Rindu Kedalaman; Membaca, Berpikir, dan Menulis untuk Memaknai Diri


 Menulis bukan sekadar teknis, ia adalah pemberdaya diri yang mampu membangkitkan makna hidup - abahraka

Kenikmatan Membaca

[https://www.abahraka.com] Tenggelam dalam buku-buku adalah kenikmatan. Salah satu metime yang tidak kalah berharganya dengan famtime saat bercengkerama dengan anak kesayangan. Momennya sudah beda memang. Keluarga menjadi utama, tidak boleh tergantikan oleh apapun. Karena harta telah berubah, dari buku ke anak. Anak-anak adalah masa depan dunia dan akhirat. Namun demikian, bercinta dengan bukulah yang mengantarkanku bertemu dengan anak-anak. Karena dari buku aku mengetahui bagaimana aku harus memperlakukannya.

Tulisan ini, sebagai bentuk refleksi dari rutinitas yang secara sarkas, membuang saya jauh-jauh dari ruang renda sebuah buku. Kadang buku hanya jadi pajangan semata, seringkali saya membeli buku yang sama. Saya lupa jika sebelumnya pernah membeli buku tersebut. Sampai akhirnya ada beberapa buku yang sama dalam rak. Gak merasa sia-sia, mungkin kelak akan menghuni perpustakaan pribadi atau menghuni perputakaan taman bacaan.

Saya sadar, bahwa untuk membaca buku butuh waktu khusus, walaupun bisa menggunakan waktu selingan. Saat menunggu sesuatu misalnya. Tapi tidak bagus jika sedang bersama keluarga. Karena famtime-nya tergantikan dengan metime. Keluarga juga butuh kehadiran kita kan? 

Namun, tentu saja untuk membaca buku secara mendalam butuh waktu khusus, karena dari buku bisa lahir sebuah perenungan, refleksi, atau tafakur. Untuk menghasilkan itu butuh kedalaman. Tidak hanya melakukan scanning semata, namun juga butuh bagaimana setiap kata, frasa, kalimat, dan paragraf bahkan wacana memberikan makna lebih bukan sekadar kata-kata saja. Karena pada dasarnya, sebagaimana yang saya alami. Kata-kata itu hidup, menggerakan, bahkan bisa membuat saya lari. Jantung saya terpompa dengan sangat kencang sehingga hidup saya yang sekarang menjadi lebih bermakna akan kehadiran diri ini.

Pasca terbitnya buku Digital Public Relations, yang cukup melelahkan, dan kembali pada rutinitas pekerjaan, di kampus tempat bekerja, menugaskan saya untuk mengembangkan rencana pembelajaran semester mata kuliah penulisan kreatif. Mata kuliah ini merupakan pengembangan dari mata kuliah jurnalistik yang hanya satu-satu mata kuliah yang seolah berdiri sendiri. Sehingga output dari mata kuliah ini tidak benar-benar terasa secara signifikan. Untuk lebih memberikan ‘rasa’ dan output yang signifikan, maka mata kuliah jurnalistik-pun bermetamorfosa menjadi mata kuliah penulisan kreatif dan jurnalistik.

Apakah Saya Termasuk Orang Kreatif?

Terus terang, saya tidak mendeklarasikan diri ini sebagai orang yang kreatif, bahkan cenderung kaku. Namun, pengalaman-pengalaman menulis pada beberapa media, baik konvensional atau daring, mungkin yang menjadi pertimbangan tim menunjuk saya untuk mengembangkan mata kuliah ini.

Walaupun tidak mendeklarasikan sebagai orang kreatif, tentu saja kita kreator pada bidangnya masing-masing. Hingga akhirnya saya harus mengingat-ingat kembali momentum kreatif apa yang pernah saya lakukan pada masa lalu. Khususnya dalam bidang tulis menulis.

Akhirnya saya membongkar-bongkar kembali arsip lama dan beberapa referensi yang berkaitan dengan penulisan. Dan ternyata  cukup banyak jejak-jejak, jika saya pernah berusaha untuk berkreativitas dengan beberapa tulisan yang diterbitkan media massa, baik cetak ataupun daring. Misalnya, tulisan tahun 2021 yang berjudul Menjadi Haji Selfie yang diterbitkan oleh Kompasdotcom. Begitu juga tulisan Tenggelamnya Lebaran Kami yang diterbitkan oleh harian umum Pikiran Rakyat.

Tentu saja ini bukan satu dua karya tulis saya yang punya daya kreatif, tulisan lain juga yang dalam bentuk feature seperti Memacu Adrenalin di Sukawana atau Persinggahan Mengesankan di Malaka. Salah satunya yang menurut saya kreatif, karena kolom yang saya tulis pada kompasdotcom tentang Menjadi Hajie Selfie, seakan-akan Selfie itu sebagai bagian dari predikat yang selama ini frasa Haji Mabrur melekat. Ini bentuk sindiran bagi jemaah yang berlebihan untuk berswafoto tanpa mempertimbangkan mudaratnya foto selfie di tanah suci.

