09 October 2018

Malang, Bukan Sekadar Bandung!

Malang; sumber; kaskus
Malang bukan hanya kota pendidikan karena di sana berdiri beberapa perguruan tinggi negeri mentereng seperti Univesitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, atau UIN Malang. Di sana juga berdiri perguruan tinggi mentereng milik Muhammadiyyah, Universitas Muhamadiyyah Malang atau Universitas Kanjuruhan. Wajar Malang memiliki predikat sebagai kota pendidikan.
Malang juga terkenal dengan apel-nya, yang walaupun kecil tetapi rasanya khas manis asam yang menyegarkan. Apel malang, berwarna hijau kemerahan dengan ukuran tidak terlalu besar. Cukup terkenal sebagaimana halnya Jeruk Garut di Jawa Barat.
Ada satu kota di Malang yang disamakan dengan Lembang, bahkan saking menyerupainya ada seorang traveler yang membuat satu pernyataan, “jika diibaratkan Bandung, Batu Malang itu ibarat Lembang”. Tapi saat membaca berbagai destinasi wisata di Kota Malang, bagi saya Malang bukan sekadar Bandung. Karena bukan hanya destinasi nan sejuk yang tersedia di Malang seperti Kota Batu, juga lengkap dengan pantai serta destinasi buatan yang keren.
Inilah Tempat Seru di Kota Malang
Bagi para perantau, Malang adalah sebuah kota kecil dengan jutaan cerita menarik yang selalu bisa dikenang lewat setiap sudutnya. Malah, nggak jarang semua cerita yang pernah dicatat di kota ini berbuah rindu untuk kembali mengunjunginya dan menelusuri tempat-tempat yang memberikan keceriaan di masa lalu. Nah buat kamu yang akan dan baru mengunjungi kota kecil ini, ada beberapa tempat wisata di Malang yang bisa kamu lihat di laman Traveloka sambil mulai merencanakan apa saja aktivitas yang akan dilakukan selama berlibur di sini.
Nah karena ada banyak banget destinasi seru yang bisa dikunjungi, berikut ini adalah beberapa rekomendasi tempat wisata di Malang yang bisa kamu tuju untuk menghabiskan waktu liburan. Mulai dari wisata alam sampai kuliner, keceriaan dan kenangan berkesan pun pasti bakal kamu tuai dari beberapa tempat berikut ini. Daripada kamu makin penasaran, lebih baik siapkan catatan dan langsung simak satu per satu di sini.
Pantai Balekambang
Pantai Balekambang, Sumber: Wikipedia - Maulana Yusuf
Masuk dalam Jalur Lingkar Selatan, Pantai Balekambang adalah salah satu tempat wisata di Malang yang wajib dikunjungi kalau kamu ingin melepas segala rasa penat. Nggak cuma ada pasir pantai putih saja, di sini kamu benar-benar bisa menikmati desiran air laut serta memasuki Pulau Ismoyo yang mirip dengan Tanah Lot di Bali.
Museum Angkut
Museum Angkut, Sumber: radarmalang.com
Selain alam, Museum Angkut yang menampilkan ragam kendaraan dari lintas zaman adalah rekomendasi terbaik. Yap, selain karena kamu bisa menikmati sejarah, berburu foto di setiap sudut Museum Angkut bisa jadi kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan di dalam sebuah museum.
Predator Fun Park
Predator Park, sumber: duta.co
Sesuai namanya, Predator Fun Park menawarkan sensasi berwisata dengan berbagai predator alam yang bisa dilihat dari jarak dekat. Nggak cuma konsep yang mengerikan, kamu juga bisa menelusuri labirin, menjelajahi waterpark dan berbagai wahana lain tanpa perlu merogoh kocek yang besar.
Kampung Warna-Warni Jodipan
Kampung warna-warni, sumber; flickr canadagood
Dari kejauhan, Jodipan terlihat lucu, unik dan tentu saja eyecatching. Bahkan bisa jadi jadi kamu tidak akan percaya kalau dulunya Jodipan hanyalah kawasan perumahan yang padat dan cukup kumuh di sekitar sungai Brantas. Namun nyatanya saat ini wisatawan selalu mengincar Kampung Warna-Warni Jodipan sebagai tempat wisata di Malang yang wajib dikunjungi untuk berburu foto dengan latar belakang yang ciamik.
Berbagai destinasi, dari mulai gunung, pantai, destinasi buatan, museum, saya berani bilang jika Malang bukan sekadar Bandung!
Sekarang ini kamu bisa mengunjungi Kota Malang melalui transportasi udara maupun darat dengan sangat mudah. Bahkan walaupun kamu memilih transportasi udara, cukup lihat laman Traveloka saja karena kamu masih bisa berhemat dengan membeli paket tiket serta hotel secara muda, murah dan aman. Ini belum termasuk dengan berbagai promo menarik yang bakal membuat budget liburanmu tersisa banyak dan bisa digunakan untuk mengunjungi berbagai tempat wisata di malang lewat halaman traveloka sebelum kamu benar-benar siap untuk menuai keceriaan dan kenangan di kota Malang.***[]
Read More

19 August 2018

Atraksi Wisata Jalur Kamojang

Menikmati Hutan Kamojang Ecopark/ dok. Abah Raka
Lebaran tahun ini, saya memilih jalur alternatif Kamojang untuk mudik dan balik. Jalur ini tidak sepopuler jalur alternatif Cijapati karena jalan curamnya cukup panjang mencapai sekitar 7 km sejak keluar pasar Ibun hingga hutan Mandalawangi Kamojang. Jika dicermati sebetulnya infrastrukturnya cukup memadai, bahkan pemerintah Kabupaten Bandung membuat jalan baru agar para pelintas jalur ini bisa lebih nyaman berkendara. Begitupun saat memasuki Garut, infrastrukturnya sudah cukup baik, bahkan sudah dilengkapi dengan PJU, walaupun di beberapa tempat seperti Randu Kurung jalannya berlubang cukup parah.

