Kopi dan Buku

Kopi dan Buku

4
Sebuah kiriman dibagikan oleh Dudi R (@abahraka) pada

Setiap membaca buku, seringkali rasa kantuk datang. Padahal buku yang harus dibaca adalah buku yang cukup menarik untuk dilahap. Alhasil, menjadi cara yang disadari, jika ingin mengundang kantuk adalah membawa buku ke tempat tidur, agar tidak mesti lagi pindah tempat. Ini seakan menjadi kebiasaan sejak SMA dan kuliah.

Namun seiring pekerjaan yang harus sering berjibaku dengan buku, termasuk buku-buku yang seringkali tidak menarik untuk dibaca, karena tuntutan pekerjaan, mau tidak mau harus berteman dengan buku. Sayang sejak kuliah, maag seperti menjadi penghalang agar mata ini tetap terjaga. Penyakit maag yang kronis menjadi phobia saat berhadapan dengan kopi. Padahal kopi bisa menyegarkan konsentrasi dan membantu agar tetap fokus.

Belakangan, muncul iklan “kopi putih” di televisi yang katanya aman bagi lambung, saya pun mencoba beberapa kali dan saya coba juga kopi hitamnya dari brand yang sama. Pertama dengan kopi putih, tidak menyelesaikan persoalan, setiap setengah gelas habis saya teguk, masalah mulai datang, perut mulai gemetaran hingga akhirnya turun ke lutut alias salatri. Ini artinya bahwa walaupun sudah makan, perut ini meminta kembali untuk diganjal dengan makanan cukup berat.

Saya coba dengan brand kopi hitamnya. Beberapa kali mencoba, memang cukup segar. Tetapi setelah seminggu mengkonsumsi dengan masalah yang bisa diminimalisir. Persoalan baru datang. Saya stress berhadapan dengan jenis nasi dan makanan lain. Sampai-sampai ketika lapar akhirnya malah tambah stress karena hampir dipastikan tidak akan ada asupan makanan. Entah berasal dari kopi hitam atau bukan, yang jelas saat stok kopinya habis, sedikit-demi sedikit, tingkat stress saat menghadapi nasi mulai berkurang dan kembali seperti semula lagi, alias rewog.

Kopi pun menjadi phobia, kopi jenis apapun, terlebih lagi kopi hitam dari jenis sobek. Mencium aromanya saja dari kebulnya, kepala ini sudah pusing dan perut mual.  Alhasil, hanya bisa iri dengan teman-teman yang bisa asyik menikmati secangkir kopi, apalagi dengan rokok di tangan. Sepertinya surga dunia banget.

Ya phobia dengan kopi! Bukan sesuatu yang patut dibanggakan, bahkan merasa tidak sempurna menjadi makhluk sosial karena tidak bisa bersosialisasi dengan secangkir kopi. Padahal tagline sebuah warung kopi di kawasan Gading Tutuka Dari Ngopi Jadi Dulur. Apakah saya tidak bisa menjali pertemanan dengan perantara secangkir kopi? Karena dengan sebatang rokok sudah mulai dikurangi!

Karena phobia, beberapa kopi hasil mahugi hanya menjadi pajangan dalam toples dan sebagian entah sudah berapa gram jadi milik tetangga dan saudara. Sebelum akhirnya tahu bahwa kopi-kopi yang menyebabkan tingginya asam lambung saat mengkonsumsi kopi bukan dari kopi sendiri tapi dari bahan kimia yang menjadi campuran kopi.

Pada 2015 tanpa sengaja mampir di sebuah warung kopi di bilangan Merdeka Garut. Masterblackcoffee. Di Garut, cafe-cafe sudah mulai menjamur dengan menyediakan berbagai aneka makanan berat dan camilan ringan plus yang tidak ketinggalan adalah kopi.

Dari hasil nongkrong tersebut dan dengan ragu-ragu memesan kopi dengan kadar yang minim. Momentum silaturahmi dengan beberapa mahasiswa tersebut yang membukakan wawasan saya tentang kopi, hingga akhirnya saya tulis menjadi semacam feature tentang kopi. Ini tulisannya: Kopi Garut.
Saya tidak hanya mengenal jenis kopi yang secara general terbagi dua; robusta dan arabica. Saya juga mengenal bagaimana roasting atau penyangraiannya. Saya juga kenal rasanya. Bagaimana robusta dan arabica. Sejak saat itu, kopi hasil mahugi yang masih awet dalam toples saya coba seduh. Kopi Aceh. Terkenal enaknya. Kebetulan saat gathering dengan salah satu brang pengiriman kilat, sang manager bicara tentang kopi. Saya coba metodenya. Cukup berhasil. Melalui satu seduhan dengan metode yang saya lakukan ternyata tidak membuat perut gemeteran ataupun lutut menjadi lemes.

Satu kali dua kali tiga kali, akhirnya 200 gram kopi dalam toples habis juga. Tanpa menyisakan sakit perut atau lapar yang mendadak seperti sebelum-sebelumnya. Tidak juga muncul rasa gelisah karena perut menjadi panas.

Tulisan tentang kopi aman bagi penderita maag: Tips Ngopi bagi Penderita Maag. 

Dari pengetahuan sedikit tentang kopi, banyak ngobrol tentang kopi. Tahu sedikit bahwa kopi sobek banyak campuran termasuk bahan kimia, walaupun dalam batas normal sehingga membuat lambung tidak nyaman. Salah satu cirinya adalah saat kita buang air kecil, bau air seninya seperti bau kopi yang kita minum. Bisa dibuktikan! Minum satu gelas kopi putih dari brand apapun, saat buang air kecil baunya menyerupai aroma kopi.

Dari pengalaman minum kopi tubruk tersebut, mengantarkan pada pencarian pengetahuan tentang kopi lagi. Bukan hanya sekedar menikmati tapi juga menjadi semacam obat agar setiap kali berjibaku dengan buku bukan rasa kantuk yang saya dapat, tapi konsentrasi dan rasa percaya diri!

Al hasil sejak bertemu dengan barista masterblackcoffee itulah tahu, entah jadi sugesti, kini menjadi penikmat arabica. Robusta pun tidak menjadi masalah selagi disajikan dengan cara sendiri hehehe. Jika pun harus pesan di warung khusus kopi (bukan warung indomie) asal sesuai dengan permintaan, sepertinya tidak terlalu bermasalah dengan perut.

