Petik Jeruk Eptilu; Antara Wisata Edukasi dan Bangkitnya Kenangan

Petik Jeruk Eptilu; Antara Wisata Edukasi dan Bangkitnya Kenangan

0
Asyiknya main di kebun jeruk
Mudik, bukan hanya sekedar bertemu keluarga besar, bersilaturahmi dengan sanak famili. Mudik juga, membuka kesempatan untuk berlokawisata. Mengenang kembali, tempat-tempat bermain masa kecil, setelah belasan tahun merantau ke kota. Mudik tahun ini berbeda dengan mudik sebelumnya, yang biasanya melakukan lokawisata ke tempat-tempat yang sudah beberapa dikunjungi. Lokawisata yang saya lakukan tergolong tempat wisata baru. Yaitu wisata edukasi petik jeruk Garut.

Memasuki kebun dan memetik jeruk seakan mengenang masa kecil penulis yang sering menghabiskan waktu bermain di kebun jeruk, karena ayah seorang petani jeruk; beragam varietas jeruk ada di kebun, setidaknya ada 4 varietas yang ditanam saat itu; Keprok (jeruk Garut), Siem, Konde, dan Jeruk Purut. Sebelum akhirnya, semua pohon jeruk di lahan seluas 120 tumbak tumbang karena terjangkit virus pada tahun 1987 yang disebabkan semburan abu Gunung Galunggung tahun 1982. Sejak itu perkembangannya terhambat, Jeruk Garut pun tidak terdengar lagi gaungnya.

Pada puluhan tahun silam atau setidaknya 30-an tahun yang lalu, jeruk merupakan salah satu ikon kabupaten Garut yang dijadikan produk unggulan, dan menjadi salah satu unsur penyusun lambang pada logo pemerintahan. Garut pada masa itu menjadi kota penghasil jeruk dengan jumlah tanaman mencapai 1,3 juta pohon, seperti ditulis oleh situs Pemerintah Kabupaten Garut (garutkab.go.id).

Pada tahun 1999, setelah karam hampir 17 tahun, pemerintah Kabupaten Garut mencanangkan kembali agar jeruk menjadi produk unggulan dan menjadi salah satu subsektor tanaman pertanian karena prospektif dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pada tahun ke-4, seperti ditulis oleh garutkab.go.id, pada masa penanaman, 500 pohon jeruk bisa menghasilkan keuntungan hingga 39 juta.

Hal inilah yang dilakukan oleh H. Dikdik terhadap kebun sayurnya seluas 1,2 hektar, disulap menjadi 800 pohon jeruk sejak 3,5 tahun yang lalu. Eptilu—nama kebun jeruknya, digagas oleh seorang petani sayur tersebut bersama anaknya Rizal Fahreza sebagai pengembang, dan Akhmad seorang peneliti. Eptilu sendiri merupakan akronim dari Fresh From Farm yang menyesuaikan dengan lidah orang Garut, umumnya orang Sunda—F3 menjadi eptilu.

Sejak Pebruari 2017, Eptilu tidak hanya memproduksi jeruk Siem yang dikawinkan dengan Jeruk Garut, juga membuka wisata edukasi Petik Jeruk. Wisata Edukasi ini berkonsep seperti nama kebunnya Eptilu—Fresh From Farm, bisa dinikmati langsung buah jeruk selagi masih segar karena baru dipetik dari pohonnya.

Dasep, sang pengelola, menjadi penggagas wisata edukasi petik jeruk setelah mengambil pelajaran dari tiga kali penyelenggaraan event Nyaneut Festival yang diselenggarakan 3 tahun berturut-turut sejak 2014. Melalui wisata edukasi ini, pengunjung juga bisa menikmati panganan khas Priangan Timur seperti Teh Nyaneut/ teh Kejek, ubi, singkong, ganyong, talas, kremes, bandrek, bajigur, atau kopi khas Garut. Setelah memetik jeruk, pengunjung bisa mampir ke Saung Nyaneut yang berada di area kebun. Saung ini menjadi pusat interaksi antara pengelola dan pengunjung dengan bangunan saung paling luas. Di saung ini, pengunjung bisa membeli oleh-oleh cangkir dan piring anyaman dari bambu yang langsung dibuat di area kebun.

Memetik jeruk yang benar adalah dengan meninggalkan batang pada buah jeruk, sehingga kulit jeruk tidak menempel pada pohon jeruk. Menurut Dasep, cara memetik yang benar adalah dengan memotong dan meninggalkan batangnya sepanjang dua centimeter pada buahnya. Cara memetiknya pun bukan dengan dipetik menggunakan tangan, tetapi dipotong menggunakan gunting. Dengan begitu, pohon jeruk akan terhindar dari jamur. Karena jika kulit jeruk masih menempel pada batang, pohonnya akan terkena jamur dan mengganggu sistem imun pohon. Jika jeruk sudah terkena jamur biasanya akan mengganggu dan menghambat proses pembuahannya.

Oleh karena itu, setiap rombongan pengunjung akan didampingi oleh seorang guide untuk menunjukan cara memetik yang benar. Selain untuk menunjukan area mana saja yang boleh dipetik buahnya. Karena tidak semua pohon bisa dipetik, agar jeruknya tidak habis dalam satu waktu. Ini menjadi salah satu taktik dari pengelola, walaupun bukan musimnya, pengunjung tetap bisa menikmati wisata petik jeruk.

Pengelola menerapkan disiplin dalam pemetikannya, sehingga berdampak hasil yang maksimal. Pohon jeruk yang berumur 3,5 tahun tersebut, selama satu tahun terakhir sejak panen pertama pada Bulan Juni 2016 terus berbuah sepanjang bulan hingga Juni 2017. Proses pembuahan kembali setelah masa petik oleh pengunjung ditunjukan oleh Haji Dikdik selaku pemilik yang hadir di area wisata. Tunas-tunas yang tumbuh pasca petik menjadi ciri jika pohon jeruk yang ditanamnya berbuah sepanjang masa. Proses tumbuh tunas ini dialami oleh semua pohon jeruk yang telah dipetik. Padahal jeruk merupakan tanaman musiman. Yang akan berbuah pada musim/ bulan tertentu saja seperti halnya rambutan atau mangga. Pengelola pun tidak kehilangan muka jika setiap harinya pengunjung terus berdatangan untuk merasakan jeruk fresh from farm.

Untuk edukasi wisata petik ini, Dasep membedakan dua jenis pengunjung, yaitu pengunjung umum atau keluarga dan jenis wisatawan dari perguruan tinggi khususnya dari program studi pertanian. Untuk pengunjung umum, edukasi hanya sebatas pada cara pemetikan yang benar. Sedangkan untuk pengunjung dari perguruan tinggi atau yang berniat observasi, edukasi dilakukan secara mendalam; cara okulasi, penanaman, pengetahuan tentang varietas jeruk, pengetahuan tentang hama atau virus jeruk dan lain sebagainya.

