Wikipedia jadi Rujukan Ilmiah?

0
sumber gambar: themarkle.com
Saat membuka halaman pertama sebuah buku, tiba-tiba satu definisi tentang sebuah istilah mengutip tulisan dari sebuah blog. Ugh, tiba-tiba serasa ditampar. Mending jika yang dikutip tersebut berasal dari pendapat pakar atau ekspert di bidangnya. Mungkin saya kenal jika yang dikutip adalah gubes atau doktor di bidangnya tersebut. Padahal jelas buku yang baru saja saya buka pada halaman pertama tersebut adalah buku referensi ilmiah, yang akan digunakan oleh mahasiswa untuk keperluan ilmiah juga.

Di era internet, penikmat buku mungkin sering terkecoh juga oleh tampilan sebuah buku, namun isinya sebagian besar mengutip dari referensi internet yang kurang bisa dipertanggungjawabkan. Mungkin saja penulisnya sudah bertanggung jawab untuk menuliskan sumbernya, tetapi sumber yang dikutip adalah blog yang tidak jelas siapa penulis dan bidang kepakarannya apa.

Media internet sesungguhnya menyediakan banyak sumber rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Sehingga sebuah tulisan bisa dikatakan ilmiah atau setidaknya memenuhi kriteria tulisan ilmiah. Misalnya, jurnal-jurnal yang sudah memiliki ISSN baik dari dalam negeri atau luar negeri yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan. Ataupun project buku gratisan versi ebook yang sudah ber-ISBN.

Mencari sumber-sumber tersebut tidaklah sulit, jika ingin langsung ditujukan ke sumbernya tinggal masuk ke scholar.google.com. Saat memasukan kata kunci, maka akan muncul berbagai rujukan sesuai kata kunci, yang berasal dari berbagai perguruan tinggi atau situs pengelola jurnal. Sumber-sumber ini dapat dipertanggungjawabkan karena memenuhi kriteria ilmiah. Para peselancar juga bisa berselancar ke situs perguruan tinggi yang telah menyediakan elibrary, dimana semua rujukan ilmiah disimpan.

Lalu bagaimana dengan Wikipedia?
Wikipedia sering dijadikan sebagai sumber rujukan buku. Tidak sedikit buku-buku rujukan menjadikan Wikipedia sebagai bahan menulis. Apakah ini sah? Ya, sah-sah saja. Hanya saja, penulisnya terkesan malas mencari referensi dari sumber lain. Padahal banyak sumber rujukan yang lebih ekspert di internet seperti saya tulis di atas. Lebih baik menghindari Wikipedia, kecuali untuk keperluan data bukan yang bersifat teori. Karena masih banyak source lain yang secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan, apalagi buku tersebut untuk keperluan referensi ilmiah, misal sebagai bahan kuliah. Pengecualian untuk buku-buku popular, bisa sebagai bacaan ringan untuk hiburan semata.

Nah, begitu juga selama ini tugas-tugas mahasiswa sering dipenuhi oleh rujukan dari Wikipedia dan blog-blog yang keilmiahannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan, Wikipedia dijadikan sebagai rujukan untuk referensi penyusunan tugas akhir. Sahkah? Bolehkah? 

Rujukan dari Wikipedia sering digunakan oleh mahasiswa dalam menyusun tugas akhirnya, Pertanyaan yang sering diajukan oleh mereka, “emang gak boleh pak?” saya sering katakan tidak boleh, apalagi untuk bab teori, bahkan saya sering mengharamkannya. Kecuali untuk bahan ilustrasi di latar belakang.

Ada beberapa alasan kenapa Wikipedia tidak bisa dijadikan rujukan ilmiah dalam menyusun tugas akhir, skripsi, ataupun thesis;

Pertama, Soal rujukan Wikipedia. Wikipedia adalah ensiklopedia opensource yang memungkinkan penulisnya dari berbagai latar belakang, mulai dari umur, pendidikan, profesi. Orang yang bukan seorang ahli pada bidangnya bisa saja menulis tentang bidang ilmu lain selama menggunakan kaidah penulisan pada Wikipedia. Rujukan-rujukan yang digunakan oleh Wikipedia juga cenderung sangat terbuka, bisa dari buku misalnya untuk kajian pemikiran atau ketokohan. Bisa juga referensinya dari berbagai blog yang tersebar di internet.

