13 July 2018

Menjadi Doktor Tanpa Karya!

sumber gambar: nu online
Bagi akademisi atau berprofesi sebagai pengajar di perguruan tinggi, melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi menjadi mimpi atau bahkan keharusan. Karena isunya, dosen tidak lagi terbatas pada pendidikan S2, tetapi S3 dengan gelar doktor atau Ph.D jika dari luar negeri.

Tidak semua pengajar mendapatkan kesempatan tersebut, dengan program-program penggenjotan pendidikan paling tinggi ini menunjukan bahwa prosentasenya masih sedikit yang mengenyam pendidikan S3. Lambat laun program ini mulai kelihatan, kini anak-anak muda dengan usia 30an tahun sudah cukup banyak yang mengenyam pendidikan S3, dan mereka mendapatkan gelar doktor di bahwa usia 40 tahun atau di atas 30 tahun. Luar biasa.

Ada yang bilang mereka hebat. Mereka sendiri tidak merasa mereka hebat. Atau justeru sebaliknya mereka merasa paling hebat karena masih sedikit teman-teman seprofesinya mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan S3.  Di samping karena seleksi masuknya yang ketat, juga biayanya yang tidak murah. Jika harus ke swastapun sama saja. Belum lagi prosesnya seakan jungkir balik dengan tugas-tugas. Belum lagi mengejar jurnal internasional. Dengan keterbatasan bahasa dan ketidakbiasaan melakukan penelitian, hal ini menjadi cukup berat.

Lalu apa setelah lulus S3 dan berhasil mendapatkan gelar doktor?

Seorang senior berkelakar, jika doktor hanya mampu menjadi jago kandang, berarti gagal. Gak pernah ada yang mengundang jadi pembicara misalnya minimal dari kampus sendiri. Apalagi dari kampus luar. Artinya, kampus sendiri ataupun luar tidak tahu sama sekali apa yang menjadi keahliannya. Ada benarnya juga kelakar tersebut. Sudah pusing-pusing kuliah, bayar mahal-mahal, waste time, meninggalkan keluarga, lalu hasilnya nihil.

Inilah yang ditakutkan, menjadi semacam motivasi buat saya sendiri, jika kemudian mengenyam pendidikan tertinggi ini. Keahlian saya harus diketahui orang. Bagaimana caranya? Banyak cara! Salah satunya adalah bergaul dengan pernak-pernik akademik. Misalnya; tulisan sering muncul diberbagai media massa, agar popular sebagai intelektual publik. Dari sisi akademik juga harus sering menelurkan jurnal ilmiah, dan tentunya harus punya karya utuh dalam bentuk buku orisinal yang menunjukan siapa kita.

Apakah sudah cukup? Belum!

Yang paling penting adalah bagaimana seorang doktor juga tidak hanya berkutat dengan persoalan-persoalan akademik. Menjadi keniscayaan untuk menjadi seorang intelektual. Meminjam Ali Syariati, menjadi intelektual tercerahkan. Pikirannya menembus langit tangannya menggenggam lumpur. Syariati mengatakan:
“Seorang intelektual tercerahkan adalah ia dengan tangan yang sama menuliskan ayat-ayat suci dari langit serta terbenam dalam genangan lumpur dan mengayunkan kayu untuk menyuburkan tanah yang kering, ia berdiri tegak memperjuangkan ayat-ayat Allah dan hak-hak masyarakat”.
Seorang yang ahli dan menjadi intelektual public tidak hanya menguasai ilmu dalam bidang akademiknya saja. Ia harus mau turun ke tengah-tengah masyarakat untuk mengetahui persoalan-persoalannya dan menyodorkan tangannya untuk membantu mereka. Seorang intelektual selalu resah dengan keadaan sekitarnya. Tidak hanya resah dengan persoalan akademiknya.

Jika bidang akademik saya misalnya berkaitan dengan isu-isu masyarakat terkini atau biasa disebut dengan era revolusi industry 4.0 atau istilah Fukuyama dengan Disruptions yang kemudian dijadikan judul buku oleh Prof. Rhenald Kasali, maka isu-isu yang saya angkat relevansinya akan kuat dengan tema tersebut. Apa, siapa, kenapa, dimana, dan bagaimana menghadapi era tersebut. Ini akan menjadi semacam rujukan bagi masyarakat.

Orang-orang yang concern terhadap isu yang dikuasainya dan secara konsinten berbagi dan berpeduli dengan dunia tersebut, pada dasarnya ia telah melakukan action sebagai intelektual. Ia tidak hanya menjadi pemikir di bidangnya, juga turut terjun ke gelanggang untuk menyelamatkan mereka yang terjebak atau tidak tahu jalan di hutan belantara revolusi Industri.

Sebelum menjadi doktor, marilah kita berproses menjadi intelektual. Agar tidak hanya berkutat pada bidang akademik yang selalu duduk di atas menara gading. Marilah terjun ke tengah-tengah masyarakat agar proses intelektualitasnya terasah sehingga ketika menjadi doktor sekaligus kita juga menjadi intelektual tercerahkan seperti ditulis oleh Ali Syariati, serang arsitek revolusi Islam Iran.

