Showing posts with label Curhat Abah. Show all posts
Showing posts with label Curhat Abah. Show all posts

17.6.20

Belajar Filsafat


Masa Pandemi, turut berkontribusi terhadap kerapihan koleksi buku pada ruang kerja minim karya di rumah. Setelah menata ulang rak buku dan meja komputer, buku juga ikut saya rapihkan.

Nah, ternyata hasil dari penataan ulang ruangan kerja ini, menghasilkan beberapa kategori buku-buku yang sering menjadi target bacaan atau koleksi, karena tidak semua buku bisa tuntas dibaca, atau bahkan banyak buku yang hanya sempet dibaca kata pengantar atau justeru belum dibaca sama sekali.

Kategori Buku
Kategori pertama adalah buku-buku ilmu komunikasi, buku daras/ referensi/ atau populer dalam bidang komunikasi yang paling banyak atau mendominasi, karena basic pendidikan dari ilmu komunikasi. Sangat wajar. Bahkan, seringkali, jika ada buku-buku cukup populer dalam bidang komunikasi, biasanya dengan cepat menjadi penghuni rak buku.

Buku-buku komunikasi ini juga memiliki subkategori yang saya pisah-pisahkan pertama; buku Ilmu komunikasi secara umum; dari mulai pengantar ilmu komunikasi, komunikasi pemasaran, bunga rampai, audit, public relations, teknologi, dan lain sebagainya. Ini saya masukkan dalam satu kategori dengan menempati beberapa baris rak. Cukup banyak. Kedua, Buku teori komunikasi, karena cukup berat untuk dibaca, bahkan cenderung untuk keperluan analisis suatu isu atau paper, ini juga saya pisahkan pada rak yang berbeda, sehingga menjadi bagian dari sub kategori dalam buku ilmu komunikasi. Ketiga, buku-buku komunikasi berbahasa asing, biasanya buku yang berasal dari format pdf lalu saya cetak sendiri. Keempat, media studies dan jurnalisme. Kategori ini juga saya pisahkan menjadi beberapa rak tersendiri. Media studies menjadi rak yang menurut saya paling istimewa, walaupun tidak terlalu banyak, tapi ekslusif karena referensinya masih cukup jarang. Dan Kelima, masih subkategori dari ilmu komunikasi, yaitu buku-buku metode penelitian komunikasi; mulai dari metode penelitian kualitatif, komunikasi, analisis wacana, naratif, etnografi, fenonemologi, dan lainnya.

Kategori kedua adalah buku sastra. Saat mahasiswa cukup rajin mengoleksi karya sastra, karena selain lebih mengalir saat dibaca, juga memberikan spirit dalam memperkaya wawasan dan perspektif. Beberapa karya sastra yang menjadi koleksi; tetralogi pulau buru dan beberapa karya lainnya dari Pram, Trilogi Bilangan Fu dari Ayu Utami, buku terakhirnya anatomi rasa. Beberapa karya Kuntowijoyo juga jostein gaarder dimana magnum opusnya dipinjam tapi tidak kembali.

Kategori ketiga, merupakan buku pengembangan diri. Menjadi lumrah, hidup di dusun membawa sifat-sifat dusun. Rasa tidak percaya diri menjadi bagian hidup hingga lulus. Maka untuk memproses diri agar lebih pede, salah satunya banyak membaca buku-buku motivasi dan pengembangan diri. Beberapa buku pengembangan diri cukup praktis bukan hanya motivasi.

Kategori keempat merupakan buku Wacana. Buku wacana merupakan buku-buku yang mengangkat isu-isu keninian terkait sosial, politik, ekonomi, budaya, atau ilmu. Biasanya tidak terlalu spesifik tapi isu tersebut berdampak terhadap semua sendi kehidupan manusia; sebut saja misalnya Benturan peradaban karya Samuel W. Huttington, atau karya-karya dari Francis Fukuyama. Dari Indonesia misalnya buku-buku dari Rhanald Kasali, tapi yang terkini atau beberapa dari Yasraf Amir Piliang, yang sebagiannya saya masukkan ke dalam kategori filsafat.

Kategori Kelima, yaitu buku agama dan wacana agama. Nah, ini juga cukup banyak dan hampir mendominasi sama halnya dengan buku ilmu komunikasi. Kenapa? Karena pada masa lalu, selain kuliah di UIN juga aktif di beberapa organisasi yang sering mendiskusikan isu-isu agama.

Kategori keenam, tentu saja buku filsafat; Buku-buku filsafat walaupun tidak mendominasi, namun saya bagi menjadi beberapa kategogi lagi; filsafat umum, epistemologi, semiotika, cultural studies dan budaya pop, pemikiran filsuf seperti Foucault, Aali Syariati, Herbert Marcuse, Heidegger, Baudrillard, Umberto Eco, Yasraf Amir Piliang dan lainnya.

Kategori ketujuh, buku-buku yang tidak masuk kategori keduanya. Beberapa di antaranya cukup saya suka tentang isu-isu kedaerahan dan kesukuan; budaya sunda, garut, dan lain sebagainya. Ini juga cukup banyak, karena tidak masuk pada kategori-kategori buku sebelumnya.

