Etnografi Virtual; dari Riset Luring, Daring, Hingga Alat Literasi

2

Sumber Gambar: Pikiran Rakyat Cetak
Internet secara nyata membawa dampak perubahan dalam semua kehidupan umat manusia. Mulai dari cara berkomunikasi manusia secara interpersonal ataupun massal, kegiatan ekonomi, politik, bahkan budaya dan keamanan sekalipun. Perilaku tersebut membentuk budaya baru sehingga memunculkan berbagai artefak yang sebelumnya belum ada. Banyak artefak-artefak lahir dari budaya berkomunikasi melalui internet. 

Munculnya berbagai artefak baru tersebut bukan lagi sebagai sesuatu yang maya. Ia adalah realitas, walaupun tidak aktual. Ia secara nyata berdampak pada kehidupan umat manusia. Dunia maya dengan dunia nyata pun kini melebur. Tidak ada lagi batas-batas antara yang maya dan nyata. Misalnya perilaku seseorang di dunia maya, bisa berakibat nyata berususan dengan hukum. Berbagai kasus muncul, dari mulai perilaku kasar sampai tidak senonoh di dunia maya berakibat fatal hingga pelaku terjerat undang-undang kejahatan internet dan menjadikannya bulan-bulan hukum (dipenjara).
Komunikasi sehari-hari juga terjadi peleburan, antara yang maya dan yang nyata, misalnya berbagai bahasa baru muncul dari ruang maya yang sering digunakan dalam berinteraksi sehari-hari baik di dunia maya sekaligus dunia nyata, misalnya GWS, CMIW, KEPO, berbagai macam emoticon, atau bahasa dalam bentuk meme yang diarahkan untuk sindiran-sindiran atau hiburan. 

Perubahan cara berinteraksi antar manusia dan artefak-artefak yang dihasilkan oleh manusia pada akhirnya menuntut adanya pemahaman yang baru. Untuk memahami dengan benar, harus terukur dengan jelas. Pemahaman-pemahaman mendalam dan benar harus dikaji berdasarkan sudut pandang ilmiah agar sesuai dengan kriteria kebenaran. Sehingga menghasilkan pengetahuan dan atau ilmu pengetahuan baru yang benar pula.

Dalam konteks budaya komunikasi dan artefak budaya yang dihasilkan, dunia akademik lazim menyebutnya sebagai etnografi.  Etnografi adalah deskripsi realitas tentang kebudayaan umat manusia, baik masa lalu atau kini. Apa saja hasil ciptaannya, bentuknya seperti apa, jenis-jenisnya, sampai pada proses budaya tersebar dan berdampak pada kebudayaan manusia. 

Realitas maya dengan realitas aktual memiliki karakteristik yang berbeda, jika kita berinteraksi secara offline dan berinteraksi secara online, walaupun pada dasarnya sama-sama berkomunikasi antarpersonal, realitas yang dihadapi sangat berbeda. Melalui karakteristik interface (online) pelaku harus menerjemahkan siapa yang menjadi lawan bicaranya, melalui sifat simulasi, bisa saja pelaku bukan yang sebenarnya. Karena pelaku komunikasi mengganti identitas aktualnya menjadi virtual sehingga sama sekali tidak terkait dengan realitas sebenarnya.

Kajian-kajian terhadap realitas maya yang menjadi pengantar tulisan ini sangat jarang, khususnya di Indonesia. Oleh karena itu, seorang peneliti Cyber Culture, Rulli Nasrullah, atau akrab disapa Kang Arul, menulis buku Etnografi Virtual. Buku ini merupakan bagian dari minat kajiannya sebagai peneliti Cyber Culture setelah menulis buku sejenis lainnya; Media Cyber, Riset Media Cyber, dan Public Relations 2.0. 

Buku ini menjelaskan bahwa untuk melakukan penelitian di media siber tidak cukup menggunakan persfektif etnografi konvensional karena ada beberapa karakteristik yang berbeda antara kedua realitas tersebut. Yang dikaji tidak cukup permukaan saja tetapi juga unsur epistem artefak tersebut sehingga hasil kajiannya bisa dipertanggungjawabkan. Dosen Cyber Kultur di sejumlah universitas di Indonesia tersebut menawarkan menggunakan kajian etnografi virtual atau bisa juga disebut dengan istilah netnografi. 

Bagi Kang Arul, Etnografi tidak sekedar cara untuk melihat realitas budaya sebuah kelompok atau pekerjaan untuk mendeskripsikan sebuah kelompok atau pekerjaan semata, juga menjelaskan masa lalu dan masa depan kelompok masyarakat tersebut. Menyadarkan kelompok atau masyarakat melalui pendekatan tentang dominasi serta hegemoni kekuasaan, praktik-praktik ketidaksetaraan agama, ras, maupun gender. Bukan hanya mengeksplorasi catatan-catatan tentang artefak. 

