18 February 2018

Belajar Photoshop Tanpa Bingung

sumber foto: Bang Udin @Syaifuddin1969
Suka ngiri kalau baca blog seseorang tampilan foto pada beranda media sosialnya rapih dan estetis. Apalagi setelah sayah klik, fotonya tampak serasi dan seimbang dengan layout blog dan blogpostnya. Saya tahu kalau foto tersebut adalah hasil olahan photoshop atau semacamnya seperti corel atau AI.

Misalnya, saat akan mengganti foto formal dengan menggunakan jas hasilnya ternyata malah seperti ‘buronan’ hehehe. Padahal sudah mengikuti tutorial seperti yang saya tonton dari youtube, begitu juga saat saya ingin mengganti latar foto dengan warna lain ternyata gampang-gampang susah. Lebih banyak susahnya daripada gampangnya, padahal tutorial udah didonlot semua.

Trililing sebuah pesan grup muncul, Kelas Blogger bulan Januari akan membuka kelas blogger ke 19 dengan tema Adobe Photoshop. Bukan barang kebetulan karena workshop ini selain vlogging adalah kelas yang ditunggu-tunggu. Saya langsung respon dan daftar deh melalui google worksheet. Alhamdulillah masih masuk kuota, karena kuotanya lumayan banyak.

Kelas yang diselenggarakan tanggal 21 Januari 2018 di kantor Kaskus. Ini merupakan kelas kedua yang saya ikuti setelah sebelumnya pada kelas blogger 6 belajar tentang vlogging.

Saat memasuki kelas, ternyata banyak master dan suhu blogger yang sudah bangkotan (red: jago photoshop) di antaranya ada Pak Dian Kelana dan teman seperguruan dari Bandung, Kang Ade Truna. Iya sih tujuan mereka bukan belajar, tapi niat baik bersilaturahmi.

Bagi saya, selain silaturahmi, memang niat belajar photoshop. Buktinya nanya-nanya serius gimana caranya biar bisa ngedit foto biar bisa bokeh dan latar foto menjadi gambar hitam putih. Cukup lama juga sih ngotak-ngatiknya, padahal Cuma satu pertanyaan hahaha.

Dipandu sama MC traveler, Kak Agil, acara berjalan lancar dan suasana tambah akrab. Celetukan-celetukannya gak garing hahaha…ngalir dan rame. Apalagi merchandise mengalir dengan derasnya. Saya kebagean dua kalo gak salah. Satu karena termasuk yang datang paling cepat, satu lagi karena kebaikan MC ngasih Cuma-Cuma, belum lagi ngutil kaos sama ketua kelasnya, Mas Kholis hehehe (jangan bilang-bilang ketua Yayasan ya Mas Kholis, pliz!).

Belajar Photoshop Langsung dari Masternya
Tutorial photoshop di youtube sudah bejibun, begitu juga banyak bertebaran di ratusan blog. Tapi rasanya kok tetap gak bisa-bisa ya. Entahlah, mungkin memang gak bakat. Saat tatap muka langsung belajar youtube   eh photoshop ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Mau bikin kreasi photo dengan latar hitam putih dan focus objek berwarna saja sampe berulang-ulang ganti objek karena gagal lagi gagal lagi. Sampai akhirnya minta bantuan tutor untuk mengajari langsung. Parah ini mah.

Tapi itulah enaknya belajar sambil langsung silaturahmi. Saat tutorial mentok, tidak ada jalan keluar, kita bisa bertanya langsung sama masternya. Dan ini juga yang terjadi. Sang Master langsung mengajari dengan mendatangi meja sayah. Membuat photo dengan objek terfokus dan latar hitam putih ternyata harus membuat beberapa layer. Tentu saja saya tidak tahu sebelumnya.

Begitu juga saat membuat tulisan dan mengubah atau mengedit huruf, warna, efek, dan ukuran di dalam toolsnya tiggal diklik saja. Benar-benar blahbloh saya tentang photoshop.

Praktik kedua adalah membuat tulisan dengan ukuran sesuai keinginan. Yaitu membuat objek tulisan. Lagi-lagi ternyata sulit melakukannya sendiri. Dan lagi-lagi saya dibantu untuk menentukan tinggi dan lebar layer. Belajar dari youtube atau dari blog, petunjuknya sama, tetapi jika kebingungan kita harus benar-benar mencernanya sendiri. Dengan daya tangkap dan kreativitas yang semakin berkurang, belajar langsung, tatap muka kepada ahlinya lebih faham dibandingkan dengan belajar dari multimedia.
Sumber gambar: @kelasblogger

Kaskus Kreator
Selesai kelas photoshop, peserta diajak tour ke fasilitas aplikasi baru dari kaskus. Yaitu kaskus creator. Kaskus creator adalah platform kaskus baru yang diperuntukkan para penulis yang selama ini tidak mendapatkan penghargaan apa-apa. Melalui kaskus creator seorang penulis bisa mendapatkan point atau reward dari mimin. Reward berupa point ini dapat ditukar dengan uang cash jika sudah mencapai jumlah tertentu. 

Kaskus kreator sama halnya dengan blog kroyokan atau portal netizen atau istilah kerennya user generated content. Setiap orang bisa memiliki akun dan menulis pada kaskus kreator. Agar kaskus kreator diverifikasi, penulis harus memosting 3 tulisan. Untuk lebih lengkap informasinya dapat dibuka info di kaskus tentang kaskus kreator. ***[]

Read More

21 January 2018

Menghadang Serangan Disrupsi!

sumber: @abahrakarhen
Tahun 2017 salah satu berita yang menjadi perhatian masyarakat ekonomi adalah tutupnya beberapa usaha ritel seperti 7-Eleven, Disc Tarra, Lotus, Dabenhams. Bahkan sebagian cabang Matahari Departemen Store juga mengalami hal serupa. Bukan hanya usaha jaringan yang disupport oleh pemodal besar, usaha milik masyarakat yang tersebar di pusat-pusat perdagangan juga sepi; Pasar Elektronik Glodok, Mangga Dua, bahkan Tanah Abang sekalipun. Beberapa hasil amatan media, sepinya pasar-pasar besar modern dan semimodern tersebut disebabkan oleh turunnya daya beli masyarakat.

Pada sisi lain, berdasarkan hasil survei BPS pada tahun 2017, index kebahagiaan masyarakat Indonesia mengalami peningkatan. Betapa tidak, banyak tersebar di media sosial rata-rata masyarakat Indonesia menjadikan bepergian menjadi gaya hidup mainstream. Bisa jadi alokasi belanja ritel dialihkan untuk alokasi wisata yang menjadi kebutuhan tiap bulannya.

