Memilih Perguruan Tinggi di Era MEA

2

sumber gambar: indonesiafreak
Wilayah ASEAN menjadi wilayah yang saling terbuka satu sama lain. Tidak ada lagi sekat dan batas antar negara. Selain bebas bepergian tanpa memerlukan visa, setiap negara ASEAN juga bebas memilih pekerjaan sesuai dengan keahliannya di negara-negara yang diinginkan.

Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara terbesar di wilayah ASEAN menjadi pasar bebas tenaga kerja karena setiap negara anggota bisa bekerja dan tinggal di Indonesia. Bahkan berdasarkan informasi, orang asing kini bisa dengan bebas memiliki asset tanah dan bangunan untuk ditinggali. Sehingga peluang warga negara tetangga untuk bermukim dan bekerja di Indonesia semakin terbuka.
Lantas bagaimana dengan masyarakat Indonesia sendiri? Apakah sudah siap untuk memilih tinggal dan bekerja di negara anggota ASEAN yang lain? Sudahkah membekali diri dengan sejumlah keahlian yang dibutuhkan oleh dunia kerja di era milenial ini.

Pertanyaan tersebut sangat mendasar jika ingin survive dan eksis di era keterbukaan milenial ini. Kerena competitor kita bukan hanya teman, tetangga, atau sesama alumni dari perguruan tinggi yang sama, tapi juga dari jurusan yang sama dari perguruan tinggi lain dengan negara yang berbeda.
Nah, untuk mempersiapkan diri agar bisa bersaing dengan warga milenial lainnya, ada beberapa tips yang bisa dijadikan pijakan saat kita memilih tempat kuliah, yaitu:
  1. Pilih kampus yang memiliki kurikulum yang sudah berbasis Kerangka KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia). Melalui kurikulum KKNI tersebut, kampus sudah melakukan standarisasi dengan kurikulum yang bisa bersaing dengan kurikulum luar.  Melalui kurikulum ini, mahasiswa akan dibekali berbagai keahlian sesuai dengan program studi yang dipilihnya. Beberapa perguruan tinggi kini sedang menyesuaikan dengan kurikulum KKNI. Jika tidak ingin ragu terhadap kampus yang sudah menggunakan kurikulum berbasis KKNI bisa langsung memilih pendidikan vokasional atau pendidikan berbasis keahlian berkarya, yang menekankan pada keahlian sesuai dengan bidang kajian/ studinya.
  2. Kurikulum sesuai dengan dunia kerja. Dunia kerja sekarang membutuhkan lulusan yang siap pakai sehingga tidak perlu repot-repot lagi menyekolahkan/ mendidik/ atau memberi training yang bersifat keterampilan kepada karyawannya, karena karyawan tersebut telah memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Ini juga menjadi salah satu ciri dari KKNI, yaitu ada kesesuaian dengan dunia kerja atau dengan kata lain Link & Match dengan dunia usaha dan industri.
  3. Memiliki koneksi yang luas dengan perusahaan. Jika goal akhir dari kuliah adalah bekerja. Maka kampus tempat kita kuliah harus memiliki koneksi yang luas dengan perusahaan agar mudah dalam penempatan kerja. Dengan keterampilan yang kita miliki, perusahaan akan memprioritaskan lulusan dari perguruan tinggi yang telah menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi tersebut.
  4. Lulusan tersertifikasi. Salah satu ciri mahasiswa lulusan perguruan tinggi yang dapat bersaing dengan perguruan tinggi lain, baik dalam negeri ataupun luar negeri, tersertifikasi secara nasional bahkan internasional. Sertifikasi tersebut sebagai bukti jika lulusan memiliki kompetensi dalam bidang tertentu.
  5. Adanya penekanan/ kurikulum untuk menguasai Bahasa Asing. Bahasa menjadi sarana agar bisa bergaul secara nasional sekaligus internasional. Melalui kemampuan berbahasa asing, lulusan dapat bersaing dengan competitor dari negara lain atau pun saat mencari kerja di negara lain.
  6. Memiliki standard etis dalam kurikulum. Salah satu yang menjadi factor suksesnya lulusan bukan hanya keahlian berkarya dan pengetahuan juga ditunjang oleh standar etika terhadap mahasiswanya. Kampus yang menekankan etika dalam pendidikannya akan menghasilkan lulusan yang memiliki sikap dan perilaku yang baik, motivasi yang tinggi, serta semangat belajar tanpa lelah. Hal ini dapat dicermati dari struktur mata kuliah atau institution culture.
  7. Penempatan Kerja. Tidak kalah penting dari 6 point di atas adalah bahwa kampus yang kita pilih harus memiliki program penempatan kerja. Sudah sangat mafhum, bahwa banyak sarjana atau lulusan perguruan tinggi yang menganggur atau dengan istilah pengangguran terdidik. Bukan hanya ratusan, tapi sampai jutaan pengangguran terdidik karena menganggur setelah lulus kuliah. Apakah anda mau termasuk ke dalam jutaan pengangguran terdidik tersebut? Tentu tidak mau kan? Pengangguran terdiri disebabkan oleh banyak hal; bisa karena lulusan tidak memiliki keahlian yang jelas atau cenderung sangat teoritis dibandingkan dengan kebutuhan dunia kerja, penguasaan Bahasa asing yang kurang, akses terhadap dunia kerja yang kurang karena kampus tidak menyediakan link perusahaan juga karena kampus tidak memiliki program penempatan kerja.
  8. Program Studi terakreditasi. Salah satu pengakuan masyarakat terhadap perguruan tinggi yang memiliki kredibilitas adalah akreditas. Kampus bukan hanya diakui oleh Badan Akreditasi (BAN-PT) namun juga terakreditasi dengan nilai A, B, atau C.  
  9. Berpengalaman di dunia pendidikan. Kurikulum berbasis KKNI, struktur kurikulum yang menekankan bukan hanya relasi yang luas, jaringan alumni tersebar, dan penempatan kerja merupakan indicator jika kampus memiliki pengalaman dalam mengelola institusi pendidikan. Dengan pengalaman tersebut, menjadi ciri jika perguruan tinggi tersebut dipercaya telah meluluskan mahasiswanya dengan baik serta terserap di dunia kerja.
  10. Penghargaan. Salah satu ciri lagi sebagai perguruan tinggi yang excellent adalah menerima perhargaan bergengsi misalnya penghargaan sebagai kampus berbasis IT seperti diberikan oleh Telkom melalui Tesca Award atau Technology Smart Campus Award, TOP Brand, atau mungkin MURI Award.***[]