Dengan begitu, karya pun akan dengan sendirinya mengikuti, karena ketika banyak sekali isu yang menjadi pemikiran kita, mau tidak mau kita menuangkannya dalam bentuk tulisan tidak hanya berada dalam pikiran. Konsep yang bagus adalah konsep yang sudah dituangkan dalam bentuk sketsa atau tulisan. Sehingga mudah ditemukan dan dipelajari oleh orang lain. 

Jangan menjadi doktor tanpa karya, meminjam istilah seorang teman ia masuk kategori Jaringan Intelektual Kagok. Mari berkarya!


Read More

11 June 2018

Setelah Artikel-Opini, Feature, Lalu Esai!

Inilah Esai, Dokumen Pribadi
Sudah lama mencari buku yang membahas tentang hal ihwal tentang Esai, tapi ternyata cukup sulit, atau memang tidak ada penulis yang mengkhususkan diri menulis buku tentang esai, kecuali antologi esai. Padahal pelatihan penlisan esai beberapa kali saya pergoki walaupun saya tidak menjadi bagian di dalamnya. Kebanyakan buku sejenis tentang artikel-opini, berita dan feature berserakan dalam buku-buku pengantar jurnalistik. Esai? Sama sekali tidak ada karena barangkali tidak masuk kategori produk jurnalistik. Walaupun bisa jadi menjadi bagian dari suplemen produk jurnalistik.

Akhirnya kata kunci mengantarkan saya menemukan satu buku yang diterbitkan secara indie oleh radio buku, dengan penulisnya seorang esais; Muhidin M. Dahlan dengan judul Inilah Esai. Aha inilah yang saya cari-cari di dalamnya. Saat membaca ringkasan, saya curiga jika buku ini adalah buku kumpulan esai dari para penulis sohor sekelas Cak Nun yang telah melahirkan puluhan buku dari kumpulan-kumpulan esai-nya.

Bersamaan dengan Inilah Esai yang saya bawa serta adalah kumpulan Esai dari St. Sunardi Vodka dan Birahi Seorang ‘Nabi’. Jujur, beberapa buku yang ada dalam rak saya adalah kumpulan esai dari penulis sohor yang bahkan menjadi contoh-contoh esai yang ditulis oleh Muhidin ini, sebut saja misalnya esai-esai dari Kuntowijoyo, Yasraf Amir Piliang, Idy Subandi Ibrahim, Cak Nun, Seno Gumira Aji, F Budi Hardiman, Hernowo, atau yang cukup baru dari Pak Guru J. Sumardianta ‘Habis Galau Terbitlah Move On’.

Sayang dari sekian yang mendiami rak saya, yang rata-rata tidak pernah habis saya baca, saya tidak pernah menemukan kata sepakat tentang esai. Rasanya hambar jika saya temukan tulisan yang berserakan di internet tentang esai, tidak ada kata sepakat tentang esai, saya tidak puas, sebelum akhirnya menemukan karya pendiri radio buku tersebut, ‘Inilah Esai; Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor’.

Dalam sampulnya saja sudah memberikan kata sepakat dan memenuhi rasa dahaga saya tentang definisi esai, ‘ Esai itu menghormati karya ilmiah dan puisi’, yang menjadi sub judul dari subjudul buku. Pantas, jika materi tentang esai tidak masuk ke dalam salah satu submateri pengantar ilmu jurnalistik, karena esai berdiri di antara. Berbeda dengan feature.

‘Inilah esai’ sendiri adalah esai. Ya buku ini ditulis dengan gaya menulis esai, berada diantara karya ilmiah dan puisi. Dengan data yang cukup lengkap Muhidin memberikan contoh-contoh esai, persis seperti sedang menulis karya ilmiah. Tapi pada sisi lain, pemilihan diksinya kadang-kadang membuncah, menendang, dan tidak terduga persis seperti fiksi yang sering memunculkan diksi-diksi provokatif, emosional, dan kadang baperan.

Dengan dinamika diksi penulis yang menggunakan gaya esai dalam menulis buku ini, saya merasa kembali lagi ke jaman mahasiswa, buku ini saya lahap dalam waktu yang dalam ukuran sekarang cukup singkat hanya satu minggu. Persis ketika saya membaca buku ‘Muslim Tanpa Mesjid’ Kuntowijoyo pada tahun 2001-an saat mengikuti basic training dari salah satu organisasi pelajar. Termotivasi.

Buku ini bukan hanya memandu secara teknis bagaimana menulis esai, tapi juga sikap apa yang harus dimiliki oleh calon penulis ketika ingin menulis esai. Ia harus banyak menyerap pengetahuan, apapun itu. Sehingga bisa menggunakan kekayaan wawasan dan pengetahuan tersebut sebagai persfektif yang kaya dalam menulis esai.

