Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

5.1.21

Tanggung Jawab Sosial Media

sumber: NUOnline

Indonesia (masih) sedang darurat menghadapi Corona. Persebarannya selama beberapa hari terakhir menunjukkan percepatan yang signifikan, alih-alih melambat karena telah dilakukan social distancing. Setiap hari selalu ada pembaharuan data, baik dari lembaga pemerintah ataupun media. Setiap lembaga sosial memberikan tips untuk pencegahan. Setiap orang saling memberikan support dan wejangan. Namun tidak sedikit juga yang panik gara-gara bertebaran beragam informasi tentang Corona.


Salah satunya, informasi yang beredar melalui grup WhatsApp Netizen (PRFM), tentang catatan seorang dokter pada laman media sosialnya. Isinya selain curhat, sang dokter juga mengungkapkan data-data real terinfeksi Corona, di luar data resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Saat artikel ini ditulis (19/03/2020), saya konfirmasi ke nomor WhatsApp sang dokter, namun tidak berjawab. Anggota Grup sudah mulai ada yang waswas.


Hal serupa terjadi dalam grup WhatsApp lain, menyebarkan konten informasi sama yang belum terkonfirmasi kebenarannya, dengan kasus rujukan tautan berbeda. Jika Grup satu bersumber dari sebuah blog. Grup lain berasal dari media online nasional terverifikasi Dewan Pers. Media tersebut menyebarkan berita yang belum terkonfirmasi kebenarannya. Karena dalam grup instan massager tersebut terdapat salah satu redaktur media online, lalu saya tanya, kenapa tidak diangkat pada medianya. Ia memberikan jawaban bijak, “berita seperti ini tidak akan diangkat karena membuat panik warga.”


Beberapa media mainstream menjadikan isu Corona sebagai komodifikasi. Overdosis informasi tentang corona menyebabkan warga panik. Apalagi saat media online terverifikasi Dewan Pers menjadikan curhatan sebagai berita. Tanpa ada konfirmasi dari sumber bersangkutan. Tanpa melakukan kroscek terhadap sumber lain. Media tersebut juga tidak melakukan jurnalisme data yang membanding-bandingkan dengan data yang ada dalam sistem big data. Ia hanya menyalin dan dijadikan berita. Lalu dimana tanggung jawab media, dimana disiplin verifikasi yang seharusnya dilakukan media, dimana keberimbangan berita yang seharusnya menjadi basis pemberitaan.


Peran Warga

Overdosis informasi menjadi kelumrahan di era digital. Hal ini karena setiap orang merasa memiliki hak sama dengan media mainstream untuk berbagi informasi terkini. Para penyebar informasi juga datang dari media personal yang diportalisasi, atau blog dengan domain level utama dan blog dengan domain penyedia jasa (CMS), sampai akun jejaring sosial dengan jumlah fanbase fantastis dan dengan jumlah pertemanan hanya puluhan.


Era digital Setiap orang dimudahkan oleh beragam aplikasi. Kemudahan ini menjadikan berbagi informasi sebagai keniscayaan, bahkan telah mengarah fear of missing out—tidak ingin melewatkan untuk berbagi informasi apapun. Setiap informasi yang beredar dianggap telah given kebenarannya. Kondisi inilah yang menyebabkan kecenderungan terjadinya penyebaran berita yang missinformasi atau justeru disinformasi (hoax).


Oleh karena itu, setiap warga digital harus memiliki antibody terhadap serangan informasi yang sumbernya tidak jelas, kontennya tidak valid, dan wacananya meresahkan. Kita harus skeptis terhadap setiap informasi yang ada. Jangan sampai merugikan cara kita berfikir dan berpesaaan sehingga meresahkan kita sendiri.


Padahal, setiap orang bisa secara mandiri menentukan informasi yang dianggap bermanfaat dan menyeleksinya sesuai kebutuhan atau mengabaikan informasi yang meresahkan kita anggap disinformasi. Kita dapat menjadi agen mandiri informasi dengan melakukan literasi terhadapnya; cek beritanya berasal dari mana, terverifikasikah media tempat publikasinya, terpercayakan sumber rujukannya, apakah judul dengan isi relevan, apakah kontennya masuk akal, atau validkah berita tersebut. Jika semua telah dikroscek dan memenuhi kriteria literasi, beritanya bermanfaat dan memberikan motivasi dan harapan, kita bisa bagikan. Namun jika sebaliknya, alangkah baiknya berita tersebut kita abaikan. Meminjam istilah kekinian dari dr. Gia Pratama melalui novelnya, cukup Berhenti di Kamu.


Melakukan hal tersebut, menjadi bagian dari solusi agar perilaku kita tidak memperburuk keadaan. Minimal jika kita tidak ambil bagian dalam proses aksi pemberantasan Corona,  kita tidak ikut bagian meresahkan masyarakat dengan menyebarkan berita yang tidak jelas sumber dan verifikasinya. Karena tidak setiap orang bersikap skeptis terhadap setiap informasi. Informasi-informasi tersebut sebagiannya dicerna mentah-mentah karena akses dan kemampuan literasi yang minim.


Tanggung Jawab Media

Walaupun telah banyak informasi yang beredar dari beragam institusi melalui situsnya atau personal ahli di bidangnya. Media tetap dibutuhkan kehadirannya oleh masyarakat. Media tetap harus menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya dalam memberikan informasi yang kredibel, valid, dan solutif bagi masyarakat. Alih-alih meresahkan karena mengejar tiras, rating, rangking, dan klik.


Bagi Bapak Jurnalisme Dunia, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku Blur, How to Know What’s True in The Age of Information Overload (2010), kehadiran media diperlukan untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh masyarakat dalam proses moderasi dan kurasi berita. Media diperlukan untuk melakukan autentifikasi berita. Menjelaskan dengan fakta dan bukti tentang berita yang layak dipercaya. Media juga dibutuhkan masyarakat untuk merasionalisasikan lalu lintas informasi.


