Pakem Konten Marketing Era IoT

2
Ojek pangkalan beringas, sopir taksi konvensional teriak. Sebagian perusahaan tempat mereka bekerja melakukan rasionalisasi, sebagian lagi tutup. Beberapa gerai ritel bangkrut. Terlepas karena bisnis modelnya yang tidak punya positioning dan diferensiasi sehingga orang lebih memilih produk sejenis dengan merek yang berbeda atau karena mereka tidak punya inovasi dalam bidang marketing, yang jelas faktanya mereka kini kalah berperang. Kios-kios di pusat grosiran juga pada tumbang tanpa diketahui penyebabnya.

Beberapa ahli berpendapat, karena daya beli yang menurun, hal ini berdasarkan analisis karena akselerasi ekonomi Indonesia cenderung melambat. Saya, tentu saja bukan ahli ekonomi atau pengamat ekonomi, sehingga hanya bisa mengatakan katanya, kata pengamat, kata berita, kata Koran, kata televisi, atau dengar-dengar info tetangga sebelah.

Tapi jika diperhatikan, kalau daya beli masyarakat yang menurun, kenapa setiap pagi, siang, malam atau jam dan hari selalu berseliweran orang bepergian dan melancong atau melakukan vacations ke tempat-tempat keren; entah domestic, regional, atau internasional. Jika pun daya beli masyarakat berkurang kenapa setiap weekend jalan – jalan di Bandung selalu padat, atau setidaknya jalan tol menuju Bandung bahkan padat cenderung macet. Begitu juga kendaraan yang menuju Garut dari arah Bandung atau tol juga sama padatnya. Bahkan saat saya pulang saat weekend, Jalan Cagak dan Lebak Jero seringkali macet.
Dalam catatan Rhenald Kasali, penilaian terhadap menurunnya daya beli masyarakat adalah pengamatan yang kurang tepat. Ada invisible hand. Daya beli beralih ke hal-hal yang tidak terlihat. Misalnya, agar bisa bepergian, maka belanja konsumsi dikurangi dialihkan untuk liburan setiap minggu atau bulannya. Agar tetap bisa tetap terhubung, orang menahan untuk membeli cemilan demi pulsa data. Begitupun yang tadinya belanja ke mall beralih belanja online baik melalui online mall atau online shop ke produsen secara langsung sehingga harga barang lebih murah.

Berbeda lagi pendapat dari Iwan Setiawan dan Yosanova Savitri dalam  Buku New Content Marketing, Gaya Baru Pemasaran Era Digital, menurutnya ara pergerakan marketing sekarang berubah, bukan lagi B2B tapi H2H. Conten harus diarahkan langsung untuk mengelus-elus konsumen. Conten marketing harus mampu menyentuh sisi terdalam dari manusianya. Persis seperti ditulisa dari Marketing 3.0. Pelanggan harus memiliki pengalaman dengan produk.

Dalam buku tipis namun padat berisi ini, Iwan dan Yosanova yang merupakan peneliti MarkPlus, menulis 3 garis besar dalam marketing; Why, What, dan How. Melalui bab ‘Why’, mereka menjelaskan kenapa content marketing harus berubah menjadi H2H bukan lagi B2B. Di era konektivitas, menurut penulis Marketing 3.0 tersebut semuanya serba paradox, walaupun setiap orang sudah sedemikian maju dengan teknologi, justeru content marketing tetap harus menyentuh aspek manusianya. Karena bagaimana pun pengguna teknologi adalah manusia.

Untuk menggerakkan konten tersebut ada tiga actor utama yang bermain; pertama anak muda, wanita, dan netizen. Jika diperhatikan, memang anak muda atau pemuda jaman now ini menjadi trend setter dalam bisnis. Generasi Y dan Z hampir bisa dipastikan menjadi pengisi utama baik konsumen dan produsen di dunia maya. Mereka menjadi factor dinamisator perubahan era Internet of things (IoT).

Unsur kedua yang menjadi actor utama di erah IoT ini adalah wanita. Ada satu adagium yang nyeleneh di era internet; the power of emak-emak. Kekuatan kaum wanita betul-betul telah meramaikan jagat internet. Wajar, mereka menjadi satu kekuatan khusus yang menggerakan hilir mudik barang atau konten karena mereka adalah makhluk yang paling aktif, kids jaman old bilang, mereka mulutnya dua. Sekarang ditambah lagi jempol, kedua mulutnya pindah ke jempol, wajarlah. Dengan kesenangan mereka bercerita dan berbagi menjadi satu daya tawar khusus eksistensi perempuan di internet.

Dan ketiga, factor dinamisator marketing di era IoT adalah netizen. Netizen, menurut pandangan Iwan dan Yasanova lebih emosional  ketimbang citizen dalam membahas sesuatu. Lihat saja misalnya saat adanya isu-isu politik, sepertinya netizen yang meramaikan jagad nusantara ini. Mereka menjadi Heart of the World. Dan tentu saja tidak semua citizen bisa menjadi netizen karena sifatnya yang berbeda. Netizen sudah masuk kerangka globalisasi.