Untuk petik jeruk, pengunjung hanya diperbolehkan memetik seberat 1 kg/ orang. Pengelola akan membekali keranjang dan gunting dan di arahkan ke area yang boleh dipetik.
Setelah buka pada bulan pertama dan langsung diliput oleh salah satu televisi swasta nasional, peminat wisata petik jeruk ternyata banyak yang berasal dari luar Garut khususnya Bandung, jakarta dan sekitarnya. Yang awalnya hanya petik jeruk sambil ngemil panganan khas, ternyata pengunjung juga banyak yang menanyakan makanan berat. Dengan konsep manajamen keluarga, akhirnya sang Ibu ikut terjun sebagai juru masak.

Makanan berat yang disediakan adalah masakan khas sunda yaitu nasi liwet, gepuk, dendeng, ayam goreng, ikan goreng, tumis-tumisan diantaranya kangkung dan genjer, juga goreng petai, jengkol, asin peda, jambal roti, dan lainnya.

Setelah pengunjung menikmati hijaunya kebun dan memilih milah jeruk yang paling segar untuk dipetik. Pengunjung beristirahat di saung sambil menikmati Nasi Liwet dengan segala jenis lauknya. Oleh karena itu, karena konsepnya wisata keluarga, ada batas maksimal agar pengunjung bisa menikmati wisata ini, yaitu minimal 5 orang. Hal ini menyesuaikan dengan luas saung yang disediakan pengelola.

Jika pembaca pernah menyaksikan/ menonton Nyaneut Festival (tulisannya pernah dimuat di Pikiran Rakyat edisi 6 Januari 2016), nasi liwet ini pernah dinikmati oleh pengunjung. Dengan khas taburan kentang dan teri medannya yang terasa gurih. Setelah bercape-cape memetik jeruk, pengunjung bisa dengan lahap menyantap liwet khas Nyaneut tersebut. Ayam Goreng dan Sambal khas Nyaneut menambah selera makan penulis. Apalagi jika lauknya diganti goreng ikan mas atau nila yang khas dari kolam ikan Cikajang hmm tentu akan menambah selera.

Sebelum makan kita cicipi terlebih dahulu jeruk Garut yang fresh from farm, agar memenuhi sunah Nabi, selesai makan juga cuci mulutnya dengan rasa manis jeruk yang ada asam-asamnya. Segar jeruknya, pemandangannya, juga alamnya.
 
Re-Blog dari soultrips.id

Bulan (Momentum) Pencitraan

0
Ilustrasi. Sumber: pikiran-rakyat.com
Ramadan telah usai, Iedul Fitri telah kita lalui. Namun masih ada yang tertinggal di jalan-jalan dan setiap persimpangan dan tempat-tempat ramai; mereka yang hendak maju dalam kontestasi politik dalam satu atau dua tahun ke depan. Entah itu pemilu 2019 atau Pilgub 2018. 

Inilah salah satu nilai plus dari berkah ramadhan, setiap profesional dan pekerja politik menemukan momentumnya, mereka berlomba-lomba bersilaturahmi agar bisa menampilkan diri kepada konstituennya; dengan buka bersama, tarawih keliling, berbagi dengan anak yatim, halal bihalal/ open house bersama dengan warga atau cara lain agar mereka bisa lebih dikenali. Di setiap sudut kota, jalan-jalan protokol, atau batas kota mereka hadir melalui beragam spanduk atau baligo. Mereka juga mendatangi tokoh-tokoh agama lalu mereka sebar melalui media sosial. Ada juga yang diliput oleh media massa agar mendapatkan magnitude yang lebih menggema.

Tidak berhenti pada bulan ramadhan, memasuki bulan syawal atau menjelang idul fitri, iklan layanan ucapan idul fitri membanjiri tayangan di antara iklan-iklan komersil. Spanduk-spanduk ucapan ramadhan berganti dengan wajah baru yang lebih segar dengan verbalitas iedul fitri. Sebagian dari mereka kita kenal, sebagian lagi wajah baru. Mereka semua memiliki ekspektasi agar bisa manggung di arena politik dalam tahun yang semakin mendekat, pilkada atau pemilu.  

Bulan dan Tahun Momentum
Bulan Ramadan dan Syawal 1438 H menjadi momentum untuk menyosialisasikan diri kepada publik. Berusaha mengikat pikiran dengan banyak memerankan diri sebagai bagian dari rakyat. Wajah-wajah penuh ekspektasi bersemangat menatap tahun 2018 untuk pemilukada dan 2019 untuk Pemilu. Dua bulan Islam ini menjadi momentum dalam melakukan publikasi diri. Suatu kegiatan yang memerankan dan menampilkan dirinya terlibat dalam kegiatan sehari-hari yang rutin (berulang setiap tahun) bersama penganut agama mayoritas. Nilai publikasinya (newsvalue) sangat kuat. Untuk mengukur seberapa kuatnya newsvalue ini, cermati saja bagaimana media massa memblow up secara besar-besaran dua bulan ini yang penuh rahmat dan berkah ini.

Dalam konteks komunikasi politik, apa yang dilakukan oleh politisi, meminjam pernyataan Dan Nimmo, merupakan kegiatan mental seseorang  yang membayangkan kepercayaan, nilai dan pengharapan orang lain tentang dirinya, membandingkan kesimpulan itu dengan pendirian sendiri, dan menerapkan perilaku sesuai dengan hal itu. Oleh karena itu publikasi ramadhan dan iedul fitri menjadi momentum yang tepat untuk memberikan karakterisasi dan peran diri di tengah-tengah masyarakat sehingga pengharapan akan dirinya diterima dan terikat dalam pikiran masyarakat bisa mendekat sedini mungkin dan dalam rentang waktu yang lama (awet) hingga waktunya pemilu 2019. Newsvalue-nya tinggi, sehingga mendapatkan tempat yang layak di hati masyarakat. Tingkat kepercayaannya lebih tinggi dibanding dengan iklan politik. 