Kategori kedelapan. Sebetulnya masih ada satu kategori lagi, yaitu media. Dulu langganan majalah Syir’ah, yaitu majalah yang mengangkat isu pluralisme, hanya sayang sudah tidak terbit. Kemudian langganan majalah mix, namun sama masuk era pandemi tidak terbit lagi. Begitu juga Pikiran Rakyat, sejak 2011 langganan, hanya saja sekarang beralih langganan digital.

Mendalami filsafat
Nah, terkait filsafat ini, memang umur kesukaanya sudah sejak lama, selama kuliah, sudah menjadi bagian dari wacana diskusi. Hingga akhirnya memengaruhi pada saat tugas akhir dengan mengambil pemikiran tokoh dengan dibedah melalui pisau analisi wacana. Termasuk juga sebelum lulus, tulisan yang dipublikasikan pada media massa pertama tentang filsafat postmodernisme.

Sejak filsafat ternyata bisa berkontribusi tidak hanya pada ranah cara berfikir, juga praktis, kini mulai lagi memperkaya referensi dan wacana melalui beberapa isu-isu filsafat. Postmodernisme yang lama ditinggalkan saat kuliah sarjana, kini dibuka-buka lagi. Begitu juga semiotika, yang sulit memahaminya karena tidak langsung dipraktikkan menjadi alat analisis, kini mulai dibuka lagi. Karena bagaimana pun, beberapa analisis dalam satu isu bisa menggunakan pisaunya tersebut.

Mendalami filsafat adalah belajar cara meluruskan cara berfikir kita, agar tidak picik. Belajar memahami perbedaan dan menerima dengan lapang karena kita mampu mengalihkan pikiran kita melalui filsafat praktis seperti halnya yang dilakukan oleh kaum Stoik.
Begitu juga pada ranah akademik, dengan memahami filsafat, kita lebih mudah memahami metode penelitian yang merujuk pada cara berfikir tentang ilmu. Bahkan untuk memahami ilmu sendiri kita harus belajar filsafat.

Jadi bukan soal gaya-gayaan dengan bahasa-bahasa yang melangit atau frasa-frasa yang sulit. Justeru sebaliknya. Untuk lebih mempermudah segalanya. Karena ketika kita memilih passion dalam bidang menulis atau dalam bidang yang terkait dengan akademik. Maka filsafat menjadi salah satu jalan yang mampu menunjukkan kemudahan itu.

Namun, tentu bukan barang mudah. Karena belajar filsafat artinya kita menerjukan diri pada kesulitan-kesulitan memahami berbagai frasa. Saya sendiri bukan orang yang mudah paham. Seringkali harus beberapa kali membaca ulang. Apalagi pemikiran seseorang yang sangat subjektif.
Oleh karena itu, saya lebih memilih yang mudah. Maksudnya, saya tidak belajar filsafat dengan menyeriusi semua kategori, namun cukup paham apa yang saya suka dan sesuai dengan apa yang bisa menjadi bahasan saya untuk keperluan sehari-hari.

Namun, bukan berarti yang rumit tidak dipelajari, jika harus karena untuk keperluan taktis analisis suatu isu dan menjadi bidang kajian, mau tidak mau harus dilakukan.

Misalnya, untuk keperluan laporan penelitian, salah satunya menggunakan hermeneutika. Terus terang saya belum pernah belajar hermeneutika. Waktu kuliah sarjana, belajar tentang analisis wacana juga sudah uyuhan, karena tidak pernah mendapatkan tema formal di kelas. Nah sekarang, mau tidak mau juga harus belajar hermeneutika. Saat membaca salah satu bukunya, karena langsung ke pemikiran tokohnya, lumayan lieur. Maka harus dicari jalan mudah, yaitu membaca pengantarnya terlebih dahulu.

Nah, begitu juga saat belajar filsafat. Dulu, banyak cerita, banyak orang tersesat, murtad, ateis gara-gara belajar filsafat. Bisa jadi karena itu langsung membaca atau memelajari  pemikiran filsufnya langsung. Banyak pemikiran yang tidak sesuai kita makan mentah-mentah. Dasarnya sendiri tidak dipelajari. Berlakukan seperti tangga, jangan langsung ke puncak, tapi titilah dulu tangga pertama sebelum sampai tangga 10.

Wallahu A’lam.
Read More

3.5.20

Imam Syafi’i, Ulama yang tidak Pernah Lelah Belajar

Sumber: inspiraloka

Imam Syafi’i, ulama besar peletak dasar fiqih menjadi salah satu ulama yang paling diingat, tentu di luar khulafaurrasyidin yang dijamin masuk surga. Karena sejak kecil, hidup di lingkungan tradisi, mengaji pada lingkungan Nahdlatur Ulama, setiap mengaji fiqih pada surau-surau kecil, pasti yang selalu dijadikan rujukan adalah Imam Syafi’i.


Imam Syafi’i lahir di Gaza tahun 150 Hijriyah dengan nama Abu Adbullah Muhamad bin Idris As-Syafi’i. Nama lengkap Imam Syafi’i adalah Muahammad bin Idris bin Al-‘Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin as-Saib bin Ubayd bin Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muthalib bin Abdu Manaf bi Qushay.  Jika dilihat dari nasabnya tersebut, Imam Syafi’i masih satu keturunan dengan Rasulullah Solallahu Alaihi Wassalam.