Refleksi Awal Tahun, Medsos dan Layar Sosial Kita

7
sumber gambar: bbs.ruliweb.org
“Mengundurkan diri” dari media sosial sepertinya menjadi keputusan yang tepat. Lebih banyak menjadi silent player dibandingkan menjadi pemain inti yang reaksioner.

Saling sindir, sumpah serapah, hatespeech, mencemarkan nama baik, membela yang belum tentu benar bahkan yang sudah jelas salah, membuat dan menyebarkan hoax, menjadi bagian dari jejaring kebencian dengan memelihara dan menghidupkan bot-bot, menyindir ulama bahkan mengolok-olokkan sepertinya sudah menjadi bagian dari keseharian media sosial. Mereka dengan bangga mengolok-olok para guru bangsa, guru agama dan guru kehidupan kita.

Ibarat candu, media sosial juga telah menyedot banyak waktu luang kita, waktu luang yang seharusnya digunakan untuk bersilaturahmi, malah berakhir dengan sindiran dan debat yang tidak perlu. Saling susul menyusul, saling balas, kata-kata tidak berkualitas pun memenuhi beranda dan timeline kita. Berita kopi paste yang entah dari mana sumbernya pun menjadi makanan tiap waktu tanpa berhenti sekejappun, manuasia seakan melek 24 jam tanpa henti. Kehidupan kita begitu riuh dengan kehadiran media sosial, dengan informasi-informasi yang terus berulang dan diulang-ulang oleh orang yang berbeda. Copas dari grup satu dan sebar di grup lain.

Media sosial juga menjadi alat propaganda politik, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan simpatik, mengelabui konstituen dengan cara black campaign, dan menyerang kelompok-kelompok politik yang tidak sepaham tanpa ampun dengan kejamnya. Seakan bahwa kelompok politiknyalah yang paling benar, tanpa memberikan kesempatan berargumentasi.