Kini, kopi bukan soal gaya hidup, karena percuma disajikan dengan tingkat seni yang tinggi dan mahal jika akhirnya harus berjibaku dengan perut yang mulai nendang-nendang karena lapar mendadak atau ngajak pulang karena gemeteran. Kopi adalah soal kerja keras, soal konsentrasi, dan tentu menjadi masa depan. Karena beberapa kulian dan atau sampingan selalu berjibaku dengan buku. Kopi kini menjadi teman baru yang bisa melengkapi saat harus membuka lembaran-lembaran buku. Bahkan buku yang sama sekali tidak disukaipun.

Kopi dan buku kini menjadi paket lengkap agar bisa berkencan di malam minggu, saat sesekali anak dan isteri lebih memilih beristirahat.

Kopi dan buku, bukan gaya hidup. Tapi bagaimana soal bisa menikmati pekerjaan tanpa harus berlelah-lelah. Kopi dan buku bukan soal pamer di media sosial, tapi bagaimana keduanya bisa menjadi teman agar cita-cita yang belum kesampaian bisa diwujudkan. Dan tentu saja dengan tetap berharap bahwa perutku baik-baik saja.


Mau Liburan Ke Kalimantan? Tempat Ini Jadi Pilihan Favorit Guys!

0
Liburan, paling asyik jika mengunjungi tempat-tampat paling alami. Biasanya sih, kalu sudah jenuh tingkat Dewa, saya lebih memilih destinasi alam seperti pantai, danau, atau gunung. 

Nah, jika menyingung tentang destinasi wisata di Kalimantan, salah satu yang muncul pada benak kita tertuju pada salah satu pantai dengan keindahan maksimal, pulau Derawan. Eits! Jangan salah, Kalimantan tidak melulu pulau Derawan loh. Masih banyak destinasi wisata yang patut dicoba untuk jadi tujuan berlibur. Ngomong-ngomong soal liburan, hal pertama yang masuk dalam perhitungan adalah alat transportasi apa yang akan tersedia agar sampai ke tempat tujuan. Dari banyak maskapai penerbangan di Indonesia, Kalstar Aviaton adalah salah satu maskapai penerbangan yang siap menerbangkanr kita berkeliling Kalimantan, mengantarkan dari satu tempat wisata ke destinasi lainnya.
Lalu, destinasi apa saja yang bisa kita singgahi dengan Kalstar Aviation? Hmm pastinya penasaran! Yuk kita cek beberapa rekomendasi destinasi wisata di Kalimantan berikut ini, biar liburannya gak nyesel dan puas!
Pulau Beras Basah
sumber gambar: bontang.prokal.co
Berkeliling Kalimantan kali ini kita awali dari kota Bontang, Kalimantan Timur. Meskipun Kota Bontang terkenal akan industrinya, tapi jangan salah, kota ini juga memiliki surga tersembunyi loh. Surga itu bernama Pulau Beras Basah. Pulau mungil yang terletak di lepas pantai ini bisa kamu tempuh dengan waktu perjalanan sekitar 45 menit dari Pelabuhan Tanjung Laut.
keistimewaan pulau ini terletak pada keindahan bawah lautnya yang eksotis. Tak hanya itu, terdapat mercusuar menjulang tinggi yang menambah daya pikat wisatawan yang datang. Pasirnya yang bersih dan berwarna putih akan membuat kamu betah lama-lama berdiam diri di pulau ini.
Bukit Bangkirai
sumber gambar: guideplanet.com
Destinasi wisata yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara ini merupakan kawasan hutan hujan tropis yang masih sangat alami. Di destinasi kali ini, kamu bisa menguji adrenalin dengan menapaki Jembatan gantung bernama jembatan Tajuk. Di atas jembatan yang menghubungkan pohon bangkirai satu dengan pohon bangkirai lainnya ini, kamu akan disambut dengan kicauan burung yang bersahut-sahutan, seakan tidak ada habisnya. Di kawasan ekowisata ini juga terdapat pohon bangkirai yang berusia sekitar 150 tahun.
Ingin berlama-lama di sini? tenang saja, Bukit Bangkirai juga dilengkapi fasilitas seperti camping ground, cottage, kolam renang, dan juga restoran.
Pantai Melawai
sumber gambar: indonesiawow.com
Untuk menuju desinasi wisata yang satu ini tidak perlu repot-repot, karena letaknya berdekatan dengan pusat kota. Pantai Melawai namanya, berlokasi di Kota Balikpapan, pantai ini selalu ramai dikunjungi saat sore hari. Cobalah untuk melihat sunset di pantai ini, pasti kamu akan merasakan pengalaman melihat sunset yang tak bisa kamu jumpai di tempat lain. Pasalnya, saat matahari mulai terbenam, dari kejauhan nampak siluet kapal-kapal barang yang hilir mudik di pelabuhan Semayang. Dan jika matahari sepenuhnya terbenam, pemandangan flare gas dari kilang cerobong minyak akan Nampak dari kejauhan.
Danau Sentarum
sumber gambar; ksmtour.com
Banyak yang menjuluki Danau Sentarum sebagai danau ajaib, pasalnya danau ini memiliki dua “penampakan” yang berbeda. Jika kamu berkunjung pada musim kemarau, danau ini berubah menjadi hutan dengan sedikit air yang mirip kubangan. Tapi saat musim hujan tiba, air akan membajiri seisi hutan yang jika dilihat dari kejauhan akan nampak indah dan mempesona.
Saat air danau sedang naik, kamu bisa berkeliling menyusuri danau dengan menyewa perahu motor penduduk sekitar.
Pasar Terapung Muara Kuin
sumber gambar; otonomi.co.id
Pasti kamu pernah melihat atau mendengar pasar terapung kan? Ya, pasar terapung adalah pasar tradisional yang para pedagangnya berjualan di atas perahu atau jukung. Jika selama ini kamu hanya melihat pasar terapung lewat layar televisi, cobalah untuk merasakan langsung kearifan lokal dari Pulau Kalimantan. penasaran? Langsung saja menuju ke Banjarmasin.
Itulah beberapa rekomendasi destinasi wisata di Kalimantan yang bisa kamu kunjungi dengan Kalstar Aviation.
Selamat berlibur!

Anak Main Gawai? Why Not!

0
sumber gambar: tempodotco
Jika kebetulan kumpul bareng dengan sanak family atau teman-teman lama, membawa serta pasangan dan anaknya, pemandangan anak yang bermain gadget menjadi hal lumrah. Kadang kasian sama anak sendiri, di saat teman-temannya asyik main game dan buka-buka youtube, anak saya malah menggelendot ke Amihnya atau merengek-rengek ke Saya minta main game di hape jadul.

