Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts

13.12.20

Menepi di Cantigi

Menepi di Cantigi. Salah satu area permainan, Cantigi Camp. 

Pandemi, membuat hidup setiap orang menyisi. Bukan hanya soal ekonomi, juga emosi dan ketertekanan diri. Jiwa menjadi sepi. Setiap hari bertemu dengan dinding persegi, juga pintu yang seringnya menutupi penghuni.

Bosan iya, jenuh pasti. Keuangan terkurangi. Banyak agenda tertunda tanpa permisi. Karena setiap orang telah memaklumi. Satu kata, karena pandemi.


Minggu pertama Desember tahun 2020 ini, sejak pagi telah bersiap diri. Berniat pergi ke satu area wisata lokal yang sedang populer di Bandung Timur. Batu Kuda Gunung Manglayang.


Walaupun telah dua kali berkunjung ke sini, namun itu dilakukan saat tempat wisata yang lebih pas disebut sebagai hutan pinus ini, mengubah diri sejak beberapa tahun lalu. Sehingga cukup penasaran sekadar mengenali lagi area yang masih satu desa dengan rumah kami.


Menggunakan kuda besi hitam, kami pun beranjak menuju lokasi. Sayang, saat itu jalan menuju area sedang diperbaiki dengan cara dibeton. Akhirnya kami mencari jalan alternatif lain. Setelah tanya-tanya, akhirnya kami mendapati jalan alternatif. Sayang, hujan cukup merapat hingga tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Daaan kami pun kembali.


Namun teringat, di penghujung libur panjang yang melelahkan, kami pernah mengunjungi satu tempat yang tidak kalah menariknya. Ya, saat itu, Agustus 2020, menjelang penutupan libur sekolah pagi. Mencoba membuka diri, menghirup udara yang lebih hijau dibandingkan tetanaman halaman yang seuprit. Masih berada di kecamatan yang sama. Cileunyi belok kiri atas. Menuju ke arah Timur Bandung. Suatu lokasi yang masih asri dan pepohonan menjulang tinggi. Tempat parkir tertata rapi. Tepatnya berada di daerah Manjah Beureum Cileunyi Wetan. Cantigi Camp namanya.


Cantigi; dari Outbond, Camp, hingga Wisata Keluarga

Menepi di Cantigi. Salah satu area permainan, Cantigi Camp. Perosotan.


Cantigi Camp, dilihat dari namanya merupakan area tempat perkemahan. Di area paling tinggi dan atas terdapat lapangan cukup luas dengan dikelilingi oleh saung-saung yang cukup luas juga. Memang, sepertinya area ini disediakan khusus untuk perkemahan grup.

Namun, dengan kunjungan personal, Cantigi juga merupakan suatu area rekreasi keluarga, tepatnya tempat hang out bergaya outbond. Bukan hanya saung-saung tempat menepi dari hujan dan panas. Juga nyaman jika digunakan untuk botram alias makan bersama keluarga atau sanak famili lainnya.


Sebagai tempat outbond, Cantigi memiliki lapangan cukup luas. Lapangan di sana sini. Wajar karena lapangan tersebut merupakan area perkemahan. Selain bisa digunakan untuk kelompok atau grup besar, juga untuk keluarga kecil yang  merindukan suasana asri, sejuk, dan jauh dari hiruk pikuk kendaraan dan polusi udara.


Keluarga yang memiliki anak-anak laki-laki bisa bermain bola tanpa terganggu pengunjung yang menggunakan fasilitas outbond. Pepohonan yang menjulang tinggi, bisa melindungi dari sorotan matahari tengah hari. Sehingga tidak khawatir kepanasan. Bahkan tidak khawatir anak-anak tersesat di kerumunan orang. Karena masih bisa terpantau dari kejauhan sejauh mata memandang.


Bangunan yang cukup luas dapat digunakan untuk acara-acara ultah bergaya outdoor. Atau sekedar memberikan tutorial untuk peserta pelatihan perusahaan kecil. Beragam fasilitas juga tersedia; perosotan, kolam lengkap dengan perahu, juga kolam untuk melatih keseimbangan. Begitu juga dengan ada flying fox khusus untuk anak-anak, selain juga untuk dewasa yang lebih tinggi dan lebih panjang talinya. Sayangnya, flying fox untuk keluarga berbayar hehehe.


Memiliki embel-embel Camp, Cantigi terkesan serius khusus untuk tempat kegiatan outbond, tapi cocok untuk wisata atau tempat piknik keluarga. Hampir pada setiap tempatnya memiliki tempat duduk-duduk selain menyediakan saung-saung, baik untuk kapasitas 5 orang atau 15 orang.  


Jika tidak ingin repot membawa makan dari rumah, tempat ini sebetulnya menyediakan resto lengkap dengan saung gazebo-nya. Bahkan sepertinya, terdapat dapur khusus sebagai ruang produksi makanan. Sayang, memang karena masa pandemi resto ini harus tutup sementara waktu.


Sebagai informasi, saat saya mengunjungi tempat ini, area parkir sedang diperluas. Sepertinya pengelola sedang melakukan perluasan tempat agar pengunjung bisa lebih nyaman dan aman memarkirkan kendaraannya.


Saya sendiri, selain lebih menikmati suasana hehijauan Cantigi, lebih menikmati sebagai latar untuk foto-foto anak. Kebetulan sudah lama tidak pernah foto anak-anak.


Murah Meriah

Tiket masuk dipatok rata Rp.7.500.-/ orangnya. Baik dewasa maupun anak-anak, terkecuali balita tidak dihitung. Dengan harga murah tersebut, pengunjung bisa menikmati semua fasilitas yang ada di Cantigi Camp. Pengecualian Flying Fox untuk dewasa, pengunjung harus mengeluarkan lagi koceknya seharga Rp.15.000,-/ orangnya. Namun, bagi anak-anak (kids) disediakan fasilitas flying fox gratis yang satu area dengan fasilitas ayunan.


Pengunjung bisa berpuas ria menikmati semua fasilitas dan bermain bersama sanak keluarga sambil menikmati udara sejuk yang berasal dari pohon-pohon menahun dan meninggi. Suasana yang nyaman, Cantigi Camp juga bisa dijadikan sebagai tempat bersantai, ngopi, ataupun berleha-leha dengan fasilitas Gazebo yang tersedia.


Tempat ibadah dan toilet yang sangat urgent dalam bepergiaan, juga tersedia di sini. Sehingga tidak perlu khawatir, dapat memfasilitasi keperluan beribadah, khususnya bagi muslim. Jika memasuki waktu ibadah, pengunjung tidak repot mencari mushola.


Menuju Cantigi

Tinggal ketik Cantigi Camp untuk Mapsnya.

Cantigi Camp cukup mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi ataupun menggunakan Opang. Tempatnya berada di daerah Manjah Bereum Cileunyi Wetan. Sekitar 7 km dari Bunderan Cibiru, sekitar 20 menit waktu perjalanan. Jika posisinya dari Cileunyi sekitar 3,5 km dari Jalan Raya Cileunyi (terminal) atau sekitar 12 menit.


Bagi baraya yang hendak mengunjungi tempat ini dengan menggunakan kendaraan pribadi, jalan masuknya tepat berada di sebelah kiri ujung jalan percobaan Cileunyi menuju arah Sumedang. Jika arahnya dari Sumedang maka belok kanan pas sebelum masuk jalan percobaan.


Cukup 2 jam berada di sini, dan kepenatan karena selalu diborder oleh pintu dan langit-langit rumah, akhirnya terbayar setitik dengan suasana hijau Cantigi, saya bisa menikmati kembali langit asli ciptaan Tuhan. Cantigi bisa jadi tempat wisata keluarga alternatif terdekat bagi yang tinggal di sekitar lokasi, Cileunyi dan sekitarnya.***[]

 

Read More

8.12.20

Menapak Jejak Peninggalan Bosscha

Menapak Jejak Peninggalan Bosscha. sumber foto: Bambang Diskominfo Kabupaten Bandung 

Meneer Belanda, K.A.R. Bosscha, administratur perkebunan teh yang memiliki banyak kontribusi untuk kemajuan masyarakat Priangan. Bukan hanya Observatorium Bosscha Lembang, juga PLTA, Sekolah Teknik ITB, dan inovasi perumahan untuk pekerja perkebunan.
Janari gede, mataku telah terbuka, bersiap bebersih badan dan hidup normatif sebagai manusia beragama. Namun, bukan hanya soal itu. Karena pukul 5.00 pagi hari, telah ditunggu oleh sekawan, memburu janji untuk meluncur ke Neglawangi. Karena itu, pukul 04.00 setelah sameang, kuda besi tuaku telah menapaki jalan kecil desa, membelah jalanan kota.