Kedua, Soal Kepakaran. Untuk menulis karya ilmiah, kepakaran menjadi salah satu ukuran. Jika saya menulis karya ilmiah tentang biologi, tentu sangat dianjurkan agar linier dengan bidang keilmuan, rujukan yang saya gunakan adalah seorang ahli biologi yang menulis pada bidang ilmunya. Jadi teringat kata-kata seorang Pemikir Iran, Ali Syariati, “Saat seseorang sakit, dan dokter mengatakan sakit seseorang, itu adalah ilmiah karena yang mengatakan memang ahlinya”.

Sebagai opensource, Wikipedia tidak mencantumkan kepakaran penulisnya, tidak juga misalnya menuliskan tim ahli tertentu dalam bidang tertentu. Oleh karena itu untuk rujukan ilmiah, walaupun terdapat kriteria penulisan, Wikipedia tidak atau setidaknya belum bisa dijadikan sebagair sumber rujukan ilmiah.

Ketiga, Tidak mencantumkan nama penulis. Wikipedia tidak mencantumkan siapa yang menulis satu tulisan tertentu. Padahal seperti disinggung pada alasan nomer dua, mencantumkan penulis menjadi salah satu alasan agar seseorang tersebut diketahui tentang kepakarannya. Sehingga apakah satu tulisan di Wikipedia bisa tidaknya dijadikan rujukan tidak jelas. Siapapun bisa menulis selagi bisa mengaksesnya, dari mulai anak SD, SMP, SMA, atau siapapun. Teringat cerita seorang teman yang sedang mengambil program doktor di Bandung. Makalahnya ditolah oleh dosen gara-gara salah satu rujukannya terdapat satu rujukan yang ditulis oleh lulusan Strata 2. Nah, apalagi Wikipedia yang juga bisa ditulis oleh siapapun.

Nah, itu beberapa alasan tentang kenapa Wikipedia tidak atau belum bisa dijadikan sebagai rujukan ilmiah. Walaupun tulisan dalam Wikipedia tersebut tentu sudah memenuhi aturan penulisan dari tim.

Rata-rata tulisan dari Wikipedia, apalagi dengan sumber rujukan yang jelas, sangat bermanfaat untuk menambah wawasan kita, menambah pengetahuan, bisa menjadi sumber pembelajaran, tetapi untuk rujukan ilmiah, sepertinya masih belum bisa memenuhi kriteria.

Ilmiah sendiri apa sih? Nah loh bingung!


Syarikat Islam dan Kebangkitan Nasional

10
Tersebutlah satu organisasi yang diinisiasi oleh seorang priyayi yang menghimpun para elit masyarakat secara ekonomi, politik, maupun sosial. Pada tahun 1900-an, berangkat dari keprihatinan yang terjadi terhadap masyarakat pribumi, yang tertinggal sekaligus ditindas oleh pengusaha Belanda melalui sistem tanam paksa. Sang pendiri ingin melakukan perubahan di masyarakat melalui support para elit atau para priyayi.

Syarikat Priyayi, demikian sebutan organisasi tersebut, ternyata tidak mampu menjadi magnet bagi para priyayi untuk bergabung dan melakukan perubahan terhadap masyarakat. Tirto Adi Suryo yang menjadi penggagas tidak cukup cakap memasarkannya. Sebagai mantan jurnalis untuk media-media asing, ia tidak mampu merajut relasi dengan masyarakatnya sendiri khususnya para elit untuk mendukung perjuangannya mengangkat harkat martabak masyarakat Indonesia saat itu.

Tirto Adi Suryo tidak menyerah, setelah seringnya mendapatkan kenyataan bahwa masyarakat pekerja dibayar sangat murah, untuk sekedar makan saja begitu kesulitan. Empati ini begitu kuat. Hingga melihat kenyataan bahwa mayoritas masyarakat tersebut adalah umat Islam. Pada sisi lain, alat perjuangannya tidak mendapatkan tempat dari masyarakat, karena membawa embel-embel priyayi yang jelas punya jurang pemisah dengan rakyat jelata.

Syarikat Islam, menjadi pilihan bagi Tirto Adi Soeryo, selain untuk memperjuangkan mereka yang selama ini banyak ia saksikan menderita. Ia juga punya ekspektasi didukung oleh masyarakat yang mayoritas umat Islam. Bergantilah dari Syarikat Priyayi pun berubah menjadi Syarikat Islam.

