Showing posts with label Medis Sosial. Show all posts
Showing posts with label Medis Sosial. Show all posts

12.12.20

Pahami Karakter Medsosmu, Brosis! Jangan Sampai Keuwuan Membawa Sengsara

Uwu, seuwu tulisannya! @abahraka

Warganet 62 terkenal Julid, karena kejulidannya yang sudah melewati batas wajar, sampai-sampai lahir frasa netizen mahabenar. Namun pada sisi lain, netizen 62 juga terkenal dengan sikap empatiknya di dunia lain, apalagi jika dibubuhi dengan kata Please twitter, give your magic!, dengan cepat postingannya akan tersebar ke mayantara.


Akhir-akhir ini fenomena semacamnya menjadi pemandangan yang biasa di twitterland, yang bisa menyebar ke seantero negeri medsos lainnya. Jika awalnya, saya sering melihat fenomena tersebut karena isu-isu politik, belakangan tentang keuwuan anak tanggung sampai menu bekal suami pun dijulidin netizen maha benar. Wajar jika abegeh tersebut mendapatkan spill of the tea, karena sebelumnya, sang lelaki menggoda perempuan lain, sampai minta pap sensitif segala. Etapi menu bekal suami, kenapa dijulidin juga? Nah, kejulidan ini mengetuk tangan-tangan gatal saya, untuk menuliskan dalam bentuk catatan tak berdaya ini.


Sulit Melihat Orang Bahagia

Kenapa melihat orang bahagia begitu bencinya, dan saat orang berbagi inspirasi, seperti menonton kesalahan hakiki? Sedangkan berbagi posisi batu bata rumah di atas kusen pintu jadi inspirasi?


Asumsi saya, kedua contoh kasus tentang keuwuan erat hubungannya dengan rasa! You know lah, rasa itu ibarat lidah, saat badmood, makanan enak apapun tetap tidak punya taste. Hambar. Jika tidak enak justeru mengundang emosi. Apalagi bagi seseorang yang selama hidupnya belum pernah merasakan manisnya berpasangan. Jomlonya udah takdir. Untuk merasakan keuwuan, para jones badmood harus sering-sering nonton drakor. Nah, saat drakor selesai, badmood-nya memuncak lagi. Saat keuwuan orang muncul pada temlen, mencabik-cabik perasaannya, yang udah lama garing bertambah kering kerontang. Komentarnya pun autojulid. Belum lagi situasi sulit seperti sekarang menjadi pelengkap kejulidannya.


Kalau di temlennya muncul postingan keuwuan dengan dengan mutualannya, apakah itu tidak bikin panas? Sementara dirinya, yang sudah lama ngecengin anak tetangga, gak pernah dapat. Apalagi saat seorang istri sholehah, begitu cintanya, setiap hari membuatkan sarapan dan bekal, apa gak merasa gagal tuh kaum feminis dalam mendidik kaumnya agar memberontak patriarki? Maka muncul kejulidan-kejulidan berlapis yang akan diarahkan kepada siapapun yang pamer keuwuannya. Betapapun keuwuan yang wajar.


Nah, kalau sudah kejadian seperti ini, yang repot bukan hanya penikmat keuwuan semu dunia maya, juga para juliders yang tidak bisa tenang hidupnya. Karena setiap menonton keuwuan orang lain, hatinya panas bin julid.


Bukan untuk Fomo Sapiens

Pada negeri sebelah (baca Instagram), keuwuan menjadi hal yang lumrah. Bahkan keuwuan yang remeh temeh pun sering menjadi konsumsi warganya. Senang-senang aja tuh. Bahkan dapat laik dan komentar banyak. Gak ada yang julid. Kecuali seleb yang banyak haternya. Sepertinya, berbagi keuwuan di negeri sebelah itu, menjadi paten bagi negeri tersebut. Hal yang sulit terjadi, kalau orang-orang biasa (folowernya masih dikit) dijulidin sama warganet biasa juga.


Wajar jika negeri ini terkenal dengan sebutan negerinya tukang pamer; dari remeh temeh hingga ramah tamah, dari yang sederhana hingga yang mewah. Dari dapat voucher 50ribu, hingga dapat giveaway jutaan. Dari yang dapat untung ribuan hingga puluhan juta. Dari usaha jual cilok sampai usaha jual intan. Dari yang hanya makan sama ikan asin, sampai yang makan ikan Arwana harga jutaan (dikiranya ikan Arwana buat digoreng). Semua lumrah terjadi dan tidak pernah terjadi kericuhan.