Bersama tim Sarebu Kampung, Adhie Nur Indra, Asep Soehendar, Bambang, Anton, Kamal, dan Hendar, kami bergegas menuju ketinggian 2000-an mdpl, melalui jalur Pangalengan. Menuju tapal batas kabupaten Bandung. Blok Sedep - Neglawangi.


Neglawangi, salah satu desa di Kecamatan Kertasari, satu jam perjalanan dari kota kecamatan Pangalengan atau sekitar 30 km jaraknya. Kurang lebih tiga jam perjalanan dari Soreang, Kota Kabupaten Bandung atau sekitar 55 km arah Selatan Bandung. Dengan jarak tempuh dan waktu yang tidak sepadan, jangan bayangkan jika jalannya datar dan lurus seperti kota. Walaupun secara infrastruktur sudah cukup baik. Kelokan-kelokan yang bisa membuat pusing dan muntah, menjadi salah satu alasan kenapa waktu tempuh dan jarak seakan tidak berompromi.

Akan tetapi, saat menginjakkan kaki, tepat di depan Desa Neglawangi, terbayar sudah pusing dan mual karena kelokan. Mentari tersenyum, menjadi ciri bahwa pagi telah terlewati. Namun, kami masih betah berjaket. Aparat pun menikmati mengenakan kupluk. Udara dingin terasa meliuk-liuk mengitari badan yang masih berlum terbiasa dengan suhu 170 c atau berada pada ketinggian 1764 MDPL. Petugas desa bilang, jika sedang dingin-dinginnya, udara bisa sampai 50 c.


Perkenalan kecil dengan sejumlah aparat desa, penggerak KIM Neglawangi, dan penggerak informasi & pariwisata; Ibu Sekdes, Iwan Hadiana, Yusep Zamaludin, dan Reva Gumelar menjadi penghangat suasana, sebelum melakukan perjalanan dan liputan. Cerita-cerita kecil lalu berubah menjadi gelak tawa, bersama punggawa. Sebelum akhirnya, saya tersadar bahwa lokasi kantor desa yang menjadi tempat kami bercengkrama, adalah jalan kawah Papandayan.


Nama jalan tersebut, seakan menghantarkan saya untuk pulang ke kampung halaman. Tak pelak, karena jalannya dinamai dengan jalan Kawah Papandayan, tempat masa muda mengadu andrenalin dengan dingin dan gelapnya Pondok Saladah, di tempat kelahiran. Ya, jalan ini menghubungkan Kabupaten Bandung dan Garut melalui jalur Gunung Papandayan.


Terbersit mimpi masa remaja yang tak pernah terlaksana, untuk menapaki Tegal Arun dan Tegal Panjang yang menjadi penghubung Kabupaten Bandung dan Garut. Sebagai pencapaian gengsi para pendaki pemula di gunung Papandayan.


Bukan Tanam Paksa

Menapak Jejak Peninggalan Bosscha. Sumber foto: Bambang Diskominfo Bandung

Setelah personil lengkap; aparatur desa, kelompok informasi masyarakat, serta kelompok penggerak pariwisata desa Neglawangi. Kami pun, menuju tempat ‘perjamuan’ pertama, yaitu Villa Belanda, yang dibangun tahun 1926. Villa ini awalnya merupakan rumah dinas kepala bagian perkebunan blok Neglawangi, yang masih menggunakan bahasa Belanda, Sinder Apdeling. Beberapa kali alih fungsi, akhirnya eks rumah dinas pejabat perkebunan ini berubah fungsi menjadi villa.


Tidak seperti perkebunan teh di wilayah Garut dan Purwakarta, Perkebunan teh Neglawangi, walaupun memiliki sejarah yang kuat dengan tanam paksa, namun pembukaan lahannya didasarkan pada investasi para pemodal, sehingga bukan bagian dari politik balas budi Belanda atau istilah yang lebih populer saat itu, cultuurstelsel.


Sebagian besar perkebunan-perkebunan teh besar di Indonesia, merupakan peninggalan dari program tanam paksa bangsa Belanda. Bibit tehnya sendiri dibawa oleh mereka untuk keperluan bisnis. Sebagaimana halnya diceritakan dengan baik oleh Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Pulau Buru, yang salah satunya telah diangkat menjadi film Bumi Manusia.


Perkebunan teh, merupakan bagian dari jejak tanam paksa. Hanya saja, ceritanya sedikit berbeda, karena perkebunan teh tersebut dikelola oleh generasi ke-2 dari investor Belanda. Generasi ini merupakan kelompok pemodal yang datang setelah dihilangkannya politik tanam paksa.


Generasi pertama teh di tatar priangan, yang bermula tahun 1827 memokuskan area penanaman di daerah Garut dan Purwakarta. Setelah muncul UU Agraria tahun 1870, tanam paksa berakhir. Dan pengusaha teh berdatangan sebagai investor yang menyewa tanah-tanah rakyat. Lalu pada tahun 1896 Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang sepupu pengusaha teh di priangan datang sebagai pekerja perkebunan teh Malabar Pangalengan.


Wajar, jika perlakuan dari meneer Belanda, pada periode kedatangan generasi kedua ini berbeda dengan generasi pertama di perkebunan teh Garut dan Purwakarta. Meneer-meneer Belanda bersikap dan memperlakukan masyarakat dengan sangat baik, bahkan disediakan perumahan khusus untuk pekerja pribumi. Mereka pun dikenang masyarakat.


Jejak Bosscha; dari Pembangkit Listrik, Sekolah Teknik hingga Gunung Nini

Saat menapaki jalan menuju Gunung Nini Bandaasri Pangalengan, sebuah penunjuk jalan bertuliskan Makam Bosscha terpampang di sebelah kiri jalan. Apa hubungannya dengan Observatorium Bosscha yang populer di Lembang?


Ya, saya baru menyadari, lebih tepatnya mengetahui setelah berbincang dengan pengelola tempat Wisata Gunung Nini. Bahwa hamparan perkebunan teh yang luas di Pangalengan merupakan peninggalan Bosscha. Bukan hanya pangalengan, namun tersebar ke sejumlah tempat termasuk Neglawangi dan Lembang.


K.A.R. Bosscha merupakan Meneer Belanda yang memiliki kepedulian sosial dan pendidikan yang  tinggi. Tidak hanya membangun pusat observasi Bosscha yang terkenal di lembang, juga mendirikan sekolah teknik pertama di Indonesia, atau sekarang yang dikenal dengan Institut Teknologi Bandung.


Awalnya, Bosscha bekerja sebagai administratur pada perkebunan milik sepupunya yang menjadi pioneer perkebunan teh di Jawa Barat, khususnya wilayah Garut, Bandung, dan Purwakarta, keluarga KF Holle dan Kerkhoven.


Bosscha sendiri masih berkerabat dengan Kerkhoven. Namun, selama bekerja Bosscha banyak melakukan inovasi. Ia mendirikan perumahan untuk pekerja perkebunan. Ia juga mendirikan pabrik teh Malabar. Selama menjadi administratur, ia berinovasi membuat pembangkit listrik tenaga air yang menjadi sumber energi bagi pabrik teh.


Pembangkit listrik tersebut, berada di perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut, masih berfungsi dengan baik. Dibangun tahun 1924. Hingga kini masih memiliki fungsi menjadi sumber listrik bagi pabrik teh yang berada Neglawangi.