Hal berbeda dijelaskan oleh Rhenald Kasali yang sejak lama meneliti tentang berbagai gejala perubahan khususnya bidang ekonomi dan manajemen. Menurutnya, gejala di atas bukan disebabkan oleh daya beli masyarakat menurun, tetapi beralihnya cara belanja. Ia mengistilahkan gejala tersebut sebagai Peradaban Uber. Belanja masyarakat tidak ketahuan karena dilakukan secara online. Kedatangannya tidak terlihat secara kasat mata. Seperti halnya jasa angkutan berbasis aplikasi yang dipelopori oleh Uber.

Eksistensi apalikasi sebagai usaha baru ini mengancam pengusaha lama atau diistilahkan sebagai incumbent  yang tidak melakukan inovasi. Eksistensi usaha melalui aplikasi sebagai buah inovasi ini diistilahkan oleh Rhenald Kasali sebagai Disruption yang sekaligus menjadi judul buku terbarunya. Inovasi bukan hanya dari sisi kecanggihan teknologi aplikasi, juga inovasi dari sisi harga. Kehadiran aplikasi telah memangkas hingga 40 % lebih biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen.

Buku setebal 511 halaman tersebut tidak hanya menguraikan sejumlah fenomena jaman now; konflik horizontal antara pegawai  usaha konvensional dengan pegawai usaha online, kegelisahan para incumbent di Indonesia atau di dunia termasuk negara-negara maju yang ketakutan menghadapi agresifnya ekonomi China. Disertai kejatuhan perusahaan besar seperti Nokia, Kodak, Pan Am, Enron, Lehman Brother. Juga secara teori dan sejarah disruption selama 20 tahun.

Jika 20 tahun lalu yang menikmati hasil usaha hanya pemilik modal dan kelas menengah. Abad 21, kelas bawah dan para penonton mulai bisa berperan dan menikmati hasilnya sendiri. Bermunculannya para entrepreneur baru baik yang sudah go public seperti pendiri Go-Jek atau Bukalapak, juga entrepreneur ritel yang membuka lapak usahanya di marketplace tanpa harus mengeluarkan biaya sewa toko.

Terbentuknya dunia usaha yang bisa dinikmati hasilnya oleh kalangan bawah, bagi Kasali menjadi akhir dari kapitalisme berubah bentuk menjadi manage capitalism kemudian berubah lagi menjadi entrepreneurial capitalism. Kehadiran entrepreneurial capitalism melahirkan para pelaku usaha baru kreatif yang mengancam sekaligus menghancurkan legagacy para incumbent (hal 136).

Tiga konsekuensi dan dampak luas dari disrupsi bagi Kasali adalah, pertama menyerang para incumbentKedua menciptakan pasar baru yang sejak kehadiran internet diabaikan oleh incumbentKetiga, terjadinya deflasi atau penurunan harga karena tidak terdapat biaya mencari dan transaksi. Sehingga harga barang dan jasa yang menggunakan perantara teknologi informasi lebih murah.

Siapapun, kita sebagai apa, akan terkena dampak disrupsi. Memilih tergerus atau cepat beradaptasi dengan perubahan? Atau meminjam bahasa Gede Prama, memilih Inovasi atau Mati?.

Kasali memberikan solusi agar kita bisa beradaptasi, karena disrupsi yang satu sisi menghancurkan usaha-usaha dengan mindset lama, sisi lain peradaban uber menjadi peluang besar bagi siapapun yang ingin berubah dengan secepat mungkin. Salah satu yang ditawarkan Mindset Disruption adalah dengan bergeser ke corporate mindset. Bagi penulis buku fenomenal Change ini, mindset bukan hanya harus dipahami tapi juga dilatih dan diaplikasikan

Kasali membuat sebuah perbandingan bagaimana mindset incumbent dan mindset disruptif yang ia istilahkan dengan Fixed Mindset dan Growth Mindset:

Fixed Mindset; intelligence is static
Growt Mindset: Intelligence can be developed
Mudah menyerah
Tahan menghadapi rintangan
Menghindari tantangan
Siap menerima tantangan baru
Melihat usaha sebagai hal sia-sia
Melihat usaha sebagai bagian untuk jadi mahir
Merasa terancam dengan keberhasilan orang lain
Mendapatkan pelajaran dan inspirasi dari kesuksesan orang lain
Mengabaikan kritikan yang membangun
Belajar dari kritikan

Buku ini diakhiri dengan bab akibat-akibat yang akan muncul dari disrupsi dalam semua bidang kehidupan yang ia uraikan dalam bentuk fenomena; pangan, pemerintahan, olahraga, pendidikan. Dan disrupsi memunculkan karakter 3 S: speed, surprises, dan sudden shift.

Seperti buku karangannya yang lain, satu nafas karakter dari buku Kasali selain dibumbui oleh sejumlah teori dan kutipan orang-orang besar; filsuf, cendekiawan, intelektual, pelaku pasar ataupun praktisi yang menggeluti bidangnya, juga diawali dengan hasil observasi dan uraian sejumlah fenomena. Seperti saya temukan dari buku Cracking Zone ataupun Self-Driving. Sehingga, sebelum penikmat buku memahami buku secara utuh, sudah dibekali sejumlah kejadian-kejadian nyata kenapa suatu fenomena terjadi. Sehingga saat masuk ke dalam bagian yang bersifat konseptual dan teoritis, tidak kesulitan memahaminya. Wajar sebagian besar bukunya selalu best seller di tahun yang sama saat buku tersebut pertama terbit.

Bagi saya, buku ini ditulis cukup komprehensif seperti halnya menulis tugas akhir, di awali sejumlah fenomena, teori, aplikasi teori dalam kehidupan nyata dan tentu saja solusinya. Namun tidak seperti tugas akhir yang ditulis baku,  buku ini ditulis dengan bahasa yang mengalir sebagai ciri khas tulisannya, walaupun banyak istilah-istilah asing dan akademis, membaca buku ini tidak terasa berat dan jenuh. Sehingga sangat layak dibaca oleh semua kalangan.

Kritiknya yang menohok, bukan hanya bagi pelaku usaha, tapi juga birokrat dan sejawatnya, wajar jika seorang teman mengatakan jika banyak yang mengkritik buku ini. Seperti halnya kaum kiri, buku ini memorakmorandakan perilaku kaum mapan yang tidak berani beralih haluan, baik dari cara berfikir ataupun aktivitasnya.