Sejak mengganti nama syarikat priyayi menjadi syarikat Islam, respon masyarakat sangat berbeda. Banyak para pedagang dan saudagar mendaftarkan diri menjadi anggota bahkan masyarakat biasa dari kalangan muslim pun berbondong-bondong masuk organisasi yang kemudian dikenal juga sebagai syarikat dagang Islam. Karena salah satu focus perjuangannya adalah memperjuangkan ekonomi politik masyarakat muslim yang saat itu cenderung termarginalkan oleh para pengusaha Belanda dan nonpribumi lainnya.

Dalam beberapa tahun, Syarikat Dagang Islam mampu menggeser monopoli ekonomi Belanda. Dari mulai hotel, kertas, media, dan perdagangan lainnya. Hingga akhirnya Belanda merasa bahwa Syarikat Islam ini menjadi salah satu ancaman kebangkrutan ekonomi mereka. Betapa tidak, suplay kertas yang tadinya dimonopoli oleh perusahaan Belanda, kini mampu dilakukan oleh Syarikat Islam dengan membuka kerjasama internasional secara langsung dengan perusahaan asing.

Bahkan dari usaha yang dilakukan oleh SI, bukan hanya mampu memajukan ekonomi kaum pribumi. Sebagian keuntungannya juga disalurkan untuk menyokong pendidikan pribumi yang diinisiasi oleh Boedi Otomo. Pada awal-awal berdirinya Boedi Oetomo khususnya saat perjuangan dalam mendapatkan hak pendidikan, SI tampil paling depan menjadi donaturnya.

Pada sisi lain, perjuangan ekonomi politik terus dilakukan oleh SI, Boedi Oetomo berjuangan untuk mendapatkan keseteraan pendidikan untuk pribumi. SI dan BO berkolaborasi memperjuangkan hak rakyatnya.

Syarikat Islam pun berkembang dengan pesat bahkan menjadi satu-satunya organisasi yang memiliki cabang di setiap daerah, bukan hanya Jawa tapi juga luar Jawa. Hal ini dikarenakan bahasa pengantar dalam menjalankan organisasi ini menggunakan bahasa melayu yang sudah difahami oleh hampir sebagian masyarakat Indonesia; Jawa, Sumatera, Kalimantan dan lainnya.

Sayang, perjuangan ekonomi politik dianggap sebagai ancaman yang berbahaya bagi Belanda, belum lagi isu-isu yang selalu dihembuskan oleh SI melalui Medan Priyayi untuk memperjuangkan hak ekonomi, sosial, budaya, ataupun politik bangsa Indonesia. Sungguh membuat Belanda selalu merah muka. Hingga akhirnya Tirto Adi Soeryo menjadi buruan. Sebelum akhirnya dia mati oleh Agen.

Bukan Samanhudi atau HOS Tjokroaminoto yang menjadi founding father SI, ia adalah tokoh dan pahlawan pers Indonesia TAS. Pram memanggilnya Minke. Anak bupati lulusan Stovia yang tersadarkan akan keadaan bangsanya melalui perjuangan pers dan usaha ekonomi politik. Ialah yang membawa bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan melalui Medan Priyayi dan bahasa organisasi SI. Bukan bahasa Belanda, Jawa, atau Sunda yang menjadi tempat besarnya SI dan Medan Priyayi Buitenzorg atau Bogor.

Maka wajar jika seharusnya, SI mendapat tempat sebagai organisasi yang membawa kesadaran akan berbahasa persatuan. Ialah salah satu cikal bakal pembangin kesadaran nasional tahun 1908. Yang telah banyak berjasa memajukan kesadaran melalui sokongan dana langsung pendidikan Boedi Oetomo yang saat itu tak lebih dari organisasi kedaerahan, jika dilihat dari sisi bahasa-Jawa. Saat Boedi Oetomo sedang mencari langkah, Syarikat Islam sudah membukakan jalannya.

Syarikat Islam telah mendorong kebangkitan nasional, bukan hanya dari sisi bahasa, juga dari sisi rasa kebangsaan.

Maka wajar, belakangan Syarikat Islam menggugat tentang siapa pelopor Kebangkitan Nasional, bahkan banyak yang bertanya, siapa sesungguhnya pelopor kebangkitan nasional.

Rasanya tidak mungkin, Pram yang berasal dari Blora mengkhianati bangsanya, demi membela Syarikat Islam. Pelurusan sejarah ini perlu, agar semangat kebangkitan nasional tidak dinodai oleh chauvinisme.