Bukan hanya saling sindir antar sesama teman media jejaring sosial, fenomena unfollow, block, delcon, unfriend pun sepertinya menjadi kata yang paling hits selama tahun-tahun tersebut. Yang tidak kuat sindiran bukan hanya terus melakukan penyerangan dengan melakukan sindiran, bahkan sampai adu bogem di dunia nyata. Mereka juga saling lapor ke polisi atas nama perbuatan tidak menyenangkan.

Mereka yang mengaku-ngaku berasal dari kalangan elit pendidikan pun tidak ubahnya dengan mereka yang tidak pernah bersekolah. Duh kok saya juga merasa tersindir, dan tentu saja tulisan ini juga sebagai hasil dari status-status yang berseliweran di media sosial. Hingga akhirnya menyadarkan saya, melakukan refleksi, apakah benar apa yang saya tulis selama ini memiliki nilai manfaat. Justeru malah mengundang orang untuk menyindir. Atau malah membuat orang gerah, alih-alih status tersebut kritis, justeru nyinyir dan emosional.

Teringat dengan satu buku yang pernah saya baca saat masih kuliah, bahwa menyampaikan kabar dan berbagai informasi dengan teman-teman juga memiliki etika dan cara. Cara ini jika dalam agama biasanya popular dengan istilah fiqh. Agama kita mengajarkan bagaimana cara berkata-kata yang baik, hingga dalam Islam dikenal dengan istilah Qaulan Layyinan, Qaulan syadidan, Qaulan Balighan, dan lainnya. Yang berarti perkataan yang baik, yang benar, yang lurus.

Media sosial akhirnya alih-alih menjadi ruang refleksi sosial, ruang untuk menyambungkan tali silaturahmi justeru menjadi ruang saling menghujat, menjadi alat pemutusan silaturahmi. Tidak ada lagi hiburan dari media sosial, kecuali bagi orang-orang yang sakit, tertawa karena telah membungkam logika berfikir orang lain yang menjadi lawannya. Tidak ada lagi ide menyebarkan di media sosial Karena yang ada adalah ide-ide untuk saling menjatuhkan dan berfikir menyindir-nyindir yang lain.

Media sosial yang selama ini menjadi layar sosial kita, tempat datangnya keberkahan, tempat berkumpul, koneksi, dan saling berbagi. Tidak lagi menjadi layar sosial. Penuh dengan sampah-sampah status, penuh dengan meme-meme sampah, ataupun berita hoax yang bertebaran. Dan celakanya, produksi sampah ini tidak hanya dilakukan oleh individu tetapi juga oleh mesin pemroses berbayar yang mengatasnamakan khalayak.

Lalu apa gunanya bermedia sosial? Jika pada akhirnya mengundang kemurkaan dari penggunanya? social valuenya menjadi hilang. Padahal salah satu nilai dari kemunculan media sosial adalah nilai koneksi dan berbagi kebaikannya. Bukan sebaliknya.

Kehadiran media sosial kini menjadi kontraproduktif dengan tujauan awalnya untuk saling menghubungkan sesuatu yang baik. Media sosial kini hadir untuk menghadirkan sesuatu yang tidak baik. Penyebar energi yang tidak baik. Wajar pada akhirnya beberapa tragedi lahir dari media sosial.

Haruskah kita terbawa arus oleh mainstream olok-olok ini? dari mengolok teman sendiri, ustadz, hingga presiden. Dari mengolok orang hamil, ibu kota, sampai ibu kita sendiri.

Kita, pada akhirnya menjadi penebar terror. Teror bagi friendlist media sosial yang jelas-jelas sebagai tetangga kita, walaupun tidak saling mengenal dengan baik. Media sosial akhirnya menjadi teater terorisme, seperti diistilahkan oleh Idi Subandy Ibrahim. Karena setiap orang selalu menciptakan rasa geram dan cemas tetangganya.

Mari kita kembalikan media sosial sebagai media yang bisa saling menghubungkan kebaikan, berbagi informasi yang baik dan ilmu yang bermanfaat. Agar media sosial kita bermartabat dan kembali kepada fungsi awalnya.