Kita tahu bahwa overload informasi membuat masyarakat kehilangan keseimbangan dalam menentukan mana berita yang benar dan masuk akal dan mana berita yang bohong. Sehingga seringkali masyarakat menjadi korban kebiadaban disinformasi  yang menyebabkan mereka terkena pasal UU ITE karena menyebarkan berita bohong. Oleh karena itu, kata Bill Kovach dan Rosenstiel, media harus mampu menjadi sense maker. They must look for information that is of value, not just new, and present it in a way so we make sense of it ourselves. Media harus mencari informasi yang bernilai, bukan hanya yang baru, dan menyajikannya sedemikian rupa sehingga masyarakat memahaminya sendiri.


Jika masyarakat masih kesulitan memanfaatkan big data untuk keperluan literasi informasi, maka di sinilah tanggung jawab dan fungsi media. Kovach dan Rosenstiel bilang, media harus menjadi smart agregator. Media harus mampu mengarahkan informasinya ke sumber-sumber yang layak dipercaya. Sehingga dapat menghemat waktu pembaca dalam menelusuri sumber-sumber penting dan kredibel yang dijadikan rujukan oleh media.


Sebagian masyarakat masih belum memahami media-media yang layak dijadikan sebagai sumber rujukan. Bagi awam, informasi yang ditampilkan pada portal, web perusahaan, atau blog-blog dengan domain tingkat utama, tidak ada bedanya, sehingga berita-berita yang disampaikan dianggap terpercaya. Padahal tidak selalu demikian, dengan tujuan monetisasi, seringkali media berbasis weblog melakukan manipulasi fakta dan data, melalui judul-judul yang bombastik.  Sehingga media arus utama harus menjadi role model bagi siapapun.


Media Harus tetap menjadi panutan masyarakat sebagai rujukan informasi yang terpecaya dan solutif. Sehingga di tengah persoalan seperti sekarang, media tidak memperparah keadaan. Bukan  menjadikan keadaan sebagai komoditas, dengan menjadikan informasi yang belum terverifikasi menjadi berita demi mendulang klik. Justeru, kehadiran media tetap diperlukan agar masyarakat tetap waspada tanpa harus panik. Semoga.***[Dudi Rustandi/ @abahraka]

Read More

20.4.20

Intoleransi Beragama dan Menyoal Relasi Kewargaan

Ilustrasi intoleransi beragama, sumber ilustrasi; flickr gituajadotcom

Hari ini, saya tidak sengaja melihat temlen twitter yang membahas tentang perilaku salah satu saudara kita yang salah paham telah membubarkan ibadah salah satu warganya yang dilakukan di rumah. Dan berakhir damai.

Peristiwa ini tentu menjadi preseden buruk di tengah pandemi. Indonesia yang beragam dan runtut raut hirup sauyunan dinodai oleh perilaku warganya yang merasa diri ‘paling benar’. Namun patut disyukuri karena masalah ini telah diselesaikan secara kekeluargaan.

Nah, yang membuat saya merasa tidak nyaman adalah komentar saudara-saudara kita, secara terbuka menggeneralisir isu ini karena persoalan mayoritas dan minoritas. Kalau kita yang salah pastilah ujung-ujungnya penjara. Masalah protes suara aja penjara. Dan lain sebagainya. Saya sendiri turut menyesalkan kenapa masih terjadi intoleransi beragama.

Namun, intoleransi dan sikap dominasi warga mayoritas ini berlaku dimana-mana, bahkan sekalipun di negara paling liberal sekalipun selalu ada orang-orang yang merasa dirinya paling benar. Konservatis radikal.

Harus diingat bahwa isu dan peristiwa ini tidak hanya terjadi antar umat beragama, bahkan antar internal umat beragama pun seringkali muncul. Sudah menjadi rahasia umum, antara Sunni dan Syiah di Indonesia misalnya. Bahkan mayoritas muslim di Indonesia (oknum) beberapa kali menyerang penganut muslim lain yang dianggap menyimpang atau sesat.

Sepertinya ini sudah menjadi logika mayoritas. Eksistensinya tidak ingin teracam oleh kehadiran minoritas yang dianggap perilaku dan cara beragama/ ritualnya berbeda. Bahkan di kampung saya dulu, jangankan antara mayoritas dan minoritas, ini sesama mayoritas antara ormas agama juga pernah terjadi bentrokan.

Apakah ini persoalan agama?
Secara substansial, saya melihat lebih jauh bukan persoalan murni agama. Agama hanya menjadi kendaraan untuk melakukan legalitas perilaku intoleran. Lebih jauhnya saya melihatnya lebih pada relasi jalinan antar warga. Relasi kewargaan yang terjalin cenderung kering dan miskina. Tidak ada upaya bagaimana relasi itu harus dibangun antar warga agar terjadi internalisasi persaudaraan antar umat beragama ataupun sesama intern agama.

Jika ikatan emosional ini kurang maka konflik dengan mudah bisa tersulut dengan persoanal-persoalan kecil. Penekanannya bukan pada persoalan yang saat itu muncul, pada para rentetan peristiwa sebelumnya yang tidak terungkapkan. Konflik hanya puncak gunung es untuk melakukan legalitas perilaku saja.

Kenap saya bisa mengatakan ini? Sebetulnya sederhana. Saya punya teman berbeda agama. Setiap hari bisa berdiskusi, makan bareng, bercanda. Saat terjadi konflik seperti contoh di atas, apakah kami juga ikut berkonflik? Ya tentu tidak. Toh kita tetap baik-baik saja karena relasi yang sudah terbangun sudah diikat oleh persaudaraan sebagai warga.

Saya melihatnya dari sisi human relations antara warga. Jika relasi kewargaan terlah terjalin, saya kira persoalan-persoalan konflik atau kesalahpahaman antara penganut beragama akan sangat bisa di hindari. Sekalipun warga tersebut memiliki kelainan dalam beragama, misalnya karena anutannya adalah agama mayoritas yang sempalan. Jika relasi kewargaannya kuat, justeru akan melahirkan dialog yang sehat untuk mengetahui anutan agamanya tersebut.

