Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

30.12.16

Spotlight, Tamparan bagi Jurnalisme Online


Sumber Gambar: haionline
Film ini sudah saya tonton awal tahun 2016. Filmnya tidak menarik. Tidak ada bumbu-bumbu cinta apalagi sex. Jauh dari kesan intimidasi dan atau action. Ceritanya datar. Pemainnya juga bukan selebriti yang sering nongol di layar kaca yang saya tonton.

Beda dengan film The Bang Bang Club yang menawarkan sedikit konflik, cinta dan sedikit bumbu sex. Spotlight betul-betul bersih. Produser sepertinya betul-betul ingin menghindari bumbu-bumbu yang tidak perlu bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan cerita.

Bagi penikmat action, film ini akan terasa monoton. Begitu juga bagi penyuka film drama. Namun buat sebagian yang menikmati kedalaman cerita, kekayaan pengetahuan, seni sinematografi, film ini sangat menarik. Walaupun tanpa teknik-teknik wah. Wajar jika film ini mendapatkan beberapa penghargaan dalam beberapa kategori.

Bagi saya, yang sedikit banyak mendalami tentang ihwal media dan komunikasi termasuk di dalamnya Jurnalistik, film ini semacam percikan kecil di tengah boomingnya media digital, baik media online mainstream, abal-abal, atau citizen journalism. Film ini seakan menampar keterburu-buruan praktik jurnalistik di era digital.

Film ini mengajarkan kehati-hatian dalam menyampaikan informasi yang benar kepada khalayak. Kebenaran ini yang dijadikan senjata oleh awak redaksi untuk tetap maju menyampaikannya. Walaupun secara emosional, awak redaksi sangat dekat bahkan menjadi bagian dari lingkungan yang akan diberitakan.

Bagaimana tidak, guru dan tokoh agama yang menjadi panutan masyarakat harus harus dibongkar kebobrokannya. Semua kejahatan yang telah dilakukan belasan bahkan puluhan tahun pada akhirnya akan diketahui oleh publik. Bagaimana perasaan masyarakat yang sudah merasa terlindungi dan menganggap bahwa tokoh agama tersebut adalah wakil Tuhan yang menjadi pelindungnya di bumi. Betapa sedih.

Namun bukan persoalan ketokohan atau emosi masyarakat yang ingin saya sampaikan. Lebih kepada pelajaran yang bisa diambil dari film ini, yaitu bagaimana menyampaikan berita yang benar-benar valid, akurat, dan bisa dipertanggungjawabkan kepada publik.

Media dan Tanggung Jawab Sosial
Membuat berita dan menyampaikan informasi bukan hanya tanggung jawab terhadap pekerjaan sebagai seorang jurnalis/ wartawan. Juga bentuk tanggung jawab terhadap masyarakat. Pers bagaimanapun adalah lembaga publik. Harus mampu melindungi publik. Harus berpihak terhadap publik dibandingkan segelintir orang. Peran tanggung jawab sosial inilah yang dipegang teguh oleh Boston Globe.

Beratnya tanggung jawab terhadap publik mendorong Pimpinan Redaksi yang baru, Marty Baron, untuk mengangkat kembali kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh Katedral Law atau keuskupan Gereja Katolik di Boston. Kekerasan seksual terhadap anak sudah terjadi belasan bahkan puluhan tahun di bawah kepemimpinan Katedral Law.

Jurnalis yang lahir dan besar di Boston tidak yakin jika ini harus benar-benar dilakukan, apalagi beberapa kali juga pernah diangkat beritanya walaupun tidak masuk rubrik investigasi ‘Spotlight’. Marty sebagai pimpinan redaksi meyakinkan jika ini harus masuk Spotlight Karena terkait dengan tanggung jawab kepada publik.

Benturan-benturan untuk mengungkap semakin terasa. Penentang tidak hanya datang dari kalangan konservatif, juga dari kalangan yudikatif, pihak sekolah, termasuk juga pengacara. Bahkan data-data yang dikirimkan ke redaksi Boston Globe beberapa tahun ke belakang sama sekali tidak diketahui oleh tim ‘Spotlight’, hilang. Robby sebagai redaktur pelaksana ‘Spotlight’ bahkan mendapatkan kecaman dari teman dekatnya, walaupun pada akhisrnya dengan sangat terpaksa memberikan dukungan data. Intervensi datang dari berbagai penjuru.