Proses pemeranan diri di tengah-tengah masyarakat pada dua momentum ini kadang penuh permainan. Kita bisa cermati, bahwa tidak hanya politisi yang menjalankan ritual ini saja yang melakukan publikasi politik, juga nonmuslim.
Proses interaksi tersebut, meminjam istilah Erfing Goffman (Mulyana, 2011), adalah proses dramaturgi, merupakan suatu drama secara kiasan yang ingin menciptakan kesan yang diharapakan bisa tumbuh dari orang lain terhadapnya. Ia ingin menciptakan makna atas publikasinya sebagai bagian dari ekspresi keagamaan seperti halnya dilakukan kebanyakan calon pemilihnya nanti. Jika hal ini terus-terusan dilakukan maka wajahnya akan terikat dalam alam pikiran masyarakat. Dalam prosesnya, seorang politisi sedang berikhtiar mengatasi gangguan-gangguan komunikasi politik dengan calon pemilihnya kelak melalui berbagai simbol komunikasi, baik verbal ataupun nonverbal.
Untuk menciptakan kesan tersebut, maka tampilan politisi dibuat sedemikian rupa sehingga seperti diungkapkan Guru Besar Komunikasi, yang juga Dewan Redaksi Pikiran Rakyat; pertama diri politisi membayangkan bagaimana tampil bagi orang lain; kedua politisi membayangkan penilaian mereka atas penampilannya; ketiga politisi mengembangkan sejenis perasaan diri seperti kebanggan atau malu sebagai akibat membayangkan penilaian orang lain tersebut. Komponen diri tersebut sedemikian rupa diciptakan agar memiliki positioning dan differensiasi dalam proses mengikatkan diri ke dalam alam pikiran masyarakat.
Oleh karena itu, wajar jika seorang politisi juga sering menggandeng seorang tokoh lainnya yang lebih populer, misalnya dengan pemimpin revolusi, atau dengan ketua partainya yang memiliki fans lebih banyak dan lebih populer. Dengan demikian diri akan lebih banyak diketahui oleh orang lain. Pada bulan ini mereka sedang merepresentasikan sebagai penganut agama yang taat, Islami, serta berpihak pada umat Islam.
Political Branding
Menampilkan diri secara terus menerus di hadapan publik melalui berbagai media akan menciptakan identitas (politik). Dalam bahasa marketing public relations, identitas ini adalah merk. Melalui merk politik, khalayak akan mudah membedakan mana politisi yang punya karakter dan betul-betul memperjuangkan kepentingan rakyat, mana politisi yang hanya menjadikan rakyat sebagai alat retorika belaka. Untuk membangun merk perlu konsistensi, tidak hanya sekedar memanfaatkan momentum belaka. Tidak juga karena ingin dikesani tertentu lalu melakukan proses dramaturgi semu. Setidaknya, menurut praktisi Public Relations, Silih Agung Wasesa, perlu adanya pembaharuan minimal 3 bulan sekali, dari mulai sekarang. Seperti halnya yang dilakukan oleh merk komersil, untuk menciptakan loyalitas konsumen.
Dalam perspektif Public Relations, untuk menciptakan loyalitas merk (politik), bisa dengan menggunakan orang ketiga, dengan menciptakan sesuau yang bernilai berita. Berbeda dengan iklan yang merupakan kerja sama profesional antara merk politik dan media, tingkat kredibilitas dari isi pesan cenderung minim, atau sekitar 3-6 % saja, sedangkan kredibilitas publikasi yang bernilai berita (newsvalue) yang dilakukan orang ketiga bisa mencapai 70-90 % kredibilitas isi pesan.
Oleh karena itu, Silih Agung menawarkan dengan taktik  orang ketiga tersebut melalui brand ambassador, yang menjadi unofficial spoke persons, bukan Brand Ambassador dalam konteks kerja sama proffesional (iklan) tetapi berdasarkan initiative mutal uderstanding, yaitu bahwa sebagai unofficial spoke person atau brand political ambassador tak terikat tersebut bisa membangun kesepemahaman dan meyakinkan publik/ calon pemilih bahwa antara dirinya sebagai masyarakat biasa dengan politisi berada dalam kepentingan yang sama. Ini juga salah satu yang dilakukan oleh pasangan Anies-Sandi, salah satu unofficial spoke person-nya, seorang Artis, Stand Up Comedian populer Panji Pragiwaksono bisa menjaring calon pemilih muda potensial dan swing voters sehingga mengantarkan Anies-Sandi menjadi Gubernur Jakarta.
Dengan begitu, jika partai, calon anggota dewan, atau kepala daerah bisa menciptakan brand political ambassador dari para fans atau pengikut setianya, dia akan mampu memengaruhi kinerja team politik sebesar 80%, sisanya 20% dilakukan oleh para fans, pengikut dan pemilih loyal, atau orang-orang terdekat dengan personal/ partai yang tersebar di berbagai posisi dan profesi. 20 % unofficial spoke person akan membantu kinerja partai dalam membangun merk, mulai dari inovasi, asosiasi merk, pembaharuan pesan, ataupun komunitas-komunitas politik.
Pada akhirnya proses dramaturgi yang dilakukan oleh calon-calon politisi jika merujuk taktik public relations di atas, tidak hanya memanfaatkan bulan dan momentum saja atau melalui brand political ambassador. Calon/ timnya juga harus mampu menciptakan pesan yang inovatif, konsisten, tidak jadi-jadian, berkarakter, dan merujuk pada kebutuhan para calon pemilihnya.
Dudi Rustandi, Peminat Literasi


Citizen Journalism, antara Produsen dan Konsumen Informasi

1
Model: Kang Arul saat diwawancari Wartawan Pikiran Rakyat
Kehadiran internet membawa perubahan revolusioner terhadap cara informasi disajikan. Jika sebelumnya produsen informasi itu adalah wartawan atau lembaga pers, kini kita masyarakat biasa pun bisa menjadi produsen informasi. Berbagai media social bisa menjadi saluran informasi. UGC atau user generated content pun bermunculan di Indonesia. Bahkan untuk menarik calon-calon produsen informasi ini, beberapa media sudah menerapkan semacam honornya. Para produsen informasi yang bukan wartawan ini biasa dikenal dengan netizen journalism atau citizen journalism.

Ada banyak istilah sebelum citizen journalism dikenal secara meluas seperti sekarang ini, antaralain civic journalism, participatory journalism atau public journalism. Akan tetapi, ketika sebuah situs berbasis users generated content bernama Ohmy News lahir di Korea Selatan pada awal tahun 2000-an, sitilah citizen journalism digunakan secara meluas (Pepih Nugraha).

Istilah citizen journalism atau yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yakni sebagai jurnalisme warga. Citizen journalism adalah kegiatan masyarakat yang “bermain dengan aktif dalam proses mengumpulkan, melaporkan, menganalisis, dan menyebarkan informasi dan berita”.

Jurnalisme warga adalah jurnalisme di mana warga memproduksi informasi sendiri secara amatir tanpa adanya campur tangan media arus utama tentang isu seputar warga dan beragam informasi aktual, tajam dan terpercaya lainnya, yang sedang hangat di bicarakan, berkembang ataupun yang telah berlalu, sekehendak hati pewartanya. Singkatnya saja, jurnalisme ini hampir seperti demokrasi ala Indonesia, dimana “Jurnalisme warga dari warga, oleh warga, tentang warga dan untuk warga”.

Bagi Pepih Nugraha, Citizen Journalism dimaksudkan sebagai kegiatan warga biasa yang bukan wartawan professional mengumpulkan fakta dilapangan atas sebuah peristiwa, menyusun, menulis, dan melaporkan hasi liputan dimedia social.

