13 December 2018

Memilih Wakil Rakyat

Pikiran Rakyat Edisi Kamis 13 Desember 2018
Beranda media sosial kini dipenuhi dengan pajangan gambar calon anggota legislatif (caleg) untuk pemilu 2019. Baik yang dikenal secara aktual atau hanya sekedar koneksi media sosial. Jika dihitung, bisa mencapai puluhan atau justeru ratusan teman mencalonkan diri, dari mulai tingkat kota/kabupaten, provinsi, hingga pusat. Semuanya memajang gambar diri dan nomor pencoblosan.
Jalan protokol hingga jalan desa juga penuh dengan spanduk, baligo, dan banner kampanye. Dari warna merah, kuning, hijau, persis lagu balonku yang warnanya melebihi 5. Gambar-gambar tersebut tampak wajar, karena telah memasuki masa kampanye. Hanya saja, sebagai calon pemilih, saya bingung, harus memilih yang mana dan untuk alasan apa mencoblosnya.

Alasan yang dimaksud misalnya, karena caleg memperjuangkan nilai-nilai yang selama ini melekat dengan kehidupan masyarakat. Ia berjasa besar dalam memperjuangkan hak hidup masyarakat.  Pejuang buruh misalnya seperti Said Iqbal. Ia konsisten memperjuangkan hak-hak dan kelayakan upah buruh. Jika ia maju menjadi caleg, sebagian besar buruh sudah sangat mengenalnya, baik di Jakarta ataupun daerahnya. Hal serupa juga dilakukan oleh Rikeu Diah Pitaloka secara konsisten memperjuangkan hak buruh khususnya perempuan.

Perspektif komunikasi pemasaran, apa yang diperjuangkan Said Iqbal atau Rike Diah Pitaloka menjadi pembeda sehingga calon pemilih dengan cepat mengenalnya. Kedua tokoh tersebut bukan hanya soal public figur (guru dan artis) akan tetapi mereka concern dalam bidangnya dan konsisten memperjuangkan hak masyarakat khususnya kaum buruh.
Contoh lain adalah Fahri Hamzah dan Fadhli Zon, konstituen akan cepat mengenalnya karena sedari awal konsisten menjadi pengkritik pemerintah (oposan). Pendukungnya akan memandang apa yang dilakukan oleh mereka adalah bentuk memperjuangkan nilai dan hak masyarakat, karena kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat selalu dikritik oleh kedua selebriti politik tersebut.

Pembeda bukan Slogan
Pembeda atau differensiasi menghasilkan positioning seseorang di antara banyak calon legislatif. Apa yang saya saksikan dan cermati, baik di media sosial ataupun di sepanjang jalan-jalan kota dan kabupaten, para calon wakil rakyat tersebut belum menawarkan nilai satupun yang mereka perjuangkan, sehingga menjadi pembeda dan memberikan positioning. Sehingga masyarakat sulit membedakan. Kesulitan ini menjadi faktor lain, yaitu sulit mengenalnya, terlebih sulit memosisikan sang calon dalam pikiran masyarakat.

Satu dua spanduk calon misalnya mengajak masyarakat untuk memberantas korupsi, seperti dilakukan oleh Giring ex Band Nidji yang mencalonkan diri jadi anggota DPR RI dapil Jabar 1. Hanya saja ajakannya tersebut terkesan hanya sebagai slogan. Karena selama ini, giring lebih dikenal sebagai artis penyanyi dibandingkan aktivis anti korupsi. Tidak ada track record yang menjelaskan bahwa ia adalah pejuang atau aktivis antikorupsi. Jika ajakan pemberantasan korupsi dilakukan oleh Febri Diansyah—Jubir KPK, masyarakat akan cepat mengenal dan membedakan dalam top of mind-nya karena track record-nya selama ini sebagai aktivis antikorupsi.

Perspektif marketing 3.0, seperti ditulis oleh pakar marketing dan branding Hermawan Kertajaya, pembeda harus didefinisikan sebagai  segitiga dari merek, positioning, dan differensiasi. Ia menghasilkan brand identity, brand integrity, dan brand image.

Jika wakil rakyat adalah merek, maka harus terintegrasi dalam dirinya sisi identitas dan integritas yang menghasilkan citra diri. Dalam konteks ini, citra merek berbeda dengan pencitraan, karena citra merek harus didorong dari identitas otentik dan integritas yang lahir dari pengakuan masyarakat karena manfaat dan maslahat programnya telah dirasakan masyarakat seperti dilakukan oleh Moh. Surya untuk guru dan dosen atau Rikeu Diah Pitaloka untuk kaum buruh.

Ia adalah bukti kuat bahwa dirinya menyampaikan dan telah membuktikan kinerjanya sebagai (calon) wakil rakyat. Pada posisi ini calon wakil rakyat telah memenuhi janjinya, bukan saat ia sudah terpilih saja namun saat itu belum terpilih. Pada saat ini wakil rakyat telah menciptakan kepercayaannya terhadap calon konstituennya. Ia setengahnya telah mengambil hati masyarakat.

Menentukan Pilihan
Jika calon wakil rakyat telah memenangkan setengahnya hati masyarakat, karena memiliki bukti dan kepercayaan. Bagaimana menentukan setengah nilai yang harus dipenuhi? Maka masyarakat dituntut untuk jeli agar tidak salah pilih untuk menentukan 5 tahun dirinya diwakili di Gedung Dewan. Agar kepentingan-kepentingannya dapat diperjuangkan oleh wakil kita.

Hasil pendampingan Silih Agung (2018) selama 18 tahun terhadap pesohor negeri dapat dijadikan rujukan. Ia menghasilkan satu thesis tentang citra yang dihasilkan dari identitas dan integritas. Melalui Code Personal Branding, Silih memberikan catatan setidaknya ada 5 elemen yang menghasilkan siklus untuk mengukur reputasi calon wakil rakyat; competency, connectivity, creativity, compliance, dan contribution.

Pertama, Kompetensi menjadi kunci untuk menggenapkan differensiasi. Kompetensi menjadikan wakil rakyat bukan hanya memiliki sumbangsih yang nyata dan bermanfaat bagi masyarakat. Namun juga ahli dan memiliki kemampuan dalam melakukan pengelolaan diri dan lingkungannya. Ia tidak hanya cakap mengambil hati masyarakat. Ia juga cakap memberikan solusi bagi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

Kedua, connectivity yaitu sejauh mana calon wakil rakyat terhubung dengan konstituennya. Bukan hanya terhubung secara virtual melalui perantara beragam atribut seperti banner atau spanduk. Tapi terhubung secara aktual; face to face. Konektivitas yang dibangun calon tidak hanya melalui media perantara. Seorang calon harus mau dan rela mendengarkan semua keluh kesah dan kepentingan konstituennya.