Kaum julid juga malas jika harus numpahin teh di negeri kaum FoMO! (Fear of Missing Out). Karena pasti setiap orang berlomba-lomba pamer segala hal. Gak ada kesempatan kaum julid bikin ricuh, karena setiap netizen berkomentar dengan keuwuannya masing-masing. Mereka yang pseudo UWU, tidak punya kesempatan sama sekali untuk menuangkan tehnya. Maka pembalasan kaum julid lari ke twitterland, yang memungkinkan setiap orang membuang semua sampah dan sumpahnya.


Lengkaplah twitterland oleh beragam manusia; dari yang terpelajar, politisi, para UWU, sampe penyedia jasa esek-eesk. Sejak pemilik twitter memfasilitasi dengan beragam fitur yang unyu, banyak generasi abal-abal pindah ke sini. Dengan akun abal-abal mereka menjadi zombie di siang hari. Memakan semua hal yang berbau rasa dan keuwuan. Menyerang kebijaksanaan yang tidak mereka dapatkan di lingkungannya nyatanya.


Jadi, saranku, Kaum FoMO Sapiens, silahkan bersenang-senang di negeri yang memanjakan dirimu, yaitu di Instagram yang bersih, wangi, dan penuh pesona. Jangan di twitterland yang sudah basah oleh kucuran liur sampah serapah dan semua jasa hampir semua tersedia. Tapi lain hal, jika kamu seleb, apalagi pecandu sahdu, betapapun sampahnya cuitanmu, pasti disambut bahagia oleh mereka.


Anda harus sadar diri sebagai orang biasa, tunjukkanlah bahwa anda juga biasa, jika perlu, tunjukkan kesulitan anda, karena justeru mereka kaum Julid cukup bahagia melihat kesulitan. Mereka pun langsung percaya, karena kesulitan serupa dengan kekeringan rasa mereka. Walaupun pada akhirnya mereka tertipu dengan simulacra mayantara.


Tapi tidak sedikit kok, bahwa kesulitan-kesulitan itu nyata dan berbuah bahagia, karena; entah itu yang sedang bertahan hidup dengan berjualan, menjual motornya, ataupun jenis kesulitan lain misalnya diusir ibu tiri. Kesulitan mereka disambut dengan empatik.


Pahami Karakter Medsosmu, Brosis!

Setiap media sosial memiliki niche-nya masing-masing. Tidak menyamaratakan perlakukan pengguna terhadap semua media sosial menjadi pilihan bijak, jika eksistensi kita ingin diakomodasi. Mungkin itu kata-kata bijak yang saya miliki untuk penduduk tiap media sosial. Walaupun, tidak semua media sosial membuat segmentasi tertentu. Misalnya, twitter hanya untuk kaum terpelajar dan melek politik. Siapa bilang? Toh sekarang, politik bukan tema satu-satunya yang sering trending. Isu-isu remeh temeh dan bahasan generasi lebay juga banyak kok di sini.


Jika di negeri tetangga, Instagram, kalian mau pamer segala macam sah-sah saja, sepertinya negeri tersebut memang yang paling cocok. Tapi tidak cocok untuk berbagi informasi link berita, karena cocoknya di dunia lain, facebook, yang sudah sangat berjubel dari anak gadis sampai nenek kakek.


Kalau mau cari gebetan, tentu kalian tidak cocok mencarinya di negeri kantoran semacam LinkedIn, karena negeri tersebut khusus untuk para jobless dan penebar lowongan kerja. Kalian cukup pergi ke negeri Tinder atau Tantan. Begitu juga kalo mau cari cowok atau cewek yang gampang untuk bermain-main di kosan, tentu tidak di medsos itu, tapi di youchat.


Jika kalian ingin menjadi betul-betul maya dengan informasi yang seringkali mengagregasi keviralan dari media online tidak jelas,  kalian harus paham, itu ada di line. Atau jika kalian ingin memalsukan informasi, jangan bermain di Wikipedia, tapi bikin blog sendiri. Karena Wikipedia berisi orang-orang dengan berjubel pengetahuan.


Jadi bagi medsos addict, kalian harus paham karakter dari aplikasi jejaring tersebut, agar kalian tidak kena julid dan aplikasi kalian tidak rusuh. Jangan sampai kalian tidak tahu ‘niche’ yang lagi trend pada setiap aplikasi tersebut, karena salah tema saat berbagi, kalian bisa berakhir sengsara. Tapi jika tepat, kalian akan berakhir bahagia. Ya, bahagia yang semu!.***[]

 

Read More