Jurnalisme warga merupakan suatu kegiatan jurnalisme murni yang tidak dipengaruhi oleh pihak-pihak manapun. Tak perlu seseorang harus lulus dari jurusan jurnalistik, atau komunikasi massa, untuk bisa menulis. Kecepatan dan keterjangkauan terhadap fakta berita yang dilakukan kalangan masyarakat (bukan wartawan) tidak kalah dari wartawan profesional. Bahkan banyak stasiun televisi tanah air yang mencoba mencari berbagai video amatir suatu peristiwa.

Jurnalisme warga inilah yang menjadi sejarah baru di dunia pers, sehingga warga dan pers hidup saling berdampingan dalam menyampaikan informasi kepada publik dengan semangat berbagi. Citizen Journalism sendiri sebenarnya lahir tanpa disadari, saat peristiwa tsunami tersebut menganugrahkan letikan inspirasi dari seorang korban tsunami “Cut Putri“ yang saat itu berada di lokasi kejadian. Peristiwa yang direkam Cut Putri itulah yang dicari media karena moment yang sangat berarti untuk sebuah pemberitaan. Keterbatasan media akhirnya membuka semua mata untuk melibatkan warga bagian dari sumber informasi.

Peristiwa-peristiwa tak terduga itulah yang terkadang terlewatkan oleh media, karena saat peristiwa penting, belum tentu seorang wartawan berada di tempat.  Disinilah peran Citizen Journalism. Istilah Citizen Journalism sudah sangat dekat di telinga kita bahkan saat ini, pers warga sudah melembaga dengan adanya organisasi idependen PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia), sehingga keberadaan Citizen Journalism sudah diakui baik oleh media maupun para pengamat pers.

Sejarah Perkembangan Citizen Journalism di IndonesiaKemunculan jurnalisme warga di Indonesia bermula pada masa Orde Baru, saat Soeharto berkuasa, di mana pada saat itu arus informasi dari media massa kepada masyarakat dijaga ketat oleh pemerintah dan aparatnya. Masa Orde Baru yang dikenal dengan sistem pers tertutupnya, memaksa pers untuk lebih mengedepankan agenda kebijakan, khususnya kebijakan eksekutif. Pers lebih banyak memberitakan kebijakan pemerintah. Dominannya penggunaan sumber berita eksekutif menjadikan pemberitaan pers menjadi top down.

Di Indonesia, jurnalisme ala warga telah hadir dalam keseharian melalui acara-acara talkshow di radio khususnya sejak awal tahun 90-an. Karena dilarang pemerintah menyiarkan program siaran berita, beberapa stasiun radio mengusung format siaran informasi. Pada program siarannya, stasiun radio tersebut (diantaranya adalah Radio Mara 106,7 FM di Bandung yang menjadi pionir siaran seperti ini) menyiarkan acara talkshow yang mengajak pendengar untuk aktif berpartisipasi melalui telepon untuk menyampaikan informasi maupun pendapat tentang sebuah topik hangat. Pada masa orde baru acara siaran tersebut efektif menjadi saluran khalayak menyampaikan keluhan terhadap kelemahan atau kezaliman penguasa.

Setelah UU Penyiaran No.32 Tahun 2002, kehadiran community based media di bidang penyiaran pun akhirnya terakomodasi. kehadiran radio dan televisi komunitas menjadi legal. Legalitas ini membuat peluang jurnalisme ala warga menjadi semakin terbuka. Melalui radio atau televisi komunitas, warga bisa bertukar informasi atau pendapat, tentang hal-hal terdekat dengan keseharian mereka, yang biasanya luput diliput oleh media-media besar. Pada radio siaran, biaya peralatan, operasional siaran dan pesawat penerima yang relative murah. Bahkan beberapa stasiun televisi ada yang membuat program khusus untuk itu.

Sejumlah mailing list menjadi pelarian warga yang mampu mengakses internet akibat media massa konvensional saat itu tidak ada yang berani mengkritik rezim. Kehadiran blog ini baru dianggap sebagai ancaman karena sifat interaktifnya, yang tidak mungkin dilakukan media massa konvensional.

Di Indonesia sendiri pertama kali di tahun 2004 saat tsunami di Aceh, kemudian video Bom Bali dan terakhir video Gayus Tambunan pada saat nonton pertandingan tennis di Bali. Jenis media yang dijadikan wadah citizen journalism semisal, blog, facebook, twitter, forum, mailing list dan sebagainya. 

Sejak digulirkannya program Citzen Journalism oleh beberapa media baru-baru ini. Pers semakin berkembang kearah persuasif /pendekatan terhadap berita maupun jurnalis. Dimana warga biasa bisa menjadi wartawan untuk ikut berperan dalam mewartakan suatu peristiwa atau kejadian sehingga jarak antar media dan masyarakat sangat erat berdampingan. 

Kebutuhan masyarakat akan informasi yang cepat dan lugas membuat citizen journalism kian subur. Citizen journalism sendiri merupakan salah satu jalan yang digunakan untuk mengembangkan sayap jurnalis, bergerilya lewat digital untuk misi jurnalisme, sebagai wahana publik dalam bahasa merupakan jurnalisme akar rumput. 

Salah satu fenomena aktual yang berkaitan dengan citizen journalis (jurnalisme warga negara) dalam proses penyebaran informasi adalah maraknya aktivitas blog. Kehadiran blog, menjadikan internet benar-benar diperhitungkan di dunia media. Citizen journalism membuka ruang wacana bagi warga lebih meluas. Blog menjadi bagian dari proses revolusi komunikasi. Kegiatan pemberitaan yang beralih ke tangan orang biasa memungkinkan berlangsungnya pertukaran pandangan yang lebih spontan dan lebih luas dari media konvensional. Intensitas dari partisipasi ini adalah untuk menyediakan informasi yang independen, akurat, relevan yang mewujudkan demokrasi.

Media Citizen JournalismCitizen journalism dapat didefinisikan sebagai praktik jurnalistik yang dilakukan oleh orang biasa, bukan wartawan profesional yang bekerja di sebuah media. Kehadiran blog dan media sosial menjadikan setiap orang bisa jadi wartawan dalam pengertian juru warta atau menyebarkan informasi terjadi sendiri kepada publik.

Sebelumnya kita mengenal istilah “public journalism” atau “civic journalism” yang semakna dengan citizen journalism, yakni laporan by people (oleh publik) sehingga jurnalistik atau pemberitaan tidak lagi dimonopoli para wartawan.