Namun Marty berkeyakinan jika mampu menyampaikan kebenarannya, public juga akan mendukung, walaupun pasti akan banyak sekali orang yang terpukul. “Pemain media bisa berkembang jika tanpa campur tangan pihak lain”, tegas Marty.

Setelah semua informasi terkumpul mulai dari korban, pelaku, pengacara, bahkan bagian psikologi keuskupan. Berita tidak juga diizinkan untuk diterbitkan sebelum tim ‘Spotlight’ betul-betul mendapatkan informasi dari semua pihak yang berkepentingan agar berita yang diterbitkan betul-betul bisa dipertanggungjawabkan.

Inilah bentuk kehati-hatian bagaimana pers bukan saja menjadi corong informasi, namun juga informasi tersebut betul-betul bisa dipertanggungjawabkan dengan kebenarannya kepada publik.

Bagi umat Islam atau jurnalis muslim, menyampaikan berita yang benar, akurat, tabayun, baik, dan bertanggung jawab sudah ada tuntunannya dalam  Al-Qurán sehingga tidak terjebak pada pemelintiran dan penghasutan melalui berita. Misalnya salah satu ayat dalam Surat Al-Hujurat,”Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum….”

Ayat ini bukan hanya soal menyampaikan kebenaran, tapi juga mengajarkan kehati-hatian seorang pengabar berita akan dampak pemberitaan tersebut merugikan dirinya atau yang diberitakannya. Inilah salah satu saja dari beberapa tanggung jawab sosial media terhadap publik.

Pukulan Bagi Media Online
Salah satu praktik media online adalah adanya tuntutan realtimenya. Tuntuntan ini mengharuskan berita tersampaikan secepat-cepatnya. Sehingga dalam praktiknya memunculkan kesan keburu-buruan. Jika saja pembaca media online tidak secara realtime juga membacanya, makan informasi yang dicerna akan terkesan sepotong-sepotong. Bahkan bisa jadi berita yang disampaikan tidak secara berimbang tersebut berita susulannya disampaikan pada keesokan harinya Karena menunggu update dari sumber berita. Kadang media online memberitakan satu informasi dari sumber yang tidak hidup secara realtime, misalnya media sosial. Wajar beritanya pun tidak utuh, tanpa ada konfirmasi dari sumber berita.

Jika kualitas berita rata-rata seperti digambarkan di atas, maka sudah pasti beritanya kurang memenuhi kriteria sebagaimana tuntutan dari normativitas sebuah berita; benar, berimbang, terkonfirmasi, dan lain sebagainya. Sehingga berita menjadi tidak berkualitas. Inilah yang menjadi salah satu masalah pemberitaan yang diangkat oleh ‘Spotlight’.

Di tengah semakin populernya media pemberitaan online, media cetak harus menyuguhkan berita yang betul-betul berkualitas. Sikap kehati-hatian, terkonfirmasi, narasumber yang berimbang, tidak buru-buru terbit sebelum semua narasumber memberikan kesaksian, betul-betul ditekankan oleh ‘Spotlight’.

Media Cetak Tak Akan Mati!
Akhir tahun 2015 lalu koran Suara Pembaharuan mengakhiri masa terbitnya. Padahal koran ini termasuk pioneer dan legendaris. Semua pemerhati pun sepertinya meramalkan bahwa umur koran cetak akan berakhir. Tahun-tahun sebelumnya salah satu korang terbesar di Amerika juga tidak terbit lagi. Padahal di Bandung, justeru ‘Inilah Koran’ walaupun dapat dikatakan sebagai koran lokal justeru terbit setelah eksis di ranah digital.

Salah satu percakapan yang cukup menarik terkait dengan praktik pemberitaan di era digital dan koran cetak tidak akan pernah mati adalah saat Marty mengatakan bahwa di tengah gempuran pemberitaan media online, koran cetak akan tetap hidup jika redaksi menyajikan berita-berita yang berkualitas seperti disodorkan oleh ‘Spotlight’. Satu hal lagi yang akan membuat sebuah media bertahan adalah tanpa intervensi. “Media bisa berkembang jika tanpa campur tangan pihak lain,” tegas Marty.