Selamat datang di era Disruptif, memilih mengubah haluan atau kita akan tertinggal dan tergerus lalu mati sia-sia di tengah puing-puing kemapanan?
Read More

31 December 2017

Persinggahan Mengesankan di Malaka

Gedung Merah menjadi salah satu ciri khas dari Kota Malaka (c)@abahraka
“Saya akan kasih surprise untuk kalian semua. Kalian memiliki waktu satu jam sahaja, kalian akan singgah di Tanah Merah. Dan nanti setelah satu jam kalian harus kembali lagi ke tanah merah,” ujar Suzie, seorang guide lokal Malaysia dengan logat khas melayunya.

Lalu saya membuka rundown itinerary. Agenda yang tertulis, setelah melakukan persinggahan ke University Kebangsaan Malaysia (UKM) lalu transit di Johor sebelum akhirnya menyeberang ke Singapura. Surprise yang dimaksud oleh Suzie adalah persinggahan di Kota Malaka. Tidak ada dalam itinerary karena kunjungan ini inisiatif dari travel agent sebagai ganti satu kunjungan yang berubah jadwal.

Saat mendengar nama Melaka, pikiran saya tiba melanglang buana terhadap salah satu materi pelajaran sejarah saat sekolah. Malaka adalah salah satu penggalan sejarah Indonesia. Malaka, adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah eksistensi Nusantara pada masa kerajaan sebelum akhirnya menjadi Indonesia. Pada masa Indonesia masih terdiri dari kerajaan, Malaka adalah kesultanan yang menguasai sebagian wilayah Indonesia yaitu Pulau Sumatera. Pendirinya sendiri berasal dari Nusantara, yaitu keturunan Sriwijaya, Prameswara. Ia memerintah selama 110 tahun di Kesultanan Malaka sebelum ditaklukkan Portugis tahun 1511.

Melalui jalur Malaka-lah Portugis menguasai Jawa bagian Barat dengan menaklukan kerajaan Sunda dan menjajah Indonesia. Sebelum melakukan penjajahan, Portugis melakukan kerjasama dagang dengan kerajaan Sunda. Sunda Kelapa Jakarta menjadi saksi sejarah kehadiran portugis di Nusantara dan mendirikan prasasti perjanjian dengan kerajaan Sunda.

Malaka juga saya ingat bukan hanya karena sejarahnya yang kuat dengan Indonesia, juga menjadi jalur dagang laut internasional pada abad ke-16. Para pedagang yang datang ke Nusantara baik dari Arab, Gujarat, India, ataupun Eropa yang kesengsem dengan rempahnya berlabuh di Malaka. Malaka menjadi jalur batas antara Indonesia dan Malaysia, yaitu sebuah selat atau laut yang diimpit oleh dua dataran, Sumatera di Indonesia dan Semenanjut Malaya di Malaysia.

Saya tidak menyangka jika persinggahan ke tempat ini merupakan persinggahan bersejarah. Bukan hanya tertulis dalam buku-buku sejarah Indonesia, Malaka benar-benar memiliki atmosfer sejarah. Hampir setiap jalan yang saya lewati penuh dengan bangunan sejarah, dalam hati saya berdecak kagum, betapa bangunan tersebut masih apa adanya, “Ini benar-benar wisata heritage,”gumam saya. Sepanjang jalan yang saya lewati, kanan dan kiri berdiri kokoh bangunan-bangunan tua peninggalan portugis, Belanda, dan Inggris.

Malaka sendiri berjarak 148 km dari Kuala Lumpur. Perjalanan yang ditempuh sekitar 2,5 jam menggunakan bis. Jika menggunakan kendaraan umum bisa menggunakan komuter. Sesampainya rombongan di Bundaran Jalan Merdeka yang di sekelilingnya terdapat bangunan berwarna merah. Lokasi ini menjadi titik berkumpul peserta Campus & Company Visit dari kampus kami, Politeknik LP3I Bandung pada April 2017agar tidak tersesat setelah kami berkeliling menikmati seuprit tempat dari Kota Makala. Karena tidak mungkin bisa menikmati semua hal yang ada di Malaka dengan waktu kurang lebih satu jam setengah saja.

Rombongan turun dan behenti di Taman Kota Malaka. Kami langsung mengambil foto dengan latar Gereja Kristen (Crist Church Malaka). Begitu ramainya kota Malaka, sebuah taman dengan tulisan I Love Malaka menjadi tempat favorit berswafoto atau foto group. Saya harus sabar untuk mengantri, agar mendapatkan latar yang heritagenic dengan berswafoto di taman dengan latar gedung merah. Setelah duduk-duduk menikmati Taman Malaka yang dikelilingi oleh bangunan tua berwarna merah, saya pun bergegas menuju salah satu area tempat berdirinya kompleks museum sejarah dan berjalan menuju sebuah bukit bernama Bukit St. Paul.  

Menikmati Malaka dari Bukit St. Paul
Di Bukit St Paul selain bisa menikmati bangunan tua peninggalan Portugis, juga gedung-gedung pencakar langit
Untuk mencapai bukit Saint Paul pengunjung harus melewati bangunan merah dan ratusan anak tangga. Saat sampai bukit, pengunjung akan disambut oleh patung pendeta. Konon patung tersebut adalah Pendeta Santo Francis Xavier. Seorang pendeta yang ditugaskan untuk melakukan misi Gospel atau penyebaran agama Kristen. Ia dianggap sebagai manusia suci sehingga dibuatkan patungnya.

Ada satu cerita yang menarik dari Patung Xavier ini, yaitu tangan kanannya yang patah. Pada tahun 1514, jenazah Xavier tangannya dipotong untuk kanonisasi dan simbol pembaptisan. Potongan tangannya sendiri di Simpan di Gereja Roma. Untuk menghormati jasa-jasa Xavier maka dibuatkan patungnya di bukit Saint Paul. Pada saat patung tersebut berdiri, tangan kanan patung Xavier patah tertimpa pohon dan potongannya tidak ditemukan. Maka berdirilah patung Xavier yang tidak memiliki tangan kanan sampai sekarang.

Setelah melewati Patung, sebuah bangunan berwarna putih tampak berdiri tinggi dan kokoh, konon ini merupakan peninggalan terakhir yang masih ada sebagai bagian dari Benteng A’Fomosa yang digunakan untuk memantau dan menghalau serangan musuh. Tepat di belakangnya adalah Gereja tertua di Malaysia, Gereja Saint Paul. Walaupun warna catnya sudah memudar dan tidak terdapat lagi atap di atasnya. Di dalam Gereja terdapat puing-puing makam peninggalan bangsa Portugis dan Belanda.