Satu catatan untuk penulis, betapa ia sebagai seorang literatur sejati ia hampir menguasai semua hal yang terkait dengan situasi dengan konteks saat esai-esai dari pesohor ditulis. Dari mulai saat penulis belum lahir hingga era Jokowi membubukan kaki kekuasaannya dalam esai ‘Revolusi Mental’. Sepertinya ia menyimpan banyak arsip tentang esai-esai sejak era Soekarno Hingga Jokowi.

Bagi saya buku ini mengantarkan kembali pada semangat belajar, saat mahasiswa, penuh idealism, kritis, dan kadang tak tahu diri. Mudah-mudahan ‘ketaktahudirian’ yang menjadi sifat terakhir saat mahasiswa kini bisa saya hilangkan sesuai dengan bertambahnya umur.

Ya, setelah merasakan bagaimana artikel-opini muncul dan beranak pinak pada koran dengan seleksi cukup ketat dan feature yang harus menunggu hinggal berbulan-bulan. Pada akhirnya saya menemukan media untuk menumpahkan unek-unek tanpa harus nyinyir dan emosional, karena disampaikan dengan bahasa yang elegan dan tanpa harus menohok langsung pada objeknya. Seperti yang terjadi di kampus, seorang pimpinan selalu menggunakan telapak tangan orang lain untuk memukul sasarannya. Jleb. Inilah Esai!

Dua kata untuk buku ini ‘kaya dan renyah’.

Read More

24 April 2018

Bianglala di Atas Jakarta


Menyaksikan estetika kota dari ketinggian tertentu menjadi satu kepuasan tersendiri. Padanan kotak-kotak yang tersusun rapi di atas bumi, keteraturan jalan yang menjadi seperti halnya garis-garis menjadi pembatas gedung pencakar langit, jalan tol memanjang menjadi border gedung terbentang dari ujung batas kota melewati dalam kota menuju pinggiran. Sebagai co-creator Tuhan, manusia mampu menciptakan keindahan duniawi melalui gedung menjulang tersebut. Disandingkan dengan kreasi Tuhan yang Maha Indah, lautan luas terbentang tanpa batas sejauh mata memandang.

Secuil keindahan ini bisa dinikmati dari ketinggian yang tak seberapa dari atas bianglala, sebuah wahana yang berputar secara simetris dalam porosnya dari bawah ke atas dan sebaliknya sambil menikmati pemandangan sekitarnya sehingga penikmatnya bisa turun naik tanpa perlu khawatir tumpah dan jatuh. Tidak sedikit warga yang menjadikan bianglala sebagai wahana hiburan. Termasuk bagi saya. Saya menikmati bianglala bukan karena bisa berputar maju dan naik lalu turun lagi. Tapi saya juga menikmati proses naik turunnya kehidupan. Seperti makna intrinsik dari bianglala sendiri sebagai warna warni pelangi.

Bangunan Jakarta dari atas Bianglala
Rabu, 4 April 2018 saya mendapatkan kesempatan menikmati bianglala serta wahana lain – melalui One Day Trips bersama Politeknik LP3I Bandung. Sebagaimana halnya bianglala dalam arti kiasan, One Day Tour ini adalah titik warna-warni cerah yang menggantikan warna abu dan hitam. Menggantikan rutinitas kerja, membebaskan dari cengkeraman meja, mendatangkan suasana dengan warna ceria.

“Minimal Bapak Ibu bisa refreshing….”

Begitu kira-kira kata yang terlontar untuk mengantarkan kami pergi berwisata satu hari tersebut –  agar bisa merilekskan diri dari kegiatan rutinitas. Tujuannya adalah Dunia Fantasi hehehe…yang memang sudah digadang-gadang sebelumnya. Waktu SMP sempat akan pergi ke salah satu tempat favorit di ibu kota ini, sayang karena faktor biaya akhirnya akhir berangkat. Saat kuliah tahun 2008 akhirnya kesampaian juga hehe…

Tapi sekarang? Setelah 10 tahun, begitu banyak wahana sejenis yang bisa menjadi sarana hiburan. Belum lagi sepertinya refreshing lebih asyik mantai atau destinasi yang lebih didominasi oleh pepohonan hijau seperti hutan atau bukit.

Tanjung Priuk, dok: pribadi
Saya membayangkan, apa enaknya naik kora-kora yang bisa bikin jantung copot, apa enaknya naik roller coaster yang bikin andrenalin tidak karu-karuan, apa enaknya naik ontang-anting yang seperti balita ketemu komidi putar? Ah sudahlah, itu 10 tahun lalu memang asyik…tapi sekarang di saat usia sudah kepala tiga.

Tapi letak rekreasinya bukan naik itu semua, kebersamaan bersama rekanlah refreshing sesungguhnya.  Yap, betul banget kebersamaan. Sama halnya saat bertemu teman-teman lama, masalah hidup seakan tenggelam karena selalu bernostalgia dengan masa lalu.