Kenapa saya menulis tentang Imam Syafi’i, pertama salah satu pernyataan Imam Syafi’i yang saya tulis pada blog ini, hanya Quotenya saja, ternyata dibaca oleh Ribuan orang. Padahal tidak ada isinya, hanya gambar quote saja. Kedua, pada bulan puasa, saya banyak belajar, merenung, dan bercengkerama dengan keluarga, mengajar ngaji anak setiap sore dan saat masuk bulan puasa pindah ke shubuh.


Aktivitas saya mengingatkan pada masa-masa kecil saya ketika mengaji di Surau. Walaupun tentu tidak banyak yang saya ketahui tentang Imam Syafi’i. Karena setelah dewasa, saya lebih memilih untuk memelajari fiqh lima madzhab. Maksudnya adalah bukunya.


Saya tidak akan menulis Imam Syafii’i tentang biografinya, hanya teringat dengan kondisi saya yang hari ini sedang menempuh studi saja. Dan ingat lagi dengan quotesnya yang cukup dikenal oleh netizen, bahkan saya perhatikan banyak netizen juga yang mengutif quote Imam Syafi’i seperti yang saya tulis juga.


Imam syafi'i


Bila Kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan.

Ini adalah bentuk selfreminder atau mengingatkan diri saya sendiri. Bahwa tidak ada yang instan dalam belajar. Tidak ada yang tiba-tiba seseorang bisa dan mampu melakukan sesuatu tanpa harus melalui berbagai macam tempaan. Bahwa saya harus ingat masa depan saya, dunia ataupun akhirat kelak, tidak boleh merasa lelah dalam belajar. Nasihat-nasihatnya bisa teman-teman baca di sini [Nasihan Imam Syafi'ii].


Bahkan saya ingat salah satu adagium yang menjadi pegangan organisasi ketika saya belajar, belajar itu sejak keluar rahim hingga pada akhirnya masuk liang kubur. Jadi pembelajar sepanjang hayat. Oleh karena itu saya selalu menjadi pembelajar. Belajar dari siapa saja, kapan saya, dimana saja. Bahkan saat sama sekali tidak berhubungan dengan sekolah atau kampus.


Termasuk juga pada ramadhan kali ini. Menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Bagaimana beratnya mendidik anak, bagaimana beratnya menjadi seorang kepala keluarga. Oleh karena itu, belajar dan belajar menjadi salah satu praktik dalam menghadapi kehidupan yang menurut sebagian orang saat ini sedang mandesu alias masa depan suram.


Salah satunya, saya belajar pada Imam Syafi’i.


Walaupun tentu beda, karena pada umur 7 tahun Imam Syafi’i sudah hafal al-Qur’an, nah saya boro-boro hafal, lancar saja membaca al-Qur’an belum. Tapi kini saya berkomitmen bahwa membaca al-Qur’an ini harus menjadi bagian dari kehidupan saya sehari-hari. Tidak boleh meninggalkan al-Qur’an.


Imam Syafi’i pernah bercerita bahwa di suatu sekolah penghafal al-Qur’an, ia teringat dengan gurunya yang sedang membaca ayat al-Qur’an, lalu Imam Syafi’i menghafalnya yang dibacakan oleh gurunya. Hingga akhirnya Imam Syafi’i diminta menggantikan posisi gurunya setelah gurunya meninggal.


Selesai sekolah tahfidz al-Qur’an Imam Syafi’i pergi ke masjid Al-Haram menghadiri majelis ilmu. Imam Syafi’i saat itu hidupnya kekurangan, namun ia tidak lelah mencari ilmu. Beliau mendayagunakan semua sumber daya yang ada untuk menulis ilmu; potongan kulit, pelepah kurma bahkan tulang unta. Sampai-sampai barang-barang milik ibunya penuh dengan tulang dan pelepah kurma yang ditulisi hadits oleh Imam Syafi’i.


Imam Syafi’i menghabiskan waktunya di Masjid al Haram. Termasuk menghapal alQur’an 30 juz. Pada usia 12 tahun, Imam Syafii menghafal Al-Muwatha, karya Imam Malik, yang pada akhirnya menjadi gurunya. Diketahui bahwa Imam Malik adalah salah satu peletak dasar fiqih Islam.


Imam Syafi’i sebelum belajar dasar fiqh, terlebih dahulu belajar bahasa Arab dan syair. Untuk memelajarinya ia tinggal dengan suku Hudzail yang fasih dan murni bahasa serta bagus syair-syairnya. Baru setelah mendapat nasihat guru-gurunya, Imam Syafi’i memelajari ilmu fiqh. Beliau menuntut ilmu dari ulama Mekkah. Ia juga belajar hadits dan lughoh sebelum membaca Al-Muwatha dari Gurunya, Imam Malik di Madinah.


Ia juga belajar kepada ahli hadits di Irak. Sekaligus ia menyebarkan ajaran yang telah dipelajarinya. Ia begitu teguh memegah Al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan ia membela bagaimana pentingnya sunnah Rasulallah SWA.  “Jika kalian telah mendapatkan Sunnah Nabi, maka ikutilah dan janganlah kalian berpaling mengambil pendapat yang lain. Sampai-sampai karena pembelaannya, ia mendapat gelar as-Sunnah wa al-Hadits.