Jika merunut sejarah media, tidak ada satu media (massa) arus utama yang tutup gara-gara kehadiran media yang lebih baru. Koran cetak tidak mati setelah kehadiran radio, tidak juga mati setelah kehadiran televisi, begitupun radio memiliki pendengarnya sendiri walaupun sudah digempur oleh berbagai media televisi lokal. Bahkan di internet, orang bisa mengakses media jenis apaun dengan awalan ‘e’ tapi media yang lahir sebelumnya tetap eksis dan bertahan, walaupun barangkali dari sisi jumlah pembaca, pendengar, penonton berkurang, Karena aspek dinamika media dan regenerasi pengguna media***[]
Read More

30.8.13

Bang bang Club, Dilema antara Profesi dan Kemanusiaan

Read More

20.8.11

The Company Men: Kepanikan Korban PHK dan Pentingnya Dukungan Isteri


Kepanikan menghadapi pengangguran akibat krisis tidak hanya terjadi pada masyarakat kita. Namun juga Negara maju seperti Amerika Serikat. Film The Company Men menceritakan dengan baik bagaimana para eksekutif yang telah mapan menghadapi kepanikan tersebut saat krisis Amerika mendera tahun 2008.

Ben Affleck yang memerankan sebagai Bobby Walker, karyawan terbaik perusahaan GTX. Ia merupakan salah satu direktur pemasaran di bidang transfortasi harus menghadapi kenyataan tersebut. Cicilan rumah mewahnya, makanan dengan selera tinggi, klub golf eksekutif, barang-barang mewah yang dibelinya dan hal lain yang menunjukan ia sebagai pria mapan dengan segala kemewahannya harus ia tinggalkan.
Read More

Kentut Sang Presiden

Jika kita berada di tempat umum, seketika ingin buang gas, apa yang akan kita lakukan? Memilih untuk mengeluarkannya atau menahannya? Mengeluarkan gas di tempat umum sama saja melanggar sopan santun, apalagi sampai aromanya tercium kemana-mana dan mengelurkan suara yang cukup nyaring, namun jika kita tahan-tahan tentu akan melanggar norma kesehatan. Tidak sedikit orang rela membayar mahal hanya untuk mendapatkan kentut, atau setidaknya saat perut kita kembung, kentut adalah salah satu peristiwa yang sangat ditunggu-tunggu, alih-alih kentut sebagai hal yang tidak sopan, justeru ia adalah sang penyelamat. Apalagi bagi seseorang yang baru saja dioperasi, kentut menjadi media antara hidup dan mati, kentut menjadi perantara kesadarannya.

Read More

7.6.11

Megamind: Ide Kriminal menjadi Pahlawan

Ada satu pepatah dalam masyarakat organisasi, jika satu organisasi itu ingin kuat maka ciptakanlah konflik, karena dengan konflik tersebut, ia terbiasa menghadapi dan mencari solusi dari masalah tersebut. Pemimpin/ organisasi yang mampu memenej konflik akan menjadi orang yang kuat dan keluar sebagai pemenang. Saya pun teringat pepatah lama dari para filsuf, bagi seorang yang ingin mencapai kebahagiaan sejati, ia harus merasakan sedih, gelisah, tertekan dan perasaan-perasaan tidak senang lainnya. Seperti diajarkan dalam beberapa agama bahwa untuk mencapi bahagia seorang harus melalui jalan derita.

Tampaknya hal tersebut menjadi ide bagi ‘Megamind’, sebuah film animasi yang menggambarkan sorang anak pendiam yang tak pernah menjadi perhatian lalu menjadi orang yang paling jahat di antara yang jahat.

Ia dikirim bersama satu orang lainnya (Metro Man) yang ditakdirkan untuk menjadi pahlawan di Bumi. Sejak kecil Megamind karena tidak memiliki keahlian fisik, selalu menggunakan akalpikirannya untuk membuat kagum orang, namun hal tersebut selalu ditutup oleh kemampuan fisik Metroman; mengangkat beban, terbang, menolong sehingga Metroman selalu menjadi pahlawan dan dambaan.

Megamind bertekad menjadi orang yang paling Jahat. Kejahatannya tersebut berakhir di penjara. Namun sebagai seorang yang jenius, Megamind selalu mendapat ide agar dapat menjadi Jahat dari yang Jahat. Dengan bantuan partnernya (Ikat Robot) ia dapat bebas dengan cara licik (kabur) dengan tipu muslihatnya.
Megamind dapat mengalahkan Metro Man dengan menjadikan umpan seorang reporter cantik, Metroman pun digambarkan mati (walaupun sebenarnya ia menyepi).