Begitu juga dari tulisan Tenggelamnya Lebaran Kami, menggunakan majas hiperbola dengan asosiasi lebaran sebagai ‘benda’ yang tenggelam. Hal ini sebagai bentuk kritik terhadap perilaku era digital yang tidak lagi mempertimbangkan pentingnya nilai tatap muka sebagai bagian dari tujuan mudik lebaran.

Saya melihat ini bagian dari penulisan kreatif, sehingga wajar media menerima dan menerbitkan artikel opini dan feature tersebut. Bukan hanya tulisannya yang up to date dan layak terbit. Namun juga mampu menggabungkan unsur-unsur kreatif dalam penulisan tersebut. hehehe....ini hanya sebagai pengobat diri sendiri. Karena, tetap saya merasa bukan orang yang kreatif. Setidaknya dengan membaca-baca lagi tulisan tersebut saya tergugah lagi untuk menemukan sisi-sisi yang paling beda bagaimana menghasilkan sebuah tulisan.

Melahirkan Karya Butuh Kedalaman

Di Tengah rindunya berkarya kembali melalui tuangan gagasan dan ide menulis, saya pada dasarnya rindu perenungan, rindu kedalaman untuk memikirkan persoalan-persoalan kehidupan sehari-hari yang dalam beberapa tahun terakhir luput saya abadikan dalam sebuah tulisan. Bahkan, ditulis idenya pun relatif terabaikan. Ini seperti bentuk dosa yang saya lakukan berulang-ulang. Membiarkan ide lewat begitu saja, karena seringkali ide dan gagasan tersebut tidak bertemu dengan kedalaman. Sementara kedalaman butuh cukup waktu untuk tetap berada di sana. Istikomah menyelami persoalan tersebut sehingga ide dan gagasan mampu tertuang dalam kata, frasa, kalimat, paragraf, dan wacana yang mampu memberikan trigger untuk saya sendiri atau pembacanya.

Penugasan pengembangan MK penulisan kreatif ini, mengantarkan saya pada perenungan-perenungan yang pernah saya lakukan, hingga lahir beberapa karya tulis yang belakangan saya anggap saja sebagai bagian dari tulisan kreatif yang kadang sulit saya dapatkan lagi. Selain seringkali kreativitas itu muncul secara instan. Menurut Yasraf, kreativitas seringkali muncul dari repetisi. Repetisi ini bisa jadi karena melakukan perenungan-perenungan mendalam terhadap persoalan yang sama.

Nah, yang menjadi keresahan bagi saya hari ini, apakah dengan rutintas fisik dan administratif saya mampu mengampu mata kuliah ini. Sehingga dapat mengantarkan mahasiswa untuk memiliki output yang telah terencana. Apalagi dengan benturan mata kuliah lain yang tugasnya cukup banyak juga. Keresehan inilah yang akhirnya mengantarkan pada satu curhatan ini. Mampukah saya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, akhirnya saya membongkar kembali arsip dan referensi. Termasuk juga mencoba untuk mendalami kembali bahan bacaaan. Semoga dengan penelusuran kembali bahan yang pernah saya baca, pelajari, pahami, praktikkan, saya bisa melahirkan materi-materi yang bisa mendorong mahasiswa untuk ‘mengikat makna’ mereka sendiri. Sebagaimana dikampanyekeun oleh Almarhum Hernowo melalui banyak bukunya termasuk buku “Mengikat Makna”.

Sejatinya, keresahan-keresahan seperti ini harus tertuang dalam arsip tulisan, agar kelak menjadi pengingat yang dapat membuka kembali dan menjadi bahan renungan selanjutnya sehingga lahirlah karya yang lebih segar, mapan, baru, mengguggah, menjadi trigger bagi pembaca, serta bisa menginspirasi. Karena menulis bukan sekadar teknis, ia adalah pemberdaya diri yang mampu membangkitkan makna hidup. Semoga. ***[]

abahraka
abahraka abahraka adalah nama pena (media sosial) dari Dudi Rustandi: penulis kolom opini, essai, perjalanan, dan buku.

23 comments for "Rindu Kedalaman; Membaca, Berpikir, dan Menulis untuk Memaknai Diri"

  1. Dengan merangseknya kegemaran pada informasi berupa audio visual, masih adakah "kedalaman" terutama dalam karya menulis, bah? tapi curhatan ini membuat saya makin terus saja yakin bahwa berkarya dengan cara menulis adalah salah satu cara untuk menjaga agar jiwa karya kita tetap dalam, ya bah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya melihatnya masih ada, apalagi para penulis yang konsen literasi, tulisan mereka dalam-dalam. Saya menulis ini juga karena tertrigger oleh meraka kang Dirman. Sementara selama ini saya menulis seperti tidak punya tujuan dan target apa-apa.

      Delete
  2. Duuh.. membaca artikel ini aku jadi ingat betapa lamanya aku tak lagi baca buku..hiks.. Mungkin itu pula sebabnya kemampuan menulis (terutama fiksi) benar-benar macet bbrp waktu terakhir ini.. Semoga minat bacaku segera pulih kembali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya malah masih jadi cita-cita buat nulis fiksi hehehe, entah akan kesampean atau tidak...., makasih sudah mampir ya....