Setelah belajar dari beragam guru fiqh, al-Qur’an, Hadits, ia juga belajr banyak kepada ulama lain  di berbagai penjuru. Selain yang telah disebutkan Makkah, Madinah, dan Irak. Ia meminta izin gurunya, Imam Malik untuk belajar ke Baghdad, Persia, Yaman, hingga Mesir hingga menjelang ajalnya tahun 204 Hijriyah.


Imam Syafi’i adalah ulama yang tidak pernah berhenti belajar, hingga Allah menjemputnya. Nah jika ingin mendapatkan nasihat-nasihatnya Imam Syafi'i, bisa membaca tulisan dari Kang Jojoo.**[]

Read More

20.4.20

Intoleransi Beragama dan Menyoal Relasi Kewargaan

sumber ilustrasi; flickr gituajadotcom
Hari ini, saya tidak sengaja melihat temlen twitter yang membahas tentang perilaku salah satu saudara kita yang salah paham telah membubarkan ibadah salah satu warganya yang dilakukan di rumah. Dan berakhir damai.

Peristiwa ini tentu menjadi preseden buruk di tengah pandemi. Indonesia yang beragam dan runtut raut hirup sauyunan dinodai oleh perilaku warganya yang merasa diri ‘paling benar’. Namun patut disyukuri karena masalah ini telah diselesaikan secara kekeluargaan.

Nah, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah komentar saudara-saudara kita, secara terbuka menggeneralisir isu ini karena persoalan mayoritas dan minoritas. Kalau kita yang salah pastilah ujung-ujungnya penjara. Masalah protes suara aja penjara. Dan lain sebagainya. Saya sendiri turut menyesalkan kenapa masih terjadi intoleransi beragama.

Namun, intoleransi dan sikap dominasi warga mayoritas ini berlaku dimana-mana, bahkan sekalipun di negara paling liberal sekalipun selalu ada orang-orang yang merasa dirinya paling benar. Konservatis radikal.

Harus diingat bahwa isu dan peristiwa ini tidak hanya terjadi antar umat beragama, bahkan antar internal umat beragama pun seringkali muncul. Sudah menjadi rahasia umum, antara Sunni dan Syiah di Indonesia misalnya. Bahkan mayoritas muslim di Indonesia (oknum) beberapa kali menyerang penganut muslim lain yang dianggap menyimpang atau sesat.

Sepertinya ini sudah menjadi logika mayoritas. Eksistensinya tidak ingin teracam oleh kehadiran minoritas yang dianggap perilaku dan cara beragama/ ritualnya berbeda. Bahkan di kampung saya dulu, jangankan antara mayoritas dan minoritas, ini sesama mayoritas antara ormas agama juga pernah terjadi bentrokan.

Apakah ini persoalan agama?
Secara substansial, saya melihat lebih jauh bukan persoalan murni agama. Agama hanya menjadi kendaraan untuk melakukan legalitas perilaku intoleran. Lebih jauhnya saya melihatnya lebih pada relasi jalinan antar warga. Relasi kewargaan yang terjalin cenderung kering dan miskina. Tidak ada upaya bagaimana relasi itu harus dibangun antar warga agar terjadi internalisasi persaudaraan antar umat beragama ataupun sesama intern agama.

Jika ikatan emosional ini kurang maka konflik dengan mudah bisa tersulut dengan persoanal-persoalan kecil. Penekanannya bukan pada persoalan yang saat itu muncul, pada para rentetan peristiwa sebelumnya yang tidak terungkapkan. Konflik hanya puncak gunung es untuk melakukan legalitas perilaku saja.

Kenap saya bisa mengatakan ini? Sebetulnya sederhana. Saya punya teman berbeda agama. Setiap hari bisa berdiskusi, makan bareng, bercanda. Saat terjadi konflik seperti contoh di atas, apakah kami juga ikut berkonflik? Ya tentu tidak. Toh kita tetap baik-baik saja karena relasi yang sudah terbangun sudah diikat oleh persaudaraan sebagai warga.

Saya melihatnya dari sisi human relations antara warga. Jika relasi kewargaan terlah terjalin, saya kira persoalan-persoalan konflik atau kesalahpahaman antara penganut beragama akan sangat bisa di hindari. Sekalipun warga tersebut memiliki kelainan dalam beragama, misalnya karena anutannya adalah agama mayoritas yang sempalan. Jika relasi kewargaannya kuat, justeru akan melahirkan dialog yang sehat untuk mengetahui anutan agamanya tersebut.

Namun jika relasi kewargaannya tidak terjalin dengan kuat, kesalahpaham itu akan cepat teratasi karena sejak jauh-jauh hari orang-orang telah paham. Oleh karena itu, ini mungkin menjadi pekerjaan rumah bagi aparat setempat. Menjadi aparat tidak hanya menarik iuran warga saja atau ketika ada yang sakit ditengok. Perlu juga mengadakan family gathering, selain di tempat ibadah, karena tidak semua warga memiliki kesempatan untuk berkunjung ke tempat ibadah yang sama.

Pada sisi lain, aparat juga harus mampu merangkul semua warga yang berbeda-beda. Apalagi di kota yang sudah kosmopolit. Heterogenitas menjadi keniscayaan. Pada sisi lain, warga pendatang juga harus mampu dan cepat berbaur dengan warga sekitar sehingga cepat menyatu walaupun dengan budaya, suku, atau agama yang sama sekali berbeda.