Listfriend media sosial adalah tetangga kita. Perlakukanlah mereka dengan baik seperti disampaikan oleh sebuah kata bijak (hadits),”…tidak sempurna iman seseorang hingga ia menyukai tetangganya apa yang ia suka darinya.” ***[]


Spotlight, Tamparan bagi Jurnalisme Online

10

Sumber Gambar: haionline
Film ini sudah saya tonton awal tahun 2016. Filmnya tidak menarik. Tidak ada bumbu-bumbu cinta apalagi sex. Jauh dari kesan intimidasi dan atau action. Ceritanya datar. Pemainnya juga bukan selebriti yang sering nongol di layar kaca yang saya tonton.

Beda dengan film The Bang Bang Club yang menawarkan sedikit konflik, cinta dan sedikit bumbu sex. Spotlight betul-betul bersih. Produser sepertinya betul-betul ingin menghindari bumbu-bumbu yang tidak perlu bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan cerita.

Bagi penikmat action, film ini akan terasa monoton. Begitu juga bagi penyuka film drama. Namun buat sebagian yang menikmati kedalaman cerita, kekayaan pengetahuan, seni sinematografi, film ini sangat menarik. Walaupun tanpa teknik-teknik wah. Wajar jika film ini mendapatkan beberapa penghargaan dalam beberapa kategori.

Bagi saya, yang sedikit banyak mendalami tentang ihwal media dan komunikasi termasuk di dalamnya Jurnalistik, film ini semacam percikan kecil di tengah boomingnya media digital, baik media online mainstream, abal-abal, atau citizen journalism. Film ini seakan menampar keterburu-buruan praktik jurnalistik di era digital.

Film ini mengajarkan kehati-hatian dalam menyampaikan informasi yang benar kepada khalayak. Kebenaran ini yang dijadikan senjata oleh awak redaksi untuk tetap maju menyampaikannya. Walaupun secara emosional, awak redaksi sangat dekat bahkan menjadi bagian dari lingkungan yang akan diberitakan.

Bagaimana tidak, guru dan tokoh agama yang menjadi panutan masyarakat harus harus dibongkar kebobrokannya. Semua kejahatan yang telah dilakukan belasan bahkan puluhan tahun pada akhirnya akan diketahui oleh publik. Bagaimana perasaan masyarakat yang sudah merasa terlindungi dan menganggap bahwa tokoh agama tersebut adalah wakil Tuhan yang menjadi pelindungnya di bumi. Betapa sedih.

Namun bukan persoalan ketokohan atau emosi masyarakat yang ingin saya sampaikan. Lebih kepada pelajaran yang bisa diambil dari film ini, yaitu bagaimana menyampaikan berita yang benar-benar valid, akurat, dan bisa dipertanggungjawabkan kepada publik.

Media dan Tanggung Jawab Sosial
Membuat berita dan menyampaikan informasi bukan hanya tanggung jawab terhadap pekerjaan sebagai seorang jurnalis/ wartawan. Juga bentuk tanggung jawab terhadap masyarakat. Pers bagaimanapun adalah lembaga publik. Harus mampu melindungi publik. Harus berpihak terhadap publik dibandingkan segelintir orang. Peran tanggung jawab sosial inilah yang dipegang teguh oleh Boston Globe.

Beratnya tanggung jawab terhadap publik mendorong Pimpinan Redaksi yang baru, Marty Baron, untuk mengangkat kembali kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh Katedral Law atau keuskupan Gereja Katolik di Boston. Kekerasan seksual terhadap anak sudah terjadi belasan bahkan puluhan tahun di bawah kepemimpinan Katedral Law.

Jurnalis yang lahir dan besar di Boston tidak yakin jika ini harus benar-benar dilakukan, apalagi beberapa kali juga pernah diangkat beritanya walaupun tidak masuk rubrik investigasi ‘Spotlight’. Marty sebagai pimpinan redaksi meyakinkan jika ini harus masuk Spotlight Karena terkait dengan tanggung jawab kepada publik.