Sebagai penjahat yang paling jenius, ‘kematian’ Metroman membuat Megamind tidak memiliki lawan tanding, ia pun berfikir bagaimana menciptakan lawan tangguh. Dari sinilah alur cerita mulai bekerja. Megamind menciptakan bakteri yang dapat membuat orang begitu kuat. Ia mencari calon korbannya. Karena kecelakaan kecil, bakteri tanpa sengaja terinjeksi kepada seorang cameramen ‘bodoh’. Kecelakaan tersebut, membuat Megamind bergairah kembali menjadi seorang Penjahat yang tidak akan pernah tertandingi.

Berbekal Arloji pengubah identitas, ia menyamar menjadi orang yang benci terhadap Megamind-dirinya sendiri. Ia banyak berhubungan dengan sang Reporter cantik. Keseringan berkomunikasi membuat ia jatuh cinta. Namun pada sisi lain, ia telah menciptakan lawan yang ia dorong untuk mendekati sang reporter. Konflik pun dimulai antara kepentingan cintanya dan kepentingan untuk menjadi Penjahat tak tertandingi.
Dalam perjalanan jatuh cintanya, Megamind terbuka kedokanya karena tanpa sengaja saat ia bermesraan dengan Sang Reporter, ia memutar Jam tangannya, terbukalah kedoknya sebagai Megamind.

Di tengah kegalauan tersebut, ia pun diketahui mendekati Si Cantik oleh Metroman Gadungan. Berseterulah keduanya memperebutkan pujaan hati. Sang Cameramen yang berubah menjadi Jahat karena Bakteri buatan Megamind ternyata memiliki kekuatan luar biasa, pada sisi lain Megamind karena rasa cintanya, berubahlah menjadi orang yang baik, hingga di akhir pertarungannya, Megamind menjadi pahlawan Baru bagi Metro City menggantikan Metroman.

Menonton film ini serasa membayangkan kelakukan Amerika Serikat yang mencoba menjadi Pahlawan bagi semua Bangsa di Dunia. Dengan kekuatan militer dan ekonominya, Amerika serikta tak sungkan memberikan berbagai bantuan dan fasilitas terhadap Negara yang dikehendakinya. Namun dibalik itu semua, ada maksud tertentu untuk menyebarkan ideologinya yang kini hampir menjadi ideology di seluruh Dunia; Demokrasi, HAM, Kapitalism, Kebebasan, Konsumerism, Hedonism dll.

Ia pun seringkali muncul bak Pahlawan di tengah penderitaan Rakyat bangsa yang dijajahnya, ia seperti ‘Robinhood’ yang ‘merampok’ kebebasan orang dan bangsa untuk dikuasainya kemudian. Melalui kegiatan-kegiatan berbagai penyerangan yang dilakukan oleh Amerika, ia seolah-olah Pahlawan sungguhan yang berjasa terhadap sebuah bangsa, namun pada kenyataannnya adalah sebaliknya. Ia melakukan berbagai kejahatan kemanusiaan untuk kemudian menjadi Pahlawan. Persis seperti Megamind.

Film ini diproduksi DreamWorks Animation dan Red Jam Productions. Pengisi suaranya antara lain Will Ferrell, Tina Fey, Jonah Hill, David Cross, Brad Pitt dan Ben Stiller. Disutradarai Tom McGrath.
Read More

19.4.11

Burlesque dan Perjuangan Sang Bintang

“Mun hayang ngarih kudu ngarah, Mun hayang peurah kudu peurih” (Jika jingin menanak maka harus, ikhtiar Jika ingin hasil harus berjuang). Merupakan pepatah Sunda yang kerap saya dengar dalam keseharian hidup dari orang tua ataupun teman sebaya. Kurang lebih maknanya adalah, jika kita ingin berhasil dalam mencapai sesuatu, maka kita harus berusaha untuk mencapai tujuan tersebut, hasil tidak akan diperoleh tanpa adanya semangat juang yang nyata, tanpa mengenal lelah, apalagi cepat bosan. Itulah prinsip bagi orang-orang yang ingin berhasil dalam hidupnya.

Review
Menjadi seorang bintang tidak ujug-ujug (tiba-tiba), tetapi perlu kerja keras. Kita lihat karir para seleb dan public pigure di negeri kita yang tidak sedikit merangkak dari bawah. Mulai dari casting, ngontrak kostan sempit, bertahap mulai banyak tawaran manggung atau syuting hingga menjadi bintang yang paling besar honornya. Hal tersebut saya temukan dalam film Burlesque. Menceritakan perjalanan seorang bintang penyanyi cafe (Burlesque), Alice (Cristina Aquelera) yang bekerja sebagai pelayan Bar yang menginginkan kehidupannya berubah dengan mengadu nasib ke kota Besar. 