Sebagai jalur alternatif, tidak semua kendaraan dapat melewati jalur Kamojang. Beberapa kendaraan, khususnya roda dua dengan kapasisitas 110-125 cc yang saya saksikan harus menurunkan penumpangnya terlebih dahulu agar kuda besinya bisa menaiki tanjakan. Jalur ini jauh lebih curam dibandingkan Cijapati. Oleh karena itu saya tidak menyarankan untuk mudik atau balik melalui jalur ini, kecuali dengan kendaraan prima dengan kapasitas mesin yang memadai serta penumpang normal. Jikapun kendaraan prima disarankan waktunya siang hari karena penerangan belum maksimal.

Kamojang Hill Bridge dan Cukang Monteng
Kamojang Hill Bridge, pintu masuk Cukang Monteng/ Abah Raka
Kamojang merupakan suatu kawasan pengeboran gas alam yang menjadi sumber pembangkit listrik di kawasan Kabupaten Bandung. Berada sekitar 45 km dari arah Bandung dan 25 km dari arah Garut. Kamojang terkenal dengan tempat wisata kawahnya sejak puluhan tahun yang lalu.

Sebagai Gunung Api yang masih termasuk kawasan Gunung Guntur, sama seperti halnya gunung Api lain, gas alamnya menjadi sumber pembangkit listerik. Terdapat dua perusahaan yang menjadi penyokong listerik Negara yaitu Pertamina Geothermal Energy dan Indonesia Power (dulu PLN Kamojang). Kamojang berada di Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung berbatasan dengan Kecamatan Samarang - Garut.

Sebagai perbatasan, jalur ini tidak sepopuler Nagreg dengan jalan cagaknya yang menjadi jalur lintas antarkabupaten bahkan menjadi jalan nasional karena menjadi jalur lintas antar provinsi. Karena kecuramannya, pekerja kedua perusahaan BUMN yang menjadi pengelola area ini lebih memilih lebih memilih membangun komplek perumahan untuk para pekerjanya di kawasan kota Garut dibandingkan kabupaten Bandung. Jalur curam tersebut berada di daerah Cukang Monteng. Maka wajar jika jalur ini tidak populer sebagai jalur alternatif. Kecuraman jalur ini seringkali memakan korban.

Sejak pemerintah Kabupaten Bandung membuka jalur baru yang memotong jalan tanjakan monteng pada tahun 2016, jalur ini menjadi popular bagi para pelintasnya. Apalagi bagi tour rider atau boseher, jalur ini cukup memanjakan mata para pelintas. Setelah menyelesaikan tanjakan sepanjang 7 km-an dari Pasar Ibun, sejak ratusan meter menuju Kamojang Hill Bridge, pengendara akan menyaksikan jembatan berwarna kuning yang gagah dan megah dengan latar pegunungan Kamojang dan Hutan Mandalawangi. Kkawasan Kamojang Hill Bridge jalannya sangat lebar untuk ukuran jalur alternatif, 3 kali lipat lebih lebar dibandingkan jalan Ibun-Kamojang. Sehingga para pengendara bisa dengan leluasa memarkirkan kendaraannya pada tempat yang cukup aman yang menjorok di pinggir jalan sebelum jembatan. Para pedagang di sekitarnya juga menyediakan tempat parkir. Dengan cat warna kuning, jembatan ini menjadi ikon baru kabupaten bandung yang megah sekaligus instagramable. Banyak para pelintas yang dengan sengaja berswafoto di jembatan ini. Kamojang Hill Bridge menjadi penghubung antara Ibun dan Cukang Monteng menuju Kamojang sebagai kawasan wisata kawah

Jalur Kamojang; dari Ikon Baru, Kawah, Eco Park hingga Resort
Jalan Kamojang, jalur asri nan eksotis/ Abah Raka
Jalur mudik atau balik alternatif Kamojang menyimpan banyak destinasi yang dapat dijadikan tujuan wisata. Mudik melalui jalur ini adalah sama dengan menikmati surga wisata Alam di wilayah perbatasan Bandung dan Garut. Sejak memasuki Kamojang Hill Bridge, pemudik bisa menikmati megahnya jembatan sambil berswafoto. Tentu saja foto-fotonya bisa diandalkan untuk diposting di media sosial apalagi bagi penganut narsisme atau sekedar latar smartphone pemudik.

Melewati jembatan, pemudik akan bersua dengan satu kawasan sejuk, Hutan Mandalawangi yang bisa dijadikan sebagai alternatif untuk beristirahat sejenak. Jika Jembatan memiliki latar gunung Kamojang yang cukup eksotis. Hutang Mandalawangi punya latar pohon pinus yang seksi. Sejak memasuki kawasan hutang lindung ini, walaupun matahari berada di atas kepala, udaranya akan tetap sejuk.

Melewati Hutan Lindung pemudik akan menemukan pipa-pipa besar sepanjang jalan menuju satu kawasan Pembangkit Listerik Tenaga Panas Bumi PT Indonesia Power Distrik Kamojang yang menjadi penyalur listrik untuk kawasan Jawa-Bali. Kawasan ini juga seringkali menjadi tempat peristirahatan sementara para pelintas. Bangunan Pembangkit Listerik juga cukup ikonik dijadikan sebagai latar foto. Pipa-pipa besar memberikan kesan tertentu, pelintas seakan berada di satu kawasan wisata yang cukup eksotis.

Di antara jalan Kamojang ini selain terdapat kawasan wisata kawah juga terdapat destinasi buatan, Desa wisata laksana. Desa Laksana sendiri merupakan wilayah terintegrasi sebagai kawasan wisata di bawah pembinaan PGE. Ada beberapa kawasan wisata yang dikembangkan dan di bawah binaan PGE, seperti tercantum pada situs ibunkamojang.com, yaitu Kawah Kamojang (Natural Tourism), Pusat Edukasi Geothermal (Geothermal Information Centre/ GIC),  Wisata Agro (Agro Tourism), Wisata Budaya, Wisata Air, dan terakhir masuk kawasan Legok Pulus Kabupaten Garut, Wisata Edukasi Penangkaran Elang.