Namun jika relasi kewargaannya tidak terjalin dengan kuat, kesalahpaham itu akan cepat teratasi karena sejak jauh-jauh hari orang-orang telah paham. Oleh karena itu, ini mungkin menjadi pekerjaan rumah bagi aparat setempat. Menjadi aparat tidak hanya menarik iuran warga saja atau ketika ada yang sakit ditengok. Perlu juga mengadakan family gathering, selain di tempat ibadah, karena tidak semua warga memiliki kesempatan untuk berkunjung ke tempat ibadah yang sama.

Pada sisi lain, aparat juga harus mampu merangkul semua warga yang berbeda-beda. Apalagi di kota yang sudah kosmopolit. Heterogenitas menjadi keniscayaan. Pada sisi lain, warga pendatang juga harus mampu dan cepat berbaur dengan warga sekitar sehingga cepat menyatu walaupun dengan budaya, suku, atau agama yang sama sekali berbeda.

Pada sisi lain, jika perilaku oknum itu tidak dapat dibenarkan, dan bagi kelompok yang merasa jadi korban tidak usah memperkeruh suasana dengan menggeneralisir masalah apalagi memojok-mojokkan, karena bisa jadi masalahnya jadi rumit dan besar. Mending berlapang saja. Toh masalahnya sudah selesai. Tidak usah mengungkit masalah yang lalu. Toh kita tidak tahu, bagaimana relasi kewargaan yang berkonflik itu.

Secara kolektif bagi minoritas juga (baik agama, suku, atau WN) harus cerdas menjalin relasi dengan warga baurannya ataupun dengan aparat setempatnya. Sehingga tidak ada lagi kata kami atau mereka, yang ada adalah kita. Insya Allah tidak akan ada peristiwa-peristiwa yang melukai kebhinekaan kita.
Read More

18.3.20

Semangat Berbagi Barengi Literasi

Foto by @fileproject
Sudah mafhum, era media sosial, setiap orang begitu bersemangat untuk berbagi. Berbagi apapun. Tentang kehidupan diri; kantor, rumah, aktivitas, jejaring, ataupun sosial. Semangat berbagi inilah yang menjadikan sosmedland Indonesia begitu ramai dan riuh, tumpah ruah semuanya di sosmed land. Wajar sosmedland Indonesia masuk daftar 5 terbesar dunia.

Sayang, semangat berbagi tersebut seringkali menimbulkan masalah karena tidak dibarengi dengan semangat literasi. Ya, literasi. Literasi bukan hanya soal membaca. Bukan hanya soal menulis. Juga bagaimana memahami setiap isu, wacana, atau pun peristiwa dipahami dengan benar tentang apa, bersumber dari mana, dan apa kegunaannya.

Yaaa sebenarnya sih, jika dikaji berdasarkan kajian filsafat; misalnya tentang suatu informasi yang beredar, maka informasi tersebut harus dipahami dulu hakikat informasi tersebut (ontology), sumber, asal usul, atau bagaimana cara informasi itu muncul, daaan kira-kira nih. Informasi tersebut berguna atau bermanfaat apa tidak jika disebarkan lagi.

Jika ini sudah dipahami, sebetulnya selesai.  Tidak akan muncul masalah. Hanya saja tidak setiap orang mau dan mampu sampai sejauh itu berfikir. Karena semangat berbagi hanya dibarengi dengan hasrat atau dorongan naluri ingin cepat eksis dan terkenal. Apalagi dilike, dishare ulang, dikomentari, dengan melebihi jumlah pertemanannya. Eksistensi kita seakan memuncak. Berbagi pun menjadi candu. Tidak peduli benar atau salah. Yang penting eksistensinya terpenuhi, hasratnya tersalurkan, ia pun tidak pernah tertinggal informasi terkini di bandingkan tetangga sebelahnya-Fear of Mising Out (FoMO).

Sebelum dikenai pasal UU ITE yang bisa menjerat dengan penjara tahunan dan denda ratusan juta. Maka warganet dengan kategori tersebut tidak akan penah kapok, kecuali saat polisi sudah menjemput. Baru menyesal.

Oleh karena itu, sebelum menyesal. Maka semangat berbagi harus dibarengi dengan literasi. Literasi sendiri ada yang bersifat fisik seperti membaca dan menulis, kecenderungan ini lebih kepada peristiwa literasinya. Namun yang tidak kalah penting adalah pada aspek praktiknya yang cenderung abstrak. Pada praktinya, literasi melibatkan nilai, sikap, perasaan, dan hubungan sosial. Pada konteks pelibatan ini juga mengikutsertakan aspek kognitif.

Literasi mulanya adalah kegiatan mengenal huruf lalu mengenal tulisan. Berkembang menjadi suatu keterampilan membaca dan menulis. Namun, literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Dalam konteks informasi seperti dikutip Iriantara (2009), literasi dipahami sebagai kemampuan mengumpulkan, mengorganisasikan, menyaring, dan mengevaluasi informasi. Sekaligus juga suatu kompetensi untuk memperhitungkan akibat-akibat sosial dari publikasi yang dilakukan.

Maka bisa digarisbawahi bahwa literasi (informasi) di sini erat kaitannya dengan;
(1) kemampuan mengumpulkan informasi berasal dari mana;
(2) kemampuan mengorganisasikan, menggabungkan, mengombinasikan, atau menyeleksi dan memilah informasi mana yang harus dan tidak harus disusun sehingga menjadi data yang utuh untuk disebarluaskan;
(3) Kemampuan menyaring informasi mana yang layak dan tidak layak untuk disebarluaskan;
(4) mengevaluasi apakah sumber informasi benar, apakah informasi tersebut valid, berasal dari mana sajakah referensi informasi, apakah sumbernya terverifikasi;
(5) Kemampuan memperhitungkan dampak dari informasi yang dibagikan. Dalam bahasa komunikasi, seorang agen informasi harus mampu meramalkan kemungkinan-kemungkinan dampaknya. Tidak hanya sekedar senang berbagi informasi.