Dalam konteks komunikasi, seperti ditulis Kang Arul (2017) etnografi menggabungkan antara bidang antropologi dan linguistik untuk mengurai artefak percakapan yang terjadi antarindividu dalam sebuah komunitas. Fokus studi terhadap percakapan dan bahasa pada dasarnya menjelaskan dan menganalisis bagaimana penutur menggunakan bahasa dalam berkomunikasi pada sistuasi nyata dibanding bagaimana cara penutur menggunakan kata-kata atau kalimat yang benar secara  gramatikal.

Netnography  menurut Jorgen Skageby, seperti dikutip penulis buku, dalam karya terbarunya tersebut adalah metode yang digunakan secara kualitatif untuk memahami apa yang terjadi pada komunitas virtual. Dengan menggunakan observasi atau wawancara secara online, teknik ini mencoba memaparkan tentang kebiasaan komunitas yang lebih spesifik dan penggunaan teknologi dalam berkomunikasi. Ia merupakan bentuk khusus atau spasial dari riset etnography yang disesuaikan untuk mengungkap kebiasaan unik dari berbagai jenis interaksi sosial termediasi oleh computer.  Mengadaptasi riset etnografi untuk mempelajari budaya dan komunitas yang terjadi dalam komunikasi termediasi computer. 

Melalui etnografi virtual, seorang peneliti bisa melakukan riset tentang; komunitas secara lebih luas, bukan hanya individu-individu dalam satu komunitas tertentu, juga berbagai komunitas yang saling berinteraksi. Bahasa juga menjadi wilayah riset dari kajian etnografi virtual. Betapa dunia virtual telah menghasilkan bahasa yang unik sehingga berdampak pada kehidupan nyata, seperti disinggung pada awal tulisan. Bukan hanya soal dari jumlah bahasa saja yang berkembang, bentuknya pun lebih beragam. 

Identitas menjadi krusial di media siber, karena setiap warganet bisa melakukan simulasi, membuat identitas ganda yang sama sekali tidak mencerminkan realitas sebenarnya. Setiap individu bisa menciptakan identitasnya sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingannya. Ini juga yang terjadi dengan merajalela dan berkembangnya hoax di Indonesia. Disebarkan oleh identitas virtual yang walaupun pembuatnya nyata tetapi akunnya bersifat simulacrum. Untuk melakukan riset terhadap identitas tentu tidak hanya permukaan saja yang dikaji juga asal-usul dan prosesnya juga. 

Jenis terakhir yang bisa diteliti adalah selebritas dan fans. Sejak populernya aplikasi media sosial, bermunculan selebriti-selebriti baru, bahkan warga biasa juga mengejar popularitas agar masuk kategori selebritas, ramai-ramai eksis di salah satu aplikasi media sosial. Selebriti media sosial ini walaupun bukan artis ataupun public figur, tetapi mereka dibicarakan dan diburu setiap postingannya. Setiap postingannya selalu ditunggu oleh para followers atau teman jejaringnya. Bagaimana hal ini bisa muncul, baik konten atau proses kreativitasnya bisa diteliti berdasarkan kajian etnografi.

Ciri khas jejaringnya, media siber seperti halnya  media massa konvensional, bisa menciptakan relasi kuasa. Dengan struktur sosialnya yang cenderung egaliter, bahkan media internet bisa mengelabui relasi dengan kekuasaan tersebut karena mengatasnamakan warganet tanpa curiga siapa yang ada dibelakangnya. Melalui kajian etnografi virtual kritis, bisa membongkar bagaimana relasi antar artefak-artefak yang muncul dengan strutur sosial dan kekuasaan yang lain. 

Melalui buku Etnografi Virtual, Kang Arul tidak hanya memaparkan sejumlah definisi, prinsip, ataupun paradigma, tetapi juga menawarkan prosedur, level, isu sampai panduan praktis penelitian dalam kajian etnografi  di media siber. Dengan demikian, buku ini tidak hanya menawarkan isu konseptual, sekaligus panduan praktis bagaimana melakukan penelitian etnografi virtual yang disertai contohnya.

Buku ini sangat cocok untuk peneliti ataupun mahasiswa yang sedang melakukan penelitian, khususnya mahasiswa ilmu sosial dan atau ilmu komunikasi dan kajian media baru yang tertarik dengan isu-isu yang muncul di media siber. Sejauh penulis amati, di Indonesia masih sangat jarang buku-buku referensi tentang kajian media siber, jika pun ada tidak spesifik untuk keilmuan tertentu, sehingga buku ini sangat layak dijadikan referensi atau pun bahan literasi digital. Sehingga masyarakat umum pun bisa menjadikannya rujukan literasi digital agar tidak terjebak oleh perilaku simulasi, buku ini bisa menjadi pelengkap wawasan baru. 

Banyaknya istilah-istilah baru dalam buku ini, bisa menjadi pengayaan wawasan, namun dengan sedikit pembacaan dan pemahaman yang mendalam. Bagi yang malas membaca, sepertinya buku ini hanya jadi tambahan koleksi yang sia-sia saja. Oleh karena itu, agar tidak sia-sia, praksisnya, melakukan penelitian dengan menggunakan metode etnografi virtual sepertinya menjadi pertimbangan yang bijak, agar mau melakukan pembacaan mendalam dan mempelajari berbagai isu-isu dan istilah-istilah baru dalam buku tersebut.