Alice, memutuskan resign dari sebuah Bar kota kecil tempatnya bekerja. Berbekal tabungan hasil bekerja di Bar, ia berangkat ke kota besar (LA). Berbekal Koran yang berisi iklan lowongan pekerjaan, ia mulai bergrilya dari satu tempat ke tempat lainnya, namun tidak menemukan hasil. Suatu malam, saat ia berjalan di tengah gemerlapnya lampur kota, ia melihat seorang penari latar di halaman sebuah Bar yang kemudian menariknya untuk masuk. Dari sinilah ia mulai berfikir jika tempat ini bisa mewujudkan mimpinya.

Merogoh kocek yang cukup besar (20 Dollar) untuk masuk Burlesque, ia menyaksikan pertunjukan music dari Tess (Cher) sang pemiliki Bar yang membuatnya terpesona. Berawal dari sinilah, ia mencoba melamar pekerjaan kepada pemiliki Bar, namun tidak memperoleh hasil. Di samping karena kesibukan Tess, kegagalan Alice juga karena situasinya tidak tepat, Bar tersebut berada diujung kebangkrutan. Namun Alice tidak patah semangat, Ia akhirnya rela menjadi pelayan Bar tanpa harus dibayar. 

Sepulang dari pekerjaannya yang tidak mendapatkan bayaran, ia mendapati kontrakannya berantakan, dan ternyata seorang perampok telah mengobrak-abrik kamarnya, uang perbekalan yang disimpannya di box closet pun raib. Ia mulai frustasi, namun ia ingat punya kenalan seorang bartender (Jack). Bermodal curhat dan rasa malu ia ditampung di kontrakan Jack.

Teringat buku ‘the power of kepepet’. Saat tidak ada lagi yang dimilikinya, kebutuhan yang mendesak, ia nekat untuk tampil di depan Tess demi mendapatkan pekerjaannya sebagai penari setengah telanjang. Kegigihan dan keuletannya membuahkan hasil, ia menjadi salah satu penari dan penyanyi lipsing. Saat seseorang yang iri terhadap dirinya, ia menemukan momentum yang mengantarkannya menjadi penyanyi sungguhan. Tess pun mempersiapkan untuk liveshow dirinya tanpa lipsing. Penampilannya menjadi pendongkrak membludaknya pelanggan Burlesque.

Kegigihan dan Kepemimpinan
Kesuksesan tidak akan pernah didapatkan seseorang tanpa adanya kegigihan untuk berikhtiar. Ikhtiar tidak hanya usaha, tetapi juga percobaan tanpa bosan dan lelah. Namun tentu, sebuah ikhtiar harus dibarengi dengan kemampuan (skill), dan itulah kunci agar bisa berkompetisi dengan siapapun dalam bidangnya masing-masing. Makna ini secara eksplisit tergambar dari film ‘Burlesque’
Di samping itu, salah satu makna yang ingin di sampaikan oleh film ‘Burlesque’, adalah keterbukaan seorang pemimpin. Tess sebagai pemiliki Bar sekaligus pemegang kebijakan, tidak sungkan untuk memberikan kesempatan kepada orang yang berikhtiar, ia pun tidak sungkan untuk menerima masukan dari anak buah yang dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Tess menjadikan lahan usahanya layaknya sebuah rumah yang memiliki anggota keluarga. Di sini setiap pekerja yang menjadi bagian dari keluarga perusahaan harus saling menjaga dan mengingatkan. Itulah kepemimpinan yang dijalankan oleh Tess; terbuka, demokratis, kekeluargaan, sekaligus juga tidak sungkan untuk terjun ke wilayah teknis.
Jangan Ditonton!
Bagi yang alergi dengan aurat, film ini jangan sekali-kali ditonton, karena suguhan penampilan panggungnya tidak lebih daripada mengumbar (maaf) belahan dada, udel dan pantat, bahkan dalam satu pertunjukan dengan sangat jelas mengarah ke bau pornografi walaupun dikemas dengan humor. Tetapi bagi yang mampu mengambil hikmah dari film ini, tidak ada salahnya belajar dari perjuangan Alice, bagaimana mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya, tentu harus kerja keras, ulet, memiliki skill, sedikit memaksa, cerdas serta mengedepankan persahabatan daripada tawaran hidup glamour. Pada sisi lain, bagi penggemar tarik suara, film ini menyunguhkan suara merdu dari Cher dan Cristina Aguelera yang menjadi pemeran utama sebagai Tess dan Alice. ‘Kecerdasan’ olah suaranya benar-benar membius, bahkan setiap penampilannya tidak dipotong oleh adegan lain sebelum lagunya diakhiri.
Read More

16.4.11

Film ‘?’ dan Pluralisme; antara Akidah dan Muamalah


Selama konflik antar umat beragama dan berbeda agama masih mengemuka dan menjadi bagian dari permasalahan bangsa ini, maka isu pluralisme akan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari wacana masyarakat.