Berdasarkan beberapa komponen sederhana tersebut, maka derajat literasi sedikit meningkat bukan hanya mengenal huruf, dan kemudian menuangkan kembali menjadi tulisan. Juga sudah pada tarap memahami membaca dan menulis itu untuk keperluan apa. Seperti apa menulis yang bermanfaat, bagaimana dampaknya, informasi seperti apa yang harus dirujuk dan dibagikan, apakah informasi tersebut benar atau tidak, dan apa dampaknya jika informasi tersebut dibagikan.

Terinternalisasikannya pemahaman tersebut dalam diri kita sebelum berbagi informasi, bukan hanya meningkatkan derajat diri, juga meningkatkan sistem imun diri kita dari serangan hoax. Sehingga tidak mudah percaya, selalu bersikap skeptis (ragu-ragu). Kita pun tidak akan sembarangan berbagi sehingga tidak mudah menjadi korban penyebaran hoax.

Yuk barengi semangat berbagi kita dengan literasi! 
Read More

8.11.17

Wikipedia jadi Rujukan Ilmiah?

Sumber: wikipedia
Saat membuka halaman pertama sebuah buku, tiba-tiba satu definisi tentang sebuah istilah mengutip tulisan dari sebuah blog. Ugh, tiba-tiba serasa ditampar. Jika yang dikutip pendapat pakar atau ekspert di bidangnya saya kira tidak masalah, misalnya seorang doktor atau profesor. Mungkin saja saya tahu jika yang dikutip adalah gubes atau doktor di bidangnya tersebut. Padahal jelas buku yang baru saja saya buka adalah referensi ilmiah, yang akan digunakan oleh mahasiswa untuk keperluan ilmiah, bahkan buku tersebut dijadikan rujukan ilmiah.

Di era internet, penikmat buku mungkin sering terkecoh oleh tampilan sebuah buku, namun isinya sebagian besar mengutip dari referensi internet yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mungkin saja penulisnya sudah bertanggung jawab untuk menuliskan sumbernya, tetapi sumber yang dikutip adalah blog yang tidak jelas siapa penulis dan bidang kepakarannya.

Media internet sesungguhnya menyediakan banyak sumber rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Sebuah tulisan bisa dikatakan ilmiah atau setidaknya memenuhi kriteria tulisan ilmiah. Misalnya, jurnal-jurnal yang sudah memiliki ISSN baik dari dalam negeri atau luar negeri yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan. Ataupun project buku gratisan versi ebook yang sudah ber-ISBN.

Mencari sumber-sumber tersebut tidaklah sulit, jika ingin langsung ditujukan ke sumbernya tinggal masuk ke scholar.google.com. Saat memasukan kata kunci, akan muncul berbagai rujukan sesuai kata kunci, yang berasal dari berbagai perguruan tinggi atau situs pengelola jurnal. Sumber-sumber ini dapat dipertanggungjawabkan karena memenuhi kriteria ilmiah setidaknya sudah ada legitimasi dari pengelola masing-masing sebagai karya ilmiah. Pencari sumber juga bisa berselancar ke situs perguruan tinggi yang telah menyediakan elibrary, dimana semua rujukan ilmiah disimpan.

Lalu bagaimana dengan Wikipedia?
Nah, selama ini tugas-tugas mahasiswa sering dipenuhi oleh rujukan dari Wikipedia dan blog-blog yang keilmiahannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan, Wikipedia dijadikan sebagai rujukan untuk referensi penyusunan tugas akhir. Sahkah? Bolehkah? 

Sebelum membahas tentang boleh tidaknya seorang mahasiswa tingkat akhir menjadikan wikipedia sebagai rujukan ilmiah, misalnya untuk keperluan skripsi, ada baiknya kita mengetahui siapa yang menulis untuk wikipedia?

Pada dasarnya wikipedia adalah sebuah media terbuka yang memperbolehkan siapa saja untuk menulis pada media tersebut, selama tulisan tersebut memenuhi kriteria dan ketentuan dari pengelola, misalnya menulis struktur tulisan, pencantuman rujukan, netralitas tulisan, dan lain sebagainya. Selama memenuhi ketentuan dari pengelola, setiap penulis yang memublikasikan tulisan pada wikipedia akan menemukan tulisannya dipublikasikan oleh wikipedia. Sebagai situs terbuka, sebagaimana halnya user generated content atau  juga portal warga, wikipedia menerima semua jenis tulisan dari berbagai latar belakang ilmu, termasuk seseorang yang tidak memiliki kepakaran, asal mau belajar dan ingin menuliskan, ikut ketentuan, tulisannya dapat dipublikasikan oleh wikipedia.

Memerhatikan semua jenis tulisan, wikipedia memenuhi dahaga pengetahuan pembaca yang ingin mendapatkan wawasan tentang apapun tanpa harus mengeluarkan biaya seperti halnya saat pembaca ingin memiliki ensiklopedia dengan harga ratusan ribu atau bahkan jutaan. Sebagai ensiklopedia bebas, terbuka, dan gratis, semua pengetahuan bisa kita rujuk ke wikipedia.

sumber: wikipedia
Walaupun telah menetapkan standar penulisan yang ketat, tetap tulisan apapun bisa didapatkan pada wikipedia dari tulisan yang sangat pendek tanpa rujukan sampai tulisan serius dengan puluhan rujukan. Misalnya, saat saya mencari tulisan tentang Dodol Garut, saya menemukan satu tulisan dengan tulisan seadanya, hanya satu rujukan, tidak ada struktur tulisan. Dan saya sering menemukan tulisan seperti ini. Bahkan hanya menulis definisi saja dari satu istilah yang masih jarang jadi bahasan juga sering saya temukan. Ini adalah fakta bahwa tulisan apapun bisa masuk ke dalam wikipedia. Termasuk siapapun bisa menulis pada wikipedia termasuk bukan para ahli yang menjadikan wikipedia sebagai media pembelajaran untuk menulis.

Belum lagi merujuk pada gengsi akademik. Misalnya seorang doktor, merujuk pada wikipedia untuk pembuatan makalahnya, lalu bagaimana jika yang menulisnya adalah lulusan S1 dan bukan berasal dari bidang ilmu yang ditulisnya tersebut?