Dalam konteks What, Iwan menulis bahwa semua hal yang disediakan oleh marketing semua berasal dari konsumen dan untuk konsumen. Oleh karena itu, agar produk mengerti konsumen, maka produk harus menjadi sahabat konsumen. Jika produk mampu menjadi sahabat konsumen, bukan lagi product awareness yang terjadi, tapi procut advocates. Konsumen akan membela produk. Dan inilah nilai besar dari keberhasilan pemasaran.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan bagaimana menciptakan content marketing di era digital;

Langkah-langkah pembuatan konten marketing di era disruptif

Setelah memahami kenapa content marketing harus berubah dan apa yang harus dilakukan agar produk mampu dibela oleh konsumen. Bagian terakhir buku, menjelaskan bagaimana membuat konten yang mampu menciptakan nilai hingga muncul human interest. Dalam bab ini, Iwan banyak memberikan contoh bagaimana konten-konten era kini sudah sedemikian berubah sehingga mampu menciptakan nilai bagi konsumennya, bukan saja bagi corporate. Contohnya iklan Royco yang bergeser substansi iklannya dari produk oriented ke customer oriented.

Era IoT, ketika produk langsung berinteraksi langsung dengan konsumen, produk harus mampu menjadi bagian dari yang dimiliki atau yang dialami oleh konsumen, seperti iklan Astra Motor tentang keselamatan berkendaraan roda dua dengan judul Cerdas Melanggar. Iklan ini yang merupakan kampanye keselamatan mengajak masyarakat untuk aware terhadap keamanan berkendara. Dan banyak lagi contoh-contoh strategi marketing lainnya dalam buku tersebut.

Walaupun tipis, buku ini sangat padat. Istilah-istilah marketing akan dimudahkan dengan berbagai contoh konkret. Bagi pelaku pemasaran di internet atau yang bergelut dalam dunia marketing, buku ini akan memperkaya persfektif atau bahkan menggeser paradigma pemasaran yang selama ini menjadi pakem.

Nah, biar dapet ilmunya, mending baca aja bukunya ya J ***[]



Wikipedia jadi Rujukan Ilmiah?

0
Sumber: wikipedia
Saat membuka halaman pertama sebuah buku, tiba-tiba satu definisi tentang sebuah istilah mengutip tulisan dari sebuah blog. Ugh, tiba-tiba serasa ditampar. Jika yang dikutip pendapat pakar atau ekspert di bidangnya saya kira tidak masalah, misalnya seorang doktor atau profesor. Mungkin saja saya tahu jika yang dikutip adalah gubes atau doktor di bidangnya tersebut. Padahal jelas buku yang baru saja saya buka adalah referensi ilmiah, yang akan digunakan oleh mahasiswa untuk keperluan ilmiah, bahkan buku tersebut dijadikan rujukan ilmiah.

Di era internet, penikmat buku mungkin sering terkecoh oleh tampilan sebuah buku, namun isinya sebagian besar mengutip dari referensi internet yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mungkin saja penulisnya sudah bertanggung jawab untuk menuliskan sumbernya, tetapi sumber yang dikutip adalah blog yang tidak jelas siapa penulis dan bidang kepakarannya.

Media internet sesungguhnya menyediakan banyak sumber rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Sebuah tulisan bisa dikatakan ilmiah atau setidaknya memenuhi kriteria tulisan ilmiah. Misalnya, jurnal-jurnal yang sudah memiliki ISSN baik dari dalam negeri atau luar negeri yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan. Ataupun project buku gratisan versi ebook yang sudah ber-ISBN.

Mencari sumber-sumber tersebut tidaklah sulit, jika ingin langsung ditujukan ke sumbernya tinggal masuk ke scholar.google.com. Saat memasukan kata kunci, akan muncul berbagai rujukan sesuai kata kunci, yang berasal dari berbagai perguruan tinggi atau situs pengelola jurnal. Sumber-sumber ini dapat dipertanggungjawabkan karena memenuhi kriteria ilmiah setidaknya sudah ada legitimasi dari pengelola masing-masing sebagai karya ilmiah. Pencari sumber juga bisa berselancar ke situs perguruan tinggi yang telah menyediakan elibrary, dimana semua rujukan ilmiah disimpan.

Lalu bagaimana dengan Wikipedia?
Nah, selama ini tugas-tugas mahasiswa sering dipenuhi oleh rujukan dari Wikipedia dan blog-blog yang keilmiahannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan, Wikipedia dijadikan sebagai rujukan untuk referensi penyusunan tugas akhir. Sahkah? Bolehkah? 

Sebelum membahas tentang boleh tidaknya seorang mahasiswa tingkat akhir menjadikan wikipedia sebagai rujukan ilmiah, misalnya untuk keperluan skripsi, ada baiknya kita mengetahui siapa yang menulis untuk wikipedia?

Pada dasarnya wikipedia adalah sebuah media terbuka yang memperbolehkan siapa saja untuk menulis pada media tersebut, selama tulisan tersebut memenuhi kriteria dan ketentuan dari pengelola, misalnya menulis struktur tulisan, pencantuman rujukan, netralitas tulisan, dan lain sebagainya. Selama memenuhi ketentuan dari pengelola, setiap penulis yang memublikasikan tulisan pada wikipedia akan menemukan tulisannya dipublikasikan oleh wikipedia. Sebagai situs terbuka, sebagaimana halnya user generated content atau  juga portal warga, wikipedia menerima semua jenis tulisan dari berbagai latar belakang ilmu, termasuk seseorang yang tidak memiliki kepakaran, asal mau belajar dan ingin menuliskan, ikut ketentuan, tulisannya dapat dipublikasikan oleh wikipedia.