Pada sisi lain, jika perilaku oknum itu tidak dapat dibenarkan, dan bagi kelompok yang merasa jadi korban tidak usah memperkeruh suasana dengan menggeneralisir masalah apalagi memojok-mojokkan, karena bisa jadi masalahnya jadi rumit dan besar. Mending berlapang saja. Toh masalahnya sudah selesai. Tidak usah mengungkit masalah yang lalu. Toh kita tidak tahu, bagaimana relasi kewargaan yang berkonflik itu.

Secara kolektif bagi minoritas juga (baik agama, suku, atau WN) harus cerdas menjalin relasi dengan warga baurannya ataupun dengan aparat setempatnya. Sehingga tidak ada lagi kata kami atau mereka, yang ada adalah kita. Insya Allah tidak akan ada peristiwa-peristiwa yang melukai kebhinekaan kita.
Read More

5.4.20

Hoaks jeung Hitut

Jaman ayeuna, teu eksis lamun teu berbagi. Pajarkeun teh sharing is caring cenah Ceuceu, Sujang. Nu puguh mah sharing is pusing. Naha bisa kitu? Nya enya atuh, tong boro ku lobana  informasi anu teu ngadatangkeun duit, nu baleunghar oge saking lobana duit, bingung duit rek dikamanakeun jadi pusing. Nya pusing, kumaha mun hartana aya nu madog, matakna jelema beunghar mah pager jeung bentengna paluhur-luhur. Eh tapi ketang, boa teuing mikiran hutangna anu mangjuta-juta. Can ge lunas, ke geus aya nu madog.

Balik deui kana perkara hoax. Dina perkara ieu, sharing is pusing, lain deui caring. Caring timana horeng, nu puguh mah garering. Coba gera ayeuna, lamun geus viral bewara jeung carita saputar Corona, naha teu degdegan? Tingkat kecemasan meningkat tajam. Lamun geus loba degdeganana, waraswas sapanjang waktu. Naha moal tereh gering tah awak.

Karek oge bieu, jam 5 leuwih saeunggeus sholat subuh, der we dina WA aya nu ngabagikeun video jeung tulisan, pajarkeun teh urang Itali, dedegan miliuner, keluargana kabeh tariwas. Manehna stress, antukna mah manehna maehan sorangan, ku cara ngaragragkeun maneh ti gedong luhur 30 umpak.

Lain, eta anu ngabagi teh asa teuboga cedo nya ceuk urang mah, cik we atuh subuh-subuh mah ngabagi teh bagbagan agama anu nenangkeun, lain anu matak sing gebeg hate. Ceuk hiji profesor mah lamun urang geus ngagebeg hate, sabaraha poeeun tah jatah kasehatan awak urang leupas. Matak, mun ceuk bahasa ayeuna mah, langsung we bewarana di clearchat, tuman atuh da.

Jeung deuih kieu Sudin, lamun aya anu keur rame teh atawa viral heueuh, eta anggota grup teh sok reang siga meuri nu keur diangon. Hayoh we tatanya, ari ieu bener, ari ieu bener, ari ieu bener, ari ieu bener. Asa matak bosen, eh lain bosen deui, pusing. Tuh kan, jadina anu tadina hare-hare oge jadi kabawa pusing. Da rareang siga meri hayoh weh tatanya.

Padahal geus dijentrekeun, geus dijentrekeun, Ceuceu – Sujang, lamun aya bewara anu teujelas juntrunganana. Cik atuh motekar sorangan, da geus jalebrog, geus boga perangkat aheng sewang-sewangan, sok talungtik. Talungtik ku sorangan, naha bewara eta teh aya teu dina si Sujang Google. Toong ku maraneh, ka tempat-tempat pangbewaraan anu kawentar, kawentar kabeneranana. Sok ngabewarakeun carita-carita anu sapagodos jeung kaayaan sawalatrana. Lamun aya dina pangbewaraan eta, tah berarti anggap we bener. Tah ieu bisi hayang nyaho carana mah Hirup Walagri jeung Sumanget Babati eh Babagi barengan ku Beunta!

Tapi omat, omat sarebu omat. Lamun kira-kira bewarana matak pihanjeluan sorangan mah teukudu babagi kabatur. Da sarua we jeung ngabagikeun katunggaraan anu bisa nyedot tur nyokot sabagean kasehatan baraya urang kabeh. Jadi heup we, mun ceuk dokter kekinian mah gening bahasana teh meni amoi, #berhentidikamu. Jadi mangga sok we dileleb ku sorangan, nya Sudin, Sujang!

Komo lamun bewarana teukasuat-suat saeutik-eutik acan mah dina pangbewaraan anu kawentar kabeneranana. Komo eta mah, cukup we jadi lalaban keur soranganeun. Omat nya ulah dibagikeun ke batur-batur urang anu keur digawe di imah. Ceuk pamarentah mah #rokpromhom eh #workfromhome.

Nya atuh, sahanteuna, lamun urang teuloba kanyaho oge, urang teu jadi wasilah mere panyakit ka baraya urang. Ku babagi bewara anu teujelas bagbagan timana-timana nya.