Pukul enam, saya sudah berkumpul dengan rekan dan mahasiswa. Jam 11.00 sampai lokasi. Sebagai yang ditunjuk menjadi guide, saya masuk belakangan. Membiarkan peserta untuk menikmati duluan berbagai wahana yang tersedia. Saya sendiri lebih banyak melewati wahana-wahana tersebut. Memilih menikmati panasnya ibu kota yang terus menerus membuatku berkeringat.

Menjelang pukul 15.00 akhirnya saya menikmati kehidupan melalui bianglala, suatu pasang surut kehidupan dari setiap orang. Kadang di bawah kadang juga di atas. Jika pernah merangkak hidup dari bawah, ikhtiar dan sabar bisa mengantarkan orang untuk naik ke atas.

Antri bersabar menunggu giliran, akhirnya saya pun bisa menikmati kotak-kotak hasil rekayasa co-creator di atas tanah Jakarta. Sebuah bangunan pencakar langit yang tersusun rapi. Cuaca cerah menambah keindahan kota begitu Nampak. Dibatasi garis-garis tegas berupa jalan dan border daratan, lautan luas tak terhingga menambah ketakjuban. Inilah akhir dari One Day Trip, refreshnya ada di ujung helatan. Bianglala di atas Kota Jakarta. **[]
Read More

15 April 2018

Menikmati Kopi Sanger di W@reh Kupie


Penampakan Kopi Sanger buihnya kasar tapi rasanya smooth
Hari sabtu kerja? Malam minggu masih ngampus? Hmmm sudah biasa! Tinggal gimana menikmatinya aja sih. Tapi tentu saja itu dilakukan karena di kota sendiri dengan suasana yang sudah terbiasa, yang setiap minggunya pasti terulang.

Tapi….

Apakah mau melewatkan malam minggu di kampung orang hanya dengan menjadi kupu-kupu hotel? Kuli pulang – kuli pulang ke hotel, lalu tidur, besoknya nguli lagi? Tentu saja enggak kan?!

Sementara teman-teman yang merasa lebih muda memilih memisahkan diri untuk ngemall dan mencari tongkrongan, saya ikut saja bapak-bapak yang sudah pada matang dengan jiwa mudanya yang masih bergejolak hehehe…maksudnya ikut pulang ke hotel. Biasa, di tempat kerja selalu membiasakan diri untuk taat amir alias pemimpin rombongan hehehe…

Saat kendaraan melaju, tiba-tiba saja sang kumendan – bukan amir, spontan ngajak cari makan di luar hotel. Artinyaaa? Ini tentu saja kalimat tersirat menikmati malam mingguan di negeri orang, jiwa muda tersalurkan biar usia bukan lagi kepala 2....

Awalnya saat mencari tongkrongan dan ngopi kendaraan yang kami tumpangi mengarah ke Mr. Brewok Dining Room, Jalan Sudirman Pekanbaru. Sayang, rupanya kendaraan melaju lebih tepat dibandingkan dengan arahan mister google maps yang katanya 15 menit lagi, padahal taunya lokasi yang kami tuju sudah terlewat beberapa ratus meter hingga akhirnya kami harus memutar arah.

Saya sudah membayangkan mendapatkan tempat yang nyaman, bersih, dan harga terjangkau dengan wifi kencang. Namun saat berbelok arah, tiba-tiba seorang teman teriak, eh itu apa Wareh kopi? Saya pun langsung menengok, tampak kendaraan roda dua dan empat sudah berjejer, dengan lampu biru membelit pohon di depan tempat parkir.

Wareh Kupie, ramai luar dalam...

“Yuk kesitu aja, sepertinya enak buat nongkrong, udah pak disitu aja!” pinta saya…

Dan akhirnya kendaraan langsung dibelokkan ke tempat parkir berpasir putih.

Ternyata saat masuk ke dalam W@reh Kupie, hampir semua termpat duduk sudah terisi, yang kosongpun sudah reserved. Kami kebagian tempat paling pinggir yang sempit dengan meja kecil. Setelah saya duduk, tiba-tiba pramusaji mengarahkan kami ke tempat yang sudah reserved dengan ruangan lebih privat dan meja cukup lebar, sekalipun untuk digunakan sebagai meja kerja 4 orang.

“Menu favoritnya apa?” tanya kumendan.

“Kopi Sanger pak,” jawab pramusaji.

“Apa itu Kopi Sanger?” kumendan tanya lagi.

“Itu kopi aceh tambah creamer,” jawabnya

Saya penasaran, karena selama ini saya selalu ngopi Arabica Gayo untuk meminimalisir gangguan lambung, lalu saya tanya,”Itu kopi Arabica bukan? Tanya saya.
pembuka menu, kopi sanger dan ketang goreng

“Bukan, itu kopi Aceh bukan Arabica,” ujar pramusaji…

Ya sudah, dalam hati saya mending coba, daripada penasaran apakah Kopi Sanger itu varian Arabica atau Robusta, akhirnya saya pesan, 2 teman lain pun pesan kopi yang sama. Sebagai menu favorit, ternyata meja sebelahnya juga memesan Kopi Sanger.