Bukit saint Paul merupakan salah satu bukit pertahanan Bangsa Portugis pada masanya untuk menahan gempuran dari Belanda yang sama-sama berebut wilayah kekuasaan di Asia Timur. Sebagai bagian dari kota pertahanan di sini didirikan kota A’Famosa yang di sekelilingnya berdiri berbagai bangunan dan juga kedai dan yang paling utama adalah Benteng sepanjang 1,5 km. Kota A’Famosa sendiri tepat mengelilingi bukit Saint Paul.

Saat berada di atas bukit Saint Paul, saya bukan hanya sedang berwisata Heritage. Saya juga sedang menikmati Kota Malaka pada abad modern. Seperti halnya Braga di Kota Bandung, yang menyisakan secara utuh berbagai bangunan sejarah , juga terdapat bangunan-bangunan pencakar langit. Saya juga dapat menyaksikan hamparan selat Malaka yang berseberangan langsung dengan Indonesia. Malaka bukan hanya sebagai sebuah Kota Sejarah, Malaka juga kota yang sudah hiruk pikuk dan padat dengan bangunan-bangunan pencakar langit. Tampak berjejer bangunan apartemen dan hotel yang menjulang tinggi ke langit. Hotel Malaka atau Holiday Inn atau apartemen yang bangunannya berjajar serupa kembar.

Satu Jam di Kota Warisan Dunia
Bandara Internasional pada masa lalu

Selama satu jam setengah menikmati Kota Malaka, hampir setiap sudut yang saya jumpai adalah bangunan-bangunan tua yang sarat nilai sejarah. Wajar jika pada tahun 2008 UNESCO atau Badan Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan di bawah Naungan PBB menetapkan Malaka sebagai World Heritage City. Bangunan-bangunan yang ada merupakan peninggalan 3 kerajaan Eropa masa penjajahan; Portugis, Belanda, dan Inggris.

Bangunan Heritage apa saja yang bisa saya nikmati selama berkeliling di sekitar Gedung Merah tersebut?

Pertama kali menginjakkan kaki di Taman Melaka dengan kesegaran air mancurnya adalah bangunan yang mirip seperti komplek pertokoan. Komplek pertokoan dengan cat berwarna merah ini merupakan bangunan pelindung Bukit Saint Paul. Tepat berada di belakang Taman Malaka yang bertuliskan ‘I Love Malaka’ adalah Gereja Kristen Malaka (Crist Church Malaka) yang berdiri kokoh bersebelahan dengan Gedung Galeri Seni Lukis Kota Malaka.

Setelah saya puas menikmati bangunan merah yang tepat berada pada 0 km Kota Malaka, pelancongan dilanjutkan ke Bukit Saint Paul melewati komplek Museum Demokrasi. Di sinilah patung misionaris pertama portugis berdiri kokoh membelakangi Gereja Saint Paul yang tidak lagi beratap namun tetap kokoh. Di dalam gereja berjejer nisan prajurit Portugis setinggi 2,5 m.

Puas menikmati semilir angin di atas bukit, saya turun dengan tujuan menuju sungai Malaka. Melewati Bundaran 0 km, di sebelah kiri jalan tampak tulisan besar ‘Selamat Datang Bandaraya Melaka Bersejarah’. Saat membaca tulisan tersebut, pikiran saya seakan dibawa ke dalam sejarah masa penjajahan seperti yang pernah saya baca dalam buku-buku sejarah.  Ya, pada masanya, ini adalah Jalur dagang internasional. Salah satu Bandar internasional strategis, sebuah jalur perdagangan paling penting pada masanya.

Museum berbentuk Kapal Pinisi

Sungai Malaka dan Pedestrian yang bersih dan nyaman untuk nongkrong
Sebelum sampai di pedestrian sungai Malaka, saya menyaksikan bagian dari Benteng A’Fomosa yaitu Middleburg yang menjadi benteng pengawasan. Benteng ini merupakan Benteng pengintaian yang digunakan oleh Portugis untuk mengawasi musuhnya yang datang dari arah Selat Malaka. Sungai Malaka sendiri airnya mengalir menuju Selat yang yang berbatasan dengan Indonesia.

Pedestrian Sungai Malaka tampak resik dengan sebagian tempat duduk kursi-kursi taman klasik. Pedestrian juga menjadi tempat asyik untuk kongkow dan bercengkerama menikmati pagi dan senja sambil sarapan atau ngopi. Seberang pedestrian berdiri kokoh bangunan heritage Hotel Del Rio.

Beranjak dari pedestrian, saya melipir mencari toilet untuk buang air kecil yang berada di muara sungai. Tidak jauh dari muara, saya lewati bangunan mirip kapal Phinisi. Bangunan ini merupakan museum kelautan Malaka (Maritime Museum Phase One Melaka) atau replika dari kapal Flor de La Mar yang pada masa lalu pernah terdampar di Pantai Malaka ketika kembali perjalanan dari Portugis. Dalam kapal dengan luas sekitar 288 M terdapat artefak dan dokumen peninggalan masa kejayaan kesultananan Malaka.

Seandainya tidak berbatas waktu, ingin sekali menikmati pagi dan senja itu di sini. Malaka. Kota Sejarah yang pertautannya sangat kuat dengan Indonesia. Bahkan sampai Kini. ***[]
Read More

26 December 2017

Meneduh Di Puncak Bintang

Sumber: dok @abahraka
Minggu kedua bulan Desember sebetulnya bukan jadwal untuk bercengkerama ke luar bersama anak-anak. Karena tepat dua hari sebelumnya mereka sudah puas-puasan bermain bola di pusat permainan dekat rumah. Artinya bahwa minggu ini seharusnya digunakan untuk bermain sekaligus beristirahat di rumah.

Tapi satu agenda yang bisa memberikan pengalaman seru buat anak sepertinya sayang untuk dilewatkan, #angklungpride. Pukul Tujuh pagi, anak-anak baru saja bangun. Artinya mereka harus loading dulu sebelum mandi. Tidak cukup satu jam untuk persiapan. Sedangkan Gelaran #Angklungpride sudah sejak pagi mengawali. Sehingga dalam perhitungan saya, bukan waktu yang tepat jika berangkat dari rumah jam 9, sementara acara sudah mulai sejak jam 8 pagi.