Beberapa tahun lalu, ketika Gus Dur meninggal Dunia, sempat mencuat bahwa isu ini akan padam karena Sang Bapak Pluralisme sudah tiada. Beberapa kejadian yang dipicu oleh perbedaan cara memandang dunianya tentang kebebasan menganut keyakinan semakin menjadi, yang paling Baru adalah kasus Ahmadiyah, bahkan menteri agama turut campur untuk melakukan ‘penertiban’ terhadap eksistensi Ahmadiyah.

Keberagaman yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia sepertinya masih belum menemukan benang merahnya, sepertinya masih saja ada sebagian masyarakat yang tidak rela jika eksistensi masyarakat lain yang memiliki perbedaan keyakinan, hidup tenang dan damai dalam lingkungannya.

Pluralisme yang tidak bisa hidup secara tentram di tengah sebagian masyarakat memang masih diperdebatkan, isu ini diambil alih oleh fatwa MUI yang kemudian mengharamkan faham pluralis tersebut. Namun sejauh yang saya fahami, pluralism yang diharamkan oleh MUI berkaitan dengan masalah pencampuradukan Akidah atau Ibadah yang berdimensi individu, sementara itu untuk masalah Ibadah Sosial, justeru MUI pun mengajurkannya.

Isu pluralism ramai kembali menjadi pembicaraan masyarakat setelah tayangnya film ‘?’ (tanda tanya). MUI pun melalui walinya mengeluarkan pernyataan tentang akibat negative yang akan ditimbulkan oleh pengaruh film tersebut. Begitupun cendekiawan muslim Adian Husaini menganggap bahwa film tersebut dapat mendangkalkan akidah umat. Saya sendiri belum menontonnya. Hanya saja dalam pandangan saya, sejauh tidak mencampuradukan antara masalah akidah dan ibadah individu antar agama, tayangan tersebut tidak akan membayakan umat.

Pluralisme antara Akidah dan Muamalah
Berbicara masalah Akidah, setiap agama berbicara dengan tegas. Adanya masing-masing Tuhan (penyebutan) dari setiap agama merupakan satu bukti. Bukti ini merupakan hasil dari persaksian atas agamanya. Pembuktian pengakuan terhadap Tuhannya masing-masing diwujudkan dalam bentuk Ibadah. Ibadah diatur dalam hukum-hukum agama. Ibadah sendiri memiliki dimensi, antara yang individu atau hubungan vertical antara penganut dan Tuhannya dan dimensi social yaitu antara sesama penganut dalam agama ataupun antar berbeda agama. Berkaitan dengan ibadah individu setiap penganut diharuskan mematuhi hukum syari’at yang diatur dalam agamanya masing-masing. Aturan ini merupakan hukum yang diturunkan Tuhan terhadap masing-masing Nabi yang kemudian diikuti oleh para pengikutnya.

Nabi Muhammad SAW pernah mengeluarkan piagam madinah, salah satunya adalah mengatur hubungan antar umat yang berbeda agama saat itu. Piagam ini diakui oleh beberapa cendekiawan muslim seperti Nurcholis Madjid sebagai cikal bakal dari Pluralisme. Tapi yang perlu mendapatkan catatan disini, pluralism yang dimaksud adalah dalam arti hubungan sosial, mengakui dan menghormati umat lain yang memiliki keyakinan yang berbeda, serta menjalin hubungan ketetanggaan dengan mereka.