Selamat membaca, selamat meneliti, selamat beraksi, dan selamat dari kekejaman warganet yang kadang kejam.

Salam
Dudi Rustandi, Peminat Literasi Digital

Afi dan Tanggung Jawab Netizen

0
sumber foto: detikcom
Adilkah pada akhirnya kita mencaci dan membully Afi, sementara kita sendiri yang mengangkatnya tinggi-tinggi? 

Afi cerdas? Mungkin iya, Afi pintar? Juga mungkin ya, gurunya mungkin lebih mengetahui dan mengenalnya. Tapi Afi seorang ABG yang masa remajanya belum habis, itu sudah pasti.

Setelah mendapatkan pujian, kini seakan tak berhenti menuai cacian. Dari sekedar menuliskan status di facebook, meme di Instagram, ataupun cuitan-cuitan di twitter, bahkan tulisan panjang lebar di sebuah portal blog seperti Kompasiana, kumparan, IDN Geotimes, dan lain sebagainya. Mungkin lebih banyak lagi dari yang saya kira.

Sejak tulisan “Belas Kasih dalam Agama Kita” viral di media sosial yang memunculkan sosok Afi yang berkesan begitu intelek karena bukan hanya soal isi tulisannya, juga soal kepeduliannya terhadap keindonesiaan.

Apa efeknya saat seorang Abege begitu intelek dan being nation-nya begitu tinggi di saat keragaman yang seakan terancam di media sosial? Ini ibarat sebuah panasea bagi orang-orang yang sakit kepala namun sulit sekali menemukan obatnya. Di tengah keterancaman keberagaman yang diakibatkan oleh ‘perang’ ekstrem kaum kiri dan kanan di Indonesia, sosok Afi yang masih abege bisa menjadi penampar muka kita semua yang sedang berhadap-hadapan satu sama lain sesama bangsa agar sedikit malu oleh pikirannya yang cergas (cerdas dan lugas).

Apakah kita tidak malu oleh anak abegeh yang seharusnya merayakan kelulusan dengan curat-coret baju bersama teman-teman sekolahnya? Atau unjuk gigi mengumbar wajahnya dengan beragam gaya selfi abegeh jaman sekarang? Sementara abege lain melakukan hal tersebut, Afi justeru begitu memikirkan bangsa ini. Mungkin begitulah pikiran kita saat itu yang ikut memiralkan tulisannya yang kini dianggap kopi paste tersebut.

Dalam konteks psikologi sosial, saat terjadi konflik, sosok-sosok pencerah akan keluar sebagai pahlawan. Ia menjadi penengah di antara dua kawan yang sedang berseteru.

Sosoknya akhirnya menjadi ‘Sang Pencerah’ bagi semua orang yang sudah gerah dengan perseteruan kebinekaan. Afi menjadi terkenal, diangkat oleh berbagai portal dan jurnal harian. Hampir semua media sosial tidak luput dari sosok Afi yang jauh dari kesan binal, bahkan wajahnya pun terkesan alim dan rendah hati. Semua orang memuja dan memujinya, Afi didaulat menjadi pembicara kebangsaan di kampus terkenal. Di saat anak seumurannya asyik bermain gadget, pikiran Afi sudah menyentuh Kitab Bidayatul Aulia. Skhirnya dipanggil ke Istana, bertemu dengan Presiden Jokowi yang murah hati.

Saya sendiri, tidak termasuk salah satu orang yang ikut memviralkan tulisan tersebut. Karena situasinya, bagi saya sangat tidak pas. Kemunculan tulisan Afi, seakan menjadi tulisan serangan yang diarahkan kepada kelompok tertentu, yang dituduh intoleran dan tidak pancasilais. Tulisannya yang viral, bagi saya saat itu semacam tulisan yang sudah diagendakan oleh kelompok tertentu, begitu suudzon saya. Sehingga saya tidak mau membahas dan ikut arus yang sedang ramai dibicarakan. Untuk membahas Afi.

Namun kemudian, setelah Afi dicaci dan bahkan media massa pun sepertinya melepaskan tanggung jawabnya untuk menjadi penengah atau pelerai permasalahan ini, saya justeru merasa kesal. Bukankah apa yang terjadi tersebut karena ulah kita juga? Coba jika tulisan Afi kita anggap saja sebagai tulisan yang lumrah beredar di media sosial dan referensinya bisa dari mana saja yang ada di internet? Barangkali kejadiannya tidak seperti sekarang.

Afi yang masih Abege dan mungkin mentalnya belum begitu siap menghadapi semua cacian dan bullian yang ditujukan kepadanya, harus menanggungnya sendirian. Belum ada satu media yang membela dan mendudukan Afi pada persoalan sebenarnya. Belum ada media yang mencoba menyudahinya. Justeru media juga ikut-ikutan menuduh Afi melakukan plagiat, walaupun pada faktanya Afi sudah meminta maaf atas kejadian tersebut.