Berseberangan dengan area kawah adalah destinasi baru yang masih sedang dikembangkan. Berada di area Danau Pangkalan. Menurut pengelola, Danau Pangkalan yang sudah mengering dan berubah fungsi menjadi kebun tersebut akan dinormalisasi oleh pemerintah. Saya masih ingat, waktu kecil jika ada tetangga yang mengajak ke Kamojang sering menyebutnya Pangkalan, mungkin danau ini yang dimaksud. Setiap kali menyebut Kamojang yang disebut adalah Pangkalan.

Sejak memasuki kawasan pembangkit listerik selain cuacanya sejuk, lingkungannya pun cukup asri. Pengunjung bisa menikmati cuaca sejuk sepanjang hari walaupun matahari sedang tepat berada di atas kepala. Jalan berhotmix tanpa lubang, rumput-rumput liar terpotong rapi. Di komplek ini juga menjadi pusat wisata berbasis pembibitan atau agrowisata dan ramah lingkungan. Terdapat rumah makan yang khusus menyediakan berbagai masakan dari jamur. Jika pengunjung lelah bisa beristirahat di Mesjid komplek yang menyediakan tempat parkir cukup luas. Di ujung komplek, pohon pinus mengantarkan pengendara meninggalkan kawasan Kabupaten Bandung menuju Garut diiringan semerbak wangi getah pinus. Suasananya persis seperti puncak. Menjelang sore, kawasan ini berkabut, menjelang pagi dinginnya tidak ketulungan.

Negeri di Atas awan, latar gunung Papandayan saat memasuki wil. Garut/ Abah Raka
Memasuki wilayah Garut, wisatawan akan bertemu dengan kawasan Kamojang Eco Park, sebuah tempat wisata yang berada di pegunungan. Sama halnya dengan puncak bintang di kawasan Cimenyan Bandung, kawasan wisata yang baru dibuka sekitar 4 bulan lalu tersebut mengandalkan hutan pinus sebagai destinasi utama. Dengan kontur pegunungan, salah satu spot yang menjadi andalah adalah coloseum di tengah pohon pinus. Spot foto dengan pemandangan bukit dan lembah menambah pesona Ecopark Kamojang layaknya berada di Tebing Keraton.

Pemudik juga akan menemukan satu kawasan penangkaran Elang di daerah Legok Pulus. Menurut pengelolanya, penangkaran tersebut merupakan satu-satunya pusat penangkaran Elang di Indonesia. Dari 75 jenis Elang yang ada di Dunia 70 persennya ada di Indonesia. Di pusat penangkaran Elang ini pengunjung bisa menikmati gagahnya Elang Jawa yang menjadi inspirasi symbol Negara Indonesia, Garuda. Selain penangkaran Elang yang akan dilepasbiakkan ke alam liar di Hutan Lindung Kamojang. Wisata edukasi ini juga menjadi penampungan dan penyembuhan Elang yang awalnya dimiliki oleh warga untuk kemudian dilepaskan kembali. Area ini tepat berada di sebuah lembah yang dikeliling oleh bukit-bukit hutan konservasi dan arboretum.

Memasuki area Legok Pulus, pemudik akan menyaksikan padang rumput yang cukup luas. Ini merupakan akar wangi yang menjadi produk andalan masyarakat sekitar yang hasilnya di ekspor ke luar negeri. Di wilayah ini terdapat juga Arboretum, sebuah kawasan yang menjadi tempat vegetasi sungai Cimanuk. Area ini memiliki koleksi 200 jenis pohon dengan jumlah 8000-an pohon. Di Kebun akar wangi, pemudik bisa menikmati hamparan rumput yang sudah mulai menguning. Kawasan sejuk ini bisa memberikan therapy alami bagi pemudik yang kelelahan. Latar rumput yang tinggi bahkan menjadi sasaran beberapa pengendara yang hendak mengabadikan gambarnya. Melalui bidikan kamera DSLR rumput-rumput tersebut dapat memberikan efek bokeh yang cantik.

Atraksi alam tidak berhenti sampai Legok Pulus, memasuki kawasan Situ Hapa terdapat sebuah resto yang menawarkan atraksi alam yang tidak kalah cantiknya, yaitu Kebun Mawar. Hamparan bunga mawar menyuguhkan atraksi taman bunga yang asri nan sejuk. Selain bisa berswafoto atau groupy, kebun ini menyuguhkan rupa makanan bagi pemudik yang sudah kelelahan dan butuh asupan gizi. Ya, Kebun Mawar adalah rumah makan berkonsep taman bunga. Di Kebun Mawar, pengunjung bisa berwisata ria sekaligus mengisi perut yang sudah keroncongan.

Memasuki kawasan Samarang, selain atraksi Gunung Papandayan dan Cikurai, kawasan ini menawarkan suguhan Danau yang dapat dijadikan sebagai tempat peristirahatan. Dua kawasan yang tidak kalah sejuknya tersebut bisa dinikmati pengunjung sambil naik perahu kala menikmati alam sekitar, dua tempat tersebut adalah Resort Sampireun yang sudah sering menjadi langganan untuk shooting sinetron, ceramah TV, atau pembuatan video klip, ada juga Green & Resort Kamojang. Keduanya merupakan resort berbasis danau sebagai atraksi utama alamnya.

Pada kawasan ini juga ada satu rumah makan Sunda berkonsep saung di tengah sawah, Rumah Makan Sunda Mulih Ka Desa. Makan di Resto ini pengunjung akan benar-benar makan di area persawahan, jika kebetulan di sawah juga terdapat kerbau yang sedang membajak. Resto ini juga menawarkan penginapan. Bagi warga kota, sensasi menginap di area persawahan ataupun danau akan memberikan sensasi alami yang akan membersihkan toksit-toksit rutinitas kegiatan di kota.

Tentu saja semua atraksi alam dan juga destinasi buatan tersebut tidak bisa dinikmati sekali jalan. Namun setidaknya dapat dinikmati sambil lalu dan jika betul-betul ingin menikmati bisa mengunjungi salah satunya. Mudik melalui jalur ini para pemudik benar-benar dimanjakan oleh atraksi alam yang cantik sekaligus seksi. Cuaca sejuknya akan terasa hingga sanubari. 