Generasi kedua meneer Belanda ini, tidak hanya menjadi pengusaha teh, mereka juga sangat cinta dengan kebudayaan dan masyarakatnya. Wajar jika mereka juga sangat menyatu dengan masyarakat. Hingga akhirnya dicintai oleh masyarakat. Bosscha sendiri ingin dimakamkan di tengah-tengah perkebunan, tepatnya pada perkebunan teh Malabar, tepat di area menuju Gunung Nini.


Gunung Nini, merupakan sebuah bukit tinggi di tengah pegununang setinggi 1760-an mdpl yang bisa melihat hamparan pohon teh 360 derajat. Menurut pengelolanya, Gunung Nini merupakan tempat favorit K.A.R. Bosscha untuk memantau keadaan perkebunan yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap harinya, ia selalu melakukan pemantauan.


Salah satu cerita yang disampaikan oleh Bosscha saat memantau, setiap menjelang siang selalu datang seorang nenek-nenek yang membawakannya makan. Sampai akhirnya tempat tersebut dinamai gunung Nini. Kini, gunung Nini, dikelola oleh Karang Taruna Bandaasri Pangalengan. Menjadi tempat wisata swafoto 360 derajat.


Gunung Nini mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi, baik roda dua atau roda empat. Jalan menuju gunung Nini cukup bagus, walaupun saat menapaki pegunungannya belum diaspal. Namun cukup nyaman untuk dilalui. Dengan tiket Rp.10.000,- per orang, wisatawan bisa menikmati pemandangan eksotis hamparan perkebunan teh dari ketinggian 1700-an mdpl. Pengelola menyediakan saung-saung terhubung satu sama lain untuk berswafoto ataupun istirahat sambil menikmati kuasa dan keindahan ciptaan Allah. ***[abahraka]

Read More

19.7.20

Mengekstase dengan Pantai Parai dan Rock Island

Pulau Batu alias Rock Island
Biasanya, jika sampai di Pantai, tidak hanya menikmati batas pandang lautan dari pantai, juga mencoba bersatu dengan dengan menceburkan diri, minimal basah-bahasan celana. Tapi tidak, saat sampai di Pantai Parai Bangka dengan Pasir Putih dan birunya laut yang sungguh eksotis. Kami berenam, hanya duduk-duduk di bangku yang disediakan hotel. Menikmati, eksotisnya air yang kebiruan dengan bebatuan raksasasanya.

Cerita bermula,

Tepat pukul 04.25, saya sampai di Bandara Husen Sastranegara Bandung. Rencana keberangkatan pukul 06.00, ternyata terlalu pagi sampai di Bandara, dan akhirnya transit terlebih dahulu di mesjid untuk menunaikan kewajiban. Setelah sholat, satu persatu teman datang dan akhirnya berkumpul di pintu area keberangkatan domestik. Kami segera masuk dan menikmati suasana bandara.

November 2019, perjalanan ini bukan traveling, tapi memenuhi undangan, lebih tepatnya menjadi salah satu peserta sekaligus narasumber dalam workshop yang dilaksanakan dalam festival relawan TIK di Pangkal Pinang, Ibu Kota Kepulanan Bangka Belitung. Sebelum menginjakkan kaki di Pangkal Pinang, sengaja saya tidak browsing tentang Provinsi dengan dua pulau besar tersebut. Saya terkadang tertukar antara Pangkal Pinang dan Tanjung Pinang, padahal kedua tempat tersebut berada pada wilayah provinsi yang berbeda.

Barulah paham saat tiba dan menikmati suasana Pangkal Pinang, yang menurut saya cocok sebagai kota Heritage, karena rata-rata bangunannya menua—sebelum saya berkeliling, walaupun tidak tua-tua amat sih. Saya juga baru paham bahwa antara Bangka dan Belitung merupakan dua pulang yang berbeda dalam satu provinsi.

Ketauan ya, kalau saya kurang literate soal wilayah di Indonesia. Tidak masalah, saya nikmati kebodohan ini, karena begitu nikmatnya saat saya tahu, walaupun hanya sebatas pada apa yang saya dengar dan saya lihat saja. Ya, ini lah kota asalnya salah satu panganan terkenal di Bandung, Martabak Bangka.

Pangkal Pinang. Saya tunda ceritanya. Saya lanjutkan dengan Pantai Parai.

Tiba pukul 8, menyimpan barang di hotel dan langsung menuju tempat acara. Setelah acara pembukaan dan seminar sesi 2 selesai. Kami undur diri terlebih dahulu, karena acara workshop kepenulisan yang akan saya isi terjadwal besok siang, 23 November. Sesegera kami berenam menuju arah Selatan (kalau tidak salah), sekitar 43 km dari Kota Pangkal Pinang. Kami tempuh kurang lebih satu jam perjalanan.

Pasir Putih Parai Private Beach
Pantai Parai merupakan private beach, kami harus membayar retribusi melalui pihak hotel agar bisa menikmatinya. Retribusinya Rp.25.000,- per orang. Saat masuk, karena masih terlalu siang, suasana pantai masih sepi, sehingga kami bisa dengan puas dan bebas menebarkan pandangan dari sisi satu ke sisi lainnya, termasuk juga Rock Island yang berada pada sisi lain.

Rock Island yang berada begitu Indah dipandang dari sisi kanan Parai yang tepat berada di belakang hotel. Tempat ini juga sangat intagramable. Hampir di semua tempatnya memiliki pemandangan eksotis. Bahkan jika kita keluar Pantai dan masuk pada sisi lainnya, menyediakan semacam pedestrian khusus agar bisa menikmati Indahnya pantai dengan bebatuan raksasanya.

Cukup puas dengan hanya memandangi eksotisme pantai, saya coba menikmati bebatuan raksasa, dengan mengambil beberapa foto. Posisinya sangat pas berhadapan dengan Rock Island di seberangnya. Pohon kelapa menjadi ciri khas pantai. Mengingatkan pada latar lagu Rayuan Pulau Kelapa (yang mana ya?).

Semantara yang lain, tetap betah hanya duduk-duduk, saya berempat pergi menuju Rock Island. Sejatinya, di tempat ini terdapat cafe, sayang sepertinya telah lama tutup. Beruntung dengan 25ribu kami dapat minum teh kemasan botol. Sehingga menjadi penutup haus dan dahaga. Rock Island benar-benar Pulau Batu, dan kami pun menikmati berfoto di Pulau Batu sambil merasakan adrenalin horornya ombak yang mendorong dengan kencang bilah-bilah batu sehingga muncrat ke permukaan.

Andrenalin bertambah saat ingin menikmati laut dari atas baru paling terdekat dengan pantai. Karena batu menyerupai bukit, saya harus menaiki bukit tersebut. Begitupun saya harus menyeberang melalui belahan-belahan batu besar tersebut sehingga saya bisa melihat lepas laut dari Rock Island. 

Saat kembali dari bukit batu di Rock Island, tampak dua gadis berkerudung sedang ikut menikmati hempasan angit pantai. Terlindungi rimbunnya pohon-pohon meninggi. Sesekali kami mengajak ngobrol. Mereka berasal dari Lampung. Sengaja liburan ke Bangka bersama teman lamanya.

Cukup duduk-duduk di pinggiran kita sudah merasakan ekstase
Saat kami kembali dari Rock Island, Parai Private Beach sudah mulai ramai. Anak-anak berlarian di pinggir pantai. Bola ditendang ke sana kemari. Sesekali nyemplung ke air. Terkena deburan ombak. Mereka teriak kegirangan. Mengambil Bola. Byurr mereka pun berenang di pinggiran Pantai Parai. Sambil mengambil bola yang melayang-layang di atas permukaan laut. Mereka kembali lagi ke bibir pantai. Lempar bola lagi. Tendang lagi. Kejar lagi. Dan nyembur lagi ke permukaan air pantai.

Saat menuju gerbang pantai, rombongan keluarga besar, yang sepertinya dari perusahaan tertentu berbondong-bondong menuju Parai Private Beach. Sedangkan kami bergegas menuju tempat berbeda. Sebagai kenangan, sebelum meninggalkan Privat Parai Beach, kami berswafoto pada area yang telah disediakan space instagram. Cekrek. Sekali dua kali. Lalu kami pergi.