Hmmm sudah tanggung anak dan isteri dandan, masa iya harus batal berangkat. Tentu saja akan mebuat mereka kecewa. Karena tujuannya sekitaran Cicaheum dan Suci. Destinasi wisata yang dekat salah satunya adalah Puncak Bintang atau Bukit Moko.

Sudah lama cukup popular di media sosial 1-2 tahun lalu. Saya belum pernah juga melawat ke daerah yang tidak jauh dari Caringin tilu ini yang jika malem minggu banyak motor terparkir di pinggir jalan dan di baliknya ada muda-mudi sedang indehoy. Maklum, dulu jalanan cukup gelap. Dua-duaan di balik sepeda motor terparkir sepertinya boleh juga, bagi yang kantongnya kekeringan.

Jalanan menuju Cartil (Caringin Tilu) memang cukup curam, tapi dengan aspal yang sudah dihotmix, menggunakan matic 150 cc bukan barang susah untuk digas. Kendaraan bisa melaju dengan kecepatan sedang di atas tanjakan 30 derajat walaupun berbonceng hingga 2 orang di belakang atau kiran-kira 120 kg penumpang. Ya, jalanan menuju area ini sudah lebih baik dari 6 tahun lalu saat saya bersama kawan meramaikan malam mingguan.

Puncak Bintang, ternyata cukup jauh dari Caringin Tilu. Jalannya untuk beberapa perkampungan masih ada yang bolong dan becek, tapi overall, jalannya sudah bagus bahkan mendekati puncak bintang jalanan sudah menggunakan beton walaupun cukup menanjak hingga 35-38 derajat. Untuk pengendara roda empat juga, kendaraan sudah bisa langsung di parkir di area Puncak Bintang Bukit Moko.

Dengan parkir 5000rupiah yang dikelola oleh penduduk setempat, pengelolanya cukup apik dan perhatian terhadap pemarkir, terdapat tempat penyimpanan helm, untuk jaga-jaga jika cuaca hujan, tanpa harus mengeluarkan lagi biaya sewa.

Setelah motor saya parkir, sejenak menikmati pemandangan Kota Bandung dari atas bukit, dengan latar bukit pohon pinus. Arah berseberangan dengan tempat parkir, di ujung bukit pohon pinus tampak menara pandang Bukit Moko.

Dari atas menara Pandang, sejauh mata memandang, para pengunjung bisa menyaksikan hamparan gedung-gedung dan rumah penduduk Bandung menyerupai cekungan. Wajar karena Bandung pada masa lalu adalah sebuah Danau yang kemudian mengering. Ini mungkin gambaran Bandung Purba, yang menyejarah bersama Danau Purba Bandung tempo doeloe, di saat kakek moyang kita belum lahir.

dok @abahraka
Tidak seperti kebanyakan pengunjung yang mendahulukan berkunjung ke ikon Puncak berupa Patung Bintang Raksasa, saya lebih memilih berjalan menyusuri rindangnya pohon pinus. Begitu teduh dan tenang, padahal saat itu jam menunjukkan pukul 11.00, saat-saat teriknya matahari. Di bawah jalan tanah merah, destinasi milik perhutani ini tampak alami. Seakan tanpa rekayasa, namun tetap bersih dan terawat dengan beberapa tempat sampah di beberapa area.

Memilih Tempat Anak Bermain
Mini tebing untuk anak #PuncakBintang
Sebagai Abah yang punya dua anak laki-laki yang tidak terpaut jauh usianya, dibanding mengikuti ego mencari tempat berswafoto (lagian gak terlalu suka selfie, kecuali hasilnya bagus-bagus hehe), prioritas  utama adalah mencari tempat bermain anak. Setelah tanya-tanya, pihak perhutani menyediakan satu spot khusus tempat bermain. Walaupun dengan alat mainan yang terbatas dan tidak terlalu luas, sepertinya cukup meninamainkan agar anak tidak merengek minta jajan hehe.

Tak jauh dari area pohon pinus, setelah berjalan 200 meter, akhirnya kami temukan area permainan anak yang terdiri dari kuda-kudaan, perahu-perahuan, jembatan kayu, komidiputar, ataupun panjat tebing mini. Tidak jauh dari tempat bermain ada area memanah yang sedang hits dan kekinian. Semua dicoba  selagi bisa dan tersedia. Setelah anak merasa bosan dengan permainannya yang itu-itu saja, jajan jadi tujuan. Naik perahu-perahuan sudah, naik kuda-kudaan bergoyang sudah, naik jembatan dan tebing mini juga sudah.

Tepat tengah hari, cuaca di bawah pohon pinus tetap teduh. Walaupun agak jauh berjalan menuju gerbang kedatangan. Anak-anak tetap semangat, apalagi tujuannya adalah warung, tak lain dan tak bukan mencari jajanan anak. Apalagi rengekannya sudah tidak bisa lagi dibebenjokeun. Niat menuju ikon Puncak Bintang pun pupus sudah. Toh dominasi tujuan hang out bukankah untuk anak-anak?

Tak apalah tidak berswafoto di Patung Bintang Raksasa sebagi ikon Puncak Bintang, yang penting sudah tau area dan kemewahan pohon-pohon pinus yang meneduhkan dan menenangkan. Juga sudah bisa ngabrangbrangkeun anak-anak yang setiap minggunya minta hang out.

Bisa meneduh di bawah kemewahan pohon pinus, ngabrangbrangkeun anak-anak, dan juga sudah merasakan kemegahan Puncak Bintang dan Bukit Moko yang semoat Hits dan mungkin masih hits, sepertinya sudah cukup. Tak jauh dari gerbang masuk terdapat beberapa tempat duduk bisa dibuat sebagai tempat ngadem setelah jalan-jalan seharian.

Baydewey, retribusi masuknya tidak jauh berbeda dengan retribusi masuk destinasi buatan seperti Floating Market atau Dago Dreampark. Bedanya area jajanan yang tersedia lebih merakyat karena dikelola oleh masyarakat secara langsung dengan harga up tempat wisata, tidak murah juga tidak mahal. Sedangkan jajanan di area destinasi sudah menyesuaikan dengan harga manajemen. Yang jelas tidak akan membuat kantong jebol dan bolong.***[]
Read More

23 November 2017

Pakem Konten Marketing Era IoT

Ojek pangkalan beringas, sopir taksi konvensional teriak. Sebagian perusahaan tempat mereka bekerja melakukan rasionalisasi, sebagian lagi tutup. Beberapa gerai ritel bangkrut. Terlepas karena bisnis modelnya yang tidak punya positioning dan diferensiasi sehingga orang lebih memilih produk sejenis dengan merek yang berbeda atau karena mereka tidak punya inovasi dalam bidang marketing, yang jelas faktanya mereka kini kalah berperang. Kios-kios di pusat grosiran juga pada tumbang tanpa diketahui penyebabnya.

