencium keharuman bunga, justru matanya melihat ke sekelilingnya, mencari peti mati.

Sikap skeptis hendaknya juga menjadi sikap media. Hanya dengan bersikap skeptis, sebuah media dapat “hidup”. Namun, pada kenyataannya banyak media yang tidak mampu untuk selalu berusaha bersikap skeptis. Banyak dari mereka menyukai memilih dan menghidupi apa yang di namakan cheerlcader complex. Yaitu sifat untuk berhura-hura mengikuti arus yang sudah ada, puas dengan apa yang ada, puas dengan permukaan sebuah peristiwa, serta enggan mengingatkan kekurangan dalam masyarakat. Joseph Pulitzer pernah berkata bahwa surat kabar tidak pernah bisa menjadi besar dengan hanya mencetak selembaran yang disiarkan oleh pengusaha maupun tokoh-tokoh politik dan meringkas tentang apa yang terjadi setiap hari. Wartawan harus terjun kelapangan,  berjuang dan mencari hal-hal yang eksklusif. Ketidak tahuan membuka kesempatan korup, sedangkan pengungkapan mendorong perubahan. Masyarakat yang mendapat informasi yang lengkap, akan menuntut perbaikan dan reformasi.

Agar demokrasi bisa berjalan, masyarakat butuh informasi. Wartawan mempunyai tugas demoratik (democratic duty) untuk menulis secara jelas dan dalam bahsa publik. Disini, nilai intinya adalah kepercayaan (trust). Dalam hal ini, wartawan menjadi bagian dari sebuah kontrak sosial yang pararel. Pengertian di balik kontrak ini adalah selagi wartawan mwlaksanakan tugarnya, bersamaan itu pula proses demokrasi berjalan. Kode etik yang dibuat oleh berbagai perkumpulan wartawan merupakan pengunggkapan dari istilah kontrak yang dibuat para wartawan dengan sesama warganya.

BertindakBertindak, action, adalah corak kerja seorang wartawan. Wartawan tidak menunggu sampai peristiwa itu muncul, tetapi ia akan mencari dan mengamati dengan ketajama naluri seorang wartawan. Peristiwa tidak terjadi diruangan redaksi. I terjadi di luar. Karena itu yang terbaik untuk wartawan adalah terjun langsung ke tempat kejadian sebagai mengamat pertama.

Mary, mantan wartawan CSB News, peraih Peabodi Award untuk liputan inestigasi penjar Abu Ghraib di Irak , mengatakan bahwa wartawan yang baik akan mendatagi tempat-tempat kejadian walaupun itu berbahaya dan menakutkan. Wartawan dengan laporan-laporannya harus bisa membawa masyarakat ke medan perang, bencana alam, ataupun revolusi.

Dalam jurnalisme, jangan lah kita menerima sesuatu begitu saja seperti apa adanya dan menganggap semua itu benar (to take for granted). Gugatlah skeptislah! Dukung semua kesimpulan dengan fakta dan demoksarikan segala sesuatu dengan sumber-sumber yang dapat di percaya dan kecuali dalam peristiwa-peristiwa tertentu – sebutlah sumber tersebut.

BerubahDalam pengetian yang luas jurnalisme itu mendorong terjadinya perubahan. Memang merupakan hukum utama jurnalisme. Debra gresh hernandez, dalam makalahnya berjudul “advice for the future” yang di sampaikan pada seminar API (Amerikan Press Insitute), seperti dikutif oleh Luwi mengatakan bahwa satu satunya yang pasti dan tidak berubah yang di hadapi industri surat kabar masa depan adalah justru ketidak pastiannya dan perubahan – the only things certain and unchanging facing the news peaper industry in the future are uncertainty and change. Dalam pengalaman sejarahnya surat kabar itu akan selalu mendapak dari perubahan yang terjadi di masyarakat dan dalam teknologi.     

Kelebihan Citizen JournalismØ Informasi yang diterima dengan cepat dan mudah,

Ø Biaya mengakses informasi pun terjangkau,

Ø Bersifat interaktif, sehingga memungkinkan muncul perdebatan hangan dan menarik antara penulis dan pembaca,

Ø Informasinya mampu menembus ruang dan waktu,

Ø Adanya kebebasan berbicara,

Ø Setiap orang memiliki hak untuk memberikan kritik, informasi, opini dan saran secara terbuka.

Kekurangan Citizen Journalism

Ø  Informasi yang sudah lama dibuat ulang,

Ø  Tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya,

Ø  Artikel atau segala informasi yang dipublikasikan bisa saja masih dangkal dan tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik,

Ø  Warga bisa saja menyalahgunakan kebebasan yang diberikan, dengan menyebarkan pornografi, penghinaan, berita bohong dan berita lainnya yang sifatnya negatif, tidak etis dan melanggar hukum.

***



Read More