Sedih juga memang, seperti yang punya rasa rendah diri gitu, mungkin dalam hatinya berkata, “kok akang (panggilan untuk anak pertama) gak di kasih gawai ya”. Teman-teman dan sodaranya pada pegang gawai…hmm bener-bener sedih!
Tapi rasa sedih itu barangkali perasaan yang tidak tepat, karena sebagai orang tua tidak punya pendirian untuk mendidik anak. Di samping karena memang anak tidak dibelikan gawai secara khusus, sekalipun yang murah. Sepertinya saya belum sanggup secara mental memberikan mainan canggih tersebut.
Apalagi setelah konsultasi,  katanya gadget berbahaya untuk anak-anak. Seorang rekan cukup kaget pada saat tahu anak-anak saya main gawai,”Apaaa? Udah dikasih hape? Ujarnya setengah berteriak, seperti kaget.
Rekan yang seorang psikolog juga memberikan gadget kepada anaknya saat anaknya, itupun dengan syarat. Sehingga dia sangat tidak menyarankan kepada anak-anak apalagi masih balita untuk memberikan mainan gawai.
Tambah yakin saja jika anak tidak diberikan gawai!
Tapi belakangan terbersit atau semacam tersadarkan—mungkin juga sejenis kesadaran palsu bahwa hari ini dunia sudah berubah. Sarana didik untuk anak 20 tahun lalu atau saat saya lahir 30 tahun lalu atau saat rekan saya lahir 40 tahun lalu berbeda dengan yang lahir tahun 2000-an. Saya pun berpandangan bahwa anak harus dikenalkan dengan dunia saat dia lahir bukan saat orang tuanya lahir.
Berdasarkan keyakinan itu, saya akhirnya bersepakat dengan isteri memberikan pengenalan gawai dengan langsung pendampingan. Satu atau dua jam. Jika youtube dipastikan kartun-kartun anak, jika game yang tidak berbahaya bagi perkembangan kognitif. Selain juga didampingi dengan video-video pendidikan melalui VCD.
Anak Hidup dengan Dunianya
Sebagai orang tua yang baru memiliki anak Balita atau menjelang lewat golden age, memang ngeri-ngeri sedap dengan perkembangan teknologi hari ini. Begitu pesatnya hingga bisa menyesatkan. Gara-gara gadget anak bisa anak bisa celaka. Bukan hanya bagi anak tapi juga remaja atau orang tua sendiri. Tidak sedikit terkena boomerang dari gadget. Bahkan, cerita saudara yang memiliki tetangganya membiarkan anaknya bermain gadget, sementara orang tuanya bekerja anaknya bebas mengakses youtube dan aplikasi lainnya hingga masuk ke konten pornoaksi. Hampir setiap hari konten tersebut diaksesnya. Dan ia begitu bangga mempertontonkan tontonannya ke tetangga-tetangganya. Sang anak tidak faham bahwa konten tersebut ‘haram’ diakses.
Gadget tidak haram, gadget juga tidak berniat untuk menjerumuskan. Bahkan kehadirannya berniat untuk mempermudah aktivitas keseharian. Kehadirannya harus dimanfaatkan bukan justeru menjadikan malapetaka. Banyak konten yang bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk anak-anak. Banyak juga konten positif yang bisa menginspirasi anak untuk melakukan seperti yang diajarkan oleh konten tersebut.
Sebagai anak kandung teknologi, sudah seharusnya anak tidak asing dengan gadget, justeru mereka harus piawai menggunakannya. Generasi milenial adalah mereka yang lahir bukan hanya karena saat mereka lahir sudah maju teknologinya, tapi juga harus disemangati dengan ruhnya. Cepat belajar, cepat berkomunikasi, Cepat berfikir, kreatif, inovatif, pantang menyerah, kritis, dan lain sebagainya. Bagaimana mau menjiwai sisi positif tersebut, jika anak dijauhkan dari ‘benda’nya.
Hanya saja, agar tidak menjadi boomerang, orang tua dituntut tetap awasi anaknya, mengikuti anaknya sampai detil apa yang sedang ditonton dan dimainkan.
Saya pribadi, memberikan gadget kepada anak khusus hari minggu. Itu pun tidak ada akses internet agar anak tidak membuka situs atau konten negative. Dengan begitu, anak tetap mengenal dunianya. Anak mengenal bahasanya sendiri seperti halnya dengan anak-anak lain.
Beberapa situs dan artikel, menulis jika anak tepat bermain game dan menonton dengan porsi yang cukup, akan mempercepat konstruksi saraf kognitif anak. Hal ini akan mempercepat proses pembelajaran anak. Ini menjadi nilai positif. Sekali lagi dengan porsi yang tidak berlebihan. Jangankan anak, orang tua jika kerjanya selama 8 jam duduk, tentau menjadi penyakit. Begitu juga dengan anak.
Oleh karena itu, biarkan anak hidup di dalam dunianya. Jangan dibawa ke dunia kita yang berbeda. Dalami dunianya, jika mampu dan bisa kita bisa masuk ke dunia anak juga agar kita bisa melihat dan merasakan dunianya.
#catatandiujungsenja



Petik Jeruk Eptilu; Antara Wisata Edukasi dan Bangkitnya Kenangan

Petik Jeruk Eptilu; Antara Wisata Edukasi dan Bangkitnya Kenangan

0
Asyiknya main di kebun jeruk
Mudik, bukan hanya sekedar bertemu keluarga besar, bersilaturahmi dengan sanak famili. Mudik juga, membuka kesempatan untuk berlokawisata. Mengenang kembali, tempat-tempat bermain masa kecil, setelah belasan tahun merantau ke kota. Mudik tahun ini berbeda dengan mudik sebelumnya, yang biasanya melakukan lokawisata ke tempat-tempat yang sudah beberapa dikunjungi. Lokawisata yang saya lakukan tergolong tempat wisata baru. Yaitu wisata edukasi petik jeruk Garut.

Memasuki kebun dan memetik jeruk seakan mengenang masa kecil penulis yang sering menghabiskan waktu bermain di kebun jeruk, karena ayah seorang petani jeruk; beragam varietas jeruk ada di kebun, setidaknya ada 4 varietas yang ditanam saat itu; Keprok (jeruk Garut), Siem, Konde, dan Jeruk Purut. Sebelum akhirnya, semua pohon jeruk di lahan seluas 120 tumbak tumbang karena terjangkit virus pada tahun 1987 yang disebabkan semburan abu Gunung Galunggung tahun 1982. Sejak itu perkembangannya terhambat, Jeruk Garut pun tidak terdengar lagi gaungnya.

Pada puluhan tahun silam atau setidaknya 30-an tahun yang lalu, jeruk merupakan salah satu ikon kabupaten Garut yang dijadikan produk unggulan, dan menjadi salah satu unsur penyusun lambang pada logo pemerintahan. Garut pada masa itu menjadi kota penghasil jeruk dengan jumlah tanaman mencapai 1,3 juta pohon, seperti ditulis oleh situs Pemerintah Kabupaten Garut (garutkab.go.id).