Beberapa ahli berpendapat, karena daya beli yang menurun, hal ini berdasarkan analisis karena akselerasi ekonomi Indonesia cenderung melambat. Saya, tentu saja bukan ahli ekonomi atau pengamat ekonomi, sehingga hanya bisa mengatakan katanya, kata pengamat, kata berita, kata Koran, kata televisi, atau dengar-dengar info tetangga sebelah.

Tapi jika diperhatikan, kalau daya beli masyarakat yang menurun, kenapa setiap pagi, siang, malam atau jam dan hari selalu berseliweran orang bepergian dan melancong atau melakukan vacations ke tempat-tempat keren; entah domestic, regional, atau internasional. Jika pun daya beli masyarakat berkurang kenapa setiap weekend jalan – jalan di Bandung selalu padat, atau setidaknya jalan tol menuju Bandung bahkan padat cenderung macet. Begitu juga kendaraan yang menuju Garut dari arah Bandung atau tol juga sama padatnya. Bahkan saat saya pulang saat weekend, Jalan Cagak dan Lebak Jero seringkali macet.
Dalam catatan Rhenald Kasali, penilaian terhadap menurunnya daya beli masyarakat adalah pengamatan yang kurang tepat. Ada invisible hand. Daya beli beralih ke hal-hal yang tidak terlihat. Misalnya, agar bisa bepergian, maka belanja konsumsi dikurangi dialihkan untuk liburan setiap minggu atau bulannya. Agar tetap bisa tetap terhubung, orang menahan untuk membeli cemilan demi pulsa data. Begitupun yang tadinya belanja ke mall beralih belanja online baik melalui online mall atau online shop ke produsen secara langsung sehingga harga barang lebih murah.

Berbeda lagi pendapat dari Iwan Setiawan dan Yosanova Savitri dalam  Buku New Content Marketing, Gaya Baru Pemasaran Era Digital, menurutnya ara pergerakan marketing sekarang berubah, bukan lagi B2B tapi H2H. Conten harus diarahkan langsung untuk mengelus-elus konsumen. Conten marketing harus mampu menyentuh sisi terdalam dari manusianya. Persis seperti ditulisa dari Marketing 3.0. Pelanggan harus memiliki pengalaman dengan produk.

Dalam buku tipis namun padat berisi ini, Iwan dan Yosanova yang merupakan peneliti MarkPlus, menulis 3 garis besar dalam marketing; Why, What, dan How. Melalui bab ‘Why’, mereka menjelaskan kenapa content marketing harus berubah menjadi H2H bukan lagi B2B. Di era konektivitas, menurut penulis Marketing 3.0 tersebut semuanya serba paradox, walaupun setiap orang sudah sedemikian maju dengan teknologi, justeru content marketing tetap harus menyentuh aspek manusianya. Karena bagaimana pun pengguna teknologi adalah manusia.

Untuk menggerakkan konten tersebut ada tiga actor utama yang bermain; pertama anak muda, wanita, dan netizen. Jika diperhatikan, memang anak muda atau pemuda jaman now ini menjadi trend setter dalam bisnis. Generasi Y dan Z hampir bisa dipastikan menjadi pengisi utama baik konsumen dan produsen di dunia maya. Mereka menjadi factor dinamisator perubahan era Internet of things (IoT).

Unsur kedua yang menjadi actor utama di erah IoT ini adalah wanita. Ada satu adagium yang nyeleneh di era internet; the power of emak-emak. Kekuatan kaum wanita betul-betul telah meramaikan jagat internet. Wajar, mereka menjadi satu kekuatan khusus yang menggerakan hilir mudik barang atau konten karena mereka adalah makhluk yang paling aktif, kids jaman old bilang, mereka mulutnya dua. Sekarang ditambah lagi jempol, kedua mulutnya pindah ke jempol, wajarlah. Dengan kesenangan mereka bercerita dan berbagi menjadi satu daya tawar khusus eksistensi perempuan di internet.

Dan ketiga, factor dinamisator marketing di era IoT adalah netizen. Netizen, menurut pandangan Iwan dan Yasanova lebih emosional  ketimbang citizen dalam membahas sesuatu. Lihat saja misalnya saat adanya isu-isu politik, sepertinya netizen yang meramaikan jagad nusantara ini. Mereka menjadi Heart of the World. Dan tentu saja tidak semua citizen bisa menjadi netizen karena sifatnya yang berbeda. Netizen sudah masuk kerangka globalisasi.

Dalam konteks What, Iwan menulis bahwa semua hal yang disediakan oleh marketing semua berasal dari konsumen dan untuk konsumen. Oleh karena itu, agar produk mengerti konsumen, maka produk harus menjadi sahabat konsumen. Jika produk mampu menjadi sahabat konsumen, bukan lagi product awareness yang terjadi, tapi procut advocates. Konsumen akan membela produk. Dan inilah nilai besar dari keberhasilan pemasaran.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan bagaimana menciptakan content marketing di era digital;

Langkah-langkah pembuatan konten marketing di era disruptif

Setelah memahami kenapa content marketing harus berubah dan apa yang harus dilakukan agar produk mampu dibela oleh konsumen. Bagian terakhir buku, menjelaskan bagaimana membuat konten yang mampu menciptakan nilai hingga muncul human interest. Dalam bab ini, Iwan banyak memberikan contoh bagaimana konten-konten era kini sudah sedemikian berubah sehingga mampu menciptakan nilai bagi konsumennya, bukan saja bagi corporate. Contohnya iklan Royco yang bergeser substansi iklannya dari produk oriented ke customer oriented.

Era IoT, ketika produk langsung berinteraksi langsung dengan konsumen, produk harus mampu menjadi bagian dari yang dimiliki atau yang dialami oleh konsumen, seperti iklan Astra Motor tentang keselamatan berkendaraan roda dua dengan judul Cerdas Melanggar. Iklan ini yang merupakan kampanye keselamatan mengajak masyarakat untuk aware terhadap keamanan berkendara. Dan banyak lagi contoh-contoh strategi marketing lainnya dalam buku tersebut.