Memilih Perguruan Tinggi di Era MEA

4

sumber gambar: indonesiafreak
Wilayah ASEAN menjadi wilayah yang saling terbuka satu sama lain. Tidak ada lagi sekat dan batas antar negara. Selain bebas bepergian tanpa memerlukan visa, setiap negara ASEAN juga bebas memilih pekerjaan sesuai dengan keahliannya di negara-negara yang diinginkan.

Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara terbesar di wilayah ASEAN menjadi pasar bebas tenaga kerja karena setiap negara anggota bisa bekerja dan tinggal di Indonesia. Bahkan berdasarkan informasi, orang asing kini bisa dengan bebas memiliki asset tanah dan bangunan untuk ditinggali. Sehingga peluang warga negara tetangga untuk bermukim dan bekerja di Indonesia semakin terbuka.
Lantas bagaimana dengan masyarakat Indonesia sendiri? Apakah sudah siap untuk memilih tinggal dan bekerja di negara anggota ASEAN yang lain? Sudahkah membekali diri dengan sejumlah keahlian yang dibutuhkan oleh dunia kerja di era milenial ini.

Pertanyaan tersebut sangat mendasar jika ingin survive dan eksis di era keterbukaan milenial ini. Kerena competitor kita bukan hanya teman, tetangga, atau sesama alumni dari perguruan tinggi yang sama, tapi juga dari jurusan yang sama dari perguruan tinggi lain dengan negara yang berbeda.
Nah, untuk mempersiapkan diri agar bisa bersaing dengan warga milenial lainnya, ada beberapa tips yang bisa dijadikan pijakan saat kita memilih tempat kuliah, yaitu:
  1. Pilih kampus yang memiliki kurikulum yang sudah berbasis Kerangka KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia). Melalui kurikulum KKNI tersebut, kampus sudah melakukan standarisasi dengan kurikulum yang bisa bersaing dengan kurikulum luar.  Melalui kurikulum ini, mahasiswa akan dibekali berbagai keahlian sesuai dengan program studi yang dipilihnya. Beberapa perguruan tinggi kini sedang menyesuaikan dengan kurikulum KKNI. Jika tidak ingin ragu terhadap kampus yang sudah menggunakan kurikulum berbasis KKNI bisa langsung memilih pendidikan vokasional atau pendidikan berbasis keahlian berkarya, yang menekankan pada keahlian sesuai dengan bidang kajian/ studinya.
  2. Kurikulum sesuai dengan dunia kerja. Dunia kerja sekarang membutuhkan lulusan yang siap pakai sehingga tidak perlu repot-repot lagi menyekolahkan/ mendidik/ atau memberi training yang bersifat keterampilan kepada karyawannya, karena karyawan tersebut telah memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Ini juga menjadi salah satu ciri dari KKNI, yaitu ada kesesuaian dengan dunia kerja atau dengan kata lain Link & Match dengan dunia usaha dan industri.
  3. Memiliki koneksi yang luas dengan perusahaan. Jika goal akhir dari kuliah adalah bekerja. Maka kampus tempat kita kuliah harus memiliki koneksi yang luas dengan perusahaan agar mudah dalam penempatan kerja. Dengan keterampilan yang kita miliki, perusahaan akan memprioritaskan lulusan dari perguruan tinggi yang telah menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi tersebut.
  4. Lulusan tersertifikasi. Salah satu ciri mahasiswa lulusan perguruan tinggi yang dapat bersaing dengan perguruan tinggi lain, baik dalam negeri ataupun luar negeri, tersertifikasi secara nasional bahkan internasional. Sertifikasi tersebut sebagai bukti jika lulusan memiliki kompetensi dalam bidang tertentu.
  5. Adanya penekanan/ kurikulum untuk menguasai Bahasa Asing. Bahasa menjadi sarana agar bisa bergaul secara nasional sekaligus internasional. Melalui kemampuan berbahasa asing, lulusan dapat bersaing dengan competitor dari negara lain atau pun saat mencari kerja di negara lain.
  6. Memiliki standard etis dalam kurikulum. Salah satu yang menjadi factor suksesnya lulusan bukan hanya keahlian berkarya dan pengetahuan juga ditunjang oleh standar etika terhadap mahasiswanya. Kampus yang menekankan etika dalam pendidikannya akan menghasilkan lulusan yang memiliki sikap dan perilaku yang baik, motivasi yang tinggi, serta semangat belajar tanpa lelah. Hal ini dapat dicermati dari struktur mata kuliah atau institution culture.
  7. Penempatan Kerja. Tidak kalah penting dari 6 point di atas adalah bahwa kampus yang kita pilih harus memiliki program penempatan kerja. Sudah sangat mafhum, bahwa banyak sarjana atau lulusan perguruan tinggi yang menganggur atau dengan istilah pengangguran terdidik. Bukan hanya ratusan, tapi sampai jutaan pengangguran terdidik karena menganggur setelah lulus kuliah. Apakah anda mau termasuk ke dalam jutaan pengangguran terdidik tersebut? Tentu tidak mau kan? Pengangguran terdiri disebabkan oleh banyak hal; bisa karena lulusan tidak memiliki keahlian yang jelas atau cenderung sangat teoritis dibandingkan dengan kebutuhan dunia kerja, penguasaan Bahasa asing yang kurang, akses terhadap dunia kerja yang kurang karena kampus tidak menyediakan link perusahaan juga karena kampus tidak memiliki program penempatan kerja.
  8. Program Studi terakreditasi. Salah satu pengakuan masyarakat terhadap perguruan tinggi yang memiliki kredibilitas adalah akreditas. Kampus bukan hanya diakui oleh Badan Akreditasi (BAN-PT) namun juga terakreditasi dengan nilai A, B, atau C.  
  9. Berpengalaman di dunia pendidikan. Kurikulum berbasis KKNI, struktur kurikulum yang menekankan bukan hanya relasi yang luas, jaringan alumni tersebar, dan penempatan kerja merupakan indicator jika kampus memiliki pengalaman dalam mengelola institusi pendidikan. Dengan pengalaman tersebut, menjadi ciri jika perguruan tinggi tersebut dipercaya telah meluluskan mahasiswanya dengan baik serta terserap di dunia kerja.
  10. Penghargaan. Salah satu ciri lagi sebagai perguruan tinggi yang excellent adalah menerima perhargaan bergengsi misalnya penghargaan sebagai kampus berbasis IT seperti diberikan oleh Telkom melalui Tesca Award atau Technology Smart Campus Award, TOP Brand, atau mungkin MURI Award.***[]