Saya berprinsip, belajar itu dari mana saja, dari mahasiswa-mahasiswa saya misalnya yang punya passion tertentu, misalnya fotografi, saya belajar. Atau ada mahasiswa yang passionnya dalam desain, saya belajar tanpa harus jaga gengsi. Hanya saja jika menyangkut karya ilmiah saya sendiri lebih baik merujuk pada buku yang diterbitkan oleh penerbit dengan tingkat kehati-hatian atau seleksi yang tinggi, tidak asal menerbitkan. Atau dari sumber-sumber internet yang sudah ber-ISSN atau ISBN.

Ilmu dan pengetahuan di era internet sudah sangat terbuka, kita bisa menimba ilmu dan pengetahuan dari mana saja yang penting manfaatnya terasa, bisa baca-baca dari wikipeda atau belajar secara audiovisual langsung dari youtube, tanpa harus menimbang-dimbang siapa sih yang membuatnya. Era sekarang belajar bisa kapanpun dimanapun pada siapapun tanpa harus tahu kepakarannya selama masih bisa mengambil manfaat darinya. Namun sekali lagi, jika untuk keperluan rujukan ilmiah seperti tugas akhir atau skripsi dan sejenisnya, harus jelas sumber yang dijadikan rujukan baik penerbit atau pengarangnya.

Teringat seorang teman yang sedang menyusun tugas akhir, Dosennya berkelakar, “jika mau merujuk pada sebuah buku untuk karya ilmiah anda, rujuklah minimal setara dengan pendidikan anda!

Persoalan rujukan ini bukan melulu pada wikipedia juga pada buku-buku. Dengan terbukanya penerbitan-penerbitan independen, semua orang bisa menerbitkan buku. Sehingga juga harus hati-hati.

Wikipedia adalah sumber pengetahuan bebas yang bisa kita gunakan dan kita baca kapan saja untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita di dunia ini. Pada Wikipedai kita juga bisa berkolaborasi dan berkontribusi menjadi penulis sekaligus. Namun, untuk karya ilmiah baiknya gunakan sumber-sumber ber-ISSN atau ISBN yang sudah melalui seleksi ilmiah.***[]
Read More

28.10.17

Buku; Investasi Dunia Akhirat

Gambar: koleksi pribadi @abahraka
Waktu mahasiswa, saat belanja kebutuhan buku, senang sekali jika mendapatkan harga miring dari umumnya. Maklum, awal tahun 2000-an buku-buku sudah cukup mahal. Apalagi menjelang tahun 2017. Sulit sekali mendapatkan buku berkualitas dengan harga di bawah lima puluh ribu, rerata di atas harga tersebut. Jika pun ada buku murah, masuk kategori buku saku atau buku-buku ringan atau buku diskon sampai 50 dan 70 % masuk kategori buku yang tidak saya butuhkan.

Beberapa waktu lalu, melalui akun media sosial, tiba-tiba muncul pada temlen buku terbitan tahun 2014 yang memang sudah tidak terbit lagi dan kebetulan saya butuhkan untuk penyusunan proposal-proposalan, “Wah wah kebeneran banget nih, bukunya masih ada, walaupun harus dikirim dari luar kota,”gumam saya sambil saya klik akun yang memajang buku tersebut.

Akhirnya saya DM lah akun tersebut, tentu saja, sekalian saya ambil buku lain yang memang sudah jarang ada di pasaran. Walhasil 6 eksemplar buku dengan judul berbeda dihargai 230 ribuan. Biasanya untuk seharga itu paling hanya dapat 3 atau maksimal 4 buku dengan ketebalan yang berbeda-beda. Saya cukup girang, apalagi tahu bahwa ketebalan bukunya 300-an halaman. Hanya saja sedikit heran, kenapa 6 buku tersebut sangat murah.

Sudah senang dong, buku langka dan tebal dengan harga murah tersebut. Dan salah satu bukunya adalah buku yang akan saya jadikan referensi. Ada sedikit tanda tanya selama buku dalam proses pengiriman, “ini buku jangan-jangan memang bukan orisinil ya,”pikir saya. Dan setelah 5 hari bukunya sampai juga. Saat menerima bungkusan buku, kecurigaan saya bertambah. Karena setau saya, bukunya cukup panjang ukurannya. Sementara ini rata sama semua ukurannya.

“Jangan-jangan buku tersebut tidak ada, seperti pengalaman saat belanja online beberapa waktu lalu, setelah diterima baru bilang kalau bukunya belum ada,”gumam saya. Setelah duduk dan buku tersebut saya simpan di atas meja, akhirnya saya unboxing (hehe bahasanya!), saya sobek langsung menggunakan cutter, dan ketidakenakan saya ternyata benar, jika buku yang saya beli adalah buku bajakan, lebih tepatnya adalah repro. Saya buka satu persatu, tidak satupun buku orisinil. Selain ukuran buku tidak asli, kualitas kertas yang jauh buruk, juga warna tulisan yang bladus. Bukan hanya itu, sebagian buku terbitan lama sudah ada nama dan coretan di sana-sini sehingga kurang elok untuk dibaca. Walaupun secara substansi bisa jadi sama saja dengan buku aslinya.

Kecewa? Ya pastinya, karena dari awal transaksi saya tersugesti untuk bersemangat saat buku baru menjadi koleksi. Nyatanya tidak sama sekali. Tidaklah bertambah booster saya. Hanya berharap suatu saat nanti bisa berguna untuk keperluan kaji mengkaji.

Akhirnya saya DM lagi melalui akun medsosnya,”bukunya bukan orisinilan ya?” tanya saya.

“Iya memang semua repro, waktu itu saya gak bilang ya kalo bukunya repro bung?” balasnya sambil bertanya.

“Gak sih,” jawab saya.

“Oh maaf bung, saya gak bilang ya, bukunya repro. Kalau yang mahal jikapun bukunya masih ada mahal,”balasnya.