Parai Tenggiri
Setelah menikmati private beach yang bersih, dengan laut biru dan pasir putih. Kami bergegas menuju pantai selanjutnya, yaitu Parai Tenggiri. Sepanjang perjalanan kami menikmati sajian lepas Pantai yang bisa disaksikan dari atas kendaraan. Semilir angin cukup menjadi obat bagi panasnya daerah Parai Tenggiri Sungai Liat.

Sayang, di area lepas pantai ini, sulit menemukan kios agar bisa lebih menikmati pantai sambil minum air kelapa. Akhirnya berhenti di satu area yang terdapat reklamasi batu (istilahnya?), beberapa perahu nelayan terparkir di sana. Satu dua cekrek kami ambil. Seorang teman mengabadikan semburan kecil ombak yang menghampirinya. Sesekali menembakkan lensar tele ke kawannya.

Entah karena tidak pas atau memang masyarakat telah bosan bermain di pantai, pantai ini juga kosong melongpong. Hampir sulit menemukan kendaraan berlalu lalang. Hanya satu dua motor yang lewat, sepertinya itu pun warga setempat. Air kebiruan langit muda tersebut tetap membuat kami betah. Hanya berandai, karena berasal dar Jawa Barat, seandainya berada di sana, mungkin Pantai ini akan ramai dengan hiruk pikuk.

Tapi ya sudahlah, kami nikmati dan syukuri. Kami pun kembali ke Hotel sebelum matahari tenggelam. Berburu makan yang katanya paling populer di Bangka. Sayang sudah tutup, karena buka hanya sampai ashar saja. Akhirnya cari alternatif, pempek Palembang yang bikin kenyang.

Read More

22.10.19

Menikmati Senja di Karang Papak

Foto: dokumentasi pribadi (@abahraka)
Pernah punya mimpi, suatu saat ingin sekali melakukan ekspedisi Pantai Selatan Garut, dari mulai Pantai Cicalobak, Cijeruk hingga menyusuri Sayang Heulang, Santolo dan berakhir di Rancabuaya. Adalah tahun 2008 atau 11 tahun yang lalu, pernah ngetrip ke Rancabuaya melalui jalur konvensional; Cikajang, Pakenjeng, Bungbulang dan sampailah Rancabuaya. Sedangkan kepulangan menggunakan jalur selatan yang waktu itu relatif masih baru. Jalannya pun masih aspal biasa dan kecil layaknya jalan kecamatan di sebuah kabupaten.

Lebaran tahun 2018 merupakan kunjungan keempat kali ke daerah Pantai Selatan. Niat menyusuri pantai selatan dari Cicalobak hingga Rancabuaya tidak pernah tertunaikan dengan berbagai macam alasan. Maka, cukup diniatkan, trip kali ini harus menambah referensi tentang pantai baru yang relatif anti mainstream atau yang jarang disebut oleh para pelancong; bukan Sayang Heulang atau Santolo, bukan Rancabuaya atau Cijeruk, bukan pula Cicalobak atau Karang Paranje. Ia adalah Karang Papak.

Berangkat dari Garut Kota jam 11.00. Pukul 14.00 telah sampai di Kota Kecamatan Pameungpeuk. Namun tidak seperti hari biasa, pada libur lebaran, Jalan Kota Kecamatan Pameungpeuk tidak berbeda dengan Kota Bandung atau Jakarta. Kemacetan jalan Pameungpeuk terjadi hampir sepanjang hari  hingga menuju bibir Pantai Santolo dan Sayang Heulang. Padat merayap. Baik menuju pantai atau yang pulang dari pantai. 

Siang hari, panas dan debu menyatu menyergap badan kami yang saat itu berbonceng menggunakan kuda besi. Sebentar-sebentar kendaraan yang kami tunggangi berhenti, jalan lagi. Menyalip ke sisi kiri menggunakan sisa-sisa jalan roda empat yang tak ingin kalah berlari. Seakan tak ingin menyisakan peluang untuk kendaraan lain. 

Selama dua jam, baik roda dua ataupun empat saling bersaing mendapatkan peluang agar bisa melaju sedikit-demi sedikit. Pukul empat sore, kami baru sampai pada pertigaan menuju Pantai Sayang Heulang. Waktu tempuh normal 15 menit dari kota kecamatan Pameungpeuk, musim libur lebaran ditempuh selama dua jam. Pameungpeuk yang menjadi jalur utama menuju pantai selatan Garut menjadi kota yang sibuk. Sanga padat. Laiknya metropolitan yang menjadi Ibu Kota Jawa Barat.

Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB. Kuda besi kami masih terjebak di antara Pantai Sayang Heulang dan Santolo. Saat sampai pada pertigaan Santolo, jalanan tidak kalah padat dengan Pameungpeuk dua jam lalu. Si Kuda Besi akhirnya tidak kami arahkan ke Santolo, tapi kami arahkan menuju jalur Rancabuaya.

Satu kilometer lebih kami lalui sejak pertigaan belokan menuju Santolo. Batas warna biru laut tampak jelas terlihat dari kejauhan, semakin maju bertambah jelas terlihat dari Jalan Raya Cikelet. Kami tidak sadar bahwa gerbang menuju pantai tersebut telah terlewati. Dan sayapun memberikan kode kepada adik yang berbonceng di belakang untuk beristirahat dari perjalanan yang kami tempuh kurang lebih hampir 6 jam, dari Garut Kota sampai Cikelet.

Berhenti sejenak di pinggir jalan. Kami berjalan menggunakan kuda besi dengan pelan. Bertemulah dengan sebuah jalan setapak menuju pantai. Deburan ombak telah samar-samar terdengar. Makin mendekat suara semakin kencang. Kini pantai hanya terhalang oleh sebuah rimbun rerumputan. Motor akhirnya kami parkirkan di sebuah padang rumput kering. Pantai pun menganga di depan mata. Deburan ombak begitu jelas. Kami berada di Karang Papak. Sebuah pantai perawan yang masih dikelola warga.  

Pantai Karang Papak
Nama Karang Papak masih terdengar asing. Nama pantai yang sudah populer di Garut selain Santolo, Sayang Heulang, dan Rancabuaya; ada Cicalobak, Cijeruk, Manalusu, Karang Paranje, Gunung Geder, atau Cijayana. Walaupun beberapa pantai yang disebutkan belum saya kunjungi, namun sudah sering dijadikan catatan perjalanan oleh para pelancong baik domestik ataupun regional. Beberapa kanal seperti liputan6.com, kompasiana, atau blog-blog wisata juga sering menyebutkan pantai-pantai tersebut.

Karang Papak masih asing untuk disebutkan oleh kanal-kanal populer tersebut. Saat mencari informasi tentang Karangpapak, hanya ada satu blog yang cukup memadai memberikan informasi, jelajahgarut.com. Sebuah situs lokal yang menyajikan informasi wisata Garut beserta fasilitas guiding yang ditawarkan serta fasilitas lain yang diperlukan oleh pelancong seperti alat-alat berkemah. Namun, tidak memberikan petunjuk lengkap bagaimana mencapai ke sana atau bagaimana fasilitas penginapannya.

Begitu juga dengan wikipedia, belum ada keterangan tentang Karang Papak. Secuil informasi yang bertautan dengan wikipedia berasal dari googlemaps. Beruntung, terdapat 479 ulasan tentang Karang Papak yang bisa dijadikan pelengkap informasi, walaupun ulasan-ulasannya sangat singkat.

Merujuk pada keterangan googlemaps, pantai ini terletak sekitar 2,4 km dari Pantai Santolo. Namun jika ditempuh dari pertigaan Santolo kurang lebih 1 km. Jika Santolo harus masuk lagi ke dalam untuk menyaksikan pantainya. Karang Papak cukup terlihat jelas dari Jalan Raya Cikelet.

Pantai ini relatif baru, gapura masuknya masih tergolong sederhana, terbuat dari kayu dan bambu. Wajar saat kami melewati jalan ini, plang bertuliskan sambutan selamat datang tidak terlihat. Baru terlihat setelah kami mengitari dan menyusuri jalan di sekitarnya dan bertemulah dengan Gapura Selamat Datang.