Memerhatikan semua jenis tulisan, wikipedia memenuhi dahaga pengetahuan pembaca yang ingin mendapatkan wawasan tentang apapun tanpa harus mengeluarkan biaya seperti halnya saat pembaca ingin memiliki ensiklopedia dengan harga ratusan ribu atau bahkan jutaan. Sebagai ensiklopedia bebas, terbuka, dan gratis, semua pengetahuan bisa kita rujuk ke wikipedia.

sumber: wikipedia
Walaupun telah menetapkan standar penulisan yang ketat, tetap tulisan apapun bisa didapatkan pada wikipedia dari tulisan yang sangat pendek tanpa rujukan sampai tulisan serius dengan puluhan rujukan. Misalnya, saat saya mencari tulisan tentang Dodol Garut, saya menemukan satu tulisan dengan tulisan seadanya, hanya satu rujukan, tidak ada struktur tulisan. Dan saya sering menemukan tulisan seperti ini. Bahkan hanya menulis definisi saja dari satu istilah yang masih jarang jadi bahasan juga sering saya temukan. Ini adalah fakta bahwa tulisan apapun bisa masuk ke dalam wikipedia. Termasuk siapapun bisa menulis pada wikipedia termasuk bukan para ahli yang menjadikan wikipedia sebagai media pembelajaran untuk menulis.

Belum lagi merujuk pada gengsi akademik. Misalnya seorang doktor, merujuk pada wikipedia untuk pembuatan makalahnya, lalu bagaimana jika yang menulisnya adalah lulusan S1 dan bukan berasal dari bidang ilmu yang ditulisnya tersebut?

Saya berprinsip, belajar itu dari mana saja, dari mahasiswa-mahasiswa saya misalnya yang punya passion tertentu, misalnya fotografi, saya belajar. Atau ada mahasiswa yang passionnya dalam desain, saya belajar tanpa harus jaga gengsi. Hanya saja jika menyangkut karya ilmiah saya sendiri lebih baik merujuk pada buku yang diterbitkan oleh penerbit dengan tingkat kehati-hatian atau seleksi yang tinggi, tidak asal menerbitkan. Atau dari sumber-sumber internet yang sudah ber-ISSN atau ISBN.

Ilmu dan pengetahuan di era internet sudah sangat terbuka, kita bisa menimba ilmu dan pengetahuan dari mana saja yang penting manfaatnya terasa, bisa baca-baca dari wikipeda atau belajar secara audiovisual langsung dari youtube, tanpa harus menimbang-dimbang siapa sih yang membuatnya. Era sekarang belajar bisa kapanpun dimanapun pada siapapun tanpa harus tahu kepakarannya selama masih bisa mengambil manfaat darinya. Namun sekali lagi, jika untuk keperluan rujukan ilmiah seperti tugas akhir atau skripsi dan sejenisnya, harus jelas sumber yang dijadikan rujukan baik penerbit atau pengarangnya.

Teringat seorang teman yang sedang menyusun tugas akhir, Dosennya berkelakar, “jika mau merujuk pada sebuah buku untuk karya ilmiah anda, rujuklah minimal setara dengan pendidikan anda!

Persoalan rujukan ini bukan melulu pada wikipedia juga pada buku-buku. Dengan terbukanya penerbitan-penerbitan independen, semua orang bisa menerbitkan buku. Sehingga juga harus hati-hati.

Wikipedia adalah sumber pengetahuan bebas yang bisa kita gunakan dan kita baca kapan saja untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita di dunia ini. Pada Wikipedai kita juga bisa berkolaborasi dan berkontribusi menjadi penulis sekaligus. Namun, untuk karya ilmiah baiknya gunakan sumber-sumber ber-ISSN atau ISBN yang sudah melalui seleksi ilmiah.***[]