“Iya mahal, makanya ini saya beli, tapi ya sudah gak apa-apa, makasih ya mas,” saya mengakhiri.
Tiba-tiba saya teringat dengan status seorang penulis yang seringkali dibecandain permintaan buku karyanya saat usai cetak di penerbit. Kira-kira statusnya menyindir, “Membuat buku itu hasil kerja keras, tiba-tiba diminta gratisan, hargai kerja keras kami,”.

Saya sadar, pembajakan buku atau karya lainnya, menjadi kejahatan luar biasa. Jika pencurian barang, korban mengetahui barangnya ada yang mengambil tanpa izin, maka penulis buku, dicuri karyanya belum tentu ketahuan. Terasa saat hasil dari royaltinya tidak lagi mengalir. Rezekinya tertahan. Walaupun selalu saja ada nasihat rezeki itu sudah diatur oleh Tuhan. Tetap saja dalam kasus pembajakan buku, kejahatannya melebihi kejahatan perampokan uang atau barang. Karena bisa seumur hidup terjadi dalam hidup seorang pengarang.

Buku sebagai investasi
Jika buku diibaratkan sebagai investasi yang akan mengalirkan tiga hal; pahala, materi, serta hal lainnya yang akan membuat seseorang menjadi manusia. Pahala akan mengalir selama buku tersebut dicetak dan terus terjual. Tidak sedikit buku-buku, misalnya yang terbit tahun 1980-an sekarang masih tetap naik cetak. Apalagi buku tersebut sebagai buku rujukan yang esensi materinya masih sulit ditemukan dalam buku-buku baru. Buku-buku filsafat misalnya seringkali sulit mendapatkan terbitan yang baru dari penulis yang sudah meninggal, sehingga karya-karya lamanya tetap dicetak dan diterbitkan lagi. Tidak ada revisi. Maka selama buku tersebut dicetak, penulisnya walaupun sudah meninggal tetap akan mendapatkan royalti ke ahli warisnya.

Penulis juga menjadi populer dengan keahlian yang dimiliki, sehingga bisa jadi  sering diminta untuk mengisi berbagai seminar atau semacamnya keluar kota bahkan ke luar negeri. Lihat saja para penulis berkelas dunia atau buku-bukunya sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

Begitu juga dengan ilmu. Penulis meninggalkan jejak ilmu bagi para pembacanya. Sehingga menjadi pahala yang tidak berkesudahan karena selain ilmu yang langsung didapatkan dari bukunya, jika sebagai buku rujukan dan referensi maka akan diajarkan terus menerus sampai beberapa generasi. Bahkan para penuntut ilmunya turut mendokan agar pengarang mendapatkan rahmat dan selamat dari Tuhan. Al-Ghazali dengan Ihya Ulumuddin dalam bidang tasauf dan akhlak misalnya terus menerus bukunya dibaca dan dicetak. Atau melalui buku Tahafut Alfalasifahnya untuk buku filsafatnya (sanggahan terhadap filsafat). Hamka dengan bukunya yang cukup banyak dan tetap masih dicetak misalnya Lembaga Hidup, Tasauf Moderan, Di Bawah Naungan Kabah, atau Tenggelamnya kapal Vanderwijk.

Penulis yang sudah zuhud bisa jadi tidak lagi peduli apakah karyanya dibajak atau tidak. Tapi bagi penulis baru yang belajar dengan satu, dua, atau tiga terbit dan menjadi satu-satunya harapan karena menggantungkan diri dari menulis tentu menjadi hal yang sangat signifikan untuk menghidupi kesehariannya. Bagaimana jika bukunya dibajak? Hmmm tentu saja pembajak sudah menghentikan jalan rezeki si penulis, walaupun selalu ada kelakar, rezeki ada di tangan Tuhan. Yang jelas, jalan ikhtiarnya terhambat oleh si Pembajak! Nilai investasinya secara materialpun menjadi berkurang. Dunia dan immateri tetap harus seimbang tanpa saling meniadakan yang lain. Materi memang bukan segala-galanya, dan pahala menjadi income tak terhentikan, tetapi melalui materi income pahala bisa ditambah berkali lipat.

Saya hanya berharap bahwa kejadian ini tidak terulang. Agar saya tidak menghambat rezeki penulis. Karena sebagian pemberi nafas dompet saya juga dari menulis.

Penulis selain mendapatkan aliran pahala karena ilmunya bermanfaat, juga menjadi abadi karena terus diingat melalui sitasinya. 😊 Salam. #abahraka #dudirustandi ***[]

Read More

21.10.17

Literasi Digital, Bukan Sekedar Membaca & Berbagi!

creditphoto: @ceumeta

Literasi kini menjadi istilah yang sangat familier, seiring dengan populernya media sosial. Banyak komunitas, perkumpulan, atau lembaga juga turut serta menggalakan gerakan-gerakan literasi. Bukan hanya para pegiat perpustakaan atau komunitas baca saja, juga para aktivis media sosial. Ini tidak terlepas dari banyaknya berbagai kasus yang muncul dari relasi dan transaksi yang dilakukan melalui media digital.

Banyaknya penyebar hoax tanpa disaring, nge-share berita tanpa mempelajari media dan konten apa yang dibagikan, dan tentu saja gerakan-gerakan yang lebih terstruktur yang ingin mengadu-domba masyarakat secara horizontal, memungkinkan terjadinya konflik yang tak berkesudahan. Bukan hal yang tabu, kini kita banyak berdebat-debat kusir di media sosial terhadap satu permasalahan. Padahal masalah tersebut belum tentu ada secara actual. Ia hanya dibuat untuk menggaduhkan suasana tanpa ada rujukan yang jelas dan real.

Literasi sering kali difahami sebagai kegiatan membaca dan menulis, kegiatan-kegiatan pembacaan dan kampanye membaca oleh pegiat sastra dan perpustakaan, yang mengajak audiensnya untuk membiasakan membaca dan atau menulis biasanya seringkali disebut sebagai kegiatan literasi. Padahal lebih dari itu, kegiatan membaca dan menulis tidak akan terjadi jika tidak tanpa adanya dorongan untuk melakukannya. Seseorang juga tidak akan menulis jika tidak paham pada persoalan apa yang ditulisnya. Artinya bahwa literasi bukan hanya menyoal baca dan tulis saja tetapi juga bagaimana memahami persoalan. Maka membaca dalam literasi adalah membaca dalam konteks mengkaji dan menganalisis suatu persoalan dalam kehidupan manusianya sehari-hari.