Tidak jauh dengan retribusi di daerah Pameungpeuk, masuk Karang Papak cukup dengan Rp.10.000 per kendaran, itu pun jika mengunakan kendaraan roda empat. Sedangkan roda dua cukup Rp.5.000. Harga ini konon naik dua kali lipat karena musim lebaran. Masih relatif murah.

Sebagai pantai baru dan masih perawan, fasilitas di sekitarnya masih minim. Apalagi jika dibandingkan dengan Sayang Heulang dan Santolo. Hampir sepanjang pantai terdapat penginapan dan pemandian. Tidak banyak ditemukan tempat pemandian umum di Karang Papak, namun bukan berarti tidak ada. Saat saya dan adik menyusuri jalan tanah, bertemulah dengan sebuah pemandian umum yang hanya menyediakan dua kamar mandi. Untung suasana di pantai ini sepi, kamar mandi juga relatif tidak mengantri.

Awalnya kami menyangka hanya ada satu atau dua penginapan di area ini. Penginapan ini persis berada beberapa meter dari bibir pantai yang hanya dipisahkan oleh Jalan tanah. Walau demikian, jalan tersebut dapat dilalui kendaraan roda empat. Penginapan pada bibir pantai ini hanya menyisakan penginapan yang hanya memiliki satu kamar dan satu rumah,  juga beberapa bungalow. Harganya pada hari libur lebaran cukup tinggi, satu kamar untuk dua orang dihargai Rp.500.000,- sedangkan bungalow yang dapat menampung 15 s.d. 20 orang dihargai 1,5 juta rupiah.

Kami menyusuri jalan-jalan sekita Karang Papak yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, ternya telah banyak penginapan. Ada yang hanya satu kamar, ada juga yang menawarkan ruang kontrakan yang lengkap antara kamar dan ruang depan. Begitu juga banyak pilihan kamar dan harga serta pilihan jenis kamar antara yang ber-AC atau tidak.

Artinya bahwa di Karang Papak sudah banyak fasilitas penginapan, walaupun tidak bisa dilalui semua dengan kendaraan roda empat dan tidak selalu berada di tepi pantai. Begitu juga dengan warung-warung yang menyediakan panganan dengan ikan dan seafod lainnya mudah ditemukan di warung-warung sekitar penginapan.

Hanya saja, jangkauannya tidak semudah di area Santolo ataupun Sayang Heulang. Saat libur lebaran 2018, saat kami mengunjungi Karang Papak, hampir semua penginapan terisi penuh. Jikapun masih kosong tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan, yang untuk 3 keluarga kecil. Jika pun ada kamar kosong ber-AC, harganya tidak normal alias mahal jika dibandingkan dengan kamar-kamar yang ditawarkan di daerah Santolo atau Sayang Heulang.

Menikmati Senja
Dokumentasi Pribadi (@abahraka)
Pantai Karang Papak masih belum banyak terjamah oleh para traveler. Oleh karena itu, saat kami sampai di area ini, pantainya masih kosong melongpong. Beberapa orang tampak terlihat menikmati suasana pantai yang sepi, tidak seramai Santolo dan Sayang Heulang. Sehingga kami bisa menikmati suguhan senja sore hari hingga terbenamnya matahari.

Hal ini sesuai dengan ekpektasi kami, jika tiba sore hari maka harus bisa menikmati sunrise pantai selatan Garut. Karena beberapa kali ke Pantai Selatan Garut, tidak kebetulan dengan kehadiran sunrise yang memesonakan mata.

Beberapa gambar saya ambil sebagai kenang-kenangan di Pantai tersebut. Anak-anak kami juga menikmati senja yang menghujani pasir pantai. Sebelum akhirnya mentari menghilang, anak-anak menyempatkan bermain pasir yang relatif berwarna abu cenderung putih.

Melalui senja, saya bisa mendapatkan kepolosan anak-anak yang masih usia taman kanak-kanak. Mereka begitu lepas bermain pasir dan menikmati semburan semburat senja yang sudah mulai tajam memerah. Di bawah hujan senja, anak-anak terlihat begitu mendamaikan.  Membuat hati para orang tua begitu teduh. Menambah rasa syukur akan kehadirannya dan kehadiran-Nya.

Begitu juga dengan senja sendiri. Ia adalah anugerah tak terhingga dari Tuhan, yang menciptakan keindahan begitu rupa. Keindahan warna senja adalah keindahan hidup itu sendiri, keindahan matahari berbalut dan bersembunyi di balik awan. Senja adalah cara kita bersyukur, cara kita mengetahui begitu agungnya keindahan yang diciptakan, pencipta yang maha Indah.

Walaupun tidak lama menikmati keindahan senja Karang Papak. Kami menjadi tahu bahwa menyaksikan semburat senja di Selatan Garut begitu memesona. Ia menjadi kesenangan tersendiri yang tidak bisa digantikan dengan barang berharga. Inilah jalan spiritualitas yang disuguhkan Tuhan kepada kita, makhluknya.

Senjapun beringsut berganti warga, dari kuning menyala, menjadi kuning kehitam-hitaman dan hilang di balik batas laut. Bersembunyi ke dasar laut sejauh pandangan mata. Sore berganti malam. Kesenangan pun berganti dengan hiruk pikuk persiapan menuju peraduan. Kami harus segera bersiap mengadu kepada Pencipta dan menuju ruang upacara senja. Menepikan badan-badan kami yang kelelahan sekaligus kenikmatan senja. Kami pun bergegas menuju penginapan.

Karena penginapan sekitar Karang Papak penuh, kami bergegas menuju Sayang Heulang.  Kami mengistirahatkan raga yang sejak pukul 11.00 menapaki jalan berkelok sejauh 100-an km yang ditempuh selama hampir 6 jam. Bersyukur kelelahan raga telah terbayar dengan ekspresi senja Pantai Karang Papak yang eksotis dan memesona. Sehingga kami masih bisa bercengkrama dengan keluarga kecil masing-masing di tempat istirahat depan Pantai Sayang Heulang.

Menuju Karang Papak
Pantai Karang Papak tidak jauh dari Pantai Santolo. Jika dari bibir pantai berjarak sekitar 2,4 km, lain halnya dari pertigaan menuju Santolo hanya sekitar 1 km. Sehingga sangat mudah dijangkau oleh kendaraan roda empat atau roda dua sekalipun. Mencarinya pun sangat mudah karena sudah memampang gapura bertuliskan ‘Selamat Datang Di Pantai Karang Papak”.

Jika dari kota Garut membawa kendaraan sendiri, langsung diarahkan menuju arah Bayongbong, Cikajang, dan menuju arah Pameungpeuk. Perjalanan normal dapat ditempuh 3 jam perjalanan dengan jarak 95 s.d. 100 km tergantung meltpointnya. Namun jika ditempuh dari Bandung jaraknya sekitar 160 km. Namun ada juga jalur lain melalui Ciwidey-Cisewu-Bungbulang dengan jarak tempuh sekitar 200an km, tentunya dengan menggunakan kendaraan pribadi.

Namun jika menggunakan kendaraan umum dapat menggunakan kendaraan elf atau bis ¾ yang menuju Ibu Kota Kecamatan Pameungpeuk. Dari Pameungpeuk terdapat angkutan umum—lebih bersifat omprengan menuju pantai sayang heulang atau Santolo. Untuk menuju karang tinggal melakukan negosiasi dengan sopirnya. Ongkos Elf dari Bandung sekitar 100.000, sedangkan dari Garut sekitar 65.000. (harga versi tetangga yang berasal dari pameungpeuk).***[]

 Referensi:
-          Pengalaman Pribadi
-          Liputan6.com
-          Googlemaps
-          Wikipedia.com
       Jelajahgarut.com

j






Read More

11.11.18

Memacu Andrenalin di Jalur Sukawana

Leuweung Kunti di Jalur Sukawana photo by @abahraka
Bandung Barat, bukan hanya memiliki banyak destinasi wisata alam yang eksotis dan menjadi tujuan wisata Dunia, sebut saja Gunung Tangkuban Parahu. Juga memiliki sejumlah destinasi wisata yang tersebar di sekitarnya, sebut saja seperti Curug Maribaya, Curug Pelangi, Curug Leuwi Tilu Opat, Cikole Camping Park sampai Stone Garden, Gua Pawon, Gunung Hawu, dan lainnya. Banyak juga Destinasi buatan seperti Floating Market, Kebun Begonia, Dusun Bambu, The Lodge Maribaya, Farm House Lembang, atau yang sedang hits, beberapa pekan lalu dikunjungi oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya, Orchid Forest.