Refleksi Awal Tahun, Medsos dan Layar Sosial Kita

7
sumber gambar: bbs.ruliweb.org
“Mengundurkan diri” dari media sosial sepertinya menjadi keputusan yang tepat. Lebih banyak menjadi silent player dibandingkan menjadi pemain inti yang reaksioner.

Saling sindir, sumpah serapah, hatespeech, mencemarkan nama baik, membela yang belum tentu benar bahkan yang sudah jelas salah, membuat dan menyebarkan hoax, menjadi bagian dari jejaring kebencian dengan memelihara dan menghidupkan bot-bot, menyindir ulama bahkan mengolok-olokkan sepertinya sudah menjadi bagian dari keseharian media sosial. Mereka dengan bangga mengolok-olok para guru bangsa, guru agama dan guru kehidupan kita.

Ibarat candu, media sosial juga telah menyedot banyak waktu luang kita, waktu luang yang seharusnya digunakan untuk bersilaturahmi, malah berakhir dengan sindiran dan debat yang tidak perlu. Saling susul menyusul, saling balas, kata-kata tidak berkualitas pun memenuhi beranda dan timeline kita. Berita kopi paste yang entah dari mana sumbernya pun menjadi makanan tiap waktu tanpa berhenti sekejappun, manuasia seakan melek 24 jam tanpa henti. Kehidupan kita begitu riuh dengan kehadiran media sosial, dengan informasi-informasi yang terus berulang dan diulang-ulang oleh orang yang berbeda. Copas dari grup satu dan sebar di grup lain.

Media sosial juga menjadi alat propaganda politik, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan simpatik, mengelabui konstituen dengan cara black campaign, dan menyerang kelompok-kelompok politik yang tidak sepaham tanpa ampun dengan kejamnya. Seakan bahwa kelompok politiknyalah yang paling benar, tanpa memberikan kesempatan berargumentasi.

Bukan hanya saling sindir antar sesama teman media jejaring sosial, fenomena unfollow, block, delcon, unfriend pun sepertinya menjadi kata yang paling hits selama tahun-tahun tersebut. Yang tidak kuat sindiran bukan hanya terus melakukan penyerangan dengan melakukan sindiran, bahkan sampai adu bogem di dunia nyata. Mereka juga saling lapor ke polisi atas nama perbuatan tidak menyenangkan.