Ketiga, creativity. Seorang calon harus mampu memberikan dinamika berkehidupan terhadap warganya. Sehingga warganya terhindar dari kejenuhan. Oleh karena itu, program-programnya harus dinamis. Buka bazar murah memang disukai oleh masyarakat, akan tetapi jika stop sampai di sini, tidak menyelesaikan persoalan masyarakat dalam jangka panjang. Oleh karena itu memilih wakil rakyat harus yang benar-benar memiliki dinamisasi dalam memberikan program kepada masyarakat.
Keempat, compliance. Merupakan nilai-nilai etis yang harus dimiliki oleh seorang caleg. Calon pemilih harus memastikan bahwa caleg memiliki rekam jejak yang baik. Nilai-nilai etis ini baik yang melekat pada dirinya ataupun yang telah diejawantahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Mengukur elemen ini cukup mudah, misalnya apakah seorang caleg bertutur kata baik? Apakah juga seorang caleg memiliki perilaku baik? Tidak pernah mengeluarkan pernyataan kotroversial atau berperilaku yang bertentangan dengan nilai konvesional, baik yang berasal dari agama atau norma masyarakat. Nilai-nilai etis tersebut juga terpublikasikan secara wajar, bukan sebagai taktik propaganda.

Kelima, Kontribusi. Caleg harus menjadi problem solver bagi persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Hal ini tentu paling terasa baik secara pragmatis ataupun normatif. Caleg harus menjadi tempat pakukumaha bagi konstituennya dalam semua aspek kehidupan. Ibarat orang tua, ia harus mampu berfikir kreatif dan juga memberikan solusi praktis.

Kelima elemen di atas dapat dijadikan sebagai pertimbangan saat akan menentukan pilihan. Memang manusia tidak ada yang sempurna, namun paling tidak mendekati beberapa elemen. Dan pertimbangan yang paling bijak adalah mendekati paling banyak dari limat elemen tersebut. Semoga waktu 4 bulan menuju pemilihan dapat menjadi waktu yang cukup untuk melihat, memahami, menimbang, dan memutuskan siapa caleg yang akan membawa kita, masyararakat menuju masyarakat yang sejahtera lahir batin. Wallahu ‘alam.

Tulisan dimuat Pikiran Rakyat edisi Kamis, 13-12-2018 
Read More

11 November 2018

Memacu Andrenalin di Jalur Sukawana

Leuweung Kunti di Jalur Sukawana photo by @abahraka
Bandung Barat, bukan hanya memiliki banyak destinasi wisata alam yang eksotis dan menjadi tujuan wisata Dunia, sebut saja Gunung Tangkuban Parahu. Juga memiliki sejumlah destinasi wisata yang tersebar di sekitarnya, sebut saja seperti Curug Maribaya, Curug Pelangi, Curug Leuwi Tilu Opat, Cikole Camping Park sampai Stone Garden, Gua Pawon, Gunung Hawu, dan lainnya. Banyak juga Destinasi buatan seperti Floating Market, Kebun Begonia, Dusun Bambu, The Lodge Maribaya, Farm House Lembang, atau yang sedang hits, beberapa pekan lalu dikunjungi oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya, Orchid Forest.

Bandung Barat menyimpan sejumlah potensi wisata berbasis ecotourism yang masih bisa dieksplorasi. Wisata berbasis alam tanpa harus mengganggu atau merusak keindahan alam, justeru mendukung ekosistem berkembang sesuai dengan fitrahnya.

Bandung Barat juga memiliki hamparan kebun teh yang Indah, walaupun tidak seluas Malabar, Rancabali, Gambung, atau Patuha. Namun Kebun Teh Sukawana menjadi salah satu area favorit untuk beberapa kegaitan wisata di Bandung Barat seperti teawalk, gowes, trail atau offroad. Melalui wisata offroad, Kebun teh Sukawana menjadi salah satu destinasi wisata yang dapat memacu andrenalin para penikmatnya.

Perkebunan Teh Sukawana
Jalur masuk Perkebunan Sukawana
Adalah penghujung 2017, tepatnya bulan Agustus, saya bersama komunitas Generasi Pesona Indonesia Jawa Barat (Genpi Jabar) beramai-ramai merasakan sensasi wisata jalur Sukawana. Hal ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan kopdar relawan pariwisata Indonesia.

Tepat pukul 6.00 pagi, kabut tampak menyelimuti Gunung Burangrang, dingin sudah mulai terusir fajar. Jaket tebal yang semalam menjadi teman kencan tidak lagi diperlukan. Tinggallah t-shirt putih Pesona Indonesia, lengkap dengan berbagai aksesorisnya. Kami bersiap dengan segala bekal dan peralatan untuk mengarungi jalur Sukawana yang diperkirakan memakan waktu 3-4 jam perjalanan. DSLR, Drone, ataupun action cam telah dibawa para relawan.

Lima Land Rover  menjadi kendaraan utama kami. Memasuki gerbang Perkebunan Teh Sukawana, atmosfer eksotisme alam sudah mulai terasa. Kabut tipis mulai terusir oleh sinar matahari. Pantulan sinar mentari di ujung daun teh sudah mulai tampak. Perkebunan teh terhampar alami dan segar. Sesekali saat memasuki rimbunnya pohon yang menjulang, udara dingin lagi dirasakan. Di Balik pepohonan menjulang, tampak kota Bandung dengan beberapa gedung tinggi terhampar.

Sukawana, adalah satu-satunya kebun teh yang berada di Bandung Barat, selebihnya berada di kawasan Kabupaten Bandung. Walaupun tidak seluas Patuha, Malabar, Rancabali, atau Gambung, kebun teh Sukawana cukup produktif, bahkan menurut catatan, ada satu pabrik teh yang siap mengekspor hasil teh Sukawana yang dikelola PTPN VII tersebut.

Jalur ini menjadi jalur favorit bagi para pesepeda gunung. Begitu juga para crosser bebas. Bahkan teman saya yang bergadung dalam komunitas Trabas sering bercerita jika Sukawana menjadi jalur favorit untuk mereka. Sesekali kami melihat para crosser lewat dan sesekali para pesepeda berhenti untuk memberi jalan pada kami.

Sukawana sendiri awalnya terkenal dengan nama Pangheotan, konon berasal dari nama salah satu pemilik kebun teh jaman Belanda, Van Houten. Lidah orang sunda menyesuaikan menjadi Pangheotan. Namun warga sekitar lebih senang menyebutnya dengan wilayah yang mereka diami, Sukawana.  Jadilah wilayah ini menjadi jalur Sukawana. Tempat favorit para penikmat wisata esktrem.


Wisata Adrenalin
Awalnya tidak tahu jika yang saya lewati adalah jalur wisata ekstrem. Bahkan saat memasuki gerbang perkebunan, saya mengira jika perjalanan ini hanya untuk menikmati eksotisme hamparan kebun teh Sukawana saja. Setelah kebun teh terlewati dan mulai tampak pohon pinus yang besar dan tinggi-tinggi. Area pohon pinus yang saya lalui terkenal dengan Leuweung Kunti, baru ngeuh jika pada akhirnya kami sedang dibawa untuk berwisata adrenalin.

Jalanan sudah mulai menunjukan atmosfer offroad. Tidak ada lagi jalan tanah berpasir atau berbatu. Semua jalan hanya tanah belaka yang menanjak, bergelombang kasar, berbelok, berair, bahkan menyempit, dengan dinding tanah melebihi tinggi kendaraan. Hal ini mungkin karena sering tergerus air dan ban-ban berkembang kasar hingga jalan tanah semakin legok hingga akhirnya membentuk jalan sempit.