Menikmati Atraksi Kawah Kamojang
Area Kawah Kareta Api, bersih dan asri/ Abah Raka
Destinasi utama wisata Kamojang adalah Kawah yang sudah sejak lama menjadi kawasan favorit masyarakat Bandung-Garut dan sekitarnya. Wisatawan akan disuguhi oleh atraksi berbagai jenis nama kawah. Saat memasuki area, pengunjung akan disambut oleh kawah yang lebih menyerupai Kolam. Memiliki nama Manuk, konon kolam kawah ini sering mengeluarkan suara seperti burung. Sayang saat berkunjung suara tersebut tidak saya dengar. Kawah ini tepat berada di area sebelum masuk gapura Kawah Kamojang.

Dengan Retribusi Rp5.000,00 pada hari biasa dan Rp7.500,00 per orangnya pada hari libur, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan alami, asri, sekaligus bersih. Area ini rupanya telah berbenah dari wajah lama yang apa adanya. Jalan setapak kini sudah dipasangi paving block. Sepanjang jalan kiri dan kanan pohon-pohon hijau rindang mengiringi pengunjung. Area Parkir cukup luas dan nyaman dikelilingi dengan warung-warung yang menyediakan berbagai cemilan khas tempat wisata.

Memasuki jalan setapak yang sudah di-floor dengan rumput-rumput rapih bersih di sekitarnya, dari jauh terdengar suara uap kereta api. Suara tersebut berasal dari sebuah kawah yang menyemburkan gas alam, dengan suaranya tersebut maka kawahnya diberi nama Kawah Kereta Api. Suara dihasilkan dari semburan gas yang cukup kencang yang dipasangi pipa. Area kawah ini menjadi salah satu kawah favorit karena paling atraktif di samping ada penduduk setempat yang sering mengatraksikan dengan melemparkan gulungan kertas atau plastik ke tengah-tengah semburan. Kawah ini sering menjadi objek foto para pengunjung.

Berbeda dengan 10-20 tahun yang lalu, selain bersih, area sekitar juga ditanami dengan tanaman rumput yang nyaman untuk sekedar duduk dan bercengkerama. Seberang rumput yang bersih dan rapi tampak berjejer beberapa gazebo sebagai tempat beristirahat sejenak.

Saat pertama kali berkunjung belasan tahun lalu, di area ini terdapat kawah kendang, karena kawah tersebut mengeluarkan suara seperti kendang. Suara tersebut berasal dari gelembung-gelembung lumpur yang pecah tertiup oleh gas alam dari dalam perut bumi.  Dulu juga terdapat pemandian umum untuk pengunjung, karena airnya yang mengandung blerang diyakini dapat menyembuhkan penyakit korengan. Sayang sekali saat berkunjung lebaran tahun ini, kawah tersebut tidak saya temukan.

Kawah lain yang cukup atraktif adalah kawah hujan. Area kawah ini lebih menyerupai area air terjun. Batu-batu dan aliran alirnya persis seperti di sungai yang yang airnya telah menyusut. Kawah ini menyemburkan air dalam bentuk persis seperti air hujan dari dalam kawah yang hampir dipenuhi oleh batu. Wajar disebut dengan kawah hujan. Selain hujan, berada di area ini, pengunjung sekaligus mandi uap kawah yang diyakini dapat menyembuhkan korengan. Dengan mandi uap atau terlibat dalam atraksi kawah kereta, menjadi bagian agar wisata kawah dapat dinikmati.***[Abah Raka]
Read More

13 July 2018

Menjadi Doktor Tanpa Karya!

sumber gambar: nu online
Bagi akademisi atau berprofesi sebagai pengajar di perguruan tinggi, melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi menjadi mimpi atau bahkan keharusan. Karena isunya, dosen tidak lagi terbatas pada pendidikan S2, tetapi S3 dengan gelar doktor atau Ph.D jika dari luar negeri.

Tidak semua pengajar mendapatkan kesempatan tersebut, dengan program-program penggenjotan pendidikan paling tinggi ini menunjukan bahwa prosentasenya masih sedikit yang mengenyam pendidikan S3. Lambat laun program ini mulai kelihatan, kini anak-anak muda dengan usia 30an tahun sudah cukup banyak yang mengenyam pendidikan S3, dan mereka mendapatkan gelar doktor di bahwa usia 40 tahun atau di atas 30 tahun. Luar biasa.

Ada yang bilang mereka hebat. Mereka sendiri tidak merasa mereka hebat. Atau justeru sebaliknya mereka merasa paling hebat karena masih sedikit teman-teman seprofesinya mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan S3.  Di samping karena seleksi masuknya yang ketat, juga biayanya yang tidak murah. Jika harus ke swastapun sama saja. Belum lagi prosesnya seakan jungkir balik dengan tugas-tugas. Belum lagi mengejar jurnal internasional. Dengan keterbatasan bahasa dan ketidakbiasaan melakukan penelitian, hal ini menjadi cukup berat.

Lalu apa setelah lulus S3 dan berhasil mendapatkan gelar doktor?

Seorang senior berkelakar, jika doktor hanya mampu menjadi jago kandang, berarti gagal. Gak pernah ada yang mengundang jadi pembicara misalnya minimal dari kampus sendiri. Apalagi dari kampus luar. Artinya, kampus sendiri ataupun luar tidak tahu sama sekali apa yang menjadi keahliannya. Ada benarnya juga kelakar tersebut. Sudah pusing-pusing kuliah, bayar mahal-mahal, waste time, meninggalkan keluarga, lalu hasilnya nihil.

Inilah yang ditakutkan, menjadi semacam motivasi buat saya sendiri, jika kemudian mengenyam pendidikan tertinggi ini. Keahlian saya harus diketahui orang. Bagaimana caranya? Banyak cara! Salah satunya adalah bergaul dengan pernak-pernik akademik. Misalnya; tulisan sering muncul diberbagai media massa, agar popular sebagai intelektual publik. Dari sisi akademik juga harus sering menelurkan jurnal ilmiah, dan tentunya harus punya karya utuh dalam bentuk buku orisinal yang menunjukan siapa kita.

Apakah sudah cukup? Belum!