Media citizen journalism bermacam-macam, mulai dari kolom komentar di situs berita hingga blog pribadi. J.D. Lasica, dalam online journalism review (2003), pengkategorikan media citizen journalism kedalam enam tipe seperti ditulis oleh Asep Samsul M. Romli dalam Buku Jurnalisme Online, yaitu:

Audience Participation : Seperti komentar user yang di attach pada berita, blog blog pribadi, foto atau video, footage yang di ambil dari hendicam pribadi, atau berita lokal yang di tulis oleh anggota komunitas.

Independent News And Information Website : Situs web berita atu informasi independent seperti consumer reports, drudg report yang terkenal dengan “Monicagate” nys.

Full-Flatget Participatory  News Sites : Situs nya berita partisipatory murni atau situs kumpulan berita yang murni dibuat dan di publikasikan sendiri oleh warga seperti OhmyNews,Now Public, dan GrownReport.

Colaborativ And Contibutory Media sites : Situs media kolaboratif seprti slesh dot, kuro5hin, dan newsvaine.

Other Kinds Of “Kinds Media” : Bentuk lain dari media “Tipis” seperti milinglist dan newsletter email.

Personal Broadcatin Sites: Situs penyiaran pribadi kenradio.

Karakteristik Citizen Journalism

Skeptis

Skeptis, itulah ciri khas jurnalisme. Tom Friedman dari New York Times mengatakan bahwa skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang di terima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah di tipu. Seorang yang skeptis akan berkata :” saya yakin itu tidak benar, saya akan mengeceknya.” Lain halnya dengan sikap sisnis. Orang yang sisnis  akan selalu merasa bahwa dia sudah mempunyai jawaban mengenai seseorang atau peristiwa yang di hadapinya. Ia akan berkata :” saya ayakin itu tidak benar. Itu tidak mungkin. Saya akan menolaknya.”

Jadi inti dari sikap skeptis adalah keraguan. Keraguan membuat orang akan bertanya, mencari sampai mendapatkan kebenaran. Sebaliknya, inti dari sikap sisnis adalah ketidak percayaan.  Dia akan  menolak, tidak bertindak. Habis perkara!

Untuk menolak sifat sisnis, kita harus menanamakan naluri skeptis yang kiuat. Sebagai wartawan yang bertugas mencari kebenaran, kita harus meragukan, bertanya, menggugat, dan tidak begitu saja menerima kesimpulan yang umum. Pengarang Oscar Wilde berkata bahwa sikap skeptis adalah awal dari kepercayaan, sedangkan orang yang sinis adalah orang yang tahu mengenai harga (price) segala sesuatu, tetapi ia sama sekali tidak mengetahu mengenai nilai (value) apapun. Malah, Vartan Gregorian dari Brown University mengatakan bahwa sikap sinis adalah kegagalan manusia yang paling korosif karena menyebar  kecurigaaan dan ketidak percayaan, mengecilkan arti harapan dan merendahkan nilai idealisme.

Seorang penulis dan kritikus sosial, H.L. Mecken mengatakan bahwa orang yang sinis itu seperti orang yang ketika mencium keharuman bunga, justru matanya melihat ke sekelilingnya, mencari peti mati.

Sikap skeptis hendaknya juga menjadi sikap media. Hanya dengan bersikap skeptis, sebuah media dapat “hidup”. Namun, pada kenyataannya banyak media yang tidak mampu untuk selalu berusaha bersikap skeptis. Banyak dari mereka menyukai memilih dan menghidupi apa yang di namakan cheerlcader complex. Yaitu sifat untuk berhura-hura mengikuti arus yang sudah ada, puas dengan apa yang ada, puas dengan permukaan sebuah peristiwa, serta enggan mengingatkan kekurangan dalam masyarakat. Joseph Pulitzer pernah berkata bahwa surat kabar tidak pernah bisa menjadi besar dengan hanya mencetak selembaran yang disiarkan oleh pengusaha maupun tokoh-tokoh politik dan meringkas tentang apa yang terjadi setiap hari. Wartawan harus terjun kelapangan,  berjuang dan mencari hal-hal yang eksklusif. Ketidak tahuan membuka kesempatan korup, sedangkan pengungkapan mendorong perubahan. Masyarakat yang mendapat informasi yang lengkap, akan menuntut perbaikan dan reformasi.

Agar demokrasi bisa berjalan, masyarakat butuh informasi. Wartawan mempunyai tugas demoratik (democratic duty) untuk menulis secara jelas dan dalam bahsa publik. Disini, nilai intinya adalah kepercayaan (trust). Dalam hal ini, wartawan menjadi bagian dari sebuah kontrak sosial yang pararel. Pengertian di balik kontrak ini adalah selagi wartawan mwlaksanakan tugarnya, bersamaan itu pula proses demokrasi berjalan. Kode etik yang dibuat oleh berbagai perkumpulan wartawan merupakan pengunggkapan dari istilah kontrak yang dibuat para wartawan dengan sesama warganya.

BertindakBertindak, action, adalah corak kerja seorang wartawan. Wartawan tidak menunggu sampai peristiwa itu muncul, tetapi ia akan mencari dan mengamati dengan ketajama naluri seorang wartawan. Peristiwa tidak terjadi diruangan redaksi. I terjadi di luar. Karena itu yang terbaik untuk wartawan adalah terjun langsung ke tempat kejadian sebagai mengamat pertama.

Mary, mantan wartawan CSB News, peraih Peabodi Award untuk liputan inestigasi penjar Abu Ghraib di Irak , mengatakan bahwa wartawan yang baik akan mendatagi tempat-tempat kejadian walaupun itu berbahaya dan menakutkan. Wartawan dengan laporan-laporannya harus bisa membawa masyarakat ke medan perang, bencana alam, ataupun revolusi.

Dalam jurnalisme, jangan lah kita menerima sesuatu begitu saja seperti apa adanya dan menganggap semua itu benar (to take for granted). Gugatlah skeptislah! Dukung semua kesimpulan dengan fakta dan demoksarikan segala sesuatu dengan sumber-sumber yang dapat di percaya dan kecuali dalam peristiwa-peristiwa tertentu – sebutlah sumber tersebut.

BerubahDalam pengetian yang luas jurnalisme itu mendorong terjadinya perubahan. Memang merupakan hukum utama jurnalisme. Debra gresh hernandez, dalam makalahnya berjudul “advice for the future” yang di sampaikan pada seminar API (Amerikan Press Insitute), seperti dikutif oleh Luwi mengatakan bahwa satu satunya yang pasti dan tidak berubah yang di hadapi industri surat kabar masa depan adalah justru ketidak pastiannya dan perubahan – the only things certain and unchanging facing the news peaper industry in the future are uncertainty and change. Dalam pengalaman sejarahnya surat kabar itu akan selalu mendapak dari perubahan yang terjadi di masyarakat dan dalam teknologi.     