Pada kondisi jalan-jalan tersebutlah adrenalin kami terpacu, tak sedikit dari kami berteriak-teriak sebagai ungkapan rasa senang karena shok dan kaget dengan terjalnya jalanan. Sambil berteriak kami juga berdecak karena baru kali ini merasakan  dapat memacu adrenalin tanpa harus takut bahaya.

Salah satu yang menaikan desir darah kami adalah ketika kendaraan hampir selalu bergesekan dengan tanah karena jalanan menyempit. Begitu juga saat Land Rover memasuk jalan bergelombang, terjal, sekaligus licin berlumpur. Jika supir tidak mahir, mobil bisa tergelincir.

Saat memasuki kembali jalan menyempit, tiba-tiba ban selip. Tiba-tiba saja mesin mati. Teringat dengan salah satu cerita, jangan-jangan daerah ini yang masuk kawasan Leuweung Kunti. Saya berperasangka jika kendaraan dengan penggerak empat roda ini akan terjebak.  Kawasan yang masih memiliki aura mistis karena seringkali makhluk halus mengganggu. Lumayan bergidik. Kemudian datang rombongan lain membantu dan akhirnya mesin dapat kembali hidup. Kami pun melanjutkan perjalanan yang sepertinya masih belum mau berakhir sebelum akhirnya kami menemukan satu kawasan istirahat untuk sholat dan makan siang.

Menuju Sukawana
Bagaimana agar penikmat wisata ekstrem offroad bisa juga menikmati jalur Sukawana?

Populernya jalur Sukawana, menjadikan pencarian tempat penyewaan Land Rover di SekitarLembang cukup mudah. Tempat penyewaan juga memasang petunjuk menyediakan jasa sewa Land Rover. Tinggal kemauan dari pengguna jasa untuk bertanya. Jika pun masih segan bertanya, bisa searching melalui internet.

Namun, untuk menikmati jalur sukawana tidak bisa sendirian, asyiknya beramai-ramai secara kelompok. Untuk pemula baiknya menggunakan jasa pemandu karena tidak ada papan-papan petunjuk untuk memasuki area ini. Hal ini juga untuk menghindari salah jalan atau jalur.

Satu kendaraan Land Rover dihargai 1.500.000 untuk 6-8 orang, harga ini sudah termasuk tiket masuk jalur Sukawana dan Tangkuban Parahu. Untuk paket tour per orang biasanya dibandrol dari mulai 250 hingga 450 belum termasuk tiket Jalur Sukawana dan atau Tangkuban Parahu.

Agar lebih praktis, saya lebih menyarankan untuk menyewa jasa travel agent atau pemandu saja agar kita bisa lebih maksimal menikmati perjalanan dan memacu adrenalin. ***[Abah Raka]
Read More

06 November 2018

Pemuda Era 4.0

Sumber: Pikiran Rakyat:
Penulisan artikel ini, bertepatan dengan hari sumpah pemuda 28 Oktober 2018. Saya membaca profil yang dipublikasikan Pikiran Rakyat pada hari yang sama (minggu, 28/10/2018), yaitu sosok ketua KNPI Jawa Barat Rio F. Wilantara. Rio menjabat ketua KNPI kurang lebih sudah satu tahun, yang dilantik tahun 2017.

Membaca biodatanya, jika diibaratkan makanan, taste-nya sangat berbeda dengan sosok Ketua KNPI sebelum-sebelumnya. Sosok Rio adalah sosok yang mewakili generasi millenial, selain karena umurnya yang betul-betul masih muda (32), latar belakang pendidikan dan aktivitas sehari-harinya selalu berarsiran dengan dunia teknologi yang millenial banget. Usaha dalam bidang teknologi, dan dua kali kuliah doktor salah satunya dalam bidang media studies—yang tentu arsirannya sangat kuat dengan teknologi.

Membaca visi sosok ini seakan menemukan danau yang airnya jernih dan bersih—sebagai sumber kehidupan masyarakat. Betapa tidak, Rio ingin membawa sekitar 13 ribu personil strutural pemuda ke arah kemandirian bukan yang menggantungkan hidupnya dari APBD. Ia ingin pemuda menjadi lokomotif wirausaha sebagaimana yang telah menjadi program pemerintah Jawa Barat. Ia tidak ingin pemuda terbawa arus ke ranah politik praktis sebagaimana yang ia rasakan selama aktif di organisasi kepemudaan tersebut.

Pada sisi lain banyak permasalahan yang dihadapi pemuda. Menurut data yang dikeluarkan oleh Merial Institute, sebuah lembaga  penelitian dan pembedayaan pemuda, pada tahun 2017 secara demografi pemuda bertambah namun pengangguran bertambah juga. Penyalahgunaan narkoba juga menjadi persoalan tersendiri yang merusak masa depan pemuda Indonesia. Hal yang cukup krusial, dengan meningkatkan jumlah pemuda ternyata tidak menambah mental kebangsaan meningkat justeru dipertanyakan (nasionalisme).

Beberapa kasus juga yang menjadi pelakunya adalah notabede menyandang status pemuda, misalnya MA seorang anak muda yang membuat grafis tidak senonoh tentang presiden Jokowi, atau pembakaran bendera tauhid oleh kelompok pemuda dari ormas kepemudaan. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan belahan bumi lain, seperti yang cukup menghebohkan sekelompok muda-mudi merayakan ajaran satanisme dan menjadikan lima belas orang sebagai target untuk dibunuh sebagai bahan pemujaan.

Marwah Gen Millenial
Pemuda Gen Millenial,  merujuk pada hasil penelitian Don Tapscot (2009) adalah generasi yang lahir pada rentang 1977-1997, atau 19980-1995 seperti ditulis oleh David Stillman dan Jonah Stillman. Terlepas rentang waktu tersebut, kedua pendapat tersebut memasukkan bahwa pemuda yang lahir pada tahun 80-an adalah generasi yang ketika sudah baligh telah bersentuhan dengan dunia digital. Bagi Tapscot, mereka adalah generasi internet atau gen y atau gen millenial.

Bagi gen millenial, teknologi tidak berbeda dengan udara, yang menjadi nafas kehidupan mereka. Hal ini masuk akal karena generasi millenial dan teknologi internet tumbuh bersama-sama. Mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan aplikasi dibandingkan menonton televisi. Mereka juga lebih peka terhadap isu-isu global tanpa melupakan isu-isu lokal. Hal ini menjadi antitesis dari generasi sebelumnya yang cenderung lebih peka dengan isu-isu global sedangkan isu lokal terlupakan.

Untuk memahami generasi ini, ada beberapa ciri yang dominan dalam diri mereka, seperti ditulis Tapscot; kebebasan, kustomisasi, apresiasi, kolaborasi, kecepatan, dan inovator. Tidak lupa juga hiburan dan gaya hidup.

Generasi yang lahir bersamaan dengan kelahiran dan kemajuan teknologi internet ini merupakan generasi yang menginginkan kebebasan, tidak mau dikekang, akan tetapi kebebasan mereka jelas dan terarah. Sehingga melahirkan inovasi melalui kolaborasi. Apa yang terjadi pada Go-Jek dan pendirinya mewakili ruh gen millenial. Perusahaannya begitu cepat melaju hingga menjadi satu-satunya perusahaan yang pertama memperoleh deviden satu trilyun. Kemajuan ini tidak didapatkan dengan berdiam diri di depan layar komputer, akan tetapi hasil kerja bareng dan negosiasi bisnis (kolaborasi dan relasi).