Pada tahun 1999, setelah karam hampir 17 tahun, pemerintah Kabupaten Garut mencanangkan kembali agar jeruk menjadi produk unggulan dan menjadi salah satu subsektor tanaman pertanian karena prospektif dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pada tahun ke-4, seperti ditulis oleh garutkab.go.id, pada masa penanaman, 500 pohon jeruk bisa menghasilkan keuntungan hingga 39 juta.

Hal inilah yang dilakukan oleh H. Dikdik terhadap kebun sayurnya seluas 1,2 hektar, disulap menjadi 800 pohon jeruk sejak 3,5 tahun yang lalu. Eptilu—nama kebun jeruknya, digagas oleh seorang petani sayur tersebut bersama anaknya Rizal Fahreza sebagai pengembang, dan Akhmad seorang peneliti. Eptilu sendiri merupakan akronim dari Fresh From Farm yang menyesuaikan dengan lidah orang Garut, umumnya orang Sunda—F3 menjadi eptilu.

Sejak Pebruari 2017, Eptilu tidak hanya memproduksi jeruk Siem yang dikawinkan dengan Jeruk Garut, juga membuka wisata edukasi Petik Jeruk. Wisata Edukasi ini berkonsep seperti nama kebunnya Eptilu—Fresh From Farm, bisa dinikmati langsung buah jeruk selagi masih segar karena baru dipetik dari pohonnya.

Dasep, sang pengelola, menjadi penggagas wisata edukasi petik jeruk setelah mengambil pelajaran dari tiga kali penyelenggaraan event Nyaneut Festival yang diselenggarakan 3 tahun berturut-turut sejak 2014. Melalui wisata edukasi ini, pengunjung juga bisa menikmati panganan khas Priangan Timur seperti Teh Nyaneut/ teh Kejek, ubi, singkong, ganyong, talas, kremes, bandrek, bajigur, atau kopi khas Garut. Setelah memetik jeruk, pengunjung bisa mampir ke Saung Nyaneut yang berada di area kebun. Saung ini menjadi pusat interaksi antara pengelola dan pengunjung dengan bangunan saung paling luas. Di saung ini, pengunjung bisa membeli oleh-oleh cangkir dan piring anyaman dari bambu yang langsung dibuat di area kebun.

Memetik jeruk yang benar adalah dengan meninggalkan batang pada buah jeruk, sehingga kulit jeruk tidak menempel pada pohon jeruk. Menurut Dasep, cara memetik yang benar adalah dengan memotong dan meninggalkan batangnya sepanjang dua centimeter pada buahnya. Cara memetiknya pun bukan dengan dipetik menggunakan tangan, tetapi dipotong menggunakan gunting. Dengan begitu, pohon jeruk akan terhindar dari jamur. Karena jika kulit jeruk masih menempel pada batang, pohonnya akan terkena jamur dan mengganggu sistem imun pohon. Jika jeruk sudah terkena jamur biasanya akan mengganggu dan menghambat proses pembuahannya.

Oleh karena itu, setiap rombongan pengunjung akan didampingi oleh seorang guide untuk menunjukan cara memetik yang benar. Selain untuk menunjukan area mana saja yang boleh dipetik buahnya. Karena tidak semua pohon bisa dipetik, agar jeruknya tidak habis dalam satu waktu. Ini menjadi salah satu taktik dari pengelola, walaupun bukan musimnya, pengunjung tetap bisa menikmati wisata petik jeruk.

Pengelola menerapkan disiplin dalam pemetikannya, sehingga berdampak hasil yang maksimal. Pohon jeruk yang berumur 3,5 tahun tersebut, selama satu tahun terakhir sejak panen pertama pada Bulan Juni 2016 terus berbuah sepanjang bulan hingga Juni 2017. Proses pembuahan kembali setelah masa petik oleh pengunjung ditunjukan oleh Haji Dikdik selaku pemilik yang hadir di area wisata. Tunas-tunas yang tumbuh pasca petik menjadi ciri jika pohon jeruk yang ditanamnya berbuah sepanjang masa. Proses tumbuh tunas ini dialami oleh semua pohon jeruk yang telah dipetik. Padahal jeruk merupakan tanaman musiman. Yang akan berbuah pada musim/ bulan tertentu saja seperti halnya rambutan atau mangga. Pengelola pun tidak kehilangan muka jika setiap harinya pengunjung terus berdatangan untuk merasakan jeruk fresh from farm.

Untuk edukasi wisata petik ini, Dasep membedakan dua jenis pengunjung, yaitu pengunjung umum atau keluarga dan jenis wisatawan dari perguruan tinggi khususnya dari program studi pertanian. Untuk pengunjung umum, edukasi hanya sebatas pada cara pemetikan yang benar. Sedangkan untuk pengunjung dari perguruan tinggi atau yang berniat observasi, edukasi dilakukan secara mendalam; cara okulasi, penanaman, pengetahuan tentang varietas jeruk, pengetahuan tentang hama atau virus jeruk dan lain sebagainya.

Untuk petik jeruk, pengunjung hanya diperbolehkan memetik seberat 1 kg/ orang. Pengelola akan membekali keranjang dan gunting dan di arahkan ke area yang boleh dipetik.
Setelah buka pada bulan pertama dan langsung diliput oleh salah satu televisi swasta nasional, peminat wisata petik jeruk ternyata banyak yang berasal dari luar Garut khususnya Bandung, jakarta dan sekitarnya. Yang awalnya hanya petik jeruk sambil ngemil panganan khas, ternyata pengunjung juga banyak yang menanyakan makanan berat. Dengan konsep manajamen keluarga, akhirnya sang Ibu ikut terjun sebagai juru masak.

Makanan berat yang disediakan adalah masakan khas sunda yaitu nasi liwet, gepuk, dendeng, ayam goreng, ikan goreng, tumis-tumisan diantaranya kangkung dan genjer, juga goreng petai, jengkol, asin peda, jambal roti, dan lainnya.

Setelah pengunjung menikmati hijaunya kebun dan memilih milah jeruk yang paling segar untuk dipetik. Pengunjung beristirahat di saung sambil menikmati Nasi Liwet dengan segala jenis lauknya. Oleh karena itu, karena konsepnya wisata keluarga, ada batas maksimal agar pengunjung bisa menikmati wisata ini, yaitu minimal 5 orang. Hal ini menyesuaikan dengan luas saung yang disediakan pengelola.