Tah, anu geus kaburu narima bewara teujeulas alias hoax, omat lamun apal eta hoax teh teukudu diwawar-wawar deui ka batur. Geus puguh maneh oge kan asa katipu. Naha marukanan teh lamu katipu teu hanjelu eta hate. Mun diibaratkeun hitut mah, maneh ngangseu bau, terus dibagi-bagi ka batur, nya pasti embungeun da lain duit atawa dahareun. Jadi mun ngangseu babauan, omat seuseup ku sorangan. Jadi doraka lamun batur oge kudu dibauan.

Nu ngarana hitut, pasti kaangseuna oge moal lila. Komo salilana mah. Engke oge leungit sorangan. Jadi ayeuna mah lamun aya nu ngabagikeun hoax, bewara sumberna teujelas. Anggap we manehna teh hitut atau keur hitut, bisi nyeri hateeun manehna disangka hitut mah. Piraku we jelema disaruakeun jeung hitut.

Aya nu hitut, angseu keur soranganeun, teukudu dibagi-bagi kabatur. Bau.

Hampura Ai, Sujang, Sudin. Lain mamatahan ieu mah. Ngan kereteg hate, baluwengna pikiran teh da kudu dibudalkeun meh teu matak jadi hitut. Bau.

Cag ah!

Cibangkonol, poe Ahad wanci Haneut Moyan, titimangsa 4 Ruwah 1953/2020.
Read More

27.7.19

Bersilaturahmi Melalui Media Sosial

Abah Raka, Silaturahmi Melalui Media Sosial
Cara bersilatuhami bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu yang paling lumrah adalah berkunjung ke rumah. Orang tua, kakak, atau siapapun yang kita anggap tuakan, baik dari sisi umur, ilmu, (jabatan? mungkin) wajib kita kunjungi untuk bersilaturahmi. Kata orang NU mah biar berkah. Apalagi yang masuk kategori atau kita anggap sebagai orang tua atau guru. Wajib bin kudu!

Silaturahmi bukan soal memanjangkan umur dan rezeki. Juga memanjangkan babarayaan – kata orang sunda mah. Tina ngopi jadi dulur, begitu kira-kira mengutip sebuah tagline pada sebuah warung kopi. Karena dalam acara bertemu tersebut seringkali tersaji kopi, selain tentunya ada panganan lain plus rokok.

Saat teknologi sudah maju, silaturahmi lebih gampang lagi. Tak harus bertatap muka. Cukup kirim pesan, ‘kumaha damang? Atau gimana kabarnya? Dan lain sebagainya. Bisa melalui pesan instan atau telepon sekalipun.

Baik bertatap muka atau berkirim pesan instan untuk menanyakan kabar tersebut terasa sekali nilai silaturahminya. Walaupun, sebagian dari kita, karena beberapa kali punya pengalaman, mungkin sudah ada prejudice, sampai akhirnya begumam dalam hati,”ada apa nih, tiba-tiba nelpon, atau nge-WhatsApp.”

Berkomentar atau like sebagai Silaturahmi
Namun, ada yang mungkin dan barangkali, tidak disadari oleh setiap orang, bahwa sebagian dari kita meniatkan silaturahmi dengan seseorang dengan melike atau berkomentar di media sosial. Like dan komentar sudah sedemikian lumrah dalam kehidupan sekarang. Saat seorang teman membuat catatan atau status, bisa gambar atau tulisan. Lalu kita like atau komentar.

Pertanyaannya, apakah like dan komentar itu, karena statusnya benar-benar menarik? Karena menggugah? Karena memiliki dampak dan manfaat untuk kita atau orang banyak? Sehingga layak diapresiasi dan akhirnya kita komentari.

Sejauh yang saya alami dan rasakan, tidak setiap komentar dan like itu karena statusnya menggugah, atau benar-benar unik, atau memiliki manfaat dan dampak positif terhadap kehidupan kita. Seringkali juga like dan komentar karena kita menghargai sebagai teman atau justeru niatnya adalah menyambungkan kehadiran karena jarang bertemu muka. Jika niatnya adalah menyambungkan kehadiran, like dan komentar bukan karena menggugah, tapi karena niat bersilaturahmi melalui komentar tersebut.

Karena niat silaturahmi itu lah, kita kadang mengabaikan sentuhan mendalam terhadap komentar kita, sehingga komentarnya cukup dengan kata-kata yang singkat dan pendek, misalnya; mantap, kerena, bagus, mantul, dan lain sebagainya.

Hanya saja feedback yang kita dapat tidak sesuai ekspektasi kita, bahwa komentar kita pada dasarnya sebagai pembuka obrolan. Pemilik statuspun hanya memberikan like terhadap komentar kita. Padahal sebetulnya, jika sense of silaturahminya kuat, pemilik status bisa membalas dengan sebuah pertanyaan, atau ucapan terima kasih, sebagai respon atas apresiasinya terhadap komentar tersebut.

Jika yang dilakukan oleh pemilik status tersebut hanya like, biasanya tidak adalah jalan pembuka obrolan dalam komentar tersebut. Sehingga jalan menuju silaturahmi produktif berhenti begitu saja.

Saya sendiri, selalu berusaha untuk membalas—tidak hanya dengan like, setiap komentar di media sosial, sependek apapun, minimal dengan kata ‘nuhun’ atau terima kasih. Tentu saja ini sebagai feedback positif atas nilai silaturahmi yang dihadirkan dalam komentar.