Apa yang dihasilkan oleh gen millenial merupakan produk inovatif yang belum pernah ada dan terpikirkan oleh generasi sebelumnya (Gen-X). Bahkan seringkali gen millenial tidak ingin produknya meniru dan sama dengan yang lain sehingga menghasilkan produk yang beda (kustom).

Pemuda 4.0; Internalisasi Marwah Gen Millenial
Bagaimanapun pemuda hari ini adalah gen millenial yang telah tumbuh dewasa. Benang merahnya adalah bahwa teknologi internet dan pemuda memiliki arsiran kebebasan sehingga mampu berkreasi dan melahirkan kustomisasi dan inovasi. Hanya sayang di balik kebebasan tersebut seringkali pemuda tidak mampu mengendalikan diri, sifat pendobraknya akhirnya menjadi kebablasan. Pengetahuannya belum melahirkan sikap bijak.

Melalui hari Sumpah Pemuda, meminjam istilah seorang pakar marketing, Hermawan Kertajaya, maka pemuda harus menjadi citizen 4.0. Citizen 4.0 adalah warga yang telah melalui 4 fase; fase pengetahuan, bisnis, pelayanan dan pengabdian. Fase pengetahuan dicirikan dengan keakrabannya dengan teknologi, bisnis dicirikan dengan kemandirian, pelayanan dicirikan dengan sikap bijak untuk menolong dan saling menghargai, dan fase pengabdian dicirikan berada di tengah-tengah masyarakat untuk melakukan perubahan. Perubahan bukan hanya ide, tapi juga contoh nyata—tut wuri handayani.

Melalui fase tersebut, pemuda era 4.0 mau tidak mau harus sadar sebagai manusia sejati yang memiliki akar religiusitas. Soal gaya hidup pemuda misalnya, yang di era media sosial dirayakan dengan narsisme melalui food, fashion, dan traveling, maka pemuda harus mempertimbangkan maslahat, mudarat, halal, dan haramnya. Ia tidak hanya sekedar gaya tapi juga memiliki nilai dan manfaat. Saat terjadi bencana seperti di Lombok dan Palu, religiusitas yang merupakan pengejawantahan dari fase pelayanan dan pengabdian, maka pemuda harus memiliki kepekaan. Ia harus mengambil peran dengan berada di tengah-tengah bencana seperti halnya dilakukan oleh selebgram Awkarin.

Jika merujuk pada prawacana di atas, maka pemuda di era 4.0 termasuk 13.000 pemuda yang berada di bawah nakhoda Rio, harus sudah memasuki fase pengabdian—ia tidak hanya berpengetahuan dan mandiri, tapi juga peka (melayani) dan menjadi lokomotif perubahan di tengah-tengah masyarakat. Pemuda di era 4.0 adalah manusia yang gaul sekaligus religius; Iman adalah panduan sikapnya, gaya adalah kendaraannya, dan teknologi adalah nafasnya. Ia gaul dan teknologis, mandiri, peka dan menjadi lokomotif perubahan.***[]

Read More

09 October 2018

Malang, Bukan Sekadar Bandung!

Malang; sumber; kaskus
Malang bukan hanya kota pendidikan karena di sana berdiri beberapa perguruan tinggi negeri mentereng seperti Univesitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, atau UIN Malang. Di sana juga berdiri perguruan tinggi mentereng milik Muhammadiyyah, Universitas Muhamadiyyah Malang atau Universitas Kanjuruhan. Wajar Malang memiliki predikat sebagai kota pendidikan.
Malang juga terkenal dengan apel-nya, yang walaupun kecil tetapi rasanya khas manis asam yang menyegarkan. Apel malang, berwarna hijau kemerahan dengan ukuran tidak terlalu besar. Cukup terkenal sebagaimana halnya Jeruk Garut di Jawa Barat.
Ada satu kota di Malang yang disamakan dengan Lembang, bahkan saking menyerupainya ada seorang traveler yang membuat satu pernyataan, “jika diibaratkan Bandung, Batu Malang itu ibarat Lembang”. Tapi saat membaca berbagai destinasi wisata di Kota Malang, bagi saya Malang bukan sekadar Bandung. Karena bukan hanya destinasi nan sejuk yang tersedia di Malang seperti Kota Batu, juga lengkap dengan pantai serta destinasi buatan yang keren.
Inilah Tempat Seru di Kota Malang
Bagi para perantau, Malang adalah sebuah kota kecil dengan jutaan cerita menarik yang selalu bisa dikenang lewat setiap sudutnya. Malah, nggak jarang semua cerita yang pernah dicatat di kota ini berbuah rindu untuk kembali mengunjunginya dan menelusuri tempat-tempat yang memberikan keceriaan di masa lalu. Nah buat kamu yang akan dan baru mengunjungi kota kecil ini, ada beberapa tempat wisata di Malang yang bisa kamu lihat di laman Traveloka sambil mulai merencanakan apa saja aktivitas yang akan dilakukan selama berlibur di sini.
Nah karena ada banyak banget destinasi seru yang bisa dikunjungi, berikut ini adalah beberapa rekomendasi tempat wisata di Malang yang bisa kamu tuju untuk menghabiskan waktu liburan. Mulai dari wisata alam sampai kuliner, keceriaan dan kenangan berkesan pun pasti bakal kamu tuai dari beberapa tempat berikut ini. Daripada kamu makin penasaran, lebih baik siapkan catatan dan langsung simak satu per satu di sini.
Pantai Balekambang
Pantai Balekambang, Sumber: Wikipedia - Maulana Yusuf
Masuk dalam Jalur Lingkar Selatan, Pantai Balekambang adalah salah satu tempat wisata di Malang yang wajib dikunjungi kalau kamu ingin melepas segala rasa penat. Nggak cuma ada pasir pantai putih saja, di sini kamu benar-benar bisa menikmati desiran air laut serta memasuki Pulau Ismoyo yang mirip dengan Tanah Lot di Bali.
Museum Angkut
Museum Angkut, Sumber: radarmalang.com
Selain alam, Museum Angkut yang menampilkan ragam kendaraan dari lintas zaman adalah rekomendasi terbaik. Yap, selain karena kamu bisa menikmati sejarah, berburu foto di setiap sudut Museum Angkut bisa jadi kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan di dalam sebuah museum.
Predator Fun Park
Predator Park, sumber: duta.co
Sesuai namanya, Predator Fun Park menawarkan sensasi berwisata dengan berbagai predator alam yang bisa dilihat dari jarak dekat. Nggak cuma konsep yang mengerikan, kamu juga bisa menelusuri labirin, menjelajahi waterpark dan berbagai wahana lain tanpa perlu merogoh kocek yang besar.
Kampung Warna-Warni Jodipan
Kampung warna-warni, sumber; flickr canadagood
Dari kejauhan, Jodipan terlihat lucu, unik dan tentu saja eyecatching. Bahkan bisa jadi jadi kamu tidak akan percaya kalau dulunya Jodipan hanyalah kawasan perumahan yang padat dan cukup kumuh di sekitar sungai Brantas. Namun nyatanya saat ini wisatawan selalu mengincar Kampung Warna-Warni Jodipan sebagai tempat wisata di Malang yang wajib dikunjungi untuk berburu foto dengan latar belakang yang ciamik.
Berbagai destinasi, dari mulai gunung, pantai, destinasi buatan, museum, saya berani bilang jika Malang bukan sekadar Bandung!
Sekarang ini kamu bisa mengunjungi Kota Malang melalui transportasi udara maupun darat dengan sangat mudah. Bahkan walaupun kamu memilih transportasi udara, cukup lihat laman Traveloka saja karena kamu masih bisa berhemat dengan membeli paket tiket serta hotel secara muda, murah dan aman. Ini belum termasuk dengan berbagai promo menarik yang bakal membuat budget liburanmu tersisa banyak dan bisa digunakan untuk mengunjungi berbagai tempat wisata di malang lewat halaman traveloka sebelum kamu benar-benar siap untuk menuai keceriaan dan kenangan di kota Malang.***[]
Read More