Sukabumi; antara Sejarah, Kopi, dan Petualangan

0
sumber: mytrip123
Beberapa waktu lalu, pernah menyelenggarakan inhouse training di Sukabumi. Untuk mencari lokasi yang nyaman untuk kegiatan mahasiswa tersebut, saya tersesat ke beberapa tempat dari Sukaraja ke Kadudampit, hingga berkeliling mencari satu kecamatan di tengah-tengah kota di Sukabumi.
Ketersesatan ternyata membawa hikmah, hingga akhirnya menjadi berpetualang menyusuri kota dan daerah-daerah sejuk di Sukabumi. Dari bisingnya kota hingga menikmati sejuknya daerah pegunungan. Namun saya menjadi tahu, karena ternyata Sukabumi menyimpan potensi wisata yang sangat menakjubkan, apalagi meliat potensi di wilayah Geopark Ciletuh.
Sukabumi bisa menjadi salah satu kota destinasi yang bisa dicoba untuk liburan singkat. Selain kotanya yang campernik alias kecil tapi cantik alamnya juga cukup menyegarkan apalagi saat menyusuri daerah-daerah dengan dataran yang cukup tinggi, setidaknya memungkinkan menghirup udara segar. Apalagi setelah berkutat dengan hiruk pikuk rutinitas pekerjaan kantor.
Selain alam yang indah, Sukabumi juga dilengkapi dengan beragam jenis kuliner yang memanja lapis lidah. Entah menikmati secangkir minuman hangat di jalan-jalan Sukabumi, atau justru membiarkan adrenalin terpacu dengan arung jeram dan berselancar di bibir pantai--semua pilihan bisa Pengunjung coba. Bebas.
Nama Kota Sukabumi sendiri berasal dari bahasa Sunda, yakni soeka dan boemen. Secara etimologis, perpaduan keduanya bisa diartikan sebagai “kawasan yang disukai untuk menetap”.
Kisah Soeka dan Boemen
Di Sukabumi, setiap pengunjung akan disambut dengan pempengunjungngan serba hijau dari perkebunan teh dan kopi yang membentang luas, pun udara sejuk dan bersih khas dataran tinggi. Dari lanskap yang indah tersebut, tidak heran jika penamaan Kota Sukabumi memang berasal dari pengalaman terkait lokasi favorit dan nyaman untuk menetap.
Selain tempat peristirahatan, sejarah mencatat Sukabumi sebagai lokasi yang memang diperuntukkan sebagai daerah perkebunan. Salah satunya, kopi. Maklum saja, di masa kolonialisme--dalam hal ini pemerintahan VOC, komoditas kopi menjadi salah satu primadona.  
Pada 1709, misalnya. Gubernur Van Riebek pernah mengadakan inspeksi ke kebun kopi di Cibalagung (Bogor), Cianjur, Jogjogan, Pondok Kopo, dan Gunung Guruh Sukabumi. Beberapa tahun berselang, yakni 1786, VOC lantas membangun jalan setapak untuk memudahkan mobilitas hasil perkebunan. Jalan ini dapat dilalui kuda dengan rute Batavia - Bogor - Sukabumi - Cianjur - Bandung.
Menguji Adrenalin di Sukabumi
Selain perkebunan, para wisatawan juga diberi kesempatan untuk menguji adrenalin lewat wisata arung jeram di Sungai Citarik. Letaknya, ada di Taman Nasional Gunung Halimun, Cikadang, Sukabumi. Adapun sungai ini terbilang cocok, lantaran debit air yang cukup banyak, kondisi yang bersih, dan relatif stabil di sepanjang tahun.
Sudah puas menikmati alam dataran tinggi, Pengunjung bisa menjajal hangat pasir pesisir selatan Sukabumi. Beberapa aktivitas yang layak dicoba, yakni berselancar hingga sekadar bersantai di pinggir pantai.
Merencanakan short escape ke Sukabumi pasti akan sangat menyenangkan. Apalagi bagi masyarakat perkotaan seperti Jakarta. Nah, agar bisa puas lebih lama, ada baiknya Pengunjung mempertimbangkan kebutuhan menginap di sana. Memang, terdapat banyak penginapan yang siap menampung wisatawan kapan pun, namun booking dari jauh hari tentu akan lebih baik.
Nyaman dan bikin betah!
Agar lebih mudah, Pengunjung bisa melakukan pemesanan kamar hotel lewat layanan akomodasi dalam jaringan. Airy Rooms, layanan akomodasi dalam jaringan terbesar dan tepercaya menawarkan pengalaman pemesanan kamar hotel terbaik dengan harga yang terjangkau.
Pesan kamar hotel murah di Sukabumi dapat Pengunjung lakukan melalui aplikasi Airy Apps, atau melalui website resmi www.airyrooms.com. Sementara, pembayaran dapat Pengunjung lakukan di saat itu juga melalui transfer bank atau kartu kredit. Tidak perlu khawatir mendapat kamar hotel yang buruk, sebab di Airy Rooms, fasilitas kamar hotel sudah terstpengunjungrisasi. Pengunjung akan mendapatkan kamar hotel dengan harga murah yang sudah dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas pendukung seperti AC, kebutuhan mandi dan air hangat, air minum gratis, WiFi, TV layar datar, dan tempat tidur bersih.

Buku; Investasi Dunia Akhirat

2
Gambar: koleksi pribadi @abahraka
Waktu mahasiswa, saat belanja kebutuhan buku, senang sekali jika mendapatkan harga miring dari umumnya. Maklum, awal tahun 2000-an buku-buku sudah cukup mahal. Apalagi menjelang tahun 2017. Sulit sekali mendapatkan buku berkualitas dengan harga di bawah lima puluh ribu, rerata di atas harga tersebut. Jika pun ada buku murah, masuk kategori buku saku atau buku-buku ringan atau buku diskon sampai 50 dan 70 % masuk kategori buku yang tidak saya butuhkan.

Beberapa waktu lalu, melalui akun media sosial, tiba-tiba muncul pada temlen buku terbitan tahun 2014 yang memang sudah tidak terbit lagi dan kebetulan saya butuhkan untuk penyusunan proposal-proposalan, “Wah wah kebeneran banget nih, bukunya masih ada, walaupun harus dikirim dari luar kota,”gumam saya sambil saya klik akun yang memajang buku tersebut.

Akhirnya saya DM lah akun tersebut, tentu saja, sekalian saya ambil buku lain yang memang sudah jarang ada di pasaran. Walhasil 6 eksemplar buku dengan judul berbeda dihargai 230 ribuan. Biasanya untuk seharga itu paling hanya dapat 3 atau maksimal 4 buku dengan ketebalan yang berbeda-beda. Saya cukup girang, apalagi tahu bahwa ketebalan bukunya 300-an halaman. Hanya saja sedikit heran, kenapa 6 buku tersebut sangat murah.

Sudah senang dong, buku langka dan tebal dengan harga murah tersebut. Dan salah satu bukunya adalah buku yang akan saya jadikan referensi. Ada sedikit tanda tanya selama buku dalam proses pengiriman, “ini buku jangan-jangan memang bukan orisinil ya,”pikir saya. Dan setelah 5 hari bukunya sampai juga. Saat menerima bungkusan buku, kecurigaan saya bertambah. Karena setau saya, bukunya cukup panjang ukurannya. Sementara ini rata sama semua ukurannya.