Mereka yang mengaku-ngaku berasal dari kalangan elit pendidikan pun tidak ubahnya dengan mereka yang tidak pernah bersekolah. Duh kok saya juga merasa tersindir, dan tentu saja tulisan ini juga sebagai hasil dari status-status yang berseliweran di media sosial. Hingga akhirnya menyadarkan saya, melakukan refleksi, apakah benar apa yang saya tulis selama ini memiliki nilai manfaat. Justeru malah mengundang orang untuk menyindir. Atau malah membuat orang gerah, alih-alih status tersebut kritis, justeru nyinyir dan emosional.

Teringat dengan satu buku yang pernah saya baca saat masih kuliah, bahwa menyampaikan kabar dan berbagai informasi dengan teman-teman juga memiliki etika dan cara. Cara ini jika dalam agama biasanya popular dengan istilah fiqh. Agama kita mengajarkan bagaimana cara berkata-kata yang baik, hingga dalam Islam dikenal dengan istilah Qaulan Layyinan, Qaulan syadidan, Qaulan Balighan, dan lainnya. Yang berarti perkataan yang baik, yang benar, yang lurus.

Media sosial akhirnya alih-alih menjadi ruang refleksi sosial, ruang untuk menyambungkan tali silaturahmi justeru menjadi ruang saling menghujat, menjadi alat pemutusan silaturahmi. Tidak ada lagi hiburan dari media sosial, kecuali bagi orang-orang yang sakit, tertawa karena telah membungkam logika berfikir orang lain yang menjadi lawannya. Tidak ada lagi ide menyebarkan di media sosial Karena yang ada adalah ide-ide untuk saling menjatuhkan dan berfikir menyindir-nyindir yang lain.

Media sosial yang selama ini menjadi layar sosial kita, tempat datangnya keberkahan, tempat berkumpul, koneksi, dan saling berbagi. Tidak lagi menjadi layar sosial. Penuh dengan sampah-sampah status, penuh dengan meme-meme sampah, ataupun berita hoax yang bertebaran. Dan celakanya, produksi sampah ini tidak hanya dilakukan oleh individu tetapi juga oleh mesin pemroses berbayar yang mengatasnamakan khalayak.

Lalu apa gunanya bermedia sosial? Jika pada akhirnya mengundang kemurkaan dari penggunanya? social valuenya menjadi hilang. Padahal salah satu nilai dari kemunculan media sosial adalah nilai koneksi dan berbagi kebaikannya. Bukan sebaliknya.

Kehadiran media sosial kini menjadi kontraproduktif dengan tujauan awalnya untuk saling menghubungkan sesuatu yang baik. Media sosial kini hadir untuk menghadirkan sesuatu yang tidak baik. Penyebar energi yang tidak baik. Wajar pada akhirnya beberapa tragedi lahir dari media sosial.

Haruskah kita terbawa arus oleh mainstream olok-olok ini? dari mengolok teman sendiri, ustadz, hingga presiden. Dari mengolok orang hamil, ibu kota, sampai ibu kita sendiri.

Kita, pada akhirnya menjadi penebar terror. Teror bagi friendlist media sosial yang jelas-jelas sebagai tetangga kita, walaupun tidak saling mengenal dengan baik. Media sosial akhirnya menjadi teater terorisme, seperti diistilahkan oleh Idi Subandy Ibrahim. Karena setiap orang selalu menciptakan rasa geram dan cemas tetangganya.

Mari kita kembalikan media sosial sebagai media yang bisa saling menghubungkan kebaikan, berbagi informasi yang baik dan ilmu yang bermanfaat. Agar media sosial kita bermartabat dan kembali kepada fungsi awalnya.

Listfriend media sosial adalah tetangga kita. Perlakukanlah mereka dengan baik seperti disampaikan oleh sebuah kata bijak (hadits),”…tidak sempurna iman seseorang hingga ia menyukai tetangganya apa yang ia suka darinya.” ***[]


Spotlight, Tamparan bagi Jurnalisme Online

10

Sumber Gambar: haionline
Film ini sudah saya tonton awal tahun 2016. Filmnya tidak menarik. Tidak ada bumbu-bumbu cinta apalagi sex. Jauh dari kesan intimidasi dan atau action. Ceritanya datar. Pemainnya juga bukan selebriti yang sering nongol di layar kaca yang saya tonton.