Kelebihan Citizen JournalismØ Informasi yang diterima dengan cepat dan mudah,

Ø Biaya mengakses informasi pun terjangkau,

Ø Bersifat interaktif, sehingga memungkinkan muncul perdebatan hangan dan menarik antara penulis dan pembaca,

Ø Informasinya mampu menembus ruang dan waktu,

Ø Adanya kebebasan berbicara,

Ø Setiap orang memiliki hak untuk memberikan kritik, informasi, opini dan saran secara terbuka.

Kekurangan Citizen Journalism

Ø  Informasi yang sudah lama dibuat ulang,

Ø  Tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya,

Ø  Artikel atau segala informasi yang dipublikasikan bisa saja masih dangkal dan tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik,

Ø  Warga bisa saja menyalahgunakan kebebasan yang diberikan, dengan menyebarkan pornografi, penghinaan, berita bohong dan berita lainnya yang sifatnya negatif, tidak etis dan melanggar hukum.

***



'From Borneo To Bloomberg' Like A Power Bank

0

[abahraka.com] - Membayangkan sebuah buku autobiography, tergambar ukuran ideal dengan ukuran A4 kurang dan ketebalan mencapai 300 halaman lebih. Selain ukuran dan ketebalan, isinya juga sangat padat. Buku “Alex Perguson, managing my life” ketebalannya mencapai 477 halaman dengan ukuran 24×16.

Namun, saat buku  karya Iwan Sunito hadiran di hadapan penulis, sungguh jauh dari perkiraan. Dengan ukuran pas di tangan dan ketebalan rata-rata, buku ini menjungkirbalikan mainstream buku autobiografi. Apalagi jika sekilas hanya membuka-buka halaman, khususnya ketika CEO Crown Grup ini berbagi prinsip sukses. Jangan berharap jika pembaca akan mendapatkan gambaran utuh bagaimana kisah sukses itu dinarasikan dengan sempurna oleh lelaki kelahiran Surabaya tersebut.
Wajar jika Hendromasto, pembedah buku #FromBorneToBloomberg mengatakan, “Selalu ada yang tertinggal dari sebuah autobiografi”. Sebuah buku autobiografy tidak akan memberikan gambaran yang sempurna tentang dirinya sendiri.

Apalagi dengan narasi melalui halaman mini, itu pun hanya tercover 12 halaman plus tambahan beberapa halaman foto. Tentu sangat jauh dari kesempurnaan. Kita sama sekali tidak akan mendapatkan gambaran utuh apalagi sempurna dari salah satu sosok ‘penguasa’ real estate di Australia ini.

Tapi...

Saat saya merenungi prinsip pertama yang ditawarkan lelaki kelahiran Surabaya ini, pikiran saya terbawa ke dalam sebuah buku Best Seller yang pernah saya baca beberapa tahun silam, The Seven Habits of Highly Effective People karya Steven R. Covey, seorang motivator kepemimpinan kelas Dunia.

Salah satu kebiasaan manusia yang efektif menurut Covey adalah “Begin with the End in Mind”. Prinsip “Start With The End” yang ditulis Ketua Asosiasi Pengusaha peduli Tsunami Aceh tahun 2006 ini mengingatkan kembali tentang pentingnya tujuan, tentang pentingnya hasil akhir. Namun, bagi saya, prinsip pertama yang ditawarkan #FromBorneoToBloomberg Iwan selangkah lebih maju, lebih strategis. Ia tidak hanya berada dalam pikiran, tetapi sudah berpijak dalam kenyataan.

Dalam konteks inilah kekurangan ini disempurnakan oleh Iwan, melalui pemadatan makna dalam setiap tulisannya. Walaupun saat membuka lembaran-lembaran buku ini, Iwan cenderung ‘pelit’ dalam memberikan narasi perjalanan hidupnya. Namun ia memadatkan makna perjalanan hidupnya melalui kebijakan-kebijakan pengalamannya. Ia memulai tujuan akhir itu bukan lagi dalam pikiran, tetapi dalam langkah nyata. Tujuan akhir itu bisa tercapai jika kita memulainya dengan langkah pertama. Seperti yang ditulisnya:

“Success is not a destination but a journey. The first step in our life is to decide where we want to go”
Namun demikian, langkah itu tidak memiliki arti apa-apa jika tidak memiliki navaigasi. Navigasi itu adalah mimpi dan visi. Ia menulis “Your vision and dream have power. Your dream and vision will act like navigators. They Will Remind you are taking the wrong turn. They will help you get to your destination faster.”

Setelah membaca prinsip pertama inilah, saya merasakan kekuatan nyata buku ini. Seperti POWER BANK, buku ini mengalirkan ‘listrik’ yang mampu menyalakan kembali kekosongan visi. Prinsip pertama ini seakan mengingatkan saya kembali tentang visi, tujuan, keinginan yang harus saya capai dalam beberapa tahun ke depan. Mengingatkan kembali masa-masa waktu mahasiswa, masa-masa jomblo, masa-masa labil, bahwa buku menjadi satu-satunya teman hidup yang dapat melecut ketidakbergairahan. “Beruntung saya menghadiri Bedah buku ini, selain mendapatkan buku yang menjadi ‘power bank’ baru buat saya, juga mendapatkan Power Bank beneran, Power Bank dengan merek Merk ‘Crown’, Property Corporate yang dinakhodai pemenang  Entrepreneur Award pada Kongres Diaspora Indonesia.

Ini menjadi alasan utama, kenapa buku ini menjadi layak baca. Buku #FromBorneoToBloomberg diibaratkan sebagai Power Bank. Yang dibutuhkan oleh setiap gadget addict, dibutuhkan oleh mereka yang memperiotaskan komunukasi melalui sarana teknologi tinggi. Melawan mainstream buku autobiografi, yang tebal, lebar, besar dan berat. Buku ini pas di tangan, seperti halnya buku saku. Mudah dibawa kemana-mana, saat ingin menyelami perjalanan sang Penulis pun tidak perlu satu-persatu kata dijelajahi karena sudah focus pada inti setiap halamannya.

Hingga pada lembaran terakhir buku ini, seolah men-charger  diri saya yang terjebak pada rutinitas hidup, untuk kembali dinamis dalam mengarunginya,  #FromBorneoToBloomberg Like a Power Bank

Bukan sekedar Autobiografi
Bagi saya, buku ini bukan sekedar biografi. Percikan pengalamannya betul-betul kaya makna akan hidup. Bagaimana meraih sukses, tidak hanya cukup mimpi, visi, strategi. Bagi Iwan, menjadi baik saja tidak cukup menjadi orang sukses, tetapi orang-orang hebat sudah pasti sukses. Salah satu ciri yang membedakan orang baik dengan orang hebat tertumpu pada komitmen dan sikap. Percikan-percikan pengalaman seperti yang diutarakan pemenang Ernst & Young Entrepreneur inilah yang menjadi penyempurna buku ini.