“Jangan-jangan buku tersebut tidak ada, seperti pengalaman saat belanja online beberapa waktu lalu, setelah diterima baru bilang kalau bukunya belum ada,”gumam saya. Setelah duduk dan buku tersebut saya simpan di atas meja, akhirnya saya unboxing (hehe bahasanya!), saya sobek langsung menggunakan cutter, dan ketidakenakan saya ternyata benar, jika buku yang saya beli adalah buku bajakan, lebih tepatnya adalah repro. Saya buka satu persatu, tidak satupun buku orisinil. Selain ukuran buku tidak asli, kualitas kertas yang jauh buruk, juga warna tulisan yang bladus. Bukan hanya itu, sebagian buku terbitan lama sudah ada nama dan coretan di sana-sini sehingga kurang elok untuk dibaca. Walaupun secara substansi bisa jadi sama saja dengan buku aslinya.

Kecewa? Ya pastinya, karena dari awal transaksi saya tersugesti untuk bersemangat saat buku baru menjadi koleksi. Nyatanya tidak sama sekali. Tidaklah bertambah booster saya. Hanya berharap suatu saat nanti bisa berguna untuk keperluan kaji mengkaji.

Akhirnya saya DM lagi melalui akun medsosnya,”bukunya bukan orisinilan ya?” tanya saya.

“Iya memang semua repro, waktu itu saya gak bilang ya kalo bukunya repro bung?” balasnya sambil bertanya.

“Gak sih,” jawab saya.

“Oh maaf bung, saya gak bilang ya, bukunya repro. Kalau yang mahal jikapun bukunya masih ada mahal,”balasnya.

“Iya mahal, makanya ini saya beli, tapi ya sudah gak apa-apa, makasih ya mas,” saya mengakhiri.
Tiba-tiba saya teringat dengan status seorang penulis yang seringkali dibecandain permintaan buku karyanya saat usai cetak di penerbit. Kira-kira statusnya menyindir, “Membuat buku itu hasil kerja keras, tiba-tiba diminta gratisan, hargai kerja keras kami,”.

Saya sadar, pembajakan buku atau karya lainnya, menjadi kejahatan luar biasa. Jika pencurian barang, korban mengetahui barangnya ada yang mengambil tanpa izin, maka penulis buku, dicuri karyanya belum tentu ketahuan. Terasa saat hasil dari royaltinya tidak lagi mengalir. Rezekinya tertahan. Walaupun selalu saja ada nasihat rezeki itu sudah diatur oleh Tuhan. Tetap saja dalam kasus pembajakan buku, kejahatannya melebihi kejahatan perampokan uang atau barang. Karena bisa seumur hidup terjadi dalam hidup seorang pengarang.

Buku sebagai investasi
Jika buku diibaratkan sebagai investasi yang akan mengalirkan tiga hal; pahala, materi, serta hal lainnya yang akan membuat seseorang menjadi manusia. Pahala akan mengalir selama buku tersebut dicetak dan terus terjual. Tidak sedikit buku-buku, misalnya yang terbit tahun 1980-an sekarang masih tetap naik cetak. Apalagi buku tersebut sebagai buku rujukan yang esensi materinya masih sulit ditemukan dalam buku-buku baru. Buku-buku filsafat misalnya seringkali sulit mendapatkan terbitan yang baru dari penulis yang sudah meninggal, sehingga karya-karya lamanya tetap dicetak dan diterbitkan lagi. Tidak ada revisi. Maka selama buku tersebut dicetak, penulisnya walaupun sudah meninggal tetap akan mendapatkan royalti ke ahli warisnya.

Penulis juga menjadi populer dengan keahlian yang dimiliki, sehingga bisa jadi  sering diminta untuk mengisi berbagai seminar atau semacamnya keluar kota bahkan ke luar negeri. Lihat saja para penulis berkelas dunia atau buku-bukunya sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

Begitu juga dengan ilmu. Penulis meninggalkan jejak ilmu bagi para pembacanya. Sehingga menjadi pahala yang tidak berkesudahan karena selain ilmu yang langsung didapatkan dari bukunya, jika sebagai buku rujukan dan referensi maka akan diajarkan terus menerus sampai beberapa generasi. Bahkan para penuntut ilmunya turut mendokan agar pengarang mendapatkan rahmat dan selamat dari Tuhan. Al-Ghazali dengan Ihya Ulumuddin dalam bidang tasauf dan akhlak misalnya terus menerus bukunya dibaca dan dicetak. Atau melalui buku Tahafut Alfalasifahnya untuk buku filsafatnya (sanggahan terhadap filsafat). Hamka dengan bukunya yang cukup banyak dan tetap masih dicetak misalnya Lembaga Hidup, Tasauf Moderan, Di Bawah Naungan Kabah, atau Tenggelamnya kapal Vanderwijk.

Penulis yang sudah zuhud bisa jadi tidak lagi peduli apakah karyanya dibajak atau tidak. Tapi bagi penulis baru yang belajar dengan satu, dua, atau tiga terbit dan menjadi satu-satunya harapan karena menggantungkan diri dari menulis tentu menjadi hal yang sangat signifikan untuk menghidupi kesehariannya. Bagaimana jika bukunya dibajak? Hmmm tentu saja pembajak sudah menghentikan jalan rezeki si penulis, walaupun selalu ada kelakar, rezeki ada di tangan Tuhan. Yang jelas, jalan ikhtiarnya terhambat oleh si Pembajak! Nilai investasinya secara materialpun menjadi berkurang. Dunia dan immateri tetap harus seimbang tanpa saling meniadakan yang lain. Materi memang bukan segala-galanya, dan pahala menjadi income tak terhentikan, tetapi melalui materi income pahala bisa ditambah berkali lipat.