Benturan-benturan untuk mengungkap semakin terasa. Penentang tidak hanya datang dari kalangan konservatif, juga dari kalangan yudikatif, pihak sekolah, termasuk juga pengacara. Bahkan data-data yang dikirimkan ke redaksi Boston Globe beberapa tahun ke belakang sama sekali tidak diketahui oleh tim ‘Spotlight’, hilang. Robby sebagai redaktur pelaksana ‘Spotlight’ bahkan mendapatkan kecaman dari teman dekatnya, walaupun pada akhisrnya dengan sangat terpaksa memberikan dukungan data. Intervensi datang dari berbagai penjuru.

Namun Marty berkeyakinan jika mampu menyampaikan kebenarannya, public juga akan mendukung, walaupun pasti akan banyak sekali orang yang terpukul. “Pemain media bisa berkembang jika tanpa campur tangan pihak lain”, tegas Marty.

Setelah semua informasi terkumpul mulai dari korban, pelaku, pengacara, bahkan bagian psikologi keuskupan. Berita tidak juga diizinkan untuk diterbitkan sebelum tim ‘Spotlight’ betul-betul mendapatkan informasi dari semua pihak yang berkepentingan agar berita yang diterbitkan betul-betul bisa dipertanggungjawabkan.

Inilah bentuk kehati-hatian bagaimana pers bukan saja menjadi corong informasi, namun juga informasi tersebut betul-betul bisa dipertanggungjawabkan dengan kebenarannya kepada publik.

Bagi umat Islam atau jurnalis muslim, menyampaikan berita yang benar, akurat, tabayun, baik, dan bertanggung jawab sudah ada tuntunannya dalam  Al-Qurán sehingga tidak terjebak pada pemelintiran dan penghasutan melalui berita. Misalnya salah satu ayat dalam Surat Al-Hujurat,”Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum….”

Ayat ini bukan hanya soal menyampaikan kebenaran, tapi juga mengajarkan kehati-hatian seorang pengabar berita akan dampak pemberitaan tersebut merugikan dirinya atau yang diberitakannya. Inilah salah satu saja dari beberapa tanggung jawab sosial media terhadap publik.

Pukulan Bagi Media Online
Salah satu praktik media online adalah adanya tuntutan realtimenya. Tuntuntan ini mengharuskan berita tersampaikan secepat-cepatnya. Sehingga dalam praktiknya memunculkan kesan keburu-buruan. Jika saja pembaca media online tidak secara realtime juga membacanya, makan informasi yang dicerna akan terkesan sepotong-sepotong. Bahkan bisa jadi berita yang disampaikan tidak secara berimbang tersebut berita susulannya disampaikan pada keesokan harinya Karena menunggu update dari sumber berita. Kadang media online memberitakan satu informasi dari sumber yang tidak hidup secara realtime, misalnya media sosial. Wajar beritanya pun tidak utuh, tanpa ada konfirmasi dari sumber berita.

Jika kualitas berita rata-rata seperti digambarkan di atas, maka sudah pasti beritanya kurang memenuhi kriteria sebagaimana tuntutan dari normativitas sebuah berita; benar, berimbang, terkonfirmasi, dan lain sebagainya. Sehingga berita menjadi tidak berkualitas. Inilah yang menjadi salah satu masalah pemberitaan yang diangkat oleh ‘Spotlight’.

Di tengah semakin populernya media pemberitaan online, media cetak harus menyuguhkan berita yang betul-betul berkualitas. Sikap kehati-hatian, terkonfirmasi, narasumber yang berimbang, tidak buru-buru terbit sebelum semua narasumber memberikan kesaksian, betul-betul ditekankan oleh ‘Spotlight’.

Media Cetak Tak Akan Mati!
Akhir tahun 2015 lalu koran Suara Pembaharuan mengakhiri masa terbitnya. Padahal koran ini termasuk pioneer dan legendaris. Semua pemerhati pun sepertinya meramalkan bahwa umur koran cetak akan berakhir. Tahun-tahun sebelumnya salah satu korang terbesar di Amerika juga tidak terbit lagi. Padahal di Bandung, justeru ‘Inilah Koran’ walaupun dapat dikatakan sebagai koran lokal justeru terbit setelah eksis di ranah digital.