Jika pembaca pernah menyaksikan/ menonton Nyaneut Festival (tulisannya pernah dimuat di Pikiran Rakyat edisi 6 Januari 2016), nasi liwet ini pernah dinikmati oleh pengunjung. Dengan khas taburan kentang dan teri medannya yang terasa gurih. Setelah bercape-cape memetik jeruk, pengunjung bisa dengan lahap menyantap liwet khas Nyaneut tersebut. Ayam Goreng dan Sambal khas Nyaneut menambah selera makan penulis. Apalagi jika lauknya diganti goreng ikan mas atau nila yang khas dari kolam ikan Cikajang hmm tentu akan menambah selera.

Sebelum makan kita cicipi terlebih dahulu jeruk Garut yang fresh from farm, agar memenuhi sunah Nabi, selesai makan juga cuci mulutnya dengan rasa manis jeruk yang ada asam-asamnya. Segar jeruknya, pemandangannya, juga alamnya.
Re-Blog dari soultrips.id

Bulan (Momentum) Pencitraan

0
Ilustrasi. Sumber: pikiran-rakyat.com
Ramadan telah usai, Iedul Fitri telah kita lalui. Namun masih ada yang tertinggal di jalan-jalan dan setiap persimpangan dan tempat-tempat ramai; mereka yang hendak maju dalam kontestasi politik dalam satu atau dua tahun ke depan. Entah itu pemilu 2019 atau Pilgub 2018. 

Inilah salah satu nilai plus dari berkah ramadhan, setiap profesional dan pekerja politik menemukan momentumnya, mereka berlomba-lomba bersilaturahmi agar bisa menampilkan diri kepada konstituennya; dengan buka bersama, tarawih keliling, berbagi dengan anak yatim, halal bihalal/ open house bersama dengan warga atau cara lain agar mereka bisa lebih dikenali. Di setiap sudut kota, jalan-jalan protokol, atau batas kota mereka hadir melalui beragam spanduk atau baligo. Mereka juga mendatangi tokoh-tokoh agama lalu mereka sebar melalui media sosial. Ada juga yang diliput oleh media massa agar mendapatkan magnitude yang lebih menggema.

Tidak berhenti pada bulan ramadhan, memasuki bulan syawal atau menjelang idul fitri, iklan layanan ucapan idul fitri membanjiri tayangan di antara iklan-iklan komersil. Spanduk-spanduk ucapan ramadhan berganti dengan wajah baru yang lebih segar dengan verbalitas iedul fitri. Sebagian dari mereka kita kenal, sebagian lagi wajah baru. Mereka semua memiliki ekspektasi agar bisa manggung di arena politik dalam tahun yang semakin mendekat, pilkada atau pemilu.  

Bulan dan Tahun Momentum
Bulan Ramadan dan Syawal 1438 H menjadi momentum untuk menyosialisasikan diri kepada publik. Berusaha mengikat pikiran dengan banyak memerankan diri sebagai bagian dari rakyat. Wajah-wajah penuh ekspektasi bersemangat menatap tahun 2018 untuk pemilukada dan 2019 untuk Pemilu. Dua bulan Islam ini menjadi momentum dalam melakukan publikasi diri. Suatu kegiatan yang memerankan dan menampilkan dirinya terlibat dalam kegiatan sehari-hari yang rutin (berulang setiap tahun) bersama penganut agama mayoritas. Nilai publikasinya (newsvalue) sangat kuat. Untuk mengukur seberapa kuatnya newsvalue ini, cermati saja bagaimana media massa memblow up secara besar-besaran dua bulan ini yang penuh rahmat dan berkah ini.

Dalam konteks komunikasi politik, apa yang dilakukan oleh politisi, meminjam pernyataan Dan Nimmo, merupakan kegiatan mental seseorang  yang membayangkan kepercayaan, nilai dan pengharapan orang lain tentang dirinya, membandingkan kesimpulan itu dengan pendirian sendiri, dan menerapkan perilaku sesuai dengan hal itu. Oleh karena itu publikasi ramadhan dan iedul fitri menjadi momentum yang tepat untuk memberikan karakterisasi dan peran diri di tengah-tengah masyarakat sehingga pengharapan akan dirinya diterima dan terikat dalam pikiran masyarakat bisa mendekat sedini mungkin dan dalam rentang waktu yang lama (awet) hingga waktunya pemilu 2019. Newsvalue-nya tinggi, sehingga mendapatkan tempat yang layak di hati masyarakat. Tingkat kepercayaannya lebih tinggi dibanding dengan iklan politik. 