Yang paling penting adalah bagaimana seorang doktor juga tidak hanya berkutat dengan persoalan-persoalan akademik. Menjadi keniscayaan untuk menjadi seorang intelektual. Meminjam Ali Syariati, menjadi intelektual tercerahkan. Pikirannya menembus langit tangannya menggenggam lumpur. Syariati mengatakan:
“Seorang intelektual tercerahkan adalah ia dengan tangan yang sama menuliskan ayat-ayat suci dari langit serta terbenam dalam genangan lumpur dan mengayunkan kayu untuk menyuburkan tanah yang kering, ia berdiri tegak memperjuangkan ayat-ayat Allah dan hak-hak masyarakat”.
Seorang yang ahli dan menjadi intelektual public tidak hanya menguasai ilmu dalam bidang akademiknya saja. Ia harus mau turun ke tengah-tengah masyarakat untuk mengetahui persoalan-persoalannya dan menyodorkan tangannya untuk membantu mereka. Seorang intelektual selalu resah dengan keadaan sekitarnya. Tidak hanya resah dengan persoalan akademiknya.

Jika bidang akademik saya misalnya berkaitan dengan isu-isu masyarakat terkini atau biasa disebut dengan era revolusi industry 4.0 atau istilah Fukuyama dengan Disruptions yang kemudian dijadikan judul buku oleh Prof. Rhenald Kasali, maka isu-isu yang saya angkat relevansinya akan kuat dengan tema tersebut. Apa, siapa, kenapa, dimana, dan bagaimana menghadapi era tersebut. Ini akan menjadi semacam rujukan bagi masyarakat.

Orang-orang yang concern terhadap isu yang dikuasainya dan secara konsinten berbagi dan berpeduli dengan dunia tersebut, pada dasarnya ia telah melakukan action sebagai intelektual. Ia tidak hanya menjadi pemikir di bidangnya, juga turut terjun ke gelanggang untuk menyelamatkan mereka yang terjebak atau tidak tahu jalan di hutan belantara revolusi Industri.

Sebelum menjadi doktor, marilah kita berproses menjadi intelektual. Agar tidak hanya berkutat pada bidang akademik yang selalu duduk di atas menara gading. Marilah terjun ke tengah-tengah masyarakat agar proses intelektualitasnya terasah sehingga ketika menjadi doktor sekaligus kita juga menjadi intelektual tercerahkan seperti ditulis oleh Ali Syariati, serang arsitek revolusi Islam Iran.

Dengan begitu, karya pun akan dengan sendirinya mengikuti, karena ketika banyak sekali isu yang menjadi pemikiran kita, mau tidak mau kita menuangkannya dalam bentuk tulisan tidak hanya berada dalam pikiran. Konsep yang bagus adalah konsep yang sudah dituangkan dalam bentuk sketsa atau tulisan. Sehingga mudah ditemukan dan dipelajari oleh orang lain. 

Jangan menjadi doktor tanpa karya, meminjam istilah seorang teman ia masuk kategori Jaringan Intelektual Kagok. Mari berkarya!


Read More

11 June 2018

Setelah Artikel-Opini, Feature, Lalu Esai!

Inilah Esai, Dokumen Pribadi
Sudah lama mencari buku yang membahas tentang hal ihwal tentang Esai, tapi ternyata cukup sulit, atau memang tidak ada penulis yang mengkhususkan diri menulis buku tentang esai, kecuali antologi esai. Padahal pelatihan penlisan esai beberapa kali saya pergoki walaupun saya tidak menjadi bagian di dalamnya. Kebanyakan buku sejenis tentang artikel-opini, berita dan feature berserakan dalam buku-buku pengantar jurnalistik. Esai? Sama sekali tidak ada karena barangkali tidak masuk kategori produk jurnalistik. Walaupun bisa jadi menjadi bagian dari suplemen produk jurnalistik.

Akhirnya kata kunci mengantarkan saya menemukan satu buku yang diterbitkan secara indie oleh radio buku, dengan penulisnya seorang esais; Muhidin M. Dahlan dengan judul Inilah Esai. Aha inilah yang saya cari-cari di dalamnya. Saat membaca ringkasan, saya curiga jika buku ini adalah buku kumpulan esai dari para penulis sohor sekelas Cak Nun yang telah melahirkan puluhan buku dari kumpulan-kumpulan esai-nya.

Bersamaan dengan Inilah Esai yang saya bawa serta adalah kumpulan Esai dari St. Sunardi Vodka dan Birahi Seorang ‘Nabi’. Jujur, beberapa buku yang ada dalam rak saya adalah kumpulan esai dari penulis sohor yang bahkan menjadi contoh-contoh esai yang ditulis oleh Muhidin ini, sebut saja misalnya esai-esai dari Kuntowijoyo, Yasraf Amir Piliang, Idy Subandi Ibrahim, Cak Nun, Seno Gumira Aji, F Budi Hardiman, Hernowo, atau yang cukup baru dari Pak Guru J. Sumardianta ‘Habis Galau Terbitlah Move On’.

Sayang dari sekian yang mendiami rak saya, yang rata-rata tidak pernah habis saya baca, saya tidak pernah menemukan kata sepakat tentang esai. Rasanya hambar jika saya temukan tulisan yang berserakan di internet tentang esai, tidak ada kata sepakat tentang esai, saya tidak puas, sebelum akhirnya menemukan karya pendiri radio buku tersebut, ‘Inilah Esai; Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor’.

Dalam sampulnya saja sudah memberikan kata sepakat dan memenuhi rasa dahaga saya tentang definisi esai, ‘ Esai itu menghormati karya ilmiah dan puisi’, yang menjadi sub judul dari subjudul buku. Pantas, jika materi tentang esai tidak masuk ke dalam salah satu submateri pengantar ilmu jurnalistik, karena esai berdiri di antara. Berbeda dengan feature.

‘Inilah esai’ sendiri adalah esai. Ya buku ini ditulis dengan gaya menulis esai, berada diantara karya ilmiah dan puisi. Dengan data yang cukup lengkap Muhidin memberikan contoh-contoh esai, persis seperti sedang menulis karya ilmiah. Tapi pada sisi lain, pemilihan diksinya kadang-kadang membuncah, menendang, dan tidak terduga persis seperti fiksi yang sering memunculkan diksi-diksi provokatif, emosional, dan kadang baperan.