19 August 2018

Atraksi Wisata Jalur Kamojang

Menikmati Hutan Kamojang Ecopark/ dok. Abah Raka
Lebaran tahun ini, saya memilih jalur alternatif Kamojang untuk mudik dan balik. Jalur ini tidak sepopuler jalur alternatif Cijapati karena jalan curamnya cukup panjang mencapai sekitar 7 km sejak keluar pasar Ibun hingga hutan Mandalawangi Kamojang. Jika dicermati sebetulnya infrastrukturnya cukup memadai, bahkan pemerintah Kabupaten Bandung membuat jalan baru agar para pelintas jalur ini bisa lebih nyaman berkendara. Begitupun saat memasuki Garut, infrastrukturnya sudah cukup baik, bahkan sudah dilengkapi dengan PJU, walaupun di beberapa tempat seperti Randu Kurung jalannya berlubang cukup parah.

Sebagai jalur alternatif, tidak semua kendaraan dapat melewati jalur Kamojang. Beberapa kendaraan, khususnya roda dua dengan kapasisitas 110-125 cc yang saya saksikan harus menurunkan penumpangnya terlebih dahulu agar kuda besinya bisa menaiki tanjakan. Jalur ini jauh lebih curam dibandingkan Cijapati. Oleh karena itu saya tidak menyarankan untuk mudik atau balik melalui jalur ini, kecuali dengan kendaraan prima dengan kapasitas mesin yang memadai serta penumpang normal. Jikapun kendaraan prima disarankan waktunya siang hari karena penerangan belum maksimal.

Kamojang Hill Bridge dan Cukang Monteng
Kamojang Hill Bridge, pintu masuk Cukang Monteng/ Abah Raka
Kamojang merupakan suatu kawasan pengeboran gas alam yang menjadi sumber pembangkit listrik di kawasan Kabupaten Bandung. Berada sekitar 45 km dari arah Bandung dan 25 km dari arah Garut. Kamojang terkenal dengan tempat wisata kawahnya sejak puluhan tahun yang lalu.

Sebagai Gunung Api yang masih termasuk kawasan Gunung Guntur, sama seperti halnya gunung Api lain, gas alamnya menjadi sumber pembangkit listerik. Terdapat dua perusahaan yang menjadi penyokong listerik Negara yaitu Pertamina Geothermal Energy dan Indonesia Power (dulu PLN Kamojang). Kamojang berada di Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung berbatasan dengan Kecamatan Samarang - Garut.

Sebagai perbatasan, jalur ini tidak sepopuler Nagreg dengan jalan cagaknya yang menjadi jalur lintas antarkabupaten bahkan menjadi jalan nasional karena menjadi jalur lintas antar provinsi. Karena kecuramannya, pekerja kedua perusahaan BUMN yang menjadi pengelola area ini lebih memilih lebih memilih membangun komplek perumahan untuk para pekerjanya di kawasan kota Garut dibandingkan kabupaten Bandung. Jalur curam tersebut berada di daerah Cukang Monteng. Maka wajar jika jalur ini tidak populer sebagai jalur alternatif. Kecuraman jalur ini seringkali memakan korban.

Sejak pemerintah Kabupaten Bandung membuka jalur baru yang memotong jalan tanjakan monteng pada tahun 2016, jalur ini menjadi popular bagi para pelintasnya. Apalagi bagi tour rider atau boseher, jalur ini cukup memanjakan mata para pelintas. Setelah menyelesaikan tanjakan sepanjang 7 km-an dari Pasar Ibun, sejak ratusan meter menuju Kamojang Hill Bridge, pengendara akan menyaksikan jembatan berwarna kuning yang gagah dan megah dengan latar pegunungan Kamojang dan Hutan Mandalawangi. Kkawasan Kamojang Hill Bridge jalannya sangat lebar untuk ukuran jalur alternatif, 3 kali lipat lebih lebar dibandingkan jalan Ibun-Kamojang. Sehingga para pengendara bisa dengan leluasa memarkirkan kendaraannya pada tempat yang cukup aman yang menjorok di pinggir jalan sebelum jembatan. Para pedagang di sekitarnya juga menyediakan tempat parkir. Dengan cat warna kuning, jembatan ini menjadi ikon baru kabupaten bandung yang megah sekaligus instagramable. Banyak para pelintas yang dengan sengaja berswafoto di jembatan ini. Kamojang Hill Bridge menjadi penghubung antara Ibun dan Cukang Monteng menuju Kamojang sebagai kawasan wisata kawah

Jalur Kamojang; dari Ikon Baru, Kawah, Eco Park hingga Resort
Jalan Kamojang, jalur asri nan eksotis/ Abah Raka
Jalur mudik atau balik alternatif Kamojang menyimpan banyak destinasi yang dapat dijadikan tujuan wisata. Mudik melalui jalur ini adalah sama dengan menikmati surga wisata Alam di wilayah perbatasan Bandung dan Garut. Sejak memasuki Kamojang Hill Bridge, pemudik bisa menikmati megahnya jembatan sambil berswafoto. Tentu saja foto-fotonya bisa diandalkan untuk diposting di media sosial apalagi bagi penganut narsisme atau sekedar latar smartphone pemudik.

Melewati jembatan, pemudik akan bersua dengan satu kawasan sejuk, Hutan Mandalawangi yang bisa dijadikan sebagai alternatif untuk beristirahat sejenak. Jika Jembatan memiliki latar gunung Kamojang yang cukup eksotis. Hutang Mandalawangi punya latar pohon pinus yang seksi. Sejak memasuki kawasan hutang lindung ini, walaupun matahari berada di atas kepala, udaranya akan tetap sejuk.

Melewati Hutan Lindung pemudik akan menemukan pipa-pipa besar sepanjang jalan menuju satu kawasan Pembangkit Listerik Tenaga Panas Bumi PT Indonesia Power Distrik Kamojang yang menjadi penyalur listrik untuk kawasan Jawa-Bali. Kawasan ini juga seringkali menjadi tempat peristirahatan sementara para pelintas. Bangunan Pembangkit Listerik juga cukup ikonik dijadikan sebagai latar foto. Pipa-pipa besar memberikan kesan tertentu, pelintas seakan berada di satu kawasan wisata yang cukup eksotis.