Ya, bisa jadi Afi pada akhirnya meminta maaf dan melakukan pembelaan diri, dengan mengatakan bahwa sejak SD sampai sekarang misalnya saat mengerjakan tugas makalah, kita tidak pernah luput dari plagiasi sehingga terkesan menjadi sombong. Mungkin itu cara Afi agar dirinya tidak tergelincir pada cacian yang berkelanjutan sehingga dirinya tidak mudah down dan tertekan. Muncul lagi satu tulisan yang mencaci bahwa Afi Sombong, apa yang dikatakan oleh Afi sebagai bentuk kesombongan intelektual.

Halooooooo!?

Bukankah kita yang memuji? Kenapa juga harus mencaci? Atau ini menjadi sifat kita yang sebenarnya, saat senang kita memuji, tapi saat tidak mendapatkan yang diinginkan lantas ikut mencaci?

Saya tidak ingin ikut memuji dan kemudian kini ikut mencaci. Karena ‘kecerdasan’ Afi adalah buatan kita. Keterkenalan Afi adalah kita yang mengenalkannya melalui media sosial. Begitu juga media massa (online/ konvensional) ikut memberikan gelar terhadap sosok Afi.

Adilkah pada akhirnya kita mencaci dan membully Afi, sementara kita sendiri yang mengangkatnya tinggi-tinggi? 

Manfaat dan Penyakit yang Sembuh melalui Puasa

0
sumber: dinkes.inhukab.go.id
Saya menegaskan bahwa puasa adalah cara yang paling efisien untuk mengoreksi penyakit
Alan Scot-Ahli Gizi

Saat kuliah, penyakit maag saya pernah kambuh hingga harus dirawat karena komplikasi dengan typus. 3 minggu bedres, akhirnya bisa kembali belajar di kelas. Ada pelajaran dari sakit tersebut, saya harus disiplin makan secara teratur. Pagi-pagi tidak boleh telat sarapan dan makan siang pun tidak boleh melewati batas jam 13.00.

Walaupun tampak normal, jika telat sarapan, lambung saya langsung sakit. Kadang salatri jika telat makan. Salatri adalah suatu kondisi lemas dan berkeringat karena lambung kosong, belum terisi makanan. Kondisi ini berlangsung selama bertahun-tahun. Sebelum akhirnya saya sadar, jika bertemu dengan bulan ramadhan maag saya benar-benar sembuh. Hingga akhirnya saya jadikan puasa sebagai therapy.

Teringatkan kembali oleh sebuah iklan tentang empati dalam toleransi antarumat beragama tentang puasa oleh google. Puasa selain menyembuhkan penyakit maag—alih-alih tambah sakit—dan bisa menjadi perekat pertemanan bagi pemeluk beda agama (iklan google), juga dapat menyembuhkan beberapa penyakit;

Maag/ penyakit lambung
Setelah berangsur-angsur pulih dari maag, saya membeli buku ‘Penyembuhan Cara Sufi’, salah satu yang dibahasnya adalah therapy puasa. Dalam buku tersebut diungkap bagaimana penyakit maag bisa sembuh melalui therapy puasa. Melalui pengosongan perut tersebut, semua racun yang ada di dalam perut dipaksa keluar. Oleh karena itu, dalam proses penyembuhannya, saat puasa pertama sampai puasa hari keempat, biasanya sang empunya suka mencret-mencret. Menurut Syeikh Cistiyah, itu merupaka ciri-ciri jika perut sedang mengeluarkan banyak racun dari dalam lambungnya.

Seperti yang sering saya alami, jika masuk ramadhan kedua dan ketiga, pembuangan saya selalu mengalaminy—mencret. Oleh karena itu, jangan khawatir jika terjadi pada kita. Karena pada dasarnya, itu merupakan bagian dari proses penyembuhan penyakit lambung.

Oleh karena itu, alih-alih membuat sakit lambung, dengan berpuasa justeru lambung menjadi bersih dari racun-racun yang menyebabkan banyaknya asam karena asupan dari makanan.

Obesitas
Wah beneran bisa menyembuhkan obesitas? Lagi-lagi ini pengalaman saya hehe. Walaupun tidak tergolong gemuk, tetapi perut sudah tidak ideal lagi, bahkan cenderung sudah balap ke depan.

Puasa bisa menjadi awal yang baik untuk diet, karena obesitas bisa mengundang penyakit lainnya datang ke dalam tubuh kita. Dengan puasa setidaknya bisa mengurangi berat badan dan memperbaiki bentuk perut yang bulat. Dengan puasa yang teratur dan rutin apalagi saat ramadhan bisa menjadi therapy alami untuk mengurangi obesitas. Artinya kita juga sedang mengantisipasi penyakit lain datang karena sembuh dari obesitas.