Proses pemeranan diri di tengah-tengah masyarakat pada dua momentum ini kadang penuh permainan. Kita bisa cermati, bahwa tidak hanya politisi yang menjalankan ritual ini saja yang melakukan publikasi politik, juga nonmuslim.
Proses interaksi tersebut, meminjam istilah Erfing Goffman (Mulyana, 2011), adalah proses dramaturgi, merupakan suatu drama secara kiasan yang ingin menciptakan kesan yang diharapakan bisa tumbuh dari orang lain terhadapnya. Ia ingin menciptakan makna atas publikasinya sebagai bagian dari ekspresi keagamaan seperti halnya dilakukan kebanyakan calon pemilihnya nanti. Jika hal ini terus-terusan dilakukan maka wajahnya akan terikat dalam alam pikiran masyarakat. Dalam prosesnya, seorang politisi sedang berikhtiar mengatasi gangguan-gangguan komunikasi politik dengan calon pemilihnya kelak melalui berbagai simbol komunikasi, baik verbal ataupun nonverbal.
Untuk menciptakan kesan tersebut, maka tampilan politisi dibuat sedemikian rupa sehingga seperti diungkapkan Guru Besar Komunikasi, yang juga Dewan Redaksi Pikiran Rakyat; pertama diri politisi membayangkan bagaimana tampil bagi orang lain; kedua politisi membayangkan penilaian mereka atas penampilannya; ketiga politisi mengembangkan sejenis perasaan diri seperti kebanggan atau malu sebagai akibat membayangkan penilaian orang lain tersebut. Komponen diri tersebut sedemikian rupa diciptakan agar memiliki positioning dan differensiasi dalam proses mengikatkan diri ke dalam alam pikiran masyarakat.
Oleh karena itu, wajar jika seorang politisi juga sering menggandeng seorang tokoh lainnya yang lebih populer, misalnya dengan pemimpin revolusi, atau dengan ketua partainya yang memiliki fans lebih banyak dan lebih populer. Dengan demikian diri akan lebih banyak diketahui oleh orang lain. Pada bulan ini mereka sedang merepresentasikan sebagai penganut agama yang taat, Islami, serta berpihak pada umat Islam.
Political Branding
Menampilkan diri secara terus menerus di hadapan publik melalui berbagai media akan menciptakan identitas (politik). Dalam bahasa marketing public relations, identitas ini adalah merk. Melalui merk politik, khalayak akan mudah membedakan mana politisi yang punya karakter dan betul-betul memperjuangkan kepentingan rakyat, mana politisi yang hanya menjadikan rakyat sebagai alat retorika belaka. Untuk membangun merk perlu konsistensi, tidak hanya sekedar memanfaatkan momentum belaka. Tidak juga karena ingin dikesani tertentu lalu melakukan proses dramaturgi semu. Setidaknya, menurut praktisi Public Relations, Silih Agung Wasesa, perlu adanya pembaharuan minimal 3 bulan sekali, dari mulai sekarang. Seperti halnya yang dilakukan oleh merk komersil, untuk menciptakan loyalitas konsumen.
Dalam perspektif Public Relations, untuk menciptakan loyalitas merk (politik), bisa dengan menggunakan orang ketiga, dengan menciptakan sesuau yang bernilai berita. Berbeda dengan iklan yang merupakan kerja sama profesional antara merk politik dan media, tingkat kredibilitas dari isi pesan cenderung minim, atau sekitar 3-6 % saja, sedangkan kredibilitas publikasi yang bernilai berita (newsvalue) yang dilakukan orang ketiga bisa mencapai 70-90 % kredibilitas isi pesan.
Oleh karena itu, Silih Agung menawarkan dengan taktik  orang ketiga tersebut melalui brand ambassador, yang menjadi unofficial spoke persons, bukan Brand Ambassador dalam konteks kerja sama proffesional (iklan) tetapi berdasarkan initiative mutal uderstanding, yaitu bahwa sebagai unofficial spoke person atau brand political ambassador tak terikat tersebut bisa membangun kesepemahaman dan meyakinkan publik/ calon pemilih bahwa antara dirinya sebagai masyarakat biasa dengan politisi berada dalam kepentingan yang sama. Ini juga salah satu yang dilakukan oleh pasangan Anies-Sandi, salah satu unofficial spoke person-nya, seorang Artis, Stand Up Comedian populer Panji Pragiwaksono bisa menjaring calon pemilih muda potensial dan swing voters sehingga mengantarkan Anies-Sandi menjadi Gubernur Jakarta.
Dengan begitu, jika partai, calon anggota dewan, atau kepala daerah bisa menciptakan brand political ambassador dari para fans atau pengikut setianya, dia akan mampu memengaruhi kinerja team politik sebesar 80%, sisanya 20% dilakukan oleh para fans, pengikut dan pemilih loyal, atau orang-orang terdekat dengan personal/ partai yang tersebar di berbagai posisi dan profesi. 20 % unofficial spoke person akan membantu kinerja partai dalam membangun merk, mulai dari inovasi, asosiasi merk, pembaharuan pesan, ataupun komunitas-komunitas politik.
Pada akhirnya proses dramaturgi yang dilakukan oleh calon-calon politisi jika merujuk taktik public relations di atas, tidak hanya memanfaatkan bulan dan momentum saja atau melalui brand political ambassador. Calon/ timnya juga harus mampu menciptakan pesan yang inovatif, konsisten, tidak jadi-jadian, berkarakter, dan merujuk pada kebutuhan para calon pemilihnya.
Dudi Rustandi, Peminat Literasi


Citizen Journalism, antara Produsen dan Konsumen Informasi

1
Model: Kang Arul saat diwawancari Wartawan Pikiran Rakyat
Kehadiran internet membawa perubahan revolusioner terhadap cara informasi disajikan. Jika sebelumnya produsen informasi itu adalah wartawan atau lembaga pers, kini kita masyarakat biasa pun bisa menjadi produsen informasi. Berbagai media social bisa menjadi saluran informasi. UGC atau user generated content pun bermunculan di Indonesia. Bahkan untuk menarik calon-calon produsen informasi ini, beberapa media sudah menerapkan semacam honornya. Para produsen informasi yang bukan wartawan ini biasa dikenal dengan netizen journalism atau citizen journalism.

Ada banyak istilah sebelum citizen journalism dikenal secara meluas seperti sekarang ini, antaralain civic journalism, participatory journalism atau public journalism. Akan tetapi, ketika sebuah situs berbasis users generated content bernama Ohmy News lahir di Korea Selatan pada awal tahun 2000-an, sitilah citizen journalism digunakan secara meluas (Pepih Nugraha).

Istilah citizen journalism atau yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yakni sebagai jurnalisme warga. Citizen journalism adalah kegiatan masyarakat yang “bermain dengan aktif dalam proses mengumpulkan, melaporkan, menganalisis, dan menyebarkan informasi dan berita”.

Jurnalisme warga adalah jurnalisme di mana warga memproduksi informasi sendiri secara amatir tanpa adanya campur tangan media arus utama tentang isu seputar warga dan beragam informasi aktual, tajam dan terpercaya lainnya, yang sedang hangat di bicarakan, berkembang ataupun yang telah berlalu, sekehendak hati pewartanya. Singkatnya saja, jurnalisme ini hampir seperti demokrasi ala Indonesia, dimana “Jurnalisme warga dari warga, oleh warga, tentang warga dan untuk warga”.

Bagi Pepih Nugraha, Citizen Journalism dimaksudkan sebagai kegiatan warga biasa yang bukan wartawan professional mengumpulkan fakta dilapangan atas sebuah peristiwa, menyusun, menulis, dan melaporkan hasi liputan dimedia social.

Jurnalisme warga merupakan suatu kegiatan jurnalisme murni yang tidak dipengaruhi oleh pihak-pihak manapun. Tak perlu seseorang harus lulus dari jurusan jurnalistik, atau komunikasi massa, untuk bisa menulis. Kecepatan dan keterjangkauan terhadap fakta berita yang dilakukan kalangan masyarakat (bukan wartawan) tidak kalah dari wartawan profesional. Bahkan banyak stasiun televisi tanah air yang mencoba mencari berbagai video amatir suatu peristiwa.

Jurnalisme warga inilah yang menjadi sejarah baru di dunia pers, sehingga warga dan pers hidup saling berdampingan dalam menyampaikan informasi kepada publik dengan semangat berbagi. Citizen Journalism sendiri sebenarnya lahir tanpa disadari, saat peristiwa tsunami tersebut menganugrahkan letikan inspirasi dari seorang korban tsunami “Cut Putri“ yang saat itu berada di lokasi kejadian. Peristiwa yang direkam Cut Putri itulah yang dicari media karena moment yang sangat berarti untuk sebuah pemberitaan. Keterbatasan media akhirnya membuka semua mata untuk melibatkan warga bagian dari sumber informasi.