Dengan buihnya yang kasar, saya curiga kalau itu bukan kopi Arabica, saya cium, baunya seperti wangi kopi hangus, “Ini sih Robusta, “ ucap saya dalam hati. Dan benar saja setelah saya sruput, aroma itu tidak jauh dari jenisnya, Robusta—agak pahit-pahit dikit, tapi justeru disitulah rasa nikmatnya muncul. Kopi Sanger punya taste-nya sendiri.

Kopi Sanger dibuat dengan sedikit susu, sehingga rasa kopi pahitnya lebih kerasa. Persis seperti yang sering saya buat menggunakan Vietnam drip dengan bahan Arabica Gayo, hanya saja jika Arabica rada asem, Sanger terasa lebih pahit. Bagi yang suka kopi, dua-duanya punya taste masing-masing.

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari berbagai situs, Kopi Sanger adalah kopi khas Aceh dan menjadi jenis menu kopi favorit. Sanger dihasilkan dari gilingan kopi yang kasar.

Awalnya memang kopi Sanger dibuat dari Robusta, seperti yang saya minum menggunakan jenis tersebut. Sanger sendiri merupakan kependekan dari ‘sama-sama ngerti’ bukan ‘SANGE’ loh ya hehehe…konon terinspirasi gara-gara harga kopi susu mahal. Apalagi dengan jenis kopi Arabica. Maka ya dari sisi harga, mencoba kopi khas Aceh ini di W@reh Kupie hanya mengeluarkan kocek 10.000,- saja untuk satu gelasnya.
menikmati makanan khas Aceh di Pekanbaru W@reh Kupie

Sambil ngeblog on the spot demi update blog sebulan sekali, Kopi Sanger saya nikmati bersama sepiring kentang goreng. Demi merasakan panasnya  kopi, saya seruput cepat-cepat. Saat tulisan ini menjelang tuntas, perut saya lapar, akhirnya pesan nasi goreng seafood. Dan makanan penutup berat ini melengkapi kenikmatan santap malam di Pekanbaru yang baru saja saya jejak.***[] 

Read More

17 March 2018

Literasi: Hati-hati dengan Remarketing Google!

sumber: google
Tulisan ini terinspirasi status Kang Isjet, Chief Community Editor Kompasiana. Ia memosting status tentang bumerang terhadap seorang pegiat media digital yang bermaksud menyerang sebuah situs muslim atau dengan kata lain menjelek-jelekkannya namun justeru berbalik menyerang dirinya sendiri. Tak tanggung-tanggung jabatannya sebagai pendiri dan juga direktur. Serangan yang dilakukan oleh orang tersebut adalah memosting iklan yang muncul pada sebuah situs berita muslim. Iklan yang dimaksud adalah iklan berbau pornografi.

Terlepas benar atau tidak, hoax atau bukan. Google menampilkan iklan berdasarkan kata kunci yang biasa dicari oleh para peselancar. Contohnya, sebulan yang lalu atau beberapa minggu yang lalu saya mencari lensa Nikon 18-200 mm. Saya lakukan banyak pencarian di berbagai marketplace agar mendapatkan harga termurah dan juga barang terbaik. Walaupun pada akhirnya belum membelinya karena alasan keuangan. Setiap saya buka situs apapun, situs yang memasang iklan google akan menampilkan iklan lensa nikon tersebut. Kita seakan diikuti oleh iklan tersebut kemana pun kita pergi. 

Dalam istilah digital marketing, google sendiri menamakannya sebagai remarketing – pemasaran ulang display yang dipasang atau barang yang dipasarkan. Untuk para pemasar cara ini sangat efektif, karena sekali barang kita dicari oleh seseorang, maka kemungkinan besar barang yang kita kampanyekan pada google adword akan terus muncul pada alamat email yang kita gunakan untuk mencari barang tersebut. 

Sama halnya saat kita mencari suatu video pada youtube, saat kita buka lagi keesokan harinya youtube kita melalui alamat email yang sudah terpasang, maka akan muncul lagi video yang kita cari. Dalam keterangannya, google menulis bahwa remarketing adalah,”Kampanye pemasaran ulang digunakan untuk menampilkan iklan kepada orang yang pernah mengunjungi situs web Anda atau menggunakan aplikasi Anda. Kampanye ini menyediakan setelan dan laporan tambahan khususnya untuk menjangkau pengunjung dan pengguna sebelumnya.” Begitu kata google.

Belakangan seorang teman seperti ditulis pada paragraf di atas memosting twit seorang pegiat media digital yang menyerang situs Islam melalui cuitannya. Cuitannya menampilkan bahwa situs Islam tersebut mengingklankan ‘pornografi’. Ia meng-capture iklan pornografi tersebut. Kalau rujukannya remarketing, apa yang dicuitkan adalah pengulangan apa yang sering dicari. Saat membuka situs lain, apa yang dicari akan muncul kembali.