Saya sadar bahwa komentar-komentar pada status media sosial yang saya posting, bukan karena postingan saya bagus, pemikiran saya luar biasa, atau apa yang saya bagikan berdampak positif secara luas pada khalayak. Apalagi yang saya bagikan hanya foto narsis, nilai manfaatnya nol besar. Oleh karena itu saya selalu berfikir lebih realistis, bahwa like atau lebih terasanya komentar terhadap apa yang saya share, merupakan silaturahmi teman-teman media sosial terhadap saya. Sehingga sependek apapun tetap harus saya balas. Ini konsekuensi dari postingan saya. Ada yang berkomentar wajib dibalas. Bukan membalas komentar dengan like semata.

Merujuk pada konsep tanda, saat seseorang mengomentari postingan kita, ada bentuk lain yang hadir bersama-sama dengan komentar tersebut, yaitu kehadiran pemilik komentar. Komentar tidak semata-mata sebagai komentar. Namun juga ia merupakan konsep kehadiran sang pemberi komentar. Kehadiran inilah yang tidak boleh kita abaikan. Karena bagaimanapun kehadiran dalam sebuah silaturahmi menjadi keniscayaan akan bentuk saling menghargai melalui berbagai macam interaksinya. Inilah hubungan antara penanda dan petanda, antara komentar dan kehadiran.

Menjadi keniscayaan saat kita hadir dan orang lain hadir, maka kehadiran itu akan melahirkan komunikasi. Dalam konsep komunikasi, bisa jadi kehadiran itu bersifat satu arah, dua arah, atau banyak arah. Jika yang terjadi adalah interaksi maka keniscayaan bahwa kehadiran yang aktif harus dibalas dengan kehadiran aktif lagi. Pendek kata, saat ada yang bertanya aktif, tentu harus dijawab dengan aktif bukan pasif seperti hanya senyuman, atau cukup dengan dua jempol diacungkan. Tentu ini tidak etis.

Bagi saya ini bagian dari konsekuensi kehadiran kita di medsos. Jika intensitas kehadiran kita cukup sering dan kehadiran orang lain pada postingan sering, menjadi konsekuensi bahwa kehadiran aktif itu harus dibalas dengan kehadiran aktif lagi. Sehingga nilai silaturahmi terjalin. Hubunganpun mengarah kepada hal yang positif. Sehingga medsos bukan hanya alat ia juga menjadi bagian dari kebertubuhan kita. Walaupun tentu saja kehadiran kita bisa ditunda sesuai dengan waktu yang memungkinkan untuk hadir.

Sudah siap hadir di media sosial? Atau sekadar narsis campur FOMO saja?!
Read More

15.5.16

Nasihat Copy Paste


Siapa yang tidak melakukan copy paste (copas) hari ini? mungkin naif jika jawabannya tidak sama sekali. Setidaknya copy paste informasi. Sah saja copas informasi apalagi dibagikan di grup yang tepat. Dari copas-copas tersebut ada suatu yang kita dapat, misalnya info lowongan kerja, info lomba, info sim keliling, info rekayasa lalu lintas, info banjir, info macet dan lain-lainnya. Info-info tersebut semu orang membutuhkannya. Tidak peduli info tersebut berasal dari mana, karena sifatnya informative setiap orang bisa menerimanya.

Dan copas mengcopas ini seperti sudah lumrah di era digital. Bukan hanya informasi tak bertuan, informasi yang punya hak cipta saja dikopas demi menaikan rating pembaca.

Tapi bagaimana jika copas nasihat, copas siraman rohani, copas renungan iman, dan semacamnya? Sebuah pesan yang lebih menitikberatkan pada perubahan perilaku seseorang, bukan hanya informasi. Setiap orang copas dan membagikannya digrup? Di broadcast ke setiap grup yang ada dalam kontak grupnya.

“Copas dari grup sebelah”

“Copas dari grup sebelah”

Begitu kira-kira kalimat pembukanya, sudah copas bilang-bilang lagi. Sebuah fenomena media social. Saking fenomenalnya, tahun 2009, di Barat sana muncul agama copy paste yang mendapatkan legalitas dari negara. Setiap copasan tersebut hampir serupa masuk ke beberapa grup dalam aplikasi masanger WA saya. Karena isi beberapa  pesan tersebut adalah nasihat, saya berfikir, bukankah sebuah pesan itu akan bertenaga jika disampaikan oleh seorang yang ekspert dibidangnya? Sesuai dengan ilmu dana atau kemampuannya? Dan berasal dari siapa pesan tersebut? Tidak jelas, pesan tak bertuan.

Bagi saya pesan-pesan nasihat itu hampa, tanpa jiwa. Mungkin saya termasuk seorang konservatif yang harus merujuk pada seorang yang jelas latar belakangnya saat menerima nasihat agama. Jika ia orang yang ekspert, pesan itu akan masuk langsung bukan hanya ke dalam otak tapi juga ke dalam hati. Ini sudah menjadi hukum dalam komunikasi. Factor ethos, pathos, dan logos masih menjadi madzhab kuat agar pesan tersebut bisa diterima dengan baik (efektif). Sehingga kurang bisa menerima pernyataan dari filsuf,’’Embil pesannya lupakan orangnya”.