Walaupun tipis, buku ini sangat padat. Istilah-istilah marketing akan dimudahkan dengan berbagai contoh konkret. Bagi pelaku pemasaran di internet atau yang bergelut dalam dunia marketing, buku ini akan memperkaya persfektif atau bahkan menggeser paradigma pemasaran yang selama ini menjadi pakem.

Nah, biar dapet ilmunya, mending baca aja bukunya ya J ***[]



Read More

08 November 2017

Wikipedia jadi Rujukan Ilmiah?

Sumber: wikipedia
Saat membuka halaman pertama sebuah buku, tiba-tiba satu definisi tentang sebuah istilah mengutip tulisan dari sebuah blog. Ugh, tiba-tiba serasa ditampar. Jika yang dikutip pendapat pakar atau ekspert di bidangnya saya kira tidak masalah, misalnya seorang doktor atau profesor. Mungkin saja saya tahu jika yang dikutip adalah gubes atau doktor di bidangnya tersebut. Padahal jelas buku yang baru saja saya buka adalah referensi ilmiah, yang akan digunakan oleh mahasiswa untuk keperluan ilmiah, bahkan buku tersebut dijadikan rujukan ilmiah.

Di era internet, penikmat buku mungkin sering terkecoh oleh tampilan sebuah buku, namun isinya sebagian besar mengutip dari referensi internet yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mungkin saja penulisnya sudah bertanggung jawab untuk menuliskan sumbernya, tetapi sumber yang dikutip adalah blog yang tidak jelas siapa penulis dan bidang kepakarannya.

Media internet sesungguhnya menyediakan banyak sumber rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Sebuah tulisan bisa dikatakan ilmiah atau setidaknya memenuhi kriteria tulisan ilmiah. Misalnya, jurnal-jurnal yang sudah memiliki ISSN baik dari dalam negeri atau luar negeri yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan. Ataupun project buku gratisan versi ebook yang sudah ber-ISBN.

Mencari sumber-sumber tersebut tidaklah sulit, jika ingin langsung ditujukan ke sumbernya tinggal masuk ke scholar.google.com. Saat memasukan kata kunci, akan muncul berbagai rujukan sesuai kata kunci, yang berasal dari berbagai perguruan tinggi atau situs pengelola jurnal. Sumber-sumber ini dapat dipertanggungjawabkan karena memenuhi kriteria ilmiah setidaknya sudah ada legitimasi dari pengelola masing-masing sebagai karya ilmiah. Pencari sumber juga bisa berselancar ke situs perguruan tinggi yang telah menyediakan elibrary, dimana semua rujukan ilmiah disimpan.

Lalu bagaimana dengan Wikipedia?
Nah, selama ini tugas-tugas mahasiswa sering dipenuhi oleh rujukan dari Wikipedia dan blog-blog yang keilmiahannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan, Wikipedia dijadikan sebagai rujukan untuk referensi penyusunan tugas akhir. Sahkah? Bolehkah? 

Sebelum membahas tentang boleh tidaknya seorang mahasiswa tingkat akhir menjadikan wikipedia sebagai rujukan ilmiah, misalnya untuk keperluan skripsi, ada baiknya kita mengetahui siapa yang menulis untuk wikipedia?

Pada dasarnya wikipedia adalah sebuah media terbuka yang memperbolehkan siapa saja untuk menulis pada media tersebut, selama tulisan tersebut memenuhi kriteria dan ketentuan dari pengelola, misalnya menulis struktur tulisan, pencantuman rujukan, netralitas tulisan, dan lain sebagainya. Selama memenuhi ketentuan dari pengelola, setiap penulis yang memublikasikan tulisan pada wikipedia akan menemukan tulisannya dipublikasikan oleh wikipedia. Sebagai situs terbuka, sebagaimana halnya user generated content atau  juga portal warga, wikipedia menerima semua jenis tulisan dari berbagai latar belakang ilmu, termasuk seseorang yang tidak memiliki kepakaran, asal mau belajar dan ingin menuliskan, ikut ketentuan, tulisannya dapat dipublikasikan oleh wikipedia.

Memerhatikan semua jenis tulisan, wikipedia memenuhi dahaga pengetahuan pembaca yang ingin mendapatkan wawasan tentang apapun tanpa harus mengeluarkan biaya seperti halnya saat pembaca ingin memiliki ensiklopedia dengan harga ratusan ribu atau bahkan jutaan. Sebagai ensiklopedia bebas, terbuka, dan gratis, semua pengetahuan bisa kita rujuk ke wikipedia.

sumber: wikipedia
Walaupun telah menetapkan standar penulisan yang ketat, tetap tulisan apapun bisa didapatkan pada wikipedia dari tulisan yang sangat pendek tanpa rujukan sampai tulisan serius dengan puluhan rujukan. Misalnya, saat saya mencari tulisan tentang Dodol Garut, saya menemukan satu tulisan dengan tulisan seadanya, hanya satu rujukan, tidak ada struktur tulisan. Dan saya sering menemukan tulisan seperti ini. Bahkan hanya menulis definisi saja dari satu istilah yang masih jarang jadi bahasan juga sering saya temukan. Ini adalah fakta bahwa tulisan apapun bisa masuk ke dalam wikipedia. Termasuk siapapun bisa menulis pada wikipedia termasuk bukan para ahli yang menjadikan wikipedia sebagai media pembelajaran untuk menulis.

Belum lagi merujuk pada gengsi akademik. Misalnya seorang doktor, merujuk pada wikipedia untuk pembuatan makalahnya, lalu bagaimana jika yang menulisnya adalah lulusan S1 dan bukan berasal dari bidang ilmu yang ditulisnya tersebut?

Saya berprinsip, belajar itu dari mana saja, dari mahasiswa-mahasiswa saya misalnya yang punya passion tertentu, misalnya fotografi, saya belajar. Atau ada mahasiswa yang passionnya dalam desain, saya belajar tanpa harus jaga gengsi. Hanya saja jika menyangkut karya ilmiah saya sendiri lebih baik merujuk pada buku yang diterbitkan oleh penerbit dengan tingkat kehati-hatian atau seleksi yang tinggi, tidak asal menerbitkan. Atau dari sumber-sumber internet yang sudah ber-ISSN atau ISBN.