Beda dengan film The Bang Bang Club yang menawarkan sedikit konflik, cinta dan sedikit bumbu sex. Spotlight betul-betul bersih. Produser sepertinya betul-betul ingin menghindari bumbu-bumbu yang tidak perlu bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan cerita.

Bagi penikmat action, film ini akan terasa monoton. Begitu juga bagi penyuka film drama. Namun buat sebagian yang menikmati kedalaman cerita, kekayaan pengetahuan, seni sinematografi, film ini sangat menarik. Walaupun tanpa teknik-teknik wah. Wajar jika film ini mendapatkan beberapa penghargaan dalam beberapa kategori.

Bagi saya, yang sedikit banyak mendalami tentang ihwal media dan komunikasi termasuk di dalamnya Jurnalistik, film ini semacam percikan kecil di tengah boomingnya media digital, baik media online mainstream, abal-abal, atau citizen journalism. Film ini seakan menampar keterburu-buruan praktik jurnalistik di era digital.

Film ini mengajarkan kehati-hatian dalam menyampaikan informasi yang benar kepada khalayak. Kebenaran ini yang dijadikan senjata oleh awak redaksi untuk tetap maju menyampaikannya. Walaupun secara emosional, awak redaksi sangat dekat bahkan menjadi bagian dari lingkungan yang akan diberitakan.

Bagaimana tidak, guru dan tokoh agama yang menjadi panutan masyarakat harus harus dibongkar kebobrokannya. Semua kejahatan yang telah dilakukan belasan bahkan puluhan tahun pada akhirnya akan diketahui oleh publik. Bagaimana perasaan masyarakat yang sudah merasa terlindungi dan menganggap bahwa tokoh agama tersebut adalah wakil Tuhan yang menjadi pelindungnya di bumi. Betapa sedih.

Namun bukan persoalan ketokohan atau emosi masyarakat yang ingin saya sampaikan. Lebih kepada pelajaran yang bisa diambil dari film ini, yaitu bagaimana menyampaikan berita yang benar-benar valid, akurat, dan bisa dipertanggungjawabkan kepada publik.

Media dan Tanggung Jawab Sosial
Membuat berita dan menyampaikan informasi bukan hanya tanggung jawab terhadap pekerjaan sebagai seorang jurnalis/ wartawan. Juga bentuk tanggung jawab terhadap masyarakat. Pers bagaimanapun adalah lembaga publik. Harus mampu melindungi publik. Harus berpihak terhadap publik dibandingkan segelintir orang. Peran tanggung jawab sosial inilah yang dipegang teguh oleh Boston Globe.

Beratnya tanggung jawab terhadap publik mendorong Pimpinan Redaksi yang baru, Marty Baron, untuk mengangkat kembali kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh Katedral Law atau keuskupan Gereja Katolik di Boston. Kekerasan seksual terhadap anak sudah terjadi belasan bahkan puluhan tahun di bawah kepemimpinan Katedral Law.

Jurnalis yang lahir dan besar di Boston tidak yakin jika ini harus benar-benar dilakukan, apalagi beberapa kali juga pernah diangkat beritanya walaupun tidak masuk rubrik investigasi ‘Spotlight’. Marty sebagai pimpinan redaksi meyakinkan jika ini harus masuk Spotlight Karena terkait dengan tanggung jawab kepada publik.

Benturan-benturan untuk mengungkap semakin terasa. Penentang tidak hanya datang dari kalangan konservatif, juga dari kalangan yudikatif, pihak sekolah, termasuk juga pengacara. Bahkan data-data yang dikirimkan ke redaksi Boston Globe beberapa tahun ke belakang sama sekali tidak diketahui oleh tim ‘Spotlight’, hilang. Robby sebagai redaktur pelaksana ‘Spotlight’ bahkan mendapatkan kecaman dari teman dekatnya, walaupun pada akhisrnya dengan sangat terpaksa memberikan dukungan data. Intervensi datang dari berbagai penjuru.

Namun Marty berkeyakinan jika mampu menyampaikan kebenarannya, public juga akan mendukung, walaupun pasti akan banyak sekali orang yang terpukul. “Pemain media bisa berkembang jika tanpa campur tangan pihak lain”, tegas Marty.