Dengan dinamika diksi penulis yang menggunakan gaya esai dalam menulis buku ini, saya merasa kembali lagi ke jaman mahasiswa, buku ini saya lahap dalam waktu yang dalam ukuran sekarang cukup singkat hanya satu minggu. Persis ketika saya membaca buku ‘Muslim Tanpa Mesjid’ Kuntowijoyo pada tahun 2001-an saat mengikuti basic training dari salah satu organisasi pelajar. Termotivasi.

Buku ini bukan hanya memandu secara teknis bagaimana menulis esai, tapi juga sikap apa yang harus dimiliki oleh calon penulis ketika ingin menulis esai. Ia harus banyak menyerap pengetahuan, apapun itu. Sehingga bisa menggunakan kekayaan wawasan dan pengetahuan tersebut sebagai persfektif yang kaya dalam menulis esai.

Satu catatan untuk penulis, betapa ia sebagai seorang literatur sejati ia hampir menguasai semua hal yang terkait dengan situasi dengan konteks saat esai-esai dari pesohor ditulis. Dari mulai saat penulis belum lahir hingga era Jokowi membubukan kaki kekuasaannya dalam esai ‘Revolusi Mental’. Sepertinya ia menyimpan banyak arsip tentang esai-esai sejak era Soekarno Hingga Jokowi.

Bagi saya buku ini mengantarkan kembali pada semangat belajar, saat mahasiswa, penuh idealism, kritis, dan kadang tak tahu diri. Mudah-mudahan ‘ketaktahudirian’ yang menjadi sifat terakhir saat mahasiswa kini bisa saya hilangkan sesuai dengan bertambahnya umur.

Ya, setelah merasakan bagaimana artikel-opini muncul dan beranak pinak pada koran dengan seleksi cukup ketat dan feature yang harus menunggu hinggal berbulan-bulan. Pada akhirnya saya menemukan media untuk menumpahkan unek-unek tanpa harus nyinyir dan emosional, karena disampaikan dengan bahasa yang elegan dan tanpa harus menohok langsung pada objeknya. Seperti yang terjadi di kampus, seorang pimpinan selalu menggunakan telapak tangan orang lain untuk memukul sasarannya. Jleb. Inilah Esai!

Dua kata untuk buku ini ‘kaya dan renyah’.

Read More

24 April 2018

Bianglala di Atas Jakarta


Menyaksikan estetika kota dari ketinggian tertentu menjadi satu kepuasan tersendiri. Padanan kotak-kotak yang tersusun rapi di atas bumi, keteraturan jalan yang menjadi seperti halnya garis-garis menjadi pembatas gedung pencakar langit, jalan tol memanjang menjadi border gedung terbentang dari ujung batas kota melewati dalam kota menuju pinggiran. Sebagai co-creator Tuhan, manusia mampu menciptakan keindahan duniawi melalui gedung menjulang tersebut. Disandingkan dengan kreasi Tuhan yang Maha Indah, lautan luas terbentang tanpa batas sejauh mata memandang.

Secuil keindahan ini bisa dinikmati dari ketinggian yang tak seberapa dari atas bianglala, sebuah wahana yang berputar secara simetris dalam porosnya dari bawah ke atas dan sebaliknya sambil menikmati pemandangan sekitarnya sehingga penikmatnya bisa turun naik tanpa perlu khawatir tumpah dan jatuh. Tidak sedikit warga yang menjadikan bianglala sebagai wahana hiburan. Termasuk bagi saya. Saya menikmati bianglala bukan karena bisa berputar maju dan naik lalu turun lagi. Tapi saya juga menikmati proses naik turunnya kehidupan. Seperti makna intrinsik dari bianglala sendiri sebagai warna warni pelangi.

Bangunan Jakarta dari atas Bianglala
Rabu, 4 April 2018 saya mendapatkan kesempatan menikmati bianglala serta wahana lain – melalui One Day Trips bersama Politeknik LP3I Bandung. Sebagaimana halnya bianglala dalam arti kiasan, One Day Tour ini adalah titik warna-warni cerah yang menggantikan warna abu dan hitam. Menggantikan rutinitas kerja, membebaskan dari cengkeraman meja, mendatangkan suasana dengan warna ceria.

“Minimal Bapak Ibu bisa refreshing….”

Begitu kira-kira kata yang terlontar untuk mengantarkan kami pergi berwisata satu hari tersebut –  agar bisa merilekskan diri dari kegiatan rutinitas. Tujuannya adalah Dunia Fantasi hehehe…yang memang sudah digadang-gadang sebelumnya. Waktu SMP sempat akan pergi ke salah satu tempat favorit di ibu kota ini, sayang karena faktor biaya akhirnya akhir berangkat. Saat kuliah tahun 2008 akhirnya kesampaian juga hehe…

Tapi sekarang? Setelah 10 tahun, begitu banyak wahana sejenis yang bisa menjadi sarana hiburan. Belum lagi sepertinya refreshing lebih asyik mantai atau destinasi yang lebih didominasi oleh pepohonan hijau seperti hutan atau bukit.

Tanjung Priuk, dok: pribadi
Saya membayangkan, apa enaknya naik kora-kora yang bisa bikin jantung copot, apa enaknya naik roller coaster yang bikin andrenalin tidak karu-karuan, apa enaknya naik ontang-anting yang seperti balita ketemu komidi putar? Ah sudahlah, itu 10 tahun lalu memang asyik…tapi sekarang di saat usia sudah kepala tiga.

Tapi letak rekreasinya bukan naik itu semua, kebersamaan bersama rekanlah refreshing sesungguhnya.  Yap, betul banget kebersamaan. Sama halnya saat bertemu teman-teman lama, masalah hidup seakan tenggelam karena selalu bernostalgia dengan masa lalu.