Setiap kali puasa, berat badan saya selalu turun dan yang cukup membuat senang adalah bentuk perut saya tidak lagi buat, minimal tidak kelihatan jika menggunakan t-shirt.

Agar puasa menjadi therapy bagi penderita obesitas, seperti yang saya lakukan, makanlah sebelum kenyang, dan jangan jadikan buka puasa menjadi ajang balas dendam memasukan semua makanan yang kita inginkan. Begitu juga saat sahur, jangan sampai sahur perut kekenyangan, makan secukupnya yang penting asupan gizinya cukup. Begitu juga setelah sahur/ sholat shubuh jangan langsung tidur, lebih baik melakukan aktifitas lain yang bermanfaat.

Diabetes
Menurut beberapa situs, dengan pengontrolan yang ketat terhadap asupan makanan dan gizi, dengan bantuan dokter, puasa juga bisa mengurangi gula darah. Bahkan dalam tayangan on the spot pernah dibahas, bagaimana penyembuhan diabetes juga bisa dilakukan dengan puasa tanpa bantuan obat kimia sedikitpun. Dengan puasa, gula darah bisa dikontrol sehingga otomatis bisa menetralkan gula yang dikeluarkan oleh pancreas.

Penyakit Jantung
Dikutip dari tribunnews, puasa juga bisa menyembuhkan penyakit jantung. Dengan berpuasa, berdasarkan hasil penelitian mutakhir tubuh seseorang dapat menurunkan kadar apo-betta dan menaikan kadar apo-alfa1 yang menjadi penyebab tersumbatnya aliran darah. Karena dengan berpuasa, emosi menjadi stabil sehingga tekanan darah juga stabil.

Stress
Menurut Alan Scot, seperti saya kutip dari abiumi.com puasa pengalaman yang menenangkan. Hal ini tenang. Ini mengurangi kecemasan dan ketegangan. Hal ini jarang menyedihkan dan sering benar-benar menggembirakan. Artinya bahwa dengan berpuasa, seseorang bisa meminimalisir stress atau depresi. Begitu pula disampaikan oleh Gabriel Cousins, bahwa puasa bisa mengurangi kecematas, depresi berkurang.

Meningkatkan daya kreatif
Berkurangnya kreatifitas, bisa jadi menjadi penyakit berbahaya bagi self employee yang sangat bergantung pada kemampuan otak kanan tersebut. Seperti ditulis oleh Gabriel Cousin, seorang psikoterapis, dengan puasa juga bisa membersihkan sel-sel otak sehingga meningkatkan daya emosi dan spiritual, artinya dengan puasa bisa meningkatkan kreatifitas seseorang.

Hal yang sama dikantan seorang ahli gizi Adolph Mayer, MD, dari buku Fast Cures nya – Wondercures (abiumi.com) bahwa Puasa menciptakan kondisi konsentrasi rendah dari limbah beracun dalam sistem peredaran darah. Hal ini dirasakan oleh membran plasma dari setiap sel dan setiap sel kemudian akan melepaskan beban limbah beracun.

Seorang teman pernah berkata, selama sebulan saya bisa menyelesaikan satu buku dengan ketebalan minimal 200 halaman. Dan benar saja, ia bisa menyelesaikan bukunya tersebut.

Penyakit hati
Jika puasa dilakukan dengan benar, penyakit-penyakit hati yang selama ini tumbuh subur bisa terkurangi. Dengan berpuasa, seseorang bisa menekan setiap emosi negatif yang biasa tumbuh subur. Apalagi salah satu emosi juga disebabkan oleh asupan makanan yang cukup berbahaya, misalnya daging-dagingan. Belum lagi, anjuran untuk banyak beribadah pada saat puasa bisa menghaluskan hati kita yang keras. Dengan demikian, puasa juga berefek pada penyembuhan beberapa penyakit hati yang mungkin selama ini kita derita; pelit dan kikir, disembuhkan dengan zakat dan sodaqoh, iri dengki disembuhkan dengan berbagi dengan sesama, ujub takabur bisa disembuhkan dengan banyaknya orang-orang baik yang kita saksikan ternyata lebih banyak dari kita. Inferioritas bisa disembuhkan ternyata banyak sekali orang-orang yang kekurangan penerima zakat dan lain sebagainya.

Manfaat
Selain berbagai penyakit yang bisa disembuhkan, secara ilmiah puasa juga banyak manfaatnya. Hal ini bukan subjektif berdasarkan kajian-kajian yang dilakukan oleh umat Islam, tetapi juga menjadi kajian bagi ilmuwan barat. Seperti dikutif dari situs abiumi.com; misalnya dikatakan oleh Elson Haas bahwa puasa adalah salah satu metode penyembuhan terbaik secara keseluruhan karena dapat diterapkan untuk banyak kondisi dan orang. Ia juga mengatakan jika puasa merupakan terapi penyembuhan alami terbesar tunggal. Ini adalah sifat kuno, yang universal, obat bagi banyak masalah. Hewan secara insting puasa ketika mereka sakit.