Bagi orang awam—seperti saya, bisa jadi dengan polosnya akan menuduh,”wah parah nih, situs Islam kok ngiklanin pornografi,” tentu saja dengan yakinnya. Jika kebencian saya sudah mendalam terhadap situs Islam tersebut, saya akan capture dan menyebarkannya di akun media sosial saya. Agar kredibilitas situs Islam tersebut jatuh. Ya, mungkin dengan begitu dahaga kebenciannya terlampiaskan. Apalagi situs Islam tersebut seakan-akan selalu berhadapan dengan cara pandangnya yang berseberangan. 

Tapi sayang, dalam persfektif remarketing, justeru apa yang saya sebarkan memperlihatkan ketidaktahuan saya tentang dunia digital. Perilaku saya menjadi bumerang untuk saya sendiri.

Karena pada dasarnya iklan yang ditayangkan/ ditampilkan oleh sebuah situs—khususnya yang berasal dari google adalah apa yang belakangan sedang dicari-cari. Saya kutip dari toffeedev.com, remarketing memberikan sebuah cara efisien untuk menampilkan iklan spesifik kepada mereka yang pernah mengunjungi website. Ini merupakan cara terbaik untuk terhubung kembali—saya ulangi—untuk terhubung kembali dengan orang-orang yang belum pernah menjadi pelanggan saat mengunjungi website. Dengan kata lain, saat seseorang mencari pertama kalinya sudah produk/ jasa, ia akan mendatangi lagi dengan iklan yang relevan dengan apa yang pernah dicari. Remarketing didasari beberapa kegiatan yang dilakukan seseorang di dalam website yang dikunjungi.

Pelajaran yang bisa saya petik, kritis harus tapi sebelum melakukan kritik harus melakukan literasi—literasi digital. Agar kritik kita lebih elegan dan tidak jadi bumerang. Alih-alih menjadi produktif malah destruktif terhadap diri sendiri. 

Tentu saja tulisan ini pada akhirnya bukan tentang tips beriklan dengan melakukan remarketing tetapi lebih pada karakteristik dunia digital yang benar-benar transparan. Perilaku kita akan ditunjukan sendiri oleh media yang kita jajaki. Apa yang kita lihat, apa yang kita lakukan di media digital akan diperlihatkan juga kepada orang lain. Di Era digital perilaku kita menjadi transparan, bahkan sekalipun kita menggunakan akun samaran.***[]
Read More

25 February 2018

Muslim Milenial, Konsumtif Sekaligus Religius!

Sumber: @abahraka
Setiap periode sejarah Islam di Indonesia memiliki tokoh-tokoh yang menjadi panutan sekaligus rujukan berfikir dan betindak ummatnya. Sejak prakemerdekaan yang melahirkan tokoh Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari, Hamka, atau tokoh kemerdekaan M. Natsir dan Wahid Hasyim.  Wahid Hasyim putra Hasyim Asyari selain tokoh kemerdekaan juga menjadi tokoh orde lama. Begitu juga orde baru melahirkan pemikir pembaharu sekelas Nurkholis Madjid atau Zainudin MZ. Sedangkan masa reformasi kita mengenal sosok Amin Rais atau Aa Gym. Lantas bagaimana Islam generasi digital, siapa tokoh yang muncul ke permukaan?

Era digital yang tidak lagi mengenal batas geografis memiliki tokoh panutan yang digitalfriendly, ia melek teknologi sekaligus berwawasan lintas sektoral, kehadirannya selalu dibarengi oleh viralitas atas sepak terjangnya yang tersebar di media digital, baik media online mainstream ataupun media sosial. Sama halnya dengan tokoh-tokoh orde baru dan reformasi, ia juga memiliki pemikiran yang lintas madzhab.

Hanya saja, jika para tokoh-tokoh Islam sebelumnya terkesan serius dan kaku. Para tokoh Islam Era Digital cenderung gaul dan kekinian. Sebut saja Hanan Attaki, pendiri Pemuda Hijrah jebolan Al-Azhar Mesir ini bukan hanya menguasai keilmuan Islam ia juga aktif di media sosial. Tidak seperti ustadz kebanyakan, Hanan Attaqi mendekati market dakwahnya melalui pendekatan-pendekatan kekinian; vlogging, update media sosial, mengenakan sweater hooly, kupluk dan sorban.

Generasi muslim inilah yang hendak digambarkan oleh Yuswohadi dan kawan-kawan dalam buku Gen M #Generationmuslim, Islam Itu Keren. Generasi muslim era digital cenderung menjadi muslim yang universal, ia tidak hanya memikirkan urusan akherat dengan tingkat spiritualitas yang tinggi juga sangat sensitif terhadap urusan duniawi.

Generasi digital yang sering dianekdotkan menjadi jaman now seringkali dikategorikan sebagai generasi Y dan atau Z seperti ditulis oleh Don Tapscot dalam Buku  Grown Up Digital (2009). Dalam konteks muslim Indonesia diistilahkan oleh Penulis Buku Crowd  tersebut sebagai #GenM karena pengalamannya lebih kontekstual dibandingkan dengan yang diistilahkan oleh Tapscot.