Bandung Barat menyimpan sejumlah potensi wisata berbasis ecotourism yang masih bisa dieksplorasi. Wisata berbasis alam tanpa harus mengganggu atau merusak keindahan alam, justeru mendukung ekosistem berkembang sesuai dengan fitrahnya.

Bandung Barat juga memiliki hamparan kebun teh yang Indah, walaupun tidak seluas Malabar, Rancabali, Gambung, atau Patuha. Namun Kebun Teh Sukawana menjadi salah satu area favorit untuk beberapa kegaitan wisata di Bandung Barat seperti teawalk, gowes, trail atau offroad. Melalui wisata offroad, Kebun teh Sukawana menjadi salah satu destinasi wisata yang dapat memacu andrenalin para penikmatnya.

Perkebunan Teh Sukawana
Jalur masuk Perkebunan Sukawana
Adalah penghujung 2017, tepatnya bulan Agustus, saya bersama komunitas Generasi Pesona Indonesia Jawa Barat (Genpi Jabar) beramai-ramai merasakan sensasi wisata jalur Sukawana. Hal ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan kopdar relawan pariwisata Indonesia.

Tepat pukul 6.00 pagi, kabut tampak menyelimuti Gunung Burangrang, dingin sudah mulai terusir fajar. Jaket tebal yang semalam menjadi teman kencan tidak lagi diperlukan. Tinggallah t-shirt putih Pesona Indonesia, lengkap dengan berbagai aksesorisnya. Kami bersiap dengan segala bekal dan peralatan untuk mengarungi jalur Sukawana yang diperkirakan memakan waktu 3-4 jam perjalanan. DSLR, Drone, ataupun action cam telah dibawa para relawan.

Lima Land Rover  menjadi kendaraan utama kami. Memasuki gerbang Perkebunan Teh Sukawana, atmosfer eksotisme alam sudah mulai terasa. Kabut tipis mulai terusir oleh sinar matahari. Pantulan sinar mentari di ujung daun teh sudah mulai tampak. Perkebunan teh terhampar alami dan segar. Sesekali saat memasuki rimbunnya pohon yang menjulang, udara dingin lagi dirasakan. Di Balik pepohonan menjulang, tampak kota Bandung dengan beberapa gedung tinggi terhampar.

Sukawana, adalah satu-satunya kebun teh yang berada di Bandung Barat, selebihnya berada di kawasan Kabupaten Bandung. Walaupun tidak seluas Patuha, Malabar, Rancabali, atau Gambung, kebun teh Sukawana cukup produktif, bahkan menurut catatan, ada satu pabrik teh yang siap mengekspor hasil teh Sukawana yang dikelola PTPN VII tersebut.

Jalur ini menjadi jalur favorit bagi para pesepeda gunung. Begitu juga para crosser bebas. Bahkan teman saya yang bergadung dalam komunitas Trabas sering bercerita jika Sukawana menjadi jalur favorit untuk mereka. Sesekali kami melihat para crosser lewat dan sesekali para pesepeda berhenti untuk memberi jalan pada kami.

Sukawana sendiri awalnya terkenal dengan nama Pangheotan, konon berasal dari nama salah satu pemilik kebun teh jaman Belanda, Van Houten. Lidah orang sunda menyesuaikan menjadi Pangheotan. Namun warga sekitar lebih senang menyebutnya dengan wilayah yang mereka diami, Sukawana.  Jadilah wilayah ini menjadi jalur Sukawana. Tempat favorit para penikmat wisata esktrem.


Wisata Adrenalin
Awalnya tidak tahu jika yang saya lewati adalah jalur wisata ekstrem. Bahkan saat memasuki gerbang perkebunan, saya mengira jika perjalanan ini hanya untuk menikmati eksotisme hamparan kebun teh Sukawana saja. Setelah kebun teh terlewati dan mulai tampak pohon pinus yang besar dan tinggi-tinggi. Area pohon pinus yang saya lalui terkenal dengan Leuweung Kunti, baru ngeuh jika pada akhirnya kami sedang dibawa untuk berwisata adrenalin.

Jalanan sudah mulai menunjukan atmosfer offroad. Tidak ada lagi jalan tanah berpasir atau berbatu. Semua jalan hanya tanah belaka yang menanjak, bergelombang kasar, berbelok, berair, bahkan menyempit, dengan dinding tanah melebihi tinggi kendaraan. Hal ini mungkin karena sering tergerus air dan ban-ban berkembang kasar hingga jalan tanah semakin legok hingga akhirnya membentuk jalan sempit.

Pada kondisi jalan-jalan tersebutlah adrenalin kami terpacu, tak sedikit dari kami berteriak-teriak sebagai ungkapan rasa senang karena shok dan kaget dengan terjalnya jalanan. Sambil berteriak kami juga berdecak karena baru kali ini merasakan  dapat memacu adrenalin tanpa harus takut bahaya.

Salah satu yang menaikan desir darah kami adalah ketika kendaraan hampir selalu bergesekan dengan tanah karena jalanan menyempit. Begitu juga saat Land Rover memasuk jalan bergelombang, terjal, sekaligus licin berlumpur. Jika supir tidak mahir, mobil bisa tergelincir.

Saat memasuki kembali jalan menyempit, tiba-tiba ban selip. Tiba-tiba saja mesin mati. Teringat dengan salah satu cerita, jangan-jangan daerah ini yang masuk kawasan Leuweung Kunti. Saya berperasangka jika kendaraan dengan penggerak empat roda ini akan terjebak.  Kawasan yang masih memiliki aura mistis karena seringkali makhluk halus mengganggu. Lumayan bergidik. Kemudian datang rombongan lain membantu dan akhirnya mesin dapat kembali hidup. Kami pun melanjutkan perjalanan yang sepertinya masih belum mau berakhir sebelum akhirnya kami menemukan satu kawasan istirahat untuk sholat dan makan siang.

Menuju Sukawana
Bagaimana agar penikmat wisata ekstrem offroad bisa juga menikmati jalur Sukawana?

Populernya jalur Sukawana, menjadikan pencarian tempat penyewaan Land Rover di SekitarLembang cukup mudah. Tempat penyewaan juga memasang petunjuk menyediakan jasa sewa Land Rover. Tinggal kemauan dari pengguna jasa untuk bertanya. Jika pun masih segan bertanya, bisa searching melalui internet.

Namun, untuk menikmati jalur sukawana tidak bisa sendirian, asyiknya beramai-ramai secara kelompok. Untuk pemula baiknya menggunakan jasa pemandu karena tidak ada papan-papan petunjuk untuk memasuki area ini. Hal ini juga untuk menghindari salah jalan atau jalur.

Satu kendaraan Land Rover dihargai 1.500.000 untuk 6-8 orang, harga ini sudah termasuk tiket masuk jalur Sukawana dan Tangkuban Parahu. Untuk paket tour per orang biasanya dibandrol dari mulai 250 hingga 450 belum termasuk tiket Jalur Sukawana dan atau Tangkuban Parahu.

Agar lebih praktis, saya lebih menyarankan untuk menyewa jasa travel agent atau pemandu saja agar kita bisa lebih maksimal menikmati perjalanan dan memacu adrenalin. ***[Abah Raka]
Read More

19.8.18

Atraksi Wisata Jalur Kamojang

Menikmati Hutan Kamojang Ecopark/ dok. Abah Raka
Lebaran tahun ini, saya memilih jalur alternatif Kamojang untuk mudik dan balik. Jalur ini tidak sepopuler jalur alternatif Cijapati karena jalan curamnya cukup panjang mencapai sekitar 7 km sejak keluar pasar Ibun hingga hutan Mandalawangi Kamojang. Jika dicermati sebetulnya infrastrukturnya cukup memadai, bahkan pemerintah Kabupaten Bandung membuat jalan baru agar para pelintas jalur ini bisa lebih nyaman berkendara. Begitupun saat memasuki Garut, infrastrukturnya sudah cukup baik, bahkan sudah dilengkapi dengan PJU, walaupun di beberapa tempat seperti Randu Kurung jalannya berlubang cukup parah.