Masih menurut situs abiumi.com, James F. Balch, MD, dalam Resep untuk Penyembuhan Gizi mengatakan jika puasa dapat membantu proses penyembuhan dengan kecepatan yang lebih besar; membersihkan hati Anda, ginjal, usus besar; membersihkan darah Anda, membantu Anda menurunkan berat badan berlebih dan air; membersihkan racun; membersihkan mata dan lidah; dan membersihkan napas.

Sedangkan Alan Cott, gelar M.D., dari Fasting: The Ultimate Diet menyatakan jika terapi puasa mempercepat proses penyembuhan dan memungkinkan tubuh untuk pulih dari penyakit serius dalam waktu singkat secara dramatis. Puasa juga jika dikombinasikan dengan kompetensi gizi, menghilangkan penyebab yang paling signifikan dari penyakit. Lebih jauh Alan mengatakan jika terapi puasa bukan obat mistis atau magis. Ia bekerja karena tubuh memiliki kapasitas untuk menyembuhkan diri sendiri ketika hambatan yang ada dihapus. Kesehatan adalah keadaan normal. Sebagian besar penyakit kronis adalah konsekuensi tak terelakkan dari hidup gaya hidup yang menempatkan penyebab penyakit stres pada organisme manusia. Puasa memberikan tubuh selingan tanpa mereka stres sehingga tubuh cepat dapat memperbaiki atau mencapai penyembuhan yang tidak bisa sebaliknya terjadi saat makan. Tugas puasa adalah untuk memasok tubuh dengan lingkungan yang ideal untuk menyelesaikan pekerjaan penyembuhan.

Semoga Bermanfaat
Salam
Sumber: Buku Penyembuhan Cara Sufi, tribunnews.com, abiumi.com

Wikipedia jadi Rujukan Ilmiah?

0
sumber gambar: themarkle.com
Saat membuka halaman pertama sebuah buku, tiba-tiba satu definisi tentang sebuah istilah mengutip tulisan dari sebuah blog. Ugh, tiba-tiba serasa ditampar. Mending jika yang dikutip tersebut berasal dari pendapat pakar atau ekspert di bidangnya. Mungkin saya kenal jika yang dikutip adalah gubes atau doktor di bidangnya tersebut. Padahal jelas buku yang baru saja saya buka pada halaman pertama tersebut adalah buku referensi ilmiah, yang akan digunakan oleh mahasiswa untuk keperluan ilmiah juga.

Di era internet, penikmat buku mungkin sering terkecoh juga oleh tampilan sebuah buku, namun isinya sebagian besar mengutip dari referensi internet yang kurang bisa dipertanggungjawabkan. Mungkin saja penulisnya sudah bertanggung jawab untuk menuliskan sumbernya, tetapi sumber yang dikutip adalah blog yang tidak jelas siapa penulis dan bidang kepakarannya apa.

Media internet sesungguhnya menyediakan banyak sumber rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Sehingga sebuah tulisan bisa dikatakan ilmiah atau setidaknya memenuhi kriteria tulisan ilmiah. Misalnya, jurnal-jurnal yang sudah memiliki ISSN baik dari dalam negeri atau luar negeri yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan. Ataupun project buku gratisan versi ebook yang sudah ber-ISBN.

Mencari sumber-sumber tersebut tidaklah sulit, jika ingin langsung ditujukan ke sumbernya tinggal masuk ke scholar.google.com. Saat memasukan kata kunci, maka akan muncul berbagai rujukan sesuai kata kunci, yang berasal dari berbagai perguruan tinggi atau situs pengelola jurnal. Sumber-sumber ini dapat dipertanggungjawabkan karena memenuhi kriteria ilmiah. Para peselancar juga bisa berselancar ke situs perguruan tinggi yang telah menyediakan elibrary, dimana semua rujukan ilmiah disimpan.

Lalu bagaimana dengan Wikipedia?
Wikipedia sering dijadikan sebagai sumber rujukan buku. Tidak sedikit buku-buku rujukan menjadikan Wikipedia sebagai bahan menulis. Apakah ini sah? Ya, sah-sah saja. Hanya saja, penulisnya terkesan malas mencari referensi dari sumber lain. Padahal banyak sumber rujukan yang lebih ekspert di internet seperti saya tulis di atas. Lebih baik menghindari Wikipedia, kecuali untuk keperluan data bukan yang bersifat teori. Karena masih banyak source lain yang secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan, apalagi buku tersebut untuk keperluan referensi ilmiah, misal sebagai bahan kuliah. Pengecualian untuk buku-buku popular, bisa sebagai bacaan ringan untuk hiburan semata.

Nah, begitu juga selama ini tugas-tugas mahasiswa sering dipenuhi oleh rujukan dari Wikipedia dan blog-blog yang keilmiahannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan, Wikipedia dijadikan sebagai rujukan untuk referensi penyusunan tugas akhir. Sahkah? Bolehkah? 