Di antara jalan Kamojang ini selain terdapat kawasan wisata kawah juga terdapat destinasi buatan, Desa wisata laksana. Desa Laksana sendiri merupakan wilayah terintegrasi sebagai kawasan wisata di bawah pembinaan PGE. Ada beberapa kawasan wisata yang dikembangkan dan di bawah binaan PGE, seperti tercantum pada situs ibunkamojang.com, yaitu Kawah Kamojang (Natural Tourism), Pusat Edukasi Geothermal (Geothermal Information Centre/ GIC),  Wisata Agro (Agro Tourism), Wisata Budaya, Wisata Air, dan terakhir masuk kawasan Legok Pulus Kabupaten Garut, Wisata Edukasi Penangkaran Elang.

Berseberangan dengan area kawah adalah destinasi baru yang masih sedang dikembangkan. Berada di area Danau Pangkalan. Menurut pengelola, Danau Pangkalan yang sudah mengering dan berubah fungsi menjadi kebun tersebut akan dinormalisasi oleh pemerintah. Saya masih ingat, waktu kecil jika ada tetangga yang mengajak ke Kamojang sering menyebutnya Pangkalan, mungkin danau ini yang dimaksud. Setiap kali menyebut Kamojang yang disebut adalah Pangkalan.

Sejak memasuki kawasan pembangkit listerik selain cuacanya sejuk, lingkungannya pun cukup asri. Pengunjung bisa menikmati cuaca sejuk sepanjang hari walaupun matahari sedang tepat berada di atas kepala. Jalan berhotmix tanpa lubang, rumput-rumput liar terpotong rapi. Di komplek ini juga menjadi pusat wisata berbasis pembibitan atau agrowisata dan ramah lingkungan. Terdapat rumah makan yang khusus menyediakan berbagai masakan dari jamur. Jika pengunjung lelah bisa beristirahat di Mesjid komplek yang menyediakan tempat parkir cukup luas. Di ujung komplek, pohon pinus mengantarkan pengendara meninggalkan kawasan Kabupaten Bandung menuju Garut diiringan semerbak wangi getah pinus. Suasananya persis seperti puncak. Menjelang sore, kawasan ini berkabut, menjelang pagi dinginnya tidak ketulungan.

Negeri di Atas awan, latar gunung Papandayan saat memasuki wil. Garut/ Abah Raka
Memasuki wilayah Garut, wisatawan akan bertemu dengan kawasan Kamojang Eco Park, sebuah tempat wisata yang berada di pegunungan. Sama halnya dengan puncak bintang di kawasan Cimenyan Bandung, kawasan wisata yang baru dibuka sekitar 4 bulan lalu tersebut mengandalkan hutan pinus sebagai destinasi utama. Dengan kontur pegunungan, salah satu spot yang menjadi andalah adalah coloseum di tengah pohon pinus. Spot foto dengan pemandangan bukit dan lembah menambah pesona Ecopark Kamojang layaknya berada di Tebing Keraton.

Pemudik juga akan menemukan satu kawasan penangkaran Elang di daerah Legok Pulus. Menurut pengelolanya, penangkaran tersebut merupakan satu-satunya pusat penangkaran Elang di Indonesia. Dari 75 jenis Elang yang ada di Dunia 70 persennya ada di Indonesia. Di pusat penangkaran Elang ini pengunjung bisa menikmati gagahnya Elang Jawa yang menjadi inspirasi symbol Negara Indonesia, Garuda. Selain penangkaran Elang yang akan dilepasbiakkan ke alam liar di Hutan Lindung Kamojang. Wisata edukasi ini juga menjadi penampungan dan penyembuhan Elang yang awalnya dimiliki oleh warga untuk kemudian dilepaskan kembali. Area ini tepat berada di sebuah lembah yang dikeliling oleh bukit-bukit hutan konservasi dan arboretum.

Memasuki area Legok Pulus, pemudik akan menyaksikan padang rumput yang cukup luas. Ini merupakan akar wangi yang menjadi produk andalan masyarakat sekitar yang hasilnya di ekspor ke luar negeri. Di wilayah ini terdapat juga Arboretum, sebuah kawasan yang menjadi tempat vegetasi sungai Cimanuk. Area ini memiliki koleksi 200 jenis pohon dengan jumlah 8000-an pohon. Di Kebun akar wangi, pemudik bisa menikmati hamparan rumput yang sudah mulai menguning. Kawasan sejuk ini bisa memberikan therapy alami bagi pemudik yang kelelahan. Latar rumput yang tinggi bahkan menjadi sasaran beberapa pengendara yang hendak mengabadikan gambarnya. Melalui bidikan kamera DSLR rumput-rumput tersebut dapat memberikan efek bokeh yang cantik.

Atraksi alam tidak berhenti sampai Legok Pulus, memasuki kawasan Situ Hapa terdapat sebuah resto yang menawarkan atraksi alam yang tidak kalah cantiknya, yaitu Kebun Mawar. Hamparan bunga mawar menyuguhkan atraksi taman bunga yang asri nan sejuk. Selain bisa berswafoto atau groupy, kebun ini menyuguhkan rupa makanan bagi pemudik yang sudah kelelahan dan butuh asupan gizi. Ya, Kebun Mawar adalah rumah makan berkonsep taman bunga. Di Kebun Mawar, pengunjung bisa berwisata ria sekaligus mengisi perut yang sudah keroncongan.

Memasuki kawasan Samarang, selain atraksi Gunung Papandayan dan Cikurai, kawasan ini menawarkan suguhan Danau yang dapat dijadikan sebagai tempat peristirahatan. Dua kawasan yang tidak kalah sejuknya tersebut bisa dinikmati pengunjung sambil naik perahu kala menikmati alam sekitar, dua tempat tersebut adalah Resort Sampireun yang sudah sering menjadi langganan untuk shooting sinetron, ceramah TV, atau pembuatan video klip, ada juga Green & Resort Kamojang. Keduanya merupakan resort berbasis danau sebagai atraksi utama alamnya.

Pada kawasan ini juga ada satu rumah makan Sunda berkonsep saung di tengah sawah, Rumah Makan Sunda Mulih Ka Desa. Makan di Resto ini pengunjung akan benar-benar makan di area persawahan, jika kebetulan di sawah juga terdapat kerbau yang sedang membajak. Resto ini juga menawarkan penginapan. Bagi warga kota, sensasi menginap di area persawahan ataupun danau akan memberikan sensasi alami yang akan membersihkan toksit-toksit rutinitas kegiatan di kota.

Tentu saja semua atraksi alam dan juga destinasi buatan tersebut tidak bisa dinikmati sekali jalan. Namun setidaknya dapat dinikmati sambil lalu dan jika betul-betul ingin menikmati bisa mengunjungi salah satunya. Mudik melalui jalur ini para pemudik benar-benar dimanjakan oleh atraksi alam yang cantik sekaligus seksi. Cuaca sejuknya akan terasa hingga sanubari. 