Apalagi jika pesan yang sama beberapa kali diterima dalam grup, bukan hanya tidak bertenaga, tapi sangat membosankan. Maka sia-sia lah copasan tersebut.

Jika pun mau berbagi, selain sesuai ekspert, ya ada usaha sedikit. Membuat tulisan sendiri misalnya. Mau ngetik cape-cape di grup WA? Sudah tentu dengan mengeluarkan tenaga ekstra tersebut, pesannya menjadi sangat bertenaga. Karena copas tidak mengeluarkan tenaga ekstra, wajar, mungkin hukum alam, jika pesannya pun tidak bertenaga. Persis seperti yang saya rasakan.

Mau nasihatnya bertenaga dan mengubah seseorang? Ngetik sendiri dari referensi yang bisa dipertanggungjawabkan, jangan copas bro! Jika gak mau cape, jangan salahkan pembaca jika pesannya diabaikan orang.***[]


Read More

20.1.16

Banyak Kelas? Oh Tidaak!

sumber: sindodotcom
Ngajarnya dimana aja Pak? Tanya seorang rekan seprofesi pada saat jam istirahat.

Pertanyaan ini bukan kali pertama saya dapatkan dari satu profesi, tapi sudah ke sekian kalinya. Setiap bertemu rekan yang baru kenal, pertanyaannya tidak jauh dari jumlah dan tempat mengajar. Beberapa tahun lalu, atau sebelum tahun 2014 sangat bisa menjawab beberapa tempat mengajar. Tapi sejak masuk 2014 sepertinya bukan hal yang patut dibanggakan lagi, kenapa? Karena mengajar hanya salah satu tugas dari tridarma perguruan tinggi, masih ada dua term lagi yang harus dilakukan oleh seorang lecture.

Maka sejak 2014 memutuskan tidak banyak mengambil kelas, walaupun beberapa tawaran sempat datang dari Universitas besar dan terkemuka bahkan di antaranya dari PTN. Karena sejak dari awal sudah menyadari bahwa mengajar hanya salah satu bagian dari tugas saja.

Wajar jika pada akhirnya saya lebih tertarik dengan kegiatan yang terkait dengan menulis. Tentu saja tidak instan, karena kegiatan ini sudah dimulai sejak kuliah. Dan tulisan pertam yang dimuat dengan sistem redaksi pada semester tiga atau tahun kedua saya kuliah. Dan Masuk media massa pada akhir semester menjelang sidang tugas akhir. Ini menjadi motivasi untuk terus berkarya. Dan sejak masuk pasca walaupun belum mengajar, tulisan sudah dimuat dalam jurnal yang dalam proses akreditasi.

Tradisi ini terus sayah pelihara walaupun kadang muncul sikap malas-malasan. Ditambah lagi persentuhan saya dengan dunia yang walaupun bukan asosiasi atau komunitas penulis namun kesadaran ke arah sana tetap tumbuh.

Pertanyaan di atas masih sering muncul jika bertemu dengan rekan baru. Namun dengan jawaban yang berbeda. Saya selalu menekankan jika seorang dengan profesi pengajar dan lain sebagainya tidak perlu banyak jam ngajar, asal syarat wajibnya terpenuhi saja. Karena banyak kelas justeru banyak menguras energi baik secara fisik atau mental, sehingga berkarya pun akhirnya terabaikan. *heuheu mungkin ini hanya alasan si sayah sajah :D.

Tapi kurasan energi karena perjalanan dari kampus ke kampus memang melelahkan, boro-boro berkarya, berfikir pun kadang sudah sangat lelah. Sehingga upgrade pengetahuan jarang sekali dilakukan. Wajar pada akhirnya karena rutinitas seperti itu berdampak pada kejenuhan sehingga tidak bisa mengembangkan lebih jauh dinamika kelasnya. Inilah yang pada akhirnya meyakinkan untuk mengurangi kelas.

Hingga pada akhirnya yakin bahwa karya tulis itu harus tetap lahir bagi seorang pengajar walaupun tidak dalam bentuk buku. Sangat minimal artikel yang diakui dan diapresiasi publik. Cirinya, buah pikir kita dimuat di media massa – di samping, tentunya personal blog.

Satu waktu pernah ditawari ngajar di Universitas terkemuka di Bandung saya tolak dengan halus, tapi saat di tawari di univeristas terkemuka lainnya saya pertimbangkan haha, eh alhamdulillah akhirnya gak jadi karena plotternya resign.

Satu lagi, kalo ini dengan mohon maaf harus ditolak karena persoalan harga diri. Mengajar di kampus negeri harus punya brand yang kuat, hanya faktor ketidaksiapan diri saja. Inilah yang pada akhirnya lebih memotivasi lagi. Karena pada akhirnya mengajar bukan mencari fulus (semata) namun pada internalisasi pengetahuan yang bermanfaat untuk orang banyak. Jika ingin bermanfaat, penguasaannya harus benar-benar sesuasi kapasitas.

Jadi bukan persoalan ada fulus atau tidak, lebih pada kepuasan dan aktualisasi yang bermanfaat sesuai dengan kapasitas. Selain karya dalam bentuk refleksi artikel, jurnal, modul, buku, dan penelitian harus seimbang. Lebih baik satu kampus tapi fokus, daripada banyak kampus tapi terjerumus. Baiknya sih karyanya beratus-ratus. #ituajasihcus. 

Read More