Rujukan dari Wikipedia sering digunakan oleh mahasiswa dalam menyusun tugas akhirnya, Pertanyaan yang sering diajukan oleh mereka, “emang gak boleh pak?” saya sering katakan tidak boleh, apalagi untuk bab teori, bahkan saya sering mengharamkannya. Kecuali untuk bahan ilustrasi di latar belakang.

Ada beberapa alasan kenapa Wikipedia tidak bisa dijadikan rujukan ilmiah dalam menyusun tugas akhir, skripsi, ataupun thesis;

Pertama, Soal rujukan Wikipedia. Wikipedia adalah ensiklopedia opensource yang memungkinkan penulisnya dari berbagai latar belakang, mulai dari umur, pendidikan, profesi. Orang yang bukan seorang ahli pada bidangnya bisa saja menulis tentang bidang ilmu lain selama menggunakan kaidah penulisan pada Wikipedia. Rujukan-rujukan yang digunakan oleh Wikipedia juga cenderung sangat terbuka, bisa dari buku misalnya untuk kajian pemikiran atau ketokohan. Bisa juga referensinya dari berbagai blog yang tersebar di internet.

Kedua, Soal Kepakaran. Untuk menulis karya ilmiah, kepakaran menjadi salah satu ukuran. Jika saya menulis karya ilmiah tentang biologi, tentu sangat dianjurkan agar linier dengan bidang keilmuan, rujukan yang saya gunakan adalah seorang ahli biologi yang menulis pada bidang ilmunya. Jadi teringat kata-kata seorang Pemikir Iran, Ali Syariati, “Saat seseorang sakit, dan dokter mengatakan sakit seseorang, itu adalah ilmiah karena yang mengatakan memang ahlinya”.

Sebagai opensource, Wikipedia tidak mencantumkan kepakaran penulisnya, tidak juga misalnya menuliskan tim ahli tertentu dalam bidang tertentu. Oleh karena itu untuk rujukan ilmiah, walaupun terdapat kriteria penulisan, Wikipedia tidak atau setidaknya belum bisa dijadikan sebagair sumber rujukan ilmiah.

Ketiga, Tidak mencantumkan nama penulis. Wikipedia tidak mencantumkan siapa yang menulis satu tulisan tertentu. Padahal seperti disinggung pada alasan nomer dua, mencantumkan penulis menjadi salah satu alasan agar seseorang tersebut diketahui tentang kepakarannya. Sehingga apakah satu tulisan di Wikipedia bisa tidaknya dijadikan rujukan tidak jelas. Siapapun bisa menulis selagi bisa mengaksesnya, dari mulai anak SD, SMP, SMA, atau siapapun. Teringat cerita seorang teman yang sedang mengambil program doktor di Bandung. Makalahnya ditolah oleh dosen gara-gara salah satu rujukannya terdapat satu rujukan yang ditulis oleh lulusan Strata 2. Nah, apalagi Wikipedia yang juga bisa ditulis oleh siapapun.

Nah, itu beberapa alasan tentang kenapa Wikipedia tidak atau belum bisa dijadikan sebagai rujukan ilmiah. Walaupun tulisan dalam Wikipedia tersebut tentu sudah memenuhi aturan penulisan dari tim.

Rata-rata tulisan dari Wikipedia, apalagi dengan sumber rujukan yang jelas, sangat bermanfaat untuk menambah wawasan kita, menambah pengetahuan, bisa menjadi sumber pembelajaran, tetapi untuk rujukan ilmiah, sepertinya masih belum bisa memenuhi kriteria.

Ilmiah sendiri apa sih? Nah loh bingung!


Syarikat Islam dan Kebangkitan Nasional

10
Tersebutlah satu organisasi yang diinisiasi oleh seorang priyayi yang menghimpun para elit masyarakat secara ekonomi, politik, maupun sosial. Pada tahun 1900-an, berangkat dari keprihatinan yang terjadi terhadap masyarakat pribumi, yang tertinggal sekaligus ditindas oleh pengusaha Belanda melalui sistem tanam paksa. Sang pendiri ingin melakukan perubahan di masyarakat melalui support para elit atau para priyayi.

Syarikat Priyayi, demikian sebutan organisasi tersebut, ternyata tidak mampu menjadi magnet bagi para priyayi untuk bergabung dan melakukan perubahan terhadap masyarakat. Tirto Adi Suryo yang menjadi penggagas tidak cukup cakap memasarkannya. Sebagai mantan jurnalis untuk media-media asing, ia tidak mampu merajut relasi dengan masyarakatnya sendiri khususnya para elit untuk mendukung perjuangannya mengangkat harkat martabak masyarakat Indonesia saat itu.

Tirto Adi Suryo tidak menyerah, setelah seringnya mendapatkan kenyataan bahwa masyarakat pekerja dibayar sangat murah, untuk sekedar makan saja begitu kesulitan. Empati ini begitu kuat. Hingga melihat kenyataan bahwa mayoritas masyarakat tersebut adalah umat Islam. Pada sisi lain, alat perjuangannya tidak mendapatkan tempat dari masyarakat, karena membawa embel-embel priyayi yang jelas punya jurang pemisah dengan rakyat jelata.