Saya hanya berharap bahwa kejadian ini tidak terulang. Agar saya tidak menghambat rezeki penulis. Karena sebagian pemberi nafas dompet saya juga dari menulis.

Penulis selain mendapatkan aliran pahala karena ilmunya bermanfaat, juga menjadi abadi karena terus diingat melalui sitasinya. 😊 Salam. #abahraka #dudirustandi ***[]

Literasi Digital, Bukan Sekedar Membaca & Berbagi!

2
creditphoto: @ceumeta

Literasi kini menjadi istilah yang sangat familier, seiring dengan populernya media sosial. Banyak komunitas, perkumpulan, atau lembaga juga turut serta menggalakan gerakan-gerakan literasi. Bukan hanya para pegiat perpustakaan atau komunitas baca saja, juga para aktivis media sosial. Ini tidak terlepas dari banyaknya berbagai kasus yang muncul dari relasi dan transaksi yang dilakukan melalui media digital.

Banyaknya penyebar hoax tanpa disaring, nge-share berita tanpa mempelajari media dan konten apa yang dibagikan, dan tentu saja gerakan-gerakan yang lebih terstruktur yang ingin mengadu-domba masyarakat secara horizontal, memungkinkan terjadinya konflik yang tak berkesudahan. Bukan hal yang tabu, kini kita banyak berdebat-debat kusir di media sosial terhadap satu permasalahan. Padahal masalah tersebut belum tentu ada secara actual. Ia hanya dibuat untuk menggaduhkan suasana tanpa ada rujukan yang jelas dan real.

Literasi sering kali difahami sebagai kegiatan membaca dan menulis, kegiatan-kegiatan pembacaan dan kampanye membaca oleh pegiat sastra dan perpustakaan, yang mengajak audiensnya untuk membiasakan membaca dan atau menulis biasanya seringkali disebut sebagai kegiatan literasi. Padahal lebih dari itu, kegiatan membaca dan menulis tidak akan terjadi jika tidak tanpa adanya dorongan untuk melakukannya. Seseorang juga tidak akan menulis jika tidak paham pada persoalan apa yang ditulisnya. Artinya bahwa literasi bukan hanya menyoal baca dan tulis saja tetapi juga bagaimana memahami persoalan. Maka membaca dalam literasi adalah membaca dalam konteks mengkaji dan menganalisis suatu persoalan dalam kehidupan manusianya sehari-hari.

Awalnya kita mengenal istilah ini sering digunakan oleh para pegiat sastra atau pegiat pustaka baca. Bahkan jargon yang digunakan oleh pegiat pustaka tersebut adalah ‘Salam Literasi’ sambil mengacungkan jari dengan bentuk huruf L. Gabungan antara jari telunjuk dan jempol. Belakangan Literasi banyak digunakan oleh pegiat media sosial dan digital. Hal ini terkait dengan makin banyaknya perilaku-perilaku yang tidak mencerminkan sikap etis dalam berinteraksi di media sosial. Maklum, kini hampir setiap pengguna smartphone sepertinya tidak bisa menjauhkan diri dari satu aplikasi tersebut yang jumlahnya bermacam ragam.

Secara definitif, literasi dipahami sebagai kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan atau memproduksi suatu konten dalam persoalan yang sedang jadi permasalahan. Pada sisi lain, literasi juga didefinisikan sebagai serangkaian perspektif yang digunakan secara aktif untuk menghadapi terpaan pada persoalan yang dihadapi, menginterpretasi, dan atau mengcounternya.

Terkait dengan literasi digital maka bisa didefinisikan sebagai serangkaian kemampuan seseoarng dalam mengakses, menganalisis, mengevaluasi, memproduksi, menghadapi terpaan, menginterpretasi, dan atau mengcounter setiap terpaan atau interaksi dan transaksi yang dilakukan dengan media digital. Interaksi dan transaksi yang terjadi di media digital bermacam ragam dari mulai interaksi dan transaksi secara sincronus ataupun asincronus.

Komunikasi secara sincronus adalah komunikasi yang dilakukan dalam keserentakan secara waktu. Ada proses interaksi langsung dan feedback yang cepat antar manusia seakan-akan sedang melakukan percakapan antarmuka. Dalam komunikasi siber biasanya disebut sebagai CMC, computer mediated communications atau komunikasi yang dimediasi oleh computer. Mengisyaratkan adanya interaksi antarmanusia namun dimediasi oleh alat/ sarana/ media teknologi; chating, masangeran, atau lainnya.
Sedangkan asyncronus adalah interaksi manusia hanya dengan computer saja, misalnya saat stalking, membuat desain, atau saat membaca satu arah saja. Tidak adanya interaksi dengan manusia lagi membuat seorang yang beriteraksi dengan computer mempersepsikan sendiri tentang pesan-pesan yang beredar di media digital. Misalnya saat menerima berita yang dibagikan oleh orang lain lalu kita membagikan lagi di beranda sendiri. Dalam komunikasi asyncronus tidak terjadi interaksi antara manusia tetapi hanya manusia dengan computer saja. Sehingga komunikator menginterpretasikan apa yang terjadi sendiri tanpa ada interaksi dengan manusia lainnya.