Salah satu percakapan yang cukup menarik terkait dengan praktik pemberitaan di era digital dan koran cetak tidak akan pernah mati adalah saat Marty mengatakan bahwa di tengah gempuran pemberitaan media online, koran cetak akan tetap hidup jika redaksi menyajikan berita-berita yang berkualitas seperti disodorkan oleh ‘Spotlight’. Satu hal lagi yang akan membuat sebuah media bertahan adalah tanpa intervensi. “Media bisa berkembang jika tanpa campur tangan pihak lain,” tegas Marty.

Jika merunut sejarah media, tidak ada satu media (massa) arus utama yang tutup gara-gara kehadiran media yang lebih baru. Koran cetak tidak mati setelah kehadiran radio, tidak juga mati setelah kehadiran televisi, begitupun radio memiliki pendengarnya sendiri walaupun sudah digempur oleh berbagai media televisi lokal. Bahkan di internet, orang bisa mengakses media jenis apaun dengan awalan ‘e’ tapi media yang lahir sebelumnya tetap eksis dan bertahan, walaupun barangkali dari sisi jumlah pembaca, pendengar, penonton berkurang, Karena aspek dinamika media dan regenerasi pengguna media***[]

Sienta, Mobil Generasi XYZ

14

Generasi yang hidup pada masa kini adalah generasi yang tidak bisa lepas dari teknologi, khususnya perangkat gadget. Mereka yang sangat akrab dengan perangkat mutakhir ini adalah mereka yang lahir antara tahun pasca 1961-an s.d. pasca 1995-an. Era ini melahirkan tiga generasi, generasi pertama dalah generasi X, mereka yang lahir pada antara tahun 1961 dan 1980 ikut menikmati Karena mereka berada pada umur yang masih produktif, sedangkan generasi yang lahir tahun 1981-1995 sedang berada pasa masa puncak produktivitasnya, generasi ini biasa disebut sebagai generasi Y. Kedua generasi ini hidup pada dua masa sekaligus, masa dengan teknologi yang sederhana dan teknologi mutakhir. Sedangkan generasi Z adalah generasi yang lahir saat teknologi mutakhir sudah hadir.

Ketiga generasi ini yaitu XYZ adalah generasi yang sulit memisahkan diri dengan teknologi mutakhir, sebuah perangkat yang bisa menghubungkannya kemana dengan siapa dan apa saja dengan mudah. Sebuah mobile teknologi yang juga mampu melakukan interkonektivitas antar perangkat lain. Sehingga interkonektivitas antar perangkat pada akhirnya menjadi kebutuhan. Tak terkecuali dengan kendaraan, khususnya roda empat yang sudah menjadi kebutuhan bagi setiap orang.

Tips Memilih Mobil Anak Muda
Cuaca yang tidak menentu beberapa tahun terakhir, jika panasnya terik dan saat musim penghujan setiap hari Kota Bandung diguyur hujan sehingga menggunakan tunggangan kuda besi menjadi tidak nyaman, kendaraan roda empatpun menjadi kebutuhan mutlak. Namun memilih kendaraan di masa kini, pengendara harus mempertimbangkan unsur konektivitasnya.  
Foto Istimewa
Ada beberapa tips untuk memilih kendaraan roda empat untuk anak muda (generasi Z), pasangan muda (generasi Y), atau generasi X yang masih berada di puncak produktivitasnya dengan semangat muda, seperti disampaikan Indra Prabowo, Managing of Editor mobil123.com pada saat blogger gathering di Resto Atmosphere Bandung (28/10/2016), yaitu:

Economis
Unsur ekonomis bukan hanya soal murah, tetapi juga hemat. Untuk memilih kendaraan yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari baik kerja ataupun bersama keluarga harus mempertimbangkan unsur hemat. Salah satu yang menunjukan unsur hemat adalah tidak boros terhadap penggunaan bahan bakar. Seperti halnya yang diusung oleh LCGC, murah dan hemat. Toyota menjadi salah satu pelopor mobil LCGC seperti direalisasikan dalam brand Ayla.