Syarikat Islam, menjadi pilihan bagi Tirto Adi Soeryo, selain untuk memperjuangkan mereka yang selama ini banyak ia saksikan menderita. Ia juga punya ekspektasi didukung oleh masyarakat yang mayoritas umat Islam. Bergantilah dari Syarikat Priyayi pun berubah menjadi Syarikat Islam.

Sejak mengganti nama syarikat priyayi menjadi syarikat Islam, respon masyarakat sangat berbeda. Banyak para pedagang dan saudagar mendaftarkan diri menjadi anggota bahkan masyarakat biasa dari kalangan muslim pun berbondong-bondong masuk organisasi yang kemudian dikenal juga sebagai syarikat dagang Islam. Karena salah satu focus perjuangannya adalah memperjuangkan ekonomi politik masyarakat muslim yang saat itu cenderung termarginalkan oleh para pengusaha Belanda dan nonpribumi lainnya.

Dalam beberapa tahun, Syarikat Dagang Islam mampu menggeser monopoli ekonomi Belanda. Dari mulai hotel, kertas, media, dan perdagangan lainnya. Hingga akhirnya Belanda merasa bahwa Syarikat Islam ini menjadi salah satu ancaman kebangkrutan ekonomi mereka. Betapa tidak, suplay kertas yang tadinya dimonopoli oleh perusahaan Belanda, kini mampu dilakukan oleh Syarikat Islam dengan membuka kerjasama internasional secara langsung dengan perusahaan asing.

Bahkan dari usaha yang dilakukan oleh SI, bukan hanya mampu memajukan ekonomi kaum pribumi. Sebagian keuntungannya juga disalurkan untuk menyokong pendidikan pribumi yang diinisiasi oleh Boedi Otomo. Pada awal-awal berdirinya Boedi Oetomo khususnya saat perjuangan dalam mendapatkan hak pendidikan, SI tampil paling depan menjadi donaturnya.

Pada sisi lain, perjuangan ekonomi politik terus dilakukan oleh SI, Boedi Oetomo berjuangan untuk mendapatkan keseteraan pendidikan untuk pribumi. SI dan BO berkolaborasi memperjuangkan hak rakyatnya.

Syarikat Islam pun berkembang dengan pesat bahkan menjadi satu-satunya organisasi yang memiliki cabang di setiap daerah, bukan hanya Jawa tapi juga luar Jawa. Hal ini dikarenakan bahasa pengantar dalam menjalankan organisasi ini menggunakan bahasa melayu yang sudah difahami oleh hampir sebagian masyarakat Indonesia; Jawa, Sumatera, Kalimantan dan lainnya.

Sayang, perjuangan ekonomi politik dianggap sebagai ancaman yang berbahaya bagi Belanda, belum lagi isu-isu yang selalu dihembuskan oleh SI melalui Medan Priyayi untuk memperjuangkan hak ekonomi, sosial, budaya, ataupun politik bangsa Indonesia. Sungguh membuat Belanda selalu merah muka. Hingga akhirnya Tirto Adi Soeryo menjadi buruan. Sebelum akhirnya dia mati oleh Agen.

Bukan Samanhudi atau HOS Tjokroaminoto yang menjadi founding father SI, ia adalah tokoh dan pahlawan pers Indonesia TAS. Pram memanggilnya Minke. Anak bupati lulusan Stovia yang tersadarkan akan keadaan bangsanya melalui perjuangan pers dan usaha ekonomi politik. Ialah yang membawa bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan melalui Medan Priyayi dan bahasa organisasi SI. Bukan bahasa Belanda, Jawa, atau Sunda yang menjadi tempat besarnya SI dan Medan Priyayi Buitenzorg atau Bogor.

Maka wajar jika seharusnya, SI mendapat tempat sebagai organisasi yang membawa kesadaran akan berbahasa persatuan. Ialah salah satu cikal bakal pembangin kesadaran nasional tahun 1908. Yang telah banyak berjasa memajukan kesadaran melalui sokongan dana langsung pendidikan Boedi Oetomo yang saat itu tak lebih dari organisasi kedaerahan, jika dilihat dari sisi bahasa-Jawa. Saat Boedi Oetomo sedang mencari langkah, Syarikat Islam sudah membukakan jalannya.

Syarikat Islam telah mendorong kebangkitan nasional, bukan hanya dari sisi bahasa, juga dari sisi rasa kebangsaan.

Maka wajar, belakangan Syarikat Islam menggugat tentang siapa pelopor Kebangkitan Nasional, bahkan banyak yang bertanya, siapa sesungguhnya pelopor kebangkitan nasional.

Rasanya tidak mungkin, Pram yang berasal dari Blora mengkhianati bangsanya, demi membela Syarikat Islam. Pelurusan sejarah ini perlu, agar semangat kebangkitan nasional tidak dinodai oleh chauvinisme.