Pukul enam, saya sudah berkumpul dengan rekan dan mahasiswa. Jam 11.00 sampai lokasi. Sebagai yang ditunjuk menjadi guide, saya masuk belakangan. Membiarkan peserta untuk menikmati duluan berbagai wahana yang tersedia. Saya sendiri lebih banyak melewati wahana-wahana tersebut. Memilih menikmati panasnya ibu kota yang terus menerus membuatku berkeringat.

Menjelang pukul 15.00 akhirnya saya menikmati kehidupan melalui bianglala, suatu pasang surut kehidupan dari setiap orang. Kadang di bawah kadang juga di atas. Jika pernah merangkak hidup dari bawah, ikhtiar dan sabar bisa mengantarkan orang untuk naik ke atas.

Antri bersabar menunggu giliran, akhirnya saya pun bisa menikmati kotak-kotak hasil rekayasa co-creator di atas tanah Jakarta. Sebuah bangunan pencakar langit yang tersusun rapi. Cuaca cerah menambah keindahan kota begitu Nampak. Dibatasi garis-garis tegas berupa jalan dan border daratan, lautan luas tak terhingga menambah ketakjuban. Inilah akhir dari One Day Trip, refreshnya ada di ujung helatan. Bianglala di atas Kota Jakarta. **[]
Read More

15 April 2018

Menikmati Kopi Sanger di W@reh Kupie


Penampakan Kopi Sanger buihnya kasar tapi rasanya smooth
Hari sabtu kerja? Malam minggu masih ngampus? Hmmm sudah biasa! Tinggal gimana menikmatinya aja sih. Tapi tentu saja itu dilakukan karena di kota sendiri dengan suasana yang sudah terbiasa, yang setiap minggunya pasti terulang.

Tapi….

Apakah mau melewatkan malam minggu di kampung orang hanya dengan menjadi kupu-kupu hotel? Kuli pulang – kuli pulang ke hotel, lalu tidur, besoknya nguli lagi? Tentu saja enggak kan?!

Sementara teman-teman yang merasa lebih muda memilih memisahkan diri untuk ngemall dan mencari tongkrongan, saya ikut saja bapak-bapak yang sudah pada matang dengan jiwa mudanya yang masih bergejolak hehehe…maksudnya ikut pulang ke hotel. Biasa, di tempat kerja selalu membiasakan diri untuk taat amir alias pemimpin rombongan hehehe…

Saat kendaraan melaju, tiba-tiba saja sang kumendan – bukan amir, spontan ngajak cari makan di luar hotel. Artinyaaa? Ini tentu saja kalimat tersirat menikmati malam mingguan di negeri orang, jiwa muda tersalurkan biar usia bukan lagi kepala 2....

Awalnya saat mencari tongkrongan dan ngopi kendaraan yang kami tumpangi mengarah ke Mr. Brewok Dining Room, Jalan Sudirman Pekanbaru. Sayang, rupanya kendaraan melaju lebih tepat dibandingkan dengan arahan mister google maps yang katanya 15 menit lagi, padahal taunya lokasi yang kami tuju sudah terlewat beberapa ratus meter hingga akhirnya kami harus memutar arah.

Saya sudah membayangkan mendapatkan tempat yang nyaman, bersih, dan harga terjangkau dengan wifi kencang. Namun saat berbelok arah, tiba-tiba seorang teman teriak, eh itu apa Wareh kopi? Saya pun langsung menengok, tampak kendaraan roda dua dan empat sudah berjejer, dengan lampu biru membelit pohon di depan tempat parkir.

Wareh Kupie, ramai luar dalam...

“Yuk kesitu aja, sepertinya enak buat nongkrong, udah pak disitu aja!” pinta saya…

Dan akhirnya kendaraan langsung dibelokkan ke tempat parkir berpasir putih.

Ternyata saat masuk ke dalam W@reh Kupie, hampir semua termpat duduk sudah terisi, yang kosongpun sudah reserved. Kami kebagian tempat paling pinggir yang sempit dengan meja kecil. Setelah saya duduk, tiba-tiba pramusaji mengarahkan kami ke tempat yang sudah reserved dengan ruangan lebih privat dan meja cukup lebar, sekalipun untuk digunakan sebagai meja kerja 4 orang.

“Menu favoritnya apa?” tanya kumendan.

“Kopi Sanger pak,” jawab pramusaji.

“Apa itu Kopi Sanger?” kumendan tanya lagi.

“Itu kopi aceh tambah creamer,” jawabnya

Saya penasaran, karena selama ini saya selalu ngopi Arabica Gayo untuk meminimalisir gangguan lambung, lalu saya tanya,”Itu kopi Arabica bukan? Tanya saya.
pembuka menu, kopi sanger dan ketang goreng

“Bukan, itu kopi Aceh bukan Arabica,” ujar pramusaji…

Ya sudah, dalam hati saya mending coba, daripada penasaran apakah Kopi Sanger itu varian Arabica atau Robusta, akhirnya saya pesan, 2 teman lain pun pesan kopi yang sama. Sebagai menu favorit, ternyata meja sebelahnya juga memesan Kopi Sanger.

Dengan buihnya yang kasar, saya curiga kalau itu bukan kopi Arabica, saya cium, baunya seperti wangi kopi hangus, “Ini sih Robusta, “ ucap saya dalam hati. Dan benar saja setelah saya sruput, aroma itu tidak jauh dari jenisnya, Robusta—agak pahit-pahit dikit, tapi justeru disitulah rasa nikmatnya muncul. Kopi Sanger punya taste-nya sendiri.

Kopi Sanger dibuat dengan sedikit susu, sehingga rasa kopi pahitnya lebih kerasa. Persis seperti yang sering saya buat menggunakan Vietnam drip dengan bahan Arabica Gayo, hanya saja jika Arabica rada asem, Sanger terasa lebih pahit. Bagi yang suka kopi, dua-duanya punya taste masing-masing.

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari berbagai situs, Kopi Sanger adalah kopi khas Aceh dan menjadi jenis menu kopi favorit. Sanger dihasilkan dari gilingan kopi yang kasar.