Kaum pluralis menyatakan bahwa semua agama memiliki tujuan yang sama. Dengan kata lain teologi pluralis dirumuskan dengan ‘Satu Tuhan dalam banyak jalan’. Hal ini juga yang menjadi salah satu pernyataan dalam film ‘?’ (tanda tanya), walaupun seseorang berpindah agama bukan berarti meninggalkan Tuhan sebelumnya, karena pada dasarnya tetap  menuju Tuhan yang Satu (itu itu juga). Inilah yang menjadi alasan kenapa film tersebut bisa mendangkalkan akidah Umat, berkaitan dengan keyakinan terhadap Tuhan dari berbagai agama yang dianggapnya sama saja. Pertanyaannya kemudian jika memang sama, kenapa memiliki aturan yang berbeda dalam soal hubungannya dengan Tuhan dari  masing-masing agama?

Lain halnya dengan masalah ibdah sosial atau hubungan antar umat penganut agama, setiap agama memiliki misi kemanusiaan, sebagaimana halnya termaktub dalam piagam madinah yang mengatur hubungan antar masyarakat yang berbeda agama. Misi kemanusiaan direalisasikan melalui saling pengertian, tolong menolong, saling mengasihi antar sesama umat, baik yang satu agama ataupun berbeda agama. Sangat dianjurkan jika satu umat yang hidup dalam suatu lingkungan masyarakat yang beragama saling menolong dalam berbagai hal, tetapi tetap tidak dengan melunturkan hukum yang diatur oleh agamanya.

Dalam suatu kesempatan, Jalaluddin Rakhmat pernah bercerita, ketika dirinya disuguhi masakan daging Babi oleh keluarga Kristen saat dirinya berkunjung ke rumahnya. Untuk menghormatinya bukan berarti bahwa Kang Jalal harus ikut makan daging babi tersebut, tetapi bukan berarti juga dia harus alergi terhadap semua makanan keluarga Kristen tersebut karena tidak terjamin label halalnya. Selama saling percaya bahwa ada makanan yang tidak ada kandungan babinya, bukan berarti semua makanannya ditolak. Oleh karena itu, pluralism yang dibangun antar umat beragama, dengan tidak melanggar hukum dan prinsip agama dari masing-masing penganut, terlebih lagi tidak mencampuradukan/ mendangkalkan permasalahan yang bersangkutpaut dengan akidah. 

Menurut saya agama saya yang paling benar, tetapi tentu bukan untuk diumbar dengan mengatakan bahwa agama anda sesat! Begitupun bagi anda yang tidak seiman, boleh dan sah mengatakan bahwa agama anda yang paling benar, tetapi bukan berarti anda boleh mengatakan bahwa agama saya agama terror dan menyesatkan.

Wallahu'alam


Read More

16.3.11

Keajaiban Bersahabat dengan Tuhan

Terharu, sedih, Bangga dan tentu saja berlinang ari mata. Begitu kesan setelah menonton film ‘Letters To God’. Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata penderita kanker.
 
Tyler merupakan satu anak dari puluhan, ratusan dan barangkali ribuan penderita kanker. Kehidupan Tyler mampu menginspirasi banyak orang, tidak hanya penderita kanker sendiri namun juga orang-orang sehat di sekelilingnya. Inilah barangkali yang mendorong kisah nyata ini diangkat ke dalam film layar lebar. Film ini mengisahkan Tyler, seorang penderita kanker, seorang anak yang berasal dari keluarga yang telah ditinggalkan oleh sang ayah. Tyler memiliki seorang Kakak Ben, Ibu, seorang Nenek, Samantha dan Alex teman sekolahnya yang sangat sayang padanya.

Semenjak tahu bahwa dirinya mengidap penyakit mematikan, selain keluarganya yang selalu memperhatikan dirinya ia juga membangun persahabatan dengan Tuhan. Baginya Tuhan adalah sahabat pena yang bisa diajak untuk berbagi. Setiap ia punya masalah, setiap ia bahagia, setiap ia memiliki cerita baru dalam hidupnya, ia berbagi dengan sahabat tersebut, ia lah Tuhan.

Setiap hari tak kurang dari 3-5 surat yang kirimkan kepada Sang Sahabat, lalu kemana Tyler mengirimnya? Tak lain ia simpan di pos surat. Sekian kali surat itu diterima oleh seorang mailman, sang mailman kebingungan dan mengadu kepada atasannya. Karena tidak bisa menyelesaikan masalahnya itu sang mailman pun resign. Mailman baru pun datang, ia Brady yang sedang prustasi karena urusan pengasuhan anaknya, hidupnya tak teratur.