Ilmu dan pengetahuan di era internet sudah sangat terbuka, kita bisa menimba ilmu dan pengetahuan dari mana saja yang penting manfaatnya terasa, bisa baca-baca dari wikipeda atau belajar secara audiovisual langsung dari youtube, tanpa harus menimbang-dimbang siapa sih yang membuatnya. Era sekarang belajar bisa kapanpun dimanapun pada siapapun tanpa harus tahu kepakarannya selama masih bisa mengambil manfaat darinya. Namun sekali lagi, jika untuk keperluan rujukan ilmiah seperti tugas akhir atau skripsi dan sejenisnya, harus jelas sumber yang dijadikan rujukan baik penerbit atau pengarangnya.

Teringat seorang teman yang sedang menyusun tugas akhir, Dosennya berkelakar, “jika mau merujuk pada sebuah buku untuk karya ilmiah anda, rujuklah minimal setara dengan pendidikan anda!

Persoalan rujukan ini bukan melulu pada wikipedia juga pada buku-buku. Dengan terbukanya penerbitan-penerbitan independen, semua orang bisa menerbitkan buku. Sehingga juga harus hati-hati.

Wikipedia adalah sumber pengetahuan bebas yang bisa kita gunakan dan kita baca kapan saja untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita di dunia ini. Pada Wikipedai kita juga bisa berkolaborasi dan berkontribusi menjadi penulis sekaligus. Namun, untuk karya ilmiah baiknya gunakan sumber-sumber ber-ISSN atau ISBN yang sudah melalui seleksi ilmiah.***[]
Read More

03 November 2017

Sukabumi; antara Sejarah, Kopi, dan Petualangan

sumber: mytrip123
Beberapa waktu lalu, pernah menyelenggarakan inhouse training di Sukabumi. Untuk mencari lokasi yang nyaman untuk kegiatan mahasiswa tersebut, saya tersesat ke beberapa tempat dari Sukaraja ke Kadudampit, hingga berkeliling mencari satu kecamatan di tengah-tengah kota di Sukabumi.
Ketersesatan ternyata membawa hikmah, hingga akhirnya menjadi berpetualang menyusuri kota dan daerah-daerah sejuk di Sukabumi. Dari bisingnya kota hingga menikmati sejuknya daerah pegunungan. Namun saya menjadi tahu, karena ternyata Sukabumi menyimpan potensi wisata yang sangat menakjubkan, apalagi meliat potensi di wilayah Geopark Ciletuh.
Sukabumi bisa menjadi salah satu kota destinasi yang bisa dicoba untuk liburan singkat. Selain kotanya yang campernik alias kecil tapi cantik alamnya juga cukup menyegarkan apalagi saat menyusuri daerah-daerah dengan dataran yang cukup tinggi, setidaknya memungkinkan menghirup udara segar. Apalagi setelah berkutat dengan hiruk pikuk rutinitas pekerjaan kantor.
Selain alam yang indah, Sukabumi juga dilengkapi dengan beragam jenis kuliner yang memanja lapis lidah. Entah menikmati secangkir minuman hangat di jalan-jalan Sukabumi, atau justru membiarkan adrenalin terpacu dengan arung jeram dan berselancar di bibir pantai--semua pilihan bisa Pengunjung coba. Bebas.
Nama Kota Sukabumi sendiri berasal dari bahasa Sunda, yakni soeka dan boemen. Secara etimologis, perpaduan keduanya bisa diartikan sebagai “kawasan yang disukai untuk menetap”.
Kisah Soeka dan Boemen
Di Sukabumi, setiap pengunjung akan disambut dengan pempengunjungngan serba hijau dari perkebunan teh dan kopi yang membentang luas, pun udara sejuk dan bersih khas dataran tinggi. Dari lanskap yang indah tersebut, tidak heran jika penamaan Kota Sukabumi memang berasal dari pengalaman terkait lokasi favorit dan nyaman untuk menetap.
Selain tempat peristirahatan, sejarah mencatat Sukabumi sebagai lokasi yang memang diperuntukkan sebagai daerah perkebunan. Salah satunya, kopi. Maklum saja, di masa kolonialisme--dalam hal ini pemerintahan VOC, komoditas kopi menjadi salah satu primadona.  
Pada 1709, misalnya. Gubernur Van Riebek pernah mengadakan inspeksi ke kebun kopi di Cibalagung (Bogor), Cianjur, Jogjogan, Pondok Kopo, dan Gunung Guruh Sukabumi. Beberapa tahun berselang, yakni 1786, VOC lantas membangun jalan setapak untuk memudahkan mobilitas hasil perkebunan. Jalan ini dapat dilalui kuda dengan rute Batavia - Bogor - Sukabumi - Cianjur - Bandung.
Menguji Adrenalin di Sukabumi
Selain perkebunan, para wisatawan juga diberi kesempatan untuk menguji adrenalin lewat wisata arung jeram di Sungai Citarik. Letaknya, ada di Taman Nasional Gunung Halimun, Cikadang, Sukabumi. Adapun sungai ini terbilang cocok, lantaran debit air yang cukup banyak, kondisi yang bersih, dan relatif stabil di sepanjang tahun.
Sudah puas menikmati alam dataran tinggi, Pengunjung bisa menjajal hangat pasir pesisir selatan Sukabumi. Beberapa aktivitas yang layak dicoba, yakni berselancar hingga sekadar bersantai di pinggir pantai.
Merencanakan short escape ke Sukabumi pasti akan sangat menyenangkan. Apalagi bagi masyarakat perkotaan seperti Jakarta. Nah, agar bisa puas lebih lama, ada baiknya Pengunjung mempertimbangkan kebutuhan menginap di sana. Memang, terdapat banyak penginapan yang siap menampung wisatawan kapan pun, namun booking dari jauh hari tentu akan lebih baik.
Nyaman dan bikin betah!
Agar lebih mudah, Pengunjung bisa melakukan pemesanan kamar hotel lewat layanan akomodasi dalam jaringan. Airy Rooms, layanan akomodasi dalam jaringan terbesar dan tepercaya menawarkan pengalaman pemesanan kamar hotel terbaik dengan harga yang terjangkau.
Pesan kamar hotel murah di Sukabumi dapat Pengunjung lakukan melalui aplikasi Airy Apps, atau melalui website resmi www.airyrooms.com. Sementara, pembayaran dapat Pengunjung lakukan di saat itu juga melalui transfer bank atau kartu kredit. Tidak perlu khawatir mendapat kamar hotel yang buruk, sebab di Airy Rooms, fasilitas kamar hotel sudah terstpengunjungrisasi. Pengunjung akan mendapatkan kamar hotel dengan harga murah yang sudah dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas pendukung seperti AC, kebutuhan mandi dan air hangat, air minum gratis, WiFi, TV layar datar, dan tempat tidur bersih.

Read More