#GenM muncul ketika ICMI lahir diikuti oleh kehadiran Bank berbasis Muslim, Muammalat, lalu keberpihakan Presiden kedua Indonesia H.M. Soharto, dilanjutkan masa reformasi, naiknya Gusdur menjadi presiden, Fenomena Aa Gym awal tahun 2000, disusul popularitas film Ayat-ayat Cinta, lalu opick, kemudian masuknya nafas Islam ke dalam musik rock seperti dilakukan oleh grup Band Gigi tahun 2005.

Tahun 2010 merambah ke dunia fashion, banyak artis dan dunia fashion mulai mengembangkan gerakan hijab, kosmetik halal, hotel syariah, media Islam. Lalu kemunculan dakwah melalui media digital tahun 2012, diikuti ekonomi sharing yang salah satu pendirinya juga mewakili generasi muslim seperti Nadiem Makarim pencetus Gojek atau Ahmad Zaki CEO Bukalapak. Dakwah melalui media sosial semakin populer seperti dilakukan Hanan Attaqie, dan lainnya. Peristiwa dan fenomena tersebut menjadi spirit bagi munculnya generasi muslim di era digital.

#GenM tidak hanya concern terhadap religiusitas secara personal, juga ditunjukkan melalui perilaku sosial; Zakat bertumbuh pesat, bukan hanya yang dikelola oleh pemerintah atau ormas, juga oleh Civil Society Organization (CSO) seperti Rumah Zakat yang jangkauan bantuannya sudah lintas negara, atau Aksi Cepat Tanggap (ACT), Yatim Piatu, dan masih banyak lagi.

Karakateristik lainnya yang dimiliki oleh #GenM adalah mereka juga modern, bukan hanya dalam konteks pemikiran tapi juga perilaku sehari-hari. Mereka selalu update terhadap persoalan dan pengetahuan dunia. Sense of knowledge yang dimiliki oleh #GenM membuat mereka  sangat terbuka, fleksibel, dan berwawasan luas dalam memandang segala persoalan. Karakteristik inilah yang menjadi modal bagi lahirnya berbagai ragam inovasi dari #GenM.

Hal yang paling mainstream dari karakteristik generasi ini adalah Digital Savvy. Mereka adalah generasi yang bergantung pada teknologi dan masif menggunakan 5 jenis layar; TV, desctop, laptop, iPad, dan smartphone setiap harinya. Melalui ragam layar tersebut mereka melakukan banyak aktivitas dari bersosialisasi, melakukan pekerjaan, berbelanja. Mereka menganut gadget freak dimana aktivitasnya banyak dihabiskan bersama kelima layar di atas sehingga kemampuan relationship dan social skill nya kurang. Mereka juga hidup di banyak tempat online (komunitas) baik berbahasa lokal ataupun global.

Banyaknya relasi secara online dari komunitas global membuat pikiran mereka juga sangat terbuka. Merekalah generasi global sesungguhnya, karena mereka tidak hanya mengetahui secara global persoalan, mereka juga sudah terkoneksi dan berelasi secara global secara online.

Yuswohadi dkk memotret dengan gamblang dalam buku berjudul #GenM yang diterbitkan oleh Bentang tersebut bagaimana generasi muslim masa kini bukan saja religius baik secara personal atau individual. Ia juga menjadi dinamisator ekonomi di Indonesia, baik ekonomi berbasis sosial seperti pengelolaan ZIS dan wakaf ataupun berbasis ekonomi sharing. Generasi muslim mengisi hampir di setiap sektor ekonomi Indonesia dari ekonomi berbasis teknologi sampai seni.

Sebagai buku hasil penelitian, buku ini sangat komprehensif dalam memotret kemunculan generasi baru muslim di era digital. Namun tidak seperti hasil-hasil penelitian yang cenderung disajikan dalam kemasan serius, buku ini justeru sebaliknya, ditulis dan dikemas dengan cara populer. Penulisan subjudul yang mengikuti trend digital menambah kesan ngepop terhadap buku kajian yang masih langka ini di Indonesia mengenai kebangkitan Islam Populer. Sehingga segmentasi pembaca pun bisa dari semua kalangan.

Untuk memahami generasi muslim masa kini agar tidak kehilangan kesempatan berinteraksi dengan para inovator yang berasal dari generasi , buku ini layak menjadi bagian dari koleksi. Namun tentu saja, buku ini tidak memotret bagaimana generasi muslim yang masih jauh dari koneksi internet, sehingga tidak seharusnya memakan mentah-mentah semua isinya. Membaca buku ini harus ditempatkan pada konteksnya, yaitu yaitu potret generasi muslim yang sudah terhubung dengan jaringan internet. ***[]
Read More

18 February 2018

Belajar Photoshop Tanpa Bingung

sumber foto: Bang Udin @Syaifuddin1969
Suka ngiri kalau baca blog seseorang tampilan foto pada beranda media sosialnya rapih dan estetis. Apalagi setelah sayah klik, fotonya tampak serasi dan seimbang dengan layout blog dan blogpostnya. Saya tahu kalau foto tersebut adalah hasil olahan photoshop atau semacamnya seperti corel atau AI.