Setelah semua informasi terkumpul mulai dari korban, pelaku, pengacara, bahkan bagian psikologi keuskupan. Berita tidak juga diizinkan untuk diterbitkan sebelum tim ‘Spotlight’ betul-betul mendapatkan informasi dari semua pihak yang berkepentingan agar berita yang diterbitkan betul-betul bisa dipertanggungjawabkan.

Inilah bentuk kehati-hatian bagaimana pers bukan saja menjadi corong informasi, namun juga informasi tersebut betul-betul bisa dipertanggungjawabkan dengan kebenarannya kepada publik.

Bagi umat Islam atau jurnalis muslim, menyampaikan berita yang benar, akurat, tabayun, baik, dan bertanggung jawab sudah ada tuntunannya dalam  Al-Qurán sehingga tidak terjebak pada pemelintiran dan penghasutan melalui berita. Misalnya salah satu ayat dalam Surat Al-Hujurat,”Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum….”

Ayat ini bukan hanya soal menyampaikan kebenaran, tapi juga mengajarkan kehati-hatian seorang pengabar berita akan dampak pemberitaan tersebut merugikan dirinya atau yang diberitakannya. Inilah salah satu saja dari beberapa tanggung jawab sosial media terhadap publik.

Pukulan Bagi Media Online
Salah satu praktik media online adalah adanya tuntutan realtimenya. Tuntuntan ini mengharuskan berita tersampaikan secepat-cepatnya. Sehingga dalam praktiknya memunculkan kesan keburu-buruan. Jika saja pembaca media online tidak secara realtime juga membacanya, makan informasi yang dicerna akan terkesan sepotong-sepotong. Bahkan bisa jadi berita yang disampaikan tidak secara berimbang tersebut berita susulannya disampaikan pada keesokan harinya Karena menunggu update dari sumber berita. Kadang media online memberitakan satu informasi dari sumber yang tidak hidup secara realtime, misalnya media sosial. Wajar beritanya pun tidak utuh, tanpa ada konfirmasi dari sumber berita.

Jika kualitas berita rata-rata seperti digambarkan di atas, maka sudah pasti beritanya kurang memenuhi kriteria sebagaimana tuntutan dari normativitas sebuah berita; benar, berimbang, terkonfirmasi, dan lain sebagainya. Sehingga berita menjadi tidak berkualitas. Inilah yang menjadi salah satu masalah pemberitaan yang diangkat oleh ‘Spotlight’.

Di tengah semakin populernya media pemberitaan online, media cetak harus menyuguhkan berita yang betul-betul berkualitas. Sikap kehati-hatian, terkonfirmasi, narasumber yang berimbang, tidak buru-buru terbit sebelum semua narasumber memberikan kesaksian, betul-betul ditekankan oleh ‘Spotlight’.

Media Cetak Tak Akan Mati!
Akhir tahun 2015 lalu koran Suara Pembaharuan mengakhiri masa terbitnya. Padahal koran ini termasuk pioneer dan legendaris. Semua pemerhati pun sepertinya meramalkan bahwa umur koran cetak akan berakhir. Tahun-tahun sebelumnya salah satu korang terbesar di Amerika juga tidak terbit lagi. Padahal di Bandung, justeru ‘Inilah Koran’ walaupun dapat dikatakan sebagai koran lokal justeru terbit setelah eksis di ranah digital.

Salah satu percakapan yang cukup menarik terkait dengan praktik pemberitaan di era digital dan koran cetak tidak akan pernah mati adalah saat Marty mengatakan bahwa di tengah gempuran pemberitaan media online, koran cetak akan tetap hidup jika redaksi menyajikan berita-berita yang berkualitas seperti disodorkan oleh ‘Spotlight’. Satu hal lagi yang akan membuat sebuah media bertahan adalah tanpa intervensi. “Media bisa berkembang jika tanpa campur tangan pihak lain,” tegas Marty.

Jika merunut sejarah media, tidak ada satu media (massa) arus utama yang tutup gara-gara kehadiran media yang lebih baru. Koran cetak tidak mati setelah kehadiran radio, tidak juga mati setelah kehadiran televisi, begitupun radio memiliki pendengarnya sendiri walaupun sudah digempur oleh berbagai media televisi lokal. Bahkan di internet, orang bisa mengakses media jenis apaun dengan awalan ‘e’ tapi media yang lahir sebelumnya tetap eksis dan bertahan, walaupun barangkali dari sisi jumlah pembaca, pendengar, penonton berkurang, Karena aspek dinamika media dan regenerasi pengguna media***[]