sumber; arenalte
Literasi Digital memuat semua rangkaian proses seseorang dalam berhubungan dengan perangkat digital dan layar, baik syncronus ataupun asyncronus. Ada empat macam tujuan dalam melakukan literasi digital, seperti ditulis oleh Billy K. Sarwono (2016), Pertama terkait dengan  proteksi, yaitu perlindungan terhadap konten-konten yang membahayakan atau merugikan atau menimbulkan dampak negative. Oleh karena itu perlu diberikan kegiatan literasi agar netizen atau pengguna perangkat digital bisa mengerti dan memahami bahwa media digital memiliki sisi negative, baik sebagai perangkat itu sendiri ataupun dari sisi konten-konten yang muncul darinya.
sumber: mitrariset

Kedua, tujuan pemberdayaan. Media digital memiliki fungsi positif sebagai salah satu sumber belajar. Banyak source yang bisa dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Bahkan bisa dijadikan sarana khusus untuk kepentingan ekonomi. Sudah bukan rahasia, misalnya dengan media sosial seperti facebook bisa menjadi sarana untuk meningkatkan penjualan bagi pengusaha UMKM. Melalui media digital juga setiap orang bisa melakukan gerakan-gerakan pemberdayaan lainnya.

Ketiga, Kajian Media. Khusus bagi peminat khusus ilmu komunikasi atau media, melalui literasi bisa menjadi sarana mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Seorang peminat bisa menjadikan media digital sebagai objek penelitian dalam bidang komunikasi. Mengetahui bahwa apa yang dibagikan pada media digital hoax atau bukan. Punya tujuan yang netral atau memiliki tendensi. Tulisan terkait kajian media digital: Pencitraan Politik Daring.

Keempat, Aksi. Selain pembedayaan dan kajian, media digital juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk menggerakan atau memobilisasi, baik gerakan sosial, ekonomi, atau advokasi. Tidak sedikit yang terbantu oleh ajakan di salah satu fanpage misalnya atau situs khusus charity seperti kitabisadotcom atau chagendotorg.

Setiap orang yang melakukan literasi digital pada akhirnya diharapkan dapat menggunakan teknologi dengan benar sehingga meminimalisir digital divide. Menggunakan perangkat digital di era sekarang juga diharapkan menjadi sarana efektif untuk berbagai keperluan. Selain itu para pembelajarnya juga diharapkan mampu membuat pilihan, memilah dan memilih, menyimpan, mengambil atau berbagi konten untuk tujuan positif melalui berbagai bentuk konten; teks, visual, audiovisual.

Dengan melakukan literasi digital, seorang pembelajar juga menjadi tahu bagaimana mendapatkan, memproduksi dan mengelola konten-konten digital sehingga dapat menggunakan media tersebut sekreatif mungkin dengan kritis sehingga bisa terhindar dari kegiatan menyinggung atau berbahaya. Justeru dengan melakukan kegiatan literasi digital dapat seorang pembeajar dapat memanfaatan berbagai konten bagus tersebut untuk kegiatan positif.

Jadi kata kunci dari literasi digital bukan hanya menulis dan membaca saja, juga proteksi, pemberdayaan, pengkajian/ penelitian, lalu aksi.***[]

Tulisan terkait Literasi Media Sosial , Optimalisasi Humas melalui Media Sosial, Review Buku Media Sosial
Kopi dan Buku

Kopi dan Buku

4
Sebuah kiriman dibagikan oleh Dudi R (@abahraka) pada

Setiap membaca buku, seringkali rasa kantuk datang. Padahal buku yang harus dibaca adalah buku yang cukup menarik untuk dilahap. Alhasil, menjadi cara yang disadari, jika ingin mengundang kantuk adalah membawa buku ke tempat tidur, agar tidak mesti lagi pindah tempat. Ini seakan menjadi kebiasaan sejak SMA dan kuliah.

Namun seiring pekerjaan yang harus sering berjibaku dengan buku, termasuk buku-buku yang seringkali tidak menarik untuk dibaca, karena tuntutan pekerjaan, mau tidak mau harus berteman dengan buku. Sayang sejak kuliah, maag seperti menjadi penghalang agar mata ini tetap terjaga. Penyakit maag yang kronis menjadi phobia saat berhadapan dengan kopi. Padahal kopi bisa menyegarkan konsentrasi dan membantu agar tetap fokus.

Belakangan, muncul iklan “kopi putih” di televisi yang katanya aman bagi lambung, saya pun mencoba beberapa kali dan saya coba juga kopi hitamnya dari brand yang sama. Pertama dengan kopi putih, tidak menyelesaikan persoalan, setiap setengah gelas habis saya teguk, masalah mulai datang, perut mulai gemetaran hingga akhirnya turun ke lutut alias salatri. Ini artinya bahwa walaupun sudah makan, perut ini meminta kembali untuk diganjal dengan makanan cukup berat.

Saya coba dengan brand kopi hitamnya. Beberapa kali mencoba, memang cukup segar. Tetapi setelah seminggu mengkonsumsi dengan masalah yang bisa diminimalisir. Persoalan baru datang. Saya stress berhadapan dengan jenis nasi dan makanan lain. Sampai-sampai ketika lapar akhirnya malah tambah stress karena hampir dipastikan tidak akan ada asupan makanan. Entah berasal dari kopi hitam atau bukan, yang jelas saat stok kopinya habis, sedikit-demi sedikit, tingkat stress saat menghadapi nasi mulai berkurang dan kembali seperti semula lagi, alias rewog.