Peristiwa-peristiwa tak terduga itulah yang terkadang terlewatkan oleh media, karena saat peristiwa penting, belum tentu seorang wartawan berada di tempat.  Disinilah peran Citizen Journalism. Istilah Citizen Journalism sudah sangat dekat di telinga kita bahkan saat ini, pers warga sudah melembaga dengan adanya organisasi idependen PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia), sehingga keberadaan Citizen Journalism sudah diakui baik oleh media maupun para pengamat pers.

Sejarah Perkembangan Citizen Journalism di IndonesiaKemunculan jurnalisme warga di Indonesia bermula pada masa Orde Baru, saat Soeharto berkuasa, di mana pada saat itu arus informasi dari media massa kepada masyarakat dijaga ketat oleh pemerintah dan aparatnya. Masa Orde Baru yang dikenal dengan sistem pers tertutupnya, memaksa pers untuk lebih mengedepankan agenda kebijakan, khususnya kebijakan eksekutif. Pers lebih banyak memberitakan kebijakan pemerintah. Dominannya penggunaan sumber berita eksekutif menjadikan pemberitaan pers menjadi top down.

Di Indonesia, jurnalisme ala warga telah hadir dalam keseharian melalui acara-acara talkshow di radio khususnya sejak awal tahun 90-an. Karena dilarang pemerintah menyiarkan program siaran berita, beberapa stasiun radio mengusung format siaran informasi. Pada program siarannya, stasiun radio tersebut (diantaranya adalah Radio Mara 106,7 FM di Bandung yang menjadi pionir siaran seperti ini) menyiarkan acara talkshow yang mengajak pendengar untuk aktif berpartisipasi melalui telepon untuk menyampaikan informasi maupun pendapat tentang sebuah topik hangat. Pada masa orde baru acara siaran tersebut efektif menjadi saluran khalayak menyampaikan keluhan terhadap kelemahan atau kezaliman penguasa.

Setelah UU Penyiaran No.32 Tahun 2002, kehadiran community based media di bidang penyiaran pun akhirnya terakomodasi. kehadiran radio dan televisi komunitas menjadi legal. Legalitas ini membuat peluang jurnalisme ala warga menjadi semakin terbuka. Melalui radio atau televisi komunitas, warga bisa bertukar informasi atau pendapat, tentang hal-hal terdekat dengan keseharian mereka, yang biasanya luput diliput oleh media-media besar. Pada radio siaran, biaya peralatan, operasional siaran dan pesawat penerima yang relative murah. Bahkan beberapa stasiun televisi ada yang membuat program khusus untuk itu.

Sejumlah mailing list menjadi pelarian warga yang mampu mengakses internet akibat media massa konvensional saat itu tidak ada yang berani mengkritik rezim. Kehadiran blog ini baru dianggap sebagai ancaman karena sifat interaktifnya, yang tidak mungkin dilakukan media massa konvensional.

Di Indonesia sendiri pertama kali di tahun 2004 saat tsunami di Aceh, kemudian video Bom Bali dan terakhir video Gayus Tambunan pada saat nonton pertandingan tennis di Bali. Jenis media yang dijadikan wadah citizen journalism semisal, blog, facebook, twitter, forum, mailing list dan sebagainya. 

Sejak digulirkannya program Citzen Journalism oleh beberapa media baru-baru ini. Pers semakin berkembang kearah persuasif /pendekatan terhadap berita maupun jurnalis. Dimana warga biasa bisa menjadi wartawan untuk ikut berperan dalam mewartakan suatu peristiwa atau kejadian sehingga jarak antar media dan masyarakat sangat erat berdampingan. 

Kebutuhan masyarakat akan informasi yang cepat dan lugas membuat citizen journalism kian subur. Citizen journalism sendiri merupakan salah satu jalan yang digunakan untuk mengembangkan sayap jurnalis, bergerilya lewat digital untuk misi jurnalisme, sebagai wahana publik dalam bahasa merupakan jurnalisme akar rumput. 

Salah satu fenomena aktual yang berkaitan dengan citizen journalis (jurnalisme warga negara) dalam proses penyebaran informasi adalah maraknya aktivitas blog. Kehadiran blog, menjadikan internet benar-benar diperhitungkan di dunia media. Citizen journalism membuka ruang wacana bagi warga lebih meluas. Blog menjadi bagian dari proses revolusi komunikasi. Kegiatan pemberitaan yang beralih ke tangan orang biasa memungkinkan berlangsungnya pertukaran pandangan yang lebih spontan dan lebih luas dari media konvensional. Intensitas dari partisipasi ini adalah untuk menyediakan informasi yang independen, akurat, relevan yang mewujudkan demokrasi.

Media Citizen JournalismCitizen journalism dapat didefinisikan sebagai praktik jurnalistik yang dilakukan oleh orang biasa, bukan wartawan profesional yang bekerja di sebuah media. Kehadiran blog dan media sosial menjadikan setiap orang bisa jadi wartawan dalam pengertian juru warta atau menyebarkan informasi terjadi sendiri kepada publik.

Sebelumnya kita mengenal istilah “public journalism” atau “civic journalism” yang semakna dengan citizen journalism, yakni laporan by people (oleh publik) sehingga jurnalistik atau pemberitaan tidak lagi dimonopoli para wartawan.

Media citizen journalism bermacam-macam, mulai dari kolom komentar di situs berita hingga blog pribadi. J.D. Lasica, dalam online journalism review (2003), pengkategorikan media citizen journalism kedalam enam tipe seperti ditulis oleh Asep Samsul M. Romli dalam Buku Jurnalisme Online, yaitu:

Audience Participation : Seperti komentar user yang di attach pada berita, blog blog pribadi, foto atau video, footage yang di ambil dari hendicam pribadi, atau berita lokal yang di tulis oleh anggota komunitas.

Independent News And Information Website : Situs web berita atu informasi independent seperti consumer reports, drudg report yang terkenal dengan “Monicagate” nys.

Full-Flatget Participatory  News Sites : Situs nya berita partisipatory murni atau situs kumpulan berita yang murni dibuat dan di publikasikan sendiri oleh warga seperti OhmyNews,Now Public, dan GrownReport.

Colaborativ And Contibutory Media sites : Situs media kolaboratif seprti slesh dot, kuro5hin, dan newsvaine.

Other Kinds Of “Kinds Media” : Bentuk lain dari media “Tipis” seperti milinglist dan newsletter email.

Personal Broadcatin Sites: Situs penyiaran pribadi kenradio.