      Delete
  3. saya salfok sama tulisan abah Raka yang judulnya Haji Selfie sama Tenggelamnya Lebaran Kami, kedua temanya sangat menarik dan memang relate sama kehidupan masyarakat kita. Saya juga setuju kalo untuk menjadi seorang yang kreatif khususnya di bidang tulis menulis kita harus aktif dan rutin membaca buku sebagai sumber asupan dan isnpirasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, iya saya merasakan demikian teh, kalo jarang baca itu, berdampak terhadap daya lecut tulisan kita ya, jadi seolah biasa aja....

      Delete
  4. Kedalaman dalam berpikir mungkin dimiliki mereka yang senang menulis ya Bah. Terutama yang menulis dengan tema khusus, apakah itu dalam bentuk buku atau blog. Bagi yang senang membaca juga pastinya lebih sering komunikasi intrapersonal, jadi makin memaknai hidup dan mengenal diri sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pada akhirnya bergantung pada genre tulisannya, ada yang butuh kedalaman, ada juga yang cukup di permukaan.

      Delete
  5. Kini saya baru merasakannya. Karena baru saja menjadi ibu. Rasanya harus berjuang banget untuk punya waktu baca buku. Jauh berbeda dengan sebelumnya. Tapi tentu tidak boleh mengeluh. Harus terus yakin bahwa nanti akan ada masanya lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perlu menikmati menjadi ibu, karena itu adalah prioritasnya berbagi peran. Mungkin membaca yang relevan dengan pengasuhan lebih pas ya...

      Delete
  6. Saya setuju dalam menulis membutuhkan kedalaman dan hasilnya pasti lebih baik. Selain itu membaca juga menjadi bekal untuk menulis selain kombinasi dengan kreativitas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena pada akhirnya, tulisan kita harus berdampak ya....

      Delete
  7. Sepakat Kak, kealaman membaca termasuk skil yang operlu diasah sehingga bisa menulikan kembali dengan pemahaman yang utuh bukan sekedar menulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. mengolaborasikan tulisan dengan pengalaman orang lain yang ada dalam buku menjadi tulisan kita lebih kaya ya kak...

      Delete
  8. Benar sekali, membaca buku itu sangat penting
    Apalagi bagi seorang penulis ataupun blogger y

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap, membaca jadi salah satu keahlian bagi penulis juga blogger...

      Delete
  9. wah ikut kesindir nih jadinya, ketika menulis menjadi pekerjaan, terkadang kedalaman rasa itu sedikit berkurang, karena ia tidak lahir dari kedalaman berpikir dan rasa yang kuat

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe iya ini juga lagi nyindir diri sendiri kok

      Delete
  10. Kedalaman berpikir umumnya hadir karena banyaknya ilmu dan pengetahuan yang didapat. Nyatanya tingkat kedalaman ini pun perlu terus diasah dengan banyak membaca dan menulis. Saya pun jadi terpacu untuk lebih banyak membaca lagi rasanya. Btw, karya-karya abah ternyata sudah banyak sekali ya. 'Menjadi Haji Selfie' bagus sekali untuk jadi bahan renungan kita semua.

    ReplyDelete
  11. Iya juga kalau ceritanya lagi we time tapi malah baca buku yah nggak mantap suasananya. Sehingga kalo lagi me time dengan buku maka lanjutkanlah hal tersebut, dan ketika we time maka fokuskan untuk berkegiatan bareng keluarga

    ReplyDelete
  12. relate kang, saya juga seringnya membeli buku lantas jadi pajangan dengan alasan kesulitan mencari waktu luang dan tenang untuk membaca buku. sekalinya luang saya malah menulis artikel atau melanjutkan tontonan drakor sambil nyetrika, hehe. lyfe IRT sambil bekerja dirumah begitu memang, looh kok curhat, hahahaha. btw, bicara soal kreatif, meski gak mendeklarasikan sebagai a creative person, sebetulnya semua manusia itu kreatif kok. karena kreatif itu artinya berkembang, bukan soal bikin produk baru. tapi juga mencari solusi dari permasalahan, seperti gimana caranya itu buku yang jadi pajangan bisa dibaca pada akhirnya, hehe

    ReplyDelete
  13. Zaman sekarang, akses membaca secara digital pun semakin meluas. Jadi sebenarnya, ga ada alasan untuk mager membaca yaa.. karena buku apapun yanh dibaca, semoga melahirkan kebijakan dan pendewasaan dalam hidup.

    ReplyDelete
  14. Tulisannya dalam banget pak, jadi tersentil pula nih, hehe.
    Benar sih, untuk membuat tulisan yang kita banget dan dalam, dengan sepenuh hati dan pikiran itu memang butuh perenungan yang mendalam harpannya tentu agar bisa beranfaat bagi pembacanya.

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung, tunggu kunjungan balik saya ya...