Menikmati Atraksi Kawah Kamojang
Area Kawah Kareta Api, bersih dan asri/ Abah Raka
Destinasi utama wisata Kamojang adalah Kawah yang sudah sejak lama menjadi kawasan favorit masyarakat Bandung-Garut dan sekitarnya. Wisatawan akan disuguhi oleh atraksi berbagai jenis nama kawah. Saat memasuki area, pengunjung akan disambut oleh kawah yang lebih menyerupai Kolam. Memiliki nama Manuk, konon kolam kawah ini sering mengeluarkan suara seperti burung. Sayang saat berkunjung suara tersebut tidak saya dengar. Kawah ini tepat berada di area sebelum masuk gapura Kawah Kamojang.

Dengan Retribusi Rp5.000,00 pada hari biasa dan Rp7.500,00 per orangnya pada hari libur, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan alami, asri, sekaligus bersih. Area ini rupanya telah berbenah dari wajah lama yang apa adanya. Jalan setapak kini sudah dipasangi paving block. Sepanjang jalan kiri dan kanan pohon-pohon hijau rindang mengiringi pengunjung. Area Parkir cukup luas dan nyaman dikelilingi dengan warung-warung yang menyediakan berbagai cemilan khas tempat wisata.

Memasuki jalan setapak yang sudah di-floor dengan rumput-rumput rapih bersih di sekitarnya, dari jauh terdengar suara uap kereta api. Suara tersebut berasal dari sebuah kawah yang menyemburkan gas alam, dengan suaranya tersebut maka kawahnya diberi nama Kawah Kereta Api. Suara dihasilkan dari semburan gas yang cukup kencang yang dipasangi pipa. Area kawah ini menjadi salah satu kawah favorit karena paling atraktif di samping ada penduduk setempat yang sering mengatraksikan dengan melemparkan gulungan kertas atau plastik ke tengah-tengah semburan. Kawah ini sering menjadi objek foto para pengunjung.

Berbeda dengan 10-20 tahun yang lalu, selain bersih, area sekitar juga ditanami dengan tanaman rumput yang nyaman untuk sekedar duduk dan bercengkerama. Seberang rumput yang bersih dan rapi tampak berjejer beberapa gazebo sebagai tempat beristirahat sejenak.

Saat pertama kali berkunjung belasan tahun lalu, di area ini terdapat kawah kendang, karena kawah tersebut mengeluarkan suara seperti kendang. Suara tersebut berasal dari gelembung-gelembung lumpur yang pecah tertiup oleh gas alam dari dalam perut bumi.  Dulu juga terdapat pemandian umum untuk pengunjung, karena airnya yang mengandung blerang diyakini dapat menyembuhkan penyakit korengan. Sayang sekali saat berkunjung lebaran tahun ini, kawah tersebut tidak saya temukan.

Kawah lain yang cukup atraktif adalah kawah hujan. Area kawah ini lebih menyerupai area air terjun. Batu-batu dan aliran alirnya persis seperti di sungai yang yang airnya telah menyusut. Kawah ini menyemburkan air dalam bentuk persis seperti air hujan dari dalam kawah yang hampir dipenuhi oleh batu. Wajar disebut dengan kawah hujan. Selain hujan, berada di area ini, pengunjung sekaligus mandi uap kawah yang diyakini dapat menyembuhkan korengan. Dengan mandi uap atau terlibat dalam atraksi kawah kereta, menjadi bagian agar wisata kawah dapat dinikmati.***[Abah Raka]
Read More

13 July 2018

Menjadi Doktor Tanpa Karya!

sumber gambar: nu online
Bagi akademisi atau berprofesi sebagai pengajar di perguruan tinggi, melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi menjadi mimpi atau bahkan keharusan. Karena isunya, dosen tidak lagi terbatas pada pendidikan S2, tetapi S3 dengan gelar doktor atau Ph.D jika dari luar negeri.

Tidak semua pengajar mendapatkan kesempatan tersebut, dengan program-program penggenjotan pendidikan paling tinggi ini menunjukan bahwa prosentasenya masih sedikit yang mengenyam pendidikan S3. Lambat laun program ini mulai kelihatan, kini anak-anak muda dengan usia 30an tahun sudah cukup banyak yang mengenyam pendidikan S3, dan mereka mendapatkan gelar doktor di bahwa usia 40 tahun atau di atas 30 tahun. Luar biasa.

Ada yang bilang mereka hebat. Mereka sendiri tidak merasa mereka hebat. Atau justeru sebaliknya mereka merasa paling hebat karena masih sedikit teman-teman seprofesinya mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan S3.  Di samping karena seleksi masuknya yang ketat, juga biayanya yang tidak murah. Jika harus ke swastapun sama saja. Belum lagi prosesnya seakan jungkir balik dengan tugas-tugas. Belum lagi mengejar jurnal internasional. Dengan keterbatasan bahasa dan ketidakbiasaan melakukan penelitian, hal ini menjadi cukup berat.

Lalu apa setelah lulus S3 dan berhasil mendapatkan gelar doktor?

Seorang senior berkelakar, jika doktor hanya mampu menjadi jago kandang, berarti gagal. Gak pernah ada yang mengundang jadi pembicara misalnya minimal dari kampus sendiri. Apalagi dari kampus luar. Artinya, kampus sendiri ataupun luar tidak tahu sama sekali apa yang menjadi keahliannya. Ada benarnya juga kelakar tersebut. Sudah pusing-pusing kuliah, bayar mahal-mahal, waste time, meninggalkan keluarga, lalu hasilnya nihil.

Inilah yang ditakutkan, menjadi semacam motivasi buat saya sendiri, jika kemudian mengenyam pendidikan tertinggi ini. Keahlian saya harus diketahui orang. Bagaimana caranya? Banyak cara! Salah satunya adalah bergaul dengan pernak-pernik akademik. Misalnya; tulisan sering muncul diberbagai media massa, agar popular sebagai intelektual publik. Dari sisi akademik juga harus sering menelurkan jurnal ilmiah, dan tentunya harus punya karya utuh dalam bentuk buku orisinal yang menunjukan siapa kita.

Apakah sudah cukup? Belum!

Yang paling penting adalah bagaimana seorang doktor juga tidak hanya berkutat dengan persoalan-persoalan akademik. Menjadi keniscayaan untuk menjadi seorang intelektual. Meminjam Ali Syariati, menjadi intelektual tercerahkan. Pikirannya menembus langit tangannya menggenggam lumpur. Syariati mengatakan:
“Seorang intelektual tercerahkan adalah ia dengan tangan yang sama menuliskan ayat-ayat suci dari langit serta terbenam dalam genangan lumpur dan mengayunkan kayu untuk menyuburkan tanah yang kering, ia berdiri tegak memperjuangkan ayat-ayat Allah dan hak-hak masyarakat”.
Seorang yang ahli dan menjadi intelektual public tidak hanya menguasai ilmu dalam bidang akademiknya saja. Ia harus mau turun ke tengah-tengah masyarakat untuk mengetahui persoalan-persoalannya dan menyodorkan tangannya untuk membantu mereka. Seorang intelektual selalu resah dengan keadaan sekitarnya. Tidak hanya resah dengan persoalan akademiknya.

Jika bidang akademik saya misalnya berkaitan dengan isu-isu masyarakat terkini atau biasa disebut dengan era revolusi industry 4.0 atau istilah Fukuyama dengan Disruptions yang kemudian dijadikan judul buku oleh Prof. Rhenald Kasali, maka isu-isu yang saya angkat relevansinya akan kuat dengan tema tersebut. Apa, siapa, kenapa, dimana, dan bagaimana menghadapi era tersebut. Ini akan menjadi semacam rujukan bagi masyarakat.