Awalnya kita mengenal istilah ini sering digunakan oleh para pegiat sastra atau pegiat pustaka baca. Bahkan jargon yang digunakan oleh pegiat pustaka tersebut adalah ‘Salam Literasi’ sambil mengacungkan jari dengan bentuk huruf L. Gabungan antara jari telunjuk dan jempol. Belakangan Literasi banyak digunakan oleh pegiat media sosial dan digital. Hal ini terkait dengan makin banyaknya perilaku-perilaku yang tidak mencerminkan sikap etis dalam berinteraksi di media sosial. Maklum, kini hampir setiap pengguna smartphone sepertinya tidak bisa menjauhkan diri dari satu aplikasi tersebut yang jumlahnya bermacam ragam.

Secara definitif, literasi dipahami sebagai kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan atau memproduksi suatu konten dalam persoalan yang sedang jadi permasalahan. Pada sisi lain, literasi juga didefinisikan sebagai serangkaian perspektif yang digunakan secara aktif untuk menghadapi terpaan pada persoalan yang dihadapi, menginterpretasi, dan atau mengcounternya.

Terkait dengan literasi digital maka bisa didefinisikan sebagai serangkaian kemampuan seseoarng dalam mengakses, menganalisis, mengevaluasi, memproduksi, menghadapi terpaan, menginterpretasi, dan atau mengcounter setiap terpaan atau interaksi dan transaksi yang dilakukan dengan media digital. Interaksi dan transaksi yang terjadi di media digital bermacam ragam dari mulai interaksi dan transaksi secara sincronus ataupun asincronus.

Komunikasi secara sincronus adalah komunikasi yang dilakukan dalam keserentakan secara waktu. Ada proses interaksi langsung dan feedback yang cepat antar manusia seakan-akan sedang melakukan percakapan antarmuka. Dalam komunikasi siber biasanya disebut sebagai CMC, computer mediated communications atau komunikasi yang dimediasi oleh computer. Mengisyaratkan adanya interaksi antarmanusia namun dimediasi oleh alat/ sarana/ media teknologi; chating, masangeran, atau lainnya.
Sedangkan asyncronus adalah interaksi manusia hanya dengan computer saja, misalnya saat stalking, membuat desain, atau saat membaca satu arah saja. Tidak adanya interaksi dengan manusia lagi membuat seorang yang beriteraksi dengan computer mempersepsikan sendiri tentang pesan-pesan yang beredar di media digital. Misalnya saat menerima berita yang dibagikan oleh orang lain lalu kita membagikan lagi di beranda sendiri. Dalam komunikasi asyncronus tidak terjadi interaksi antara manusia tetapi hanya manusia dengan computer saja. Sehingga komunikator menginterpretasikan apa yang terjadi sendiri tanpa ada interaksi dengan manusia lainnya.

sumber; arenalte
Literasi Digital memuat semua rangkaian proses seseorang dalam berhubungan dengan perangkat digital dan layar, baik syncronus ataupun asyncronus. Ada empat macam tujuan dalam melakukan literasi digital, seperti ditulis oleh Billy K. Sarwono (2016), Pertama terkait dengan  proteksi, yaitu perlindungan terhadap konten-konten yang membahayakan atau merugikan atau menimbulkan dampak negative. Oleh karena itu perlu diberikan kegiatan literasi agar netizen atau pengguna perangkat digital bisa mengerti dan memahami bahwa media digital memiliki sisi negative, baik sebagai perangkat itu sendiri ataupun dari sisi konten-konten yang muncul darinya.
sumber: mitrariset

Kedua, tujuan pemberdayaan. Media digital memiliki fungsi positif sebagai salah satu sumber belajar. Banyak source yang bisa dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Bahkan bisa dijadikan sarana khusus untuk kepentingan ekonomi. Sudah bukan rahasia, misalnya dengan media sosial seperti facebook bisa menjadi sarana untuk meningkatkan penjualan bagi pengusaha UMKM. Melalui media digital juga setiap orang bisa melakukan gerakan-gerakan pemberdayaan lainnya.

Ketiga, Kajian Media. Khusus bagi peminat khusus ilmu komunikasi atau media, melalui literasi bisa menjadi sarana mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Seorang peminat bisa menjadikan media digital sebagai objek penelitian dalam bidang komunikasi. Mengetahui bahwa apa yang dibagikan pada media digital hoax atau bukan. Punya tujuan yang netral atau memiliki tendensi. Tulisan terkait kajian media digital: Pencitraan Politik Daring.

Keempat, Aksi. Selain pembedayaan dan kajian, media digital juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk menggerakan atau memobilisasi, baik gerakan sosial, ekonomi, atau advokasi. Tidak sedikit yang terbantu oleh ajakan di salah satu fanpage misalnya atau situs khusus charity seperti kitabisadotcom atau chagendotorg.

Setiap orang yang melakukan literasi digital pada akhirnya diharapkan dapat menggunakan teknologi dengan benar sehingga meminimalisir digital divide. Menggunakan perangkat digital di era sekarang juga diharapkan menjadi sarana efektif untuk berbagai keperluan. Selain itu para pembelajarnya juga diharapkan mampu membuat pilihan, memilah dan memilih, menyimpan, mengambil atau berbagi konten untuk tujuan positif melalui berbagai bentuk konten; teks, visual, audiovisual.

Dengan melakukan literasi digital, seorang pembelajar juga menjadi tahu bagaimana mendapatkan, memproduksi dan mengelola konten-konten digital sehingga dapat menggunakan media tersebut sekreatif mungkin dengan kritis sehingga bisa terhindar dari kegiatan menyinggung atau berbahaya. Justeru dengan melakukan kegiatan literasi digital dapat seorang pembeajar dapat memanfaatan berbagai konten bagus tersebut untuk kegiatan positif.