Safe & Secure
Pemilihan kategori save dan secure artinya bahwa mobil tersebut harus aman secara fisik terhadap pengguna, melindungi pengguna (safe) melalui fitur-fitur keselamatan seperti safety balt, kantong udara, air brake system dan lain sebagainya. Sedangkan Secure mobil tersebut juga harus terlindung dari gangguan orang jahat, misalnya bisa terlindung dari pencurian seperti adanya alarm atau GPS.

Konektivitas
Unsur yang tidak kalah menarik saat memilih mobil masa kini adalah unsur interkonektivitas. Selain menyediakan perangkat teknologi yang sudah mumpuni juga bisa terhubung ke perangkat lain milik pengguna. Sehingga memudahkan untuk aktivitas pengguna. Mobil sudah dilengkapi dengan berbagai fitur teknologi mobile seperti koneksi ke gadget, ketersediaan GPS, sistem audio video yang sudah online, dan lain sebagainya. 

Toyota Sienta
Toyota Sienta di situs mobil123.com
Salah satu kendaraan sudah kompatibel dengan syarat di atas, baru saja diluncurkan beberapa bulan lalu oleh Toyota, yaitu Sienta. Sienta lahir di tengah-tengah dinamisnya perkembangan teknologi mobile. Sehingga Toyota mempersiapkan kendaraan terbarunya ini sudah bersahabat dengan teknologi masa kini, seperti perangkat audio dan power air conditioner yang sudah touchscreen. Perangkat ini juga bisa terkoneksi dengan gadget (interkoneksi) pemilik. Dengan fitur yang lengkap, Sienta diarahkan untuk anak muda dan pasangan muda dinamis agar selalu terkoneksi. Melalui fitur yang tersedia, Sienta juga memenuhi unsur safe & secure dan ekonomis.

Unsur ekonomis Toyota Sienta didapatkan dari teknologi terbarunya yaitu dari sistem bahan bakarnya yang telah menggunakan full injeksi. Dengan kubikasi 1500 cc dan full injeksi menjadikan Sienta hemat bahan bakar. Melalui pengapian yang sempurna yang didapatkan dari penyebaran merata bahan bakar dalam ruang kompresi menjadikannya tenaganya powerfull. Selain itu, fitur keamanan saat berkendara disediakan oleh Sienta melalui immobilizer, airbag, ABS, BA, dan EBD.

Dengan fitur yang dimiliki Sienta, Sienta akan memenuhi Ekspektasi anak muda atau pun pasangan muda termasuk mereka yang sudah terbiasa terkoneksi dengan perangkat mobile. 

Memilih Dealer Kredibel
Namun sebelum kita memutuskan membeli salah satu mobil yang sudah menjadi target pilihan kita. Salah satu yang tidak boleh dihiraukan saat akan mengambil kendaraan adalah pemilihan dealernya. Dealer harus dipastikan yang sudah memiliki kredibilitas. Baik saat akan membeli kendaraan bekas ataupun baru. Pada sisi lain, dengna adanya konektivitas, untuk mendapatkan mobil kita tidak mesti pergi ke dealer secara fisik. Kini banyak dealer online yang sudah menyediakan berbagai macam kendaraan lengkap dengan sistem pembeliaannya; kredit atau cash.

Salah satunya marketplace yang sekaligus juga mengedukasi masyarkat dalam soal jual beli kendaraan termasuk edukasi kendaraan adalah situs mobil123.com. Situs ini adalah portal otomotif nomor 1 di Indonesia yang mempertemukan pembeli dengan penjual pada satu platform dengan berdasarkan riset dan review kendaraan.

Menurut Head of Marketing mobil123.com, agar dealer secara offlinenya memberikan jaminan kredibilitas, mobil123.com langsung terjun ke lapangan untuk memastikannya, sehingga dealer yang bekerjasama adalah dealer yang sudah mendapatkan ‘sertifikasi’ dari portal tersebut. Sehingga calon pengguna tidak usah khawatir dengan sekuritasnya. Wajar, dengan sistem yang dibuatnya, portal otomotif tersebut mendapatkan kepercayaan dari publik. Tak kurang 13 juta halaman per bulannya di akses oleh calon konsumen. 

Nah termasuk untuk mendapatkan ulasan produk yang lengkap, misalnya tentang Sienta tinggal klik mobil123.com.***[]