Sebagai jalur alternatif, tidak semua kendaraan dapat melewati jalur Kamojang. Beberapa kendaraan, khususnya roda dua dengan kapasisitas 110-125 cc yang saya saksikan harus menurunkan penumpangnya terlebih dahulu agar kuda besinya bisa menaiki tanjakan. Jalur ini jauh lebih curam dibandingkan Cijapati. Oleh karena itu saya tidak menyarankan untuk mudik atau balik melalui jalur ini, kecuali dengan kendaraan prima dengan kapasitas mesin yang memadai serta penumpang normal. Jikapun kendaraan prima disarankan waktunya siang hari karena penerangan belum maksimal.

Kamojang Hill Bridge dan Cukang Monteng
Kamojang Hill Bridge, pintu masuk Cukang Monteng/ Abah Raka
Kamojang merupakan suatu kawasan pengeboran gas alam yang menjadi sumber pembangkit listrik di kawasan Kabupaten Bandung. Berada sekitar 45 km dari arah Bandung dan 25 km dari arah Garut. Kamojang terkenal dengan tempat wisata kawahnya sejak puluhan tahun yang lalu.

Sebagai Gunung Api yang masih termasuk kawasan Gunung Guntur, sama seperti halnya gunung Api lain, gas alamnya menjadi sumber pembangkit listerik. Terdapat dua perusahaan yang menjadi penyokong listerik Negara yaitu Pertamina Geothermal Energy dan Indonesia Power (dulu PLN Kamojang). Kamojang berada di Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung berbatasan dengan Kecamatan Samarang - Garut.

Sebagai perbatasan, jalur ini tidak sepopuler Nagreg dengan jalan cagaknya yang menjadi jalur lintas antarkabupaten bahkan menjadi jalan nasional karena menjadi jalur lintas antar provinsi. Karena kecuramannya, pekerja kedua perusahaan BUMN yang menjadi pengelola area ini lebih memilih lebih memilih membangun komplek perumahan untuk para pekerjanya di kawasan kota Garut dibandingkan kabupaten Bandung. Jalur curam tersebut berada di daerah Cukang Monteng. Maka wajar jika jalur ini tidak populer sebagai jalur alternatif. Kecuraman jalur ini seringkali memakan korban.

Sejak pemerintah Kabupaten Bandung membuka jalur baru yang memotong jalan tanjakan monteng pada tahun 2016, jalur ini menjadi popular bagi para pelintasnya. Apalagi bagi tour rider atau boseher, jalur ini cukup memanjakan mata para pelintas. Setelah menyelesaikan tanjakan sepanjang 7 km-an dari Pasar Ibun, sejak ratusan meter menuju Kamojang Hill Bridge, pengendara akan menyaksikan jembatan berwarna kuning yang gagah dan megah dengan latar pegunungan Kamojang dan Hutan Mandalawangi. Kkawasan Kamojang Hill Bridge jalannya sangat lebar untuk ukuran jalur alternatif, 3 kali lipat lebih lebar dibandingkan jalan Ibun-Kamojang. Sehingga para pengendara bisa dengan leluasa memarkirkan kendaraannya pada tempat yang cukup aman yang menjorok di pinggir jalan sebelum jembatan. Para pedagang di sekitarnya juga menyediakan tempat parkir. Dengan cat warna kuning, jembatan ini menjadi ikon baru kabupaten bandung yang megah sekaligus instagramable. Banyak para pelintas yang dengan sengaja berswafoto di jembatan ini. Kamojang Hill Bridge menjadi penghubung antara Ibun dan Cukang Monteng menuju Kamojang sebagai kawasan wisata kawah

Jalur Kamojang; dari Ikon Baru, Kawah, Eco Park hingga Resort
Jalan Kamojang, jalur asri nan eksotis/ Abah Raka
Jalur mudik atau balik alternatif Kamojang menyimpan banyak destinasi yang dapat dijadikan tujuan wisata. Mudik melalui jalur ini adalah sama dengan menikmati surga wisata Alam di wilayah perbatasan Bandung dan Garut. Sejak memasuki Kamojang Hill Bridge, pemudik bisa menikmati megahnya jembatan sambil berswafoto. Tentu saja foto-fotonya bisa diandalkan untuk diposting di media sosial apalagi bagi penganut narsisme atau sekedar latar smartphone pemudik.

Melewati jembatan, pemudik akan bersua dengan satu kawasan sejuk, Hutan Mandalawangi yang bisa dijadikan sebagai alternatif untuk beristirahat sejenak. Jika Jembatan memiliki latar gunung Kamojang yang cukup eksotis. Hutang Mandalawangi punya latar pohon pinus yang seksi. Sejak memasuki kawasan hutang lindung ini, walaupun matahari berada di atas kepala, udaranya akan tetap sejuk.

Melewati Hutan Lindung pemudik akan menemukan pipa-pipa besar sepanjang jalan menuju satu kawasan Pembangkit Listerik Tenaga Panas Bumi PT Indonesia Power Distrik Kamojang yang menjadi penyalur listrik untuk kawasan Jawa-Bali. Kawasan ini juga seringkali menjadi tempat peristirahatan sementara para pelintas. Bangunan Pembangkit Listerik juga cukup ikonik dijadikan sebagai latar foto. Pipa-pipa besar memberikan kesan tertentu, pelintas seakan berada di satu kawasan wisata yang cukup eksotis.

Di antara jalan Kamojang ini selain terdapat kawasan wisata kawah juga terdapat destinasi buatan, Desa wisata laksana. Desa Laksana sendiri merupakan wilayah terintegrasi sebagai kawasan wisata di bawah pembinaan PGE. Ada beberapa kawasan wisata yang dikembangkan dan di bawah binaan PGE, seperti tercantum pada situs ibunkamojang.com, yaitu Kawah Kamojang (Natural Tourism), Pusat Edukasi Geothermal (Geothermal Information Centre/ GIC),  Wisata Agro (Agro Tourism), Wisata Budaya, Wisata Air, dan terakhir masuk kawasan Legok Pulus Kabupaten Garut, Wisata Edukasi Penangkaran Elang.

Berseberangan dengan area kawah adalah destinasi baru yang masih sedang dikembangkan. Berada di area Danau Pangkalan. Menurut pengelola, Danau Pangkalan yang sudah mengering dan berubah fungsi menjadi kebun tersebut akan dinormalisasi oleh pemerintah. Saya masih ingat, waktu kecil jika ada tetangga yang mengajak ke Kamojang sering menyebutnya Pangkalan, mungkin danau ini yang dimaksud. Setiap kali menyebut Kamojang yang disebut adalah Pangkalan.

Sejak memasuki kawasan pembangkit listerik selain cuacanya sejuk, lingkungannya pun cukup asri. Pengunjung bisa menikmati cuaca sejuk sepanjang hari walaupun matahari sedang tepat berada di atas kepala. Jalan berhotmix tanpa lubang, rumput-rumput liar terpotong rapi. Di komplek ini juga menjadi pusat wisata berbasis pembibitan atau agrowisata dan ramah lingkungan. Terdapat rumah makan yang khusus menyediakan berbagai masakan dari jamur. Jika pengunjung lelah bisa beristirahat di Mesjid komplek yang menyediakan tempat parkir cukup luas. Di ujung komplek, pohon pinus mengantarkan pengendara meninggalkan kawasan Kabupaten Bandung menuju Garut diiringan semerbak wangi getah pinus. Suasananya persis seperti puncak. Menjelang sore, kawasan ini berkabut, menjelang pagi dinginnya tidak ketulungan.