Orang-orang yang concern terhadap isu yang dikuasainya dan secara konsinten berbagi dan berpeduli dengan dunia tersebut, pada dasarnya ia telah melakukan action sebagai intelektual. Ia tidak hanya menjadi pemikir di bidangnya, juga turut terjun ke gelanggang untuk menyelamatkan mereka yang terjebak atau tidak tahu jalan di hutan belantara revolusi Industri.

Sebelum menjadi doktor, marilah kita berproses menjadi intelektual. Agar tidak hanya berkutat pada bidang akademik yang selalu duduk di atas menara gading. Marilah terjun ke tengah-tengah masyarakat agar proses intelektualitasnya terasah sehingga ketika menjadi doktor sekaligus kita juga menjadi intelektual tercerahkan seperti ditulis oleh Ali Syariati, serang arsitek revolusi Islam Iran.

Dengan begitu, karya pun akan dengan sendirinya mengikuti, karena ketika banyak sekali isu yang menjadi pemikiran kita, mau tidak mau kita menuangkannya dalam bentuk tulisan tidak hanya berada dalam pikiran. Konsep yang bagus adalah konsep yang sudah dituangkan dalam bentuk sketsa atau tulisan. Sehingga mudah ditemukan dan dipelajari oleh orang lain. 

Jangan menjadi doktor tanpa karya, meminjam istilah seorang teman ia masuk kategori Jaringan Intelektual Kagok. Mari berkarya!


Read More

11 June 2018

Setelah Artikel-Opini, Feature, Lalu Esai!

Inilah Esai, Dokumen Pribadi
Sudah lama mencari buku yang membahas tentang hal ihwal tentang Esai, tapi ternyata cukup sulit, atau memang tidak ada penulis yang mengkhususkan diri menulis buku tentang esai, kecuali antologi esai. Padahal pelatihan penlisan esai beberapa kali saya pergoki walaupun saya tidak menjadi bagian di dalamnya. Kebanyakan buku sejenis tentang artikel-opini, berita dan feature berserakan dalam buku-buku pengantar jurnalistik. Esai? Sama sekali tidak ada karena barangkali tidak masuk kategori produk jurnalistik. Walaupun bisa jadi menjadi bagian dari suplemen produk jurnalistik.

Akhirnya kata kunci mengantarkan saya menemukan satu buku yang diterbitkan secara indie oleh radio buku, dengan penulisnya seorang esais; Muhidin M. Dahlan dengan judul Inilah Esai. Aha inilah yang saya cari-cari di dalamnya. Saat membaca ringkasan, saya curiga jika buku ini adalah buku kumpulan esai dari para penulis sohor sekelas Cak Nun yang telah melahirkan puluhan buku dari kumpulan-kumpulan esai-nya.

Bersamaan dengan Inilah Esai yang saya bawa serta adalah kumpulan Esai dari St. Sunardi Vodka dan Birahi Seorang ‘Nabi’. Jujur, beberapa buku yang ada dalam rak saya adalah kumpulan esai dari penulis sohor yang bahkan menjadi contoh-contoh esai yang ditulis oleh Muhidin ini, sebut saja misalnya esai-esai dari Kuntowijoyo, Yasraf Amir Piliang, Idy Subandi Ibrahim, Cak Nun, Seno Gumira Aji, F Budi Hardiman, Hernowo, atau yang cukup baru dari Pak Guru J. Sumardianta ‘Habis Galau Terbitlah Move On’.

Sayang dari sekian yang mendiami rak saya, yang rata-rata tidak pernah habis saya baca, saya tidak pernah menemukan kata sepakat tentang esai. Rasanya hambar jika saya temukan tulisan yang berserakan di internet tentang esai, tidak ada kata sepakat tentang esai, saya tidak puas, sebelum akhirnya menemukan karya pendiri radio buku tersebut, ‘Inilah Esai; Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor’.

Dalam sampulnya saja sudah memberikan kata sepakat dan memenuhi rasa dahaga saya tentang definisi esai, ‘ Esai itu menghormati karya ilmiah dan puisi’, yang menjadi sub judul dari subjudul buku. Pantas, jika materi tentang esai tidak masuk ke dalam salah satu submateri pengantar ilmu jurnalistik, karena esai berdiri di antara. Berbeda dengan feature.

‘Inilah esai’ sendiri adalah esai. Ya buku ini ditulis dengan gaya menulis esai, berada diantara karya ilmiah dan puisi. Dengan data yang cukup lengkap Muhidin memberikan contoh-contoh esai, persis seperti sedang menulis karya ilmiah. Tapi pada sisi lain, pemilihan diksinya kadang-kadang membuncah, menendang, dan tidak terduga persis seperti fiksi yang sering memunculkan diksi-diksi provokatif, emosional, dan kadang baperan.

Dengan dinamika diksi penulis yang menggunakan gaya esai dalam menulis buku ini, saya merasa kembali lagi ke jaman mahasiswa, buku ini saya lahap dalam waktu yang dalam ukuran sekarang cukup singkat hanya satu minggu. Persis ketika saya membaca buku ‘Muslim Tanpa Mesjid’ Kuntowijoyo pada tahun 2001-an saat mengikuti basic training dari salah satu organisasi pelajar. Termotivasi.

Buku ini bukan hanya memandu secara teknis bagaimana menulis esai, tapi juga sikap apa yang harus dimiliki oleh calon penulis ketika ingin menulis esai. Ia harus banyak menyerap pengetahuan, apapun itu. Sehingga bisa menggunakan kekayaan wawasan dan pengetahuan tersebut sebagai persfektif yang kaya dalam menulis esai.

Satu catatan untuk penulis, betapa ia sebagai seorang literatur sejati ia hampir menguasai semua hal yang terkait dengan situasi dengan konteks saat esai-esai dari pesohor ditulis. Dari mulai saat penulis belum lahir hingga era Jokowi membubukan kaki kekuasaannya dalam esai ‘Revolusi Mental’. Sepertinya ia menyimpan banyak arsip tentang esai-esai sejak era Soekarno Hingga Jokowi.

Bagi saya buku ini mengantarkan kembali pada semangat belajar, saat mahasiswa, penuh idealism, kritis, dan kadang tak tahu diri. Mudah-mudahan ‘ketaktahudirian’ yang menjadi sifat terakhir saat mahasiswa kini bisa saya hilangkan sesuai dengan bertambahnya umur.

Ya, setelah merasakan bagaimana artikel-opini muncul dan beranak pinak pada koran dengan seleksi cukup ketat dan feature yang harus menunggu hinggal berbulan-bulan. Pada akhirnya saya menemukan media untuk menumpahkan unek-unek tanpa harus nyinyir dan emosional, karena disampaikan dengan bahasa yang elegan dan tanpa harus menohok langsung pada objeknya. Seperti yang terjadi di kampus, seorang pimpinan selalu menggunakan telapak tangan orang lain untuk memukul sasarannya. Jleb. Inilah Esai!

Dua kata untuk buku ini ‘kaya dan renyah’.

Read More