Misalnya, saat akan mengganti foto formal dengan menggunakan jas hasilnya ternyata malah seperti ‘buronan’ hehehe. Padahal sudah mengikuti tutorial seperti yang saya tonton dari youtube, begitu juga saat saya ingin mengganti latar foto dengan warna lain ternyata gampang-gampang susah. Lebih banyak susahnya daripada gampangnya, padahal tutorial udah didonlot semua.

Trililing sebuah pesan grup muncul, Kelas Blogger bulan Januari akan membuka kelas blogger ke 19 dengan tema Adobe Photoshop. Bukan barang kebetulan karena workshop ini selain vlogging adalah kelas yang ditunggu-tunggu. Saya langsung respon dan daftar deh melalui google worksheet. Alhamdulillah masih masuk kuota, karena kuotanya lumayan banyak.

Kelas yang diselenggarakan tanggal 21 Januari 2018 di kantor Kaskus. Ini merupakan kelas kedua yang saya ikuti setelah sebelumnya pada kelas blogger 6 belajar tentang vlogging.

Saat memasuki kelas, ternyata banyak master dan suhu blogger yang sudah bangkotan (red: jago photoshop) di antaranya ada Pak Dian Kelana dan teman seperguruan dari Bandung, Kang Ade Truna. Iya sih tujuan mereka bukan belajar, tapi niat baik bersilaturahmi.

Bagi saya, selain silaturahmi, memang niat belajar photoshop. Buktinya nanya-nanya serius gimana caranya biar bisa ngedit foto biar bisa bokeh dan latar foto menjadi gambar hitam putih. Cukup lama juga sih ngotak-ngatiknya, padahal Cuma satu pertanyaan hahaha.

Dipandu sama MC traveler, Kak Agil, acara berjalan lancar dan suasana tambah akrab. Celetukan-celetukannya gak garing hahaha…ngalir dan rame. Apalagi merchandise mengalir dengan derasnya. Saya kebagean dua kalo gak salah. Satu karena termasuk yang datang paling cepat, satu lagi karena kebaikan MC ngasih Cuma-Cuma, belum lagi ngutil kaos sama ketua kelasnya, Mas Kholis hehehe (jangan bilang-bilang ketua Yayasan ya Mas Kholis, pliz!).

Belajar Photoshop Langsung dari Masternya
Tutorial photoshop di youtube sudah bejibun, begitu juga banyak bertebaran di ratusan blog. Tapi rasanya kok tetap gak bisa-bisa ya. Entahlah, mungkin memang gak bakat. Saat tatap muka langsung belajar youtube   eh photoshop ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Mau bikin kreasi photo dengan latar hitam putih dan focus objek berwarna saja sampe berulang-ulang ganti objek karena gagal lagi gagal lagi. Sampai akhirnya minta bantuan tutor untuk mengajari langsung. Parah ini mah.

Tapi itulah enaknya belajar sambil langsung silaturahmi. Saat tutorial mentok, tidak ada jalan keluar, kita bisa bertanya langsung sama masternya. Dan ini juga yang terjadi. Sang Master langsung mengajari dengan mendatangi meja sayah. Membuat photo dengan objek terfokus dan latar hitam putih ternyata harus membuat beberapa layer. Tentu saja saya tidak tahu sebelumnya.

Begitu juga saat membuat tulisan dan mengubah atau mengedit huruf, warna, efek, dan ukuran di dalam toolsnya tiggal diklik saja. Benar-benar blahbloh saya tentang photoshop.

Praktik kedua adalah membuat tulisan dengan ukuran sesuai keinginan. Yaitu membuat objek tulisan. Lagi-lagi ternyata sulit melakukannya sendiri. Dan lagi-lagi saya dibantu untuk menentukan tinggi dan lebar layer. Belajar dari youtube atau dari blog, petunjuknya sama, tetapi jika kebingungan kita harus benar-benar mencernanya sendiri. Dengan daya tangkap dan kreativitas yang semakin berkurang, belajar langsung, tatap muka kepada ahlinya lebih faham dibandingkan dengan belajar dari multimedia.
Sumber gambar: @kelasblogger

Kaskus Kreator
Selesai kelas photoshop, peserta diajak tour ke fasilitas aplikasi baru dari kaskus. Yaitu kaskus creator. Kaskus creator adalah platform kaskus baru yang diperuntukkan para penulis yang selama ini tidak mendapatkan penghargaan apa-apa. Melalui kaskus creator seorang penulis bisa mendapatkan point atau reward dari mimin. Reward berupa point ini dapat ditukar dengan uang cash jika sudah mencapai jumlah tertentu. 

Kaskus kreator sama halnya dengan blog kroyokan atau portal netizen atau istilah kerennya user generated content. Setiap orang bisa memiliki akun dan menulis pada kaskus kreator. Agar kaskus kreator diverifikasi, penulis harus memosting 3 tulisan. Untuk lebih lengkap informasinya dapat dibuka info di kaskus tentang kaskus kreator. ***[]

Read More