Negeri di Atas awan, latar gunung Papandayan saat memasuki wil. Garut/ Abah Raka
Memasuki wilayah Garut, wisatawan akan bertemu dengan kawasan Kamojang Eco Park, sebuah tempat wisata yang berada di pegunungan. Sama halnya dengan puncak bintang di kawasan Cimenyan Bandung, kawasan wisata yang baru dibuka sekitar 4 bulan lalu tersebut mengandalkan hutan pinus sebagai destinasi utama. Dengan kontur pegunungan, salah satu spot yang menjadi andalah adalah coloseum di tengah pohon pinus. Spot foto dengan pemandangan bukit dan lembah menambah pesona Ecopark Kamojang layaknya berada di Tebing Keraton.

Pemudik juga akan menemukan satu kawasan penangkaran Elang di daerah Legok Pulus. Menurut pengelolanya, penangkaran tersebut merupakan satu-satunya pusat penangkaran Elang di Indonesia. Dari 75 jenis Elang yang ada di Dunia 70 persennya ada di Indonesia. Di pusat penangkaran Elang ini pengunjung bisa menikmati gagahnya Elang Jawa yang menjadi inspirasi symbol Negara Indonesia, Garuda. Selain penangkaran Elang yang akan dilepasbiakkan ke alam liar di Hutan Lindung Kamojang. Wisata edukasi ini juga menjadi penampungan dan penyembuhan Elang yang awalnya dimiliki oleh warga untuk kemudian dilepaskan kembali. Area ini tepat berada di sebuah lembah yang dikeliling oleh bukit-bukit hutan konservasi dan arboretum.

Memasuki area Legok Pulus, pemudik akan menyaksikan padang rumput yang cukup luas. Ini merupakan akar wangi yang menjadi produk andalan masyarakat sekitar yang hasilnya di ekspor ke luar negeri. Di wilayah ini terdapat juga Arboretum, sebuah kawasan yang menjadi tempat vegetasi sungai Cimanuk. Area ini memiliki koleksi 200 jenis pohon dengan jumlah 8000-an pohon. Di Kebun akar wangi, pemudik bisa menikmati hamparan rumput yang sudah mulai menguning. Kawasan sejuk ini bisa memberikan therapy alami bagi pemudik yang kelelahan. Latar rumput yang tinggi bahkan menjadi sasaran beberapa pengendara yang hendak mengabadikan gambarnya. Melalui bidikan kamera DSLR rumput-rumput tersebut dapat memberikan efek bokeh yang cantik.

Atraksi alam tidak berhenti sampai Legok Pulus, memasuki kawasan Situ Hapa terdapat sebuah resto yang menawarkan atraksi alam yang tidak kalah cantiknya, yaitu Kebun Mawar. Hamparan bunga mawar menyuguhkan atraksi taman bunga yang asri nan sejuk. Selain bisa berswafoto atau groupy, kebun ini menyuguhkan rupa makanan bagi pemudik yang sudah kelelahan dan butuh asupan gizi. Ya, Kebun Mawar adalah rumah makan berkonsep taman bunga. Di Kebun Mawar, pengunjung bisa berwisata ria sekaligus mengisi perut yang sudah keroncongan.

Memasuki kawasan Samarang, selain atraksi Gunung Papandayan dan Cikurai, kawasan ini menawarkan suguhan Danau yang dapat dijadikan sebagai tempat peristirahatan. Dua kawasan yang tidak kalah sejuknya tersebut bisa dinikmati pengunjung sambil naik perahu kala menikmati alam sekitar, dua tempat tersebut adalah Resort Sampireun yang sudah sering menjadi langganan untuk shooting sinetron, ceramah TV, atau pembuatan video klip, ada juga Green & Resort Kamojang. Keduanya merupakan resort berbasis danau sebagai atraksi utama alamnya.

Pada kawasan ini juga ada satu rumah makan Sunda berkonsep saung di tengah sawah, Rumah Makan Sunda Mulih Ka Desa. Makan di Resto ini pengunjung akan benar-benar makan di area persawahan, jika kebetulan di sawah juga terdapat kerbau yang sedang membajak. Resto ini juga menawarkan penginapan. Bagi warga kota, sensasi menginap di area persawahan ataupun danau akan memberikan sensasi alami yang akan membersihkan toksit-toksit rutinitas kegiatan di kota.

Tentu saja semua atraksi alam dan juga destinasi buatan tersebut tidak bisa dinikmati sekali jalan. Namun setidaknya dapat dinikmati sambil lalu dan jika betul-betul ingin menikmati bisa mengunjungi salah satunya. Mudik melalui jalur ini para pemudik benar-benar dimanjakan oleh atraksi alam yang cantik sekaligus seksi. Cuaca sejuknya akan terasa hingga sanubari. 

Menikmati Atraksi Kawah Kamojang
Area Kawah Kareta Api, bersih dan asri/ Abah Raka
Destinasi utama wisata Kamojang adalah Kawah yang sudah sejak lama menjadi kawasan favorit masyarakat Bandung-Garut dan sekitarnya. Wisatawan akan disuguhi oleh atraksi berbagai jenis nama kawah. Saat memasuki area, pengunjung akan disambut oleh kawah yang lebih menyerupai Kolam. Memiliki nama Manuk, konon kolam kawah ini sering mengeluarkan suara seperti burung. Sayang saat berkunjung suara tersebut tidak saya dengar. Kawah ini tepat berada di area sebelum masuk gapura Kawah Kamojang.

Dengan Retribusi Rp5.000,00 pada hari biasa dan Rp7.500,00 per orangnya pada hari libur, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan alami, asri, sekaligus bersih. Area ini rupanya telah berbenah dari wajah lama yang apa adanya. Jalan setapak kini sudah dipasangi paving block. Sepanjang jalan kiri dan kanan pohon-pohon hijau rindang mengiringi pengunjung. Area Parkir cukup luas dan nyaman dikelilingi dengan warung-warung yang menyediakan berbagai cemilan khas tempat wisata.

Memasuki jalan setapak yang sudah di-floor dengan rumput-rumput rapih bersih di sekitarnya, dari jauh terdengar suara uap kereta api. Suara tersebut berasal dari sebuah kawah yang menyemburkan gas alam, dengan suaranya tersebut maka kawahnya diberi nama Kawah Kereta Api. Suara dihasilkan dari semburan gas yang cukup kencang yang dipasangi pipa. Area kawah ini menjadi salah satu kawah favorit karena paling atraktif di samping ada penduduk setempat yang sering mengatraksikan dengan melemparkan gulungan kertas atau plastik ke tengah-tengah semburan. Kawah ini sering menjadi objek foto para pengunjung.

Berbeda dengan 10-20 tahun yang lalu, selain bersih, area sekitar juga ditanami dengan tanaman rumput yang nyaman untuk sekedar duduk dan bercengkerama. Seberang rumput yang bersih dan rapi tampak berjejer beberapa gazebo sebagai tempat beristirahat sejenak.

Saat pertama kali berkunjung belasan tahun lalu, di area ini terdapat kawah kendang, karena kawah tersebut mengeluarkan suara seperti kendang. Suara tersebut berasal dari gelembung-gelembung lumpur yang pecah tertiup oleh gas alam dari dalam perut bumi.  Dulu juga terdapat pemandian umum untuk pengunjung, karena airnya yang mengandung blerang diyakini dapat menyembuhkan penyakit korengan. Sayang sekali saat berkunjung lebaran tahun ini, kawah tersebut tidak saya temukan.

Kawah lain yang cukup atraktif adalah kawah hujan. Area kawah ini lebih menyerupai area air terjun. Batu-batu dan aliran alirnya persis seperti di sungai yang yang airnya telah menyusut. Kawah ini menyemburkan air dalam bentuk persis seperti air hujan dari dalam kawah yang hampir dipenuhi oleh batu. Wajar disebut dengan kawah hujan. Selain hujan, berada di area ini, pengunjung sekaligus mandi uap kawah yang diyakini dapat menyembuhkan korengan. Dengan mandi uap atau terlibat dalam atraksi kawah kereta, menjadi bagian agar wisata kawah dapat dinikmati.***[Abah Raka]
Read More