Ketika pertama kali menerima surat dari Tyler, Brady menyimpan surat itu di sakunya, karena tidak mungkin untuk mengirimkannya kepada Tuhan. Karena merasa bahwa tempat ber’semayam’ Tuhan adalah Gereja, maka ia pergi ke Gereja untuk mengirimkan surat tersebut. Kepergok oleh Pendeta ketika menyimpan surat, akhirnya ia curhat. Dan Surat tersebut akhirnya ia bawa ke rumahnya.

Di rumah ia membuka surat lain yang ditujukan kepadanya, ia membuka surat tersebut dan ternyata ia diminta segera untuk mengurus surat-surat pengasuhan anaknya untuk mantan isterinya. Ia prustasi dan tertekan. Di tengah ketertekanan itu ia mengambil satu botol minuman keras, namun ia membantingkannya. Ia lalu membuka satu surat, dua surat, tiga surat dan puluhan surat Tyler yang ia bawa ke rumah. Setelah membaca surat tersebut ia tersadarkan, mengapa dirinya yang telah dewasa bisa begitu rapuh, ia masih sehat dan perkasa, sementara Tyler, anak kecil penderita kanker begitu kuat dan tegar menghadapi kematiannya sekalipun.

Salah satu surat yang ia baca,” Ya Tuhan, aku beruntung hari ini, tapi Sam benar-benar ingin memanjat pohon. Aku sudah muntah tiga kali pagi ini sekalipun. Sam akan membutuhkan seorang teman Anda tahu. seseorang yang suka memanjat pohon. Kakeknya adalah sangat menyenangkan, tapi saya pikir dia bisa memanjat pohon.
 
“Ia mengajarkan begitu berartinya harapan dalam hidupku. Anak kecil yang mengajarkan pentingnya bersahabat dengan Tuhan”, celoteh Brady.
Dari situlah ia bangkit, dengan menggunakan sepeda, ia membagikan surat Tyler kepada orang-orang yang disebutkan dalam surat Tyler kepada Tuhan.
Orang-orang pun begitu terharu, saat pesta kesembuhan (sementara) yang kesekian kalinya Tyler mengundang orang-orang yang senasib serta orang-orang yang berada disekelilingnya untuk berbagi cerita bersama. Disitulah moment Brady sang mailman untuk menyampaikan kepada tamu undangan bahwa kekuatan dan persahabatan dengan Tuhan telah memberikan inpsirasi baginya untuk hidup lebih tabah lagi, begitupun dengan orang-orang yang senasib dengan Tyler, dengan apa Tyler kuat dan tabah? Tidak lain adalah karena bersahabat dengan Tuhan. Brady pun menunjukan 3 karung surat yang telah Tyler tulis dan dikirimkan kepada Tuhan yang ia simpan baik-baik di kantor pos tempatnya bekerja.

Kebiasaan Tyler untuk selalu berbagi cerita dengan Tuhan yang dianggapnya sebagai sahabat, guru dan teman menginspirasi banyak penderita kanker lainnya, hingga akhirnya setelah Tyler meninggal keluarganya yang dibantu Samantha, membuat Boxmail yang superbesar dan mengundang para penderita kanker agar bisa melakukan hal serupa yaitu selalu bersahabat dengan Tuhan agar bisa kuat dan tabah dalam menghadapi penyakitnya.

Luar biasa, inspirasi Tyler diikuti oleh para penderita kanker di Georgia untuk selalu bersahabat dengan Tuhan. Dan tidak sedikit penderita kanker yang dapat hidup lebih lama lagi bahkan bisa berkarir saat vonis kanker menimpa penderita kanker saat usianya masih sangat kecil.

Film yang diangkat dari kisah nyata tersebut memberikan pesan bahwa Tuhan sebagai kekuatan yang maha dahsyat dapat mematahkan vonis mati dokter terhadap keganasan kanker. Tyler yang divonis mati bisa hidup beberapa tahun lebih lama dari vonis yang diberikan dokter. “Bahkan saya pun tidak yakin jika ia akan sembuh setelah ini,” ujar dokter, saat kanker Tyler mengganas dan harus diopname beberapa hari, tapi ternyata Tyler malah sembuh walaupun pada akhirnya ia meninggal juga.

Brady yang telah putus asa atas masalahnya merasa beruntung mengenal keluarga Tyler, ia telah menginspirasinya untuk mencoba berhubungan dengan Tuhan dan memulainya mengunjungi Gereja.
Di akhir cerita, film ini mengisahkan beberap penderita Kanker yang bisa selamat dari penyakit mematikan setelah ia secara konsisten terus memupuk persahabatan dengan Tuhan.
Read More