Awalnya memang kopi Sanger dibuat dari Robusta, seperti yang saya minum menggunakan jenis tersebut. Sanger sendiri merupakan kependekan dari ‘sama-sama ngerti’ bukan ‘SANGE’ loh ya hehehe…konon terinspirasi gara-gara harga kopi susu mahal. Apalagi dengan jenis kopi Arabica. Maka ya dari sisi harga, mencoba kopi khas Aceh ini di W@reh Kupie hanya mengeluarkan kocek 10.000,- saja untuk satu gelasnya.
menikmati makanan khas Aceh di Pekanbaru W@reh Kupie

Sambil ngeblog on the spot demi update blog sebulan sekali, Kopi Sanger saya nikmati bersama sepiring kentang goreng. Demi merasakan panasnya  kopi, saya seruput cepat-cepat. Saat tulisan ini menjelang tuntas, perut saya lapar, akhirnya pesan nasi goreng seafood. Dan makanan penutup berat ini melengkapi kenikmatan santap malam di Pekanbaru yang baru saja saya jejak.***[] 

Read More

17 March 2018

Literasi: Hati-hati dengan Remarketing Google!

sumber: google
Tulisan ini terinspirasi status Kang Isjet, Chief Community Editor Kompasiana. Ia memosting status tentang bumerang terhadap seorang pegiat media digital yang bermaksud menyerang sebuah situs muslim atau dengan kata lain menjelek-jelekkannya namun justeru berbalik menyerang dirinya sendiri. Tak tanggung-tanggung jabatannya sebagai pendiri dan juga direktur. Serangan yang dilakukan oleh orang tersebut adalah memosting iklan yang muncul pada sebuah situs berita muslim. Iklan yang dimaksud adalah iklan berbau pornografi.

Terlepas benar atau tidak, hoax atau bukan. Google menampilkan iklan berdasarkan kata kunci yang biasa dicari oleh para peselancar. Contohnya, sebulan yang lalu atau beberapa minggu yang lalu saya mencari lensa Nikon 18-200 mm. Saya lakukan banyak pencarian di berbagai marketplace agar mendapatkan harga termurah dan juga barang terbaik. Walaupun pada akhirnya belum membelinya karena alasan keuangan. Setiap saya buka situs apapun, situs yang memasang iklan google akan menampilkan iklan lensa nikon tersebut. Kita seakan diikuti oleh iklan tersebut kemana pun kita pergi. 

Dalam istilah digital marketing, google sendiri menamakannya sebagai remarketing – pemasaran ulang display yang dipasang atau barang yang dipasarkan. Untuk para pemasar cara ini sangat efektif, karena sekali barang kita dicari oleh seseorang, maka kemungkinan besar barang yang kita kampanyekan pada google adword akan terus muncul pada alamat email yang kita gunakan untuk mencari barang tersebut. 

Sama halnya saat kita mencari suatu video pada youtube, saat kita buka lagi keesokan harinya youtube kita melalui alamat email yang sudah terpasang, maka akan muncul lagi video yang kita cari. Dalam keterangannya, google menulis bahwa remarketing adalah,”Kampanye pemasaran ulang digunakan untuk menampilkan iklan kepada orang yang pernah mengunjungi situs web Anda atau menggunakan aplikasi Anda. Kampanye ini menyediakan setelan dan laporan tambahan khususnya untuk menjangkau pengunjung dan pengguna sebelumnya.” Begitu kata google.

Belakangan seorang teman seperti ditulis pada paragraf di atas memosting twit seorang pegiat media digital yang menyerang situs Islam melalui cuitannya. Cuitannya menampilkan bahwa situs Islam tersebut mengingklankan ‘pornografi’. Ia meng-capture iklan pornografi tersebut. Kalau rujukannya remarketing, apa yang dicuitkan adalah pengulangan apa yang sering dicari. Saat membuka situs lain, apa yang dicari akan muncul kembali.

Bagi orang awam—seperti saya, bisa jadi dengan polosnya akan menuduh,”wah parah nih, situs Islam kok ngiklanin pornografi,” tentu saja dengan yakinnya. Jika kebencian saya sudah mendalam terhadap situs Islam tersebut, saya akan capture dan menyebarkannya di akun media sosial saya. Agar kredibilitas situs Islam tersebut jatuh. Ya, mungkin dengan begitu dahaga kebenciannya terlampiaskan. Apalagi situs Islam tersebut seakan-akan selalu berhadapan dengan cara pandangnya yang berseberangan. 

Tapi sayang, dalam persfektif remarketing, justeru apa yang saya sebarkan memperlihatkan ketidaktahuan saya tentang dunia digital. Perilaku saya menjadi bumerang untuk saya sendiri.

Karena pada dasarnya iklan yang ditayangkan/ ditampilkan oleh sebuah situs—khususnya yang berasal dari google adalah apa yang belakangan sedang dicari-cari. Saya kutip dari toffeedev.com, remarketing memberikan sebuah cara efisien untuk menampilkan iklan spesifik kepada mereka yang pernah mengunjungi website. Ini merupakan cara terbaik untuk terhubung kembali—saya ulangi—untuk terhubung kembali dengan orang-orang yang belum pernah menjadi pelanggan saat mengunjungi website. Dengan kata lain, saat seseorang mencari pertama kalinya sudah produk/ jasa, ia akan mendatangi lagi dengan iklan yang relevan dengan apa yang pernah dicari. Remarketing didasari beberapa kegiatan yang dilakukan seseorang di dalam website yang dikunjungi.

Pelajaran yang bisa saya petik, kritis harus tapi sebelum melakukan kritik harus melakukan literasi—literasi digital. Agar kritik kita lebih elegan dan tidak jadi bumerang. Alih-alih menjadi produktif malah destruktif terhadap diri sendiri. 

Tentu saja tulisan ini pada akhirnya bukan tentang tips beriklan dengan melakukan remarketing tetapi lebih pada karakteristik dunia digital yang benar-benar transparan. Perilaku kita akan ditunjukan sendiri oleh media yang kita jajaki. Apa yang kita lihat, apa yang kita lakukan di media digital akan diperlihatkan juga kepada orang lain. Di Era digital perilaku kita menjadi transparan, bahkan sekalipun kita menggunakan akun samaran.***[]
Read More