Kopi pun menjadi phobia, kopi jenis apapun, terlebih lagi kopi hitam dari jenis sobek. Mencium aromanya saja dari kebulnya, kepala ini sudah pusing dan perut mual.  Alhasil, hanya bisa iri dengan teman-teman yang bisa asyik menikmati secangkir kopi, apalagi dengan rokok di tangan. Sepertinya surga dunia banget.

Ya phobia dengan kopi! Bukan sesuatu yang patut dibanggakan, bahkan merasa tidak sempurna menjadi makhluk sosial karena tidak bisa bersosialisasi dengan secangkir kopi. Padahal tagline sebuah warung kopi di kawasan Gading Tutuka Dari Ngopi Jadi Dulur. Apakah saya tidak bisa menjali pertemanan dengan perantara secangkir kopi? Karena dengan sebatang rokok sudah mulai dikurangi!

Karena phobia, beberapa kopi hasil mahugi hanya menjadi pajangan dalam toples dan sebagian entah sudah berapa gram jadi milik tetangga dan saudara. Sebelum akhirnya tahu bahwa kopi-kopi yang menyebabkan tingginya asam lambung saat mengkonsumsi kopi bukan dari kopi sendiri tapi dari bahan kimia yang menjadi campuran kopi.

Pada 2015 tanpa sengaja mampir di sebuah warung kopi di bilangan Merdeka Garut. Masterblackcoffee. Di Garut, cafe-cafe sudah mulai menjamur dengan menyediakan berbagai aneka makanan berat dan camilan ringan plus yang tidak ketinggalan adalah kopi.

Dari hasil nongkrong tersebut dan dengan ragu-ragu memesan kopi dengan kadar yang minim. Momentum silaturahmi dengan beberapa mahasiswa tersebut yang membukakan wawasan saya tentang kopi, hingga akhirnya saya tulis menjadi semacam feature tentang kopi. Ini tulisannya: Kopi Garut.
Saya tidak hanya mengenal jenis kopi yang secara general terbagi dua; robusta dan arabica. Saya juga mengenal bagaimana roasting atau penyangraiannya. Saya juga kenal rasanya. Bagaimana robusta dan arabica. Sejak saat itu, kopi hasil mahugi yang masih awet dalam toples saya coba seduh. Kopi Aceh. Terkenal enaknya. Kebetulan saat gathering dengan salah satu brang pengiriman kilat, sang manager bicara tentang kopi. Saya coba metodenya. Cukup berhasil. Melalui satu seduhan dengan metode yang saya lakukan ternyata tidak membuat perut gemeteran ataupun lutut menjadi lemes.

Satu kali dua kali tiga kali, akhirnya 200 gram kopi dalam toples habis juga. Tanpa menyisakan sakit perut atau lapar yang mendadak seperti sebelum-sebelumnya. Tidak juga muncul rasa gelisah karena perut menjadi panas.

Tulisan tentang kopi aman bagi penderita maag: Tips Ngopi bagi Penderita Maag. 

Dari pengetahuan sedikit tentang kopi, banyak ngobrol tentang kopi. Tahu sedikit bahwa kopi sobek banyak campuran termasuk bahan kimia, walaupun dalam batas normal sehingga membuat lambung tidak nyaman. Salah satu cirinya adalah saat kita buang air kecil, bau air seninya seperti bau kopi yang kita minum. Bisa dibuktikan! Minum satu gelas kopi putih dari brand apapun, saat buang air kecil baunya menyerupai aroma kopi.

Dari pengalaman minum kopi tubruk tersebut, mengantarkan pada pencarian pengetahuan tentang kopi lagi. Bukan hanya sekedar menikmati tapi juga menjadi semacam obat agar setiap kali berjibaku dengan buku bukan rasa kantuk yang saya dapat, tapi konsentrasi dan rasa percaya diri!

Al hasil sejak bertemu dengan barista masterblackcoffee itulah tahu, entah jadi sugesti, kini menjadi penikmat arabica. Robusta pun tidak menjadi masalah selagi disajikan dengan cara sendiri hehehe. Jika pun harus pesan di warung khusus kopi (bukan warung indomie) asal sesuai dengan permintaan, sepertinya tidak terlalu bermasalah dengan perut.

Kini, kopi bukan soal gaya hidup, karena percuma disajikan dengan tingkat seni yang tinggi dan mahal jika akhirnya harus berjibaku dengan perut yang mulai nendang-nendang karena lapar mendadak atau ngajak pulang karena gemeteran. Kopi adalah soal kerja keras, soal konsentrasi, dan tentu menjadi masa depan. Karena beberapa kulian dan atau sampingan selalu berjibaku dengan buku. Kopi kini menjadi teman baru yang bisa melengkapi saat harus membuka lembaran-lembaran buku. Bahkan buku yang sama sekali tidak disukaipun.

Kopi dan buku kini menjadi paket lengkap agar bisa berkencan di malam minggu, saat sesekali anak dan isteri lebih memilih beristirahat.

Kopi dan buku, bukan gaya hidup. Tapi bagaimana soal bisa menikmati pekerjaan tanpa harus berlelah-lelah. Kopi dan buku bukan soal pamer di media sosial, tapi bagaimana keduanya bisa menjadi teman agar cita-cita yang belum kesampaian bisa diwujudkan. Dan tentu saja dengan tetap berharap bahwa perutku baik-baik saja.