Jadi kata kunci dari literasi digital bukan hanya menulis dan membaca saja, juga proteksi, pemberdayaan, pengkajian/ penelitian, lalu aksi.***[]

Tulisan terkait Literasi Media Sosial , Optimalisasi Humas melalui Media Sosial, Review Buku Media Sosial
Read More

27.8.17

Anak Main Gawai? Why Not!

sumber gambar: tempodotco
Jika kebetulan kumpul bareng dengan sanak family atau teman-teman lama, membawa serta pasangan dan anaknya, pemandangan anak yang bermain gadget menjadi hal lumrah. Kadang kasian sama anak sendiri, di saat teman-temannya asyik main game dan buka-buka youtube, anak saya malah menggelendot ke Amihnya atau merengek-rengek ke Saya minta main game di hape jadul.

Sedih juga memang, seperti yang punya rasa rendah diri gitu, mungkin dalam hatinya berkata, “kok akang (panggilan untuk anak pertama) gak di kasih gawai ya”. Teman-teman dan sodaranya pada pegang gawai…hmm bener-bener sedih!
Tapi rasa sedih itu barangkali perasaan yang tidak tepat, karena sebagai orang tua tidak punya pendirian untuk mendidik anak. Di samping karena memang anak tidak dibelikan gawai secara khusus, sekalipun yang murah. Sepertinya saya belum sanggup secara mental memberikan mainan canggih tersebut.
Apalagi setelah konsultasi,  katanya gadget berbahaya untuk anak-anak. Seorang rekan cukup kaget pada saat tahu anak-anak saya main gawai,”Apaaa? Udah dikasih hape? Ujarnya setengah berteriak, seperti kaget.
Rekan yang seorang psikolog juga memberikan gadget kepada anaknya saat anaknya, itupun dengan syarat. Sehingga dia sangat tidak menyarankan kepada anak-anak apalagi masih balita untuk memberikan mainan gawai.
Tambah yakin saja jika anak tidak diberikan gawai!
Tapi belakangan terbersit atau semacam tersadarkan—mungkin juga sejenis kesadaran palsu bahwa hari ini dunia sudah berubah. Sarana didik untuk anak 20 tahun lalu atau saat saya lahir 30 tahun lalu atau saat rekan saya lahir 40 tahun lalu berbeda dengan yang lahir tahun 2000-an. Saya pun berpandangan bahwa anak harus dikenalkan dengan dunia saat dia lahir bukan saat orang tuanya lahir.

Berdasarkan keyakinan itu, saya akhirnya bersepakat dengan isteri memberikan pengenalan gawai dengan langsung pendampingan. Satu atau dua jam. Jika youtube dipastikan kartun-kartun anak, jika game yang tidak berbahaya bagi perkembangan kognitif. Selain juga didampingi dengan video-video pendidikan melalui VCD.

Anak Hidup dengan Dunianya
Sebagai orang tua yang baru memiliki anak Balita atau menjelang lewat golden age, memang ngeri-ngeri sedap dengan perkembangan teknologi hari ini. Begitu pesatnya hingga bisa menyesatkan. Gara-gara gadget anak bisa anak bisa celaka. Bukan hanya bagi anak tapi juga remaja atau orang tua sendiri. Tidak sedikit terkena boomerang dari gadget. Bahkan, cerita saudara yang memiliki tetangganya membiarkan anaknya bermain gadget, sementara orang tuanya bekerja anaknya bebas mengakses youtube dan aplikasi lainnya hingga masuk ke konten pornoaksi. Hampir setiap hari konten tersebut diaksesnya. Dan ia begitu bangga mempertontonkan tontonannya ke tetangga-tetangganya. Sang anak tidak faham bahwa konten tersebut ‘haram’ diakses.

Gadget tidak haram, gadget juga tidak berniat untuk menjerumuskan. Bahkan kehadirannya berniat untuk mempermudah aktivitas keseharian. Kehadirannya harus dimanfaatkan bukan justeru menjadikan malapetaka. Banyak konten yang bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk anak-anak. Banyak juga konten positif yang bisa menginspirasi anak untuk melakukan seperti yang diajarkan oleh konten tersebut.

Sebagai anak kandung teknologi, sudah seharusnya anak tidak asing dengan gadget, justeru mereka harus piawai menggunakannya. Generasi milenial adalah mereka yang lahir bukan hanya karena saat mereka lahir sudah maju teknologinya, tapi juga harus disemangati dengan ruhnya. Cepat belajar, cepat berkomunikasi, Cepat berfikir, kreatif, inovatif, pantang menyerah, kritis, dan lain sebagainya. Bagaimana mau menjiwai sisi positif tersebut, jika anak dijauhkan dari ‘benda’nya.

Hanya saja, agar tidak menjadi boomerang, orang tua dituntut tetap awasi anaknya, mengikuti anaknya sampai detil apa yang sedang ditonton dan dimainkan.

Saya pribadi, memberikan gadget kepada anak khusus hari minggu. Itu pun tidak ada akses internet agar anak tidak membuka situs atau konten negative. Dengan begitu, anak tetap mengenal dunianya. Anak mengenal bahasanya sendiri seperti halnya dengan anak-anak lain.

Beberapa situs dan artikel, menulis jika anak tepat bermain game dan menonton dengan porsi yang cukup, akan mempercepat konstruksi saraf kognitif anak. Hal ini akan mempercepat proses pembelajaran anak. Ini menjadi nilai positif. Sekali lagi dengan porsi yang tidak berlebihan. Jangankan anak, orang tua jika kerjanya selama 8 jam duduk, tentau menjadi penyakit. Begitu juga dengan anak.

Oleh karena itu, biarkan anak hidup di dalam dunianya. Jangan dibawa ke dunia kita yang berbeda. Dalami dunianya, jika mampu dan bisa kita bisa masuk ke dunia anak juga agar kita bisa melihat dan merasakan dunianya.
#catatandiujungsenja



Read More