Melalui percikan pengalamannya kita tahu bagaimana prinsip sukses Sang Penulis dilalui bukan hanya oleh kerja keras, tapi juga kerca cerdas.

Melalui buku yang ditulis dalam waktu 10 hari ini, Iwan mengungkapkan banyak hal yang terkait dengan prinsip suksesnya. Selain bicara Visi dan mimpi (include dalam prinsip #1), ia juga bicara peta hidup,   pentingnya pengetahuan, pentingya ikhtiar, pentingnya strategi (include dalam prinsip #2), pentingnya inovasi dan memilih orang yang layak menjadi pemimpin (include dalam prinsip #3).
Namun, harus dicatat, walaupun kepemimpinan menunjang sukses kita, kesuksesan hanya akan bisa diraih jika kita mengikuti suara hati kita, motivasi yang berangkat dari dalam diri sendiri. Ia juga mengingatkan tentang pentingnya Passion. “Successful are people who are clear about where they want to go from the inside out.” Tulis Iwan.

Campur Tangan Tuhan
Hidup di belahan budaya Barat, tidak lantas membuatnya tenggelan dalam hedonism. Apa yang telah diraihnya selama ini tidak bisa dipisahkan dari campur tangan Tuhan. Kesuksesan Iwan dibarengi dengan sikap religious dalam menghadapi dunia. Dunia bisa diraih jika bisa mendekatkan diri dengan Tuhan. Bagi Iwan, kesuksesan itu bukan karena diri sendiri, tetapi karena ada campur tangan iman dalam diri. Tuhan turut campur melalui ikhtiar yang dilakukannya.

“You Cannot judge your Future by what has happened to you in the past. Your Faith is the substance your Future”

“God Will never allow difficulty to come to you without a divine purpose”

Sebagai seorang yang melibatkan iman dalam melakukan ikhtiar dunianya, ia juga dekat dengan pengkhotbah. Tercermin dari kutipannya dari seorang pendeta yang banyak pengikutnya, Reinhard Bonnke. “God always works with workers and moves with movers, but He does not sit with sitters.
Agar fungsi ‘power bank’ buku ini bisa mengalirkan ‘listrik’ ke dalam jiwa kita, baiknya buka lembar perlembar buku ini. Kecil tapi mampu menyalakan ‘jiwa’ labil. #FromBorneoToBloomberg Like a Power Bank!***[]

INFO Buku
Judul     : From Borneo To Bloomberg, A Combeback Story and 13 Principles For Succes
Penulis  : Iwan Sunito
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun     : 2014
Jumlah Hlm : 268
Bahasa   : Inggris

Balik Bandung Via Kamojang, menuju Perantauan Sambil Berwisata

0

Gunung Cikuray Garut, gambar diambil dari daerah Legok Pulus Samarang [dok. abahraka.com].
[abahraka.com] - Saat melakukan bakti sosial di Kecamatan Ibun, pernah satu kali naik ke Kamojang, jalannya sangat curam, mungkin tanjakannya mencapai 45O. Motor 110 CC harus menggunakan gigi satu, padahal tidak pakai boncengan. Sejak saat itu, cerita-cerita tentang asyiknya mudik melalui jalan Kamojang sudah tidak menarik lagi. Apalagi beberapa tahun lalu, saat wisata ke Kamojang, mobil carry tidak bisa naik dan akhirnya harus balik lagi. Padahal setiap tahunnya, atau setiap kakak (abang) pulang ke rumah ibu, balik lagi ke Bandung selalu melalui Kamojang. Katanya jalanannya melongpong, gak macet.

Belakangan, sejak pemerintah Kabupaten Bandung membangun lingkar Cukang Monteng, jalan baru yang cukup lebar, apalagi dengan ikon jembatan kuning, sebagai ikon baru Kamojang seakan terus ngabibita untuk merasakan indahnya berswafoto di sana. Jembatan Cukang Monteng yang terkenal dengan Kamojang Bridge Hill tersebut sering diberitakan, beredar di media sosial, dan dipublikasikan media massa. Jembatan baru tersebut seakan menjadi daya Tarik wisata baru di wilayah Bandung paling Timur. Kakak pun selalu bilang, jika ingin balik ke Bandungnya tidak macet, jalur Kamojang menjadi pilihan, dibandingkan melalui jalur Cijapati, harus melalui jalur Tarogong-Leles yang menjadi biang macet ditambah juga dengan jalannya yang kecil dan cukup curam juga.

Setelah beberapa tahun lewat, Cukang Monteng kian mentereng di media sosial, diberitakan media nasional, menjadi idola pengendara yang lewat. Baru saya ngeuh, bahwa curamnya jalan Kamojang tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Apalagi setelah satu kali, saya mengunjungi wisata alam Kawah Kamojang. Dengan jalan yang sudah hotmix, pemandangan yang ciamix, dan juga daya tarik jembatan yang menjadi magnet para pejalan yang lewat. Akhirnya meluluhkan hati saya untuk mencoba lewat jalur Kamojang. Jalannya pun sudah sangat memadai dan cukup nyaman untuk pengendara roda dua ataupun empat.

Perjalanan Tarogong Kaler – Kamojang
Rumah saya berada  di antara perbatasan Kecamatan Samarang dan Kecamatan Tarogong Kaler, tepatnya Desa Mekarwangi. Seberang jalan rumah saya sudah masuk Desa Cintarakyat kecamatan Samarang. Jika ada yang bertanya, saya berasal dari mana, biasanya saya jawab dari Samarang tapi masuk kecataman Tarogong. Seperti halnya tempat tinggal sekarang, berada di wilayah Cibiru tapi masuk kecamatan Cileunyi.

Wilayah Kecamatan Samarang Garut berbatasan langsung dengan Kecataman Ibun-Kabupaten Bandung. Di wlayah Samarang terdapat beberapa Hotel Resort seperti Sampireun, Mulih ka Desa, Kamojang Resort, juga resto sunda. Di Samarang juga terdapat destinasi wisata sekaligus restoran Kebun Mawar di wilayah Situ Hapa, Area Konservasi Elang, ataupun arboretum atau kebun Botani yang mengoleksi berbagai macam pepohonan yang juga menjadi perpustakaan herbal serta sumber mata air.

Sedangkan di wilayah Kamojang, setelah melewati wilayah Arboretum, ada beberapa destinasi wisata, selain Kawah Kamojang yang sudah cukup nyaman tempatnya dengan pengelolaan yang cukup baik dan tertata lebih rapih, juga terdapat wisata edukasi pertanian di komplek pemukiman warga atau dekat komplek pertamina. Wahana baru yang bisa saya lihat ada destinasi wisata air panas, outbond, ATV, hutan pinus, jembatan Cukang Monteng.