Karakteristik Citizen Journalism

Skeptis

Skeptis, itulah ciri khas jurnalisme. Tom Friedman dari New York Times mengatakan bahwa skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang di terima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah di tipu. Seorang yang skeptis akan berkata :” saya yakin itu tidak benar, saya akan mengeceknya.” Lain halnya dengan sikap sisnis. Orang yang sisnis  akan selalu merasa bahwa dia sudah mempunyai jawaban mengenai seseorang atau peristiwa yang di hadapinya. Ia akan berkata :” saya ayakin itu tidak benar. Itu tidak mungkin. Saya akan menolaknya.”

Jadi inti dari sikap skeptis adalah keraguan. Keraguan membuat orang akan bertanya, mencari sampai mendapatkan kebenaran. Sebaliknya, inti dari sikap sisnis adalah ketidak percayaan.  Dia akan  menolak, tidak bertindak. Habis perkara!

Untuk menolak sifat sisnis, kita harus menanamakan naluri skeptis yang kiuat. Sebagai wartawan yang bertugas mencari kebenaran, kita harus meragukan, bertanya, menggugat, dan tidak begitu saja menerima kesimpulan yang umum. Pengarang Oscar Wilde berkata bahwa sikap skeptis adalah awal dari kepercayaan, sedangkan orang yang sinis adalah orang yang tahu mengenai harga (price) segala sesuatu, tetapi ia sama sekali tidak mengetahu mengenai nilai (value) apapun. Malah, Vartan Gregorian dari Brown University mengatakan bahwa sikap sinis adalah kegagalan manusia yang paling korosif karena menyebar  kecurigaaan dan ketidak percayaan, mengecilkan arti harapan dan merendahkan nilai idealisme.

Seorang penulis dan kritikus sosial, H.L. Mecken mengatakan bahwa orang yang sinis itu seperti orang yang ketika mencium keharuman bunga, justru matanya melihat ke sekelilingnya, mencari peti mati.

Sikap skeptis hendaknya juga menjadi sikap media. Hanya dengan bersikap skeptis, sebuah media dapat “hidup”. Namun, pada kenyataannya banyak media yang tidak mampu untuk selalu berusaha bersikap skeptis. Banyak dari mereka menyukai memilih dan menghidupi apa yang di namakan cheerlcader complex. Yaitu sifat untuk berhura-hura mengikuti arus yang sudah ada, puas dengan apa yang ada, puas dengan permukaan sebuah peristiwa, serta enggan mengingatkan kekurangan dalam masyarakat. Joseph Pulitzer pernah berkata bahwa surat kabar tidak pernah bisa menjadi besar dengan hanya mencetak selembaran yang disiarkan oleh pengusaha maupun tokoh-tokoh politik dan meringkas tentang apa yang terjadi setiap hari. Wartawan harus terjun kelapangan,  berjuang dan mencari hal-hal yang eksklusif. Ketidak tahuan membuka kesempatan korup, sedangkan pengungkapan mendorong perubahan. Masyarakat yang mendapat informasi yang lengkap, akan menuntut perbaikan dan reformasi.

Agar demokrasi bisa berjalan, masyarakat butuh informasi. Wartawan mempunyai tugas demoratik (democratic duty) untuk menulis secara jelas dan dalam bahsa publik. Disini, nilai intinya adalah kepercayaan (trust). Dalam hal ini, wartawan menjadi bagian dari sebuah kontrak sosial yang pararel. Pengertian di balik kontrak ini adalah selagi wartawan mwlaksanakan tugarnya, bersamaan itu pula proses demokrasi berjalan. Kode etik yang dibuat oleh berbagai perkumpulan wartawan merupakan pengunggkapan dari istilah kontrak yang dibuat para wartawan dengan sesama warganya.

BertindakBertindak, action, adalah corak kerja seorang wartawan. Wartawan tidak menunggu sampai peristiwa itu muncul, tetapi ia akan mencari dan mengamati dengan ketajama naluri seorang wartawan. Peristiwa tidak terjadi diruangan redaksi. I terjadi di luar. Karena itu yang terbaik untuk wartawan adalah terjun langsung ke tempat kejadian sebagai mengamat pertama.

Mary, mantan wartawan CSB News, peraih Peabodi Award untuk liputan inestigasi penjar Abu Ghraib di Irak , mengatakan bahwa wartawan yang baik akan mendatagi tempat-tempat kejadian walaupun itu berbahaya dan menakutkan. Wartawan dengan laporan-laporannya harus bisa membawa masyarakat ke medan perang, bencana alam, ataupun revolusi.

Dalam jurnalisme, jangan lah kita menerima sesuatu begitu saja seperti apa adanya dan menganggap semua itu benar (to take for granted). Gugatlah skeptislah! Dukung semua kesimpulan dengan fakta dan demoksarikan segala sesuatu dengan sumber-sumber yang dapat di percaya dan kecuali dalam peristiwa-peristiwa tertentu – sebutlah sumber tersebut.

BerubahDalam pengetian yang luas jurnalisme itu mendorong terjadinya perubahan. Memang merupakan hukum utama jurnalisme. Debra gresh hernandez, dalam makalahnya berjudul “advice for the future” yang di sampaikan pada seminar API (Amerikan Press Insitute), seperti dikutif oleh Luwi mengatakan bahwa satu satunya yang pasti dan tidak berubah yang di hadapi industri surat kabar masa depan adalah justru ketidak pastiannya dan perubahan – the only things certain and unchanging facing the news peaper industry in the future are uncertainty and change. Dalam pengalaman sejarahnya surat kabar itu akan selalu mendapak dari perubahan yang terjadi di masyarakat dan dalam teknologi.     

Kelebihan Citizen JournalismØ Informasi yang diterima dengan cepat dan mudah,

Ø Biaya mengakses informasi pun terjangkau,

Ø Bersifat interaktif, sehingga memungkinkan muncul perdebatan hangan dan menarik antara penulis dan pembaca,

Ø Informasinya mampu menembus ruang dan waktu,

Ø Adanya kebebasan berbicara,

Ø Setiap orang memiliki hak untuk memberikan kritik, informasi, opini dan saran secara terbuka.

Kekurangan Citizen Journalism

Ø  Informasi yang sudah lama dibuat ulang,

Ø  Tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya,

Ø  Artikel atau segala informasi yang dipublikasikan bisa saja masih dangkal dan tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik,

Ø  Warga bisa saja menyalahgunakan kebebasan yang diberikan, dengan menyebarkan pornografi, penghinaan, berita bohong dan berita lainnya yang sifatnya negatif, tidak etis dan melanggar hukum.

***