Gunung Papandayan, gambar diambil dari Legok Pulus [doc. abahraka.com]
Selain tempat wisata yang cukup bisa memuaskan dahaga untuk traveling, sepanjang perjalanan Jalan Kaum/ Samarang menuju Kamojang juga dihiasi pemandangan menakjubkan. Gunung Cikuray dan Papandayan yang menjadi salah satu ikon para climber Jawa Barat khususnya, menjadi latar perjalanan saya hingga sampai di daerah Legok Pulus. Cikuray dan Papandayan yang biasanya sering terlihat terpisah dan berjauhan saat saya lewati  kini seakan berdampingan. Takjub.

Gunung Papandayan, dilihat dari kejauhan begitu eksotik dengan pemandangan bekas letusan kawahnya.  Menambah asyiknya perjalanan. Bahkan saya sampai berhenti beberapa kali untuk menyaksikan kedua Gunung tersebut. Selain kedua gunung yang cukup terkenal di Garut tersebut, hamparan sawah dan palawija yang terhampar luas, memberikan aura kesejukan udara di Garut. Perjalanan sepanjang 15 km dari rumah hingga melewati Samarang tidak terasa dan akhirnya memasuki wilayah Randu Kurung yang sudah tidak lagi terdapat persawahan.

Randu kurung merupakan salah satu wilayah penghasil akar wangi terbesar yang terkenal di Garut. Masih menjadi bagian dari Kecamatan Samarang. Sepanjang perjalanan melewati Randu Kurung menyuguhkan pepohonan tinggi, perkebunan, khususnya kebun akar wangi dengan rumput tinggi-tinggi. Juga pertanian nonpadi dengan palawija atau sayur mayor, tanaman jangka pendek.

Melalui jalanan yang kosong, sepoinya angin Randu Kurung terasa sangat sejuk. Tanpa ada tat tit tuut bunyi klakson yang ingin menyalip kendaraan kita, motor yang saya kendarai bisa dengan santai dijalankan. Kanan kiri pohon tinggi-tinggi, dari jabon, suren, pinus, hingga jati.

Memasuki Legok Pulus, suasana berganti seperti puncak. Dengan bebukitan saling menonjolkan diri, tak beda jauh dengan pemandangan bukit Teletubbies. Kanan kiri bukit dipenuhi dengan tanaman pertanian jangka pendek atau sayur-mayur. Truck sayuran pengangkut hasil pertanian beserta alat penimbangnya menambah indahnya kesan pedesaan.  Penjual hasil tani pinggir jalan siap menjajakan  sayur dan buahnya kepada para pengendara dan pejalan. 

Legok Pulus terlewati, kita akan melewati wilayah Arboretum Citepus, yang menyimpan koleksi berbagai jenis pohon hingga mencapai sekitar 800 jenis. Termasuk buah-buahan yang sudah langka di pasaran seperti Kesemek, Pisitan, Kupa, dan lainnya. Area Arboretum terlewati kita akan menemukan kawasan Wisata Edukasi Konservasi Elang, masih termasuk Daerah Garut tepatnya Kecamatan Samarang. Menurut sang guide, hampir 70 %  jenis Elang dari 700an varietasnya ada di Indonesia, sehingga menjadi satu kewajaran jika harus ada konservasi elang di Indonesia. Dan Destinasi Konservasi Elang Samarang tersebut satu-satunya di Indonesia. Sebagai bentuk keprihatinan terhadap maraknya jual beli Burung Elang yang dilindungi di Indonesia. Konservasi Elang ini disponsori oleh #Pertamina. 

Baru sampai pada wilayah perbatasan Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung dan Kecamatan Samarang, pengendara akan disambut dengan Gapura Selamat Datang di Desa Wisata Ibun dengan gambar foto Bupati Bandung. Kanan kiri begitu rimbun dengan pepohonan. Hutan konservasi tersebut di antaranya dipenuhi pohon pinus yang bisa dijadikan sebagai tempat berteduh. Sebalah kanan jalan menunggu para pencari rizki dengan saung-saung sederhananya. Beberapa motor berhenti untuk menyicipi dinginnya alam Ibun dan sekedar mencicipi seduhan mie rebus dan kopi.

Gapura perbatasan Kab. Garut dan Kab. Bandung [doc. abahraka.com].
Melewati Gapura Selamat datang, akan disuguhkan dengan berbagai plang pertamina dan masuk komplek pemukiman warga. Persis seperti kota di tengah-tengah hutan. Dengan jalan hotmix yang rapih. Aura suasana seperti dalam latar film-film Hollywood tampak terasa. Sebuah kota yang jauh dari kebisingan tetapi tersedia segala kebutuhan. Seperti tampak bukan desa dengan bangunan yang cukup mewah. Salah satu yang membuat suasana tersebut adalah komplek perumahan Pertamina. Di komplek ini juga terdapat salah satu wisata edukasi pertanian; mulai dari tanaman jangka pendek (sayur) juga tanaman menahun.

Melewati komplek pemukiman warga, piva-piva besar sudah mulai tampak. Piva penghantar gas bumi tersebut masih milik pertamina untuk disalurkan dan diolah ke PT Indonesia Power dan menjadi bahan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang. Jalur ini sekaligus juga jalan menuju Kawah Kamojang. Banyak pengendara berhenti, pedagang asongan juga sudah mulai meminggirkan roda dagangannya. Sebagian pengendara hanya sekedar istirahat, sebagian lain tampaknya berencana mengunjungi Kawah Kamojang.

PLTP Indonesia Power Kamojang [doc. abahraka.com].
Melewati area PLTP dan jalan menuju Kawah Kamojang, baru kita menemui jalan baru yang masih segar, dengan beton yang kokoh dan ukuran cukup lebar. Inilah yang dimaksud dengan Lingkar Cukang Monteng. Lingkar Cukang Monteng lebih mirip jalan tol, jalan tanpa hambatan. Di ujung Cukang Monteng, Jembatan Kuning menyambut. Inilah yang menjadi ikon baru daerah Kamojang yang dahulu terkenal dengan Kawahnya.

Saat ke daerah Kamojang, Kawah bukan satu-satunya tujuan wisata alam. Tapi Kamojang juga menyediakan tempat wisata lain seperti disebutkan di atas; Kolam Renang, Outbond/ ATV, Trail, Hutan Pinus, atau Jembatan Cukang Monteng yang saat penulis Balik Bandung sudah dipenuhi pengunjung yang sengaja berhenti untuk berswafoto. Saya berswafoto? Gak ah! Cukup ambil satu foto saya untuk sekedar mewakili bahwa saya pernah berkunjung atau melewati tempat ini.

Jalan Cukang Monteng

Lingkar Cukang Monteng

Kamojang Hill Bridge, tempat favorit swafoto
Lain kali, mungkin bisa semakin sering mudik atau balik Bandung lewat tempat yang memanjakan mata dengan hehijauan ini dan pemandangan langka ini.***[]